*DISTORSI (TACHRIF) KITAB IBANAH*
Menyoal Orisinalitas Kitab Al-Ibānah Karya Imam Al-Asy’ari
La syakka bahwa Imam Asy’ari adalah seorang imam dalam bidang akidah yang rumusannya dipedomi oleh mayoritas umat Islam Ahlusunnah Waljamaah. Sebelumnya, selama kurang lebih empat puluh tahun, Imam Asy’ari mengikuti paham Muktazilah. Imam Asy’ari kembali kepada paham Ahlusunnah Waljamaah setelah ia tidak menemukan jawaban memuaskan atas beberapa keisyakalannya tentang paham Muktazilah.
Selepas keluar dari paham Muktazilah, Imam Asy’ari banyak menulis kitab guna membela paham Ahlusunnah Waljamaah dan meng-counter kelompok-kelompok lain yang menyimpang macam Muktazilah, Rafidhah, Jahmiyah, dan lain sebagainya. Imam Ibnu Furak mengatakan:
انتقل الشيخ أبو الحسن علي بن اسماعيل الأشعري رضي الله عنه من مذاهب المعتزلة الى نصرة مذاهب أهل السنة والجماعة بالحجج العقلية وصنف في ذلك الكتب
“Syekh Abul Hasan Ali bin Isma’il Al-Asy’ari berimigrasi dari paham Mazhab Muktazilah ke paham Mazhab Ahlusunnah Waljamaah dan membelanya dengan argumen-argumen rasional serta mengarang beberapa kitab.” (Ibnu Asakir, Tabyīnu-Kadzb Al-Muftari, 1928: 127).
Di antara kitab yang diafiliasikan kepada Imam Asy’ari adalah kitab Al-Ibānah fī Ushūl Al-Diyānah. Sebagian ulama ada yang meragukan penisbatan kitab tersebut kepada Imam Asy’ari, namun pendapat ini dianggap lemah. Tersebab, amat banyak ulama dan sejarawan yang memvalidasi penisbatan kitab Al-Ibānah kepada Imam Asy’ari, seperti Imam Al-Baihaqi, Al-Iraqi, Ibnu Asakir, Ibnu Al-Imad, Ibnu Hajar, Al-Zabidi, dan lain-lain.
Dengan demikian, tiada keraguan bahwa Imam Asy’ari mempunyai karya kitab berjudul Al-Ibānah. Para ulama yang terpercaya telah menyebutkan dalam kitab-kitab mereka. Yang menjadi musykilah adalah orisinalitas kitab Al-Ibānah, apakah yang beredar saat ini keseluruhannya orisinil atau sudah mengalami distorsi?
Pembahasan orisinalitas kitab Al-Ibānah menjadi sangat penting karena kitab tersebut oleh kelompok Salafi-Wahabi dijadikan dasar bahwa Imam Asy’ari melalui tiga fase dalam hidupnya dan bahwa akidah Imam Asy’ari sama belaka dengan akidah mereka yang tajsīm dan tasybīh. Padahal, ulama telah sepakat (ijmak) atas kemustahilan tajsīm dan tasybīh bagi Allah SWT. Ulama juga telah sepakat atas kemustahilan memaknai secara hakikat ayat-ayat atau hadis-hadis yang redaksinya mengindikasikan tajsīm dan tasybīh (Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Fatāwā Al-Hadītsiyah, 2013: 196-197).
Saya pribadi, setelah membaca bebera referensi baik itu dari kalangan asya’irah sendiri maupun dari luar asya’irah, sangat yakin bahwa kitab Al-Ibānah yang beredar sekarang telah mengalami distorsi dan tidak 100% orisinil karangan Imam Asy’ari. Setidaknya karena beberapa alasan berikut:
Pertama, semua manuskrip kitab Al-Ibānah, baik di Mesir, Baghdad, Bairut, Turki, maupun India, baru ditemukan selepas tahun seribu hijriyah. Adupun Imam Asy’ari wafat pada tahun 324 Hijriyah. Jadi, ada keterpautan masa sekitar tujuh abad antara meninggalnya Imam Asy’ari dan ditemukannya salinan manuskrip Al-Ibānah yang beradar saat ini.
