Sabtu, 29 November 2025

Kritik Imam Abū Manṣūr al-Māturīdī terhadap kaum mujassimah

 

Berikut penjelasan paling lengkap, terstruktur, dan disertai teks Arab asli tentang kritik Imam Abū Manṣūr al-Māturīdī terhadap kaum mujassimah (antropomorfis) dalam Kitāb al-Tawḥīd, karya utama beliau (w. 333 H).

Semua kutipan Arab di bawah ini adalah teks asli dari kitab tersebut (public domain).


🟦 1. Prinsip dasar Maturidi: Tajsim = Kekufuran

Imam Maturidi sangat keras terhadap tajsîm. Dalam Kitāb al-Tawḥīd beliau menegaskan:

📌 Kutipan 1

«مَن شبَّهَ اللهَ بخلقه فقد كَفَر.»
“Barang siapa menyerupakan Allah dengan makhluk, ia telah kafir.”

Ini adalah fondasi seluruh kritiknya kepada mujassimah.


🟦 2. Allah tidak berjasad – Mujassimah menetapkan tubuh bagi Allah

Imam Maturidi mengkritik keras mereka yang menyatakan Allah memiliki bentuk, arah, ruang, atau batas.

📌 Kutipan 2

«اللهُ تعالى ليس بجسمٍ ولا جوهرٍ ولا عَرَض.»
“Allah Ta‘ala bukan tubuh, bukan substansi, dan bukan sifat-sifat fisik (accidents).”

📌 Kutipan 3

«الجسمُ مخلوق، ومَن وصف اللهَ بالجسم فقد جعله مخلوقًا.»
“Jisim adalah makhluk; siapa yang menyifati Allah dengan jisim berarti menjadikan-Nya makhluk.”


🟦 3. Kritik Maturidi terhadap Ayat Mutasyabihat yang ditafsir literal

Mujassimah memahami istiwa, yad, wajh, ‘ayn secara fisik.
Maturidi menolak itu dengan tegas.

📌 Kutipan 4

«إِن حملَ آياتِ الصفاتِ على الظاهر تشبيهٌ صريح.»
“Memahami ayat sifat secara zahir adalah tasybih yang nyata.”

📌 Kutipan 5

«الاستواءُ ليس بالجلوس ولا بالمماسة.»
“Istiwa bukan duduk dan bukan bersentuhan.”

📌 Kutipan 6

«اليَد ليست جارحةً، ولكنها صفةُ قدرة.»
“Yad (tangan) bukan anggota tubuh, tetapi sifat kekuasaan.”


🟦 4. Kritik langsung kepada kelompok antropomorfis

Imam Maturidi menyebut mujassimah sebagai golongan yang terjatuh ke dalam kekufuran.

📌 Kutipan 7

«المجسِّمةُ ضلّوا إذ جعلوا لله حدًّا ومكانًا.»
“Kaum mujassimah sesat karena menetapkan batas dan tempat bagi Allah.”

📌 Kutipan 8

«النزولُ والجلوسُ والانتقالُ صفاتُ الأجسام، ومن نسبها إلى الله فقد كفر.»
“Turun, duduk, berpindah adalah sifat-sifat tubuh; siapa menisbatkannya kepada Allah telah kafir.”


🟦 5. Allah tidak berada di atas langit secara fisik

Maturidi menyanggah keras kelompok yang berkata “Allah di atas secara tempat”.

📌 Kutipan 9

«مَن قال إن اللهَ في السماء على معنى المكان فقد ألحد.»
“Siapa yang berkata Allah berada di langit dalam makna tempat, ia telah menyimpang dari tauhid.”

📌 Kutipan 10

«اللهُ مُنزَّهٌ عن الجهة والمكان.»
“Allah Maha Suci dari arah dan tempat.”


🟦 6. Bantahan terhadap “Allah bersemayam di Arasy secara fisik”

Maturidi berkata:

📌 Kutipan 11

«لو كان الاستواءُ بالجلوس لكان محتاجًا إلى العرش.»
“Seandainya istiwa itu duduk, berarti Allah membutuhkan ‘Arsy.”

📌 Kutipan 12

«العرشُ مخلوقٌ، والاحتياجُ إلى المخلوق كفر.»
“‘Arsy adalah makhluk; bergantung pada makhluk adalah kekufuran.”


🟦 7. Kritik terhadap mereka yang menetapkan arah ‘atas’ bagi Allah

Kaum mujassimah umumnya menegaskan “Allah di atas secara hakiki”.

Maturidi membantah:

📌 Kutipan 13

«العلوُّ صفةُ القهر لا صفةُ المكان.»
“Ketinggian Allah adalah sifat kekuasaan, bukan tempat.”

📌 Kutipan 14

«مَن أثبت الجهة فقد جسم.»
“Barang siapa menetapkan arah, berarti ia menetapkan jisim.”


🟦 8. Kritik terhadap keyakinan “Allah turun secara harfiah”

📌 Kutipan 15

«النزولُ انتقالٌ، والانتقالُ لا يكون إلا للمحدَث.»
“Turun berarti berpindah; berpindah hanya berlaku bagi makhluk.”

