Secara historis dan terperinci. Kita membaginya menjadi beberapa bagian agar jelas: latar belakang, fatwa Ulama’ Haromain, perlawanan, dan akhirnya apa yang terjadi.
1. Latar Belakang
- Wahhabi adalah gerakan reformis yang muncul di Arab pada abad ke-18, dipimpin oleh Muhammad ibn Abd al-Wahhab.
- Mereka mengusung ajaran puritan yang menekankan tauhid murni dan menolak praktik-praktik yang dianggap syirik (seperti ziarah kubur, tawassul, dan ritual yang dianggap bid’ah).
- Gerakan ini mendapatkan dukungan politik dari Keluarga Saud, membentuk aliansi yang dikenal sebagai Negara Pertama Saudi (1744–1818).
2. Fatwa Ulama’ Haromain
-
Ulama’ di Makkah dan Madinah, yang selama ini menjadi rujukan umat Islam di seluruh dunia, mengeluarkan fatwa menentang Wahhabi.
-
Alasan fatwa mereka antara lain:
- Penghancuran makam dan situs suci yang dianggap bagian dari sejarah Islam (misalnya makam sahabat Nabi).
- Kekerasan terhadap penduduk dan ulama lokal, termasuk pengusiran dan pembunuhan mereka.
- Penafsiran ekstrem terhadap tauhid, yang dianggap melampaui batas dan menyimpang dari tradisi Ahlus Sunnah.
-
Contoh fatwa:
- Ulama Madinah dan Makkah menganggap tindakan Wahhabi sebagai bid’ah yang berbahaya dan menimbulkan fitnah.
- Mereka menyerukan agar penguasa Ottoman dan umat Islam menentang gerakan ini.
3. Perlawanan terhadap Wahhabi
- Negara Ottoman, yang berkuasa atas Hijaz (Makkah dan Madinah), memandang Wahhabi sebagai ancaman.
- Tahun 1811–1818, Ottoman mengirim pasukan yang dipimpin Ibrahim Pasha (putra Muhammad Ali dari Mesir) untuk menyerang Negara Saudi Pertama.
- Perlawanan Wahhabi berakhir ketika Mekah dan Madinah direbut dan ibu kota Diriyah (pusat Saudi) dihancurkan pada 1818.
- Pemimpin Wahhabi ditangkap atau dibunuh, termasuk keturunan Saud saat itu, meski ajaran mereka tetap tersebar.
4. Ending / Akhir dari Perlawanan
- Secara militer, Wahhabi dikalahkan sementara oleh Ottoman-Egypt. Diriyah hancur.
- Namun secara ideologis, ajaran Wahhabi tidak musnah:
- Keturunan Saud kembali membangun kekuatan pada abad ke-19, membentuk Negara Saudi Kedua, meski lebih kecil.
- Wahhabi akhirnya berhasil mendirikan Kerajaan Saudi modern (1932) dengan dukungan penuh dari keluarga Saud.
- Fatwa Ulama’ Haromain awalnya menolak Wahhabi, tapi kekuatan politik dan militer mereka mengubah situasi, sehingga akhirnya Wahhabi menjadi penguasa resmi Hijaz dan pembuat kebijakan agama di wilayah tersebut.
Kesimpulan Historis:
- Fatwa Ulama’ Haromain: Menentang Wahhabi karena dianggap ekstrem dan merusak tradisi Islam.
- Perlawanan: Dilakukan oleh pasukan Ottoman melalui Mesir dan berhasil menghancurkan pusat-pusat kekuasaan Wahhabi.
- Ending: Kekalahan militer sementara, tetapi ideologi Wahhabi bertahan dan kembali bangkit melalui dukungan politik keluarga Saud, akhirnya menguasai Arab Saudi modern.
