Sabtu, 15 November 2025

MENGAPA SAAT BERDOA TANGAN DIHADAPKAN KE LANGIT


Mengapa Ketika Berdoa Mengangkat Tangan ke Langit?

Sebagian umat Islam ada yang memahami dan meyakini bahwa Allah SWT berada di atas langit secara hakiki (Ibnu Taimiyah, 2005: 5/33). Lumrahnya, mereka berlandaskan pada QS 20: 5 yang mereka terjemahkan dengan “Allah bersemayam di atas arsyiNya”. Mereka mengklaim bahwa apa yang mereka yakini adalah keyakinan yang benar karena berasal dari Al-Qur’an sendiri. Namun, sebenarnya, keyakinan mereka tersebut hanya berdasarkan pada tafsir mereka belaka. Dalam ayatnya sendiri, sampai kini, saya tidak menemukan penegasan bahwa Allah SWT berada pada arah tertentu. Sama sekali tidak ada. Di samping itu, mengatakan Allah berada pada arah tertentu bertentangan dengan akal sehat (dalil aqli). Tafsiran apa pun mesti ditolak ketika bertentangan dengan akal sehat. Karena interpretasi sifatnya spekulatif (zhanni), sedangkan dalil akal bersifat definitif (qath’ī).

Sementara itu, mayoritas umat Islam dari pengikut tiga mazhab, Syafi’ī, Hanafi, dan Maliki serta sebagian pengikut Mazhab Hambali–seperti Ibnu Al-Jauzi–meyakini bahwa Allah SWT Maha Suci dari arah, baik bawah, atas, kanan, kiri, depan, maupun belakang. Mereka meyakini bahwa Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Paham “tanzīh” ini adalah paham para ulama, baik salaf maupun khalaf (Yusuf Al-Nabhani, 2000: 23). Terhadap ayat-ayat yang secara zahir mengindikasikan Allah SWT berada pada tempat, ruang, dan waktu tertentu, ulama ada yang memilih memasrahkan (tafwīdh) tafsir sebenarnya kepada Allah SWT seraya meyakini apa yang Allah tetapkan untuk diriNya sendiri dan ulama yang lain ada yang menafsirkannya (ta’wīl) sesuai dengan makna yang pantas dan layak bagi keagungan serta kesempurnaan Allah SWT. Kedua cara inilah yang benar (Fakhruddin Al-Razi, 2012: 56).

Menurut Al-Murtadha Al-Zabidi (2016: 2/171), tidak ada perbedaan sama sekali antara para ulama suni, ahli hadis, ahli fikih, dan lain sebagainya perihal akidah tanzīh: bahwa Allah SWT tidak berada pada arah tertentu. Dan, dalam syariat sendiri, tidak ditemukan sama sekali keterangan tegas nun “cetoran” dari Nabi SAW bahwa Allah SWT berada pada arah tertentu. Dengan demikian, penetapan arah kepada Allah SWT sebagaimana tafsiran dimaksud adalah sebuah diskrepansi baik lafal ataupun maknanya. Tersebab, tafsiran tersebut bertentangan dengan firmanNya: “Tiada suatu apa pun yang serupa denganNya” (QS Al-Syura:11). Jika Allah SWT berada pada arah tertentu, berarti Ia serupa dengan selainNya. Maha Suci Allah dari segara keserupaan.

Di platfrom X setelah saya memposting tulisan mengenai dusta Salafi-Wahabi terhadap Imam Abu Hanifah yang, menurut mereka, berkeyakinan bahwa Allah SWT berada di langit, ada yang berkomentar (bi-tasharruf) bahwa Allah berada di langit adalah fitrah. Buktinya, ketika manusia berdoa, secara alamiah, mereka mengangkat tangan dan menengadah ke langit. Hal itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa Allah SWT berada di langit. Begitu di antara argumen mereka yang meyakini Allah berada di langit.

