Prinsip keyakinan tasawuf tentang kasih sayang (rahmah) dan akhlak mulia sangat erat kaitannya dengan tujuan utama tasawuf, yaitu tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) agar seorang hamba semakin dekat kepada Allah. Berikut adalah beberapa prinsip utama dalam tasawuf terkait kasih sayang dan akhlak mulia:
1. Kasih Sayang sebagai Manifestasi Nama Allah "Ar-Rahman" dan "Ar-Rahim"
Dalam tasawuf, kasih sayang bukan hanya sikap, tetapi merupakan pantulan sifat Allah yang wajib diteladani. Seorang sufi meyakini bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (QS. Al-A’raf: 156)
Seorang yang menempuh jalan tasawuf dituntut untuk menebarkan rahmat kepada semua makhluk sebagai bentuk meneladani kasih sayang Allah.
2. Kasih Sayang sebagai Inti Akhlak Nabi ﷺ
Para sufi memandang akhlak Rasulullah ﷺ sebagai puncak akhlak mulia yang harus dicontoh. Beliau adalah "Rahmatan lil ‘Alamin" (rahmat bagi seluruh alam). Mereka menekankan bahwa kesempurnaan iman seseorang bergantung pada kelembutan dan kasih sayangnya terhadap sesama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari & Muslim)
Tasawuf menekankan bahwa cinta dan kasih sayang bukan hanya kepada sesama Muslim, tetapi juga kepada seluruh makhluk, termasuk hewan dan tumbuhan.
3. Akhlak Mulia sebagai Hasil Penyucian Jiwa
Dalam tasawuf, akhlak mulia (akhlaq mahmudah) bukan sekadar perilaku baik, tetapi merupakan hasil dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Para sufi meyakini bahwa hati yang bersih otomatis memancarkan akhlak mulia, sedangkan hati yang kotor akan melahirkan akhlak tercela.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyatakan:
"Akhlak yang baik lahir dari hati yang bersih. Maka sucikanlah hatimu, niscaya akhlak mulia akan mengikuti."
Oleh karena itu, seorang sufi selalu berusaha menjauhkan diri dari penyakit hati seperti sombong, iri, dengki, dan kebencian, karena semua itu menghalangi seseorang dari kasih sayang Allah.
4. Kasih Sayang sebagai Jalan Ma’rifatullah
Para sufi meyakini bahwa makrifat (mengenal Allah) tidak hanya dicapai dengan ibadah lahiriah, tetapi juga melalui hati yang penuh kasih sayang. Hati yang lembut lebih mudah menerima cahaya Ilahi.
Syaikh Ibn ‘Atha’illah dalam Al-Hikam berkata:
"Jangan berharap mengenal Allah jika hatimu dipenuhi kebencian, karena cahaya makrifat tidak akan masuk ke dalam hati yang gelap."
Oleh karena itu, sufi selalu berusaha menebarkan rahmat dan kelembutan kepada semua makhluk, karena itu adalah tanda kedekatan seseorang dengan Allah.
5. Kasih Sayang sebagai Wujud Tawadhu’ (Kerendahan Hati)
Seorang sufi sejati tidak pernah merasa lebih baik dari orang lain. Mereka meyakini bahwa kesombongan adalah penghalang terbesar dalam perjalanan menuju Allah. Oleh karena itu, mereka selalu rendah hati dan penuh kasih sayang terhadap siapa pun.
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani berkata:
"Jika engkau ingin dekat dengan Allah, jadilah seperti bumi yang diinjak oleh semua orang. Jangan pernah merasa lebih tinggi dari siapa pun."
Seorang sufi tidak mudah mencela atau merendahkan orang lain, karena mereka melihat semua manusia sebagai makhluk Allah yang patut dikasihi.
6. Kasih Sayang sebagai Bentuk Cinta kepada Allah
Dalam tasawuf, mencintai makhluk berarti mencintai Allah. Para sufi meyakini bahwa rahmat Allah diberikan kepada mereka yang berbuat rahmat kepada sesama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
اِرْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
"Sayangilah makhluk di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu." (HR. Tirmidzi)
Maka, kasih sayang dalam tasawuf bukan hanya sekadar tindakan baik, tetapi merupakan jalan menuju ridha dan kasih sayang Allah.
Kesimpulan
Dalam tasawuf, kasih sayang bukan hanya ajaran moral, tetapi merupakan prinsip utama dalam mendekatkan diri kepada Allah. Akhlak mulia bukan sekadar perilaku, tetapi buah dari pembersihan hati. Seorang sufi sejati menebarkan rahmat kepada semua makhluk, karena ia melihat segala sesuatu sebagai ciptaan Allah yang pantas dihormati dan disayangi.
