Kisah Nabi Yunus ‘alayhis salam dalam Qashash al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir diceritakan dengan cukup rinci, terutama dalam konteks keteladanan dan hikmah yang dapat dipetik dari perjalanan hidup beliau. Berikut adalah rangkuman kisahnya berdasarkan kitab tersebut:
1. Dakwah Nabi Yunus kepada Kaumnya
Nabi Yunus ‘alayhis salam diutus oleh Allah kepada penduduk Ninawa (sekarang bagian dari Irak) yang tenggelam dalam kemusyrikan dan maksiat. Beliau mengajak mereka untuk beriman kepada Allah, meninggalkan penyembahan berhala, serta berbuat kebaikan. Namun, kaum tersebut menolak dakwah beliau dengan keras, bahkan menentangnya dengan penuh kebencian.
2. Kemarahan Nabi Yunus dan Kepergiannya
Melihat kaumnya tetap dalam kesesatan, Nabi Yunus merasa putus asa dan marah. Tanpa menunggu izin Allah, beliau meninggalkan kaumnya dan pergi dari kota tersebut. Inilah ujian besar bagi beliau karena seorang nabi tidak boleh meninggalkan umatnya kecuali atas perintah Allah.
3. Taubat dan Keimanan Kaum Ninawa
Setelah Nabi Yunus pergi, Allah mengirim tanda-tanda azab yang akan datang. Langit menjadi gelap, angin bertiup kencang, dan tanda-tanda kehancuran mulai tampak. Kaum Ninawa akhirnya sadar dan menyesali kesalahan mereka. Mereka keluar ke padang pasir, menangis, dan berdoa kepada Allah dengan penuh keikhlasan. Allah menerima taubat mereka dan menahan azab yang hampir menimpa mereka.
4. Nabi Yunus dalam Perut Ikan
Sementara itu, Nabi Yunus menaiki kapal untuk berlayar. Ketika kapal berada di tengah laut, badai besar datang. Para penumpang merasa bahwa ada seseorang yang harus dikorbankan agar kapal bisa selamat. Mereka mengundi beberapa kali, dan setiap kali undian jatuh kepada Nabi Yunus. Akhirnya, beliau dilemparkan ke laut, lalu ditelan oleh seekor ikan besar (kemungkinan paus atau ikan lain yang besar).
Dalam kegelapan perut ikan, Nabi Yunus menyadari kesalahannya dan berdoa dengan penuh ketundukan:
لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)
Doa ini dikenal sebagai Dzikir Nabi Yunus, yang memiliki keutamaan besar dalam menghilangkan kesulitan.
5. Pengampunan Allah dan Kembalinya Nabi Yunus
Allah menerima taubat Nabi Yunus dan memerintahkan ikan untuk memuntahkannya di tepi pantai. Beliau dalam keadaan lemah dan sakit, sehingga Allah menumbuhkan pohon yaqthin (sejenis labu) sebagai tempat berteduh dan sumber makanan. Setelah pulih, Allah memerintahkan beliau kembali ke Ninawa. Kali ini, beliau menemukan kaumnya telah beriman, dan mereka menerima beliau sebagai nabi dengan penuh kecintaan.
6. Hikmah dari Kisah Nabi Yunus
Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya’ menekankan beberapa pelajaran penting dari kisah ini:
- Kesabaran dalam berdakwah – Seorang nabi harus tetap teguh dan tidak boleh tergesa-gesa meninggalkan umatnya tanpa izin Allah.
- Kekuatan taubat – Kaum Ninawa yang tadinya musyrik akhirnya selamat dari azab karena mereka bertobat dengan sungguh-sungguh.
- Kedahsyatan doa dalam kesulitan – Doa Nabi Yunus menjadi salah satu doa yang sangat mustajab dalam menghadapi kesulitan hidup.
- Kasih sayang Allah – Meski Nabi Yunus melakukan kesalahan, Allah tetap memberikan kesempatan bagi beliau untuk kembali dan berdakwah.
Kisah ini menunjukkan bahwa rahmat Allah selalu terbuka bagi siapa pun yang bertobat, baik seorang nabi maupun umatnya.
Kisah Nabi Yunus ‘alayhis salam dalam Perspektif Ketaatan dan Tasawuf
Kisah Nabi Yunus ‘alayhis salam mengandung banyak pelajaran dalam aspek ketaatan kepada Allah dan memiliki dimensi tasawuf yang mendalam, terutama dalam konsep fana' (melebur dalam kehendak Allah), sabar, dan tawakkal.
I. Ketaatan Nabi Yunus ‘alayhis salam dan Ujian dalam Kepatuhan
Dalam konteks ketaatan, kisah Nabi Yunus memberikan gambaran bahwa seorang hamba, terutama seorang nabi, harus selalu patuh kepada Allah dalam segala keadaan, tanpa mendahului keputusan-Nya.
