Sabtu, 15 November 2025

AYAT-AYAT MUTASYABIHAT

 

Ayat-ayat Al-Qur'an yang dianggap 
mutasyabihat (samar makna) mengenai keberadaan Allah di suatu "tempat" umumnya merujuk pada ayat-ayat yang menggunakan kata-kata atau sifat-sifat yang bisa diartikan secara harfiah (antropomorfis) atau kiasan, seperti penyebutan tentang 'Arsy (singgasana), "tangan", "wajah", atau "mata" Allah. 

Berikut adalah beberapa contoh ayat yang sering diklasifikasikan sebagai mutasyabihat dalam konteks ini, terutama yang berkaitan dengan 'Arsy:

Surah Taha ayat 5:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
(Ar-Raḥmānu 'alal-'Arsyistawā)
Artinya: "(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy."

Surah Yunus ayat 3:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ
(Inna rabbakumullāhullażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa fī sittati ayyāmin ṡummastawā 'alal-'Arsy)
Artinya: "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy."

Surah Al-A'raf ayat 54:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ
(Inna rabbakumullāhullażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa fī sittati ayyāmin ṡummastawā 'alal-'Arsy)
Artinya: "Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy." 

Ayat-ayat lain yang juga termasuk dalam kategori mutasyabihat terkait sifat-sifat Allah (yang mungkin disalahpahami sebagai "anggota fisik" atau "bertempat") antara lain:

Surah Al-Fath ayat 10: "...Yadullāhi fauqa aidīhim..." (Tangan Allah di atas tangan mereka)

Surah Ar-Rahman ayat 27: "...Wa yabqā wajhu rabbika..." (Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu) 

Dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat semacam ini, ulama memiliki dua metode utama: 

Tafwidh: Menyerahkan makna hakikat ayat tersebut sepenuhnya kepada Allah SWT, dengan keyakinan bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya dan tidak membutuhkan tempat.

Ta'wil: Mencari makna kiasan yang sesuai dengan keagungan Allah SWT, misalnya 'istiwa' diartikan sebagai menguasai atau memerintah, bukan duduk secara fisik. 

Prinsip dasarnya adalah bahwa Allah itu unik dan tidak dapat disamakan dengan ciptaan-Nya (Surah Asy-Syura ayat 11: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia"), sehingga segala penyebutan tentang "tempat" atau "anggota tubuh" harus dipahami sesuai dengan keagungan-Nya. 

Pernyataan bahwa Nabi Ibrahim menemui Allah di Syam secara fisik tidak benar berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadis. 

Berikut adalah penjelasan mengenai interaksi Nabi Ibrahim dengan Allah SWT:

Bukan Pertemuan Fisik: Dalam keyakinan Islam, mustahil bagi manusia, termasuk para nabi, untuk melihat Allah SWT secara fisik di dunia, kecuali Nabi Muhammad SAW yang melihat-Nya saat peristiwa Isra Mikraj (dan bahkan hal ini pun masih menjadi perdebatan di antara ulama, apakah dengan mata kepala atau mata hati).

Menerima Wahyu dan Perintah: Nabi Ibrahim menerima wahyu, perintah, dan petunjuk dari Allah SWT melalui berbagai cara, seperti melalui suara, ilham, atau perantaraan Malaikat Jibril.

Dialog dan Komunikasi: Allah SWT berkomunikasi dengan Nabi Ibrahim dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam kisah pencarian Tuhan (QS. Al-An'am: 74-79), dialog mengenai kaum Nabi Luth, dan perintah kurban serta pembangunan Ka'bah. Komunikasi ini bersifat spiritual dan kenabian, bukan pertemuan tatap muka di lokasi tertentu.

Hijrah ke Syam: Nabi Ibrahim memang berhijrah ke negeri Syam (wilayah yang mencakup Palestina, Suriah, Lebanon, dan Yordania saat ini) setelah diusir dari kaumnya di Irak (Babil). Di Syam dan kemudian di Mekah, beliau menerima berbagai perintah dan cobaan, tetapi tidak ada catatan mengenai pertemuan fisik dengan Allah di sana.

