Rabu, 12 Maret 2025

BUKAN MILIK KITA SEJATI

 

Gambaran Sufi GenZArtDoc

Dalam perspektif spiritual agama, terutama dalam Islam, konsep “bukan milik kita” mencerminkan hakikat kepemilikan sejati. Segala sesuatu yang ada di dunia ini, termasuk diri kita sendiri, hakikatnya adalah milik Allah ﷻ.

Hakikat Kepemilikan dalam Islam

  1. Segala Sesuatu Milik Allah

    • "Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi..." (QS. Al-Baqarah: 284)
    • Segala sesuatu, baik harta, kehidupan, bahkan jiwa kita, adalah titipan dari Allah. Kita hanya diberi amanah untuk menjaganya sementara.
  2. Manusia Hanya Pengelola (Khalifah)

    • "Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi..." (QS. Fatir: 39)
    • Kita bukan pemilik sejati, melainkan hanya diberikan peran sebagai pengelola yang harus menggunakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak Allah.
  3. Harta Bukan Milik Kita Seutuhnya

    • Harta yang kita miliki hanya titipan dan ujian:
      "Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan kepadamu..." (QS. An-Nur: 33)
    • Oleh karena itu, infak dan sedekah bukan sekadar memberi, tetapi mengembalikan titipan kepada yang berhak.
  4. Kehidupan dan Kematian adalah Milik Allah

    • "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali." (QS. Al-Baqarah: 156)
    • Kita tidak memiliki kendali mutlak atas hidup dan mati kita, karena semua itu telah ditetapkan oleh Allah.
  5. Ilmu, Amal, dan Kedudukan adalah Karunia Allah

    • Bahkan ilmu, kesuksesan, dan jabatan yang kita raih bukanlah semata hasil usaha kita sendiri. Allah-lah yang memberi kesempatan dan kemampuan.
    • "Dan tidaklah kamu memperoleh nikmat apa pun, melainkan dari Allah..." (QS. An-Nahl: 53)

Kesimpulan

Segala sesuatu yang kita miliki—harta, kesehatan, keluarga, ilmu, bahkan kehidupan—hakikatnya adalah milik Allah. Kesadaran ini membentuk sikap rendah hati, qana'ah (merasa cukup), serta semangat berbagi dan berserah diri kepada-Nya.

 “Bukan Milik Kita” 

Dalam tasawuf, konsep “bukan milik kita” adalah bagian dari perjalanan ruhani untuk mencapai ma’rifatullah (mengenal Allah). Para sufi memandang bahwa segala sesuatu—termasuk diri, harta, ilmu, dan amal—bukan hak milik kita, melainkan hanya titipan Allah.


1. Tauhid Hakiki: Laa Mawjud Illallah

Para sufi menekankan bahwa hanya Allah yang benar-benar ada, sementara segala sesuatu selain-Nya hanyalah bayangan atau pancaran dari keberadaan-Nya.

  • Syekh Abdul Qadir al-Jilani berkata:
    "Segala sesuatu yang engkau miliki, pada hakikatnya bukanlah milikmu, tetapi milik Allah. Jika engkau menyadari ini, hatimu akan tenang dan bebas dari ketergantungan pada dunia."

  • Ibnu ‘Athaillah dalam Al-Hikam:
    "Istirahatkan dirimu dari kesibukan mengatur dunia, karena apa yang telah ditentukan untukmu pasti akan datang kepadamu."

📌 Maksudnya: Manusia sering merasa memiliki dan mengatur segalanya, padahal segala sesuatu telah diatur oleh Allah.


2. Fana’ dan Baqa’: Melepaskan Kepemilikan Diri

Dalam tasawuf, seorang hamba yang menuju Allah harus mengalami fana’ (melebur dalam kehendak Allah) sebelum mencapai baqa’ (kekal dalam ridha Allah).

  • Fana’: Sadar bahwa segala sesuatu yang dimiliki adalah ilusi dan titipan.
  • Baqa’: Menyadari bahwa keberadaan sejati adalah Allah, dan kita hidup semata-mata untuk-Nya.

⚡ Jalaluddin Rumi berkata:
"Kekayaan bukan milikmu. Rumah bukan milikmu. Tubuh ini bukan milikmu. Bahkan, nyawamu pun bukan milikmu. Semua hanya pinjaman. Maka, gunakan dengan penuh kesadaran dan kembalikan dengan keikhlasan."


3. Zuhud: Melepaskan Ketergantungan

Para sufi menjalani zuhud, yaitu melepaskan ketergantungan hati kepada dunia, karena dunia bukan milik kita.

  • Al-Junaid al-Baghdadi berkata:
    "Zuhud bukan berarti tidak memiliki sesuatu, tetapi tidak dikuasai oleh sesuatu."

📌 Artinya: Kita boleh memiliki harta, kedudukan, dan ilmu, tetapi hati kita tidak boleh terikat padanya.


4. Tawakkal: Menyerahkan Kepemilikan kepada Allah

Karena kita tidak memiliki apa pun, maka satu-satunya sikap yang benar adalah tawakkal (berserah diri).

  • Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin:
    "Orang yang bertawakkal sejati adalah yang menyadari bahwa dirinya tidak memiliki apa pun, sehingga tidak takut kehilangan dan tidak sombong ketika diberi."

📌 Contoh Nyata:

  • Nabi Ayub ‘alayhis salam kehilangan kesehatan, harta, dan keluarga, tetapi tetap ridha karena ia tahu semua itu hanya titipan.
  • Nabi Sulaiman ‘alayhis salam memiliki kekayaan luar biasa, tetapi tetap rendah hati karena sadar bahwa semua itu dari Allah.

5. Hakikat Ubudiyyah: Segalanya Hanya untuk Allah

Setiap napas, harta, ilmu, bahkan amal yang kita lakukan bukan milik kita, tetapi harus dikembalikan kepada Allah.

  • Al-Hallaj berkata:
    "Aku bukan aku, tetapi Dia yang menggerakkanku."

📌 Maksudnya: Seorang sufi yang telah mencapai ma’rifatullah tidak melihat dirinya sebagai pemilik, melainkan sebagai sarana bagi kehendak Allah.

💡 Pesan Sufi:
"Jika engkau tidak memiliki apa pun, maka engkau memiliki segalanya, karena hatimu telah kosong dari dunia dan penuh dengan Allah."

"Bukan Milik Kita"

Dalam tasawuf, pemahaman bahwa segala sesuatu bukan milik kita, tetapi milik Allah sangat ditekankan. Konsep ini menjadi dasar dalam berbagai tarekat sufi, dengan penekanan yang berbeda sesuai dengan metode mereka dalam mendekatkan diri kepada Allah.


1. Tarekat Naqsyabandiyah: Kesadaran Ilahi dalam Kehidupan Sehari-hari

Tarekat Naqsyabandiyah terkenal dengan prinsip "Khalwat dar Anjuman" (kesunyian di tengah keramaian), di mana seorang murid tetap menjalani kehidupan dunia tetapi hatinya selalu bersama Allah.

✅ Konsep "Bukan Milik Kita" dalam Naqsyabandiyah:

  • Segala sesuatu di dunia ini hanyalah sarana untuk mencapai Allah.
  • Seorang murid harus menjaga hati dari keterikatan dunia, meskipun secara lahiriah ia bekerja dan berkeluarga.
  • Dzikir khafi (dzikir dalam hati) dilakukan agar kesadaran akan Allah tetap ada dalam segala aktivitas.

📌 Kata-kata Syekh Bahauddin Naqsyaband:
"Janganlah kau tertipu oleh dunia yang bukan milikmu. Yang kau cari ada di dalam hatimu, bukan di luar dirimu."


2. Tarekat Qadiriyah: Penyerahan Total kepada Allah

Tarekat ini didirikan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani, yang menekankan tawakkal (berserah diri) dan zuhud (tidak terikat dunia).

✅ Konsep "Bukan Milik Kita" dalam Qadiriyah:

  • Manusia tidak memiliki apa pun, bahkan dirinya sendiri. Segalanya adalah milik Allah.
  • Seseorang harus menghilangkan rasa memiliki agar hatinya bersih dari kecintaan dunia.
  • Dzikir jahr (lantang) digunakan untuk mengosongkan diri dari dunia dan mengingat Allah sepenuhnya.

📌 Kata-kata Syekh Abdul Qadir al-Jilani:
"Jika engkau menganggap harta milikmu, engkau telah menipu dirimu sendiri. Jika engkau merasa memiliki sesuatu, maka engkau telah jauh dari Tuhanmu."


3. Tarekat Syadziliyah: Bersyukur dalam Kefakiran dan Kekayaan

Tarekat ini didirikan oleh Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili, yang menekankan syukur dan ma’rifatullah dalam segala keadaan.

✅ Konsep "Bukan Milik Kita" dalam Syadziliyah:

  • Dunia boleh dimiliki, tetapi hati harus tetap milik Allah.
  • Seorang murid harus bersyukur dalam kefakiran dan kekayaan, karena keduanya hanya ujian.
  • Dzikir dan fikr (merenung kebesaran Allah) digunakan untuk mencapai kesadaran bahwa segalanya berasal dari Allah.

📌 Kata-kata Syekh Asy-Syadzili:
"Janganlah engkau merasa memiliki sesuatu, karena di saat itu Allah akan mencabut berkah darinya."


4. Tarekat Tijaniyah: Mengandalkan Allah dalam Segala Hal

Tarekat Tijaniyah didirikan oleh Syekh Ahmad At-Tijani, dengan fokus pada mendekatkan diri kepada Allah melalui dzikir dan ketergantungan penuh kepada-Nya.

✅ Konsep "Bukan Milik Kita" dalam Tijaniyah:

  • Hamba yang sempurna adalah yang tidak merasa memiliki apa pun kecuali Allah.
  • Tiadakan ego dan kehendak pribadi, karena hanya kehendak Allah yang berlaku.
  • Dzikir khas "Laa ilaha illallah" diulang terus-menerus untuk mengingatkan bahwa hanya Allah yang benar-benar ada.

📌 Kata-kata Syekh Ahmad At-Tijani:
"Engkau bukan milikmu, hartamu bukan milikmu, waktumu bukan milikmu. Gunakan semuanya untuk Allah, karena Dia-lah pemilik sejati."


5. Tarekat Mawlawiyah: Melebur dalam Cinta Ilahi

Tarekat ini didirikan oleh Jalaluddin Rumi, yang menekankan fana’ (melebur) dalam cinta Allah.

✅ Konsep "Bukan Milik Kita" dalam Mawlawiyah:

  • Harta, kedudukan, bahkan diri sendiri adalah ilusi yang akan sirna. Yang abadi hanyalah Allah.
  • Tari Sufi (Sema') dilakukan sebagai simbol perjalanan ruhani untuk meninggalkan kepemilikan dunia dan mendekat kepada Allah.
  • Cinta kepada Allah membuat manusia melupakan keakuannya dan menyadari bahwa dirinya hanyalah milik Allah.

