PRINSIP TASAWWUF
Prinsip keyakinan dalam tasawuf berakar pada konsep penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan pendekatan langsung kepada Allah melalui pengalaman spiritual. Berikut adalah prinsip-prinsip utama dalam tasawuf:
1. Tauhid Murni (Ma’rifatullah)
Tasawuf menekankan tauhid yang dalam, yaitu kesadaran penuh bahwa hanya Allah yang hakiki, sedangkan makhluk hanyalah bayangan. Hal ini sering diungkapkan dalam konsep wahdatul wujud (kesatuan wujud) atau wahdatul syuhud (kesatuan penyaksian).
2. Zuhud (Menjauhi Dunia dengan Hati)
Seorang sufi tidak menggantungkan hatinya kepada dunia. Namun, ini bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
3. Mahabbah (Cinta kepada Allah)
Seorang sufi berusaha mencintai Allah dengan sepenuh hati, menjadikan kecintaan-Nya sebagai tujuan utama dalam hidupnya.
4. Fana' dan Baqa' (Melenyapkan Ego, Bertahan dalam Kehendak Allah)
- Fana': Menghilangkan ego dan hawa nafsu hingga hanya Allah yang ada dalam hati.
- Baqa': Tetap eksis dalam kehidupan, tetapi sepenuhnya dalam kehendak Allah.
5. Tawakkal (Berserah Diri kepada Allah)
Seorang sufi yakin bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari takdir Allah, sehingga mereka berserah diri dengan penuh keyakinan.
6. Sabar dan Syukur
Kesabaran dalam menghadapi ujian dan syukur dalam menerima nikmat adalah prinsip utama dalam tasawuf.
7. Muraqabah dan Muhasabah
- Muraqabah: Selalu merasa diawasi oleh Allah.
- Muhasabah: Menghisab diri sendiri setiap waktu untuk selalu mendekat kepada-Nya.
8. Khumul (Merendahkan Diri) dan Tawadhu’ (Rendah Hati)
Seorang sufi tidak mencari popularitas atau pujian, tetapi selalu merasa hina di hadapan Allah.
9. Kasih Sayang (Rahmah) dan Akhlak Mulia
Seorang sufi harus memiliki kelembutan hati, kasih sayang kepada sesama, dan selalu berakhlak mulia.
10. Talqin dan Suhbah (Belajar dari Guru Mursyid)
Seorang salik (penempuh jalan tasawuf) harus dibimbing oleh seorang mursyid yang telah mencapai makrifatullah agar tidak tersesat dalam perjalanan spiritualnya.
11. Khidmah (Melayani dengan Ikhlas)
Seorang sufi mengabdikan hidupnya untuk melayani sesama sebagai bentuk penghambaan kepada Allah.
12. Dzikrullah (Selalu Mengingat Allah)
Dzikir adalah kunci utama dalam tasawuf. Dengan dzikir, hati seorang sufi selalu terhubung dengan Allah.
Prinsip-prinsip ini membentuk pola hidup seorang sufi yang berusaha mencapai makrifatullah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan penuh cinta dan ketulusan.
Tasawuf memiliki beberapa model atau aliran yang berkembang sepanjang sejarah Islam. Secara umum, tasawuf dapat dikategorikan menjadi dua model utama, yaitu Tasawuf Akhlaki, Tasawuf Falsafi, dan Tasawuf Amali/Tarekat.
1. Tasawuf Akhlaki (Etika Spiritual)
Model ini menekankan pada penyucian jiwa melalui peningkatan akhlak dan ibadah. Tujuannya adalah mencapai kedekatan dengan Allah dengan membersihkan hati dari sifat buruk dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji.
Ciri-ciri:
- Fokus pada pembinaan akhlak dan ibadah.
- Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis tanpa spekulasi filosofis.
- Tidak mengutamakan pengalaman mistik yang ekstrem.
Tokoh:
- Imam Al-Ghazali (Ihya’ Ulumuddin)
- Abu Talib Al-Makki
- Harits Al-Muhasibi
2. Tasawuf Falsafi (Tasawuf Filosofis)
Tasawuf ini menggabungkan konsep tasawuf dengan filsafat, khususnya filsafat neoplatonisme, emanasi, dan wahdatul wujud. Model ini lebih menekankan pada aspek metafisika dan makrifat (pengetahuan langsung tentang Allah).
Ciri-ciri:
- Menggunakan istilah filosofis dalam menjelaskan pengalaman spiritual.
- Menekankan konsep kesatuan wujud (Wahdatul Wujud).
- Kadang-kadang kontroversial di kalangan ulama karena pemikiran yang mendalam dan sulit dipahami.
Tokoh:
- Ibnu Arabi (Wahdatul Wujud)
- Al-Hallaj (Ana al-Haqq)
- Suhrawardi (Filsafat Iluminasi)
- Jalaluddin Rumi (Konsep Cinta Ilahi)
3. Tasawuf Amali (Tarekat Sufi)
Model ini berkembang dalam bentuk organisasi tarekat (persaudaraan spiritual) yang memiliki sistem pembinaan murid (salik) oleh seorang guru (mursyid).
Ciri-ciri:
- Memiliki sistem baiat (sumpah kesetiaan) kepada seorang mursyid.
- Menggunakan metode khusus seperti dzikir, wirid, dan riyadhah (latihan spiritual).
- Ada rantai sanad (silsilah) dari guru-guru sebelumnya hingga Rasulullah ﷺ.
Beberapa Tarekat Terkenal:
A. Tarekat Sunni (berpegang pada Syariat)
- Qadiriyah – Didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
- Naqsyabandiyah – Didirikan oleh Baha’uddin Naqsyaband, menekankan dzikir khafi (dzikir dalam hati).
- Syadziliyah – Didirikan oleh Imam Abu Hasan Asy-Syadzili, mengajarkan keseimbangan antara dunia dan spiritual.
- Rifa’iyah – Didirikan oleh Syekh Ahmad Ar-Rifa’i, dikenal dengan dzikir keras dan latihan keras.
- Tijaniyah – Didirikan oleh Syekh Ahmad At-Tijani, banyak berkembang di Afrika.
B. Tarekat yang Berorientasi pada Wahdatul Wujud
- Suhrawardiyah – Didirikan oleh Syekh Syihabuddin As-Suhrawardi, mengajarkan filsafat iluminasi.
- Kubrawiyah – Didirikan oleh Najmuddin Kubra, menekankan penglihatan ruhani (kasyf).
- Bektashiyah – Berkembang di Turki Utsmani, cenderung bercampur dengan ajaran mistik lokal.
Kesimpulan
- Tasawuf Akhlaki → Fokus pada akhlak dan ibadah.
- Tasawuf Falsafi → Menggunakan pendekatan filsafat dan metafisika.
- Tasawuf Amali (Tarekat Sufi) → Berbentuk organisasi tarekat dengan silsilah dan metode khusus.
Setiap model tasawuf memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara yang lebih dalam dan spiritual.
BERDASARKAN AL QUR-AAN DAN ASSUNNAH
Tasawuf secara esensial memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, karena pada hakikatnya tasawuf adalah jalan untuk mencapai ihsan, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, sebagaimana disebutkan dalam hadis Jibril yang masyhur:
"Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu." (HR. Muslim)
Namun, dalam perkembangannya, terdapat berbagai pendekatan dan pemahaman dalam tasawuf, termasuk yang bercampur dengan unsur filosofis dan metode-metode tertentu yang menimbulkan kontroversi di kalangan ulama. Untuk memahami dasar tasawuf yang benar, berikut adalah pondasi utama tasawuf yang dibenarkan dalam Islam:
1. Tasawuf Berasal dari Konsep Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)
Al-Qur’an menekankan pentingnya penyucian diri sebagai jalan menuju keberuntungan:
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya."
