Senin, 17 November 2025

PEMBAHASAN YANG HAROM MUJASSIMAH MUSYABBIHAH

 

*PEMBAHASAN YANG DIHAROMKAN.* Orang yang bertanya dimana Allah

atau bagaimana Allah? Ketahuilah Dzat Allah tidak boleh dibahas-bahas secara akal. Tak boleh pula memberikan ruang untuk membahas Dzat Allah *selain Meluruskan Pemahaman Orang-orang yang lancang sebab memposisikan Dzat Allah seakan-akan makhluk.* Perlu melawan pemahaman orang-orang yang mendeskripsikan Dzat Allah seperti Keyakinan *Para Muhjassimah & Musyabbihah* yaitu Golongan Orang-orang yang Meyakini Allah bertubuh atau beranggota tubuh atau beraktivitas seperti aktifitas makhluk. Sebab itu melanggar ketentuan Aqidah Keimanan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

LARANGAN MEMBAHAS DZAT ALLAH

Nabi Muhammad ﷺ melarang membahas Dzat Allah. Jika ada ayat-ayat mutasyabihat di dalam Al Qur'an maka cukup sebatas membaca dan meyakininya semata. Jika ingin memahaminya secara mendalam maka harus mengacu kepada Assalafush Sholich melalui Ilmu yang bersanad. Tak menfsirkannya sendiri tanpa ilmu.
Sebab para Ulama' Salafush Sholich, bila mereka terpaksa menta'wilnya, mereka tetap bersandar kepada Kesucian, Kemuliaan Keagungan, dan Keindahan Allah. Atau membiarkannya (Tafwidz) saja, tanpa menta'wilnya, sebab Hanya Allah yang mengahui hakikatnya. Semua untuk menyelamatkan pemahaman 'Aqidah agar tidak melenceng dari pengajaran Nabi Muhammad ﷺ.

*MUTASYAABIHAAT*  Segala yang terkait pembahasan tentang Dzat Allah dalam *Ayat-ayat Mutasyaabihaat* adalah *AREA TERLARANG.* Jika di langgar, maka akan _menyebabkan kekufuran!_  Nabi Muhammad ﷺ sendiri telah melarang membahas Dzat Allah ! *"Berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah”* (HR. Abu Nu'aim dari Ibnu Abbas). Segala apapun yang _terkait dengan Dzat Allah_ *dilarang memikirkanya,* sebab akal fikiran manusia _tak akan pernah mampu mencapainya._ Bilamana menemukan ayat-ayat Al Qur'an yang Mutasyabihat yaitu yang menyatakan suatu yang seakan-akan ada kesamaan dengan manusia (penyebutan: mata, tangan, kaki, wajah, kalam, di langit, diatas,...

... dan apapun jua yang tersebut di dalam *Al Qur'an maupun Al Chadits mutasyabihat,* maka wajib menyikapinya dengan *"Tachwidz Ma'na"* dan menyikapinya dengan *Mengimaninya saja tanpa membahas apalagi membayangkan atau menterjamahkan ke bahasa lain.* Maka wajib Mengimaninya saja.*   *Bahwa Kalam Allah* ketika Allah berkalam, maka Kalam Allah bisa difahami tapi Kalam Allah itu *Tanpa huruf dan suara.* Dan Allah bisa dilihat tapi *Tanpa rupa, tanpa batasan tempat dan arah,* karena Allah tak ada kesamaan dengan makhluk-NYA. Saat melihat Allah, maka pastinya ajaran *Aqidah Ahlussunah Wal Jama'ah* menerangkan bahwa cara melihat Allah sangat berbeda dengan cara manusia melihat benda-benda.