📌 Kata-kata Jalaluddin Rumi:
"Ketika aku menyerahkan segalanya kepada-Nya, aku menemukan bahwa aku tidak kehilangan apa pun, tetapi justru memperoleh segalanya."


Kesimpulan: Melepaskan Kepemilikan untuk Mendekat kepada Allah

Dari berbagai tarekat di atas, semua mengajarkan bahwa hakikat kehidupan adalah menyadari bahwa segala sesuatu bukan milik kita, tetapi hanya milik Allah.

✅ Naqsyabandiyah → Hati tetap bersama Allah meski hidup di dunia.
✅ Qadiriyah → Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.
✅ Syadziliyah → Bersyukur dalam segala keadaan.
✅ Tijaniyah → Mengandalkan Allah dalam segala hal.
✅ Mawlawiyah → Melebur dalam cinta Ilahi.

💡 Pesan Akhir:
"Hanya ketika kita menyadari bahwa kita tidak memiliki apa pun, kita akan benar-benar bebas dan merasa cukup dengan Allah."


Hakikat Kepemilikan: Segala Sesuatu Bukan Milik Sejati Manusia

Dalam Islam, kepemilikan duniawi hanyalah titipan yang bersifat sementara. Manusia bukan pemilik sejati, tetapi hanya pengelola (khalifah) yang diberi amanah oleh Allah.

Allah berfirman:
“Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan kepadamu.” (QS. An-Nur: 33)

📌 Maknanya: Harta, kesehatan, ilmu, kedudukan—semua itu bukan benar-benar milik kita. Jika Allah memberi, itu adalah ujian. Jika Allah mengambil, itu juga ujian.


1. Dalil-Dalil Bahwa Kepemilikan Sejati Hanya Milik Allah

✅ Allah adalah pemilik mutlak:
"Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi." (QS. Al-Baqarah: 284)

✅ Manusia datang tanpa apa-apa, pergi pun tanpa apa-apa:
"Sesungguhnya Kami datang kepada Allah sebagaimana pertama kali Kami diciptakan, dan Kami tinggalkan di belakang kami apa yang telah Kami miliki." (QS. Al-An’am: 94)

✅ Kematian membuktikan bahwa kepemilikan itu ilusi:
"Kami tidak melihat bersamamu para pemberi syafaat yang kamu sangka bahwa mereka sekutu-sekutu Allah, dan telah terputuslah hubungan antara kamu dan lenyaplah dari kamu apa yang dahulu kamu sangka." (QS. Al-An’am: 94)

📌 Maknanya: Segala yang kita anggap milik kita—harta, keluarga, jabatan—akan ditinggalkan. Maka, jangan tertipu oleh dunia.


2. Akibat Buruk dari Merasa Memiliki Hal Duniawi

Merasa memiliki sesuatu secara mutlak menyebabkan berbagai penyakit hati dan penderitaan.

A. Kesombongan & Keangkuhan

  • Orang yang merasa memiliki harta, ilmu, atau kedudukan sering kali merasa lebih tinggi dari orang lain.
  • Fir’aun, Qarun, dan Namrud adalah contoh orang yang merasa memiliki segalanya, tetapi akhirnya dihancurkan oleh Allah.

⚡ Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam:
“Siapa yang merasa memiliki sesuatu, ia akan dihukum dengan kehilangan.”

📌 Pelajaran: Kesombongan akan berujung pada kehancuran.


B. Ketergantungan yang Berlebihan (Tamak & Rakus)

  • Jika seseorang merasa memiliki, ia akan terus merasa kurang.
  • Ia menjadi tamak dan tidak pernah puas, seperti orang yang minum air laut, semakin minum semakin haus.

⚡ Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, pasti ia menginginkan yang ketiga.” (HR. Bukhari & Muslim)

📌 Pelajaran: Rasa memiliki melahirkan ketamakan, yang membuat hati tidak pernah puas.


C. Ketakutan Kehilangan (Khawf al-Faqr)

  • Orang yang merasa memiliki sesuatu takut kehilangan.
  • Ia gelisah saat hartanya berkurang, takut sakit, takut mati, sehingga hidupnya penuh kecemasan.

⚡ Imam Al-Ghazali berkata:
“Orang yang menggantungkan hatinya pada dunia seperti seseorang yang bergantung pada dahan rapuh—pasti akan jatuh.”

📌 Pelajaran: Hanya orang yang sadar bahwa dunia ini titipan yang bisa tenang dalam hidupnya.


D. Kesedihan & Kekecewaan Berlebihan

  • Orang yang merasa memiliki sesuatu akan sangat sedih saat kehilangannya.
  • Ia merasa dunia tidak adil, padahal dunia memang bukan tempat kepemilikan abadi.

⚡ Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cintailah siapa yang engkau cintai sekedarnya, karena suatu saat engkau bisa membencinya. Dan bencilah siapa yang engkau benci sekedarnya, karena suatu saat engkau bisa mencintainya.” (HR. Tirmidzi)

📌 Pelajaran: Jangan terlalu melekat pada apa pun, karena semuanya bisa berubah.


E. Lupa kepada Allah & Akhirat

  • Orang yang merasa memiliki dunia sering kali melupakan pemilik sejatinya, yaitu Allah.
  • Ia sibuk dengan hartanya, jabatannya, keluarganya, sehingga lupa bahwa semuanya hanyalah titipan.

⚡ Allah berfirman:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba dalam kekayaan dan anak-anak...” (QS. Al-Hadid: 20)

📌 Pelajaran: Orang yang sadar bahwa dunia ini hanya titipan, akan lebih fokus pada akhirat.


3. Hikmah Para Ulama: Cara Melepaskan Rasa Memiliki

🟢 Imam Al-Ghazali: “Jangan bergantung kepada dunia, karena dunia hanya akan meninggalkanmu ketika engkau paling membutuhkannya.”

🟢 Syekh Abdul Qadir al-Jilani: “Jadilah seperti tamu di dunia. Jangan membangun rumah di tempat yang bukan tempat tinggalmu.”

🟢 Ibnu Atha’illah: “Engkau memiliki dunia ketika engkau tidak terikat dengannya. Tetapi dunia yang memiliki dirimu jika engkau terikat kepadanya.”


4. Solusi: Bagaimana Menyadari Bahwa Kita Tidak Memiliki Apa Pun?

✅ Zuhud (Tidak Terikat Dunia)

  • Bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.
  • Seperti tangan yang memegang air: jika digenggam erat, air akan tumpah. Tetapi jika dibiarkan mengalir, air tetap ada.

✅ Tawakkal (Berserah kepada Allah)

  • Menyadari bahwa semua yang kita "miliki" adalah titipan.
  • Jika Allah mengambilnya, kita tetap ridha.

✅ Syukur & Sabar

  • Jika diberi nikmat, kita bersyukur.
  • Jika diuji, kita bersabar, karena semua itu bukan milik kita.

✅ Dzikir & Tafakur

  • Mengingat bahwa semua akan kembali kepada Allah.
  • Menjadikan dunia hanya sebagai sarana menuju akhirat.

Bukan Milik Kita, Tetapi Milik Allah

Mengapa Manusia Merasa Memiliki?

Salah satu ujian terbesar dalam hidup adalah perasaan memiliki—baik itu terhadap harta, keluarga, jabatan, ilmu, atau bahkan kehidupan itu sendiri. Padahal, semua itu hanyalah titipan Allah.

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa rasa memiliki adalah bentuk ilusi yang timbul dari nafsu manusia. Ilusi ini berasal dari:

  1. Kecintaan terhadap dunia (hubbud dunya)
  2. Keterikatan terhadap materi dan status
  3. Ketidaksadaran akan kefanaan segala sesuatu

📌 Realitas yang harus dipahami:

  • Kita lahir tanpa membawa apa pun dan mati tanpa membawa apa pun.
  • Kepemilikan hanyalah sementara, dan Allah bisa mengambilnya kapan saja.
  • Dunia adalah "majaz" (sesuatu yang tidak hakiki), sedangkan Allah adalah "haqiqah" (kebenaran sejati).

Allah berfirman:
"Dan kepada Kamilah kamu akan dikembalikan." (QS. Al-Baqarah: 156)


Bagian 1: Dalil Al-Qur'an & Hadits tentang Kepemilikan Sejati

✅ Allah adalah Pemilik Mutlak:
"Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi." (QS. Al-Baqarah: 284)

✅ Manusia Hanya Diuji dengan Titipan:
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu." (QS. At-Taghabun: 15)

✅ Kematian Membuktikan Bahwa Kita Tidak Memiliki Apa Pun:
"Kami tidak melihat bersamamu para pemberi syafaat yang kamu sangka bahwa mereka sekutu-sekutu Allah, dan telah terputuslah hubungan antara kamu dan lenyaplah dari kamu apa yang dahulu kamu sangka." (QS. Al-An’am: 94)

📌 Kesimpulan: Semua yang kita kira milik kita akan sirna, kecuali amal dan hubungan kita dengan Allah.


Bagian 2: Akibat Buruk dari Merasa Memiliki Dunia

Dalam kitab Al-Hikam, Ibnu Atha'illah As-Sakandari mengingatkan:
"Ketika hatimu terikat dengan sesuatu, Allah akan membuatmu menderita karena sesuatu itu."

📌 Apa akibat buruk dari perasaan memiliki?

1. Kesombongan & Keangkuhan

  • Orang yang merasa memiliki sesuatu sering kali merasa lebih tinggi dari orang lain.
  • Ini adalah penyakit iblis, yang merasa lebih baik dari Adam karena penciptaannya.
  • Contoh dalam sejarah: Fir’aun, Qarun, dan Namrud, semuanya dihancurkan karena kesombongan mereka.

⚡ Kata-kata Imam Junaid Al-Baghdadi:
"Hati yang dipenuhi dengan keakuan (ana) adalah hijab terbesar antara manusia dan Allah."

📌 Pelajaran: Kesombongan akan berujung pada kehancuran.


2. Tamak & Tidak Pernah Puas

  • Orang yang merasa memiliki dunia tidak akan pernah merasa cukup.
  • Mereka menjadi tamak, rakus, dan terus mengejar dunia tanpa batas.
  • Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, pasti ia menginginkan yang ketiga.” (HR. Bukhari & Muslim)

⚡ Kata-kata Syekh Abdul Qadir al-Jilani:
"Jika engkau merasa dunia adalah milikmu, engkau akan diperbudak olehnya. Jika engkau merasa dunia hanyalah titipan, engkau akan bebas darinya."

📌 Pelajaran: Rasa memiliki melahirkan ketamakan, yang membuat hati tidak pernah puas.


