Sabtu, 29 November 2025

LIBERALISME DI NU

  (Panjimas.com) – Belum lama ini, Kamis, 28 Februari 2019, Munas NU di Kota Banjar, Jawa Barat memutuskan bahwa “Non-Muslim Bukan Kafir, Mereka Warga Negara” (nu.or.id). Menaggapi hal tersebut, KH. M. Najih Maimoen, seorang Ulama NU (Murid Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki) menjelaskan beberapa hal:

Non-Muslim adalah kafir sebagaimana yang tertera jelas dalam Nash-nash Al-Qur’an, Hadits dan Kutubussalaf. Meskipun dalam Fiqih Islam, ada beberapa istilah seperti harbi, dzimmi, musta’min dan mu’ahid, namun sifat kafir itu tetap melekat dalam diri mereka dan tidak bisa dihilangkan.

“Jika mereka enggan disebut kafir, terus maunya disebut apa?!. Kalau cuma dinamakan warga negara, kami khawatir suatu saat nanti kita (umat Islam pribumi) disebut WNA, sedang mereka (kafir pendatang) disebut WNI,” tagas KH. M. Najih Maimoen.

Keputusan Munas NU di atas semakin mempertegas posisi NU sekarang yang alergi terhadap istilah-istilah Qur’ani dan Musthalahat Ulama yang justru berimplikasi menghapus lafadz, makna dan hukum serta substansi yang terkandung di dalamnya.

Inilah wajah liberalisasi Islam yang terorganisir secara masif. Yahudi-Nasrani saja yang notabenenya Ahlul Kitab, disebut kafir oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, apalagi Hindu, Budha, Konghucu, Komunis, Atheis atau Komunis Gaya Baru (mengakui tuhan tapi menolak ajaran agamanya).

Dilegalkannya kepemimpinan kafir-Non Muslim dan membolehkan memilihnya dalam kontestasi Pileg, Pilkada, Pilgub dan Pilpres, serta penghapusan kata “kafir” sebagaimana yang dihasilkan Bahtsul Masail GP Ansor, Munas NU di NTB dan Munas NU di Banjar merupakan bukti konkrit bahwa NU era sekarang seakan telah ‘memvulgarkan’ keliberalan organisasinya, yang dulunya hanya dicemari oleh statement oknum-oknum liberal seperti Masdar Farid Mas’udi, Said Aqil Siradj, Ulil Abshar Abdalla dan Sang Maha Guru mereka.

“Namun NU kini tidak segan-segan mempercayakan urusan Bahtsul Masail (sebagai perumus atau mushahhih) kepada gembong liberal, Abdul Muqsith Ghozali cs,” sesalnya.

Orang-orang yang harus tanggung jawab dunia akhirat atas keputusan Bahtsul Masail Maudluiyah yang menyalahi syariat; KH. Miftahul Akhyar, KH. Subhan Ma’mun, Prof. Muhammad Ahsin, Masdar Farid Masudi, Yahya Cholil Staquf, Abdul Ghofur Maimun Zubair, H. Asrorun Niam Sholeh, Said Aqil Siroj, H. Marsudi Syuhud, dan H. Helmi Faishal Zaini.

Apakah keputusan Munas NU di Banjar ini ada hubungannya dengan didatangkaannya jutaan buruh dari China untuk mencoblos salah satu Paslon agar sah pencoblosannya dan diakui sebagai etnis Indonesia baru (komunis gaya baru)? Atau adakah hubungannya dengan caleg-caleg kafir China yang sudah sekian persen menduduki parlemen Indonesia? Atau terkaitkah dengan dengan munculnya fenomena ganjil Aliran Kepercayaan dalam e-KTP? Ini jelas ada campur tangan rezim yang disinyalir ingin menghidupkan Nasakom jilid baru.

Kalau sudah seperti ini, berarti NU pusat sudah mal’unah beserta seluruh liberalis-pro komunis yang bernaung di bawahnya, karena tidak menggubris Nash-nash Al-Qur’an Hadits dan kutubussalaf, dan menjadikan liberalisme (Islam Nusantara) sebagai agama barunya.

