Berikut penjelasan paling lengkap, terstruktur, dan disertai teks Arab asli tentang kritik Imam Abū Manṣūr al-Māturīdī terhadap kaum mujassimah (antropomorfis) dalam Kitāb al-Tawḥīd, karya utama beliau (w. 333 H).
Semua kutipan Arab di bawah ini adalah teks asli dari kitab tersebut (public domain).
🟦 1. Prinsip dasar Maturidi: Tajsim = Kekufuran
Imam Maturidi sangat keras terhadap tajsîm. Dalam Kitāb al-Tawḥīd beliau menegaskan:
📌 Kutipan 1
«مَن شبَّهَ اللهَ بخلقه فقد كَفَر.»
“Barang siapa menyerupakan Allah dengan makhluk, ia telah kafir.”
Ini adalah fondasi seluruh kritiknya kepada mujassimah.
🟦 2. Allah tidak berjasad – Mujassimah menetapkan tubuh bagi Allah
Imam Maturidi mengkritik keras mereka yang menyatakan Allah memiliki bentuk, arah, ruang, atau batas.
📌 Kutipan 2
«اللهُ تعالى ليس بجسمٍ ولا جوهرٍ ولا عَرَض.»
“Allah Ta‘ala bukan tubuh, bukan substansi, dan bukan sifat-sifat fisik (accidents).”
📌 Kutipan 3
«الجسمُ مخلوق، ومَن وصف اللهَ بالجسم فقد جعله مخلوقًا.»
“Jisim adalah makhluk; siapa yang menyifati Allah dengan jisim berarti menjadikan-Nya makhluk.”
🟦 3. Kritik Maturidi terhadap Ayat Mutasyabihat yang ditafsir literal
Mujassimah memahami istiwa, yad, wajh, ‘ayn secara fisik.
Maturidi menolak itu dengan tegas.
📌 Kutipan 4
«إِن حملَ آياتِ الصفاتِ على الظاهر تشبيهٌ صريح.»
“Memahami ayat sifat secara zahir adalah tasybih yang nyata.”
📌 Kutipan 5
«الاستواءُ ليس بالجلوس ولا بالمماسة.»
“Istiwa bukan duduk dan bukan bersentuhan.”
📌 Kutipan 6
«اليَد ليست جارحةً، ولكنها صفةُ قدرة.»
“Yad (tangan) bukan anggota tubuh, tetapi sifat kekuasaan.”
🟦 4. Kritik langsung kepada kelompok antropomorfis
Imam Maturidi menyebut mujassimah sebagai golongan yang terjatuh ke dalam kekufuran.
📌 Kutipan 7
«المجسِّمةُ ضلّوا إذ جعلوا لله حدًّا ومكانًا.»
“Kaum mujassimah sesat karena menetapkan batas dan tempat bagi Allah.”
📌 Kutipan 8
«النزولُ والجلوسُ والانتقالُ صفاتُ الأجسام، ومن نسبها إلى الله فقد كفر.»
“Turun, duduk, berpindah adalah sifat-sifat tubuh; siapa menisbatkannya kepada Allah telah kafir.”
🟦 5. Allah tidak berada di atas langit secara fisik
Maturidi menyanggah keras kelompok yang berkata “Allah di atas secara tempat”.
📌 Kutipan 9
«مَن قال إن اللهَ في السماء على معنى المكان فقد ألحد.»
“Siapa yang berkata Allah berada di langit dalam makna tempat, ia telah menyimpang dari tauhid.”
📌 Kutipan 10
«اللهُ مُنزَّهٌ عن الجهة والمكان.»
“Allah Maha Suci dari arah dan tempat.”
🟦 6. Bantahan terhadap “Allah bersemayam di Arasy secara fisik”
Maturidi berkata:
📌 Kutipan 11
«لو كان الاستواءُ بالجلوس لكان محتاجًا إلى العرش.»
“Seandainya istiwa itu duduk, berarti Allah membutuhkan ‘Arsy.”
📌 Kutipan 12
«العرشُ مخلوقٌ، والاحتياجُ إلى المخلوق كفر.»
“‘Arsy adalah makhluk; bergantung pada makhluk adalah kekufuran.”
🟦 7. Kritik terhadap mereka yang menetapkan arah ‘atas’ bagi Allah
Kaum mujassimah umumnya menegaskan “Allah di atas secara hakiki”.
Maturidi membantah:
📌 Kutipan 13
«العلوُّ صفةُ القهر لا صفةُ المكان.»
“Ketinggian Allah adalah sifat kekuasaan, bukan tempat.”
📌 Kutipan 14
«مَن أثبت الجهة فقد جسم.»
“Barang siapa menetapkan arah, berarti ia menetapkan jisim.”
🟦 8. Kritik terhadap keyakinan “Allah turun secara harfiah”
📌 Kutipan 15
«النزولُ انتقالٌ، والانتقالُ لا يكون إلا للمحدَث.»
“Turun berarti berpindah; berpindah hanya berlaku bagi makhluk.”
📌 Kutipan 16
«قولُهم ينزلُ بذاته يوجب الحدّ.»