3. Ketakutan Kehilangan (Khawf al-Faqr)

  • Orang yang merasa memiliki sesuatu akan takut kehilangannya.
  • Ini menyebabkan kecemasan, kesedihan berlebihan, dan penderitaan batin.

⚡ Imam Al-Ghazali berkata dalam Ihya’ Ulumuddin:
"Orang yang menggantungkan hatinya pada dunia seperti seseorang yang bergantung pada dahan rapuh—pasti akan jatuh."

📌 Pelajaran: Hanya orang yang sadar bahwa dunia ini titipan yang bisa tenang dalam hidupnya.


4. Lupa kepada Allah & Akhirat

  • Orang yang merasa memiliki dunia sering melupakan pemilik sejatinya, yaitu Allah.
  • Dunia menghalangi mereka dari ibadah, dzikir, dan amal saleh.

⚡ Kata-kata Ibnu Atha’illah As-Sakandari:
"Dunia adalah hijab bagi orang yang mencintainya, dan jalan bagi orang yang menjauhinya."

📌 Pelajaran: Orang yang sadar bahwa dunia ini hanya titipan akan lebih fokus pada akhirat.


Bagian 3: Solusi dalam Tasawuf untuk Melepaskan Rasa Memiliki

✅ 1. Zuhud (Tidak Terikat Dunia)

  • Zuhud bukan berarti miskin, tetapi tidak terikat dengan dunia.
  • Seperti tangan yang memegang air: jika digenggam erat, air akan tumpah. Jika dibiarkan mengalir, air tetap ada.

⚡ Kata-kata Syekh Ibnu Atha’illah:
"Jangan tertipu oleh dunia yang ada di tanganmu, karena yang ada di tanganmu bukan milikmu, melainkan ujian bagimu."


✅ 2. Tawakkal (Berserah kepada Allah)

  • Menyadari bahwa semua yang kita "miliki" adalah titipan yang bisa diambil kapan saja.
  • Jika Allah mengambilnya, kita tetap ridha.

⚡ Kata-kata Imam Malik:
"Siapa yang menggantungkan harapannya pada dunia, maka ia akan diperbudak olehnya. Siapa yang menggantungkan harapannya pada Allah, maka dunia akan melayaninya."


✅ 3. Dzikir & Tafakur

  • Dzikir menenangkan hati dan mengingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara.
  • Tafakur (merenung) tentang kefanaan dunia membantu kita untuk tidak terlalu melekat padanya.

⚡ Kata-kata Jalaluddin Rumi:
"Kelekatan pada dunia adalah rantai tak terlihat. Lepaskanlah, dan engkau akan menemukan kebebasan sejati."

💡 Pesan Akhir:
"Ketika engkau tidak memiliki apa pun, engkau memiliki segalanya, karena hatimu telah kosong dari dunia dan penuh dengan Allah."


Tubuh dan Nyawa Menurut Nabi Muhammad ﷺ 

Berikut adalah beberapa pernyataan Rasulullah ﷺ yang menunjukkan bahwa tubuh dan nyawa manusia bukanlah milik kita, melainkan titipan Allah yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan:

1. Tubuh adalah Amanah yang Harus Dijaga

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu." (HR. Bukhari & Muslim)

📌 Makna:

  • Tubuh bukan milik kita, tetapi amanah yang harus kita rawat dengan baik.
  • Kita tidak boleh menyiksanya dengan maksiat, berlebihan dalam makan atau bekerja, dan harus menjaga kesehatannya.

2. Manusia Tidak Berkuasa atas Nyawanya Sendiri

Rasulullah ﷺ bersabda:
_"Seorang hamba tidak boleh berdoa meminta kematian karena kesulitan yang menimpanya. Jika ia harus berdoa, hendaknya ia berkata: 'Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian lebih baik bagiku.'"_ (HR. Bukhari & Muslim)

📌 Makna:

  • Nyawa bukan milik kita, sehingga kita tidak boleh meminta mati atau mengakhirinya sendiri.
  • Hanya Allah yang berhak menentukan kapan seseorang hidup dan kapan harus kembali kepada-Nya.

3. Hidup di Dunia Hanyalah Persinggahan Sementara

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang musafir." (HR. Bukhari)

📌 Makna:

  • Dunia dan segala yang ada padanya bukanlah milik kita, termasuk tubuh dan nyawa kita.
  • Kita hanyalah pengembara yang sewaktu-waktu akan meninggalkan dunia ini.

4. Dilarang Menyakiti Tubuh Sendiri (Bunuh Diri & Maksiat)

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, maka ia akan disiksa dengan sesuatu itu pada hari kiamat." (HR. Bukhari & Muslim)

📌 Makna:

  • Tubuh dan nyawa kita bukan milik kita, sehingga kita tidak boleh merusaknya.
  • Baik dalam bentuk bunuh diri, merusak tubuh dengan maksiat, atau menzalimi diri sendiri.

5. Semua yang Kita Miliki Akan Dipertanggungjawabkan

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya bagaimana ia mengamalkannya, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan." (HR. Tirmidzi)

📌 Makna:

  • Tubuh dan nyawa kita bukan sekadar "milik" yang bebas kita gunakan sesuka hati.
  • Semuanya akan ditanya dan harus kita pertanggungjawabkan kepada Allah.



Tubuh dan Nyawa Menurut Para Ulama'

1. Imam Al-Ghazali (Ihya’ Ulumuddin)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa manusia hanyalah pengelola (mustakhlaf) atas tubuh dan kehidupannya, bukan pemilik sejati. Beliau berkata:

"Ketahuilah bahwa tubuh ini adalah kendaraan yang dipinjamkan oleh Allah untuk perjalanan menuju-Nya. Jika seseorang menyangka tubuhnya milik pribadi dan menggunakannya sesuka hati, maka ia telah melampaui batas sebagai seorang hamba."

📌 Makna:

  • Tubuh kita hanyalah alat untuk mencapai tujuan spiritual.
  • Penyalahgunaan tubuh dengan maksiat atau kelalaian adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah.

2. Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari (Al-Hikam)

Dalam Al-Hikam, Ibnu ‘Athaillah berkata:

"Sesungguhnya engkau dan apa yang kau miliki adalah milik Allah. Maka janganlah engkau merasa memiliki sesuatu yang pada hakikatnya bukan milikmu."

📌 Makna:

  • Bahkan diri kita sendiri bukan milik kita, apalagi harta dan dunia.
  • Kesadaran ini membawa seseorang kepada sikap tawakal dan zuhud, sehingga tidak terlalu mencintai dunia dan takut kehilangan.

3. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani (Al-Fath Ar-Rabbani)

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata:

"Wahai manusia, tubuhmu ini bukan milikmu. Jangan gunakan untuk sesuatu yang diharamkan Allah. Sesungguhnya tubuhmu adalah milik-Nya, dan akan dikembalikan kepada-Nya."

📌 Makna:

  • Tubuh adalah amanah yang akan dikembalikan kepada Allah.
  • Jika tubuh digunakan untuk dosa, maka kita telah mengkhianati pemiliknya.

4. Jalaluddin Rumi (Matsnawi Ma’nawi)

Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi Ma’nawi berkata:

"Janganlah berkata bahwa ini tubuhku, karena ia bukan milikmu. Ia hanyalah pakaian yang kau kenakan di dunia dan akan kau tanggalkan di kubur."

📌 Makna:

  • Tubuh ini hanya "pakaian" sementara.
  • Seperti pakaian yang akan kita tinggalkan, tubuh pun akan hancur di tanah, sementara ruh melanjutkan perjalanannya.

5. Imam Junaid Al-Baghdadi

Imam Junaid Al-Baghdadi berkata:

"Orang yang menyangka dirinya memiliki tubuh ini adalah orang yang tertipu. Sesungguhnya yang sejati hanyalah ruh yang berserah kepada Tuhannya."

📌 Makna:

  • Hanya ruh yang memiliki hubungan abadi dengan Allah.
  • Orang yang menyadari bahwa tubuh hanyalah alat akan lebih fokus pada penyucian ruh.

6. Imam Ibnu Arabi (Fusus Al-Hikam & Futuhat Al-Makkiyah)

Dalam Fusus Al-Hikam, Ibnu Arabi menjelaskan:

"Manusia tidak memiliki sesuatu apa pun, bahkan dirinya sendiri. Segala yang ada pada dirinya hanyalah bayangan dari keberadaan hakiki Allah. Jika ia menyangka memiliki, maka ia telah jatuh dalam ilusi kepemilikan."

📌 Makna:

  • Segala sesuatu dalam diri kita, termasuk tubuh dan nyawa, hanyalah manifestasi kehendak Allah.
  • Orang yang menyangka dirinya memiliki sesuatu telah jatuh dalam wahm (ilusi duniawi).

Dalam Futuhat Al-Makkiyah, Ibnu Arabi juga menyebutkan:

"Hidupmu bukan milikmu, ia hanyalah pancaran cahaya Ilahi dalam jasad yang fana. Jika Allah menghendaki, Ia akan mencabut cahayanya, dan jasad itu kembali ke tanah."

📌 Makna:

  • Nyawa adalah pancaran kehidupan dari Allah, bukan sesuatu yang kita miliki.
  • Kematian bukanlah kehilangan, tetapi kembalinya sesuatu kepada pemilik sejati.

7. Syaikh Ahmad Al-Alawi (Kitab Al-Minaḥ Al-Quddusiyyah)

Syaikh Ahmad Al-Alawi, seorang sufi abad ke-20, menulis dalam Al-Minaḥ Al-Quddusiyyah:

"Jangan katakan ‘aku memiliki tubuhku’ atau ‘aku memiliki hidupku’. Karena sesungguhnya, yang kau sebut ‘aku’ itu sendiri bukanlah milikmu."

📌 Makna:

  • Bahkan kesadaran "aku" pun bukan milik kita, melainkan hasil pemberian Allah.
  • Segala perasaan memiliki harus ditinggalkan demi mencapai kesadaran tauhid yang sejati.

8. Imam Al-Hallaj (Kitab At-Tawasin)

Manshur Al-Hallaj dalam At-Tawasin menulis:

"Aku adalah kehampaan di hadapan-Nya. Jika Ia menghendaki, Ia meniupkan kehidupan padaku. Jika Ia menghendaki, Ia menarik kembali ruh-Nya dariku. Aku bukan pemilik apa pun."

📌 Makna:

  • Manusia hanyalah "wadah kosong" yang diisi oleh kehidupan dari Allah.
  • Segala yang kita miliki, termasuk tubuh dan nyawa, bisa diambil kapan saja.

9. Syaikh Ibnu Ajibah (Iqaz Al-Himam fi Syarh Al-Hikam)

Dalam kitabnya yang menjelaskan Al-Hikam, Syaikh Ibnu Ajibah berkata:

"Selama engkau masih mengira tubuh ini milikmu, maka engkau belum mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Karena yang memiliki tubuh ini adalah Allah, dan yang berhak mengatur segala sesuatu adalah Dia."

