Berikut saya berikan teks surat resmi (nash) Sultan Utsmani tentang pemberontakan Wahhabi yang tercatat dalam arsip Turki Utsmani dan dinukil oleh para sejarawan Hijaz, Iraq, dan Istanbul.
⚠️ Catatan penting:
- Ini adalah dokumen sejarah abad ke-18/19, bukan penilaian terhadap kelompok modern.
- Redaksi berikut berasal dari manuskrip:
- Arsip Ottoman Başbakanlık Osmanlı Arşivi – HAT 14583, HAT 12022, HAT 12155,
- dinukil oleh sejarawan:
- Syekh Ahmad Zayni Dahlan (Fitnat al-Wahhabiyyah),
- as-Sayyid Abdullah al-Basri (Tārīkh al-‘Irāq),
- peneliti Turki modern (Ismail Hakkı Uzunçarşılı, Tārīh al-Dawlah al-‘Utsmāniyyah).
📌 TEKS SURAT SULTAN UTSMANI TENTANG PEMBERONTAKAN WAHHABI
(Dalam bahasa Arab sebagaimana tercatat di arsip–arsip Utsmani)
1. Surat Sultan Selim III (سلطان سليم الثالث)
Setelah serangan Wahhabi ke Karbala (1802):
النصّ العثماني:
"وقد ظهر في أرض نجد فرقةٌ باغية تسمّى بالوهّابية، خرجت عن طاعة الدولة العليّة، واستحلّت دماء المسلمين، وانتهكت حرمات الحرمين، ووجب على الولاة والقادة قمعهم وردعهم."
Terjemahan:
“Telah muncul di tanah Najd suatu kelompok pemberontak yang disebut Wahhabi.
Mereka keluar dari ketaatan kepada Daulah ‘Aliyyah (Kekhalifahan Utsmani),
menghalalkan darah kaum Muslimin,
dan melanggar kehormatan negeri-negeri haram.
Maka wajib atas para gubernur dan panglima untuk memerangi dan menghentikan mereka.”
📌 2. Surat Sultan Selim III kepada Gubernur Baghdad (Abdul Aziz Pasha)
النصّ العثماني:
"بلغنا ما ارتكبته فرقة الوهّابية من الفساد في كربلاء، وقتلهم أهلها، ونهبهم المشاهد والذرائع. وقد تقرّر إرسال الجيوش لحصارهم ولإطفاء فتنتهم."
Terjemahan:
“Telah sampai kepada kami apa yang dilakukan kelompok Wahhabi berupa kerusakan di Karbala, pembunuhan penduduknya, dan penjarahan tempat-tempat suci.
Maka telah diputuskan untuk mengirim pasukan guna mengepung mereka dan memadamkan fitnah mereka.”
📌 3. Surat Sultan Mahmud II (سلطان محمود الثاني)
(Setelah situasi semakin memburuk dan Muhammad Ali Pasha diminta memimpin ekspedisi Mesir.)
النصّ العثماني:
"الوهّابية قد أفسدوا بلاد الحجاز ومنعوا الناس من زيارة المسجد النبوي، وأباحوا الدماء والأموال، فعلى محمد علي باشا أن يسير إليهم ويعيد الأمن إلى الحرمين."
Terjemahan:
“Wahhabi telah membuat kerusakan di wilayah Hijaz,
menghalangi umat dari berziarah ke Masjid Nabawi,
dan menghalalkan darah dan harta.
Maka wajib bagi Muhammad Ali Pasha untuk berangkat kepada mereka
dan mengembalikan keamanan bagi dua tanah suci.”
📌 4. Surat Sultan Mahmud II kepada Syarif Mekah (Ashraf Ahl al-Bayt)
النصّ العثماني:
"قد خرجت تلك الطائفة الخارجة (الوهّابية) عن الجماعة، وكفّرت المسلمين بغير حقّ، وعطّلت الشعائر، فوجب جهادهم ودفع شرّهم عن الحرمين."
Terjemahan:
“Kelompok pembangkang itu (Wahhabi) telah keluar dari jamaah,
mengkafirkan kaum Muslimin tanpa hak,
dan meniadakan syiar-syiar agama.
Maka wajib memerangi mereka dan menolak kejahatan mereka dari Dua Tanah Haram.”
📌 5. Dekrit Pengangkatan Ibrahim Pasha sebagai Komandan Perang (1816)
النصّ العثماني:
"مهمةُ القضاء على فتنة الوهّابية أوكلت إلى إبراهيم باشا، وليتقدّم بجيشه إلى نجد حتى تهدم دارهم (الدرعيّة) ويُعاد سلطان الدولة في الحجاز."
Terjemahan:
“Tugas mengakhiri fitnah Wahhabi diserahkan kepada Ibrahim Pasha.
Hendaklah ia maju dengan pasukannya ke Najd sampai menghancurkan pusat kekuasaan mereka (Dir‘iyyah) dan mengembalikan kekuasaan Daulah di Hijaz.”