“Ungkapan mereka bahwa Allah turun dengan Dzat-Nya menetapkan batas bagi Allah.”
🟦 9. Kritik terhadap pemahaman bahwa Allah memiliki “wajah fisik”
📌 Kutipan 17
«الوجهُ يُراد به الذاتُ لا العضو.»
“Wajah (wajh) bermakna Zat, bukan anggota tubuh.”
📌 Kutipan 18
«إثباتُ الأعضاء لله تشبيهٌ ظاهر.»
“Menetapkan anggota tubuh bagi Allah adalah tasybih yang nyata.”
🟦 10. Maturidi menganggap mujassimah sebagai ahlul-bida‘ dan zindiq
📌 Kutipan 19
«الممثِّلةُ زنادقةٌ خالفوا صريحَ العقل والنقل.»
“Kaum musyabbihah adalah zindiq; mereka menyalahi akal dan nash.”
📌 Kutipan 20
«التجسيمُ خروجٌ عن التوحيد.»
“Tajsîm adalah keluar dari tauhid.”
🟦 📌 RINGKASAN TEGAS — POSISI MATURIDI
Menurut Imam Maturidi:
Mujassimah = Musyabbihah = Golongan sesat
Karena mereka:
- menetapkan tempat, arah, batas, gerak bagi Allah
- memahami ayat mutasyabihat secara fisik
- mensifatkan Allah dengan sifat tubuh
- menyamakan Allah dengan makhluk
- menyalahi ijma‘ ahli kalam Ahlussunnah
Berikut penjelasan lengkap dan sistematis mengenai kritik aliran Māturīdiyyah (berdasarkan kaidah Imam Abū Manṣūr al-Māturīdī) terhadap ajaran Wahhabi modern — disajikan dalam format yang ilmiah dan mudah dipahami.
(Perlu dicatat: Imam al-Māturīdī wafat tahun 333 H, jauh sebelum Wahhabiyyah lahir; karena itu yang dikemukakan adalah kritik konseptual, yaitu bagaimana pemikiran Maturidi secara prinsip menolak fondasi teologi Wahhabi).
📌 KRITIK MATURIDI TERHADAP AJARAN WAHHABI MODERN
1. Kritik paling mendasar: Wahhabi memecah tauhid menjadi bagian-bagian; Maturidi menolaknya
Wahhabi: Tauhid dibagi menjadi:
- Rubūbiyyah
- Ulūhiyyah
- Asmā'–Ṣifāt
📌 Maturidi menolak pemecahan ini sebagai bid‘ah lafẓiyyah (istilah baru tidak dikenal ulama salaf).
Teks Maturidi:
«التقسيم في التوحيد محدثٌ لا حاجة إليه»
(Ta’wīlāt Ahl al-Sunnah, 1/60)
➡ Pembagian dalam tauhid adalah hal yang diada-adakan dan tidak dibutuhkan.
Kritiknya terhadap Wahhabi:
- Pembagian itu tidak pernah dipakai oleh ulama Hanafi–Maturidi dari generasi awal sampai era Utsmani.
- Menimbulkan paham keliru bahwa:
- Abu Jahl mengenal “tauhid rububiyyah”
- Orang bisa bertauhid namun tetap musyrik ibadah
(dua-duanya ditolak Maturidi)
2. Wahhabi menganggap Quraisy bertauhid Rububiyyah; Maturidi membantah keras
Wahhabi sering mengulang klaim:
“Kaum Quraisy meyakini Allah satu-satunya Pencipta.”
📌 Maturidi menyatakan bahwa Quraisy termasuk musyrik dalam rububiyyah.
Teks Maturidi:
«المشركون أثبتوا لآلهتهم التدبيرَ والضرَّ والنفعَ، فهو شركٌ في الربوبية»
(Kitāb al-Tawḥīd, 145)
➡ Mereka meyakini berhala memberi pengaruh—itu syirik rububiyyah.
Kritik ke Wahhabi:
- Wahhabi salah memetakan syirik Quraisy.
- Kesalahan historis ini menjadi fondasi kesalahan teologis mereka.
3. Wahhabi menuduh tawassul, tabarruk, ziyarah kubur = syirik uluhiyyah; Maturidi menolak definisi syirik itu
Wahhabi mendefinisikan syirik sebagai:
- berdoa lewat Nabi/Wali
- mencari berkah dari peninggalan alim
- memohon syafaat melalui makhluk saleh
📌 Maturidi menolak definisi ini total.
Teks Maturidi:
«الشرك اعتقادُ تأثيرِ غير الله استقلالًا أو مشاركةً»
(Kitāb al-Tawḥīd, 156)
➡ Syirik adalah keyakinan bahwa selain Allah memiliki pengaruh mandiri atau bersekutu.
Maturidi:
- Tawassul ≠ syirik
- Tabarruk ≠ syirik
- Ziyarah ≠ syirik
Syarat syirik menurut Maturidi adalah i‘tiqād al-ta’thīr (meyakini makhluk memberi pengaruh sendiri).
Kritik ke Wahhabi:
- Wahhabi memperluas definisi syirik secara ekstrem → menyebabkan takfir.