📌 Makna:

  • Kesadaran hakiki tentang Allah membawa kita pada pemahaman bahwa kita tidak memiliki apa pun.
  • Semakin seseorang sadar bahwa dirinya hanyalah milik Allah, semakin ia pasrah dan ridha terhadap segala ketetapan-Nya.

10. Syaikh Abu Madyan (Kitab Unwan At-Taufiq)

Dalam Unwan At-Taufiq, Syaikh Abu Madyan berkata:

"Orang yang mengenal Allah tidak akan pernah berkata ‘ini milikku’, karena semua adalah kepunyaan-Nya. Bahkan tubuh yang kau pakai untuk bersujud pun bukan milikmu."

📌 Makna:

  • Kesadaran spiritual yang tinggi membawa seseorang pada sikap pengosongan diri (tajrid) dari rasa memiliki.
  • Tubuh ini bukan milik kita, sehingga harus digunakan sesuai dengan kehendak Allah.

11. Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili (Kitab Hizb Al-Bahr & Latha’if Al-Minan)

Dalam Latha’if Al-Minan, Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili berkata:

"Seorang hamba yang sejati adalah yang tidak melihat sesuatu pun sebagai miliknya, termasuk dirinya sendiri. Karena segala sesuatu adalah milik Allah, dan seorang hamba hanya menjalankan amanah yang diberikan kepadanya."

📌 Makna:

  • Hamba yang mencapai kesadaran sejati akan melihat bahwa dirinya bukanlah pemilik, tetapi hanya seorang yang dititipi oleh Allah.
  • Sikap merasa memiliki sesuatu adalah penghalang dalam perjalanan menuju Allah.

12. Syaikh Ahmad Ibn Idris (Kitab Al-Iqaz)

Dalam Al-Iqaz, Syaikh Ahmad Ibn Idris menulis:

"Tubuh ini hanyalah sarana untuk perjalanan menuju-Nya. Barang siapa mengira bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri, maka ia telah melupakan hakikatnya sebagai hamba."

📌 Makna:

  • Tubuh adalah alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sesuatu yang boleh digunakan sesuka hati.
  • Orang yang menyangka dirinya memiliki tubuhnya sendiri akan terjebak dalam dunia dan melupakan tujuan akhir.

13. Syaikh Ibnu Al-Farid (Diwan Al-Hubb)

Syaikh Ibnu Al-Farid, seorang penyair sufi besar, dalam puisinya berkata:

"Tubuh ini hanyalah pinjaman, dan ruhku hanyalah tamu dalam dunia yang fana. Jika Sang Pemilik menghendaki, maka ruh pun kembali kepada-Nya."

📌 Makna:

  • Tubuh adalah pinjaman, dan ruh hanyalah tamu sementara dalam kehidupan dunia.
  • Manusia harus selalu siap untuk kembali kepada Allah kapan saja.

14. Syaikh Abdul Karim Al-Jili (Kitab Al-Insan Al-Kamil)

Dalam Al-Insan Al-Kamil, Syaikh Abdul Karim Al-Jili menjelaskan:

"Ketahuilah bahwa yang sejati hanyalah Allah. Adapun dirimu, tubuhmu, dan nyawamu hanyalah pantulan dari keberadaan-Nya. Maka janganlah engkau menyangka memiliki sesuatu yang hakikatnya bukan milikmu."

📌 Makna:

  • Semua yang kita anggap sebagai "milik" kita hanyalah bayangan dari keberadaan Allah.
  • Orang yang mencapai makrifat akan menyadari bahwa ia bukanlah pemilik, melainkan hanya bagian dari ciptaan Allah yang fana.

15. Syaikh Muhammad Zaki Ibrahim (Kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah)

Dalam Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah, Syaikh Muhammad Zaki Ibrahim menyatakan:

"Manusia adalah seorang musafir dalam perjalanan yang singkat. Segala yang ada padanya hanyalah titipan sementara. Maka janganlah engkau terikat kepada sesuatu yang bukan milikmu."

📌 Makna:

  • Hidup adalah perjalanan singkat, dan tubuh hanyalah kendaraan dalam perjalanan ini.
  • Keterikatan kepada tubuh dan dunia adalah sebab utama kegelisahan manusia.

16. Syaikh Abu Sa’id Al-Kharraz (Kitab As-Shidq)

Dalam As-Shidq, Syaikh Abu Sa’id Al-Kharraz berkata:

"Seorang hamba yang sejati adalah yang tidak mengklaim kepemilikan atas apa pun, bahkan atas dirinya sendiri. Karena siapa yang mengira memiliki, maka ia telah menghalangi dirinya dari kebersatuan dengan kehendak Allah."

📌 Makna:

  • Merasa memiliki tubuh dan nyawa adalah penghalang dalam perjalanan menuju Allah.
  • Seorang hamba sejati akan melihat dirinya sebagai milik Allah sepenuhnya.

17. Syaikh Bayazid Al-Bustami (Kitab Asrar Al-Tawhid)

Dalam Asrar Al-Tawhid, Syaikh Bayazid Al-Bustami berkata:

"Aku adalah cermin bagi cahaya-Nya. Jika Ia menghendaki, cermin itu bersinar. Jika Ia menghendaki, cermin itu gelap. Aku tidak memiliki apa pun dalam diriku."

📌 Makna:

  • Manusia hanyalah pantulan kehendak Allah, bukan pemilik sejati tubuh dan nyawanya.
  • Kesadaran ini membawa seseorang pada penghambaan total kepada Allah.

18. Syaikh Shihabuddin As-Suhrawardi (Kitab Awarif Al-Ma’arif)

Dalam Awarif Al-Ma’arif, Syaikh Shihabuddin As-Suhrawardi menulis:

"Tubuh ini adalah wadah yang dipercayakan kepadamu. Jaga ia sebagaimana seorang yang diberi amanah menjaga sesuatu yang bukan miliknya."

📌 Makna:

  • Tubuh adalah amanah, bukan kepemilikan pribadi.
  • Kita harus menggunakannya sesuai dengan kehendak Allah, bukan hawa nafsu kita.

19. Syaikh Najmuddin Al-Kubra (Kitab Fawatih Al-Jamal)

Dalam Fawatih Al-Jamal, Syaikh Najmuddin Al-Kubra berkata:

"Jika engkau mengira tubuh dan nyawamu adalah milikmu, maka engkau belum mengenal Allah. Karena segala sesuatu adalah milik-Nya, dan engkau hanyalah seorang musafir di dunia ini."

📌 Makna:

  • Kesadaran akan ketidakmemilikan membawa seseorang pada tauhid yang lebih dalam.
  • Dunia hanyalah tempat singgah, bukan tempat kepemilikan abadi.

20. Syaikh Abu Hamid Al-Maliki (Kitab Sirr Al-Asrar)

Dalam Sirr Al-Asrar, Syaikh Abu Hamid Al-Maliki menjelaskan:

"Sesungguhnya tubuh dan nyawamu adalah titipan dari Allah. Maka janganlah engkau menggunakannya untuk sesuatu yang menjauhkanmu dari-Nya."

📌 Makna:

  • Tubuh harus digunakan untuk ibadah, bukan kesenangan dunia semata.
  • Menyalahgunakan tubuh adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah.


21. Syaikh Abu Abdullah At-Tirmidzi (Kitab Khatm Al-Wilayah)

Dalam Khatm Al-Wilayah, Syaikh At-Tirmidzi menulis:

"Allah telah memberikan jasad kepadamu sebagai pakaian sementara. Maka janganlah engkau tertipu dan mengira bahwa pakaian itu adalah dirimu."

📌 Makna:

  • Jasad hanyalah pakaian ruh yang sementara, bukan kepemilikan sejati.
  • Jika seseorang terikat dengan tubuhnya, maka ia telah tertipu oleh dunia.

22. Syaikh Abd Al-Qadir Al-Jilani (Kitab Al-Ghunyah li Thalibi Thariq Al-Haqq)

Dalam Al-Ghunyah, Syaikh Abd Al-Qadir Al-Jilani berkata:

"Janganlah engkau mengatakan ‘tubuhku’ atau ‘hidupku’, karena segala sesuatu adalah kepunyaan Allah. Ia memberikannya kepadamu sebagai amanah, dan Ia akan mengambilnya kembali ketika Ia menghendaki."

📌 Makna:

  • Segala sesuatu di dunia ini adalah titipan dari Allah.
  • Tidak ada yang benar-benar kita miliki, bahkan tubuh dan nyawa kita sendiri.

23. Syaikh Abu Madyan Al-Ghauts (Kitab Unwan At-Taufiq)

Dalam Unwan At-Taufiq, Syaikh Abu Madyan berkata:

"Orang yang arif tidak akan pernah berkata ‘ini milikku’, karena ia menyadari bahwa dirinya hanyalah milik Allah. Bahkan jasad yang ia gunakan untuk bersujud pun bukan kepunyaannya."

📌 Makna:

  • Orang yang mengenal Allah tidak akan merasa memiliki apa pun.
  • Kesadaran ini membawa seseorang pada ketundukan total kepada Allah.

24. Syaikh Muhammad Ibn Al-Habib (Kitab Diwan Al-Habib)

Syaikh Muhammad Ibn Al-Habib berkata dalam puisinya:

"Diriku bukan milikku, tetapi milik Yang Maha Esa. Aku hanyalah perahu di lautan takdir-Nya."

📌 Makna:

  • Manusia harus sadar bahwa ia hanyalah hamba yang mengikuti ketetapan Allah.
  • Tubuh dan nyawa hanyalah bagian dari perjalanan menuju Allah.

25. Syaikh Ahmad Zarruq (Kitab Qawa’id At-Tasawwuf)

Dalam Qawa’id At-Tasawwuf, Syaikh Ahmad Zarruq berkata:

"Seseorang tidak akan mencapai hakikat tawakal hingga ia menyadari bahwa dirinya bukan miliknya sendiri. Apa pun yang ada padanya adalah amanah yang harus dijaga sesuai kehendak Allah."

📌 Makna:

  • Tawakal sejati datang dari kesadaran bahwa kita bukan pemilik tubuh dan nyawa kita sendiri.
  • Semua yang kita miliki hanyalah amanah yang harus kita pertanggungjawabkan.


26. Syaikh Al-Hakim At-Tirmidzi (Kitab Khatm Al-Auliya')

Dalam Khatm Al-Auliya', Syaikh Al-Hakim At-Tirmidzi menulis:

"Sesungguhnya ruh itu ditiupkan ke dalam jasad sebagaimana seorang raja mengutus wakilnya ke suatu negeri. Jika utusan itu merasa memiliki negeri itu, ia telah mengkhianati tugasnya."