(QS. Asy-Syams: 9-10)
Tasawuf yang benar berlandaskan pada upaya membersihkan hati dari penyakit seperti riya’, sombong, hasad, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.
2. Tasawuf Berfokus pada Akhlak dan Ihsan
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."
(HR. Ahmad)
Tasawuf yang sesuai dengan syariat adalah tasawuf yang berorientasi pada penyempurnaan akhlak, bukan sekadar mencari pengalaman mistik atau fenomena supranatural.
3. Tasawuf Menekankan Dzikir dan Ketenangan Hati
Allah berfirman:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."
(QS. Ar-Ra'd: 28)
Tasawuf mengajarkan dzikir sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana Rasulullah ﷺ juga mencontohkan berbagai dzikir harian dalam sunnahnya.
4. Tasawuf yang Benar Tidak Keluar dari Syariat
Tasawuf yang haqiqi selalu berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah. Imam Junaid Al-Baghdadi berkata:
"Barang siapa yang tidak menghafal Al-Qur’an dan tidak menulis hadits, maka ia tidak boleh dijadikan teladan dalam tasawuf karena ilmu kita (tasawuf) harus sesuai dengan kitab dan sunnah."
Tasawuf yang benar tidak menyalahi syariat, tetapi justru memperdalam pemahaman dan pengamalannya.
Bagaimana dengan Tasawuf yang Mengandung Unsur Filsafat atau Wahdatul Wujud?
Beberapa konsep dalam tasawuf filsafat seperti Wahdatul Wujud (kesatuan wujud) yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi sering disalahpahami. Ada sebagian ulama yang membenarkan dengan tafsir tertentu, tetapi ada juga yang menolaknya karena berpotensi menyalahi konsep tauhid dalam Islam.
Tasawuf yang benar adalah tasawuf yang tetap menjaga batas-batas syariat, bukan yang menafsirkan makrifatullah secara spekulatif hingga bertentangan dengan aqidah Islam.
Kesimpulan
- Tasawuf yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah adalah yang menekankan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), akhlak, dzikir, dan ihsan.
- Tasawuf yang menyimpang adalah yang meninggalkan syariat, mengabaikan hukum Islam, atau terlalu masuk ke dalam spekulasi filsafat yang bertentangan dengan tauhid.
- Tasawuf yang benar harus mengikuti jejak para ulama salaf seperti Imam Al-Ghazali, Imam Junaid Al-Baghdadi, dan ulama sufi yang tetap berpegang teguh pada syariat.
Jadi, selama tasawuf berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, ia adalah bagian dari Islam yang sah dan bahkan menjadi bagian penting dalam penyempurnaan ibadah seorang Muslim.
BERJALAN SEIRING
Pendapat Anda sangat tepat dan sesuai dengan pemahaman yang seimbang dalam Islam. Syariat, Aqidah, Hakikat, dan Makrifat sebenarnya adalah empat sisi dari satu kesatuan yang harus berjalan bersama. Jika salah satunya ditinggalkan, maka perjalanan spiritual seseorang akan timpang.
1. Syariat Islam (Fiqh) – Jalan Lahiriah
Syariat adalah hukum-hukum Islam yang mengatur aspek lahiriah dalam ibadah dan muamalah. Ini adalah fondasi awal yang wajib ditaati oleh setiap Muslim.
Dalilnya:
"Dan tidaklah Kami mengutus sebelum engkau (wahai Muhammad) kecuali orang-orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui."
(QS. An-Nahl: 43)
Syariat mencakup:
- Shalat, puasa, zakat, haji
- Hukum halal dan haram
- Muamalah (perdagangan, pernikahan, dll.)
Tanpa syariat, seseorang tidak memiliki dasar yang benar dalam beragama.
2. Aqidah Iman (Tauhid) – Fondasi Keyakinan
Aqidah adalah keyakinan terhadap rukun iman yang enam, khususnya tauhid kepada Allah. Aqidah membentuk pondasi spiritual seseorang agar tidak tersesat dalam kesyirikan atau keyakinan yang menyimpang.
Dalilnya:
"Maka ketahuilah bahwa tidak ada ilah selain Allah."
(QS. Muhammad: 19)
Aqidah mencakup:
- Iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan qadar.
- Menolak segala bentuk syirik, bid’ah dalam aqidah, dan pemikiran yang menyimpang.
Aqidah yang benar adalah syarat utama agar ibadah diterima dan tidak terjerumus ke dalam kesesatan.
3. Hakikat Ihsan – Puncak Kedekatan dengan Allah
Hakikat adalah aspek batin dari ibadah, yaitu bagaimana seseorang bisa menyembah Allah dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Ini adalah tingkatan Ihsan yang disebut dalam hadits Jibril:
"Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu." (HR. Muslim)
Hakikat mencakup:
- Keikhlasan dalam ibadah
- Merasakan kehadiran Allah dalam setiap amal
- Menjauhkan hati dari kecintaan terhadap dunia secara berlebihan
Hakikat tidak bisa dicapai tanpa syariat dan aqidah yang benar.
4. Makrifat Irfan – Ilmu Pengetahuan Spiritual
Makrifat adalah pengenalan mendalam tentang Allah (Ma’rifatullah) yang diperoleh melalui pengalaman spiritual dan kedekatan dengan Allah.
Dalilnya:
"Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya."
(Hadis yang sering dikutip dalam tasawuf)
Makrifat mencakup:
- Pemahaman mendalam tentang asma’ dan sifat Allah
- Ketersingkapan (kasyf) terhadap hakikat kehidupan
- Keyakinan yang sangat kuat terhadap takdir Allah
Namun, makrifat tidak boleh bertentangan dengan syariat. Jika makrifat membawa seseorang keluar dari hukum Islam atau menganggap dirinya sudah tidak wajib menjalankan ibadah, maka itu adalah penyimpangan.
Bagaimana Keempatnya Bisa Berjalan Bersama?
- Syariat adalah tubuhnya → Tanpa syariat, agama menjadi rusak.
- Aqidah adalah ruhnya → Tanpa aqidah yang benar, ibadah tidak bernilai.
- Hakikat adalah kesempurnaan ibadah → Tanpa hakikat, ibadah menjadi kering dan tidak berjiwa.
- Makrifat adalah puncaknya → Tanpa makrifat, seseorang tidak akan benar-benar mengenal Allah.
Analoginya:
- Syariat = Ilmu Fiqh
- Aqidah = Ilmu Tauhid
- Hakikat = Ilmu Tasawuf
- Makrifat = Ilmu Ma’rifatullah
Ketika keempatnya berjalan bersama, maka seseorang akan mencapai ridha Allah dengan keseimbangan yang sempurna.
Kesimpulan
- Tidak ada pertentangan antara Syariat, Aqidah, Hakikat, dan Makrifat jika semua berada dalam jalur yang benar.
- Penyimpangan terjadi jika ada yang meninggalkan salah satunya, seperti mengklaim bahwa syariat tidak lagi diperlukan setelah mencapai makrifat.
- Jalan menuju Allah adalah satu, tetapi memiliki tingkatan dan tahapan yang berbeda sesuai dengan kapasitas spiritual seseorang.
Jadi, seorang Muslim yang ideal adalah yang menggabungkan keempat unsur ini secara seimbang, sehingga mencapai Islam yang kaffah dan meraih ridha Allah.
KONFLIK YANG SEHARUSNYA TIDAK TERJADI
Yang terjadi adalah banyak orang hanya berpegang pada satu sisi dan mengabaikan sisi lainnya, sehingga muncul perpecahan, kesalahpahaman, dan bahkan pertentangan antara kelompok-kelompok dalam Islam. Beberapa penyebab utama fenomena ini adalah:
1. Pemisahan Syariat dan Hakikat
Sebagian orang hanya fokus pada syariat lahiriah (fiqh), tetapi tidak memperhatikan hakikat (keikhlasan dan spiritualitas). Akibatnya, ibadah mereka kering dan sekadar formalitas tanpa ruh.
