Dalam kitab Qashash al-Anbiya’ (قصص الأنبياء) karya Imam Ibnu Katsir, kisah Nabi Ilyas ‘alayhis salam diceritakan sebagai bagian dari para nabi Bani Israil yang diutus untuk memperbaiki umatnya. Berikut adalah ringkasan pembahasan mengenai Nabi Ilyas dalam kitab tersebut:
1. Identitas Nabi Ilyas ‘alayhis salam
- Nabi Ilyas adalah seorang nabi yang berasal dari keturunan Nabi Harun ‘alayhis salam.
- Ia diutus kepada kaum Bani Israil yang tinggal di wilayah Ba'labak, Syam (sekarang Lebanon).
- Disebut dalam Al-Qur'an dalam dua tempat, yaitu Surah Al-An‘am (6:85) dan Surah Ash-Shaffat (37:123-132).
2. Kaum Nabi Ilyas dan Penyembahan Berhala
- Kaumnya dikenal sebagai penyembah berhala yang disebut Ba‘al.
- Nabi Ilyas menyeru mereka agar kembali menyembah Allah dan meninggalkan kemusyrikan.
- Namun, mayoritas dari mereka menolak dan tetap dalam kekafiran.
3. Peringatan Allah dan Azab Kekeringan
- Karena penolakan kaumnya, Allah menurunkan azab berupa kekeringan panjang yang menyebabkan kelaparan.
- Setelah sekian lama, mereka akhirnya meminta Nabi Ilyas berdoa kepada Allah agar hujan turun kembali.
- Nabi Ilyas berdoa, dan Allah mengabulkannya, tetapi mereka tetap dalam kesesatan.
4. Upaya Pembunuhan Nabi Ilyas
- Para pembesar kaum berusaha membunuhnya karena dakwahnya dianggap mengancam kekuasaan mereka.
- Nabi Ilyas kemudian melarikan diri dan bersembunyi di beberapa tempat.
5. Nabi Ilyas dan Pengangkatannya ke Langit
- Menurut beberapa riwayat, Nabi Ilyas diangkat ke langit sebagaimana Nabi Idris ‘alayhis salam.
- Sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi Ilyas masih hidup di dunia sebagaimana Nabi Khidhir ‘alayhis salam.
6. Peran Nabi Ilyas dalam Islam
- Nabi Ilyas disebut sebagai sosok yang muhlas (orang yang disucikan oleh Allah).
- Dalam hadis, ada yang menyebutkan bahwa Nabi Ilyas dan Nabi Khidhir bertemu setiap tahun saat musim haji.
Kisah Nabi Ilyas dalam Qashash al-Anbiya’ mengikuti sumber dari Al-Qur’an dan beberapa riwayat dari Bani Israil yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Baik, berikut adalah kutipan dan ringkasan lebih detail tentang Nabi Ilyas ‘alayhis salam dalam Qashash al-Anbiya’ karya Imam Ibnu Katsir, berdasarkan sumber-sumber yang disebutkan dalam kitab tersebut:
1. Penyebutan Nabi Ilyas dalam Al-Qur’an
Dalam Qashash al-Anbiya’, Ibnu Katsir menegaskan bahwa kisah Nabi Ilyas disebut dalam dua tempat di Al-Qur’an:
-
Surah Al-An‘am (6:85)
"Dan (Kami telah memberikan petunjuk) kepada Zakariya, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh."
-
Surah Ash-Shaffat (37:123-132)
"Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya, 'Mengapa kamu tidak bertakwa? Apakah kamu menyeru Ba‘al dan meninggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu?'"
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat-ayat ini menegaskan status kenabian Ilyas dan tugasnya sebagai pembimbing umatnya yang sesat.
2. Nabi Ilyas dan Kaumnya yang Menyembah Ba‘al
- Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Ilyas diutus kepada kaum Bani Israil di wilayah Ba‘labak (Lebanon saat ini).
- Mereka menyembah berhala bernama Ba‘al, yang diyakini sebagai dewa kesuburan.
- Nabi Ilyas menyeru mereka untuk kembali kepada Allah, tetapi mereka menolak dan tetap dalam kesesatan.
Menurut Ibnu Katsir, penyembahan berhala ini merupakan bentuk penyimpangan akidah yang terjadi setelah wafatnya para nabi sebelumnya.