Saya sangat setuju bahwa mengangkat tangan dan menengadah ke langit ketika berdoa merupakan fitrah alamiah manusia. Namun, saya tidak setuju bahwa hal tersebut diartikan bahwa Allah berada di langit. Tidak. Sejak dahulu kala, ulama telah menegaskan maksud ayat-ayat dalam Al-Qur’an atau redaksi hadis yang secara zahir menunjukkan Allah berada di atas langit adalah menunjukkan ‘uluw al-makānah (ketinggian atau keagungan kedudukan) bukan ‘uluw al-makān (ketinggian tempat). Jadi, benar secara fitrah manusia mengakui bahwa Allah itu Maha Tinggi dan Agung. Sebab itulah, ketika berdoa, ia mengangkat tangan dan menengadah ke langit. Pun, karena fitrahnya seperti itu, radaksi Al-Qur’an dan hadis disesuaikan dengan fitrah tersebut guna menunjukkan keagungan Allah SWT bukan untuk menunjukkan dan menetapkan tempat untukNya.

Demikian pun dengan hadis budak perempuan (sering disebut hadis jariyah) yang oleh Nabi SAW ditanya, “Allah di mana?” Lalu, budak tersebut menjawab, “Di langit”. Dan Nabi SAW membenarkan jawabannya dengan menganggapnya sebagai seorang mukmin. Hadis ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah SWT berada pada arah tertentu, yaitu langit. Nabi saw membenarkan jawaban budak tersebut karena jawabannya sesuai dengan fitrah orang-orang yang bertauhid: Allah ada dan Maha Tinggi.

Imam Al-Maziri (W. 536 H), ulama malikiyah, menjelaskan:

أراد صلى الله عليه وسلم أن يطلب دليلا على أنها موحدة فخاطبها بما يفهم من قصدها لأن علامة الموحدين التوجه الى السماء عند الدعاء وطلب الحوائج فإن من كان يعبد الأصنام يطلب حوائجه منها ومن يعبد النار يطلب حوائجه منها أيضا فأراد صلى الله عليه وسلم الكشف عن معتقدها أهي مؤمنة أم لا؟ فأشارت الى الجهة التي يقصدها الموحدون

“Rasulullah SAW bermaksud meminta bukti bahwa budak perempuan tersebut adalah seorang yang bertauhid, maka beliau menggunakan bahasa yang mudah dipahami sesuai dengan  maksudnya, karena di antara tanda orang yang bertauhid adalah menengadah ke langit ketika berdoa dan meminta segala keperluannya. Lain dari itu, orang yang menyembah berhala, mereka akan meminta segala keperluannya dari berhala tersebut. Dan, orang yang menyembah api, ia akan meminta segela keperluanya dari api. Maka, Rasulullah bermaksud mengonfirmasi keyakinan budak perempuan tersebut, apakah dia seorang mukmin atau bukan? Kemudian, dia menunjuk ke arah yang lumrah dituju oleh orang-orang yang bertauhid.” (Al-Nabhani, Ra’u Al-Isytibah: 66)

Menurut Imam Al-Sya’rani (2007: 93), Nabi SAW menggunakan pertanyaan “Di mana Allah?” yang memberi indikasi Allah bertempat–padahal mustahil Allah bertempat–merupakan cara Nabi berkomunikasi (public speaking) yang disesuaikan dengan nalar audiennya. Hal semacam ini lumrah belaka dalam syariat. Allah berfirman: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (QS Ibrahim: 4). Toh, jika cara komunikasinya tidak disesuai dengan kemampuan nalar audiens maka sesuatu yang diingikan dari komunikasi tersebut tidak akan tercapai dan gagal. Karena tujuannya untuk mengonfirmasi keimanan si budak, ketika dijawab Allah di langit maka Nabi SAW mengatakan bahwa dia seorang mukmin. Sebab, jawaban tersebut sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al-An’am: 3: “Dialah Allah (yang disembah) di langit dan di bumi.”

Alhasil, mengangkat tangan dan menengadah ke langit ketika berdoa adalah fitrah alami manusia yang sudah ter-setting bahwa Allah SWT Maha Tinggi dan Agung. Faktanya, arah atas merupakan arah paling mulia dan tinggi bagi manusia. Dari ataslah Allah menurunkan segala rahmatNya. Allah menegaskan: “Di langit terdapat pula (hujan yang menjadi sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS 51: 22) Maka, tidaklah aneh jika arah atas dijadikan sebagai perumpamaan (tamtsīliyah) keagungan dan kebesaran Allah SWT. Dan hal tersebut sama sekali tidak berarti bahwa Allah SWT bertempat di langit. Kita berdoa mengangkat tangan dan menengadah ke langit karena langit adalah kiblat doa sebagaimana ka’bah adalah kiblat salat. Itu saja.