Fakta di atas saja sudah membikin hati tidak sepenuhnya yakin kalau kitab Al-Ibānah yang beredar di tengah-tengah kita saat ini adalah kitab Al-Ibānah asli yang ditulis Imam Asy’ari. Fakta ini juga yang dijadikan dalih oleh sebagian kalangan yang menolak penisbatan kitab Al-Ibānah kepada Imam Asy’ari.
Naskah paling awal kitab Al-Ibānah yang sampai kepada kita adalah naskah yang dimuat oleh Imam Ibnu Asakir (W. 571 H) dalam kitabnya, Tabyīnu-Kadzb Al-Muftari. Kandungan naskah tersebut sama sekali tidak ada perbedaan dengan pemahaman ulama-ulama asya’irah dari masa ke masa hingga saat ini. Oleh sebab itu, jika ingin memvalidasi kitab Al-Ibānah sesuai dengan manhaj Imam Asy’ari maka itu adalah naskah Imam Ibnu Asakir tersebut. Sementara naskah-naskah lain yang sampai kepada kita tidak dapat dijadikan dasar karena kontennya saling bertentangan satu dengan yang lainnya. Pun, setiap orang yang punya pengetahuan mendalam mengenai pendapat-pendapat Imam Asy’ari maka ia akan dengan mudah mengetahuinya (Ibrahim Sya’ban Al-Azhari, Al-Kawāsyif Al-Jaliyyah, 2022: 168).
Salah satu contohnya adalah dalam kitab Al-Ibānah yang beredar saat ini terdapat pernyataan sebagaimana berikut:
ورأينا المسلمين جميعا يرفعون أيديهم إذا دعوا نحو السماء لأن الله تعالى مستو على العرش الذي هو فوق السماوات، فلولا أن الله عز و جل على العرش لم يرفعوا أيديهم نحو العرش
“Kami melihat semua umat Islam, ketika berdoa mengangkat tangannya ke arah langit tersebab Allah SWT bersemayam di atas arsy yang berada di atas langit. Seandainya Allah SWT tidak berada di atas arsy maka mereka tidak akan mengangkat tangannya ke arah arsy.” (Al-Ibānah: 2016, 46).
Isykalnya, apakah mungkin ulama sekaliber Imam Asy’ari berargumen dengan argumen “cemen” seperti di atas? Orang yang mempunyai pengetahuan mendalam tentang Imam Asy’ari dan pendapat-pendapatnya, tidak akan percaya dengan argumen “cemen” tersebut.
Oleh sebab itu, Syekh Wahbi Sulaiman Ghawiji dalam kitabnya, Nazhrah ‘Ilmiyah fi Nisbati-Kitab Al-Ibānah (1989: 72), langsung menyakini dan memastikan bahwa pernyataan di atas tidak mungkin dinyatakan oleh ulama sekaliber Imam Asy’ari. Toh, ketika mengerjakan salat, kita diperintahkan menghadap ke arah Ka’bah, apakah mau dikatakan Allah SWT berada di Ka’bah? Dapat dipastikan mereka yang mengatakan Allah berada di langit tidak akan mau mengatakan demikian. Di samping itu, dalam hadis riwayat Imam Malik, Rasulullah SAW bersabda:
إن الله عز وجل قبل وجه أحدكم إذا صلى فلا يبصق بين يديه
“…Sesungguhnya, Allah SWT berada di depan wajah kalian ketika kalian salat, maka janganlah kalian meludah di depannya.”
Gimana? Absurd, kan? Jadi, mungkinkah argumen di atas dinyatakan oleh Imam Asy’ari? Orang yang berakal pasti akan mengatakan tidak mungkin sebagaimana dilakukan Syekh Wahbi di atas.
Lain dari itu, ketika orang awam ditanyakan, apakah saat berdoa mereka mengangkat tangan ke arah langit atau ke arsy, pasti mereka akan menjawab ke langit. Ulama pun telah menyatakan bahwa kita mengangkat dan menengadah ke langit ketika berdoa adalah karena langit adalah kiblat doa sebagaimana Ka’bah adalah kiblat salat. Hal itu sama sekali tidak dimaksudkan bahwa Allah SWT berada di langit.