3. Azab Kekeringan dan Doa Nabi Ilyas
- Ketika kaumnya menolak dakwahnya, Nabi Ilyas berdoa kepada Allah agar memberi mereka pelajaran.
- Allah menurunkan kekeringan panjang, menyebabkan kelaparan di seluruh negeri.
- Setelah bertahun-tahun, mereka akhirnya meminta Nabi Ilyas berdoa agar hujan turun kembali.
- Nabi Ilyas berdoa, dan Allah mengabulkan permintaannya. Namun, setelah mendapatkan rahmat Allah, mereka kembali kufur.
4. Upaya Pembunuhan Nabi Ilyas
- Kaumnya yang membangkang, terutama para pemimpin mereka, merasa terganggu dengan dakwah Nabi Ilyas.
- Mereka berencana membunuhnya, sehingga Nabi Ilyas harus melarikan diri dan bersembunyi.
- Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Allah menyelamatkan Nabi Ilyas sebagaimana Dia menyelamatkan nabi-nabi lainnya dari kaum yang durhaka.
5. Nabi Ilyas Diangkat ke Langit?
- Dalam Qashash al-Anbiya’, Ibnu Katsir menyebutkan adanya perbedaan pendapat tentang akhir hidup Nabi Ilyas:
- Ada riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Ilyas diangkat ke langit sebagaimana Nabi Idris ‘alayhis salam.
- Sebagian ulama mengatakan bahwa ia masih hidup dan sering bertemu dengan Nabi Khidhir ‘alayhis salam.
- Namun, Ibnu Katsir menegaskan bahwa tidak ada dalil yang kuat untuk memastikan salah satu pendapat ini.
6. Nabi Ilyas dalam Perspektif Islam
- Ibnu Katsir menyebut Nabi Ilyas sebagai seorang nabi yang muhlas (disucikan oleh Allah) dan memiliki tugas berat dalam menghadapi kaumnya.
- Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa Nabi Ilyas dan Nabi Khidhir sering bertemu setiap tahun pada musim haji.
- Kisah Nabi Ilyas juga menunjukkan bahwa Allah selalu menolong para nabi-Nya dari kezaliman kaum mereka.
Kesimpulan
Kisah Nabi Ilyas dalam Qashash al-Anbiya’ menyoroti dakwahnya kepada Bani Israil, perlawanan kaumnya, azab kekeringan sebagai peringatan, serta kemungkinan diangkatnya beliau ke langit. Ibnu Katsir menyajikan kisah ini berdasarkan Al-Qur’an dan riwayat-riwayat yang bersumber dari Bani Israil, namun ia tetap berhati-hati dalam menerima riwayat yang tidak memiliki dasar yang kuat.
Dalam kitab Qashash al-Anbiya’, kisah Nabi Ilyas ‘alayhis salam tidak hanya mengajarkan keteguhan dalam dakwah, tetapi juga menggambarkan aspek ketaatan yang tinggi kepada Allah dan makna tasawuf dalam bentuk penghambaan total serta keterlepasan dari dunia. Berikut adalah uraian dari aspek ketaatan dan tasawuf dalam kisah Nabi Ilyas, sebagaimana dapat disimpulkan dari penjelasan Ibnu Katsir dan para ulama sufi lainnya.
1. Aspek Ketaatan Nabi Ilyas ‘alayhis salam
A. Keistiqamahan dalam Tauhid
- Nabi Ilyas dikenal sebagai sosok yang tidak pernah menyimpang dari ajaran tauhid meskipun berada di tengah kaum yang penuh dengan penyembahan berhala (Ba‘al).
- Dalam Surah Ash-Shaffat (37:125), beliau dengan tegas menentang penyembahan Ba‘al dan menyeru kepada Allah sebagai أَحْسَنُ ٱلْخَـٰلِقِينَ (sebaik-baik Pencipta).
- Ketaatan beliau dalam mempertahankan tauhid meskipun ditolak oleh kaumnya adalah salah satu bentuk istiqamah yang menjadi teladan bagi umat Islam.
B. Kesabaran dalam Dakwah dan Cobaan
- Nabi Ilyas menghadapi tantangan berat dari kaum Bani Israil yang tetap dalam kemusyrikan meskipun telah diberikan peringatan berupa kekeringan.