Sebagaimana kata Imam Junaid al-Baghdadi:
"Tasawuf adalah akhlak. Maka, siapa yang lebih baik akhlaknya, dialah yang lebih sufi."
Banyak tokoh sufi yang menekankan pentingnya kasih sayang (rahmah) sebagai inti dari perjalanan spiritual menuju Allah. Berikut adalah beberapa pandangan dari ulama sufi terkenal tentang kasih sayang dan akhlak mulia:
1. Imam Al-Ghazali (450-505 H)
Dalam Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa kasih sayang adalah buah dari kebersihan hati dan merupakan tanda orang yang dekat dengan Allah.
Beliau berkata:
"Seseorang tidak akan mencapai derajat kedekatan dengan Allah kecuali jika hatinya penuh kasih sayang terhadap semua makhluk. Sebab, kasih sayang adalah sifat utama Allah yang harus dicontoh oleh hamba-hamba-Nya."
Menurut Al-Ghazali, kasih sayang yang hakiki adalah ketika seseorang memaafkan kesalahan orang lain, tidak menyimpan dendam, serta senantiasa ingin memberi manfaat kepada sesama.
2. Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani (470-561 H)
Dalam Al-Fath Ar-Rabbani, beliau menekankan bahwa kasih sayang adalah bukti dari hati yang bersih.
Beliau berkata:
"Jadilah seperti matahari yang menyinari semua orang, baik yang mencintai maupun yang membenci. Jangan hanya menyayangi mereka yang menyayangimu, tetapi sayangilah juga mereka yang membencimu, karena kasih sayang sejati adalah yang tidak terpengaruh oleh kebencian."
Beliau mengajarkan bahwa rahmat Allah diberikan kepada mereka yang menebarkan rahmat kepada sesama. Oleh karena itu, beliau menasihatkan para muridnya untuk selalu berlapang dada, mengasihi orang miskin, dan tidak menyakiti siapa pun.
3. Jalaluddin Rumi (604-672 H)
Dalam banyak syairnya, Rumi menggambarkan kasih sayang sebagai jalan menuju Allah. Baginya, cinta dan rahmah adalah energi yang menghubungkan manusia dengan Tuhan.
Beliau berkata:
"Kasih sayang adalah bahasa Tuhan. Jika engkau ingin mendengar suara-Nya, bukalah hatimu untuk mencintai dan menyayangi semua makhluk-Nya."
Dalam Matsnawi, Rumi juga menulis:
"Jangan menyakiti hati siapa pun, sebab Tuhan tinggal di dalam hati manusia."
Rumi mengajarkan bahwa manusia harus menyebarkan kasih sayang, bahkan kepada mereka yang pernah menyakitinya.
4. Ibnu Arabi (560-638 H)
Ibnu Arabi dalam Fusus al-Hikam menyatakan bahwa kasih sayang adalah sifat Ilahi yang paling agung, karena rahmat Allah meliputi segala sesuatu.
Beliau menulis:
"Jika engkau ingin mengenal Tuhan, lihatlah bagaimana engkau memperlakukan makhluk-Nya. Jika engkau penuh kasih sayang, maka Tuhan akan memperlakukanmu dengan kasih sayang-Nya."
Menurutnya, seorang sufi sejati tidak membeda-bedakan kasih sayang berdasarkan agama, suku, atau status sosial, karena Allah sendiri memberikan rahmat kepada semua makhluk-Nya.
5. Hasan Al-Bashri (21-110 H)
Hasan Al-Bashri, seorang sufi awal, menekankan bahwa kasih sayang adalah tanda hati yang hidup.
Beliau berkata:
"Hati yang mati adalah hati yang tidak memiliki kasih sayang. Jika engkau ingin hatimu hidup, tebarkanlah kasih sayang kepada sesama manusia."
Dalam pandangannya, kasih sayang harus diwujudkan dalam perbuatan nyata, seperti membantu orang miskin, memaafkan kesalahan, dan menahan diri dari kebencian.
6. Syaikh Ahmad At-Tijani (1150-1230 H)
Pendiri tarekat Tijaniyah ini sering menekankan bahwa kasih sayang adalah inti dari tarekat sufi.
Beliau berkata:
"Barang siapa hatinya penuh kasih sayang, ia telah menapaki jalan menuju Allah. Dan barang siapa hatinya penuh kebencian, ia telah menjauh dari-Nya."
Kasih sayang dalam tarekatnya diwujudkan dalam bentuk kesabaran, kelembutan, dan pengorbanan untuk orang lain.
Kesimpulan
Para tokoh sufi sepakat bahwa kasih sayang adalah bagian inti dari spiritualitas Islam. Mereka mengajarkan bahwa:
- Kasih sayang adalah refleksi dari sifat Allah "Ar-Rahman" dan "Ar-Rahim".