Dengan demikian, menjadi jelas bahwa pernyataan di atas adalah sisipan yang dilakukan oleh orang tak amanah dan bukan pernyataan Imam Asy’ari.
Kedua, ketika naskah-naskah Al-Ibānah yang telah tercetak dikomprasikan maka dijumpai kontradiktif antara satu dan yang lainnya, khususnya dalam masalah sifat-sifat Allah SWT, baik kitab yang ditahkik oleh Dr. Fawqiyah maupun selainnya. Demikian pun ketika dibandingkan dengan naskah Al-Ibānah yang ditermaktub dalam kitab Imam Ibnu Asakir. Adanya kontradiksi tersebut menunjukkan bahwa tangan-tangan orang yang tidak amanah telah memanipulasi kitab Al-Ibānah.
Sebagian contoh *ketidak_amanahannya* adalah sebagaimana berikut:
Dalam kitab Al-Ibānah *yang beredar* tertulis:
وأنكروا أن يكون له عينان مع قوله سبحانه: تجري بأعيننا
“Mereka mengingkari bahwa Allah mempunyai dua mata padahal Allah berfirman: “Yang berlayar dengan pengawasan (penglihatan) Kami (QS Al-Qamar: 14).”
Dalam redaksi tersebut tertulis mengunakan isim tatsniyah: “عينان” (dua mata), *padahal dalam kitab Imam Ibnu Asakir (157) tertulis menggunakan isim mufrad (tunggal): “عين” (penglihatan).*
Dalam kitab Al-Ibānah *yang beredar* dan dalam kitab tahkikan Fawqiyah tertulis seperti berikut:
وأن له عينين بلا كيف
“Sesungguhnya, Allah mempunyai dua mata tanpa tahu modelnya”.
Dalam redaksi tersebut tertulis “عينين” (dua mata), *padahal dalam kitab Imam Ibnu Asakir tertulis “عين” (penglihatan).*
Redaksi dengan *isim tatsniyah (عينان atau عينين) tidak sesuai serta tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah.* Nah, Imam Asy’ari _MUSTAHIL TIDAK MENGETAHUI HAL TERSEBUT._ Oleh sebab itu, KONTRADIKSI tersebut membuktikan dengan nyata bahwa naskah Al-Ibānah *telah mengalami DISTORSI dan _TIDAK SEMUANYA ASLI_ karya Imam Asy’ari.*
Imam Ibnu Hazm menyatakan:
لا يجوز لأحد أن يصف الله عز وجل بأن له عينين لأن النص لم يأت بذلك
*“Tidak boleh bagi siapa pun mendeskripsikan Allah SWT mempunyai dua mata tersebab tidak ada nas satu pun yang menyebutkan demikian.”*
Imam Ibnu Al-Jauzi dalam kitabnya, Daf’u-Syubah Al-Tasybīh (263), juga menolak dengan tegas orang yang mengatakan bahwa Allah SWT memiliki dua mata dan menganggapnya sebagai kreasi (ibtida’) yang sama sekali tidak ada dalilnya. Adapun hadis Nabi SAW yang menyatakan bahwa Allah SWT tidak buta adalah dalam rangka menegasikan kekurangan dari Allah SWT *bukan menetapkan organ mata.*
Contoh lainnya, dalam kitab Al-Ibānah *yang beredar* disebutkan:
إن قال قائل: ما تقولون في الاستواء ؟ قيل له نقول إن الله عز وجل مستو على عرشه. كما قال : {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} [طه:5]
“Jika ada yang menanyakan apa arti istiwa’? Maka, katakan padanya, kami berpendapat bahwa Allah SWT bersemayam di atas arsyNya, sebagaimana firmanNya: (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy (QS Thaha: 5).”
*SEMENTARA* itu, dalam kitab Al-Ibānah tahkikan Dr. Fawqiyah (105) disebutkan:
إن قال قائل: ما تقولون في الاستواء؟ قيل له: نقول: إن الله عز وجل يستوي على عرشه استواء يليق به من غير حلول ولا استقرار
“Jika ada yang menanyakan apa arti istiwa’? maka, katakan padanya, kami berpendapat bahwa Allah SWT
*ISTAWA’ ALAL 'ARSY* dengan cara yang layak bagiNya tanpa tinggal dan menetap.”