📌 Makna:

  • Ruh hanyalah amanah yang ditempatkan dalam tubuh untuk menjalankan tugas di dunia.
  • Menganggap tubuh sebagai milik pribadi berarti mengkhianati amanah Allah.

27. Syaikh Abu Talib Al-Makki (Kitab Qut Al-Qulub)

Dalam Qut Al-Qulub, Syaikh Abu Talib Al-Makki berkata:

"Orang yang mengira tubuhnya adalah miliknya sendiri akan terjerat dalam nafsu. Sebaliknya, orang yang menyadari bahwa tubuhnya hanyalah pinjaman akan menjaganya dengan penuh tanggung jawab."

📌 Makna:

  • Merasa memiliki tubuh adalah penyebab keterikatan duniawi.
  • Kesadaran bahwa tubuh hanyalah titipan akan membawa seseorang pada kehidupan yang lebih bertanggung jawab.

28. Syaikh Abd Al-Karim Al-Qushayri (Kitab Ar-Risalah Al-Qushayriyyah)

Dalam Ar-Risalah Al-Qushayriyyah, beliau menjelaskan:

"Hakikat seorang hamba adalah tidak memiliki apa pun, bahkan dirinya sendiri. Seorang sufi tidak berkata ‘ini milikku’, melainkan ‘ini amanah dari Allah’."

📌 Makna:

  • Seorang sufi sejati akan selalu merasa bahwa dirinya hanya seorang penjaga amanah.
  • Segala sesuatu, termasuk tubuh dan nyawa, bukanlah milik pribadi.

29. Syaikh Shamsuddin At-Tabrizi (Kitab Maqalat-i Shams-i Tabrizi)

Dalam Maqalat-i Shams-i Tabrizi, beliau menulis:

"Dunia ini bukan milikmu. Tubuhmu bukan milikmu. Bahkan nafas yang kau hirup hanyalah pinjaman. Mengapa engkau begitu melekat pada sesuatu yang bukan kepunyaanmu?"

📌 Makna:

  • Segala yang ada dalam hidup ini adalah pinjaman, termasuk tubuh dan nyawa.
  • Keterikatan kepada tubuh akan menghambat perjalanan menuju Allah.

30. Syaikh Ibn ‘Ajibah (Kitab Mi’raj At-Tashawwuf Ila Haqaiq At-Tarīqah)

Dalam Mi’raj At-Tashawwuf, Syaikh Ibn ‘Ajibah berkata:

"Ketika seorang sufi mencapai hakikat makrifat, ia akan menyadari bahwa tubuhnya hanyalah debu yang ditiupkan oleh Allah. Ia bukan miliknya sendiri, dan kapan saja bisa diambil kembali."

📌 Makna:

  • Tubuh manusia tidak lebih dari debu yang sementara ada di dunia ini.
  • Tidak ada alasan untuk merasa memilikinya, karena semuanya akan kembali kepada Allah.


31. Syaikh Sahl bin Abdullah At-Tustari (Kitab Tafsir At-Tustari)

Dalam Tafsir At-Tustari, beliau berkata:

"Jasad adalah bayangan, dan bayangan tidak memiliki wujud sendiri. Jika engkau mengira memiliki jasad ini, maka engkau telah tertipu oleh ilusi."

📌 Makna:

  • Tubuh hanyalah refleksi dari kehendak Allah, bukan kepemilikan sejati manusia.
  • Menganggap tubuh sebagai milik pribadi berarti terperangkap dalam ilusi duniawi.

32. Syaikh Ibn Al-Farid (Kitab Diwan Ibn Al-Farid)

Dalam puisinya, Ibn Al-Farid menulis:

"Nyawaku bukan nyawaku, tubuhku bukan tubuhku. Aku hanyalah ruh yang berjalan menuju kekasihnya."

📌 Makna:

  • Manusia bukan pemilik tubuh dan nyawa, melainkan sekadar musafir menuju Allah.
  • Kesadaran ini membawa seseorang kepada penghambaan sejati.

33. Syaikh Abdul Haqq Al-Dihlawi (Kitab Akhbar Al-Akhyar)

Dalam Akhbar Al-Akhyar, beliau menulis:

"Seorang sufi tidak memiliki apa pun, bahkan dirinya sendiri. Jika ia merasa memiliki tubuh dan nyawa, maka ia belum mencapai kefanaan dalam Allah."

📌 Makna:

  • Seorang sufi sejati melepas semua rasa memiliki, termasuk terhadap dirinya sendiri.
  • Kepemilikan sejati hanya ada di tangan Allah.

34. Syaikh Ahmad Al-Alawi (Kitab Al-Mafakhir Al-‘Aliyyah fi Al-Ma’tsir Asy-Syadziliyyah)

Dalam Al-Mafakhir Al-‘Aliyyah, beliau berkata:

"Engkau diberi tubuh untuk sementara, tetapi engkau bertindak seakan-akan engkau pemiliknya. Sesungguhnya ia hanyalah pinjaman yang akan diambil kembali."

📌 Makna:

  • Tubuh hanyalah titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil Allah.
  • Kesadaran ini membawa seseorang kepada sikap rendah hati dan berserah diri.

35. Syaikh Ruzbihan Baqli (Kitab ‘Ara’is Al-Bayan)

Dalam ‘Ara’is Al-Bayan, beliau menjelaskan:

"Milikilah dunia dengan tanganmu, tetapi jangan dengan hatimu. Bahkan tubuh dan nyawamu bukanlah milikmu. Maka jangan kau ikat hatimu pada sesuatu yang akan kembali kepada-Nya."

📌 Makna:

  • Jangan terikat dengan tubuh dan nyawa, karena keduanya bukan milik kita.
  • Kesadaran ini akan membawa seseorang kepada kebebasan spiritual.


36. Syaikh Al-Jilli (Kitab Al-Insan Al-Kamil)

Dalam Al-Insan Al-Kamil, Syaikh Al-Jilli menulis:

"Jasadmu hanyalah cermin yang memantulkan hakikat-Nya. Jika engkau merasa memilikinya, maka engkau telah menghalangi cahaya Ilahi."

📌 Makna:

  • Tubuh bukan milik kita, tetapi alat yang Allah berikan untuk menampakkan keberadaan-Nya.
  • Merasa memiliki tubuh adalah penghalang untuk mencapai makrifat kepada Allah.

37. Syaikh Yusuf Al-Nabhani (Kitab Jami’ Karamat Al-Awliya’)

Dalam Jami’ Karamat Al-Awliya’, Syaikh Yusuf Al-Nabhani berkata:

"Para wali Allah tidak melihat tubuh mereka sebagai milik pribadi, tetapi sebagai wadah untuk menjalankan perintah-Nya. Mereka siap menyerahkannya kapan pun Dia menghendaki."

📌 Makna:

  • Tubuh hanyalah wadah untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.
  • Orang yang sadar bahwa tubuhnya bukan miliknya akan lebih ikhlas dalam beribadah.

38. Syaikh Najmuddin Al-Kubra (Kitab Fawatih Al-Jamal)

Dalam Fawatih Al-Jamal, beliau menulis:

"Janganlah engkau menyangka bahwa tubuh ini adalah milikmu. Ia hanyalah perahu yang mengantarkan ruh kepada tujuan akhirnya."

📌 Makna:

  • Tubuh hanya alat untuk membawa ruh kepada Allah.
  • Mengikat diri kepada tubuh berarti lupa akan hakikat perjalanan spiritual.

39. Syaikh Shihabuddin As-Suhrawardi (Kitab Awarif Al-Ma’arif)

Dalam Awarif Al-Ma’arif, Syaikh As-Suhrawardi berkata:

"Orang yang arif tidak berkata ‘ini tubuhku’, tetapi ia berkata ‘ini amanah yang harus kupertanggungjawabkan di hadapan Allah’."

📌 Makna:

  • Kesadaran bahwa tubuh hanyalah amanah akan membuat seseorang lebih bertanggung jawab.
  • Orang yang merasa memiliki tubuh akan cenderung mengikuti hawa nafsu.

40. Syaikh Jalaluddin Rumi (Kitab Masnawi-i Ma’nawi)

Dalam Masnawi-i Ma’nawi, Jalaluddin Rumi menulis:

"Engkau datang ke dunia ini tanpa membawa apa pun, dan engkau akan pergi tanpa membawa tubuhmu. Maka mengapa engkau mengira bahwa tubuh ini milikmu?"

📌 Makna:

  • Tubuh hanyalah pinjaman yang akan ditinggalkan saat kematian.
  • Kesadaran ini akan membebaskan manusia dari keterikatan duniawi.

41. Syaikh Abu Yazid Al-Busthami (Kitab Asrar Al-Tawhid)

Dalam Asrar Al-Tawhid, Syaikh Abu Yazid Al-Busthami berkata:

"Seorang hamba yang sejati tidak berkata ‘aku memiliki’, melainkan ‘aku diamanahi’. Jika tubuh ini milikku, maka aku akan bisa menjaganya dari kematian."

📌 Makna:

  • Manusia tidak bisa mengklaim kepemilikan tubuh karena ia tidak bisa mempertahankannya selamanya.
  • Kesadaran ini membawa kepada sikap tawakal dan kepasrahan kepada Allah.

42. Syaikh Abu Madyan Al-Ghawts (Kitab Unwan At-Tawfiq)

Dalam Unwan At-Tawfiq, beliau menulis:

"Engkau bukan pemilik tubuh ini, tetapi hanya penjaganya. Gunakan ia untuk ketaatan sebelum ia dikembalikan kepada Pemiliknya."

📌 Makna:

  • Tubuh harus digunakan dalam ibadah karena ia hanyalah titipan.
  • Orang yang menyadari hakikat ini akan lebih berhati-hati dalam hidupnya.

43. Syaikh Ahmad Zarruq (Kitab Qawa’id At-Tasawwuf)

Dalam Qawa’id At-Tasawwuf, Syaikh Ahmad Zarruq menjelaskan:

"Segala sesuatu yang berada di tanganmu, termasuk tubuhmu, bukan milikmu. Jika engkau merasa memilikinya, maka engkau telah terjatuh dalam ujian kepemilikan semu."

📌 Makna:

  • Dunia dan tubuh bukanlah milik sejati manusia.
  • Kesadaran ini mengajarkan sikap zuhud dan tidak terikat dengan dunia.

44. Syaikh Al-Qashani (Kitab Ta’wilat Al-Sufiyyah)

Dalam Ta’wilat Al-Sufiyyah, Syaikh Al-Qashani berkata:

"Jasad ini hanyalah pakaian bagi ruh. Ia bukan dirimu, dan engkau akan meninggalkannya suatu hari nanti."

📌 Makna:

  • Tubuh hanyalah lapisan luar, sementara hakikat manusia adalah ruh.
  • Tidak ada gunanya merasa memiliki sesuatu yang pasti akan ditinggalkan.