1. Kesalahan yang Tidak Disengaja: Meninggalkan Kaum Tanpa Izin
Nabi Yunus meninggalkan kaumnya karena kecewa dan marah atas penolakan mereka terhadap dakwahnya. Namun, ketaatan seorang nabi tidak hanya dalam menyampaikan risalah, tetapi juga dalam menunggu perintah Allah.
Allah mengajarkan bahwa kepergian seorang nabi dari umatnya harus berdasarkan wahyu, bukan berdasarkan perasaan pribadi. Di sinilah ujian ketaatan Nabi Yunus diuji—beliau harus belajar untuk tetap sabar dalam menghadapi penolakan kaumnya.
2. Kembalinya kepada Allah dengan Tawadhu’ dan Taubat
Ketika berada dalam perut ikan, Nabi Yunus menyadari kesalahannya dan segera kembali kepada Allah dengan doa لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ("Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”).
Ini adalah bentuk ketaatan sejati: mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah dengan penuh ketundukan. Ini menunjukkan bahwa ketaatan bukan hanya menjalankan perintah, tetapi juga kembali kepada Allah ketika menyadari kesalahan.
II. Dimensi Tasawuf dalam Kisah Nabi Yunus ‘alayhis salam
Dalam tasawuf, kisah Nabi Yunus menggambarkan perjalanan spiritual seorang hamba dalam mencapai maqam yang lebih tinggi. Ada beberapa pelajaran tasawuf yang bisa dipetik:
1. Fana' dan Kesadaran Akan Ketidakberdayaan Manusia
Nabi Yunus mengalami pengalaman yang menghancurkan ego manusiawi—dari seorang nabi yang memiliki umat, beliau tiba-tiba sendirian dalam kegelapan perut ikan, tidak berdaya, dan hanya bisa bersandar kepada Allah.
Dalam tasawuf, ini disebut sebagai maqam fana' (melebur dalam kehendak Allah), di mana seorang hamba menyadari bahwa dirinya tidak memiliki daya dan kekuatan selain dari Allah.
Ketika berada dalam kegelapan laut dan perut ikan, beliau benar-benar kehilangan rasa memiliki terhadap dirinya sendiri. Inilah penghancuran ego yang menjadi salah satu puncak dalam perjalanan tasawuf.
2. Dzikir Nabi Yunus: Kunci dalam Maqam Fana’
Dzikir Nabi Yunus لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ adalah ungkapan fana' yang menunjukkan kesadaran bahwa hanya Allah yang memiliki kuasa, dan diri kita penuh dengan kelemahan.
Dalam tasawuf, dzikir ini sangat dianjurkan karena menghancurkan keakuan (ego) dan mengajarkan kehambaan sejati.
3. Hikmah Kesabaran dalam Jalan Makrifat
Kesabaran adalah maqam penting dalam tasawuf. Nabi Yunus awalnya kurang sabar dalam menghadapi kaumnya, tetapi Allah mengajarkan kesabaran melalui pengalaman dalam perut ikan.
Dalam tasawuf, kesabaran dalam menerima kehendak Allah adalah salah satu maqam tertinggi. Allah mendidik Nabi Yunus untuk mencapai maqam ini dengan:
- Menempatkannya dalam ujian kesendirian, sehingga hanya bergantung kepada Allah.
- Memberinya jalan untuk kembali dan berkhidmat kepada kaumnya, sehingga ia lebih memahami bahwa semua berjalan dalam ketentuan Allah.
4. Kembalinya Nabi Yunus: Simbol Maqam Baqa'
Dalam tasawuf, setelah seseorang mengalami fana' (melebur dalam kehendak Allah), ia akan mencapai baqa' (hidup kembali dalam kesadaran ilahi).
Ketika Nabi Yunus kembali ke kaumnya setelah pengalaman dalam perut ikan, ia telah dibersihkan dari keakuan (ego) dan lebih memahami kehendak Allah.
Ia kembali berdakwah dengan maqam yang lebih tinggi, lebih sabar, dan lebih tawakkal kepada Allah.
III. Kesimpulan: Ketaatan dan Tasawuf dalam Kisah Nabi Yunus
- Ketaatan Nabi Yunus diuji melalui kesabaran dan ketundukan kepada Allah.
- Beliau harus belajar bahwa taat kepada Allah bukan hanya dalam berdakwah, tetapi juga dalam menerima kehendak-Nya dengan sabar.
- Dalam tasawuf, kisah ini mencerminkan perjalanan spiritual hamba Allah—dari ujian ego, pengakuan akan kelemahan diri, hingga mencapai maqam yang lebih tinggi dalam kesadaran tauhid.
- Dzikir Nabi Yunus menjadi inti dari perjalanan tasawuf—menyadari bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.
Kisah Nabi Yunus adalah pelajaran bagi setiap salik (pencari jalan Allah) bahwa perjalanan menuju Allah melibatkan kehancuran ego, ketundukan, kesabaran, dan akhirnya mencapai kesadaran ilahi yang lebih tinggi.







0 komentar:
Posting Komentar