Contah _KONTRADIKSI_ di atas menegaskan kepada kita bahwa kitab Al-Ibānah
*telah mengalami manipulasi dan distorsi* yang membikin kitab tersebut kehilangan orisinalitas dan nilai ilmiahnya sehingga _tidak dapat dijadikan dasar._
Ketiga, dalam kitab Al-Ibānah
*yang beradar,* selain _KONTENNYA SALING KONTRADIKTIF_ seperti dijelaskan di atas, juga _MENGANDUNG BANYAK KEMUSYKILAN._ Di antaranya, di dalamnya disebutkan bahwa Imam Asy’ari _MENISBATKAN KEPADA MUKTAZILAH_ pendapat yang menyatakan bahwa yang menciptakan kejelekan adalah manusia itu sendiri. Pernyataan ini *berbeda dengan pernyataan yang disampaikan Imam Asy’ari dalam KITAB-KITAB BELIAU YANG LAIN.*
Di dalamnya Imam Asy’ari juga _MENISBATKAN KEPADA MUKTAZILAH_ pendapat yang mengatakan bahwa Allah SWT *BERADA DI SEMUA TEMPAT,* padahal konsensus Mazhab Muktazilah sendiri tidak demikian
(Al-Kawāsyif, 187).
*ADALAH TIDAK MUNGKIN* Imam Asy’ari salah dalam menisbatkan pendapat mengingat betapa luas dan dalam pengetahuannya, terlebih tentang Madzhab Muktazilah. Toh, sebelumnya Imam Asy’ari mengetahui Mazhab Muktazilah dan mengetahui semua pendapat-pendapatnya. Oleh karena itu, adalah mustahil Imam Asy’ari menisbatkan sesuatu yang tidak dikatakan oleh mereka.
Sekali lagi, ini merupakan bukti tak terbantahkan bahwa kitab Al-Ibānah
*telah mengalami distorsi dan manipulasi. Tidak murni karya Imam Asy’ari.*
Keempat, *mencela Imam Abu Hanifah dan menuduhnya berpendapat:* bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Dalam kitab Al-Ibānah
*yang beradar (dalam bab al-ru’yah),* disebutkan beberapa riwayat yang _mencela Imam Abu Hanifah dan menuduhnya berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk._
Faktanya, Imam Asy’ari _TIDAK PERNAH MENISBATKAN SECARA SHORIH_ kepada Imam Abu Hanifah pendapat yang menyatakan Al-Qur’an adalah makhluk. Dalam pasal tentang Al-Qur’an kalam Allah dan bukan makhluk, Imam Asy’ari hanya *MENYEBUTKAN KELOMPOK JAHMIYAH* yang berpendapat demikian. Sama sekali tidak menyebutkan nama Imam Abu Hanifah. Ini adalah _keanehan pertama._
Imam Asy’ari dalam kitabnya,
*Maqālāt al-Islāmiyīn wa Ikhtilāf al-Mushallīn,* menyebutkan beberapa pendapat orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Namun, sama sekali *tidak menyebutkan nama Imam Abu Hanifah* di antara mereka.
Adalah tidak rasional jika pada saat itu Imam Asy’ari tidak mengetahui bahwa Imam Abu Hanifah–jika benar–mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk. Padahal, Mazhab Imam Abu Hanifah adalah mazhab yang diikuti kala itu di Irak yang ibu kotanya adalah Baghdad. Dan, Imam Asy’ari sendiri hidup di Baghdad! Ini adalah *keanehan kedua.*
*Imam Al-Baihaqi* dalam kitabnya, Al-Asmā’ wa Al-Shifāt, banyak _memuat riwayat Imam Abu Hanifah dan kedua murid utamanya_ (Abu Yusuf dan Muhammad Al-Syaibani) yang *menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan makhluk.*
Andaikan benar Imam Asy’ari dalam kitab Al-Ibānah menisbatkan kepada Imam Abu Hanifah pendapat Al-Qur’an adalah makhluk maka sudah barang pasti Imam Al-Baihaqi juga akan menyebutkannya. Nah, kenyataannya tidak demikian. *Ini keanehan ketiga yang menjadi bukti nyata* bahwa _terdapat riwayat manipulatif dan dusta yang disisipkan dalam kitab Al-Ibānah._
Demikian pun, andaikan benar Imam Asy’ari menisbatkan secara shorih pendapat tersebut kepada Imam Abu Hanifah maka tidak mungkin Imam Asy’ari mempunyai kedudukan yang agung di kalangan hanafiyyah, pengikut Imam Abu Hanifah. Fakta ini menunjukkan bahwa tuduhan miring dan celaan kepada Imam Abu Hanifah tersebut jelas sekali adalah bathil dan dusta belaka.