- Kasih sayang tidak boleh hanya untuk orang terdekat, tetapi untuk semua makhluk.
- Hati yang penuh kasih sayang akan lebih mudah menerima cahaya Ilahi dan mencapai makrifatullah.
- Kasih sayang harus diwujudkan dalam perbuatan nyata, bukan sekadar ucapan.
- Seorang sufi sejati harus menebarkan cinta dan kelembutan kepada siapa pun, bahkan kepada musuhnya.
Sebagaimana kata Jalaluddin Rumi:
"Jadilah seperti mata air yang memberi manfaat kepada semua orang, tanpa membedakan siapa yang meminumnya."
7. Syaikh Ibnu Atho’illah As-Sakandari (648-709 H)
Dalam Al-Hikam, Ibnu Atho’illah menekankan bahwa kasih sayang adalah tanda ketulusan hati dan tanda seseorang telah mengenal Allah dengan benar.
Beliau berkata:
"Jika hatimu dipenuhi kasih sayang, maka engkau telah melihat dengan cahaya Allah. Tetapi jika hatimu dipenuhi kebencian, maka engkau telah terhalang dari-Nya."
Menurutnya, seorang sufi sejati tidak hanya menjauhi kebencian, tetapi juga memancarkan cinta kepada semua makhluk sebagai bagian dari refleksi kedekatannya dengan Allah.
8. Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili (593-656 H)
Pendiri tarekat Syadziliyah ini menekankan bahwa kasih sayang adalah bagian dari kesempurnaan iman dan ibadah yang hakiki.
Beliau berkata:
"Jangan berharap mendapatkan rahmat Allah jika engkau tidak menebarkan rahmat kepada sesama. Sebab, bagaimana mungkin engkau meminta kasih sayang dari Tuhan, sementara engkau tidak menebarkannya kepada hamba-hamba-Nya?"
Dalam ajarannya, kasih sayang harus diwujudkan dalam tiga bentuk:
- Kasih sayang kepada Allah – dalam bentuk kepatuhan dan rasa cinta kepada-Nya.
- Kasih sayang kepada sesama manusia – dalam bentuk kelembutan dan tolong-menolong.
- Kasih sayang kepada diri sendiri – dengan tidak membiarkan hati dikuasai oleh kebencian dan amarah.
9. Syaikh Bayazid Al-Busthami (161-234 H)
Beliau adalah salah satu sufi yang dikenal dengan konsep fana’ (melebur dalam cinta kepada Allah). Baginya, kasih sayang adalah bukti seseorang telah tenggelam dalam keindahan Ilahi.
Beliau berkata:
"Barang siapa melihat makhluk dengan mata kasih sayang, maka ia telah melihat dengan mata Allah."
Syaikh Bayazid mengajarkan bahwa hanya orang yang telah menghilangkan ego dan kebenciannya yang dapat benar-benar memahami makna kasih sayang yang hakiki.
10. Syaikh Abu Yazid Al-Busthami (804-874 M)
Beliau menekankan bahwa kasih sayang bukan hanya tentang kebaikan terhadap manusia, tetapi juga terhadap semua makhluk.
Beliau berkata:
"Aku melihat seekor anjing kelaparan dan aku menangis, sebab aku melihat dalam dirinya pancaran rahmat Allah yang meminta belas kasihan. Maka, aku memberi makan kepadanya, bukan hanya karena kasihan kepadanya, tetapi karena aku mencintai Tuhanku yang menciptakannya."
Dari ajaran ini, beliau menunjukkan bahwa kasih sayang dalam tasawuf adalah bentuk cinta kepada Allah yang meliputi semua makhluk-Nya.
11. Syaikh Junaid Al-Baghdadi (830-910 M)
Junaid Al-Baghdadi dikenal sebagai "Imam para sufi" dan mengajarkan bahwa tasawuf adalah akhlak, dan akhlak terbaik adalah kasih sayang.
Beliau berkata:
"Orang yang paling dekat dengan Allah bukanlah yang paling banyak berbicara tentang-Nya, tetapi yang paling banyak menebarkan kasih sayang kepada ciptaan-Nya."
Menurut beliau, seseorang yang telah mencapai derajat spiritual tinggi tidak akan menyakiti siapa pun, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab ia telah merasakan luasnya rahmat Allah dalam dirinya.
12. Syaikh Syihabuddin As-Suhrawardi (539-632 H)
Dalam kitab Awarif al-Ma’arif, beliau menekankan bahwa kasih sayang adalah jalan utama menuju maqam (derajat) kewalian.
Beliau berkata:
"Seseorang yang hatinya dipenuhi kebencian tidak akan pernah merasakan keindahan makrifatullah, karena cahaya kasih sayanglah yang membuka jalan menuju Allah."