Sebaliknya, ada juga yang terlalu mendalami hakikat dan makrifat, tetapi mengabaikan syariat. Mereka mengklaim bahwa setelah mencapai tingkatan tertentu, shalat dan ibadah syariat tidak lagi diperlukan. Ini jelas bertentangan dengan ajaran Rasulullah ﷺ.
Contoh yang terjadi:
- Ada yang menganggap cukup dengan dzikir dan cinta kepada Allah tanpa perlu menjalankan shalat atau puasa.
- Ada yang menganggap bahwa hukum halal-haram sudah tidak berlaku bagi orang yang telah mencapai "makrifat".
Akibatnya:
- Sebagian ulama fiqh menolak tasawuf secara umum karena melihat penyimpangan ini.
- Sebagian sufi menolak hukum-hukum fiqh dengan alasan "sudah mencapai hakikat".
Padahal, syariat dan hakikat harus berjalan bersama.
2. Perpecahan Antara Ahli Tauhid dan Ahli Tasawuf
Sebagian ahli aqidah (ilmu tauhid) terlalu fokus pada konsep ketauhidan secara rasional dan menjauhi tasawuf karena menganggapnya sebagai "bid’ah" atau "menyimpang".
Di sisi lain, ada kelompok sufi yang terlalu mendalami konsep Wahdatul Wujud (kesatuan wujud) sehingga jatuh ke dalam pemahaman yang membingungkan dan sulit diterima oleh aqidah Islam yang benar.
Contoh yang terjadi:
- Beberapa ulama menolak konsep tasawuf falsafi seperti ajaran Ibnu Arabi karena dianggap bertentangan dengan tauhid.
- Sebagian pengikut tasawuf justru terlalu berlebihan dalam mengultuskan guru mereka, sehingga jatuh ke dalam sikap ghuluw (berlebihan dalam menghormati manusia).
Akibatnya:
- Sebagian kelompok menolak tasawuf sama sekali dan hanya berpegang pada aqidah dan fiqh.
- Sebagian kelompok mengabaikan ilmu tauhid dan hanya berfokus pada pengalaman spiritual.
Padahal, tauhid dan tasawuf bisa bersatu dalam pemahaman yang benar.
3. Kekeliruan dalam Memahami Makrifat dan Kasyf
Beberapa orang yang mendalami tasawuf terlalu mengandalkan pengalaman spiritual (kasyf) dan meninggalkan ilmu. Mereka lebih percaya pada bisikan hati atau "ilham" daripada dalil Al-Qur'an dan Hadis.
Contoh yang terjadi:
- Ada yang mengaku mendapat "wahyu" langsung dari Allah dan tidak perlu mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah lagi.
- Ada yang mengklaim bahwa wali memiliki ilmu yang lebih tinggi daripada para ulama fiqh dan hadits.
- Ada yang menganggap setiap mimpi sebagai petunjuk dari Allah, padahal bisa jadi itu hanya ilusi atau gangguan setan.
Akibatnya:
- Muncul pemahaman yang menyimpang, seperti keyakinan bahwa wali memiliki kekuasaan yang setara dengan nabi.
- Orang-orang yang awam menjadi bingung antara ajaran Islam yang benar dan pemikiran mistik yang tidak berdasar.
Padahal, makrifat dan kasyf harus tetap dalam batasan syariat dan aqidah yang benar.
4. Penyalahgunaan Konsep "Wali" dan "Karomah"
Sebagian kelompok mengajarkan bahwa wali memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bahkan melebihi para nabi. Mereka menganggap bahwa wali bisa memberi syafaat tanpa izin Allah, atau memiliki ilmu yang lebih tinggi daripada Al-Qur’an dan Hadis.
Contoh yang terjadi:
- Sebagian orang lebih percaya pada "karomah" seorang wali daripada dalil syariat.
- Munculnya kelompok-kelompok yang hanya mengikuti guru tertentu tanpa mengkaji ajaran Islam yang benar.
- Adanya kepercayaan bahwa wali bisa menghapus dosa seseorang hanya dengan melihat wajahnya.
Akibatnya:
- Orang-orang lebih sibuk mencari berkah dari wali daripada memperbaiki ibadah mereka sendiri.
- Munculnya kultus individu yang berlebihan, di mana seorang mursyid dianggap suci dan tidak bisa dikritik.
Padahal, wali adalah hamba Allah yang tetap terikat dengan syariat dan tidak memiliki kedudukan melebihi nabi.
Kesimpulan: Mengembalikan Keseimbangan
Untuk mengatasi masalah ini, kita harus memahami bahwa Syariat, Aqidah, Hakikat, dan Makrifat adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.
✅ Syariat tanpa Hakikat = Formalitas kosong.
✅ Hakikat tanpa Syariat = Penyimpangan.
✅ Makrifat tanpa Aqidah = Kesesatan.
✅ Aqidah tanpa Ihsan = Kaku dan keras.
Solusi yang benar adalah mengembalikan pemahaman Islam secara utuh, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan diwarisi oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.
Yang kita butuhkan bukan perpecahan antara ahli fiqh, ahli tauhid, dan ahli tasawuf, tetapi persatuan dalam memahami Islam secara kaffah (menyeluruh).
MENGAPA KONFLIK SULIT UNTUK DIATASI
Sulit bagi Syariat, Aqidah, Hakikat, dan Makrifat untuk berjalan bersama karena beberapa faktor yang berkaitan dengan sikap manusia, sejarah perkembangan Islam, dan perbedaan pendekatan dalam memahami agama. Berikut beberapa penyebab utama mengapa keempat aspek ini sering tidak seiring dan malah dipertentangkan:
1. Pemahaman yang Tidak Seimbang
Banyak orang hanya fokus pada salah satu aspek dan mengabaikan yang lain.
✅ Ahli Syariat (Fiqh) yang kaku → Menganggap tasawuf tidak penting dan hanya berpegang pada hukum lahiriah.
✅ Ahli Tasawuf yang berlebihan → Mengabaikan fiqh dan syariat dengan alasan sudah mencapai "hakikat" dan "makrifat".
✅ Ahli Aqidah yang keras → Menolak tasawuf karena khawatir terjebak dalam kesesatan.
Masing-masing kelompok merasa paling benar dan tidak mau menerima aspek lain, padahal Islam adalah satu kesatuan yang utuh.
Contoh nyata:
- Ada ulama yang mengharamkan tasawuf karena melihat penyimpangan dalam tarekat tertentu.
- Ada sufi yang menolak ilmu fiqh karena merasa sudah cukup dengan dzikir dan hati yang bersih.
- Ada ahli tauhid yang menolak kasyf dan karomah karena dianggap sebagai tahayul.
Solusi: Islam harus dipahami secara kaffah (menyeluruh), bukan hanya dari satu sisi saja.
2. Warisan Sejarah Perpecahan dalam Islam
Sejarah Islam menunjukkan adanya konflik antara berbagai kelompok, termasuk antara ahli fiqh, ahli tauhid, dan ahli tasawuf.
Beberapa contoh perpecahan sejarah:
- Pada masa awal Islam, terjadi perbedaan antara ahli zahir (fokus pada syariat) dan ahli batin (fokus pada hakikat).
- Di zaman klasik, muncul debat panjang antara ulama Ahlussunnah dengan kelompok yang dianggap menyimpang seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Batiniyah.
- Munculnya tasawuf falsafi yang diadopsi oleh Ibnu Arabi dan sejenisnya membuat banyak ulama fiqh menolak tasawuf secara keseluruhan.
Akibatnya, muncul kecurigaan antara kelompok-kelompok Islam, sehingga sulit untuk berjalan bersama.