... Sebab *Allah bukan jisim atau benda.* Saat di Padang Mahsyar ataupun di syurga, Allah dapat dilihat namun cara melihat DIA berbeda dengan melihat benda-benda. Dan pastinya Allah bukan sedang berada di suatu tempat.  *Manusia dimampukan Allah untuk melihat-NYA, tapi tidak sama dengan cara manusia melihat sesuatu.*  Sebagaimana keterangan dari para Ulama Salaf yang didapatkan dari Keterangan Nabi Muhammad ﷺ.  Maka kita *tidak diperkenankan berkeyakinan bahwa Allah berada di suatu tempat.* Ketahuilah *BAHWA TELAH ALLAH ADA sebelum segala tempat atau sesuatu diciptakan-NYA,* maka bagaimana mungkin Allah membutuhkan tempat sedangkan tempat itu sendiri tak ada.

Kita menyadari bahwa *Allah telah ADA sebelum segala tempat dan arah diciptakan-NYA.* _Ahlussunah Wal Jama'ah memahamkan itu kepada kita, agar kita tak terperosok ke dalam kesesatan dan kekufuran._ Seperti Ayat *"Arrohmaanu 'Alal Arsyistawa"*... Ayat ini *tidak boleh diterjemahkan* dengan cara Tekstual yaitu *Duduk atau Bersemayam di atas 'Arsy,* tapi harus sebatas *mengimani ayat itu saja* tanpa _menterjamahkan atau memikirkan apalagi meyakini terjemahan tekstualnya._  Ketahuilah... Allah tidak membutuhkan ciptaan-NYA termasuk Arsy. *Allah tidak berada di suatu tempat* seperti 'Arsy, Langit, Bumi dan Tidak di suatu arah seperti di atas, dibawah, kiri, kanan, muka & belakang.

*Allah tidak berada di suatu tempat dan di manapun,* baik di Bumi ataupun Langit ataupun Kursiy ataupun 'Arsy. Dan Allah pun *tidak bergerak-gerak ataupun berpindah-pindah* seperti makhluk.  Jika ada ayat atau Chadits Nabi yang menyatakan *"Kalam atau Chadits Mutasyaabihaat,* maka kita cukup *mengimaninya tanpa menterjamahkannya dengan akal kita sendiri."*  Para ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah melarang melakukan memahami secara tekstual dengan terjamahan. Tapi diwajibkan meyakini kebenaran ayatnya dan membaca sebagaimana bunyi ayatnya. Dalam menjaga ummat dari kesalahan, maka  para Ulama' Salaf menta'wilnya.

Allah *tidak boleh di shifati dengan berbagai bentuk atau rupa ataupun ukuran.* Sebab Allah tak serupa dengan segala sesuatu, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi, sebab  _yang memiliki aneka bentuk atau rupa dan warna ataupun ukuran adalah makhluk._  Sebagaimana yang telah diterangkan oleh para 'ulama salaf, Allah takkan pernah dapat dicapai oleh *pancaindera dan akal fikiran manusia yang terbatas.* Jika ia memaksakan dirinya menggapai Dzat Allah, maka *apa yang dalam kiraanya itu hanyalah ilusi dan dipastikan bukanlah Allah !* Allah Sang Pencipta manusia mengenal kadar kemampuannya. *Dan Allah tak bisa digapai dengan kebendaan tapi dengan Hati Yang Suci (Fuad).*

Kelompok dalam Islam yang yang *menganggap bahwa Allah SWT mempunyai Jism (tubuh) dan Kaifiyyah (:Bentuk, Ukuran, Rupa, Bersuara atau Bagian-bagian),* oleh karena itu penganutnya _telah menyamakan Allah SWT dengan makhluk-Nya._  maka kita sebut mereka itu kelompok *MUJASSIMAH‼️* Sedangkan mereka yang meyakini bahwa *sifat-sifat Allah Ta'ala serupa atau mirip dengan sifat-sifat makhluk-Nya (:Bergerak, Berpindah, Naik-Turun, Bertempat, Berarah, Berhadapan)* Mereka dianggap menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, yang dalam istilah lain disebut *tasybih.*  Sebab mereka demikian, maka kita sebut kelompok Teologi Islam ini dengan  *MUSYABBIHAH (مُشَبِّهَة)‼️*

