Berikut adalah penjelasan paling rinci, mendalam, dan terstruktur mengenai pendapat Imam al-Ghazali tentang tauhid, diambil dari karya-karyanya yang otoritatif—khususnya:
- Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn
- al-Iqtiṣād fī al-I‘tiqād
- al-Maqṣad al-Asnā fī Sharh Asmā’ Allāh al-Ḥusnā
- al-Risālah al-Qudsiyyah
- al-Munqidz min al-Ḍalāl
Penjelasan di bawah ini disusun sesuai metode teologi Asy‘ariyyah, karena Imam al-Ghazali adalah seorang Asy‘ari besar.
🟦 I. Tauhid Menurut Imam al-Ghazali BUKAN TIGA (Rububiyyah–Uluhiyyah–Asma Sifat)
Imam al-Ghazali sangat tegas:
Tauhid tidak dibagi menjadi tiga bagian.
Tidak ada istilah:
- tauhid rububiyyah
- tauhid uluhiyyah
- tauhid asma’ wa sifat
Pembagian seperti ini bid‘ah baru, tidak dikenal salaf.
Imam al-Ghazali menyatukan tauhid menjadi satu kesatuan:
Tauhid = mengesakan Allah pada Dzat, Sifat, dan Perbuatan-Nya.
Ini yang diikuti oleh Asy‘ariyyah.
🟦 II. Empat Tingkatan Tauhid Menurut Imam al-Ghazali
Dalam Ihyā’, beliau menyebut 4 tingkatan tauhid (bukan 3):
1. Tauhid dengan lisan saja (tauhid orang awam paling lemah)
Mengucap “La ilaha illallah” namun tanpa pemahaman yang mendalam.
2. Tauhid dengan akal pemikiran (‘aqliyyun — kalam Asy‘ari)
Menetapkan:
- Allah Esa
- Tidak bertubuh
- Tidak menempati tempat
- Tidak serupa makhluk
- Memiliki sifat-sifat kesempurnaan
Ini tauhid ulama kalam.
3. Tauhid dengan penyaksian (syuhud) — tingkat ‘arif
Melihat segala sesuatu sebagai karya Allah,
dan makhluk tidak memiliki daya tanpa izin Allah.
4. Tauhid fana’ — tingkat para wali (puncak)
Hanya menyaksikan Allah sebagai satu-satunya Realitas yang mengatur segala sesuatu.
Tingkat ini bukan berarti hulul atau wihdatul wujud, tapi fana’ dari ego.
🟦 III. Tauhid Dzat Menurut Imam al-Ghazali
Dalam al-Iqtisad, beliau mengatakan:
“Allah itu Esa, tidak tersusun, tidak terbagi, tidak berbilang, tidak berjisim dan tidak bertempat.”
Jadi, tauhid dzat = menafikan:
- bentuk
- ukuran
- ruang
- arah
- tubuh
- bagian-bagian
Beliau mengutip Imam Malik:
“Istiwa' itu ma'lum, bagaimana-nya tidak difahami, mengimaninya wajib, menanyakannya bid‘ah.”
🟦 IV. Tauhid Sifat Menurut al-Ghazali
Imam al-Ghazali menetapkan sifat-sifat Allah:
- Hayah
- Ilmu
- Qudrah
- Iradah
- Sama‘
- Bashar
- Kalam
- Takwin
Namun beliau menolak pemahaman literal:
“Siapa yang mengatakan Allah punya tangan seperti tangan makhluk maka ia kafir.”
➡ Ini menolak akidah tajsim Wahhabiyyah.
Jika muncul ayat-ayat mutasyabihat:
- tangan
- wajah
- datang
- turun
- istiwa’
Maka beliau memberikan dua opsi:
1. Tafwidh (serahkan makna hakikat kepada Allah)
Metode salaf.
2. Takwil bila ada fitnah antropomorfisme
Metode khalaf.
🟦 V. Tauhid Af‘al (Perbuatan Allah)
Ini sangat penting dalam pemikiran Ghazali.
Beliau mengatakan:
“Tidak ada pencipta selain Allah. Tidak ada pelaku hakiki selain Allah.”
Makhluk berbuat hanya karena:
- Allah menciptakan kemampuan
- Allah menciptakan geraknya
- Allah menciptakan efeknya
Manusia hanyalah perantara, bukan pencipta efek.
Inilah doktrin kasb Asy‘ariyyah, dipertajam oleh al-Ghazali.
🟦 VI. Tauhid dan Syirik Menurut al-Ghazali
Imam al-Ghazali membantah keras klaim Wahhabi bahwa:
“Orang musyrik Mekah bertauhid rububiyyah.”
Beliau menegaskan:
Orang musyrik tidak punya tauhid sama sekali.
Mereka mengakui penciptaan Allah, tapi:
- berdoa kepada selain Allah
- menyembah berhala
- menjadikan makhluk sebagai sekutu
- percaya manfaat dan mudharat dari selain Allah
Maka mereka tidak muwahhid.
Beliau berkata:
“Musyrik adalah yang menjadikan sebab sebagai pelaku hakiki.”
Ini menolak doktrin rububiyyah–uluhiyyah.
🟦 VII. Ringkasan Tauhid Menurut al-Ghazali (Versi Akademik)
Berikut sistem teologi tauhid menurut Imam al-Ghazali:
✔ Tauhid Dzat:
Allah Esa, tidak bertempat, tidak berarah, tidak berjisim, tidak tersusun.
✔ Tauhid Sifat:
Allah memiliki sifat yang tidak sama dengan makhluk, tanpa tasybih.
✔ Tauhid Af‘al:
Allah satu-satunya pelaku hakiki; makhluk tidak mencipta efek.
✔ Tauhid Ibadah:
Beribadah hanya kepada Allah, namun tawassul, tabarruk, ziarah tidak termasuk syirik karena tidak menyembah makhluk.
✔ Tauhid Ma‘rifah:
Menyaksikan bahwa seluruh realitas adalah ciptaan Allah.
✔ Tauhid Haqiqi:
Fana’ dari ego dan hanya melihat Allah sebagai pengatur hakiki tiap detik.
🟧 VIII. Sikap al-Ghazali terhadap Pembagian Tauhid Tiga
Ghazali secara prinsip menolak:
- tauhid rububiyyah
- tauhid uluhiyyah
- tauhid asma’ wa sifat
Karena:
- Pemisahan ini tidak dikenal salaf
- Bertentangan dengan logika ushuluddin
- Menyebabkan kesesatan besar:
- Menganggap Abu Jahal memiliki “tauhid rububiyyah”
- Menganggap syirik hanya pada ibadah, bukan pada keyakinan
- Melahirkan takfir sesama Muslim
Ghazali menyebut model pemikiran seperti ini sebagai:
“Tatharruf (ekstremisme) dan kebodohan terhadap hakikat tauhid.”
🟩 KESIMPULAN PADAT
Tauhid menurut Imam al-Ghazali:
Mengesakan Allah pada Dzat, Sifat, dan Af‘al-Nya, meniadakan tasybih, menetapkan sifat secara layak, dan meniadakan pelaku selain Allah.
Bukan:
✘ rububiyyah
✘ uluhiyyah
✘ asma’ wa sifat
Pembagian itu bid‘ah, tidak dikenal para imam.






0 komentar:
Posting Komentar