“Kata kafir menyakiti sebagian kelompok non-Muslim.” Begitulah argumentasi yang dipaparkan Abdul Muqsith Ghozali selaku Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU di Komisi Maudluiyah Munas NU di Banjar.

Dalam tradisi pesantren, sah dan legalkah hal tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan hukum syar’i? Kenapa NU lebih semangat mengotak-atik istilah yang sudah baku dalam Islam? Apakah ada pihak-pihak luar (Kafir, Kristen, Cina dll) yang sedang mengancam dan siap menghabisi NU? Ngapain NU ngopeni rasa ketersinggungan kafir yang notabene ahli jahannam? Kok sampai segitunya ya?

Abdul Ghofur Maimoen, sebagai pihak yang memimpin komisi Bahtul Masa’il Maudluiyah dalam beberapa kesempatan menyampaikan pembelaannya atas keputusan Munas NU di Banjar. Di antaranya dia berdalih,
الأصل في العلاقة بين المسلمين وغيرهم هو السلم. العلة في الحرب الهجومي للكفار هي الحرابة وليست الكفر

Bahkan dengan dasar ini, dia berani membuat istilah Kafir Silmi. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Ta’bir di atas tak lain adalah syubhat liberalisme yang gencar dipasarkan oleh pemikir-pemikir liberal Mesir, seperti M. Rasyid Ridla dan Musthofa as-Siba’i. Pendapat ini melawan konsensus jumhur ashhabil madzahib yang dengan tegas menyatakan الأصل في العلاقة بين المسلمين وغيرهم هو الحرب, pendapat ini didasarkan beberapa nash-nash agama.

Jika dia berkelit lagi dengan menggunakan ayat,
لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (الممتحنة: 8)

Maka perlu dia catat bahwa ayat ini untuk urusan kekeluargaan, bukan urusan kenegaraan. Adapun saat ini, kita tidak memerangi orang-orang kafir, itu disebabkan karena kita tidak mempunyai pemerintahan yang melindungi dan menjamin keberlangsungan jihad fi sabilillah. Kami lebih selamat mengikuti fatwa Syaikh Ismail Zein, hal 200-212, yang dengan jelas menyatakan status keharbian non muslim Indonesia, namun karena lidafil mafsadah, kita tidak boleh memeranginya. Apakah Abdul Ghofur Maimoen sudah merasa lebih Alim dari Syaikh Ismail Zein? Ataukah ia sudah tergolong aba wastakbara…?

Keputusan Munas NU di Banjar secara eksplisit menganggap perbedaan agama bukanlah sebuah akidah yang prinsipil, NU secara implisit mendidik warganya untuk tidak mempermasalahkan perbedaan agamanya dan mendorong mereka untuk lebih bangga jika berstatus “sederajat” dengan orang-orang kafir.

Jika demikian adanya, lalu apa bedanya status Nahdliyyin dan status Komunis? Buat apa amaliyah kesehariannya (tahlilan, istighosah, tawasshul, shalawatan, diba’an dsb) jika bermental komunis-atheis?

Saat dalam keadaan terpojok, elit-elit NU seringkali meniru gaya rezim saat ini, yaitu tidak mau mengakui kesalahannya, berusaha mengelak dan mencari-cari pembenaran dengan berkelit dan mentakwil-takwil. Krisis amanah ilmiah dan moralitas memalukan seperti ini sudah seringkali terulang-ulang dalam tubuh NU.

Contoh kongkritnya yaitu ketika NU memutuskan keputusan-keputusan kontroversial seperti melegalkan kepemimpinan non muslim dan penghapusan istilah kafir, sebagaimana pemerintah saat ini yang seringkali salah dalam masalah data dan carut-marutnya penerapan kebijakan. Ajaib sekali, karakter keduanya hampir sama persis. Maka tidak heran jika ada yang mengatakan NU kini telah disetir oleh rezim dengan mengucurkan dana besar lewat program Islam Nusantara. Sungguh naas sekali nasibmu kini, wahai NU, tergadaikan!