*Mujassimah dan Musyabbihah* adalah dua istilah dalam teologi Islam yang seringkali berkaitan, namun memiliki perbedaan halus. *Mujassimah* adalah mereka yang _meyakini bahwa Allah memiliki jism (tubuh),_ sedangkan *Musyabbihah* adalah mereka yang _menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya._ Jadi, Mujassimah secara khusus meyakini keberadaan tubuh Allah, sementara Musyabbihah lebih luas, mencakup penyerupaan Allah dengan makhluk dalam berbagai aspek, tidak hanya bentuk fisik. Intinya, semua Mujassimah bisa dianggap sebagai Musyabbihah, karena keyakinan mereka tentang tubuh Allah adalah bentuk dari penyerupaan. Namun, tidak semua Musyabbihah adalah Mujassimah.

•  Jika seseorang mengatakan bahwa Allah memiliki tangan seperti tangan manusia, itu *contoh Mujassimah.*   •  Jika seseorang mengatakan bahwa Allah berbicara dengan cara yang sama seperti manusia, itu *contoh Musyabbihah,* tapi bukan Mujassimah.
•  Jika seseorang mengatakan bahwa Allah memiliki tangan seperti tangan manusia dan berbicara seperti manusia, itu *contoh Mujassimah sekaligus Musyabbihah.*  _Mujassimah adalah kelompok dalam Musyabbihah_ yang secara khusus *meyakini Allah memiliki tubuh.* Musyabbihah memiliki cakupan yang lebih luas, mencakup *segala bentuk penyerupaan Allah dengan makhluk, baik dalam aspek fisik maupun non-fisik.*

AGAR AMAN DAN SELAMAT DALAM MENIMBA ILMU AGAMA

*Selamat & Aman* Allah memang membuat perbedaan keadaan masing-masing manusia. Baik kapasitasnya dalam berbuat dan berfikir. Itu kebijakan Allah yang dengan itu manusia bisa saling isi dan juga untuk membedakan mana baik & buruk, mana lurus & sesat. *Ummat Islam diperbolehkan dalam perbedaan tapi bukan untuk saling menyalahkan.* _Selama yang diperbuat & diyakini sesuai dengan Nabi maka itu sudah pasti selamat & aman._ Namun kenyataan bahwa, Rosulullaah juga mengingatkan tentang adanya penyesat dari kaum sesat. Ada Nabi palsu, ada Ulama' Suu' yang mengajarkan & mengajak kepada keburukan & kesesatan. Maka itulah Para ulama penerus Nabi Muhammad ﷺ menerangkan mana yang lurus atau yang sesat.

Agar kita dapat mengenali mana yang harus kita ikuti, maka harus berupaya mengenali pengajaran Islam secara tepat. *Bagaimana caranya?* Wajib mengikuti pemahaman yang terjamin keamanan dan keselamatannya sebagaimana yang diterangkan oleh Rosulullah. Agar kita sampai kepada yang dimaksud oleh Rosulullah itu, kita harus meminta pendapat dari banyak orang terkemuka dalam agama. Jangan sampai kita memutuskan sikap dengan apa yang ada diri kita sendiri. Karena hal itu tidaklah memadai. Sebagai calon murid dan ingin menimba ilmu agama, jangan sampai bersikap tergesa-gesa dalam mengambil keputusan lalu menerima secara asal-asalan suatu pemahaman keagamaan Islam tertentu sampai kita berwawasan luas.

PERINGATAN BAGI YANG MENJAUHI ULAMA

*Musibah Bagi Ummat yang Menjauhi Ulama*  Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) pernah berpesan agar umat Islam jangan sekali-kali menjauhi para ulama . Bagi *mereka yang menjauhi ulama,* maka Allah Ta'ala akan memberikan musibah (cobaan). Dalam Kitab Nashaihul 'Ibad karya *Syeikh Nawawi Al-Bantani* disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, *"Hendaklah kalian berkumpul dengan ulama* (artinya mengamalkan ilmunya) dan *mendengarkan kalam para ahli hikmah* (artinya orang yang mengenal Tuhan). Karena sesungguhnya Allah Ta'ala menghidupkan hati yang mati dengan *cahaya hikmah* sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang mati (gersang) dengan air hujan.