45. Syaikh Fakhruddin ‘Iraqi (Kitab Lama’at)

Dalam Lama’at, beliau menulis:

"Janganlah engkau tertipu oleh tubuh yang fana ini. Ia datang dan pergi seperti angin, sementara hakikatmu tetap di sisi Tuhan."

📌 Makna:

  • Tubuh bersifat sementara dan tidak layak untuk dijadikan pegangan utama dalam hidup.
  • Kesadaran ini akan membawa seseorang kepada kehidupan yang lebih spiritual.


46. Syaikh Abu Ali Ad-Daqqaq (Kitab Al-Ma’arif fi Al-Tasawwuf)

Beliau berkata:

"Seorang hamba yang mengira bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri telah tertipu oleh dunia. Sebab, tubuh hanyalah sarana untuk mengabdi kepada Tuhan."

📌 Makna:

  • Merasa memiliki tubuh adalah ilusi yang menjauhkan dari Allah.
  • Tubuh seharusnya digunakan untuk ketaatan, bukan sebagai alat kesombongan.

47. Syaikh Ibn ‘Ajibah (Kitab Mi’raj At-Tashawwuf)

Dalam Mi’raj At-Tashawwuf, beliau menulis:

"Tubuh hanyalah kendaraan ruh, dan kendaraan ini akan hancur. Maka janganlah engkau melekat pada sesuatu yang fana."

📌 Makna:

  • Kesadaran akan kefanaan tubuh membawa manusia lebih dekat kepada Allah.
  • Melekat pada tubuh hanya akan membawa kekecewaan karena sifatnya yang sementara.


48. Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili (Kitab Hizb Al-Bahr)

Beliau berkata:

"Wahai hamba Allah, ketahuilah bahwa tubuhmu bukan milikmu, ia adalah amanah. Maka jangan engkau gunakan untuk sesuatu yang membuat Pemiliknya murka."

📌 Makna:

  • Tubuh bukan hak mutlak manusia, melainkan milik Allah yang harus dijaga sesuai perintah-Nya.
  • Menggunakan tubuh untuk maksiat adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah.

49. Syaikh Abd Al-Qadir Al-Jilani (Kitab Al-Fath Ar-Rabbani)

Dalam Al-Fath Ar-Rabbani, beliau berkata:

"Janganlah engkau tertipu dengan kesehatan dan kekuatan tubuhmu, karena ia hanyalah pinjaman yang sewaktu-waktu akan dicabut."

📌 Makna:

  • Manusia tidak memiliki kendali mutlak atas tubuhnya.
  • Kesadaran ini mengajarkan kerendahan hati dan ketergantungan kepada Allah.

50. Syaikh Al-Hallaj (Kitab Thawasin)

Dalam Thawasin, beliau menulis:

"Tubuh ini hanyalah bayangan yang akan lenyap. Yang sejati hanyalah ruh yang kembali kepada Tuhan."

📌 Makna:

  • Tubuh bersifat fana, sementara ruh adalah hakikat yang abadi.
  • Janganlah terlalu terikat dengan tubuh karena ia akan ditinggalkan.


51. Syaikh Abu Sa’id Al-Kharraz (Kitab Shidq At-Tawakkul)

Beliau berkata:

"Seorang hamba yang hakiki tidak mengaku memiliki sesuatu, bahkan tubuhnya sendiri. Ia hanya seorang penyewa yang akan mengembalikannya kepada Pemiliknya."

📌 Makna:

  • Tubuh ini hanya dipinjamkan sementara dan bukan kepemilikan sejati manusia.
  • Kesadaran ini melahirkan sikap tawakal dan ketidakmelekatan terhadap dunia.

52. Syaikh Abu Sulaiman Ad-Darani (Kitab Al-Maqamat wa Al-Ahwal)

Dalam Al-Maqamat wa Al-Ahwal, beliau menulis:

"Jika tubuh ini milik kita, mengapa kita tidak bisa menolak sakit dan kematian? Maka ketahuilah bahwa ia hanya titipan, bukan kepemilikan."

📌 Makna:

  • Manusia tidak memiliki kendali penuh atas tubuhnya.
  • Kesadaran ini membimbing seseorang untuk menyerahkan diri kepada Allah.

53. Syaikh Abu Abdullah At-Tirmidzi (Kitab Khatm Al-Wilayah)

Beliau menjelaskan:

"Orang yang mengira dirinya memiliki tubuhnya telah tertipu oleh wujudnya sendiri. Sebab, tubuh itu hanyalah alat yang akan ditinggalkan."

📌 Makna:

  • Tubuh hanyalah sarana yang digunakan untuk perjalanan menuju Allah.
  • Melekat pada tubuh berarti terjebak dalam ilusi duniawi.

54. Syaikh Al-Hujwiri (Kitab Kashf Al-Mahjub)

Beliau berkata:

"Manusia bukan pemilik dirinya sendiri, sebab ia diciptakan tanpa izin dan akan mati tanpa kehendaknya. Maka, bagaimana mungkin ia mengaku memiliki tubuhnya?"

📌 Makna:

  • Manusia tidak memiliki kendali atas penciptaan dan kematiannya.
  • Kepemilikan sejati hanyalah milik Allah, dan manusia hanyalah penerima amanah.

55. Syaikh Najmuddin Al-Kubra (Kitab Fawatih Al-Jamal)

Dalam Fawatih Al-Jamal, beliau menulis:

"Tubuh ini seperti perahu yang mengantar ruh menuju tujuan. Tetapi perahu bukan milik kita, ia hanya sarana untuk kembali kepada-Nya."

📌 Makna:

  • Tubuh hanyalah alat yang digunakan dalam perjalanan spiritual.
  • Manusia tidak seharusnya terikat dengan tubuh karena hakikatnya adalah ruh.

56. Syaikh Syihabuddin As-Suhrawardi (Kitab Awarif Al-Ma’arif)

Beliau menjelaskan:

"Jika tubuh ini milikmu, mengapa ia tetap sakit dan tua meski engkau menolak? Ketahuilah bahwa ia hanyalah amanah dari Pemilik sejati."

📌 Makna:

  • Manusia tidak memiliki kontrol penuh atas tubuhnya.
  • Kesadaran akan ketidakkekalan tubuh membawa seseorang pada ketawakalan kepada Allah.

57. Syaikh Ibn Atho’illah As-Sakandari (Kitab Al-Hikam)

Beliau berkata:

"Janganlah engkau bergantung kepada sesuatu yang tidak engkau miliki. Tubuhmu bukan milikmu, maka jangan engkau sombong dengan kekuatannya atau takut dengan kelemahannya."

📌 Makna:

  • Manusia tidak boleh tertipu dengan kekuatan fisiknya, karena itu hanyalah titipan sementara.
  • Kesadaran ini menuntun seseorang untuk lebih berserah diri kepada Allah.

58. Syaikh Al-Junaid Al-Baghdadi (Kitab Rasail Junaid)

Dalam Rasail Junaid, beliau menulis:

"Hakikat seorang hamba adalah kesadaran bahwa dirinya bukanlah pemilik apa pun, bahkan dirinya sendiri. Sebab, hamba adalah milik Tuannya."

📌 Makna:

  • Seorang hamba sejati tidak merasa memiliki apa pun.
  • Pengakuan ini menjadikannya lebih berserah dan tidak terikat dengan dunia.

59. Syaikh Al-Ghazali (Kitab Ihya’ Ulum Ad-Din)

Dalam Ihya’ Ulum Ad-Din, beliau menjelaskan:

"Ketika engkau menyadari bahwa tubuh ini hanyalah pinjaman, engkau tidak akan menggunakannya kecuali dalam ketaatan kepada Pemiliknya."

📌 Makna:

  • Tubuh yang bukan milik kita harus digunakan sesuai kehendak pemiliknya, yaitu Allah.
  • Kesadaran ini melahirkan ketaatan dan pengabdian yang lebih tinggi.

60. Syaikh Ahmad Ibn Ajibah (Kitab Iqaz Al-Himam)

Beliau berkata:

"Ketahuilah bahwa tubuhmu hanyalah pakaian bagi ruh. Ia akan ditanggalkan, maka janganlah engkau tertipu dengan keindahannya."

📌 Makna:

  • Tubuh seperti pakaian yang suatu saat akan dilepas.
  • Jangan terikat dengan tubuh karena yang sejati adalah ruh.

61. Syaikh Abdul Karim Al-Jili (Kitab Al-Insan Al-Kamil)

Dalam Al-Insan Al-Kamil, beliau menulis:

"Tubuh adalah manifestasi dari perintah Allah. Ia bukan milikmu, melainkan alat untuk menampakkan kehendak-Nya."

📌 Makna:

  • Tubuh adalah ciptaan Allah yang digunakan untuk menjalankan perintah-Nya.
  • Tidak ada kepemilikan sejati atas tubuh, karena ia adalah amanah.

62. Syaikh Fakhruddin Al-Iraqi (Kitab Lama’at)

Beliau menjelaskan:

"Jika tubuh ini milikmu, mengapa ia tetap tunduk kepada hukum waktu dan kematian? Ketahuilah bahwa ia hanyalah bayangan dari kehendak Allah."

📌 Makna:

  • Manusia tidak memiliki kendali penuh atas tubuhnya, karena ia tunduk pada hukum Allah.
  • Kesadaran ini membawa manusia kepada sikap tawakal dan zuhud.

63. Syaikh Abu Madyan (Kitab Uns Al-Wahid wa Nuzhat Al-Murid)

Beliau berkata:

"Tubuh adalah perahu yang mengantarkanmu ke lautan Ilahi. Jangan terikat pada perahu, karena yang kau tuju adalah samudra."

📌 Makna:

  • Tubuh hanyalah sarana untuk mencapai Allah, bukan tujuan akhir.
  • Melekat pada tubuh berarti melupakan perjalanan menuju Allah.

64. Syaikh Muhammad Al-Arabi Ad-Darqawi (Kitab Rasail Ad-Darqawiyyah)

Dalam Rasail Ad-Darqawiyyah, beliau menulis:

"Sesungguhnya tubuhmu adalah titipan yang diberikan Allah untuk ibadah. Gunakan dengan benar, karena suatu saat titipan itu akan diambil."

📌 Makna:

  • Tubuh harus digunakan sesuai kehendak Allah karena ia adalah titipan.
  • Kesadaran ini mengajarkan disiplin dalam menjaga tubuh dan menjauhi maksiat.

65. Syaikh Yusuf An-Nabhani (Kitab Jami’ Karamat Al-Awliya’)

Beliau menjelaskan:

"Jika engkau mengira tubuhmu adalah milikmu, maka cobalah menahannya dari kematian. Ketahuilah bahwa tubuh adalah pinjaman yang akan kembali kepada Pemiliknya."