Syaikh Suhrawardi mengajarkan bahwa seorang wali Allah sejati tidak akan menyakiti siapa pun, bahkan dalam hatinya pun tidak ada kebencian terhadap siapa pun.
13. Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i (512-578 H)
Pendiri tarekat Rifa’iyah ini menekankan pentingnya kasih sayang sebagai bentuk ibadah kepada Allah.
Beliau berkata:
"Orang yang paling berbahagia adalah mereka yang hatinya penuh kasih sayang, karena Allah akan memenuhi hatinya dengan cahaya Ilahi."
Dalam tarekatnya, beliau mengajarkan murid-muridnya untuk selalu:
- Memaafkan kesalahan orang lain tanpa mengharap balasan.
- Menolong sesama, baik Muslim maupun non-Muslim.
- Tidak menyakiti siapa pun, baik dengan lisan maupun perbuatan.
14. Syaikh Bahauddin Naqsyaband (717-791 H)
Pendiri tarekat Naqsyabandiyah ini mengajarkan bahwa kasih sayang adalah kunci terbukanya hati untuk menerima ilmu hakikat dan makrifatullah.
Beliau berkata:
"Ilmu yang tidak melahirkan kasih sayang adalah ilmu yang tidak bermanfaat. Sebab, ilmu sejati adalah yang melembutkan hati dan membuat pemiliknya semakin dekat dengan Allah."
Dalam ajarannya, beliau menekankan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, semakin lembut pula hatinya dan semakin besar kasih sayangnya kepada sesama.
15. Syaikh Yusuf Al-Makassari (1036-1111 H)
Seorang sufi besar dari Nusantara ini mengajarkan bahwa kasih sayang adalah kunci dari keberkahan hidup di dunia dan akhirat.
Beliau berkata:
"Jangan berharap mendapatkan keberkahan jika hatimu penuh kebencian. Sebab, berkah hanya akan turun kepada mereka yang hatinya dipenuhi kasih sayang."
Dalam ajarannya, beliau mengajarkan bahwa kasih sayang harus diwujudkan dalam bentuk sikap sosial yang baik, seperti membantu orang miskin, menghormati orang tua, dan menjaga hubungan baik dengan semua orang.
Kesimpulan Tambahan
Dari berbagai tokoh sufi di atas, dapat disimpulkan bahwa kasih sayang bukan sekadar perasaan, tetapi merupakan cerminan dari kedekatan seseorang dengan Allah. Para sufi mengajarkan bahwa orang yang paling dekat dengan Allah adalah yang paling banyak menebarkan kasih sayang kepada makhluk-Nya.
Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani:
"Jika engkau ingin mengetahui sejauh mana kedekatanmu dengan Allah, lihatlah sejauh mana kasih sayangmu kepada makhluk-Nya."
16. Syaikh Abu Madyan (509-594 H)
Dikenal sebagai Syekh At-Tariqah (Guru Besar Tasawuf), beliau menekankan bahwa kasih sayang adalah ruh dari kehidupan spiritual.
Beliau berkata:
"Kasih sayang adalah pakaian para wali. Barang siapa ingin mendekati mereka, hendaknya ia mengenakan pakaian ini dalam setiap keadaan."
Dalam ajarannya, kasih sayang diwujudkan dalam kesabaran terhadap gangguan orang lain, kelembutan dalam berbicara, dan keikhlasan dalam membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan.
17. Syaikh Hamzah Fansuri (w. abad ke-16 M)
Sebagai salah satu sufi besar dari Nusantara, beliau mengajarkan bahwa kasih sayang adalah bukti seseorang telah mencapai makrifatullah.
Dalam salah satu syairnya, beliau menulis:
"Siapa yang kasih, ia dikasihi,
Rahmat Allah akan mendekati,
Tiada benci di dalam hati,
Di sanalah cahaya Ilahi menyinari."
Beliau menekankan bahwa orang yang telah mengenal Allah sejati tidak akan memiliki kebencian, karena hatinya telah dipenuhi cahaya rahmat Ilahi.
18. Syaikh Ahmad Al-Badawi (596-675 H)
Pendiri tarekat Badawiyah ini mengajarkan bahwa kasih sayang adalah rahasia dari maqam wali.
Beliau berkata:
"Engkau tidak akan sampai ke derajat wali jika hatimu masih penuh kebencian. Rahasia wali adalah kelembutan hati yang selalu memancarkan kasih sayang."
Beliau juga menasihatkan murid-muridnya agar senantiasa berbuat baik kepada semua orang, bahkan kepada mereka yang telah berbuat buruk kepadanya, karena itulah tanda hati yang telah tersentuh oleh cahaya Ilahi.
19. Syaikh Abdul Karim Al-Jili (767-826 H)
Dalam kitabnya Al-Insan Al-Kamil, beliau membahas bahwa kasih sayang adalah refleksi dari Asma'ul Husna "Ar-Rahman" dan "Ar-Rahim".