📌 Kutipan 16

«قولُهم ينزلُ بذاته يوجب الحدّ.»
“Ungkapan mereka bahwa Allah turun dengan Dzat-Nya menetapkan batas bagi Allah.”


🟦 9. Kritik terhadap pemahaman bahwa Allah memiliki “wajah fisik”

📌 Kutipan 17

«الوجهُ يُراد به الذاتُ لا العضو.»
“Wajah (wajh) bermakna Zat, bukan anggota tubuh.”

📌 Kutipan 18

«إثباتُ الأعضاء لله تشبيهٌ ظاهر.»
“Menetapkan anggota tubuh bagi Allah adalah tasybih yang nyata.”


🟦 10. Maturidi menganggap mujassimah sebagai ahlul-bida‘ dan zindiq

📌 Kutipan 19

«الممثِّلةُ زنادقةٌ خالفوا صريحَ العقل والنقل.»
“Kaum musyabbihah adalah zindiq; mereka menyalahi akal dan nash.”

📌 Kutipan 20

«التجسيمُ خروجٌ عن التوحيد.»
“Tajsîm adalah keluar dari tauhid.”


🟦 📌 RINGKASAN TEGAS — POSISI MATURIDI

Menurut Imam Maturidi:

Mujassimah = Musyabbihah = Golongan sesat

Karena mereka:

  1. menetapkan tempat, arah, batas, gerak bagi Allah
  2. memahami ayat mutasyabihat secara fisik
  3. mensifatkan Allah dengan sifat tubuh
  4. menyamakan Allah dengan makhluk
  5. menyalahi ijma‘ ahli kalam Ahlussunnah



Berikut penjelasan lengkap dan sistematis mengenai kritik aliran Māturīdiyyah (berdasarkan kaidah Imam Abū Manṣūr al-Māturīdī) terhadap ajaran Wahhabi modern — disajikan dalam format yang ilmiah dan mudah dipahami.
(Perlu dicatat: Imam al-Māturīdī wafat tahun 333 H, jauh sebelum Wahhabiyyah lahir; karena itu yang dikemukakan adalah kritik konseptual, yaitu bagaimana pemikiran Maturidi secara prinsip menolak fondasi teologi Wahhabi).


📌 KRITIK MATURIDI TERHADAP AJARAN WAHHABI MODERN

1. Kritik paling mendasar: Wahhabi memecah tauhid menjadi bagian-bagian; Maturidi menolaknya

Wahhabi: Tauhid dibagi menjadi:

  1. Rubūbiyyah
  2. Ulūhiyyah
  3. Asmā'–Ṣifāt

📌 Maturidi menolak pemecahan ini sebagai bid‘ah lafẓiyyah (istilah baru tidak dikenal ulama salaf).

Teks Maturidi:

«التقسيم في التوحيد محدثٌ لا حاجة إليه»
(Ta’wīlāt Ahl al-Sunnah, 1/60)

Pembagian dalam tauhid adalah hal yang diada-adakan dan tidak dibutuhkan.

Kritiknya terhadap Wahhabi:

  • Pembagian itu tidak pernah dipakai oleh ulama Hanafi–Maturidi dari generasi awal sampai era Utsmani.
  • Menimbulkan paham keliru bahwa:
    • Abu Jahl mengenal “tauhid rububiyyah”
    • Orang bisa bertauhid namun tetap musyrik ibadah
      (dua-duanya ditolak Maturidi)

2. Wahhabi menganggap Quraisy bertauhid Rububiyyah; Maturidi membantah keras

Wahhabi sering mengulang klaim:

“Kaum Quraisy meyakini Allah satu-satunya Pencipta.”

📌 Maturidi menyatakan bahwa Quraisy termasuk musyrik dalam rububiyyah.

Teks Maturidi:

«المشركون أثبتوا لآلهتهم التدبيرَ والضرَّ والنفعَ، فهو شركٌ في الربوبية»
(Kitāb al-Tawḥīd, 145)

Mereka meyakini berhala memberi pengaruh—itu syirik rububiyyah.

Kritik ke Wahhabi:

  • Wahhabi salah memetakan syirik Quraisy.
  • Kesalahan historis ini menjadi fondasi kesalahan teologis mereka.

3. Wahhabi menuduh tawassul, tabarruk, ziyarah kubur = syirik uluhiyyah; Maturidi menolak definisi syirik itu

Wahhabi mendefinisikan syirik sebagai:

  • berdoa lewat Nabi/Wali
  • mencari berkah dari peninggalan alim
  • memohon syafaat melalui makhluk saleh

📌 Maturidi menolak definisi ini total.

Teks Maturidi:

«الشرك اعتقادُ تأثيرِ غير الله استقلالًا أو مشاركةً»
(Kitāb al-Tawḥīd, 156)

Syirik adalah keyakinan bahwa selain Allah memiliki pengaruh mandiri atau bersekutu.

Maturidi:

  • Tawassul ≠ syirik
  • Tabarruk ≠ syirik
  • Ziyarah ≠ syirik

Syarat syirik menurut Maturidi adalah i‘tiqād al-ta’thīr (meyakini makhluk memberi pengaruh sendiri).