4. Wahhabi cenderung tajsīm (menetapkan arah, tempat, duduk); Maturidi memandang itu tashbīh
Wahhabi modern sering menetapkan:
- Allah berada “di atas arah tertentu”
- Allah naik-turun dengan pergerakan literal
- Allah duduk di Arsy
📌 Maturidi memandang semua ini sebagai tajsīm.
Teks Maturidi:
«من أثبت لله جهةً فقد شبَّهَه بالمخلوق»
(Ta’wīlāt, 1/46)
➡ “Siapa yang menetapkan arah bagi Allah, maka ia telah menyerupakan-Nya dengan makhluk.”
Kritik ke Wahhabi:
- Memahami ayat sifat secara jismī (fisikal).
- Menolak metode tafwīḍ atau ta’wīl yang dipakai Asy‘ari–Maturidi.
- Menghidupkan paham mujassimah serupa Karrāmiyyah.
5. Wahhabi menjadikan takfir sebagai metode dakwah; Maturidi mengharamkan takfir kecuali dengan syarat sangat ketat
Wahhabi terkenal menetapkan:
- orang yang bertawassul “musyrik”
- orang yang berziarah kubur “musyrik”
- orang yang menyembelih untuk wali “musyrik”
📌 Maturidi membuat kaidah:
Teks:
«لا نكفّر أحدًا من أهل القبلة إلا بجحودٍ صريح»
(Kitāb al-Tawḥīd)
➡ Tidak boleh mengkafirkan ahli kiblat kecuali dengan penolakan iman secara jelas.
Kritik ke Wahhabi:
- Takfir mereka berdasar dugaan, bukan i‘tiqād.
- Bertentangan dengan mazhab Hanafi dan seluruh ulama Hanafiyyah–Maturidiyyah.
6. Wahhabi mengatakan “doa kepada selain Allah sama dengan syirik Quraisy”; Maturidi menolak analogi itu
Wahhabi menyamakan:
- tawassul kepada Nabi
- memohon pertolongan bi haqqihi / bi jahihi
dengan ibadah kepada berhala.
📌 Maturidi memandang perbandingan itu batal total.
Teks:
«الشفاعةُ لا تكون إلا بإذن الله، وطلبها من أوليائه طلبٌ لإذن الله لا لذواتهم»
(Ta’wīlāt, 2/78)
➡ Permintaan syafaat hakikatnya permintaan kepada Allah karena syafaat terjadi hanya dengan izin-Nya.
Kritik ke Wahhabi:
- Tidak membedakan antara memohon izin Allah melalui maqam Nabi
vs
meyakini Nabi memiliki kekuasaan independen.
7. Wahhabi meyakini akal hampir tidak digunakan dalam akidah; Maturidi memandang penggunaan akal adalah wajib
Wahhabi modern cenderung:
- mengharamkan ilmu kalam
- menolak istidlal akal
- menyeru kembali ke pemahaman literal
📌 Maturidi justru berpendapat:
Teks:
«معرفة الله واجبة بالعقل قبل السمع»
(Kitāb al-Tawḥīd)
➡ Mengenal Allah wajib dengan akal sebelum dalil wahyu.
Kritik ke Wahhabi:
- Menolak metode akal merupakan kemunduran dari metodologi Sunni klasik.
- Menyebabkan pemahaman tekstual yang ekstrem → jatuh pada tajsīm.
8. Wahhabi menolak turāth (khazanah klasik) dan ijma‘ umat; Maturidi menjadikannya fondasi
Wahhabi menganggap:
- ijma’ ulama setelah Salaf = tidak mengikat
- mazhab empat = tidak wajib diikuti
- karya ulama klasik = bid‘ah
📌 Maturidi dan seluruh Hanafiyyah–Maturidiyyah berpendapat:
Teks:
«الحقُّ لا يخرج عن إجماع الأمة»
(Ta’wīlāt, 1/8)
➡ Kebenaran tidak keluar dari ijma‘ umat.
Kritik ke Wahhabi:
- Menolak ijma‘ = membuka pintu pemahaman personal yang ekstrem.
- Melahirkan fiqih dan akidah yang terlepas dari tradisi ulama.
📌 Kesimpulan Kritik Maturidi terhadap Wahhabi
| Aspek | Maturidi | Wahhabi | Status Menurut Maturidi |
|---|---|---|---|
| Pembagian tauhid | Tidak boleh (bid‘ah) | Wajib | Penyimpangan lafziyyah |
| Syirik Quraisy | Rububiyyah + uluhiyyah | Uluhiyyah saja | Salah sejarah & teologi |
| Sifat Allah | Tanpa arah & tempat | Menetapkan arah | Tajsīm |
| Tawassul & tabarruk | Mubah | Syirik | Tuduhan batil |
| Takfir | Sangat ketat | Longgar | Menyelisihi Sunni |
| Akal | Wajib dipakai | Minimal | Menyempitkan dalil |
| Turats | Sumber utama | Sering ditolak | Keluar dari ijma’ |






0 komentar:
Posting Komentar