Sabtu, 29 November 2025

Mengapa konsep Tauhid Tiga (Rububiyyah–Uluhiyyah–Asma’ wa Shifat) dianggap bid‘ah oleh ulama mazhab empat ?

 

Berikut penjelasan paling lengkap, terstruktur, dan rinci mengenai mengapa konsep Tauhid Tiga (Rububiyyah–Uluhiyyah–Asma’ wa Shifat) dianggap bid‘ah oleh ulama mazhab empat (Hanafi–Maliki–Syafi‘i–Hanbali) dan oleh ulama Asy‘ariyyah–Maturidiyyah, dengan argumentasi ilmiah, rujukan, dan sejarah.


📌 Mengapa Tauhid Tiga (توحيد الربوبية، توحيد الألوهية، توحيد الأسماء والصفات) Dianggap Bid‘ah?

Pendapat ulama mazhab + ulama Asy‘ariyyah-Maturidiyyah


I. Karena pembagian tiga itu tidak pernah diajarkan Nabi, sahabat, atau salaf

1. Tidak ada satu pun generasi Salaf yang membagi tauhid menjadi tiga

Para ulama mazhab menegaskan:

  • Nabi tidak pernah membagi tauhid seperti itu.
  • Sahabat tidak pernah membaginya.
  • Tabi‘in tidak pernah membaginya.
  • Imam mazhab empat pun tidak pernah mengenalnya.

➡️ Maka secara definisi ilmu ushul: sesuatu yang dibuat baru dalam urusan aqidahbid‘ah idhafiyyah dalam konsep agama.


II. Karena pembagian tiga berlawanan dengan pembagian klasik ulama Ahlussunnah

**A. Ulama mazhab (4 mazhab) sudah sepakat sejak awal:

Tauhid terbagi menjadi dua:**

1. Tauhid al-Dzat wa al-Shifat (atau al-Ilahiyyat)

Membahas hakikat Allah:

  • Sifat-sifat-Nya
  • Tanzih dari jism, arah, tempat
  • Wujud, Qidam, Baqa’, dan 20 sifat wajib

2. Tauhid al-Qashd wa al-‘Amal (atau al-Uluhiyyat/‘Ibadah)

Membahas kewajiban menyembah Allah saja.

💡 Tak ada pembagian Rububiyyah sebagai kategori tersendiri.


III. Karena konsep Tauhid Rububiyyah ala Wahhabi → memunculkan kontradiksi teologis

A. Wahhabi mengatakan: Abu Jahal beriman kepada Rububiyyah

Ini bertentangan dengan nash Al-Qur'an bahwa:

✔️ Abu Jahal = kafir dalam semua aspek tauhid

Menurut ulama Asy‘ari:

  • Mereka tidak beriman kepada “tawhid rububiyyah”
    → mereka hanya mengakui Allah sebagai pencipta, tapi menyekutukan tindakan Allah (istilahnya: ikrar bukan iman, iqrar la yufid al-iman).
  • Ulama Asy‘ari mengatakan:
    اعتراف المشركين بوجود الله ليس إيماناً أصلاً
    "Pengakuan musyrik terhadap adanya Allah bukanlah iman sama sekali."

Jadi menyebut Abu Jahal sebagai “mu’min rububiyyah” adalah kesalahan fatal.


IV. Karena Tauhid Tiga menyebabkan kesimpulan sesat:

1. Musyrikin Mekkah dianggap ‘bertauhid’ dalam satu aspek

➡️ Bertentangan dengan ijma’ Ahlus Sunnah bahwa mereka kafir total.

2. Menjadikan umat Islam sebagai “musyrik” hanya karena tawassul atau ziarah

→ sesuatu yang tidak pernah dikatakan ulama mazhab.

3. Memecah tauhid yang satu menjadi bagian-bagian buatan manusia

→ bertentangan dengan kaidah tauhid:

التوحيد واحد لا يتجزأ
“Tauhid adalah satu, tidak berbilang.”