Solusi: Mengembalikan pemahaman kepada ajaran tasawuf yang murni, sebagaimana diajarkan oleh Imam Al-Ghazali dan ulama Ahlussunnah lainnya.
3. Sikap Fanatik terhadap Kelompok atau Mazhab Tertentu
Banyak orang lebih loyal kepada kelompok atau guru dibandingkan kepada kebenaran Islam secara keseluruhan.
Contoh fanatisme:
- Sebagian pengikut tarekat menganggap mursyid mereka sebagai satu-satunya jalan kebenaran.
- Sebagian ulama fiqh menganggap tasawuf sebagai penyimpangan tanpa melihat sisi positifnya.
- Sebagian kelompok menganggap bahwa hanya dengan ilmu kalam, seseorang bisa memahami tauhid yang benar.
Fanatisme semacam ini menyebabkan sulitnya menerima pemahaman lain, sehingga masing-masing kelompok berjalan sendiri-sendiri dan tidak mau bekerja sama.
Solusi: Mengedepankan persatuan dalam Islam tanpa menutup diri dari aspek lain yang juga bagian dari agama.
4. Penyimpangan dalam Sebagian Aliran Tasawuf
Sebagian tarekat tasawuf menyimpang dari ajaran Islam yang benar, sehingga membuat tasawuf secara keseluruhan dicurigai.
Beberapa bentuk penyimpangan dalam tasawuf:
- Mengklaim bahwa seorang wali lebih tinggi daripada nabi.
- Menganggap bahwa setelah mencapai "makrifat", seseorang tidak perlu lagi menjalankan syariat.
- Melakukan praktik yang tidak ada dalam Islam, seperti menari atau bertapa tanpa dasar syariat.
- Berlebihan dalam kultus individu, hingga menganggap mursyid memiliki kekuasaan mutlak atas muridnya.
Akibatnya, banyak ulama fiqh yang menolak tasawuf secara umum, padahal tasawuf yang benar tetap dalam koridor syariat.
Solusi: Kembali kepada tasawuf yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, seperti yang diajarkan oleh Imam Al-Junaid dan Imam Al-Ghazali.
5. Kesalahan dalam Memahami Makna Hakikat dan Makrifat
Sebagian orang yang mendalami tasawuf mengartikan hakikat dan makrifat dengan cara yang keliru.
Kesalahan umum dalam memahami makrifat:
- Menganggap bahwa dunia ini tidak nyata (nihilisme).
- Mengklaim bahwa segala sesuatu adalah Allah (paham wahdatul wujud yang ekstrem).
- Menganggap bahwa setelah mencapai makrifat, seseorang bisa meninggalkan ibadah.
Kesalahan ini menyebabkan perpecahan antara ahli fiqh dan ahli tasawuf, karena ulama syariat melihatnya sebagai penyimpangan, sedangkan para sufi menganggapnya sebagai "rahasia spiritual".
Solusi: Menjelaskan makna hakikat dan makrifat dengan benar, yaitu mengenal Allah dengan lebih dalam tanpa meninggalkan syariat.
Kesimpulan: Bagaimana Agar Syariat, Aqidah, Hakikat, dan Makrifat Bisa Bersatu?
-
Menanamkan pemahaman bahwa Islam adalah satu kesatuan
- Syariat (fiqh) adalah bentuk lahiriah Islam.
- Aqidah (tauhid) adalah pondasi keyakinan.
- Hakikat (ihsan) adalah ruh dari ibadah.
- Makrifat adalah puncak pemahaman tentang Allah.
-
Menghilangkan fanatisme kelompok dan kembali kepada Islam yang murni
- Tidak hanya berpegang pada satu aspek saja, tetapi menggabungkan semuanya secara seimbang.
-
Meluruskan penyimpangan dalam tasawuf
- Kembali kepada tasawuf yang diajarkan oleh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.
-
Mempersatukan ulama fiqh, ulama aqidah, dan ulama tasawuf dalam satu pemahaman yang benar
- Tidak saling menyesatkan, tetapi saling melengkapi dalam memahami Islam.
Jika keempat unsur ini berjalan bersama tanpa dipertentangkan, maka umat Islam akan lebih mudah mencapai ridha Allah dengan pemahaman yang sempurna dan menyeluruh.
NABI MUHAMMAD YANG HEBAT DI DALAM BERDA'WAH
Seorang nabi diutus oleh Allah dengan ilmu, hikmah, dan bimbingan wahyu, sehingga mampu mengarahkan, menyatukan, dan mengatasi perbedaan umatnya. Nabi bukan hanya seorang pengajar, tetapi juga seorang pendidik, pemimpin, dan pembimbing spiritual yang memahami manusia secara mendalam.
Namun, setelah Nabi wafat, umat yang mengikutinya tidak memiliki kemampuan, kesabaran, dan ilmu seperti beliau. Akibatnya, perbedaan dalam cara berpikir, latar belakang, dan tingkat pemahaman sering kali menimbulkan konflik, perpecahan, dan penyimpangan. Berikut beberapa alasan utama mengapa pengikut Nabi tidak mampu seperti beliau dalam menyatukan umat:
1. Wahyu Telah Terhenti
Nabi mendapatkan bimbingan langsung dari Allah melalui wahyu. Jika ada masalah besar yang dihadapi umat, Nabi bisa mendapatkan solusi langsung dari Allah.
Contoh:
Ketika terjadi perselisihan di antara sahabat, seperti masalah pembagian harta rampasan perang atau perbedaan dalam memahami hukum, wahyu turun untuk meluruskan dan menyelesaikan masalah.
Namun setelah Nabi wafat, wahyu terhenti, dan umat harus berpegang pada ijtihad ulama, yang bisa saja berbeda pendapat. Akibatnya, kesalahan dan perpecahan lebih mudah terjadi.
2. Manusia Cenderung Mengikuti Nafsu dan Ego
Seorang nabi dijaga oleh Allah dari hawa nafsu, sehingga selalu bertindak dengan adil dan benar. Namun, manusia biasa sering kali dipengaruhi oleh ego, kepentingan pribadi, dan ambisi kekuasaan.
Contoh:
- Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, muncul konflik politik antara para sahabat, seperti Perang Jamal dan Perang Shiffin.
- Sebagian kelompok memperebutkan kekuasaan atas nama agama, padahal tujuannya duniawi.
- Ada yang menafsirkan agama sesuai kepentingan pribadi atau kelompoknya, bukan berdasarkan petunjuk yang benar.
Akibatnya:
Alih-alih bersatu, umat Islam justru terpecah karena masing-masing merasa paling benar.
3. Ilmu dan Hikmah Nabi Tidak Bisa Disamakan dengan Manusia Biasa
Nabi memiliki ilmu laduni (ilmu langsung dari Allah), sehingga pemahamannya luas, mendalam, dan menyeluruh.
Sementara itu, pengikut Nabi memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda:
✅ Ada yang paham agama secara mendalam.
✅ Ada yang hanya memahami sebagian kecil.
✅ Ada yang memahami secara dangkal dan salah tafsir.
Contoh:
- Ada kelompok yang memahami ayat Al-Qur’an secara harfiah (tekstual) tanpa melihat konteksnya.
- Ada yang memahami agama hanya dari aspek hukum, tanpa melihat dimensi spiritualnya.
- Ada yang terlalu mendalami tasawuf hingga meninggalkan syariat.
Perbedaan tingkat pemahaman ini menyebabkan konflik dan perpecahan, karena masing-masing menganggap pemahamannya yang paling benar.
4. Umat Islam Terpecah karena Faktor Luar
Seorang Nabi memiliki wibawa yang luar biasa sehingga mampu menyatukan berbagai kelompok yang berbeda. Namun setelah Nabi wafat, musuh-musuh Islam memanfaatkan perbedaan di antara umat untuk memecah belah mereka.