Beliau menulis:
"Jika engkau ingin melihat wajah Tuhan, lihatlah dengan mata kasih sayang. Sebab, Tuhan hanya tampak bagi mereka yang hatinya penuh cinta dan rahmat."
Menurutnya, kasih sayang bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada hewan, tumbuhan, bahkan alam semesta, karena semuanya adalah manifestasi dari sifat-sifat Ilahi.
20. Syaikh Abu Sa’id Al-Kharraz (w. 899 M)
Seorang sufi besar yang dikenal dengan konsep "tauhid dalam kasih sayang", beliau menekankan bahwa kasih sayang adalah bukti tauhid yang benar.
Beliau berkata:
"Jika engkau benar-benar mengenal Allah, maka engkau akan menyayangi semua makhluk-Nya, sebab Dia adalah sumber segala kasih sayang."
Dalam ajarannya, seseorang yang bertauhid dengan benar akan selalu memandang manusia dengan rahmat, bukan dengan kebencian atau permusuhan.
21. Syaikh Abu Bakr Asy-Syibli (247-334 H)
Dikenal sebagai salah satu murid Junaid Al-Baghdadi, beliau menekankan bahwa kasih sayang adalah tanda hati yang bersih dan suci.
Beliau berkata:
"Hatimu adalah cermin bagi Tuhan. Jika engkau ingin melihat Tuhan dalam hatimu, bersihkanlah ia dengan kasih sayang."
Menurutnya, seorang sufi sejati tidak akan memiliki kebencian, karena hatinya telah dipenuhi cinta Ilahi yang murni.
22. Syaikh Najmuddin Kubra (540-618 H)
Pendiri tarekat Kubrawiyah ini mengajarkan bahwa kasih sayang adalah kunci keterhubungan antara manusia dan Allah.
Beliau berkata:
"Engkau tidak akan sampai kepada Allah jika engkau masih membenci sesama. Sebab, Allah adalah sumber kasih sayang, dan hanya mereka yang penuh kasih sayang yang dapat mendekati-Nya."
Dalam ajarannya, kasih sayang diwujudkan dalam bentuk:
- Lembut dalam berbicara, meskipun kepada orang yang memusuhinya.
- Tidak mudah marah, karena amarah adalah penghalang rahmat.
- Menolong orang lain tanpa mengharapkan balasan, karena hanya Allah yang menjadi tujuan sejati.
23. Syaikh Muhammad Al-Arabi Ad-Darqawi (1159-1239 H)
Pendiri tarekat Darqawiyah ini mengajarkan bahwa kasih sayang adalah tanda seorang murid telah memahami hakikat tasawuf.
Beliau berkata:
"Jika engkau ingin mengetahui sejauh mana engkau telah maju dalam tasawuf, lihatlah sejauh mana engkau memiliki kasih sayang kepada makhluk-Nya."
Beliau mengajarkan bahwa kasih sayang tidak boleh selektif. Seseorang harus menyayangi semua orang tanpa membedakan latar belakang, sebab kasih sayang adalah cerminan dari rahmat Allah yang luas.
24. Syaikh Abu Abdullah Al-Qurasyi (w. abad ke-13 M)
Seorang sufi yang menekankan kasih sayang dalam bentuk kelembutan dan kehalusan budi pekerti.
Beliau berkata:
"Orang yang benar-benar dekat dengan Allah tidak akan pernah menyakiti orang lain, bahkan dengan kata-kata sekalipun."
Dalam ajarannya, seorang sufi harus berhati-hati dalam berbicara dan berperilaku agar tidak melukai hati orang lain, karena menyakiti hati adalah tanda lemahnya kasih sayang dalam dirinya.
25. Syaikh Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi (1315-1402 H)
Seorang ulama sufi dari India yang menekankan kasih sayang sebagai sarana untuk menghidupkan sunnah Nabi Muhammad ﷺ.
Beliau berkata:
"Kasih sayang adalah sunnah Nabi yang terbesar. Barang siapa ingin mengikuti beliau dengan sempurna, maka hendaknya ia memperbanyak kasih sayang kepada semua makhluk."
Dalam ajarannya, kasih sayang harus diwujudkan dalam bentuk akhlak yang baik, membantu orang lain, dan mendoakan kebaikan bagi semua orang, termasuk musuhnya.
Kesimpulan Tambahan
Dari tambahan tokoh-tokoh sufi ini, semakin jelas bahwa kasih sayang bukan hanya bagian dari tasawuf, tetapi merupakan ruh dari perjalanan spiritual itu sendiri. Para sufi sepakat bahwa:
- Kasih sayang adalah tanda hati yang telah dibersihkan dari ego dan nafsu.
