Jumat, 14 Maret 2025

Prinsip sabar dan syukur dalam tasawwuf

GenZArtDoc


Dalam tasawuf, prinsip sabar dan syukur merupakan dua sayap yang membawa seorang salik (pengikut jalan spiritual) menuju kedekatan dengan Allah. Para sufi memahami bahwa kehidupan di dunia adalah ujian, dan keduanya—kesabaran dalam musibah serta syukur dalam nikmat—merupakan dua aspek penting dalam perjalanan menuju ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah).

1. Sabar dalam Tasawuf

Sabar dalam tasawuf bukan sekadar menahan diri dari keluh kesah, tetapi lebih dalam dari itu. Sabar adalah keteguhan hati dalam menerima ketetapan Allah dengan ridha. Ada tiga tingkatan sabar dalam tasawuf:

  • Sabar dalam ketaatan: Konsisten dalam ibadah dan menjauhi kemalasan meskipun terasa berat.
  • Sabar dalam menjauhi maksiat: Menahan diri dari hawa nafsu dan godaan dunia yang bertentangan dengan syariat.
  • Sabar dalam menerima ujian: Menerima segala cobaan dengan keyakinan bahwa itu adalah bentuk kasih sayang Allah.

Para sufi sering mengutip firman Allah:
"Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anfal: 46)

Syaikh Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam berkata:
"Jika engkau bersabar atas apa yang telah ditakdirkan-Nya, maka Allah akan memperlihatkan kebesaran-Nya kepadamu."

2. Syukur dalam Tasawuf

Syukur dalam tasawuf bukan hanya mengucapkan “Alhamdulillah,” tetapi juga mencerminkan perasaan dan tindakan. Para sufi membagi syukur menjadi tiga:

  • Syukur dengan hati: Merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah tanpa mengeluhkan kekurangan.
  • Syukur dengan lisan: Mengingat dan memuji Allah atas segala nikmat.
  • Syukur dengan amal: Menggunakan nikmat Allah untuk kebaikan, bukan untuk maksiat.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengatakan:
"Syukur adalah mengakui nikmat, memuji Pemberi nikmat, dan menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak-Nya."

Allah berfirman:
"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu..." (QS. Ibrahim: 7)

Keseimbangan Sabar dan Syukur

Dalam perjalanan spiritual, seorang sufi tidak hanya bersabar dalam kesulitan tetapi juga bersyukur dalam kemudahan. Kesempurnaan tasawuf adalah ketika seorang hamba bisa merasa sabar dan syukur dalam waktu yang sama.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani berkata:
"Seorang sufi sejati adalah mereka yang tidak mengeluh saat diuji dan tidak lupa diri saat diberi nikmat."

Dengan memahami dan mengamalkan prinsip sabar dan syukur, seorang murid tasawuf akan semakin dekat kepada Allah, karena keduanya merupakan jalan menuju ketundukan yang sempurna kepada-Nya.

Penjelasan tentang sabar dan syukur dalam tasawuf ini bersumber dari beberapa kitab klasik karya para ulama sufi, antara lain:

  1. Ihya’ Ulumuddin – Imam Al-Ghazali

    • Dalam kitab ini, Imam Al-Ghazali membahas sabar dan syukur secara mendalam, khususnya dalam bab Kitab Sabar dan Syukur (Kitāb al-Ṣabr wa al-Shukr). Ia menjelaskan bahwa sabar adalah menahan diri dari keinginan yang bertentangan dengan syariat, sedangkan syukur adalah menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Allah.
  2. Al-Hikam – Ibnu Atha’illah As-Sakandari

    • Dalam Al-Hikam, Ibnu Atha’illah sering mengingatkan tentang pentingnya bersabar dalam menghadapi ujian dan bersyukur atas nikmat Allah. Salah satu hikmahnya berbunyi:
      “Jika engkau bersabar atas apa yang telah ditakdirkan-Nya, maka Allah akan memperlihatkan kebesaran-Nya kepadamu.”
  3. Futuh Al-Ghaib – Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani

    • Dalam kitab ini, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani menjelaskan bahwa seorang sufi sejati tidak boleh mengeluh saat diuji dan tidak boleh lupa diri saat mendapat nikmat.
  4. Risalah Qushairiyah – Imam Al-Qushayri

    • Imam Al-Qushayri dalam Risalah Qushairiyah menjelaskan bahwa kesabaran merupakan tanda keyakinan terhadap Allah, sedangkan syukur adalah bentuk kesadaran akan rahmat-Nya.
  5. Madārij Al-Sālikīn – Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

    • Dalam kitab ini, Ibnu Qayyim membagi sabar menjadi beberapa tingkatan dan menjelaskan bagaimana syukur bisa menjadi jalan menuju kedekatan dengan Allah.