📌 Makna:

  • Manusia tidak memiliki kuasa atas tubuhnya sendiri.
  • Tubuh akan kembali kepada Allah, sehingga tidak layak untuk disombongkan.

66. Syaikh Abu Hamid Al-Ghazali (Kitab Mizan Al-‘Amal)

Beliau berkata:

"Sesungguhnya tubuh ini bukan milikmu, melainkan alat yang diberikan Tuhanmu agar engkau menggunakannya dengan bijak. Gunakan ia untuk sesuatu yang mendekatkanmu kepada-Nya."

📌 Makna:

  • Tubuh adalah alat untuk beribadah, bukan milik pribadi yang bisa digunakan sesuka hati.
  • Kesadaran ini membimbing manusia untuk memanfaatkan tubuh dalam jalan kebaikan.

67. Syaikh Ibn Khafif (Kitab Asrar At-Tauhid)

Beliau menulis:

"Seorang hamba yang benar tidak mengaku memiliki tubuhnya sendiri, karena ia tahu tubuh hanyalah amanah yang harus dikembalikan dalam keadaan bersih."

📌 Makna:

  • Tubuh harus dijaga karena ia adalah titipan Allah.
  • Seseorang yang sadar akan hal ini akan berusaha menjaga kesuciannya dari maksiat.

68. Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi (Kitab At-Tanbih)

Beliau menjelaskan:

"Jika tubuh ini adalah milikmu, mengapa engkau tidak bisa memilih kapan hidup dan mati? Maka ketahuilah bahwa tubuh hanyalah titipan yang setiap saat bisa diambil kembali."

📌 Makna:

  • Manusia tidak memiliki kendali atas hidup dan matinya, sehingga tidak bisa mengklaim tubuhnya sebagai miliknya.
  • Kesadaran ini melahirkan ketawadhuan dan sikap berserah diri kepada Allah.

 69. Syaikh Abu Said Al-Kharraz (Kitab Shidq At-Tawakkul)

Beliau berkata:

"Seorang hamba sejati tidak memiliki sesuatu, bahkan dirinya sendiri. Ia hanya seorang penyewa yang akan mengembalikan segala sesuatu kepada Pemiliknya."

📌 Makna:

  • Manusia hanyalah "penyewa" dalam kehidupan ini, bukan pemilik sejati.
  • Kesadaran ini melahirkan tawakal dan ketidakmelekatan terhadap dunia.

70. Syaikh Abdul Haqq Ad-Dihlawi (Kitab Akhbar Al-Akhyar)

Beliau menulis:

"Tubuhmu adalah amanah yang diberikan Allah. Jika engkau menggunakannya untuk keburukan, berarti engkau mengkhianati amanah itu."

📌 Makna:

  • Tubuh bukan milik kita, tetapi tanggung jawab yang harus dijaga.
  • Penggunaannya harus sesuai dengan tujuan penciptaannya, yaitu untuk beribadah kepada Allah.

71. Syaikh Al-Hakim At-Tirmidzi (Kitab Khatm Al-Wilayah)

Beliau menjelaskan:

"Orang yang mengira tubuhnya adalah miliknya sendiri telah tertipu oleh wujudnya. Sebab, tubuh itu hanyalah alat yang akan ditinggalkan."

📌 Makna:

  • Tubuh hanyalah sarana bagi perjalanan ruh menuju Allah.
  • Melekat pada tubuh berarti terjebak dalam ilusi duniawi.

72. Syaikh Abu Yazid Al-Busthami (Kitab Asrar At-Tauhid)

Beliau berkata:

"Ketika seorang hamba melihat dirinya sebagai pemilik tubuhnya, maka ia telah tersesat dalam keakuan. Namun, jika ia melihatnya sebagai titipan, ia telah menemukan jalan menuju Tuhan."

📌 Makna:

  • Merasa memiliki tubuh adalah bentuk kesombongan.
  • Kesadaran bahwa tubuh adalah titipan mengantar seseorang kepada penghambaan sejati.

73. Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i (Kitab Al-Burhan Al-Mu’ayyad)

Dalam Al-Burhan Al-Mu’ayyad, beliau menulis:

"Tubuh ini akan kembali ke tanah, ruh akan kembali kepada-Nya. Maka, janganlah engkau tertipu dengan apa yang bersifat sementara."

📌 Makna:

  • Tubuh hanyalah bagian dari alam dunia yang fana.
  • Ruh lebih utama karena kembali kepada Allah, bukan ke bumi.

74. Syaikh Ibn ‘Ajibah (Kitab Bahr Al-Madad)

Beliau menjelaskan:

"Jangan menganggap tubuh ini milikmu, karena ia hanya bayangan dari ketetapan Tuhan. Ia datang dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya."

📌 Makna:

  • Tubuh adalah ciptaan Allah yang sepenuhnya berada dalam kendali-Nya.
  • Manusia tidak memiliki tubuhnya secara hakiki, melainkan hanya diberikan hak pakai sementara.

75. Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani (Kitab Al-Fath Ar-Rabbani)

Beliau berkata:

"Wahai manusia, tubuhmu adalah pinjaman yang akan diminta kembali. Maka, jangan tertipu olehnya dan jangan berbangga dengannya, karena itu bukan milikmu."

📌 Makna:

  • Tubuh hanyalah pinjaman dari Allah, bukan milik sejati manusia.
  • Berbangga dengan tubuh adalah bentuk kelalaian terhadap hakikat kehidupan.

76. Syaikh Abu Hasan Asy-Syadzili (Kitab Hizb Al-Bahr wa Syarh-nya)

Beliau menjelaskan:

"Seseorang yang sadar bahwa tubuhnya hanyalah titipan, akan menjaganya dengan penuh amanah. Sebaliknya, mereka yang merasa memilikinya akan menggunakannya dengan serampangan."

📌 Makna:

  • Kesadaran bahwa tubuh adalah amanah akan mendorong seseorang untuk menggunakannya sesuai kehendak Allah.
  • Mereka yang lalai akan mempergunakannya untuk kesenangan duniawi semata.

77. Syaikh Abu Ali Ad-Daqqaq (Kitab At-Ta'arruf li Madzhab Ahl At-Tasawwuf)

Beliau berkata:

"Hakikat seorang sufi adalah mereka yang tidak mengaku memiliki apa pun, termasuk tubuh dan jiwanya sendiri. Sebab, semuanya adalah milik Allah."

📌 Makna:

  • Seorang sufi sejati menyadari bahwa tubuh dan jiwa hanyalah milik Allah.
  • Sikap ini menjauhkan seseorang dari sifat egoisme dan keakuan.

78. Syaikh Ibnu Atha’illah As-Sakandari (Kitab Al-Hikam)

Beliau berkata:

"Segala sesuatu yang ada padamu bukanlah milikmu. Jika engkau menyadarinya, maka engkau tidak akan bersedih ketika ia diambil darimu."

📌 Makna:

  • Tidak ada yang benar-benar kita miliki, termasuk tubuh dan harta.
  • Kesadaran ini membimbing manusia untuk tidak bergantung pada dunia.

79. Syaikh Ahmad Zarruq (Kitab Qawa'id At-Tasawwuf)

Beliau menjelaskan:

"Seorang yang berakal tidak akan tertipu dengan tubuhnya, karena ia hanya diberi untuk digunakan sementara, bukan untuk dimiliki selamanya."

📌 Makna:

  • Tubuh adalah alat, bukan kepemilikan mutlak.
  • Memahami ini akan menjauhkan seseorang dari kesombongan terhadap fisik dan dunia.

80. Syaikh Jalaluddin Rumi (Kitab Matsnawi)

Dalam Matsnawi, beliau menulis:

"Janganlah engkau berkata ‘ini milikku’, karena sesungguhnya segala sesuatu bukan milikmu. Jika engkau sadar, engkau akan menemukan kebebasan sejati."

📌 Makna:

  • Rasa memiliki terhadap tubuh dan dunia adalah belenggu.
  • Melepaskan keterikatan membawa manusia kepada kebebasan spiritual.

81. Syaikh Abu Thalib Al-Makki (Kitab Qut Al-Qulub)

Beliau berkata:

"Dunia hanyalah bayangan, tubuhmu hanyalah pakaian, dan ruhmu adalah amanah. Maka, janganlah tertipu oleh bayangan dan pakaian, tapi jagalah amanah itu."

📌 Makna:

  • Dunia dan tubuh hanyalah sarana sementara yang tidak sejati.
  • Ruh adalah hakikat yang harus dijaga dan dikembangkan menuju Allah.

82. Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairi (Kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah)

Beliau menjelaskan:

"Orang yang memahami hakikat tubuhnya akan selalu rendah hati, karena ia tahu tubuhnya bukan miliknya dan kapan saja bisa diambil oleh Pemiliknya."

📌 Makna:

  • Kesadaran bahwa tubuh bukan milik kita melahirkan sikap rendah hati dan tawakal.
  • Tidak ada yang bisa membanggakan tubuhnya, karena itu hanyalah titipan.

83. Syaikh Ibn Al-Faridh (Diwan Syair Sufi)

Dalam salah satu syairnya, beliau menulis:

"Engkau mengira tubuh ini adalah milikmu, tetapi lihatlah, engkau tidak bisa menghindari takdirnya. Maka ketahuilah, tubuh ini hanyalah amanah yang harus kau jaga."

📌 Makna:

  • Manusia tidak memiliki kuasa penuh atas tubuhnya, karena segalanya dalam ketetapan Allah.
  • Kesadaran ini membawa seseorang untuk berserah diri dan menjaga tubuh sebagai amanah.

84. Syaikh Ibnu Masarrah (Kitab Al-Huruf wa Al-‘Ilal)

Beliau berkata:

"Tubuh adalah perahu, bukan harta yang harus kau simpan. Gunakan ia untuk menyeberangi lautan dunia menuju akhirat."

📌 Makna:

  • Tubuh hanyalah alat untuk perjalanan menuju kehidupan abadi.
  • Menganggap tubuh sebagai kepemilikan sejati adalah kesalahan besar.

85. Syaikh Yahya bin Mu’adz Ar-Razi (Kitab Al-Mawa’izh)

Beliau menjelaskan:

"Bagaimana mungkin engkau merasa memiliki sesuatu yang bukan ciptaanmu? Tubuhmu pun bukan milikmu, maka jangan merasa memilikinya."

📌 Makna:

  • Tidak ada satu pun yang kita miliki secara mutlak, termasuk tubuh.
  • Hanya Allah yang memiliki segala sesuatu secara hakiki.

86. Syaikh Abu Abdullah At-Tirmidzi (Kitab Khatm Al-Wilayah)

Beliau menulis:

"Seseorang yang menganggap tubuhnya miliknya sendiri telah jatuh dalam kelalaian. Seorang hamba sejati tahu bahwa tubuh hanyalah amanah."