Demikian ini yang dapat kami sampaikan sebagai wujud kepedulian tinggi kami terhadap Organisasi warisan ulama salafusshalih Ahlussunnah wal Jama’ah agar tidak melenceng terlebih dari substansi orisinalitas agamanya. Semoga Allah SWT menghancurkan pihak-pihak yang ingin merusak NU, dan memberi taufiq dan inayah kepada mereka yang istiqomah merawat dan memperjuangkan NU ala thariqoti salafisshalih Ahlissunnah wal Jama’ah. Amin.
Wallahu a’lamu bisshawab.

Sarang, Jumat, 24 Jumadal Akhirah 1440 H./ 1 Maret 2019 M.


KH. Hasyim Asyari dan Fenomena ‘NU Garis Lurus’

Oleh: Muhammad Saad

BARU-BARU ini kelompok aktivis muda Nahdhatul Ulama (NU) mengaku resah atas fenomena lahirnya “NU Garis Lurus”. Kelompok yang semula hanya muncul di akun Facebook dan twitter ini tiba-tiba pamornya naik.

Alih-alih dinilai banyak meresahkan para aktivis NU muda, kegeraman terhadap “NU Garis Lurus” yang dipromosikan di jejaring social membuat namanya kita melejit. Belakangan, kelompok ini juga melahirkan laman internet dengan alamat; www.nugarislurus.com.

Sebelum ini, fenoma “NU Garis Lurus” telah membuat banyak kalangan seolah kebakaran jenggot.

Sebut saja misalnya aktivis liberal yang juga aktiv di PDI-P, Zuhairi Misrawi dalam kicauannya di twitter tanggal 04 April 2015  mengatakan, dirinya baru membolikir NU Garis Lurus yang dituduhnya sebagai Wahabi dan PKS, “Baru memblokir akun NU Garis Lurus yang mengaku NU, tapi kicauannya mirip Wahabi dan PKS.”

Mungkin karena geram, dua hari setelah itu, 6 April 2015 ia mengaku telah memblokir akun NU Garis Lurus dan twitternya. “Setelah ada akun dan web NU Garis Lurus yang ingin wahabisasi NU,kini muncul antitesanya @NUgarislucu :),” ujarnya.

Fenomena NU Garis Lurus tak hanya meresahkan Zuhairi. KH Misbahul Munir (LDNU) berkomentar, “Hari hari ini mulai ada NU Garis Lurus, heran juga. Masuk NU harusnya niat memperbaiki diri bukan  memperbaiki NU.”

Bahkan Nur Khalik Ridwan, menulis artikel di laman www.gusdurian.net yang menyebut NU Garis Lurus amat membahayakan apa yang telah diperjuangan Gus Dur dan Gus Mus.

“NU Garis Lurus yang tidak mencantumkan siapa sebenarnya pengelola dan komunitas mana yang mengembangkan ini, justru memperkuat dugaan demikian. Web ini berusaha memicu pergolakan internal NU dan dimanfaatkan oleh orang tertentu, agar lapisan terdidik NU terus menerus mengurusi soal laten percekcokan sektarian. Yang bisa dimanfaatkan untuk itu adalah figur-figur seperti Ust. Idrus Ramli, Gus Najih, Gus Luthfi, dan lain-lain-lain. Dari jantungnya sendiri, mereka menghantam orang-orang yang telah bertahun-tahun berjuang untuk NU dan menegakkan muruah NU di jagad Indonesia dan dunia, sepertu Gus Dur dan Gus Mus.” [Nur Khalik Ridwan, “Masalah Pemurniah ASWAJA NU Garis Lurus ” , Kamis, 02 April 2015, www.gusdurian.net].

Tak terkecuali tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdala ikut pula gerah .