Saya cukupkan sampai di sini pembahasan Imam Abu Hanifah. Saya kira, poin-poin di atas sudah cukup untuk membuktikan bahwa Imam Asy’ari tidak pernah menisbatan pendapat tersebut kepada Imam Abu Hanifah dan penisbatan yang ada dalam kitab Al-Ibānah adalah *sisipan orang yang tidak bertanggung jawab serta penuh kebencian kepada Imam Abu Hanifah.* Terlebih bila kita analisis dari aspek riwayat yang digunakan maka akan sangat jelas keanehan dan kedustaannya. Yang ingin lebih, silakan baca *kitab Syekh Wahbi Sulaiman al-Ghawiji, Nazhrah ‘Ilmiyah fi Nisbati-Kitāb Al-Ibānah.*
ALHASIL, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kitab Al-Ibānah yang tercetak dan beradar saat ini adalah *sudah tidak orisinil dan murni 100% karya Imam Asy’ari.* Terdapat banyak kemusykilan dan kontradiksi di dalamnya. Oleh sebab itu, dalam kaca mata ilmiah, kitab Al-Ibānah tersebut *tidak dapat dijadikan dalil dan dasar. Tersebab, ketika sebuah dalil mengandung banyak probabilitas (ihtimāl) maka ia tidak dapat dijadikan acuan dalam beristidlal,* sebagaimana ditegaskan dalam _ilmu ushul fikih._ Terlebih, probabilitas dalam masalah kitab Al-Ibānah ini sudah sampai pada taraf yakin bukan hanya dugaan semata, seperti telah dijelaskan di muka.
*Seorang Salafi-Wahabi bernama Ibrahim bin Muhamad Siddiq* dalam kitabnya,
_Mawāqif Al-Asyā’irah min Kitāb Al-Ibānah fī Ushūl Al-Diyānah (12)_ menyatakan bahwa orang yang pertama kali mengatakan kitab Al-Ibānah telah mengalami distorsi adalah *Imam Al-Kautsari (W. 1371 H),* _PADAHAL SEBELUM Al-kautsari tidak ada yang mengatakan demikian._ Pernyataan ini adalah tidak benar. Jauh sebelum Al-Kautsari sudah ada ulama yang menyatakan bahwa kitab Al-Ibānah telah dimanipulasi, yaitu Imam Salahuddin Al-Shafadi (W. 724 H) dalam kitabnya, Al-Wāfi bi Al-Wafiyāt (2000: 19/117). Ketika mendapati sebagian orang menisbatkan kepada Imam Al-Haramain pernyataan bahwa Allah SWT tidak mengetahui perkara pasial, Al-Shafadi mengatakan:
أنا أحاشي إمام الحرمين عن القول بهذه المسألة والذي أظنه أنها دست في كلامه ووضعها الحسدة له على لسانه كما وضع كتاب الإبانة على لسان الشيخ أبي الحسن الأشعري
“Menurutku, mustahil Imam Al-Haramain berpendapat demikian dalam masalah ini. Saya menduga kuat bahwa masalah tersebut disisipkan dalam pendapat Imam Al-Haramain dan orang yang hasud terhadap beliau memanipulasinya
sebagaimana telah dimanipulasi kitab Al-Ibānah terhadap lisan Imam Al-Asy’ari.”
Wallahu a’lam…






0 komentar:
Posting Komentar