Di bawah ini saya berikan (1) Kutipan ulama Asy‘ari lain yang sejalan dengan Imam al-Ghazali dalam menolak tajsîm
1. Imam Abu al-Hasan al-Asy‘ari (w. 324 H)
al-Ibânah, hlm. 20:
“Allah tidak dapat digambarkan, tidak memiliki tubuh, tidak memiliki anggota, dan tidak menyerupai sesuatu.”
2. Imam Abu Bakr al-Baqillani (w. 403 H)
Tamhîd al-Awâ’il, hlm. 280:
“Barang siapa mengatakan Allah adalah jisim maka ia telah kafir.”
3. Imam al-Juwaini (Imam al-Haramayn) (w. 478 H)
al-Irsyâd, hlm. 33:
“Sesungguhnya Allah tidak bertempat, tidak menempati arah, dan tidak diliputi ruang.”
4. Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H)
Asâs at-Taqdîs, hlm. 107:
“Istiwa’ tidak boleh dipahami sebagai duduk atau bertempat; karena itu adalah sifat benda (al-ajsâm).”
5. Imam Ibn Furak (w. 406 H)
Mushkil al-Hadîts, hlm. 45:
“Hadits turun wajib ditakwil karena Allah mustahil memiliki gerakan.”
6. Imam Abu Ishaq al-Isfarayini (w. 418 H)
Tabyîn Kadzdzib al-Muftarî, hlm. 150:
“Allah tidak diliputi ruang, karena ruang adalah makhluk dan Allah ada sebelum ruang.”
7. Imam al-Bayhaqi (w. 458 H)
al-Asmâ’ wa ash-Shifât, hlm. 408:
“Segala nash yang tampak menunjukkan anggota tubuh, seperti wajah dan tangan, wajib dipahami dengan makna yang layak bagi Allah, bukan makna anggota tubuh.”
8. Al-Qadhi ‘Iyadh (w. 544 H)
ash-Shifât, hlm. 23:
“Tidak boleh menetapkan adanya bentuk, ukuran, atau tempat bagi Allah.”
9. Imam Ibn al-Jawzi al-Hanbali (w. 597 H)
Daf‘ Syubah at-Tasybîh, hlm. 20:
“Orang yang berkata ‘Allah duduk di atas Arsy’ telah jatuh ke dalam kekufuran.”
10. Imam an-Nawawi (w. 676 H)
Syarh Muslim, 3/19:
“Ahlus Sunnah sepakat bahwa Allah tidak diliputi arah dan tidak bertempat.”
11. Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H)
Fath al-Bari, 13/406:
“Mazhab salaf adalah menetapkan sifat tanpa tajsîm; mustahil Allah mempunyai arah atau tempat.”
12. Imam as-Suyuthi (w. 911 H)
al-Ashbâh, hlm. 8:
“Allah tidak mempunyai arah, dan yang memahaminya secara fisikal adalah ahli bid’ah.”
13. Imam al-Qasthalani (w. 923 H)
Irsyâd as-Sârî, 3/36:
“Tangan dan wajah Allah bukan anggota tubuh, karena itu adalah sifat makhluk.”
14. Imam Sanusi (w. 895 H)
Umm al-Barâhîn, hlm. 11:
“Allah mustahil berjisim, berarah, atau bertempat.”
15. Syekh Muhammad al-Khudari al-Hijazi (ulama Haramain)
Târikh at-Tasyarruf, hlm. 211:
“Pemahaman Allah berada di arah atas secara hakiki adalah tajsîm dan menyelisihi ijma’ Ahlus Sunnah.”






0 komentar:
Posting Komentar