“Akhir-akhir ini ada gerakan yg menamakan dirinya “NU Garis Lurus”. Namanya sendiri sudah menunjukkan bahwa yg membuat gerakan ini tak mengerti kultur NU,” ujar Ulil melalui akun twitter @Ulil.

“Kalau NU diluruskan garisnya, maka ya jadi Wahabi. Garis NU itu lentur;  filosofinya seperti tali jagad di logo NU itu. Talinya lentur dan longgar, tidak ketat,” ujar Ulil Abshar Abdala dalan akun twitter @Ulil, 7 April 2015.

Mengapa banyak pihak seolah merasa tersengat?

Sebagaimana tagline kelompok ini yang tertera di laman www.nugarislurus.com, jika kehadirannya mengembalikan ajaran NU yang dibawa KH Hasyim Asy’ari yang Sunni, tidak Sekularis, pluralis dan liberalis (SePILIS).

“NU GARIS LURUS adalah merupakan upaya pengembalian pemahaman warga NU kepada ajaran KH. Hasyim Asy`ari yang murni Sunni Syafi`i Non SePILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme).”[www.nugarislurus.com]

Sebagaimana diketahui, kelompok-kelompok berpaham liberal dan Syiah dinilai telah banyak menyusup dalam tubuh NU benar-benar merasa terusik ketika gerakan ini muncul dengan nama “NU Garis Lurus”, seolah ingin meluruskan pemikiran NU yang sudah tidak murni lagi.

Adalah KH Lutfi Bashori putra KH. Bashori Alwi sesepuh NU Jawa Timur yang dikenal berdakwah dan fokus pada pembersihan virus-virus akidah semisal sekularisme, pluralisme dan liberalisme [SePILIS) dan Syiah dalam tubuh ormas Islam di Indonesia ini.

Pada bulan Februari 2015, ia membidani lahirnya  ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) GARIS LURUS.

Semula, kelompok ini hanya kumpulan beberapa aktifis Aswaja yang tergabung dalam Grup Pejuang ASWAJA, lantas dalam penjabarannya mendapat tambahan GARIS LURUS dan menjadi Pejuang ASWAJA Garis Lurus.

Dalam keterangannya di laman www.pejuangislam.com, tambahan Garis Lurus untuk membedakan dari warga NU (bahkan sebagian tokoh NU), yang sudah keluar dari ajaran akidah KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU. [Baca: GROUP PEJUANG ASWAJA GARIS LURUS di http://www.pejuangislam.com/main.php?prm=karya&var=detail&id=913]

Namun belakangan, atas gagasan KH Luthfi Bashori ini muncul pihak-pihak tertentu dengan membuat Fanspage Facebook dengan nama yang sama. Tepatnya pada 27 Oktober 2014, Fanspage yang berjudul “NU Garis Lurus” dibuat.

Namun KH Luthfi Bashori sendiri dalam keterangan resmi di situs pribadinya, telah menjelaskan akun Facebook NU Garis Lurus tidak memiliki kaitan dengan Grup ASWAJA Garis Lurus.

Meski tidak ada kaitan antara keduanya, tetap saja keberadaan Grup ASWAJA Garis Lurus dan akun Facebook NU Garis Lurus mencemaskan kelompok penganut paham liberal dan pendukung Syiah.

Pertama, kaum SePILIS dan Syiah meradang, sebab kesesatan dua faham yang menjadi benalu di tubuh NU ini dibongkar oleh NU Garis Lurus.

Bukti kemarahan salah satu dari mereka yang berfaham liberal adalah sebuah tulisan di web resmi www.nu.or.id dengan judul “Meluruskan “NU GarisLurus”. Dalam tulisan itu, M. Alim Khoiri menulis: “‘Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU GarisLurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatas namakan “NU Garis Lurus” ini tak segan – segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said, artikel ini tak lepas dari serangan mereka. (M. Alim Khoiri , “Meluruskan “NU GarisLurus” – NU Onlinewww.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail.)