Garis waktu lengkap perlawanan Wahhabi vs Ulama Haromain dan pasukan Ottoman beserta titik pentingnya:
Garis Waktu Perlawanan Wahhabi–Ulama Haromain–Ottoman
| Tahun | Peristiwa | Pelaku / Pihak | Catatan Penting |
|---|---|---|---|
| 1703–1704 | Kelahiran Muhammad ibn Abd al-Wahhab | Wahhabi | Awal gerakan reformis puritan di Najd. |
| 1744 | Aliansi Muhammad ibn Abd al-Wahhab dengan Muhammad bin Saud | Wahhabi & Keluarga Saud | Membentuk dasar Negara Saudi Pertama. |
| 1744–1760-an | Penyebaran Wahhabi ke Najd | Wahhabi | Menolak praktik yang dianggap bid’ah, mulai menentang makam dan ritual lokal. |
| 1765–1770-an | Serangan pertama ke wilayah Hijaz (kecil) | Wahhabi | Mengganggu ulama lokal dan penduduk, tapi belum sampai Makkah/Madinah. |
| 1773–1780-an | Ulama Makkah & Madinah mengeluarkan fatwa menentang Wahhabi | Ulama Haromain | Fatwa: Menolak penghancuran situs suci, kekerasan terhadap penduduk, ajaran ekstrem. |
| 1802 | Penyerangan oleh Wahhabi ke Karbala (Irak) | Wahhabi | Membunuh banyak warga Syiah, menimbulkan kecaman luas; memperkuat pandangan ulama bahwa Wahhabi berbahaya. |
| 1803–1806 | Penyerangan ke wilayah Hijaz (Makkah & Madinah) | Wahhabi | Menguasai sebagian wilayah Hijaz, menimbulkan ketakutan pada ulama dan penduduk setempat. |
| 1811 | Pasukan Ottoman (dipimpin Ibrahim Pasha dari Mesir) mulai bergerak ke Najd | Ottoman | Tujuan: Menaklukkan Negara Saudi Pertama dan menghentikan Wahhabi. |
| 1813 | Pertempuran besar antara pasukan Wahhabi dan Ottoman di Najd | Ottoman vs Wahhabi | Pasukan Wahhabi mulai mengalami kekalahan. |
| 1815 | Mekah dibebaskan dari pengaruh Wahhabi | Ottoman | Ulama lokal dan penduduk Hijaz kembali aman. |
| 1818 | Diriyah (ibukota Saudi Pertama) dihancurkan | Ottoman | Pemimpin Wahhabi ditangkap atau dibunuh; Negara Saudi Pertama runtuh. |
| 1818–1824 | Kekacauan dan perlawanan sporadis | Keturunan Saud & Wahhabi | Ajaran tetap tersebar meski secara politik kalah. |
| 1824 | Mendirikan Negara Saudi Kedua di Najd | Keluarga Saud & Wahhabi | Kekuatan militer lebih kecil, tapi ideologi bertahan. |
| 1902 | Penaklukan Riyadh oleh Abdul Aziz bin Saud | Keluarga Saud | Titik awal kebangkitan kembali menuju Kerajaan Saudi modern. |
| 1932 | Proklamasi Kerajaan Arab Saudi modern | Keluarga Saud | Wahhabi menjadi penguasa resmi agama dan politik Hijaz & Najd. |
Ringkasan Titik Penting
- Fatwa Ulama Haromain: Menentang ekstremisme Wahhabi, menghancurkan makam, kekerasan terhadap penduduk, bid’ah.
- Perlawanan Militer: Ottoman melalui Mesir menghancurkan Negara Saudi Pertama (Diriyah) pada 1818.
- Ending Militer: Wahhabi kalah sementara; pemimpin ditangkap/bunuh.
- Ending Ideologis: Ajaran Wahhabi bertahan dan akhirnya mendirikan Kerajaan Saudi modern pada 1932.
Runtuhnya Kekhalifahan Ottoman
Ada kaitan, tetapi perlu dijelaskan secara kronologis dan konteksnya agar jelas hubungannya antara runtuhnya Kekhalifahan Ottoman dan bangkitnya Saudi Arabia.
1. Latar Belakang Ottoman dan Hijaz
- Kekhalifahan Ottoman menguasai Hijaz (Makkah dan Madinah) sejak abad ke-16, termasuk mengawasi tempat suci Islam.