Dalam riwayat lain dari Imam Thabrani dari Abu Hanifah, *"Duduklah kamu dengan orang dewasa,* dan _bertanyalah_ kamu kepada *para ulama* dan berkumpullah kamu dengan *para ahli hikmah".*  Dalam sebuah riwayat, *"duduklah kamu dengan para ulama, dan bergaullah dengan kubaro* (pembesar ulama)".
Hikmah adalah suatu ilmu yang bermanfaat, sedangkan hukama adalah para ahli hikmah. Berdasarkan hadits ini, hukama adalah ahli hikmah atau orang-orang yang *Mengenal Allah,* _senantiasa dalam kebenaran, baik dalam ucapan maupun perbuatannya._

Adapun *ulama adalah orang alim* (shaleh) yang _mengamalkan ilmunya._  Ulama itu ada dua macam: 1. Orang yang alim tentang *hukum-hukum Allah,* mereka itulah yang memiliki fatwa. 2. *Ulama yang makrifat* (mengenal) akan Allah, mereka itulah para hukama yang apabila bergaul dengan mereka akan dapat *memperbaiki akhlak.* Karena _hati mereka telah bersinar_ sebab ma'rifat kepada Allah, demikian juga rahasia (sirr) mereka bersinar disebabkan nur keagungan Allah.

*Ancaman Bagi yang Menjauhi Ulama:*  Rasulullah SAW bersabda, "Akan hadir suatu masa atas ummatku, mereka _menjauh dari para ulama dan fuqaha,_ maka Allah akan *memberikan cobaan kepada mereka dengan 3 cobaan,* yaitu: 1. Allah akan menghilangkan *berkah dari rezekinya.* 2. Allah akan mengirim kepada mereka *penguasa yang zalim.* 3. Mereka akan *meninggalkan dunia tanpa membawa iman* kepada Allah Ta'ala.
Al-Habib Abu Bakar Masyhur dalam satu nasihatnya mengatakan sebagaimana sabda Rasulullah SAW: *"Ulama itu adalah lampu-lampu di bumi,* sebagai _pengganti para nabi,_ mereka adalah *pewarisku dan pewaris para Nabi."*

Keberadaan ulama sangat berarti bagi *kemaslahatan hidup manusia.* Sebagai *pewaris para Nabi,* mereka _bertanggung jawab kepada Allah SWT dan mengemban tugas amar ma'ruf nahi munkar._  Dalam Surah Al-Fathir ayat 28 Allah berfirman: *"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."* Begitu beratnya tugas ulama sehingga Nabi SAW memerintahkan ummatnya untuk memuliakan para ulama.  Sebagaimana pesan Beliau: *"Muliakanlah ulama, Maka sesungguhnya mereka itu di sisi Allah adalah orang-orang yang mulia dan dihormati"*

JANGAN MENGIKUTI PEMAHAMAN WAHHABI SALAFI

Apapun dalam *mendalami agama Islam* harus berpegang kepada fatwa salafush sholich. Jika tidak demikian, maka akan sangat sulit mendapatkan pencerahan keagamaan yang benar-benar lurus sesuai Nabi Muhammad ﷺ. Jika pendapat Ulama' kholaf (Ulama' kurun baru di atas tahun 300 H) berpandangan telah sesuai dengan pandangan ulama Salaf Sholih, maka barulah diikuti. Jika tidak, maka bisa celaka sebab menyelisihi Nabi Muhammad ﷺ. Mengenal para As Salafush Sholich adalah suatu bagian pokok yang diwajibkan terkait menyerap ilmu-ilmu agama. Setelah itu, barulah menetapkan siapa-siapa yang aman untuk diikuti. Maka jangan mengikuti Wahhabi Salafi atau Kaum Mujasssimah Musyabbihah.