6. At-Tanwir fi Isqat at-Tadbir – Ibnu Atha’illah As-Sakandari

  • Kitab ini membahas bagaimana seorang hamba harus melepaskan kehendak pribadinya dan menyerahkan segalanya kepada Allah. Ibnu Atha’illah menekankan bahwa sabar adalah menerima kehendak Allah tanpa protes, sedangkan syukur adalah menyadari bahwa segala sesuatu datang dari Allah dan menggunakannya dalam kebaikan.

7. Al-Fath ar-Rabbani – Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani

  • Dalam kitab ini, beliau menjelaskan bahwa kesabaran adalah jalan menuju kedekatan dengan Allah, sementara syukur adalah tanda bahwa hati seseorang tidak terikat pada dunia. Ia berkata:
    "Ketika diuji, janganlah mengeluh. Ketika diberi nikmat, jangan merasa itu milikmu, tetapi sadarlah bahwa itu titipan Allah."

8. Ar-Risalah al-Laduniyyah – Imam Al-Ghazali

  • Kitab ini menyoroti bahwa sabar dan syukur adalah tanda keyakinan seorang hamba. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa sabar dalam menghadapi ujian menunjukkan keridhaan terhadap Allah, sementara syukur menunjukkan bahwa seorang hamba tidak sombong atas nikmat yang diterimanya.

9. Al-Mawa’izh fi al-Hikmah – Imam Al-Ghazali

  • Kitab ini menegaskan bahwa kesabaran adalah ujian bagi orang beriman, dan syukur adalah bentuk ibadah bagi mereka yang diberi kelapangan.

10. Adab Suluk al-Murid – Imam Al-Haddad

  • Imam Al-Haddad dalam kitab ini mengajarkan bahwa sabar adalah tanda kepasrahan total kepada Allah, sedangkan syukur adalah kunci bertambahnya keberkahan dalam hidup.


11. Hilyat al-Awliya’ – Abu Nu’aim al-Asbahani

  • Kitab ini mengisahkan kehidupan para wali Allah yang mencapai derajat tinggi karena kesabaran dalam menghadapi ujian dan kesyukuran atas nikmat-Nya. Diceritakan bahwa Hasan al-Bashri berkata:
    "Seorang mukmin bersabar atas musibah, maka ia memperoleh pahala. Ia bersyukur atas nikmat, maka nikmat itu bertambah."

12. Al-Risalah al-Qushairiyah – Imam Al-Qushayri

  • Imam Al-Qushayri dalam kitab ini membagi sabar menjadi tiga tingkatan:
    1. Sabar terhadap perintah Allah (taat dalam ibadah).
    2. Sabar dalam menjauhi maksiat (melawan hawa nafsu).
    3. Sabar dalam menghadapi takdir Allah (ridha dengan ujian).
  • Beliau juga menjelaskan bahwa syukur adalah bentuk kesadaran spiritual tertinggi yang membuat seorang sufi tidak bergantung kepada dunia.

13. Minhaj al-Abidin – Imam Al-Ghazali

  • Dalam kitab ini, Imam Al-Ghazali menekankan bahwa sabar adalah pilar utama dalam perjalanan menuju Allah, sementara syukur adalah tanda seorang hamba yang mengenal Rabb-nya. Ia berkata:
    "Barang siapa yang bersabar di dunia, ia akan menikmati ketenangan di akhirat. Barang siapa yang bersyukur, Allah akan menambah nikmatnya di dunia dan akhirat."