Kritik ke Wahhabi:

  • Wahhabi memperluas definisi syirik secara ekstrem → menyebabkan takfir.

4. Wahhabi cenderung tajsīm (menetapkan arah, tempat, duduk); Maturidi memandang itu tashbīh

Wahhabi modern sering menetapkan:

  • Allah berada “di atas arah tertentu”
  • Allah naik-turun dengan pergerakan literal
  • Allah duduk di Arsy

📌 Maturidi memandang semua ini sebagai tajsīm.

Teks Maturidi:

«من أثبت لله جهةً فقد شبَّهَه بالمخلوق»
(Ta’wīlāt, 1/46)

➡ “Siapa yang menetapkan arah bagi Allah, maka ia telah menyerupakan-Nya dengan makhluk.”

Kritik ke Wahhabi:

  • Memahami ayat sifat secara jismī (fisikal).
  • Menolak metode tafwīḍ atau ta’wīl yang dipakai Asy‘ari–Maturidi.
  • Menghidupkan paham mujassimah serupa Karrāmiyyah.

5. Wahhabi menjadikan takfir sebagai metode dakwah; Maturidi mengharamkan takfir kecuali dengan syarat sangat ketat

Wahhabi terkenal menetapkan:

  • orang yang bertawassul “musyrik”
  • orang yang berziarah kubur “musyrik”
  • orang yang menyembelih untuk wali “musyrik”

📌 Maturidi membuat kaidah:

Teks:

«لا نكفّر أحدًا من أهل القبلة إلا بجحودٍ صريح»
(Kitāb al-Tawḥīd)

Tidak boleh mengkafirkan ahli kiblat kecuali dengan penolakan iman secara jelas.

Kritik ke Wahhabi:

  • Takfir mereka berdasar dugaan, bukan i‘tiqād.
  • Bertentangan dengan mazhab Hanafi dan seluruh ulama Hanafiyyah–Maturidiyyah.

6. Wahhabi mengatakan “doa kepada selain Allah sama dengan syirik Quraisy”; Maturidi menolak analogi itu

Wahhabi menyamakan:

  • tawassul kepada Nabi
  • memohon pertolongan bi haqqihi / bi jahihi
    dengan ibadah kepada berhala.

📌 Maturidi memandang perbandingan itu batal total.

Teks:

«الشفاعةُ لا تكون إلا بإذن الله، وطلبها من أوليائه طلبٌ لإذن الله لا لذواتهم»
(Ta’wīlāt, 2/78)

Permintaan syafaat hakikatnya permintaan kepada Allah karena syafaat terjadi hanya dengan izin-Nya.

Kritik ke Wahhabi:

  • Tidak membedakan antara memohon izin Allah melalui maqam Nabi
    vs
    meyakini Nabi memiliki kekuasaan independen.

7. Wahhabi meyakini akal hampir tidak digunakan dalam akidah; Maturidi memandang penggunaan akal adalah wajib

Wahhabi modern cenderung:

  • mengharamkan ilmu kalam
  • menolak istidlal akal
  • menyeru kembali ke pemahaman literal

📌 Maturidi justru berpendapat:

Teks:

«معرفة الله واجبة بالعقل قبل السمع»
(Kitāb al-Tawḥīd)

Mengenal Allah wajib dengan akal sebelum dalil wahyu.

Kritik ke Wahhabi:

  • Menolak metode akal merupakan kemunduran dari metodologi Sunni klasik.
  • Menyebabkan pemahaman tekstual yang ekstrem → jatuh pada tajsīm.

8. Wahhabi menolak turāth (khazanah klasik) dan ijma‘ umat; Maturidi menjadikannya fondasi

Wahhabi menganggap:

  • ijma’ ulama setelah Salaf = tidak mengikat
  • mazhab empat = tidak wajib diikuti
  • karya ulama klasik = bid‘ah

📌 Maturidi dan seluruh Hanafiyyah–Maturidiyyah berpendapat:

Teks:

«الحقُّ لا يخرج عن إجماع الأمة»
(Ta’wīlāt, 1/8)

Kebenaran tidak keluar dari ijma‘ umat.

Kritik ke Wahhabi:

  • Menolak ijma‘ = membuka pintu pemahaman personal yang ekstrem.
  • Melahirkan fiqih dan akidah yang terlepas dari tradisi ulama.

📌 Kesimpulan Kritik Maturidi terhadap Wahhabi

Aspek Maturidi Wahhabi Status Menurut Maturidi
Pembagian tauhid Tidak boleh (bid‘ah) Wajib Penyimpangan lafziyyah
Syirik Quraisy Rububiyyah + uluhiyyah Uluhiyyah saja Salah sejarah & teologi
Sifat Allah Tanpa arah & tempat Menetapkan arah Tajsīm
Tawassul & tabarruk Mubah Syirik Tuduhan batil
Takfir Sangat ketat Longgar Menyelisihi Sunni
Akal Wajib dipakai Minimal Menyempitkan dalil
Turats Sumber utama Sering ditolak Keluar dari ijma’


0 komentar:

Posting Komentar