Perintah Haji: Perintah untuk membangun Ka'bah dan melaksanakan manasik haji diterima Nabi Ibrahim di Mekah, di sekitar Baitullah (Ka'bah). 

Kesimpulannya, Nabi Ibrahim berhijrah dan tinggal di Syam serta menerima wahyu di berbagai tempat, tetapi beliau tidak menemui Allah SWT secara fisik di Syam atau di mana pun di bumi. Komunikasi terjadi dalam bentuk wahyu dan perintah kenabian. 

Berdasarkan ajaran Islam, pernyataan bahwa Nabi Musa AS menemui Allah di Bukit (Gunung Sinai/Tursina) 

bukan secara fisik adalah benar. Pertemuan tersebut terjadi dalam bentuk dialog langsung 
(komunikasi verbal), di mana Nabi Musa mendengar Kalam (Firman) Allah, namun tidak melihat wujud fisik-Nya. 

Berikut penjelasannya:

Dialog Langsung (Kalimullah): Nabi Musa dikenal dengan gelar Kalimullah, yang berarti orang yang berbicara langsung dengan Allah. Percakapan ini istimewa, tetapi tidak melibatkan suara atau huruf seperti komunikasi antarmanusia, melainkan cara komunikasi ilahi yang sesuai dengan keagungan Allah.

Keinginan Melihat Allah: Dalam Al-Qur'an surat Al-A'raf ayat 143, dikisahkan bahwa Nabi Musa pernah meminta untuk melihat Allah. Allah berfirman bahwa Musa tidak akan sanggup, lalu menampakkan sedikit penampakan (tajalli) ke gunung. Ketika Allah menampakkan diri-Nya, gunung itu hancur luluh dan Nabi Musa pun pingsan. Setelah sadar, Musa bertasbih dan menyadari ketidakmungkinan melihat Allah di dunia.

Sifat Allah: Keyakinan dalam Islam menyatakan bahwa Allah tidak dapat dilihat dengan mata kepala di dunia ini, karena Allah tidak memiliki bentuk fisik atau raga yang bisa dilihat oleh indra manusia. 

Jadi, pertemuan di Gunung Sinai adalah pengalaman spiritual dan komunikasi ilahi yang luar biasa, namun menegaskan bahwa Allah tidak dapat dilihat secara fisik oleh manusia di alam dunia. 

Nabi Muhammad ﷺ saat Isra Miraj bertemu dan berdialog langsung dengan Allah SWT di Sidratul Muntaha, tetapi tidak dengan mata fisik biasa. Menurut mayoritas ulama, ia melihat Allah dengan mata hati (batin) atau dengan mata kepala yang diberi kekuatan khusus oleh Allah sehingga mampu melihat kebesaran-Nya dengan cara yang tidak bisa dipahami manusia pada umumnya. 

Perbedaan pandangan: Ada beberapa pandangan mengenai bagaimana Nabi melihat Allah saat itu.

Melihat dengan mata hati: Banyak ulama berpendapat Nabi melihat Allah dengan hatinya (batin).

Melihat dengan mata kepala yang dikuatkan: Ada juga pandangan bahwa mata kepala Nabi diperkuat oleh Allah agar bisa melihat-Nya dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, bukan seperti melihat manusia pada umumnya.

Melihat cahaya: Berdasarkan hadis, ketika ditanya apakah ia melihat Tuhan, Nabi menjawab, "Aku melihat cahaya," atau "Ada cahaya".

Pertemuan di Sidratul Muntaha: Puncak dari Isra Miraj adalah pertemuan Nabi Muhammad ﷺ dengan Allah di Sidratul Muntaha, di mana ia menerima perintah sholat lima waktu.

Allah tidak membutuhkan tempat: Penting untuk dipahami bahwa Allah tidak bertempat di Sidratul Muntaha. Peristiwa ini adalah mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ dan tidak dapat dipahami melalui akal manusia biasa. 

0 komentar:

Posting Komentar