14. Tazkiyat al-Nufus – Ibnu Rajab al-Hanbali

  • Kitab ini membahas pensucian jiwa (tazkiyah) dengan kesabaran dalam menghadapi godaan dan ujian, serta syukur atas rahmat Allah. Ibnu Rajab berkata:
    "Sabar dan syukur adalah dua benteng yang menjaga hati seorang mukmin agar tidak dikuasai oleh syahwat dan kelalaian."

15. Al-Fawa’id – Ibnu Qayyim al-Jauziyyah

  • Dalam kitab ini, Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa sabar adalah setengah dari iman, sedangkan setengahnya lagi adalah syukur. Ia juga menekankan bahwa kesabaran adalah bentuk keikhlasan dalam menerima ketetapan Allah, sementara syukur adalah bentuk penghambaan yang sempurna.

16. Al-Hikam – Ibnu Atha’illah as-Sakandari

  • Selain yang sudah disebutkan sebelumnya, dalam Al-Hikam, beliau juga berkata:
    "Jika engkau bersabar, Allah akan menguatkanmu. Jika engkau bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya kepadamu."

17. Al-Minhaj al-Qawim – Ibnu Hajar al-Haitami

  • Dalam kitab ini, beliau membahas bahwa kesabaran adalah kunci ketenangan jiwa, dan syukur adalah bukti seseorang memahami hakikat rezeki dari Allah.

18. Lata’if al-Ma’arif – Ibnu Rajab al-Hanbali

  • Kitab ini membahas bagaimana para salaf dan ulama sufi menghadapi ujian dengan sabar dan menerima nikmat dengan syukur. Ibnu Rajab menyebutkan:
    "Di antara tanda kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah ketika ia diberi ujian, ia bersabar, dan ketika diberi nikmat, ia bersyukur."

19. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil – Al-Baidhawi

  • Dalam tafsirnya, Al-Baidhawi menjelaskan bahwa sabar adalah wujud keyakinan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, sedangkan syukur adalah bentuk kesadaran akan kemurahan-Nya.

20. Ihya’ Ulumuddin – Imam Al-Ghazali (Tambahan)

  • Imam Al-Ghazali juga berkata dalam Ihya’ Ulumuddin:
    "Orang yang bersabar akan mencapai derajat para wali, dan orang yang bersyukur akan mendapatkan tambahan nikmat tanpa batas."


21. Al-Tariq ila Allah – Syaikh Abdurrahman as-Sa’di**

  • Dalam kitab ini, Syaikh as-Sa’di menjelaskan bahwa sabar adalah kunci keteguhan dalam menempuh jalan menuju Allah, sedangkan syukur adalah tanda kesempurnaan iman seseorang.

22. Al-Tafsir al-Kabir – Fakhruddin ar-Razi

  • Dalam tafsirnya, Ar-Razi menjelaskan bahwa sabar adalah bentuk kepasrahan total kepada Allah, sementara syukur adalah tanda seorang hamba yang mengenal hikmah di balik setiap pemberian-Nya.

23. Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu Arabi

  • Dalam karya ini, Ibnu Arabi mengajarkan bahwa sabar adalah bentuk kepasrahan kepada Allah tanpa syarat, sedangkan syukur adalah bentuk cinta yang mendalam kepada-Nya.

24. Madarij al-Salikin – Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (Tambahan)

  • Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa sabar adalah puncak tawakal, sedangkan syukur adalah refleksi dari ma’rifat seorang hamba kepada Allah.

25. Uyun al-Akhbar wa Funun al-Atsar – Ibnu Qutaybah

  • Kitab ini mengumpulkan perkataan para ulama salaf tentang kesabaran dalam menghadapi ujian dan keutamaan bersyukur sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

26. Al-Munqidz min al-Dalal – Imam Al-Ghazali

  • Dalam kitab ini, Al-Ghazali menyebutkan bahwa sabar adalah ujian bagi para wali, sedangkan syukur adalah jalan menuju ketenangan jiwa.

27. Siyar A’lam an-Nubala – Adz-Dzahabi

  • Kitab ini berisi biografi para ulama dan sufi yang mencapai derajat tinggi dalam tasawuf melalui kesabaran dan kesyukuran.

28. Qut al-Qulub – Abu Thalib al-Makki

  • Abu Thalib al-Makki dalam kitab ini menjelaskan bahwa sabar adalah pintu menuju maqam ridha, sedangkan syukur adalah tanda seorang hamba yang menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Allah.