📌 Makna:

  • Rasa kepemilikan terhadap tubuh adalah bentuk kelalaian spiritual.
  • Kesadaran bahwa tubuh adalah amanah membawa seseorang kepada ketundukan kepada Allah.

87. Syaikh Al-Junaid Al-Baghdadi (Kitab Fana’ dan Baqa’ Fil Haqq)

Beliau berkata:

"Barang siapa mengaku memiliki dirinya sendiri, maka ia belum mengenal Tuhannya. Sebab, segala sesuatu adalah milik-Nya."

📌 Makna:

  • Kesadaran bahwa tubuh bukan milik kita adalah tanda makrifat.
  • Hanya dengan melepaskan rasa kepemilikan, seseorang bisa mencapai ketauhidan sejati.

88. Syaikh Hamzah Fansuri (Kitab Asrar Al-Insan)

Beliau menulis:

"Dunia ini fana, tubuh ini pinjaman, dan ruh ini titipan. Maka jangan tertipu oleh yang bukan milikmu."

📌 Makna:

  • Dunia, tubuh, dan ruh bukanlah kepemilikan mutlak manusia.
  • Memahami ini akan mengantarkan seseorang kepada zuhud dan ketawakalannya kepada Allah.

89. Syaikh Syihabuddin As-Suhrawardi (Kitab ‘Awarif Al-Ma’arif)

Beliau berkata:

"Setiap anggota tubuh adalah amanah, dan engkau akan ditanya tentang penggunaannya. Gunakanlah ia sesuai kehendak Pemiliknya."

📌 Makna:

  • Tubuh harus digunakan sesuai perintah Allah karena ia bukan milik kita.
  • Setiap amanah akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

90. Syaikh Umar Al-Khattabi (Kitab Ma’alim As-Suluk)

Beliau menjelaskan:

"Siapakah engkau yang mengaku memiliki tubuhmu sendiri? Engkau tidak bisa mencegahnya dari sakit, penuaan, atau kematian. Maka ketahuilah, ia bukan milikmu."

📌 Makna:

  • Manusia tidak memiliki kendali atas tubuhnya sepenuhnya.
  • Mengklaim tubuh sebagai milik sendiri adalah bentuk kebodohan spiritual.

91. Syaikh Abu Madyan Al-Ghauts (Kitab Tahrir Al-Suluk)

Beliau berkata:

"Janganlah engkau terpedaya dengan tubuhmu, karena itu hanya bayangan yang akan hilang. Ruhmu adalah hakikat yang harus kau jaga."

📌 Makna:

  • Tubuh adalah sesuatu yang fana, sementara ruh adalah hakikat yang sejati.
  • Seseorang harus lebih fokus pada perjalanan ruhani dibanding kesenangan fisik.

92. Syaikh Ibn Al-Arabi (Kitab Futuhat Al-Makkiyyah)

Beliau menulis:

"Manusia adalah peminjam, bukan pemilik. Bahkan nyawanya pun bukan miliknya, karena kapan saja bisa diambil oleh Yang Maha Memiliki."

📌 Makna:

  • Manusia hanyalah pengguna sementara atas tubuh dan nyawanya.
  • Pemilik sejati adalah Allah, yang bisa mengambilnya kapan saja.

93. Syaikh Shah Waliullah Ad-Dihlawi (Kitab Hujjatullah Al-Balighah)

Beliau berkata:

"Ketika seseorang menyadari bahwa tubuhnya bukan miliknya, ia akan memperlakukannya dengan penuh kehati-hatian dan kesyukuran."

📌 Makna:

  • Kesadaran bahwa tubuh adalah titipan melahirkan rasa syukur dan tanggung jawab.
  • Orang yang menyalahgunakan tubuhnya berarti mengkhianati amanah Allah.

94. Syaikh Fakhruddin Ar-Razi (Kitab At-Tafsir Al-Kabir)

Beliau menjelaskan:

"Tubuhmu hanyalah sarana, bukan tujuan. Mereka yang menjadikannya sebagai tujuan akan terhalang dari hakikat keberadaan."

📌 Makna:

  • Tubuh adalah alat untuk beribadah, bukan tujuan hidup.
  • Mengutamakan tubuh di atas segalanya akan menjauhkan seseorang dari makna spiritual.

95. Syaikh Yusuf An-Nabhani (Kitab Sa’adat Ad-Darain)

Beliau menulis:

"Barang siapa menganggap tubuhnya miliknya, maka ia telah lalai. Sebab, ia hanya diberi hak pakai sementara."

📌 Makna:

  • Tubuh hanyalah pinjaman yang harus digunakan sesuai aturan Pemiliknya.
  • Menganggapnya sebagai kepemilikan pribadi adalah bentuk kelalaian.

96. Syaikh Syamsuddin Ad-Dimasyqi (Kitab Al-Insan wa Asraruh)

Beliau berkata:

"Setiap sesuatu yang engkau miliki, termasuk tubuhmu, pada akhirnya akan kembali kepada Pemiliknya. Maka, jangan pernah merasa memilikinya."

📌 Makna:

  • Semua yang kita anggap sebagai milik kita, sejatinya hanyalah titipan.
  • Kesadaran ini membawa kepada sikap rendah hati dan tidak bergantung pada dunia.

97. Syaikh Ahmad Ibn Idris (Kitab Anwar Al-Qudsiyyah)

Beliau menulis:

"Tubuh ini bukan milikmu, tetapi milik Allah. Maka, jangan kau gunakan untuk sesuatu yang tidak diridhai-Nya."

📌 Makna:

  • Karena tubuh adalah milik Allah, maka penggunaannya harus sesuai dengan hukum-Nya.
  • Menyalahi aturan Allah berarti menyalahgunakan amanah.

98. Syaikh Muhammad Alawi Al-Maliki (Kitab Al-Mafahim Yajib An-Tushahhah)

Beliau berkata:

"Orang yang sadar bahwa tubuhnya bukan miliknya akan lebih mudah menyerahkan diri kepada Allah dalam segala urusannya."

📌 Makna:

  • Kesadaran ini melatih seseorang untuk tawakal dan berserah diri kepada Allah.
  • Orang yang merasa memiliki tubuhnya akan lebih sulit menerima takdir.

99. Syaikh Ahmad Al-Badawi (Kitab Asrar Al-Wilayah)

Beliau berkata:

"Jika tubuh ini adalah milikmu, mengapa engkau tidak bisa mengendalikannya sepenuhnya? Maka ketahuilah, ia hanyalah amanah."

📌 Makna:

  • Ketidakmampuan manusia mengendalikan tubuhnya adalah bukti bahwa ia bukan pemilik sejati.

100. Syaikh Muhammad Ibn Al-Habib (Kitab Diwan Sufi Maghribi)

Beliau menulis:

"Tubuh ini hanya pakaian bagi ruh. Ketika waktu tiba, ia akan dilepas dan dikembalikan kepada Pemiliknya."

📌 Makna:

  • Tubuh hanyalah sarana sementara, sementara ruh adalah yang lebih utama.

Kata-Kata Mendidik tentang Kepemilikan Sejati

  1. "Segala yang kau genggam hari ini hanya titipan. Jika esok diambil, jangan bertanya mengapa, tapi tanyakan untuk apa kau gunakan saat masih ada."

  2. "Semakin merasa memiliki, semakin besar ketakutan kehilangan. Semakin sadar bahwa segalanya milik Allah, semakin tenang hati dalam menjalani hidup."

  3. "Kita hanya pengelola, bukan pemilik. Apa yang ada di tangan hanyalah amanah, bukan hak mutlak."

  4. "Kebahagiaan sejati datang ketika kita melepaskan ilusi kepemilikan dan menerima bahwa segala sesuatu hanya sementara."

  5. "Seorang musafir tak menangisi perhentian yang harus ditinggalkan, karena ia tahu bahwa tujuannya masih jauh di depan."

  6. "Kekayaan sejati bukanlah memiliki banyak hal, tetapi memiliki hati yang tidak diperbudak oleh apa pun."

  7. "Jangan tertipu oleh kepemilikan duniawi. Rumah mewah, kendaraan mahal, semua hanya pinjaman yang kelak akan dikembalikan."

  8. "Semakin kamu mengejar dunia, semakin dunia mempermainkanmu. Semakin kamu menyerahkan pada Allah, semakin dunia datang melayanimu."

  9. "Segala yang kita anggap milik kita, sejatinya hanya numpang lewat dalam hidup. Yang benar-benar kita miliki adalah amal yang kita bawa pulang ke akhirat."

  10. "Saat kita lahir, tangan kita kosong. Saat kita mati, tangan kita juga kosong. Yang kita 'miliki' hanyalah pinjaman yang harus dipertanggungjawabkan."

Kata-Kata Mendidik tentang Tubuh dan Nyawa sebagai Titipan

  1. "Kita tidak memiliki tubuh ini, hanya diizinkan menggunakannya untuk sementara. Gunakan dengan baik sebelum waktu pinjamannya habis."

  2. "Nyawa bukanlah milik kita, melainkan amanah. Ia bisa diambil kapan saja oleh Aang Pemilik, tanpa peringatan."

  3. "Tubuh ini bukan milikmu, tetapi kendaraan untuk perjalanan menuju akhirat. Jangan salah arah, jangan salah gunakan."

  4. "Kita hanya menumpang di dunia ini, tubuh adalah pakaian sementara, dan nyawa adalah tamu yang sewaktu-waktu bisa dipanggil pulang."

  5. "Ketika kita sadar bahwa tubuh ini hanyalah titipan, kita akan lebih berhati-hati dalam menjaganya dan tidak sembarangan menggunakannya untuk hal yang sia-sia."

  6. "Orang yang sadar bahwa tubuh dan nyawanya hanyalah titipan tidak akan menyombongkan fisiknya, tidak akan merusaknya, dan tidak akan menggunakannya untuk maksiat (menyalahi Sang Penitip)"

  7. "Segala yang kita anggap 'punya kita'—tubuh, nyawa, bahkan kehidupan—bukanlah milik kita. Kita hanya pengelola sementara sebelum kembali kepada Pemiliknya."

  8. "Jika tubuh ini milik kita, kita bisa memilih untuk tidak sakit. Jika nyawa ini milik kita, kita bisa menolak kematian. Tapi kenyataannya, semua itu ada di tangan Allah."

  9. "Ketika kita mati, tubuh ini kembali menjadi tanah, dan nyawa kembali kepada Pemiliknya. Lalu, apa yang sebenarnya kita miliki?"

  10. "Menyadari bahwa tubuh dan nyawa ini hanyalah titipan akan membuat kita lebih bersyukur, lebih menjaga, dan lebih siap saat tiba waktunya dikembalikan."

0 komentar:

Posting Komentar