Rabu, 12 Maret 2025

KISAH NABI HARUN ‘ALAYHIS SALAM

 

GenZArtDoc

Kisah Nabi Harun ‘alayhis salam dalam kitab Qashash al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir berkaitan erat dengan kisah Nabi Musa ‘alayhis salam. Berikut adalah beberapa poin penting mengenai kisah Nabi Harun dalam kitab tersebut:

1. Nabi Harun sebagai Saudara dan Pendamping Nabi Musa

  • Nabi Harun adalah saudara kandung Nabi Musa ‘alayhima as-salam.
  • Allah mengutusnya sebagai nabi untuk membantu Nabi Musa dalam menyampaikan risalah kepada Bani Israil dan menghadapi Fir’aun.
  • Nabi Musa meminta kepada Allah agar menjadikan Harun sebagai pendampingnya karena Harun lebih fasih dalam berbicara (QS. Thaha: 25-36).

2. Peran Nabi Harun dalam Konfrontasi dengan Fir’aun

  • Nabi Harun menemani Nabi Musa dalam menghadapi Fir’aun dan menyeru kepada tauhid.
  • Fir’aun menolak dakwah mereka dan menantang dengan sihir, hingga akhirnya mukjizat Nabi Musa mengalahkan para penyihir Fir’aun.

3. Nabi Harun dan Peristiwa Penyembahan Anak Sapi

  • Ketika Nabi Musa pergi ke Gunung Thur untuk menerima wahyu, Nabi Harun ditinggalkan bersama Bani Israil.
  • Samiri membuat patung anak sapi dari emas yang kemudian disembah oleh sebagian Bani Israil.
  • Nabi Harun telah berusaha melarang mereka, tetapi mereka membangkang dan hampir membunuhnya (QS. Thaha: 90-94).
  • Ketika Nabi Musa kembali, ia menegur Nabi Harun karena tidak lebih tegas dalam mencegah kesesatan Bani Israil. Nabi Harun menjelaskan bahwa ia khawatir terjadi perpecahan di antara mereka.

4. Nabi Harun sebagai Pemimpin Bani Israil

  • Setelah kejadian penyembahan anak sapi, Nabi Harun terus membantu Nabi Musa dalam membimbing Bani Israil.
  • Ia memiliki kedudukan yang mulia sebagai nabi dan pemimpin yang lemah lembut.

5. Wafatnya Nabi Harun

  • Menurut riwayat dalam Qashash al-Anbiya’, Nabi Harun wafat lebih dahulu sebelum Nabi Musa.
  • Dikisahkan bahwa ketika mendekati ajalnya, Nabi Harun naik ke sebuah gunung dan meninggal di sana, lalu Allah mewafatkannya dengan tenang.

Kisah Nabi Harun dalam Qashash al-Anbiya’ menunjukkan perannya sebagai sosok pendamping, pemimpin, dan nabi yang penuh kasih sayang dalam membimbing umatnya.

Ketaatan dan Tasawuf Nabi Harun ‘alayhis salam

Dalam perspektif ketaatan dan tasawuf, Nabi Harun ‘alayhis salam menampilkan sifat-sifat kenabian yang mencerminkan kedekatan dengan Allah, kelembutan dalam dakwah, serta kepasrahan yang tinggi.

1. Ketaatan Nabi Harun kepada Allah dan Rasul-Nya

Nabi Harun adalah sosok nabi yang sangat taat, baik kepada Allah maupun kepada Nabi Musa sebagai rasul utama dalam dakwah kepada Bani Israil. Beberapa aspek ketaatannya:

  • Menjalankan Perintah Allah dengan Kesabaran
    Nabi Harun tidak membantah ketika Nabi Musa memintanya untuk mendampingi dalam tugas kenabian, meskipun ia lebih tua dari Nabi Musa. Ini menunjukkan sikap ketawadhuan (kerendahan hati) dalam menerima amanah.
  • Tidak Melawan Nabi Musa ketika Ditegur
    Ketika Nabi Musa marah akibat penyembahan anak sapi, Nabi Harun tidak membela diri secara berlebihan, tetapi dengan rendah hati menjelaskan bahwa ia berusaha menghindari perpecahan di antara Bani Israil (QS. Thaha: 90-94). Ini mencerminkan ketaatan dan sikap zuhud—mengutamakan ketenangan dan persatuan umat dibandingkan kedudukan pribadinya.

2. Nabi Harun sebagai Simbol Kelembutan dalam Tasawuf

Dalam ajaran tasawuf, salah satu ciri khas seorang wali atau kekasih Allah adalah kelembutan dalam menyampaikan kebenaran. Nabi Harun menjadi contoh utama dalam hal ini:

  • Lembut dalam Dakwah
    Nabi Harun adalah pembicara yang fasih dan lembut, berbeda dengan Nabi Musa yang dikenal lebih tegas. Dalam tasawuf, ini mencerminkan maqam rahmah (kasih sayang) yang menjadi bagian dari akhlak para nabi.
  • Tidak Menggunakan Kekerasan saat Bani Israil Menyimpang
    Ketika Bani Israil menyembah anak sapi, Nabi Harun tidak serta-merta memerangi mereka, karena khawatir akan terjadi perpecahan yang lebih besar. Dalam tasawuf, ini menunjukkan hikmah dan kebijaksanaan (al-hikmah wa al-hilm) dalam membimbing umat yang tersesat.

3. Nabi Harun dan Konsep Wali dalam Tasawuf

Dalam beberapa pandangan sufi, Nabi Harun sering dibandingkan dengan peran seorang wali dalam tarekat, yaitu mendampingi, membimbing, dan menjaga persatuan umat. Beberapa nilai tasawuf yang bisa diambil dari kisahnya:

  • Fana’ dan Tawakkul
    Nabi Harun tidak mengutamakan ego atau kepemimpinan pribadi, melainkan selalu bertawakkal kepada Allah dalam menghadapi cobaan.
  • Sabar dan Ikhlas
    Ketika dihadapkan dengan kesesatan Bani Israil, Nabi Harun menunjukkan kesabaran luar biasa. Dalam tasawuf, ini adalah maqam ridha dan ikhlas dalam menerima takdir Allah.

Kesimpulan

Nabi Harun ‘alayhis salam adalah contoh sempurna dalam hal ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta menampilkan sifat-sifat tasawuf seperti kelembutan, kesabaran, hikmah, tawakkul, dan ikhlas. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya tentang kekuatan dan ketegasan, tetapi juga tentang kasih sayang dan kebijaksanaan dalam membimbing umat menuju kebenaran.


0 komentar:

Posting Komentar