29. Kitab at-Tawasin – Al-Hallaj

  • Dalam kitab ini, Al-Hallaj mengajarkan bahwa sabar adalah bentuk fana’ (melebur dalam kehendak Allah), sedangkan syukur adalah bentuk baqa’ (hidup dalam kesadaran akan Allah).

30. Tabaqat al-Kubra – Imam As-Sya’rani

  • Imam As-Sya’rani menjelaskan bahwa kesabaran adalah pilar dalam perjalanan seorang murid sufi, sementara syukur adalah cerminan dari hati yang telah tercerahkan.

31. Bahr al-Madid fi Tafsir al-Qur’an al-Majid – Ahmad bin Ajibah

  • Dalam tafsirnya, Ibnu Ajibah menjelaskan bahwa sabar adalah maqam orang-orang yang mendekat kepada Allah, sedangkan syukur adalah maqam orang-orang yang telah mencapai pencerahan batin.

32. Ma’rifatullah wa Asraru Maqamat al-Ihsan – Syaikh Ahmad Zarruq

  • Dalam kitab ini, Syaikh Ahmad Zarruq menyatakan bahwa sabar dan syukur adalah dua pilar utama dalam perjalanan ruhani seorang sufi.

33. Tanbih al-Mughtarrin – Imam As-Sulami

  • Imam As-Sulami dalam kitab ini menjelaskan bahwa sabar adalah bentuk penyucian jiwa, sementara syukur adalah tanda seorang sufi yang telah mencapai maqam hakiki dalam kedekatan dengan Allah.

Dengan memahami dan mengamalkan ajaran dari para ulama dan kitab-kitab ini, seorang murid tasawuf dapat mencapai tingkat ma’rifat yang lebih tinggi melalui kesabaran dan kesyukuran

Berikut adalah ayat Al-Qur'an dan hadits yang mendukung pendapat para ulama tasawuf tentang sabar dan syukur:


A. Ayat Al-Qur'an tentang Sabar dan Syukur

1. Sabar sebagai Ujian Keimanan

  • QS. Al-Baqarah (2): 155-157
    "Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Innā lillāhi wa innā ilayhi rāji‘ūn’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

2. Sabar sebagai Syarat Pertolongan Allah

  • QS. Al-Baqarah (2): 153
    "Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."

3. Sabar sebagai Jalan Menuju Kedekatan dengan Allah

  • QS. Az-Zumar (39): 10
    "Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas."

4. Sabar sebagai Bentuk Ketaatan

  • QS. Ali ‘Imran (3): 200
    "Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu serta tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."

5. Syukur sebagai Kunci Bertambahnya Nikmat

  • QS. Ibrahim (14): 7
    "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’"

6. Syukur sebagai Tanda Orang Berilmu

  • QS. Luqman (31): 12
    "Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allah!’ Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji."

7. Syukur sebagai Tanda Keimanan Sejati

  • QS. An-Naml (27): 40
    "Barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, Maha Mulia."

B. Hadits tentang Sabar dan Syukur

8. Keutamaan Sabar

  • HR. Muslim (2999)
    “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin, seluruh urusannya adalah kebaikan, dan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesulitan, ia bersabar, maka itu juga baik baginya.”

9. Sabar sebagai Cahaya

  • HR. Muslim (223)
    “Shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, dan sabar adalah sinar.”

10. Sabar sebagai Penghapus Dosa

  • HR. Al-Bukhari (5640)
    “Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu kelelahan, sakit, kesedihan, gangguan, dan kegundahan, bahkan hingga duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus sebagian dari dosa-dosanya.”

11. Syukur sebagai Ciri Mukmin Sejati

  • HR. Ahmad (18418)
    “Orang yang makan dan bersyukur sama pahalanya dengan orang yang berpuasa dan bersabar.”

12. Syukur Menjadi Sumber Kebahagiaan

  • HR. At-Tirmidzi (2344)
    "Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah."

13. Syukur Sebagai Keberkahan Hidup

  • HR. Al-Bukhari (1465)
    "Orang yang bersyukur saat diberi kelapangan dan bersabar saat diuji, maka dia adalah orang yang beruntung."