V. Pandangan Ulama Mazhab Empat

1. Mazhab Hanafi

Para imam Hanafiyyah lewat kalam Maturidiyyah menolak keras pembagian tiga:

Imam Abu Mansur al-Maturidi:

Tauhid adalah satu:
توحيد الله تعالى هو الإيمان بأنه واحد لا شريك له
Tidak ada tauhid rububiyyah terpisah.

Imam al-Tahawi (Aqidah Thahawiyah):

Tidak menyebut pembagian tiga → menunjukkan hal itu tidak dikenal.


2. Mazhab Maliki

Imam al-Qarafi (Maliki):

Mengatakan: siapa yang membagi tauhid menjadi hal-hal yang tidak dikenal ulama → membuat bid‘ah dalam agama.

Imam al-Dardir:

Tauhid hanya satu kesatuan:
توحيد الذات والصفات والأفعال
Tidak ada tiga konsep terpisah.


3. Mazhab Syafi‘i

Ini mazhab yang paling keras mengkritik pembagian tiga.

Imam al-Juwayni (Imam al-Haramayn)

Tauhid = satu:

  • Mengenal Allah
  • Menafikan syirik
    Tanpa rububiyyah-uluhiyyah sebagai kategori.

Imam al-Ghazali

Dalam Ihya’, Iqtisad, Qistas, ia menegaskan:
Semua bentuk pengakuan kepada Allah harus satu kesatuan.
Tidak pernah beliau membagi menjadi “rububiyyah-uluhiyyah”.

Imam Fakhruddin al-Razi

Beliau menegaskan bahwa musyrik Quraisy tidak bertauhid dalam bentuk apa pun.
Pembagian tiga = pemahaman yang tidak bersumber dari salaf.


4. Mazhab Hanbali (Sunni, bukan Wahhabi)

Imam Ibn Qudamah al-Maqdisi

Tauhid adalah satu perkara:
هو توحيد الله واعتقاد وحدانيته
Tidak pernah membagi menjadi tiga.

Imam al-Barbahari (Hanbali Salaf)

Menganggap orang yang membuat pembagian tauhid baru sebagai penyimpang.


VI. Pendapat Ulama Asy‘ari dan Maturidi

**A. Mayoritas ulama Asy‘ari menyebut pembagian tiga sebagai:

“BID‘AH TAFRIQIYYAH” (pembagian bid‘ah)**

al-Buthi:

هذا التقسيم مبتدع لم يُعرف عند السلف
(Pembagian ini adalah bid‘ah yang tidak dikenal salaf)

Imam Sa‘id Ramadhan al-Buthi:

Tauhid tiga → tidak dikenal ulama salaf, dan mengandung kontradiksi fatal.


**VII. Mengapa disebut bid‘ah?

📌 Kaidah Ushul: “Setiap konsep baru dalam aqidah = bid‘ah.”**

Tauhid tiga adalah:

  • Tidak disebut Nabi
  • Tidak disebut sahabat
  • Tidak disebut tabi‘in
  • Tidak disebut imam mazhab
  • Tidak disebut kitab aqidah klasik
    (al-Fiqh al-Akbar, al-Ibanah, al-Luma‘, al-Irsyad, al-Maqasid, al-‘Aqidah al-Tahawiyyah)

➡️ Maka ia memenuhi definisi bid‘ah menurut ijma' ulama ushul.


VIII. Kesalahan paling fatal dalam Tauhid Tiga

A. Menyebut musyrikin sebagai “ahli tauhid rububiyyah”

➡️ Ini batil menurut ijma’ karena:

الإقرار مجرداً ليس إيماناً
“Pengakuan saja (tanpa ibadah) bukan iman.”


IX. Kesimpulan Utama

✔️ Pembagian tauhid menjadi tiga tidak berasal dari Nabi atau salaf
✔️ Tidak dikenal oleh imam mazhab empat
✔️ Tidak disebut dalam kitab aqidah klasik
✔️ Berlawanan dengan metodologi Asy‘ari–Maturidi
✔️ Menyebabkan penyimpangan teologis (menganggap musyrik beriman)
✔️ Maka ulama menyebutnya bid‘ah dalam ushuluddin.


0 komentar:

Posting Komentar