- Beliau tetap teguh dalam dakwahnya tanpa mencari keuntungan duniawi atau takut kepada ancaman manusia.
- Kesabarannya dalam menghadapi penolakan dan ancaman pembunuhan mencerminkan ketaatan sejati kepada Allah sebagaimana diperintahkan dalam Surah Hud (11:112):
"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu."
C. Tawakal kepada Allah
- Ketika kaumnya berusaha membunuhnya, Nabi Ilyas tidak mencari perlindungan dari manusia, melainkan bersandar sepenuhnya kepada Allah.
- Allah kemudian menyelamatkannya dari kejaran kaum zalim sebagaimana Dia menyelamatkan para nabi sebelumnya.
- Konsep tawakal ini juga merupakan bagian penting dari ajaran tasawuf, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah tanpa mengandalkan kekuatan diri sendiri.
2. Aspek Tasawuf dalam Kisah Nabi Ilyas ‘alayhis salam
A. Zuhud: Menjauh dari Kenikmatan Dunia
- Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Nabi Ilyas banyak menghabiskan waktunya dalam pengasingan, jauh dari kehidupan duniawi.
- Dalam riwayat-riwayat lain, disebutkan bahwa beliau lebih memilih hidup dalam keadaan sederhana, tidak terikat pada harta atau kekuasaan.
- Ini mencerminkan ajaran zuhud, yaitu menjauhkan diri dari dunia bukan karena membencinya, tetapi agar tidak tergoda oleh kecintaannya.
B. Fana’: Kesadaran Bahwa Segala Sesuatu Milik Allah
- Dalam tasawuf, fana’ berarti meleburkan diri dalam kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
- Nabi Ilyas menunjukkan konsep ini dengan menyerahkan sepenuhnya hidupnya kepada Allah, bahkan ketika kaum Bani Israil menolaknya.
- Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-An’am (6:162):
"Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."
C. Hubungan Nabi Ilyas dengan Nabi Khidhir dalam Perspektif Sufi
- Dalam beberapa riwayat sufi, dikatakan bahwa Nabi Ilyas dan Nabi Khidhir adalah dua nabi yang memiliki hubungan spiritual khusus dan sering bertemu pada waktu-waktu tertentu.
- Sebagian ulama sufi berpendapat bahwa mereka berdua termasuk dalam al-Abdal, yaitu hamba-hamba pilihan Allah yang keberadaannya menjadi sebab keberkahan dunia.
- Hubungan ini menggambarkan tarekat dalam Islam, di mana seorang murid atau wali bisa memiliki hubungan batiniah dengan wali lainnya untuk saling menguatkan dalam ibadah.
D. Konsep Khumul: Menyembunyikan Amal dan Kedekatan dengan Allah
- Dalam tasawuf, khumul berarti tidak mencari popularitas atau pengakuan dari manusia dalam beribadah.
- Nabi Ilyas tidak tampil sebagai pemimpin duniawi atau tokoh yang mencari pengaruh politik, melainkan fokus pada ibadah dan hubungan langsung dengan Allah.
- Hal ini mengingatkan pada ajaran sufi seperti yang dikatakan oleh Imam Junaid al-Baghdadi:
"Seorang wali sejati adalah yang tidak dikenal oleh manusia, tetapi sangat dikenal oleh Allah."
Kesimpulan
Kisah Nabi Ilyas ‘alayhis salam dalam Qashash al-Anbiya’ memiliki makna mendalam dalam aspek ketaatan dan tasawuf:
- Ketaatan beliau ditunjukkan dalam istiqamah dalam tauhid, kesabaran dalam dakwah, dan tawakal kepada Allah meskipun menghadapi ujian berat.
- Tasawuf tercermin dalam sifat zuhud, fana’, hubungan dengan wali lain (Khidhir), dan khumul sebagai bentuk penghambaan total kepada Allah.
Dari kisahnya, kita belajar bahwa ketaatan sejati kepada Allah bukan hanya dalam bentuk ritual ibadah, tetapi juga dalam kesadaran spiritual bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya dan kembali kepada-Nya.







0 komentar:
Posting Komentar