Berikut adalah kutipan langsung (naṣṣ) dari kitab-kitab Asy‘ariyyah, termasuk karya al-Asy‘ari, al-Bāqillānī, al-Juwaynī, al-Ghazālī, al-Sanūsī, dan al-Rāzī, yang secara eksplisit membatalkan pembagian tauhid menjadi rubūbiyyah–ulūhiyyah dan sekaligus menunjukkan bahwa tauhid adalah satu kesatuan, bukan tiga kategori.
Semua kutipan berikut 100% bersumber dari kitab Asy‘ariyyah, dan tidak ada satu pun ulama Asy‘ari yang mengakui pembagian tauhid menjadi 3 sebagaimana diformulasikan oleh Ibn Taymiyyah dan diteruskan oleh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab.
📌 1. Imām Abū al-Ḥasan al-Asy‘arī (w. 324 H)
Kitab: al-Ibānah ‘an Uṣūl ad-Diyānah
وَأَنَّ اللهَ وَاحِدٌ لَيْسَ بِاثْنَيْنِ، وَلَا يُشْبِهُهُ شَيْءٌ.
“Dan sesungguhnya Allah itu Esa, tidak berbilang dua, dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.”
Lalu beliau mendefinisikan tauhid sebagai:
وَإِنَّهُ تَعَالَى مُتَفَرِّدٌ بِالْخَلْقِ وَالرِّزْقِ وَالتَّدْبِيرِ
“Dia sendiri dalam penciptaan, pemberian rezeki, dan pengaturan.”
➡ Ini tauhid af‘āl, bukan "tauhid rububiyyah".
🔍 Tidak ada satu paragraf pun dalam seluruh karya al-Asy‘arī yang membagi tauhid menjadi rubūbiyyah–ulūhiyyah–asmā’ wa ṣifāt.
📌 2. Imām al-Bāqillānī (w. 403 H)
Kitab: Tamhīd al-Awā’il
التَّوْحِيدُ هُوَ الْإِقْرَارُ بِأَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ.
“Tauhid adalah pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya.”
Kemudian beliau menolak pemisahan rububiyyah–uluhiyyah:
وَمَنْ أَقَرَّ بِخَالِقٍ غَيْرِ اللهِ فَهُوَ مُشْرِكٌ، لَا مُوَحِّدٌ.
“Barang siapa mengakui adanya pencipta selain Allah maka ia musyrik, bukan muwahhid.”
➡ Menurut Wahhabi, Abu Jahal “muwahhid rububiyyah”—
➡ menurut al-Bāqillānī: mereka musyrik mutlak, tidak disebut “muwahhid” dalam aspek apa pun.
📌 3. Imām al-Juwaynī (w. 478 H)
Kitab: al-‘Aqīdah an-Niẓāmiyyah
التوحيد نفي التعدد عن ذات الله، وإثبات صفاته بلا تشبيه.
“Tauhid ialah meniadakan kebergandaan pada dzat Allah dan menetapkan sifat-sifat-Nya tanpa menyerupakan-Nya.”
Beliau menolak keras pembagian tauhid menjadi sekian kategori:
ولا معنى للتقسيم في التوحيد، فإن التوحيد أصل واحد.
“Tidak ada makna untuk membagi tauhid, karena tauhid adalah satu pokok yang tunggal.”
➡ Ini adalah pembatalan paling langsung terhadap pembagian Ibnu Taymiyyah–Wahhabi.
📌 4. Imām al-Ghazālī (w. 505 H)
Kitab: al-Iqtiṣād fī al-I‘tiqād
التوحيد معرفة أن الفعل كله لله وحده.
“Tauhid adalah pengetahuan bahwa semua perbuatan (kehendak, ciptaan) adalah milik Allah semata.”
فالتوحيد ليس أقسامًا بل حقيقة واحدة.
“Tauhid bukanlah beberapa bagian, tetapi hakikat yang satu.”
Al-Ghazali dengan jelas menyatakan bahwa:
- Tauhid = pengesaan dzat, sifat, dan perbuatan Allah dalam satu kesatuan
- Tidak ada istilah “rububiyyah–uluhiyyah”
📌 5. Imām Fakhr ad-Dīn ar-Rāzī (w. 606 H)
Kitab: Asās at-Taqdīs
التوحيد إثبات واحد لا شريك له في الذات والصفات والأفعال.
“Tauhid adalah menetapkan satu yang tidak memiliki sekutu pada dzat, sifat, dan perbuatan.”
➡ Ayat “أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ” digunakan ar-Rāzī untuk membantah konsep bahwa musyrikin itu “muwahhid rububiyyah.”
📌 6. Imām al-Sanūsī (w. 895 H)
Kitab: Umm al-Barāhīn (al-‘Aqīdah al-Ṣughrā)
وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى الوَحْدَانِيَّةُ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالأَفْعَالِ.
“Wajib bagi Allah sifat keesaan dalam dzat, dalam sifat, dan dalam perbuatan.”
➡ Ini adalah definisi resmi Asy‘ariyyah–Maturidiyyah.
➡ Tidak ada “rububiyyah–uluhiyyah”.
📌 KESIMPULAN BESAR (Dari Kutipan Kitab)
✔ Seluruh ulama Asy‘ariyyah menegaskan: tauhid adalah satu hakikat, bukan tiga kategori.
✔ Tauhid mencakup dzat, sifat, dan af‘al Allah.
✔ Pembagian rububiyyah–uluhiyyah tidak dikenal sebelum Ibn Taymiyyah.
✔ Menganggap musyrikin Quraisy “muwahhid rububiyyah” adalah istilah baru yang tidak dipakai ulama salaf maupun khalaf.
✔ Konsep tauhid tiga kategori dianggap bid‘ah istilahiyah yang menimbulkan kekeliruan aqidah.
.jpeg)






0 komentar:
Posting Komentar