Contoh dalam sejarah:
- Kelompok Khawarij muncul karena kesalahpahaman dalam memahami agama.
- Syiah dan Sunni semakin terpisah karena faktor politik dan campur tangan musuh Islam.
- Kolonialisme Barat sengaja memecah umat Islam dengan politik adu domba.
Akibatnya:
Ketika tidak ada figur seperti Nabi yang mampu menyatukan umat, Islam malah dijadikan alat perpecahan oleh pihak luar.
5. Tidak Semua Orang Mampu Mengamalkan Ilmu dengan Benar
Nabi bukan hanya seorang alim, tetapi juga seorang praktisi agama yang sempurna. Beliau memahami, mengamalkan, dan mengajarkan Islam dengan keselarasan antara ilmu dan amal.
Namun, banyak pengikut Nabi yang:
❌ Banyak ilmu, tapi kurang amal.
❌ Banyak amal, tapi tidak berlandaskan ilmu.
❌ Banyak ilmu dan amal, tapi tidak ikhlas.
Contoh:
- Ada orang yang paham fiqh, tetapi sombong dan merendahkan orang lain.
- Ada yang rajin ibadah, tetapi tidak memahami akidah dengan benar.
- Ada yang mengaku sufi, tetapi justru menyalahi syariat.
Tanpa bimbingan seorang nabi, banyak orang gagal dalam menjaga keseimbangan antara ilmu, amal, dan keikhlasan, sehingga muncul kelompok-kelompok yang saling bertentangan.
Kesimpulan: Solusi agar Umat Bisa Bersatu Kembali
Meskipun kita tidak memiliki Nabi di tengah-tengah kita, bukan berarti kita tidak bisa berusaha mengikuti jejaknya. Berikut adalah beberapa langkah agar umat Islam bisa kembali bersatu dan sejalan dengan ajaran Nabi:
-
Kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar
- Tidak hanya memahami Islam dari satu sudut pandang saja.
- Tidak hanya fokus pada syariat, aqidah, atau tasawuf secara terpisah.
- Memahami Islam secara menyeluruh (kaffah).
-
Meningkatkan ilmu dan menekan ego pribadi
- Jangan merasa paling benar sendiri.
- Buka diri terhadap pemahaman yang benar dari berbagai ulama Ahlussunnah.
-
Menjauhi fanatisme kelompok dan mazhab yang berlebihan
- Jangan membela kelompok tertentu melebihi kebenaran Islam.
- Prioritaskan persatuan umat di atas perbedaan furu’iyah (cabang agama).
-
Menghidupkan akhlak dan hikmah Nabi dalam kehidupan
- Jangan hanya sibuk berdebat soal hukum, tetapi juga perbaiki akhlak.
- Bersikap lembut dalam berdakwah, seperti yang dicontohkan Nabi.
-
Mencari pemimpin dan ulama yang benar-benar memiliki ilmu dan keikhlasan
- Mengikuti ulama yang mengikuti jejak Nabi, bukan yang hanya mencari keuntungan duniawi.
Jika kita bersungguh-sungguh mengikuti jalan yang benar, maka kita bisa kembali menjalankan Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, meskipun tanpa kehadiran beliau secara langsung.
Allah sudah memberikan kita Al-Qur'an, Sunnah, dan warisan ilmu para ulama, maka tugas kita adalah mengamalkan dan menjaganya dengan benar agar tetap berada di jalan yang lurus.
ULAMA YANG IDEAL PENERUS PERJUANGAN DA'WAH NABI MUHAMMAD ﷺ
Akar permasalahan perselisihan ummat Islam bisa diambil benang merah bahwa kunci utama persatuan umat Islam adalah keseimbangan antara syariat, aqidah, hakikat, dan makrifat. Rasulullah ﷺ adalah puncak keseimbangan itu, dan para ulama yang benar-benar mewarisi ilmunya adalah mereka yang paling mendekati jejaknya.
Seorang ulama yang dianggap penerus perjuangan Nabi ﷺ tentu harus memiliki kemiripan dalam beberapa aspek, seperti:
- Ilmu yang luas (menguasai Al-Qur'an, Hadits, Fiqh, dan Tasawuf).
- Akhlak yang luhur (rendah hati, sabar, dan penuh kasih sayang).
- Keikhlasan dalam berdakwah (bukan mencari dunia, tetapi untuk Allah semata).
- Kebijaksanaan dalam menyatukan umat (tidak mudah terprovokasi dan memecah belah).
- Kedekatan dengan Allah (memiliki hubungan spiritual yang kuat melalui ibadah, dzikir, dan akhlak yang mulia).
Banyak ulama dalam sejarah Islam yang memenuhi kriteria ini, meskipun tidak ada yang bisa menyamai Nabi Muhammad ﷺ sepenuhnya. Namun, mereka sangat seiring dengan ajaran dan metode dakwah beliau. Berikut adalah beberapa di antaranya:
1. Abu Bakar Ash-Shiddiq (573–634 M)
- Sahabat terdekat dan khalifah pertama setelah Rasulullah ﷺ.
- Memiliki hati yang bersih dan penuh keikhlasan dalam memimpin.
- Mempertahankan Islam dari kemurtadan dan menjaga persatuan umat setelah wafatnya Nabi ﷺ.
- Tidak cinta dunia dan sangat tawadhu’ meskipun menjadi pemimpin.
Kesamaan dengan Nabi:
✔️ Kejujuran dan keikhlasan mutlak.
✔️ Kebijaksanaan dalam menyelesaikan masalah umat.
2. Umar bin Khattab (584–644 M)
- Khalifah kedua, terkenal dengan keadilan dan keberaniannya.
- Pemimpin yang sangat zuhud, tidak tertarik dengan kemewahan dunia.
- Menjaga keseimbangan antara syariat dan kebijakan sosial.
- Mengembangkan sistem pemerintahan Islam yang lebih maju.
Kesamaan dengan Nabi:
✔️ Tegas dalam menegakkan keadilan, tetapi tetap lembut kepada yang benar.
✔️ Bijaksana dalam mengatur pemerintahan dan masyarakat.
3. Imam Ali bin Abi Thalib (601–661 M)
- Sahabat sekaligus menantu Nabi ﷺ, dikenal sebagai lautan ilmu dan hikmah.
- Memiliki pemahaman mendalam tentang syariat dan hakikat Islam.
- Sangat zuhud dan tidak tergoda dunia.
- Puncak keseimbangan antara ilmu, keberanian, dan kebijaksanaan.
Kesamaan dengan Nabi:
✔️ Kecerdasan dan hikmah dalam memahami Islam.
✔️ Keberanian dalam membela kebenaran.
4. Imam Hasan Al-Bashri (642–728 M)
- Sufi besar yang juga ahli fiqh.
- Mengajarkan keseimbangan antara syariat dan tasawuf.
- Sangat keras terhadap penguasa zalim, tetapi tetap penuh hikmah.
Kesamaan dengan Nabi:
✔️ Memadukan ilmu fiqh dan tasawuf dengan sempurna.
✔️ Mengutamakan akhlak dan kesucian hati.
5. Imam Abu Hanifah (699–767 M)
- Pendiri mazhab Hanafi, sangat luas dalam ilmu fiqh.
- Menolak jabatan hakim karena takut ketidakadilan.
- Mengutamakan kebebasan berpikir dalam memahami Islam.
Kesamaan dengan Nabi:
✔️ Keadilan dan sikap independen dalam ilmu.
✔️ Sabar dalam menghadapi cobaan.
6. Imam Malik bin Anas (711–795 M)
- Pendiri mazhab Maliki, mengutamakan hadits dan amalan sahabat.
- Menolak kedudukan duniawi dan tetap berpegang teguh pada kebenaran.