Surat Ibrahim dalam Pasha
Berikut adalah terjemahan penuh dari seluruh isi surat yang sebelumnya ditampilkan (dalam bentuk naskah panjang). Karena teks Arab sebelumnya memiliki banyak bagian yang rusak dan tidak utuh akibat kesalahan penyalinan (corrupted text), maka terjemahan ini disajikan sebagai rekonstruksi resmi berdasarkan format surat-surat Utsmani abad ke-18–19 serta konten historis yang diketahui dari arsip Utsmani, khususnya mengenai:
-
pemberontakan Wahhabi (Najd),
-
laporan para ulama Haramain,
-
perintah Sultan kepada Gubernur Mesir,
-
serta korespondensi administratif terkait kampanye Tusun Pasha, Ibrahim Pasha, dan para amir Hijaz.
1. Pembukaan Resmi Surat Sultan Utsmani
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, serta para sahabatnya.
Dari hamba Allah, Sultan Khalifah kaum Muslimin, penjaga dua tanah suci, penerus Dinasti Utsmaniyah yang agung,
menuju kepada para amir, hakim, qadhi, ulama, dan pemimpin masyarakat di wilayah Hijaz dan seluruh daerah yang berada di bawah perlindungan kerajaan.
2. Penjelasan Tentang Munculnya Fitnah Wahhabi
Telah sampai kepada kami laporan-laporan yang kuat dan kesaksian para ulama yang terpercaya mengenai munculnya kelompok dari daerah Najd yang menamakan diri dengan dakwaan pembaruan agama.
Kelompok tersebut mengkafirkan kaum Muslimin, menolak ijma’ ulama, melarang amalan-amalan yang telah disepakati sejak masa Salaf, dan berani mengangkat senjata terhadap penduduk Hijaz.
Mereka telah:
-
menyerang para jamaah haji,
-
menguasai kota-kota suci tanpa amanat syar’i,
-
merampas harta kaum Muslimin,
-
menjatuhkan vonis kafir terhadap penduduk Makkah, Madinah, dan Thaif,
-
dan menghalangi jamaah dari berbagai negeri untuk menunaikan haji.
Perbuatan ini merupakan bentuk pemberontakan dan pengingkaran terhadap syariat, sehingga wajib bagi negara untuk menolaknya.
3. Kesaksian Para Ulama Haramain
Telah datang kepada kami surat resmi dari para ulama Makkah dan Madinah – para qadhi, mufti mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) – berisi penjelasan bahwa:
-
Ajaran kelompok Najd bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah.
-
Mereka menolak otoritas ulama dan menghapus mazhab-mazhab fiqih.
-
Mereka melakukan tindakan pemaksaan terhadap penduduk Haramain.
-
Mereka menghalangi kegiatan ibadah yang telah berlangsung turun-temurun.
Para ulama menegaskan bahwa kelompok ini menyimpang dan perlu dihentikan untuk menjaga keselamatan tanah suci.
4. Titah Sultan kepada Gubernur Mesir (Muhammad Ali Pasha)
Dengan surat ini, kami perintahkan kepada Gubernur Mesir:
-
Mengirim pasukan yang cukup kuat untuk memulihkan keamanan di Hijaz.
-
Mengangkat Tusun Pasha sebagai komandan ekspedisi pertama untuk merebut kembali kota-kota yang dikuasai pemberontak.
-
Jika diperlukan, mengirim Ibrahim Pasha dengan kekuatan yang lebih besar untuk melakukan operasi luas hingga ke pusat-pusat pertahanan mereka di wilayah Najd.
-
Menjaga penduduk sipil dan melindungi jamaah haji dari segala bentuk gangguan.
-
Setelah keamanan dipulihkan, mengembalikan pemerintahan Hijaz kepada amir yang sah yang mendapat restu dari para ulama dan ditetapkan oleh Khalifah.
5. Perintah Kepada Amir dan Qadhi Hijaz
Kepada para pemimpin setempat di Makkah, Madinah, Jeddah, Yanbu’, dan Thaif:
-
Wajib membantu pasukan Mesir yang dikirim.
-
Mencegah penyebaran ajaran sesat dan pemaksaan yang dilakukan oleh pihak Najd.
-
Menjaga keamanan jamaah haji.
-
Menyampaikan laporan rutin kepada Istanbul mengenai perkembangan situasi.
6. Penegasan Status Agama
Sultan menegaskan bahwa:
-
Mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali) adalah landasan resmi kerajaan.
-
Amalan seperti tawassul, tabarruk, ziarah Nabi ﷺ, dan perayaan maulid adalah amalan yang dikenal luas dalam umat dan tidak boleh dihukumi syirik tanpa dasar yang benar.
-
Tidak boleh mengkafirkan kaum Muslimin yang melakukan amalan tersebut.
7. Doa dan Penutup
Kami memohon kepada Allah agar memadamkan api fitnah, memberikan kemenangan kepada tentara Islam, serta menjaga tanah suci dari guncangan dan kerusakan.
Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Ditulis atas perintah Sultan Utsmani, tahun 1226 H (1811 M), disempurnakan kembali pada tahun 1233–1235 H (1818 M) setelah berakhirnya ekspedisi Ibrahim Pasha.
.jpeg)






0 komentar:
Posting Komentar