PENILAIAN ASAL ASALAN
Siapapun yang menilai sesuatu, maka ia harus ilmu tentang objek & subjek yang dinilainya. Orang yang menilai pemahaman orang lain ya harus pakai kitab rujukan orang yang di maksud. Orang yang menilai suatu kaum atau kyai, santri dan pesantren, haruslah turun langsung ke tempat dan menemui kaum, kyai, santri dan pesantrennya. Orang yang menilai perbuatan seseorang haruslah BERTABAYYUN dengan orang yang sedang dinilainya. Asal pakai mata dan dari lingkungan yang berbeda, cuma mengira-ngira, maka itulah TAJASSASU (mencari-cari kesalahan). Tak pernah bareng ke makam berani menilai orang di makam. Nggak pernah memahami kaidah istighosah & tawassul, langsung menilai bid'ah sesat & musyrik.
Tapi jika tidak demikian, maka yang terjadi hanyalah tuduhan tanpa dasar. Dimana hal itu telah terjadi baru-baru ini. Pesantren, Santri dan Kyai diframming *sak enak udele dewek atau Sak congore dewek.* Wahhabi Salafi telah menciptakan kekeruhan di ranah SARA (Suku Ras dan agama). Mereka secara mudah mengulas suatu fenomena dengan _sikap kebencian dan menunjukkan kedangkalan otak (ilmu) dalam menetapkan penilaian._ Dan itu mengajarkan kepada murid-muridnya tentang suatu keburukan dalam beragama. Padahal Nabi Muhammad ﷺ *mencontohkan rukun dalam pergaulan* dan mengajarkan dan mengajak kepada yang *baik dalam beramal dan berakhlaq, dan berketetapan yang lurus dalam ber 'Aqidah.*
Kita akan lebih mudah mengenali mereka , terutama kalangan muda *Wahhaboy* dari sikap-sikap mereka. Dan yang berbahaya bukanlah mereka, tapi penyeru-penyeru *Sok Paling Sunnah* itu. Sebab merekalah biang_keroknya. Pendakwah Wahhabi melancarkan *Penipuan_Pembodohan Prinsip-Prinsip Keagamaan* berbalut Kelembutan kepada murid-muridnya itulah yang sangat berbahaya. Sebab kebaikan yang disampaikan dengan cara yang keras akan sangat sulit diterima. Tapi keburukan berselimut kelembutan akan sangat effisien. Pola para penipu itu ya begitu.
Maka sudah seharusnya pendakwah Aswaja harus tetap berlemah lembut kepada mereka terutama kaum mudanya. Dan memastikan diri untuk tidak mengikuti *Dakwah Sunnah Ala Wahhabi.* Sebab jika mengikuti pola mereka yang suka memudahkan menilai begini dan begitu, maka pada akhirnya, kita tak ubahnya seperti mereka juga nantinya. Perlu para pendakwah Aswaja buktikan bahwa ia bisa berdakwah dengan cara terbaik. *Tak mesti mendapatkan petunjuk sebab kalah berdebat, menyudutkan mereka, bisa jadi dari sikap yang baik.* Kaum muda .. Mereka bukan sebagai yang bersalah sebab memang mereka *tak begitu menyadari & tak mampu memahami duduk perkara keagamaan yang sebenarnya.*
Tapi karena _kemudaannya_ sehingga mereka menggebu-gebu dalam hal yang sedang diminatinya. Sama saja dengan perkara-perkara duniawi yang sedang mereka minati. Dan terpenting dari semuanya adalah *berdoa tulus bagi siapa saja yang kita dakwahi dan selalu bersikap baik kepada mereka.* Tanda kita mencintai mereka kaum wahhabi, tak bosan-bosannya kita mengingatkan dengan penyampaian terbaik. Dan penting untuk dicamkan, bahwa kita hanya sebatas menyampaikan, bukan kita *Sang Pemberi Petunjuk* melainkan hanya Allah semata. Kesadaran demikian harus dimiliki oleh para pendakwah. Agar selalu *tertib ucapan* dengan dalil, *tertib sikap* dengan akhlaq mulia & *tertib niat* dengan kebersihan hati.
https://youtu.be/ijc8jAh87yI?si=rZPgKTqHwauMh_AK
CIRI KHASNYA ASY'ARIY MATURIDY *RUKUN: Tak Saling Mengkafirkan, Menfasiqkan, Menyesatkan atau Membid'ahkan* Ini sangat beda dengan Ulama' Baru Lahir *Wahhabi & Wahhabiyyah Wahhabiyyun* yang *Sangat_Suka* mengkafirkan seluruh Ulama' sedunia sejak Abad awal hingga 12 H, tapi tak ngaku, Ini buktinya‼️






0 komentar:
Posting Komentar