Penulis artikel ini juga mengatakan bahwa NU Garis Lurus adalah kelompok yang mengatas namakan NU untuk menandingi keberadaan faham – faham yang dianggap sesat.

M Alim menulis “Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham – faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalism atau faham “Syi’ahisme”.

Menurut mereka, faham – faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip – prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU”.

Dari dua pernayataan di atas, M. Alim seorang Nahdhiyin yang tampak berpemikiran liberal, sangat kelihatan emosional dan tidak ilmiah dalam merespon NU Garis Lurus.*

Karena misi para liberalis dan Syiah terancam, mereka rupanya tidak segan-segan melakukan berbagai macam fitnah terhadap pejuang ‘NU Garis Lurus’ ini guna menjagal aktivitas dakwahnya.

Dari tuduhan bahwa ‘NU Garis Lurus’ kemasukan kelompok Salafy, sebagaimana fitnahan dalam tulisan M. Alim yang dimuat dalam situs resmi NU www.nu.or.id  berjudul “Meluruskan “NU Garis Lurus”.

Dalam artikel yang ditulis dengan emosional dan tanpa referensi ini, penulis mengatakan dua hal;

Pertama, ‘NU Garis Lurus’ adalah mengesankan bahwa NU struktural adalah NU yang tidak lurus. Kedua, ‘NU Garis Lurus’ merupakan bentukan untuk menandingi aliran-aliran yang dianggap sesat semisal liberalisme dan Syiah yang ada di dalam tubuh NU struktural.

Sangatlah tidak benar keberadaan ‘NU Garis Lurus’ menganggap NU struktural tidak lurus. Jika yang dimaksud adalah NU yang dicita-citakan oleh KH Hasyim Asy’ari, yaitu NU yang tegas kepada aliran-aliran  sesat, sebagaimana hal itu tertorehkan ketegasan beliau dalam kitab Risalah Ahlusunnah wal-Jamaah, dimana di dalam kitab tersebut beliau mengkritik kelompok yang suka mengkafirkan, penganut Syiah imamiyah, penganut aliran kebatinan dan pengikut aliran tasawwuf menyimpang dengan konsep manunggaling kawulo gusti [Hasyim Asya’ri, “Risalah ahlusunnah wal Jamaah”, baca Maktabah al-Turats al-Islamy hal. 09), maka ‘NU Garis Lurus’ tidak akan ada keberadaanya.

Kenyataanya, tubuh NU saat ini mulai sakit terserang faham-faham menyesatkan yaitu liberalisme [baca: “As’ad: Indonesia Sedang Alami Liberalisasi”, http://www.nu.or.id/).

Bahkan kepemimpinan NU saat ini dipegang oleh oknum yang ternjangkit virus paham Syiah sekaligus liberal.

Hal inilah yang kemudian membangkitakan ulama-ulama NU yang masih murni akidahnya termasuk KH Lutfi Bashori agar bisa ‘mengobati’ NU dan memberasihkan dari faham-faham merusak Aswaja.

Istilah ‘NU Garis Lurus’ sendiri menurut Kiai Lutfi Bashori adalah untuk membedakan dengan NU yang terkena faham muhaddamah [rusak) dan yang masih murni.

Pengasuh Ribath al-Murtadha ini pernah menyatakan, “Sedangkan kata Garis Lurus adalah untuk membedakan dari warga NU –bahkan sebagian tokoh NU– yang sudah keluar dari ajaran akidah KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU.” [Lutfi Bashori Alwi, “Panduan Aswaja Garis Lurus”, hal. 1-3).