- Seorang sufi sejati tidak akan menyakiti siapa pun, baik secara fisik maupun dengan kata-kata.
- Mereka yang paling dekat dengan Allah adalah mereka yang hatinya penuh kasih sayang kepada semua makhluk-Nya.
- Kasih sayang harus diwujudkan dalam perbuatan nyata, bukan hanya dalam kata-kata.
Sebagaimana Syaikh Abu Madyan berkata:
"Orang yang hatinya penuh kasih sayang, maka Allah akan meluaskan rahmat-Nya kepadanya, baik di dunia maupun di akhirat."
26. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani (470-561 H)
Sebagai salah satu sufi paling berpengaruh, beliau mengajarkan bahwa kasih sayang adalah ciri utama seorang wali Allah.
Beliau berkata:
"Hati yang penuh kasih sayang adalah rumah bagi cahaya Ilahi. Jika engkau ingin Allah hadir dalam hatimu, tebarkanlah kasih sayang kepada semua makhluk-Nya."
Dalam ajarannya, kasih sayang diwujudkan melalui:
- Memaafkan kesalahan orang lain tanpa membalas dengan keburukan.
- Menolong orang yang membutuhkan, baik dengan harta maupun doa.
- Berbuat baik bahkan kepada mereka yang menyakiti kita.
27. Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i (512-578 H)
Pendiri tarekat Rifa’iyah ini menekankan bahwa kasih sayang adalah jalan menuju makrifat.
Beliau berkata:
"Janganlah hatimu menjadi keras, karena kasih sayang adalah jalan menuju Allah. Barang siapa ingin mengenal Allah, hendaknya ia melembutkan hatinya dengan kasih sayang."
Menurutnya, kasih sayang bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk binatang, tumbuhan, dan seluruh alam semesta.
28. Syaikh Jalaluddin Rumi (604-672 H)
Dalam banyak syairnya, Rumi sering menekankan bahwa cinta dan kasih sayang adalah inti dari kehidupan spiritual.
Beliau berkata:
"Kasih sayang adalah jembatan yang menghubungkan engkau dengan Tuhan. Jika engkau ingin mendekati-Nya, tebarkanlah kasih sayang kepada semua makhluk-Nya."
Dalam ajarannya, kasih sayang diwujudkan dalam bentuk:
- Kesabaran dalam menghadapi ujian dan gangguan orang lain.
- Keikhlasan dalam membantu sesama.
- Menjauhi kebencian, karena kebencian adalah penghalang cahaya Ilahi.
29. Syaikh Ibnu Atha’illah As-Sakandari (658-709 H)
Beliau adalah sufi besar dari tarekat Syadziliyah yang menekankan kasih sayang sebagai manifestasi dari keyakinan yang benar kepada Allah.
Beliau berkata:
"Kasih sayang adalah tanda bahwa hatimu telah terbuka untuk menerima cahaya Ilahi. Orang yang keras hati tidak akan pernah merasakan kedekatan dengan Allah."
Menurutnya, orang yang memiliki kasih sayang akan selalu tenang, tidak mudah marah, dan selalu berbuat baik kepada sesama.
30. Syaikh Yusuf Al-Makassari (1037-1111 H)
Seorang sufi dari Nusantara yang mengajarkan bahwa kasih sayang adalah kekuatan spiritual yang mampu menundukkan hati manusia.
Beliau berkata:
"Orang yang hatinya dipenuhi kasih sayang, maka seluruh alam akan tunduk kepadanya. Sebab, ia telah menyatu dengan sifat Rahman dan Rahim Allah."
Beliau menasihatkan agar umat Islam selalu menunjukkan kelembutan dalam berdakwah, karena kasih sayang lebih efektif dalam menuntun manusia menuju jalan yang benar.
Kesimpulan Tambahan
Dari tambahan tokoh-tokoh sufi ini, semakin jelas bahwa kasih sayang adalah fondasi utama dalam tasawuf.
Para sufi sepakat bahwa:
- Kasih sayang adalah tanda hati yang telah tercerahkan oleh cahaya Ilahi.
- Seorang sufi sejati akan selalu lembut, sabar, dan penuh cinta kepada sesama.
- Mereka yang paling dekat dengan Allah adalah mereka yang hatinya penuh kasih sayang.
- Kasih sayang harus diwujudkan dalam perbuatan nyata, bukan hanya dalam kata-kata.
Sebagaimana Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata:
"Jika engkau ingin dekat dengan Allah, jadilah orang yang penuh kasih sayang, karena kasih sayang adalah tanda bahwa hatimu telah terisi dengan cahaya-Nya."
Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Kasih Sayang (Rahmah) dan Akhlak Mulia dalam Tasawuf
Para sufi selalu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam memahami dan mengamalkan kasih sayang (rahmah). Berikut beberapa ayat yang mendukung ajaran mereka:
1. Allah Maha Penyayang dan Menganjurkan Kasih Sayang
"Sesungguhnya rahmat-Ku meliputi segala sesuatu."
(Al-A’raf: 156)
Allah menegaskan bahwa kasih sayang-Nya tidak terbatas dan mencakup seluruh makhluk-Nya. Para sufi berusaha meneladani sifat ini dengan menyebarkan kasih sayang kepada semua makhluk tanpa membeda-bedakan.
2. Kasih Sayang adalah Sifat Utama Rasulullah ﷺ
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."
(Al-Anbiya: 107)
Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai rahmat bagi seluruh makhluk. Para sufi mencontoh akhlak beliau dengan menebarkan kasih sayang kepada sesama manusia, binatang, bahkan alam semesta.
3. Allah Mencintai Orang yang Berbuat Baik
"Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
(Al-Baqarah: 195)
Kasih sayang tidak cukup hanya dengan perasaan, tetapi harus diwujudkan dalam perbuatan baik. Para sufi menekankan bahwa semakin seseorang berbuat baik, semakin dekat ia kepada Allah.
4. Kasih Sayang dalam Hubungan Sesama Muslim
"Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka."
(Al-Fath: 29)
Para sufi menafsirkan bahwa ukhuwah Islamiyah harus dilandasi dengan kasih sayang, bukan sekadar hubungan formal. Mereka mencontohkan bagaimana persaudaraan dalam tasawuf penuh dengan cinta dan kepedulian.
5. Kasih Sayang terhadap Orang yang Membenci Kita
"Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia."
(Fussilat: 34)
Para sufi memahami bahwa membalas keburukan dengan kebaikan adalah cara terbaik untuk menundukkan hati manusia. Mereka mengajarkan kelembutan dan kesabaran dalam menghadapi orang yang memusuhi mereka.
6. Kasih Sayang kepada Seluruh Makhluk
"Dan Dia (Allah) telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
(Al-Jatsiyah: 13)
Para sufi meyakini bahwa setiap makhluk memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang, karena semua ciptaan Allah memiliki peran dalam sistem kehidupan. Oleh karena itu, mereka tidak hanya menyayangi manusia, tetapi juga hewan dan alam.
7. Mengedepankan Kasih Sayang daripada Kekerasan
"Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu. Maka maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu."
(Ali ‘Imran: 159)
Para sufi menjadikan ayat ini sebagai pedoman dalam berdakwah dan membimbing murid-muridnya. Mereka menghindari kekerasan dan selalu mengutamakan kelembutan serta kasih sayang dalam membina umat.
8. Kasih Sayang sebagai Sumber Ketenangan
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa cinta dan kasih sayang."
(Ar-Rum: 21)
Para sufi memahami bahwa kasih sayang adalah sumber ketenangan dan kebahagiaan hidup, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun hubungan dengan Allah.
9. Kasih Sayang Menghapus Dosa
"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus (dosa) perbuatan-perbuatan buruk."
(Hud: 114)
Mereka percaya bahwa kasih sayang dan kebaikan adalah cara untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah, karena setiap kebaikan akan menghapus keburukan yang telah dilakukan.
10. Allah Memberikan Kasih Sayang kepada Hamba yang Menyayangi Makhluk-Nya
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang."
(Maryam: 96)
Para sufi memahami bahwa semakin seseorang berbuat baik dan penuh kasih sayang, maka Allah akan menanamkan cinta dan kasih sayang dalam hati orang lain kepadanya.
Kesimpulan
Dari ayat-ayat ini, para sufi mengambil beberapa pelajaran utama:
- Kasih sayang adalah sifat utama Allah yang harus diteladani oleh manusia.
- Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam menebarkan kasih sayang kepada semua makhluk.
- Berbuat baik kepada orang lain, termasuk yang membenci kita, adalah tanda kedekatan dengan Allah.
- Kasih sayang bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk seluruh alam semesta.
- Kelembutan lebih efektif daripada kekerasan dalam membimbing manusia ke jalan yang benar.
- Kasih sayang adalah sumber ketenangan, kebahagiaan, dan keberkahan hidup.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
"Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian."
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Maka, para sufi menjadikan kasih sayang sebagai inti dari perjalanan spiritual mereka, karena mereka yakin bahwa kasih sayang adalah jalan tercepat menuju Allah.
Hadits-Hadits Nabi ﷺ tentang Kasih Sayang (Rahmah) dalam Tasawuf
Para sufi menjadikan hadits Nabi ﷺ sebagai pedoman utama dalam memahami dan mengamalkan kasih sayang (rahmah). Berikut adalah beberapa hadits yang mendukung prinsip kasih sayang dalam tasawuf:
1. Allah Menyayangi Hamba yang Penuh Kasih Sayang
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ، وَإِذَا اشْتَرَى، وَإِذَا اقْتَضَى
"Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap lembut ketika menjual, membeli, dan menagih hutang."