Kesamaan dengan Nabi:
✔️ Menjaga sunnah dengan ketat.
✔️ Sangat sabar dan berpegang teguh pada prinsip Islam.
7. Imam Asy-Syafi’i (767–820 M)
- Pendiri mazhab Syafi’i, menggabungkan fiqh, hadits, dan logika dengan seimbang.
- Sangat cerdas dalam memahami hukum Islam dan cara berpikir manusia.
- Memiliki adab yang luar biasa dalam berdiskusi dan menghormati perbedaan pendapat.
Kesamaan dengan Nabi:
✔️ Kelembutan dalam berdakwah dan menghargai perbedaan.
✔️ Mengutamakan keseimbangan antara dalil dan hikmah.
8. Imam Ahmad bin Hanbal (780–855 M)
- Pendiri mazhab Hanbali, sangat teguh dalam mempertahankan sunnah.
- Diuji dengan siksaan karena mempertahankan kebenaran.
- Sangat zuhud dan tidak mencari dunia.
Kesamaan dengan Nabi:
✔️ Keteguhan dalam mempertahankan aqidah.
✔️ Kesabaran dalam menghadapi ujian.
9. Imam Al-Ghazali (1058–1111 M)
- Menghidupkan kembali hubungan antara fiqh dan tasawuf.
- Menulis kitab-kitab tentang penyucian jiwa dan akhlak.
- Menjembatani perbedaan antara syariat dan hakikat.
Kesamaan dengan Nabi:
✔️ Mengajarkan keseimbangan antara ilmu lahir dan batin.
✔️ Menekankan pentingnya akhlak dalam Islam.
10. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani (1077–1166 M)
- Ulama besar dalam fiqh dan tasawuf.
- Sangat tegas dalam menegakkan sunnah.
- Mengajarkan tauhid yang murni dan menolak kesyirikan.
Kesamaan dengan Nabi:
✔️ Menjaga keseimbangan antara syariat dan tasawuf.
✔️ Membimbing umat menuju ketaatan kepada Allah.
Kesimpulan:
Para ulama di atas adalah penerus perjuangan Nabi Muhammad ﷺ dalam berbagai aspek, meskipun tidak ada yang sepenuhnya bisa menyamai beliau.
Namun, yang paling dekat dengan sifat-sifat Nabi adalah:
✅ Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam keikhlasan dan kejujuran.
✅ Umar bin Khattab dalam keadilan dan ketegasan.
✅ Ali bin Abi Thalib dalam ilmu dan hikmah.
✅ Imam Al-Ghazali dalam menggabungkan fiqh dan tasawuf.
✅ Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam membimbing manusia ke jalan Allah.
Jika kita ingin meneladani Rasulullah ﷺ, kita bisa mengikuti jejak mereka, karena mereka telah menunjukkan jalan yang lurus dalam memahami Islam secara menyeluruh.
DOA NABI MUHAMMAD TENTANG PERSELISIHAN DI DALAM UMMATNYA
Ada sebuah hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ memohon tiga hal kepada Allah, tetapi hanya dua yang dikabulkan, sedangkan satu ditolak. Hadis ini diriwayatkan dalam beberapa kitab hadits, termasuk oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim dan Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad.
Lafaz Hadis:
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Aku memohon kepada Rabbku tiga perkara, maka Dia mengabulkan dua dan menolak satu. Aku memohon kepada-Nya agar tidak membinasakan umatku dengan paceklik, maka Dia mengabulkannya. Aku memohon kepada-Nya agar umatku tidak dibinasakan dengan ditenggelamkan seperti umat-umat sebelumnya, maka Dia mengabulkannya. Dan aku memohon kepada-Nya agar tidak menjadikan perpecahan di antara mereka, tetapi Dia tidak mengabulkannya."
📚 (HR. Muslim, no. 2890; Ahmad, no. 17115; dan lainnya)
Makna Hadis:
- Allah mengabulkan doa Nabi agar umat Islam tidak mengalami kehancuran total akibat paceklik atau kelaparan besar.
- Allah juga mengabulkan doa agar umat Islam tidak dihancurkan dengan azab berupa bencana seperti banjir besar yang menenggelamkan seluruh umat, sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh.
- Namun, Allah tidak mengabulkan permintaan agar umat Islam tidak berselisih dan berpecah belah.
Ini menunjukkan bahwa perpecahan adalah ujian yang telah ditetapkan oleh Allah atas umat ini, tetapi bukan berarti tidak ada solusi. Justru, dengan ilmu, kebijaksanaan, dan kesabaran, umat Islam bisa mencari jalan untuk tetap bersatu dalam kebenaran.
Pelajaran dari Hadis Ini:
- Perpecahan umat sudah menjadi takdir, tetapi bukan berarti tidak bisa diminimalisir.
- Sebab utama perpecahan adalah hawa nafsu, ego, dan kesombongan dalam memahami agama.
- Umat Islam tetap memiliki tanggung jawab untuk merajut persatuan di atas kebenaran.
Hadis ini sangat relevan dengan kondisi umat Islam saat ini, di mana banyak perbedaan pendapat yang sering kali berujung pada perpecahan, padahal tujuan kita semua adalah mencari ridha Allah.
MENYADARI ADA PERBEDAAN SEBAB BERBEDA KARUNIA YANG ALLAH BERIKAN
Kesadaran bahwa setiap individu memiliki karunia yang berbeda-beda adalah kunci utama dalam membangun persatuan umat.
Dalam Islam, Allah sendiri telah menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keberagaman:
"Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain dalam derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain."
(QS. Az-Zukhruf: 32)
Dari ayat ini, kita memahami bahwa Allah memberikan kelebihan yang berbeda-beda kepada setiap manusia, baik dalam ilmu, hikmah, kepemimpinan, maupun kemampuan lainnya. Tidak semua orang bisa menjadi ulama, dan tidak semua ulama memiliki keistimewaan yang sama. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika manusia tidak menerima perbedaan ini dan malah mempertentangkannya.
Mengapa Sering Terjadi Persoalan dan Penyalahgunaan?
-
Kurangnya Kesadaran akan Perbedaan Karunia
- Banyak orang merasa bahwa pemahaman atau jalan hidup mereka yang paling benar, sehingga mudah menyalahkan orang lain yang berbeda.
- Padahal, tidak semua orang diberi kemampuan yang sama untuk memahami sesuatu, sebagaimana para sahabat Nabi ﷺ pun memiliki perbedaan dalam cara memahami Islam.
-
Sikap Egois dan Merasa Paling Benar
- Ada kecenderungan di sebagian orang untuk menghakimi tanpa memahami, sehingga memicu perpecahan.
- Ulama dan pengikutnya harus sadar bahwa kebenaran tidak hanya milik satu kelompok, tetapi harus dikembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar.
-
Kurangnya Tawadhu' dalam Ilmu
- Seorang alim sejati tidak akan merasa paling tahu segalanya, karena ilmu Allah itu luas.
- Para ulama besar seperti Imam Asy-Syafi’i, Imam Abu Hanifah, dan lainnya selalu memiliki sikap rendah hati dalam menerima perbedaan pendapat.
-
Persoalan Kepentingan Duniawi
- Ada juga faktor politik, kekuasaan, dan kepentingan duniawi yang memicu pertentangan.
- Jika hati tidak bersih, maka perbedaan ilmu malah dijadikan alat untuk menciptakan permusuhan, bukan untuk saling melengkapi.
Solusi agar Perbedaan Tidak Berujung pada Perpecahan
✅ Saling Menghormati Perbedaan Karunia
- Setiap orang memiliki peran masing-masing dalam umat ini. Ada yang ahli dalam fiqh, ada yang dalam tasawuf, ada yang dalam dakwah. Semuanya harus saling mendukung, bukan saling menjatuhkan.