Tak dapat dipungkiri bahwa manusia itu kapasitasnya bermacam-macam. Kemampuan berfikir juga berbeda. Maka itu pola berfikirnya pun berbeda-beda. Pada level atas pada tingkatan Mujtahid saja berbeda apalagi pada level pengikutnya. Nabi Muhammad ﷺ sendiri sudah mengetahui kenyataan itu saat beliau masih hidup, ada yang sangat berani mengkritik Nabi, padahal ia bukan siapa-siapa (:Dzul Khuwaysiroh). Dan saat ini pun ada Wahhabi_Salafi yang sangat berani mengkritik Para 'Ulama ASWAJA. Dzul Khuwaysiroh telah *"Sanna Sayyiatan"*  resmi menjadi Bapak Pelopor Kesesatan. Diikuti Wahhabi Salafi dan telah menyesatkan banyak orang yang lemah dalam memahami qaidah agama & ilmu pengetahuan yang benar.

WAHHABI SALAFI SESAT SEBAB BERAGAMA SECARA TEKSTUAL

*"Wahhabi Salafi"* AKAL mereka telah terbelenggu oleh mereka menerima racun aqidah doktrin pengajaran *Mujasssimah Musyabbihah.* yang tekstual. Mereka mengatakan dan mengira bahwa pemahaman tentang *"Ayat Ayat Allah"* itu sudah seperti apa yang mereka pikirkan. *"Mereka (WAHABI SALAFI) itu merasa bahwa PEMIKIRAN mereka sudah sangat selaras dengan yang dimaksudkan Allah dan Nabi Muhammad."* Padahal pada kenyataannya bahwa cara mereka memahami Al Qur'an dan Al Chadits tidak sedikitpun berkesesuaian dengan yang dimaksudkan Allah dan Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana yang telah diterangkan oleh para 'Ulama' salafush-sholih.

*Wahhabi Salafi*   Sekte ini telah memiliki pendapat yang teramat sangat bertentangan dengan Para Ulama' *Ash Salafush Shoolich & Assalaafiyyuun (Pengikut Ulama' Salafush Shoolich)* dalam menilai Al Chadits. *Sekte ini suka mengatakan dho'if terhadap hadits-hadits yang Hasan jika tidak di shohkan oleh Al Bani.* Dan menjadikan panduan fiqihnya dengan "Kaidah Bid'ah" yang terbatas dengan pemahaman mereka sendiri yang tak jelas, sebab tak memahami prinsip-prinsip pengambilan hukum *bersepakat dengan Ijma' Banyak Ulama.* Sehingga ada kecenderungan bertentangan dengan kebanyakan Ulama'. *Dalam Fiqih tidak ada istilah Bid'ah,* sebab ia bukankah suatu kaidah dalam hukumnya.

73 GOLONGAN UMMAT ISLAM

Jumlah kaum sesat dari dahulu hingga saat ini ada beberapa golongan Islam sehingga pada akhirnya sampai hari kiamat ini berjumlah 72 golongan. Yang lurus hanya ada *satu golongan saja:* _Ahlussunnah Wal Jama'ah._ Ciri khas Ahlussunnah Wal Jama'ah adalah *Jumlahnya Banyak Tersebar di seluruh dunia, Bersatu dalam banyak urusan, Tak mudah Bermusuhan di antara mereka, Mereka berpedoman kokoh dalam memegang ajaran Nabi Muhammad ﷺ, Para Sahabat & 'Ulama'* dengan _Prinsip² Dasar Al_Qur'an Al Chadits Ijma' & Qiyaas._ Banyak *mencontohkan kebaikan* dalam menerapkan Sunnah Nabi & Sahabat. Mereka *berfikiran luas* dalam memahami urusan agama dan *tak mudah memusyrik & mengkafirkan sesamanya‼️*