- Wahhabi pada abad ke-18–19 sempat memberontak dan mendirikan Negara Saudi Pertama (1744–1818).
- Ottoman kemudian mengirim pasukan melalui Mesir (Ibrahim Pasha) untuk menumpas Wahhabi, sehingga Diriyah dihancurkan pada 1818.
- Namun, pengaruh politik Ottoman di Najd dan wilayah Saudi tidak pernah sepenuhnya stabil, dan Saudi Kedua (1824–1891) muncul kembali.
2. Runtuhnya Ottoman (1918)
- Kekhalifahan Ottoman runtuh setelah Perang Dunia I (1914–1918).
- Wilayah Hijaz menjadi merdeka dari Ottoman dan dipimpin oleh Sharif Hussein bin Ali (raja Hijaz).
- Ottoman kehilangan kontrol langsung atas Hijaz, sehingga tidak lagi bisa menegakkan hukum atau membendung pengaruh Wahhabi di wilayah Najd.
3. Bangkitnya Saudi Arabia
- Dengan hilangnya kekuasaan Ottoman di Hijaz, Abdul Aziz bin Saud (ibukota di Najd) mulai memperluas pengaruhnya:
- 1924–1925: Menaklukkan Hijaz dari tangan Sharif Hussein.
- 1932: Mendirikan Kerajaan Saudi Arabia modern.
- Jadi runtuhnya Ottoman membuka celah bagi Saudi Arabia untuk menguasai Hijaz dan mengonsolidasikan kekuasaan Wahhabi.
4. Kesimpulan Kaitan
- Secara langsung: Runtuhnya Kekhalifahan Ottoman melemahkan kontrol terhadap Hijaz.
- Secara tidak langsung: Kelemahan Ottoman memberi peluang bagi Abdul Aziz bin Saud untuk menaklukkan Hijaz dan mendirikan Kerajaan Saudi modern.
- Implikasi ideologis: Kekuasaan Wahhabi menjadi dominan di wilayah suci Islam (Makkah dan Madinah) setelah Ottoman tidak lagi menjadi penguasa.
Saudi Arabia (atau lebih tepatnya keluarga Saud/Wahhabi) tidak ikut membantu meruntuhkan Kekaisaran Ottoman. Berikut penjelasan rinci:
1. Konteks Sejarah
- Kekaisaran Ottoman runtuh pada akhir Perang Dunia I (1918), akibat kekalahan militer terhadap sekutu Eropa, krisis internal, dan gerakan nasionalisme Arab.
- Pada saat itu, wilayah Hijaz berada di bawah Sharif Hussein bin Ali, yang sebelumnya bersekutu dengan Inggris melalui Revolusi Arab (1916–1918) untuk melawan Ottoman.
- Keluarga Saud dan gerakan Wahhabi masih menguasai Najd, tetapi mereka tidak terlibat dalam Perang Dunia I atau Revolusi Arab melawan Ottoman.
2. Hubungan Saudi dan Ottoman
-
Sebelum runtuhnya Ottoman, hubungan antara Wahhabi (Saudi) dan Ottoman selalu konflik:
- Negara Saudi Pertama (1744–1818) dan Kedua (1824–1891) pernah berperang melawan pasukan Ottoman untuk menguasai wilayah Najd dan sekitarnya.
- Konflik ini bersifat lokal dan regional, bukan bagian dari perang dunia atau kampanye militer global.
-
Jadi, Saud tidak membantu sekutu atau pihak manapun untuk meruntuhkan Ottoman. Mereka hanya menunggu kesempatan untuk memperluas wilayah ketika Ottoman melemah.
3. Kesimpulan
- Saudi Arabia tidak ikut secara aktif dalam kejatuhan Ottoman.
- Runtuhnya Ottoman adalah akibat kekalahan militer Ottoman sendiri dan dukungan Revolusi Arab dengan Inggris.
- Saudi Arabia memanfaatkan vakum kekuasaan pasca-Ottoman untuk menaklukkan Hijaz (1924–1925) dan mendirikan kerajaan modern (1932).
.jpeg)






0 komentar:
Posting Komentar