(HR. Bukhari, no. 2076)
Para sufi memahami bahwa kasih sayang bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam urusan ekonomi dan sosial.
2. Kasih Sayang kepada Makhluk akan Mendapatkan Kasih Sayang dari Allah
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمٰنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
"Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian."
(HR. Abu Dawud, no. 4941; Tirmidzi, no. 1924)
Hadits ini menjadi dasar bagi para sufi untuk selalu menebarkan kasih sayang kepada semua makhluk, termasuk manusia, hewan, dan alam.
3. Kasih Sayang adalah Akhlak Rasulullah ﷺ
إِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً
"Sesungguhnya aku diutus hanya sebagai rahmat (kasih sayang)."
(HR. Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, no. 7591)
Para sufi menjadikan akhlak Rasulullah ﷺ sebagai teladan utama. Mereka menekankan bahwa menjadi sufi sejati berarti meneladani kasih sayang dan kelembutan Nabi ﷺ.
4. Kasih Sayang Lebih Utama daripada Kekerasan
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ
"Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala urusan."
(HR. Bukhari, no. 6024; Muslim, no. 2165)
Para sufi mengajarkan bahwa kelembutan dalam berdakwah, dalam bergaul, dan dalam menghadapi orang lain adalah kunci keberhasilan dalam tasawuf.
5. Kasih Sayang kepada Anak-Anak sebagai Bentuk Ketakwaan
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang yang lebih tua."
(HR. Tirmidzi, no. 1919)
Para sufi menekankan bahwa kasih sayang adalah tanda hati yang bersih dan merupakan bagian dari akhlak orang-orang yang dekat dengan Allah.
6. Kasih Sayang Rasulullah ﷺ kepada Hewan
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي، فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ، فَنَزَلَ بِئْرًا، فَشَرِبَ، ثُمَّ خَرَجَ، فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ، فَقَالَ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ بِي، فَمَلَأَ خُفَّهُ، ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ، ثُمَّ رَقِيَ، فَسَقَى الْكَلْبَ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ، فَغَفَرَ لَهُ"
"Seorang lelaki sedang berjalan dan merasa sangat haus. Dia menemukan sebuah sumur, lalu turun dan minum. Ketika keluar, dia melihat seekor anjing yang menjulurkan lidahnya karena kehausan. Orang itu berkata dalam hatinya, 'Anjing ini pasti merasakan haus seperti aku tadi.' Maka dia kembali ke sumur, mengambil air dengan sepatunya, dan memberi minum anjing itu. Allah pun berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya."
(HR. Bukhari, no. 173)
Hadits ini menunjukkan bahwa kasih sayang bahkan kepada seekor anjing dapat mengantarkan seseorang kepada ampunan Allah. Para sufi memahami bahwa rahmat Allah mencakup seluruh makhluk, dan seorang sufi sejati harus menyayangi semua makhluk tanpa kecuali.
7. Kasih Sayang Menghapus Dosa dan Mendekatkan kepada Allah
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا، وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِي الْمُسْلِمِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ (يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ) شَهْرًا
"Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Amal yang paling dicintai Allah adalah memberikan kebahagiaan kepada seorang Muslim, menghilangkan kesulitannya, melunasi hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan berjalan bersama saudaraku dalam suatu keperluan lebih aku cintai daripada beriktikaf sebulan penuh di masjid ini (Masjid Nabawi)."
(HR. Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, no. 13646)
Para sufi mengambil pelajaran dari hadits ini bahwa kasih sayang bukan hanya dalam bentuk perasaan, tetapi harus diwujudkan dalam amal nyata yang bermanfaat bagi sesama.
Kesimpulan
Dari hadits-hadits di atas, para sufi mengambil beberapa pelajaran utama:
- Kasih sayang adalah kunci untuk mendapatkan rahmat Allah.
- Meneladani kasih sayang Rasulullah ﷺ adalah bagian dari perjalanan spiritual.
- Kelembutan lebih utama daripada kekerasan dalam segala urusan.
- Kasih sayang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik kepada manusia maupun makhluk lainnya.
- Orang yang paling bermanfaat bagi sesama adalah yang paling dicintai Allah.
Sebagaimana kata Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani:
"Kasih sayang adalah jalan tercepat menuju Allah, dan orang yang hatinya dipenuhi kasih sayang adalah orang yang paling dekat dengan-Nya."
Dengan demikian, kasih sayang dalam tasawuf bukan hanya ajaran moral, tetapi merupakan inti dari perjalanan menuju Allah.







0 komentar:
Posting Komentar