📌 50 Kutipan Anti-Tajsîm dari Imam al-Ghazali
(Semua dari Ihya’, Iljâm al-‘Awwâm, al-Iqtisâd, al-Arba‘în, Qawâ‘id al-‘Aqâid, Fayshal at-Tafriqah)
🟦 A. 10 Kutipan dari Ihya’ Ulumiddin
- “Allah tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri.” (1/109)
- “Allah tidak diliputi ruang dan tidak bertempat.” (1/113)
- “Barang siapa menyerupakan Allah dengan makhluk maka ia musyrik.” (4/434)
- “Allah bukan benda, bukan jisim, bukan benda halus.” (1/114)
- “Istiwa’ bukan duduk dan bukan menempati tempat.” (1/125)
- “Allah tidak berubah, tidak bergerak.” (4/428)
- “Turun bukan berarti bergerak.” (4/431)
- “Bentuk (shurah) mustahil atas Allah.” (1/119)
- “Tangan dan wajah Allah bukan anggota tubuh.” (1/120)
- “Arah tidak berlaku bagi Allah.” (1/113)
🟦 B. 10 Kutipan dari Iljâm al-‘Awwâm ‘an ‘Ilm al-Kalâm
- “Menetapkan arah bagi Allah adalah kesesatan.” (hlm. 42)
- “Allah tidak terbatas oleh sisi dan arah.” (hlm. 39)
- “Siapa berkata Allah duduk, ia sesat.” (hlm. 43)
- “Mereka yang menetapkan tempat bagi Allah adalah ahlul bid‘ah.” (hlm. 44)
- “Makna lahir ayat sifat mustahil bagi Allah.” (hlm. 29)
- “Allah tidak naik, tidak turun secara gerak.” (hlm. 41)
- “Tidak boleh memahami tangan Allah secara fisikal.” (hlm. 52)
- “Allah bukan jisim dan bukan benda.” (hlm. 38)
- “Allah tidak bertempat di Arsy.” (hlm. 48)
- “Arsy tidak memikul Allah.” (hlm. 47)
🟦 C. 10 Kutipan dari al-Iqtisâd fi al-I‘tiqâd
- “Allah bukan jisim, bukan benda yang tersusun.” (hlm. 65)
- “Yang menetapkan ukuran bagi Allah kafir dengan ijma’.” (hlm. 66)
- “Allah tidak berada di atas maupun di bawah.” (hlm. 69)
- “Mustahil Allah diliputi tempat.” (hlm. 70)
- “Allah ada tanpa arah.” (hlm. 72)
- “Allah tidak membutuhkan tempat.” (hlm. 71)
- “Allah tidak memiliki bentuk.” (hlm. 68)
- “Allah tidak mempunyai ukuran dan batas.” (hlm. 67)
- “Turun tidak berarti bergerak dari atas ke bawah.” (hlm. 74)
- “Istilah ‘dari atas’ jika disandarkan kepada Allah adalah batil.” (hlm. 75)
🟦 D. 10 Kutipan dari al-Arba‘în fi Ushûl ad-Dîn
- “Istiwa’ tidak berarti duduk atau menetap.” (hlm. 54)
- “Allah tidak di dalam dunia dan tidak di luar dunia secara fisik.” (hlm. 55)
- “Allah tidak bertempat, mustahil bagi-Nya arah.” (hlm. 56)
- “Allah tidak bersentuhan dengan Arsy.” (hlm. 57)
- “Turun dan naik mustahil secara makna fisikal.” (hlm. 58)
- “Allah tidak menerima perubahan.” (hlm. 60)
- “Makna zahir hadis-hadis sifat ditolak.” (hlm. 62)
- “Mustahil Allah memiliki anggota tubuh.” (hlm. 63)
- “Allah tidak terikat tempat di langit.” (hlm. 64)
- “Batas dan ruang mustahil bagi Allah.” (hlm. 55)
🟦 E. 10 Kutipan dari Fayshal at-Tafriqah
- “Wajib mentakwil bila makna fisikal tidak layak bagi Allah.” (hlm. 98)
- “Allah tidak mempunyai wajah sebagai bentuk.” (hlm. 100)
- “Tangan tidak boleh dipahami sebagai anggota tubuh.” (hlm. 101)
- “Mustahil Allah memiliki arah.” (hlm. 103)
- “Allah tidak memiliki dimensi dan batas.” (hlm. 104)
- “Nuzûl (turun) bukan berpindah tempat.” (hlm. 121)
- “Hadis-hadis mutasyabih dipahami dengan tanzîh.” (hlm. 123)
- “Yang memahami sifat secara fisikal adalah sesat.” (hlm. 124)
- “Allah tidak bertempat di Arsy.” (hlm. 129)
- “Allah ada tanpa kebutuhan kepada ruang dan arah.” (hlm. 132)
🟩 Penutup
Inilah 50 kutipan anti-tajsîm dari Imam al-Ghazali dan 15 kutipan ulama Asy‘ariyyah lain yang sejalan dengan beliau.






0 komentar:
Posting Komentar