Berdasarkan kitab para ulama mazhab empat dan ulama Asy’ariyyah mengenai:
- Pembagian tauhid menjadi tiga oleh Muhammad bin ‘Abdul Wahhāb
- Mengapa ulama Ahlus Sunnah menganggapnya bid’ah dalam aqidah
- Mengapa pembagian itu dapat secara logis membuat Abu Jahal & Abu Lahab dianggap “mu’min”
- Kesimpulan para ulama Asy’ariyyah dan mazhab empat
🌙 1. Apa itu pembagian tauhid menjadi tiga versi Wahhābiyah?
Muhammad bin Abdul Wahhab dan guru-gurunya (Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim) memperkenalkan tiga kategori:
- Tauhid Rubūbiyyah → Mengakui Allah sebagai pencipta
- Tauhid Ulūhiyyah → Mengakui Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah
- Tauhid Asmā’ wa Shifāt → Mengimani nama & sifat Allah tanpa ta’wil
Pembagian ini tidak ada dalam:
- al-Qur’an
- hadits
- mazhab empat
- ulama Asy’ariyyah
- ulama salaf sebelum Ibn Taymiyyah
- para sahabat & tabi’in
➡ Kesimpulan ulama Ahlus Sunnah:
Pembagian ini adalah bid‘ah idhāfiyyah dalam aqidah—hal baru yang tidak pernah diajarkan Nabi dan para ulama salaf.
🌙 2. Bagaimana pendapat ulama mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali)?
Tidak satu pun mazhab empat membagi tauhid menjadi tiga.
🕌 Mazhab Hanafi
Imam Abu Hanifah membagi tauhid hanya dalam dua:
- Mengenal Allah
- Mengenal sifat-sifat-Nya
(Tanpa “rububiyyah–uluhiyyah”)
Kitab rujukan:
- Al-Fiqh al-Akbar
- Wasiyyah Abu Hanifah
Tidak ada pembagian tiga.
🕌 Mazhab Maliki
Imam Malik dan ulama Maliki seperti Ibnul ‘Arabi, al-Qadhi Abdul Jabbar hanya membahas:
- Tauhid sebagai mengesakan Allah
- Menafikan tasybih
Tidak ada pembagian tiga.
🕌 Mazhab Syafi‘i
Imam al-Asy’ari (pendiri aqidah Asy’ariyyah) dan ulama Syafi’iyyah:
- Imam al-Baqillani
- Imam al-Juwaini
- Imam al-Ghazali
- Imam Fakhruddin ar-Razi
- Imam Nawawi
- Imam Ibn Hajar
Semua menolak pembagian yang tidak dikenal dalam syariat.
Tauhid menurut mereka adalah:
I’tiqad akan keesaan Allah dalam dzat, sifat, dan perbuatan.
Bukan tiga kategori terpisah.
🕌 Mazhab Hanbali
Mazhab Hanbali klasik (bukan Wahhabi) melalui:
- Imam Ibn Qudamah
- Imam Al-Khallal
- Imam Abu Ya’la
- Imam Al-Barbahari
Tidak ada satu pun menyebut “Rububiyyah-Uluhiyyah-Asmā wa Shifāt”.
Yang mengajarkan pembagian ini hanyalah Ibn Taymiyyah, dan kemudian dilanjutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab.
🌙 3. Bagaimana pendapat ulama Asy’ariyyah tentang pembagian 3 tauhid?
Ulama Asy’ariyyah menganggap pembagian ini:
✔ Bid‘ah dalam aqidah
Karena memecah tauhid menjadi kategori yang tidak pernah dibuat Nabi, sahabat, tabi’in, ataupun imam empat mazhab.
✔ Berbahaya dalam logika teologi
Karena menimbulkan keyakinan baru bahwa:
Barang siapa mengakui rububiyyah Allah saja, dia belum kafir sampai melanggar uluhiyyah.
Padahal dalam aqidah Ahlus Sunnah:
“Mengakui Allah sebagai pencipta saja tidak cukup untuk iman.”
(Asy’ariyyah, Maturidiyyah, dan seluruh ulama mazhab)
🌙 4. Mengapa pembagian itu membuat Abu Jahal & Abu Lahab dianggap “mu’min rububiyyah”?
Karena dalam aqidah Wahhābiyah:
- Abu Jahal mengakui Allah sebagai pencipta
- Abu Lahab mengakui Allah sebagai pengatur
➡ Maka mereka lulus tauhid rububiyyah
Bahkan Ibn Taymiyyah berkata:
“Orang-orang musyrik itu MENGAKUI tauhid rububiyyah.”
(Majmu’ al-Fatawa, 1/92)
Masalahnya:
Dalam al-Qur’an, orang musyrik tetap disebut kafir, meskipun mengakui Allah sebagai pencipta.
Mengapa?
Karena tauhid menurut syariat tidak dipisah-pisah seperti itu.
🌙 5. Apa kata ulama Asy’ariyyah? Mengapa konsep Wahhabi ini salah?
5.1 Salah dalam metodologi (bid‘ah dalam usuluddin)
Tauhid tidak boleh dibuat-buat pembagiannya tanpa dasar dari Nabi.
5.2 Salah dalam ‘aqliyyah (logika iman)
Tauhid adalah keesaan Allah dalam:
- Zat
- Sifat
- Af’al
Tidak ada “rububiyyah dulu, uluhiyyah kemudian”.
5.3 Mengakibatkan kesimpulan berbahaya
Menurut logika Wahhabi:
- Abu Jahal dan Abu Lahab “benar” dalam tauhid rububiyyah. Padahal Allah berfirman:
Mereka tidak beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar.
(QS. Al-Anfal: 41)
Mereka kafir kepada Allah.
(QS. 6:33)
Para ulama Asy’ariyyah mengatakan:
“Jika seseorang mengakui Allah sebagai pencipta tetapi menolak syariat, tetap kafir.”
Ini membantah konsep tauhid Wahhabi yang memisahkannya secara artifisial.
🌙 6. Kesimpulan para ulama empat mazhab & Asy’ariyyah
✔ Pembagian tauhid menjadi tiga
➡ Tidak dikenal oleh salaf & ulama mazhab
➡ Bid‘ah dalam aqidah
➡ Tidak ada dalam al-Qur’an & Sunnah
✔ Pembagian itu menyebabkan konsekuensi logis yang salah
Seperti:
- Abu Jahal “mu’min rububiyyah”
- Musyrikin Arab “bertauhid”
- Syirik hanya syirik uluhiyyah, bukan rububiyyah
✔ Aqidah Asy’ariyyah & Maturidiyyah menolak keras
Karena:
- Tauhid tidak boleh dipisah-pisah
- Orang musyrik mengakui Allah, tetapi tetap kafir
- Syirik itu satu kesatuan: tawhid atau syirik, tanpa pecahan buatan
.jpeg)






0 komentar:
Posting Komentar