METODE POKOK AHLUSSUNNAH

*CARA BERSYARI'AT*  Kita Ahlussunnah Wal Jamaa'ah berkonsensus dalam memutuskan *PERKARA-PERKARA AGAMA* (syari'at) dengan pelbagai _disiplin ilmu_ baik balaghoh, Mantiq, tafsir, nahwu shorof dsb. Dan mengambil dari Atsar para Shahabat & Pandangan Jumhur Ulama'. Kita dilarang untuk _*membid'ahkan - mengkafirkan - menyesatkan sesama muslim & mu'min*_ seperti yang dilakukan kaum *WAHABI SALAFI.* Kita Ahlussunnah Wal Jamaa'ah berpegangan kepada _*Al Qur-aan, Al Chadits, Tafsir, Ijma' Jumhur ulama' dan Qiyaas*_ serta mempertimbangkan _Aspek Adat Istiadat_ yang mendukung *KEBAIKAN BERSYARI'AT* dan dipastikan tak bertentangan dengan *Syari'at Islam.*

Kita Ahlussunnah Wal Jamaa'ah tidak bersependapat dengan *Kaum Wahabi Salafi* yang berpedoman dalam  *Bersyari'at maupun Ber 'Aqidah !* Mereka menggunakan metode _SEMPIT_ dan menerapkan cara ber-SYARI'AT dan Metode _MEMBAHAYAKAN_ dalam ber-'AQIDAH sebab menafsirkan Agama Islam *"HANYA SEBATAS TEKSTUAL."*  Keagamaan metode Tekstual akan membuat *JURANG PEMISAH* terhadap sesama muslimin & mu'miniin. Itu akan menjadi *"SUMBER PERSELISIHAN & PERMUSUHAN"* antar sesama hamba Allah. Kaum Wahabi Salafi akan sangat mudah *Membid'ahkan, Menyesatkan, Mengkafirkan* bahkan bisa *Menghalalkan Darah* terhadap sesama muslim. Senyatanya mereka telah *MEMBATASI DIRI* terhadap sesama muslim & mu'minin.

*METODE POKOK AHLUSSUNNAH* Pertimbangan dalam memutuskan suatu perkara agama *SECARA SIMPLE* adalah pokok _CARA BERSYARI'AT_ yang sah dalam *ISLAM !*  • Kata *"Tiada Bertentangan"* • Kata *"Menguatkan"* Kata *"Saling Mendukung"* • Kata *"Tidak menyelisihi atau menghancurkan agama !"* • Kata *"Yang berpandu"* kepada : _Al Qur-aan, Al Chadits dengan kriteriaan Disiplin Ilmu Chadits, Tafsir Al Qur-aan, Sarah Al Chadits, Kitab kitab Fiqh & Ushul Fiqh dan Ilmu Pendukungnya_ (Balaghoh, Mantiq, Nahwu shorof dsb) serta _Pandangan para *FUQOHA - 'ULAMA' & AHLI AGAMA*_ yang pada pokoknya mendasarkan kepada Atsar para Shahabat, Taabi'in dan Tabi'ut Taabi'in lalu menghasilkan *IJMA' & QIYAAS !*

*AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH*  Terhadap orang-orang yang beriman tapi *"melakukan dosa-dosa"* adalah mereka tidak _DINILAI KAFIR_ dan itu bertentangan dengan *Sekte Mu'tazilah.* Pandangan ASWAJA terhadap orang berdosa tersebut _menjadi urusan Allah,_ Tetap bisa berharap Rahmat Allah‼️ *"Apakah mereka disiksa Allah atau di ampuni-NYA."* ASWAJA tidak menilai orang beriman menjadi kafir seba dosanya. Hal itu sama prinsip pada yang kebalikannya yaitu *"amal kebaikan orang kafir tidak menjadikan mereka boleh dianggap sebagai orang beriman."* Sedangkan dalam pandangan ASWAJA tidaklah dosa dianggap sebagai suatu persoalan yang tak boleh disepelekan dan itu bertentangan *Anggapan Sekte Murjiah.*

0 komentar:

Posting Komentar