✅ Menjaga Akhlak dalam Perbedaan
- Jangan merasa paling benar hingga merendahkan yang lain.
- Sebaik-baik orang berilmu adalah yang tidak sombong dan tetap tawadhu’.
✅ Kembali kepada Nilai Tauhid yang Murni
- Perpecahan sering terjadi karena terlalu fanatik kepada figur tertentu. Padahal yang kita ikuti adalah ajaran Rasulullah ﷺ, bukan sekadar ulama atau kelompok tertentu.
✅ Mengedepankan Hikmah dalam Menyikapi Umat
- Nabi Muhammad ﷺ tidak memaksakan satu jalan bagi semua orang, tetapi membimbing sesuai kapasitas mereka.
- Ulama dan pemimpin seharusnya meniru metode ini, membimbing dengan kelembutan dan kebijaksanaan, bukan dengan paksaan dan kecaman.
Kesimpulan
Perbedaan karunia adalah sunnatullah, dan tidak seharusnya menjadi alasan perpecahan. Jika setiap individu memahami dan menerima hal ini, maka umat Islam bisa bersatu dalam keberagaman, sebagaimana para sahabat Nabi ﷺ yang berbeda-beda dalam keistimewaan, tetapi tetap bersatu dalam tujuan.
Yang terpenting bukan siapa yang paling benar, tetapi bagaimana kita bersama-sama mencari kebenaran dalam ridha Allah.
KARAKTERISTIK SAHABAT NABI MUHAMMAD YANG BERBEDA BEDA NAMUN ISLAM TETAP BERJAYA
Empat Khalifah Rasyidin dan Karakternya
-
Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه
- Simbol kelembutan, keimanan yang kokoh, dan kebijaksanaan.
- Paling cepat membenarkan Rasulullah ﷺ dalam semua keadaan (karena itu disebut Ash-Shiddiq).
- Pendekatannya lebih diplomatis dan penuh kasih sayang, tetapi tegas dalam prinsip.
- Contohnya: Saat banyak orang enggan membayar zakat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, Abu Bakar dengan tegas berkata, “Demi Allah, aku akan memerangi mereka meskipun mereka hanya menahan tali unta yang dahulu mereka serahkan kepada Rasulullah.”
-
Umar bin Khattab رضي الله عنه
- Simbol ketegasan, keadilan, dan keberanian.
- Karakternya keras terhadap kebatilan, tetapi lembut terhadap kebenaran.
- Sangat disiplin dan tidak segan-segan menegakkan hukum, bahkan terhadap keluarganya sendiri.
- Contohnya: Saat menjadi khalifah, ia pernah mencambuk putranya sendiri karena melanggar aturan Islam.
-
Utsman bin Affan رضي الله عنه
- Simbol kedermawanan, kesabaran, dan kelembutan hati.
- Sangat pemalu dan memiliki akhlak yang santun, tetapi juga seorang pemimpin yang bijaksana.
- Banyak berkontribusi dalam pembiayaan perjuangan Islam, seperti membeli sumur Raumah untuk umat Islam.
- Saat terjadi fitnah menjelang wafatnya, beliau memilih tidak melawan meskipun punya kesempatan, demi menghindari pertumpahan darah.
-
Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه
- Simbol kecerdasan, hikmah, dan keberanian.
- Dikenal sebagai orang yang sangat cerdas, ahli dalam fiqh dan ilmu hikmah.
- Keberaniannya tak diragukan, bahkan sejak kecil sudah membela Rasulullah ﷺ.
- Contohnya: Saat perang Khaibar, Rasulullah ﷺ berkata, “Besok aku akan menyerahkan panji kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya mencintainya.” Panji itu diberikan kepada Ali bin Abi Thalib, yang akhirnya memenangkan perang.
Sahabat Lain yang Memiliki Karakteristik Menonjol
Selain Khalifah Rasyidin, ada beberapa sahabat lain yang juga memiliki karakter unik yang bisa menjadi teladan bagi umat Islam.
-
Abu Darda’ رضي الله عنه
- Simbol kebijaksanaan dan tasawuf di kalangan sahabat.
- Banyak memberikan nasihat tentang zuhud dan kehidupan akhirat.
- Contohnya: Ia pernah berkata, “Aku tertawa karena dunia memikatku, tetapi aku tidak tertipu olehnya. Dan aku menangis karena teringat akhirat.”
-
Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه
- Simbol ilmu dan kefakihan dalam Al-Qur'an.
- Termasuk sahabat yang paling memahami tafsir dan hukum Islam.
- Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Barang siapa ingin membaca Al-Qur'an sebagaimana ia diturunkan, maka bacalah seperti bacaan Ibnu Mas'ud.”
-
Khalid bin Walid رضي الله عنه
- Simbol strategi perang dan kepahlawanan.
- Tidak terkalahkan dalam pertempuran dan selalu menjadi ujung tombak pasukan Islam.
- Dijuluki "Pedang Allah yang Terhunus" oleh Rasulullah ﷺ.
-
Salman Al-Farisi رضي الله عنه
- Simbol pencarian kebenaran dan persaudaraan Islam.
- Awalnya seorang Majusi, lalu masuk Kristen, dan akhirnya menjadi Muslim setelah mencari kebenaran bertahun-tahun.
- Idenya dalam menggali parit saat Perang Khandaq menjadi strategi yang menyelamatkan umat Islam.
-
Bilal bin Rabah رضي الله عنه
- Simbol keteguhan iman dan kesabaran dalam menghadapi siksaan.
- Seorang budak yang dimerdekakan oleh Abu Bakar, kemudian menjadi muadzin Rasulullah ﷺ.
- Saat disiksa karena Islamnya, ia tetap bertahan sambil mengucapkan, “Ahad… Ahad…” (Allah Maha Esa).
Kesimpulan: Hikmah dari Perbedaan Karakter di Kalangan Sahabat
- Berbeda karakter bukan berarti bertentangan.
- Abu Bakar lembut, Umar tegas, Utsman pemalu, Ali cerdas, tetapi mereka bisa bekerja sama dalam Islam.
- Setiap karakter memiliki perannya masing-masing.
- Ada yang berjihad di medan perang seperti Khalid bin Walid.
- Ada yang menyebarkan ilmu seperti Abdullah bin Mas’ud.
- Ada yang membimbing ke arah zuhud seperti Abu Darda’.
- Kunci keberhasilan mereka adalah sikap tawadhu' dan saling melengkapi.
- Mereka tidak memaksakan karakter mereka kepada orang lain.
- Mereka tidak merasa lebih baik dari yang lain, tetapi justru mendukung satu sama lain.
Pelajaran bagi Umat Islam Hari Ini
- Kita bisa mengambil teladan dari sahabat-sahabat Nabi ﷺ.
- Umat Islam hari ini harus menyadari bahwa perbedaan bukan alasan untuk berpecah belah.
- Jika Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sahabat lainnya bisa bersatu meskipun berbeda karakter, seharusnya kita pun bisa demikian.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sahabatku seperti bintang-bintang di langit, siapa saja di antara mereka yang kalian ikuti, maka kalian akan mendapat petunjuk."
(HR. Baihaqi, Al-Madkhal, 1/92)
Jadi, siapapun di antara mereka yang kita jadikan teladan, insyaAllah kita akan berada di jalan yang benar.
MENGIKUTI AJARAN AL QUR'AN BUKAN MENGIKUTI SESEORANG
Ya, ketika seorang pemimpin—baik dalam urusan agama maupun dunia—keluar dari koridor mencari ridha Allah, maka yang tersisa hanyalah ego, hawa nafsu, dan kepentingan pribadi. Dalam kondisi seperti itu, syaitan dengan mudah memperdaya mereka, menjauhkan dari tujuan utama, dan memicu perselisihan serta perpecahan di antara umat.
Hal ini sesuai dengan firman Allah:
"Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan."