Imam Al-Ghazali menyatakan:

فأما رفع الأيدي عند السؤال الى جهة السماء فهو لأنها قبلة الدعاء وفيه اشارة الى ما وصف للمدعو من الجلال والكبرياء تنبيها بقصد جهة العلو على جهة المجد والعلاء فإنه تعالى فوق كل موجود بالعظمة والاستعلاء والقهر والاستيلاء

“Adapun mengangkat tangan ketika berdoa ke arah langit, karena langit adalah kiblat doa. Di dalamnya juga terdapat penegasan bahwa Dzat yang diminta memiliki sifat keagungan dan kebesaran. Pun, sebagai penegasan bahwa yang dimaksud dengan arah tinggi adalah keluhuran dan ketinggian, karena keagungan, kekuasaan, keluhuran, dan kemuliaan Allah SWT di atas segala yang wujud.” (Ihyā’, 2016: 1/143).

Imam Al-Nasafi, sebagaimana dikutip Al-Mala Al-Qari dalam kitab Syarh Fiqh Al-Akbar (90), menyebutkan:

أن المحققين قرروا أن رفع الأيدي الى السماء في حال الدعاء تعبد محض

“Para ulama yang telah tahqiq menegaskan bahwa mengangkat tangan ke langit ketika berdoa adalah murni ibadah.”

Selain itu, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir bin Samurah disebutkan bahwa Nabi SAW melarang kita menengadah ke langit ketika salat. Menurut Imam Al-Munawi, hal itu dikarenakan dapat membikin orang-orang menisbatkan tempat tinggi (‘uluw al-makān) kepada Allah SWT (Al-Sirāj Al-Munīr, 3/233).

Dari sini kiranya menjadi jelas bahwa berdoa dengan  mengangkat tangan dan menengadah ke langit tidak berarti menunjukkan Allah SWT berada di atas langit. Sebaliknya, hal tersebut menunjukkan keagungan dan kebesaran Allah SWT. Mayoritas ulama dari  mazhab yang tiga dan sebagian Mazhab Hambali telah sepakat menyatakan bahwa Allah Maha Suci dari arah, baik atas, bawah, depan, belakang, kanan, dan kiri.

Imam Al-Sanusi menegaskan:

ولم يقل بالجهة أحد من أهل السنة وإنما قال بها طائفة من المبتدعة

“Tidak seorang pun dari Ahlisunnah yang mengatakan Allah berada pada arah tertentu. Yang mengatakan demikian adalah kelompok ahli bid’ah.” (Al-‘Aqidah Al-Wustha, 2006: 125)

Di samping itu, secara akal, adalah mustahil Allah SWT bertempat. Sebab, jika Allah bertempat berarti Ia sama dengan makhluk. Jika sama dengan makhluk maka Ia butuh pada pencipta. Jika Ia butuh pada pencipta, berarti Ia bukan Tuhan. Secara naql, dalam Al-Qur’an, Allah telah menegaskan bahwa Ia tidak serupa dengan suatu apa pun (QS Al-Syura: 11). Semestinya, penegasan ayat ini yang digunakan untuk memahami ayat-ayat yang tidak tegas maknanya (mutasyabih). Kaidahnya, ayat-ayat mutasyabih harus disesuaikan dengan ayat-ayat muhkam (tegas dan jelas maknanya). Tersebab, ia adalah dasar (ashl) Al-Qur’an dan ayat-ayat mutasyabih tidak dapat menentang ayat-ayat muhkam (Sayid Ahmad Al-Rifa’ī, 2022: 18).

Akhiran, mari kita ikuti pendapat mayoritas ulama. Pendapat mereka lebih dekat pada kebenaran. Keulamaan dan keilmuan mereka sudah terbukti dan tidak perlu diraguka lagi. Di samping itu, kita memang diperintah untuk mengikut pendapat mayoritas ulama karena lebih minim peluang untuk jatuh ke dalam jurang kesalahan dan kekeliruan.

Wallāhu a’lam…


0 komentar:

Posting Komentar