Padahal KH. Hasyim Asy’ari menegaskan NU adalah organisasi yang berhalauan akidah Aswaja, dan menjadikan salah satu madzhab empat yang ada di aswaja [Madzhab Syafii) sebagai madzhabnya [Hasyim Asy’ari, Ziyadah ta’liqat, hal. 24). Sedangkan Aswaja menurut Syeikh Hasyim dengan mengutip pendapat Syeikh Syihab al-Khafaji adalah firqatu al-Najiyyah yang disebutkan dalam hadits. [ Dalam Risalah Ahlusuunnah wal-jamaah, hal. 23)

Keberadaan “NU Garis Lurus” bukanlah untuk menandingi faham-faham yang dianggap sesat yang menjadi benalu di tubuh NU. Justru keberadaan “NU Garis Lurus” sebagaimana penulis sebutkan tadi, ialah, untuk meneruskan misi KH Hasyim Asy’ari membersihakan faham-faham yang diyakini kesesatan-nya.

Faham-faham semisal SePILIS dan Syiah, dalam pandangan Islam bukan faham yang diduga kesesatannya sebagaimana yang ditulis oleh M. Alim.

Eksistensi Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme (SePILIS) benar-benar telah mendekonstruksi akidah dan syariah Islam serta mendegradasi akhlak kaum Muslimin.

Jika sekulerisme bertujuan menghilangkan peran agama dalam kehidupan masyarakat, pluralisme ingin menyamakan semua agama memiliki kebenaran, maka liberalisme adalah memayungi kedua paham tersebut.

Dr Hamid Fahmi Zarkasyi, peneliti INSISTS menyebut 5 tanda orang/golongan berpaham liberal;

“Mengatakan bahwa liberalisasi dalam dunia Islam ditandai dengan, pertama, gugatan terhadap Al-Qur’an. Kedua, pembelaan aliran sesat ketiga, mendahulukan akal manusia daripada Tuhan. Keempat, mendukung relativisme yang berujung pada pluralisme agama. Kelima, mempromosikan skeptisisme.” [Hamid Fahmi Zarkasy dalam Misykat, [sub judul “Evil of Liberalisme”, hal. 152).

Belum lagi Syiah dengan konsep imamahnya telah melahirkan konsep takfir kepada para sahabat mulya Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi Wassallam.

Konsep imamah yang berujung pada takfir sahabat, berlanjut kepada pengkafiran kepada Aswaja atas pembelaannya kepada para Sahabat. Hal ini yang kemudian menimbulkan chaos antar kelompok di level bawah, bahkan sampai pembantaian.

Meminjam istilah  KH Lutfi Bashori Alwi, bahwa okmum NU yang geram dengan keberadaan “NU Garis Lurus”,   adalah  warga nahdhiyin yang terindikasi penyakit liberal tanpa sadar, karena fanatik buta.

Menurut murid dari Prof. Dr Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki ini, mereka sebenarnya secara amaliah dalam beriabadah adalah sama dengan nahdhiyin lainnya. Namun mereka liberal dalam berwacana. Hal ini yang bermasalah.  Di mana akal dan hatinya berbeda dalam beraktifitas. Doktrin demikian lahir dari aliran filsafat dualisme. Orang yang demikian adalah orang yang liberal tanpa sadar.

Istilah Dr Adian Husaini, mereka adalah Golongan Bingung [Golbing) [Dr Adian Husaini, “Islam Ragu-ragu” versi Rektor UIN Yogya – Hidayatullah.com).

Padahal Islam adalah agama tauhid. Islam bukan saja doktrin, tapi Islam adalah worldview. Karena Islam ajaran tauhid, maka cara pandang [worldview) seorang Muslim adalah tauhidi. Hati, alam pikiran dan amaliyah seorang Muslim selalu integral.

Seorang Muslim, jika hatinya ke Makkah maka akalnya ke Madinah, bukan ke Amerika, demikian Dr Hamid Fahmi Zarkasyi, mengistilahkan. [Orasi  Ilmiah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, “Sinergi Membangun Peradaban Islam” di http://kholilihasib.com). Wallahu a’alam Bishawwab.*

Penulis adalah warna NU, alumni PP Aqdaamul Ulama’ Pandaan-Pasuruan, Anggota Pejuang Aswaja Garis Lurus

0 komentar:

Posting Komentar