Minggu, 30 November 2025

Penolakan Tajsîm (penyerupaan Allah dengan makhluk), lengkap dengan kutipan nash dari karya Imam Ghozali

 

Berikut ringkasan paling kuat dan langsung dari karya-karya Imam al-Ghazali tentang penolakan tajsîm (penyerupaan Allah dengan makhluk), lengkap dengan kutipan nash dari karya beliau.


📌 Bantahan Imam al-Ghazali terhadap Antropomorfisme (Tajsîm)

Imam al-Ghazali (w. 505 H) merupakan salah satu tokoh terbesar Ahlus Sunnah dari madzhab Asy’ariyyah yang sangat keras menolak aqidah tajsim—yakni menganggap Allah berjisim, bertempat, memiliki arah, ukuran, bentuk, atau sifat fisik.

Di bawah ini adalah ringkasan dan kutipan langsung dari Ihya’, Iljam al-‘Awwam, al-Qistas, al-Arba’in, dan Fayshal al-Tafriqah.


🟥 1. Allah tidak berada di arah dan tempat

📌 Ihya’ Ulumiddîn 1/109 (Dâr al-Ma‘rifah)

“Allah tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di depan, tidak di belakang; dan tidak pula berada dalam sesuatu atau di luar sesuatu.”

Ini adalah bantahan tegas terhadap:

  • konsep Allah di atas Arsy secara fisik,
  • konsep Allah bertempat,
  • konsep Allah berarah.

🟥 2. Orang yang menetapkan arah bagi Allah adalah ahli bid’ah

📌 Iljâm al-‘Awwâm ‘an ‘Ilm al-Kalâm, hlm. 42

“Pengertian ‘di atas’ dan ‘di bawah’ adalah sifat makhluk. Maka siapa yang menetapkan arah bagi Allah, sungguh ia telah sesat.”


🟥 3. Menetapkan tubuh (jism) bagi Allah adalah kekafiran

📌 al-Iqtisâd fi al-I‘tiqâd, hlm. 65

“Barang siapa berkeyakinan bahwa Allah adalah jisim, tersusun, atau memiliki ukuran, maka ia telah kafir dengan ijma’ ulama.”

Ini langsung memukul:

  • aqidah ‘Allah duduk di atas Arsy’
  • aqidah ‘Allah turun seperti turunnya makhluk’
  • memahami ayat-ayat sifat secara fisikal.

🟥 4. Wajib mentakwil ayat-ayat mutasyâbih yang nampak fisik

📌 Fayshal at-Tafriqah, hlm. 98–99

“Apabila ayat mutasyabihat menunjukkan makna yang mustahil atas Allah, seperti tangan, mata, dan wajah sebagai anggota tubuh, maka wajib ditakwil untuk menghilangkan makna lahirnya.”


🟥 5. ‘Istiwa’ bukan duduk, bukan bertempat

📌 al-Arba‘în fî Ushûl al-Dîn, hlm. 54

“Istiwa’ tidak boleh dipahami sebagai bertempat atau menetap. Karena tempat adalah sifat makhluk.”


🟥 6. Allah tidak membutuhkan arah ‘uluw jisim’

📌 Qawâ‘id al-‘Aqâid (bagian dari Ihya’), hlm. 112

“Keberadaan Allah di atas Arsy dengan makna berada di tempat adalah batil. Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat.”


🟥 7. Menyerupakan Allah dengan makhluk adalah bentuk syirik

📌 Ihya’, 4/434

“Barang siapa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya maka ia telah menjadikan-Nya sekutu, dan itu adalah syirik yang paling nyata.”


🟥 8. Hadits-hadits yang tampak ‘fisikal’ wajib dipahami dengan tanzîh

📌 Fayshal at-Tafriqah, hlm. 132

“Tidak boleh memahami nash sifat secara hissî (fisikal), karena itu meniscayakan bahwa Allah serupa dengan makhluk.”


🟥 9. Seseorang menjadi kafir bila menetapkan Allah ‘memiliki bentuk’

📌 al-Iqtisâd, hlm. 68

“Bentuk (shurah) mustahil atas Allah. Maka orang yang menisbatkan bentuk kepada-Nya keluar dari agama.”


🟥 10. Menisbatkan duduk (julûs) kepada Allah adalah kesesatan

Imam al-Ghazali dalam Iljâm al-‘Awwâm, hlm. 43:

“Mereka yang berkata Allah duduk di atas Arsy sungguh berkata dusta dan sesat. Karena duduk hanya terjadi pada benda yang membutuhkan tempat.”


🟩 Kesimpulan Utama

Menurut Imam al-Ghazali:

  1. Allah tidak memiliki jisim, arah, tempat, bentuk, ukuran.
  2. Allah tidak berada “di atas” secara fisikal.
  3. Memahami ayat sifat secara fisikal adalah kesesatan.
  4. Menetapkan tubuh bagi Allah adalah kekafiran.
  5. Ayat mutasyabihat wajib ditakwil atau diserahkan maknanya kepada Allah dengan tanzîh.
  6. Aqidah tajsim = syirik dan menyimpang.

Konsep ini persis aqidah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, dan berlawanan 180° dengan:

  • keyakinan Wahhabi (salafi-hambali tajsîmi) tentang “Allah di atas Arsy secara hakiki",
  • “Allah turun secara hakiki”,
  • “Allah memiliki wajah, tangan, mata secara hakiki”.


.

0 komentar:

Posting Komentar