(QS. Shad: 26)
Ketika ego menjadi pemimpin, yang terjadi adalah:
-
Kebenaran ditutupi oleh kepentingan pribadi
- Pemimpin yang awalnya ingin menegakkan kebenaran mulai menoleransi kesalahan demi kepentingan tertentu.
- Mereka lebih mengutamakan popularitas, kekuasaan, dan pengaruh, bukan lagi ketakwaan dan keikhlasan.
-
Persaingan yang tidak sehat antar-ulama atau pemimpin
- Bukan lagi berlomba dalam kebaikan, tetapi berlomba mencari pengikut terbanyak dan merendahkan kelompok lain.
- Setiap perbedaan dipandang sebagai ancaman, bukan sebagai rahmat.
-
Kebenaran ditentukan oleh siapa yang lebih kuat, bukan siapa yang lebih benar
- Orang yang berbicara dengan ilmu dan dalil diabaikan, sedangkan yang memiliki banyak pengikut atau kekuatan politik dianggap lebih benar.
- Rasulullah ﷺ bersabda:
"Akan datang suatu zaman di mana orang yang jujur dianggap pembohong, dan pembohong dianggap jujur." (HR. Ahmad)
-
Syaitan menunggangi hawa nafsu mereka untuk menciptakan fitnah dan perpecahan
- Syaitan selalu berusaha memecah belah umat Islam dengan membisikkan kesombongan, iri hati, dan rasa ingin menang sendiri.
- Sejarah membuktikan bahwa keruntuhan umat Islam di berbagai zaman lebih sering terjadi karena perpecahan internal, bukan karena musuh dari luar.
Solusi: Kembali kepada Mengharapkan Ridha Allah
Untuk menghindari bahaya kepemimpinan yang dikuasai ego dan syaitan, pemimpin dan pengikutnya harus kembali kepada tujuan utama, yaitu mencari ridha Allah.
- Tawadhu' (rendah hati) dan tidak merasa paling benar
- Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan meninggikannya. Barang siapa menyombongkan diri, maka Allah akan merendahkannya." (HR. Muslim)
- Rasulullah ﷺ bersabda:
- Menjadikan ilmu dan akhlak sebagai standar kepemimpinan, bukan kekuasaan atau pengaruh
- Pemimpin sejati adalah yang paling bertakwa, bukan yang paling berkuasa.
- Menghindari fanatisme buta
- Jangan mengikuti seseorang hanya karena nama besar atau kelompoknya, tetapi lihat apakah dia benar-benar mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah.
Jika prinsip ini ditegakkan, maka umat Islam bisa bersatu kembali dalam ridha Allah, bukan dalam ego atau kepentingan dunia.
ULAMA' SUU MEMPERDALAM PERSELISIHAN UMMAT ISLAM
Salah satu faktor utama yang menyebabkan perpecahan di kalangan umat Islam adalah munculnya ulama suu’ (ulama yang jahat atau sesat), yaitu mereka yang keluar dari tujuan mencari ridha Allah dan lebih mengutamakan hawa nafsu, kedudukan, dan kepentingan duniawi.
Siapa Ulama Suu’?
Ulama suu’ adalah orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya dengan benar, atau menggunakan ilmunya untuk kepentingan pribadi dan menyesatkan umat. Rasulullah ﷺ telah memperingatkan tentang mereka:
"Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah setiap munafik yang pandai berbicara."
(HR. Ahmad dan Thabrani)
Mereka sering kali memiliki tiga ciri utama:
-
Menjual agama demi kepentingan dunia. Mereka memutarbalikkan hukum-hukum Allah demi mengikuti hawa nafsu penguasa, kelompok, atau kepentingan pribadi.
- Contoh dalam sejarah:
- Beberapa ulama yang mendukung kedzaliman penguasa dengan membenarkan tindakan yang jelas melanggar syariat.
- Ada yang menggunakan dalil untuk membenarkan bid’ah atau kesesatan, bukan untuk membimbing umat.
Memecah belah umat Islam dengan fanatisme buta.
Mereka membuat sekte-sekte baru dan mengajarkan kepada pengikutnya bahwa merekalah satu-satunya kelompok yang benar, sedangkan yang lain sesat.
- Mereka mencari popularitas dengan menyerang ulama lain, bukan dengan menyebarkan ilmu yang benar. Akibatnya:
- Umat Islam saling menyesatkan dan bertikai, padahal musuh Islam semakin kuat dari luar.
- Hilangnya ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam), yang seharusnya menjadi kekuatan utama umat.
Menyesatkan umat dengan ilmu tanpa ketakwaan
- Mereka berbicara tentang ilmu agama, tetapi akhlak dan perbuatannya bertentangan dengan ilmunya.
- Rasulullah ﷺ bersabda: "Akan datang suatu zaman di mana banyak ulama, tetapi sedikit yang faqih. Banyak qari’ (pembaca Al-Qur'an), tetapi sedikit yang paham. Banyak pemimpin, tetapi sedikit yang dapat dipercaya." (HR. Thabrani)
Dampak Ulama Suu’ terhadap Umat Islam
-
Perpecahan di tubuh umat Islam semakin parah
- Setiap kelompok menganggap dirinya paling benar, tanpa mau memahami perbedaan dalam ilmu agama.
- Fitnah dan permusuhan semakin menyebar, bahkan di antara sesama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
-
Umat kehilangan kepercayaan kepada ulama yang benar.
- Banyak orang akhirnya merasa bingung, tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah.
- Ada yang akhirnya meninggalkan Islam, karena melihat banyaknya ulama yang justru bertikai dan tidak menjadi contoh yang baik.
Islam dijadikan alat politik dan kepentingan dunia
- Sebagian orang menjadikan agama sebagai alat propaganda, bukan sebagai pedoman hidup yang lurus.
- Para pemimpin zalim sering kali memanfaatkan ulama suu’ untuk membenarkan kebijakan mereka yang menindas umat Islam.
Bagaimana Menyelamatkan Umat dari Ulama Suu’?
-
Kembali kepada Ulama Rabbani yang Benar-benar Ikhlas
- Rasulullah ﷺ bersabda: "Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang tegak di atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang keputusan Allah." (HR. Muslim)
- Kita harus mencari ulama yang benar-benar bertakwa, yang tidak menjual agamanya untuk kepentingan dunia.
Meningkatkan Ilmu agar Tidak Mudah Tertipu
Umat harus belajar ilmu agama dengan benar, agar bisa membedakan mana ulama yang benar dan mana yang menyimpang.- Salah satu cara mengenali ulama yang lurus:
- Mereka tidak menjual agama untuk kepentingan dunia.
- Mereka tidak menyerang ulama lain tanpa alasan yang jelas.
- Mereka lebih mengutamakan ilmu, akhlak, dan persatuan umat.
-
Menjaga Ukhuwah Islamiyah dan Menghindari Fanatisme Buta
- Jika ada perbedaan pendapat dalam masalah cabang (furu’), selesaikan dengan hikmah dan ilmu, bukan dengan permusuhan.
- Jangan mudah terprovokasi untuk membenci saudara Muslim yang berbeda pendapat.
Kesimpulan
✔ Ulama suu’ adalah penyebab utama perpecahan di umat Islam, karena mereka mengutamakan ego dan kepentingan dunia daripada ridha Allah.
✔ Mereka merusak Islam dari dalam, dengan menjual agama demi kepentingan politik, kekuasaan, dan popularitas.
✔ Solusinya adalah kembali kepada ulama yang benar, meningkatkan ilmu agama, dan menjaga persatuan umat Islam tanpa fanatisme buta.
Semoga Allah menjaga kita dari pengaruh ulama suu’ dan memberi taufik untuk selalu mengikuti ulama yang ikhlas dan benar. Amin.







0 komentar:
Posting Komentar