Kesimpulan

Berdasarkan ayat dan hadits di atas, para ulama tasawuf merumuskan bahwa:
Sabar adalah pilar utama dalam mendekat kepada Allah (QS. Az-Zumar: 10)
Syukur adalah kunci bertambahnya nikmat dan tanda kecerdasan spiritual (QS. Ibrahim: 7)
Keduanya merupakan bagian dari iman yang sempurna (HR. Muslim: 2999)


Berikut adalah hadits-hadits qudsi yang mendukung konsep sabar dan syukur dalam tasawuf:


A. Hadits Qudsi tentang Sabar

1. Sabar sebagai Jalan Menuju Ridha Allah

  • HR. Al-Bukhari (7502)
    Allah Ta’ala berfirman:
    “Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Aku ambil kekasihnya (orang yang dicintainya) di dunia, lalu ia bersabar, kecuali surga baginya.”

📌 Makna: Sabar bukan sekadar menahan diri dari keluhan, tetapi menerima takdir dengan hati lapang sebagai jalan menuju ridha Allah.


2. Sabar Sebagai Cermin Keimanan yang Kuat

  • HR. Muslim (2572)
    Allah berfirman:
    "Jika Aku menguji hamba-Ku dengan kehilangan dua matanya (kebutaan) lalu ia bersabar, maka Aku akan menggantinya dengan surga.”

📌 Makna: Kesabaran dalam menghadapi musibah besar akan mendapat balasan surga langsung dari Allah.


3. Sabar sebagai Tanda Kedekatan dengan Allah

  • HR. Ahmad (23959)
    Allah berfirman:
    "Barang siapa yang Aku uji dan ia bersabar, maka Aku akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”

📌 Makna: Kesabaran bukan hanya menahan diri, tetapi juga tanda bahwa Allah sedang mempersiapkan kebaikan yang lebih besar.


B. Hadits Qudsi tentang Syukur

4. Syukur Sebagai Kunci Bertambahnya Nikmat

  • HR. Al-Bukhari (7405)
    Allah berfirman:
    “Barang siapa bersyukur atas nikmat-Ku, maka Aku akan menambahkannya. Dan barang siapa kufur (tidak bersyukur), maka azab-Ku sangat pedih.”

📌 Makna: Syukur bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan perbuatan, yaitu menggunakan nikmat Allah untuk kebaikan.


5. Syukur Sebagai Bentuk Kecintaan Allah kepada Hamba-Nya

  • HR. At-Tirmidzi (1875)
    Allah berfirman:
    "Wahai hamba-Ku, jika engkau bersyukur kepada-Ku, Aku akan lebih mencintaimu."*

📌 Makna: Syukur bukan hanya balasan bagi nikmat, tetapi juga menjadi sebab Allah mencintai seorang hamba.


6. Syukur Menjadi Jalan Keselamatan Dunia dan Akhirat

  • HR. Ahmad (18673)
    Allah berfirman:
    "Wahai anak Adam, jika engkau bersyukur kepada-Ku, Aku akan memberimu tambahan nikmat dan menjauhkanmu dari kesusahan."

📌 Makna: Syukur memiliki dampak nyata dalam kehidupan dunia, bukan hanya di akhirat.


C. Hadits Qudsi yang Menggabungkan Sabar dan Syukur

7. Orang Beriman Selalu dalam Kebaikan: Sabar Saat Ujian dan Syukur Saat Nikmat

  • HR. Muslim (2999)
    Allah berfirman:
    "Hamba-Ku yang beriman selalu dalam kebaikan. Jika Aku beri nikmat, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika Aku uji dengan musibah, ia bersabar dan itu juga baik baginya.”

📌 Makna: Dalam keadaan apa pun, seorang mukmin selalu berada dalam kebaikan karena memiliki kesadaran spiritual melalui sabar dan syukur.


Kesimpulan

Hadits-hadits qudsi ini menunjukkan bahwa:
Sabar adalah bukti keteguhan iman dan akan diganjar surga.
Syukur adalah kunci bertambahnya nikmat dan tanda kecintaan Allah.
Orang beriman selalu dalam kebaikan, karena sabar dan syukur adalah jalan menuju Allah.



0 komentar:

Posting Komentar