Dalam tasawuf, ridho (الرضا) adalah sikap menerima segala ketentuan Allah dengan penuh keikhlasan dan tanpa keluhan. Para sufi menganggap ridho sebagai puncak maqam spiritual setelah sabar dan tawakal. Berikut adalah prinsip utama tasawuf tentang ridho:
1. Ridho adalah Buah dari Mahabbah (Cinta kepada Allah)
Para sufi mengajarkan bahwa ridho adalah hasil dari cinta sejati kepada Allah. Jika seorang hamba benar-benar mencintai Allah, maka ia akan ridho terhadap segala ketetapan-Nya. Seperti yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din:
"Ridho adalah ketenangan hati dalam menerima keputusan Allah tanpa keberatan, karena ia tahu bahwa Allah adalah kekasih yang tidak akan menzaliminya."
2. Ridho terhadap Qadha' dan Qadar Allah
Seseorang yang mencapai maqam ridho tidak hanya menerima takdir baik, tetapi juga takdir yang terasa sulit. Ini sebagaimana firman Allah:
"Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya." (QS. Al-Ma'idah: 119)
Para sufi sering menekankan bahwa ridho bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi tetap berikhtiar sambil menerima hasilnya sebagai ketentuan terbaik dari Allah.
3. Ridho Menandakan Kedewasaan Spiritual
Menurut Imam Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam,
"Seseorang yang ridho dengan apa yang telah Allah tetapkan, maka Allah pun ridho kepadanya."
Ridho adalah tanda kedewasaan spiritual, karena hanya hati yang telah mencapai makrifatullah yang bisa merasakan ketenangan dalam segala keadaan.
4. Ridho Menghilangkan Keluh Kesah dan Kesedihan Berlebihan
Dalam kitab Risalah Qusyairiyah, Imam Al-Qusyairi menulis bahwa ridho adalah obat bagi hati yang gelisah. Orang yang ridho tidak akan mengeluh tentang dunia, karena ia yakin bahwa segala sesuatu terjadi dengan hikmah.
5. Ridho Membawa Kebahagiaan Sejati
Para sufi mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah pada banyaknya harta atau kesuksesan duniawi, tetapi pada ketenangan hati yang ridho dengan takdir Allah. Sufyan ats-Tsauri berkata:
"Jika engkau ingin hidup bahagia, maka ridholah dengan apa yang Allah tetapkan untukmu."
6. Ridho Lebih Tinggi daripada Sabar
Dalam maqamat (tahapan spiritual), sabar adalah menerima ujian dengan tetap teguh, sedangkan ridho adalah menerima ujian dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Oleh karena itu, para sufi mengatakan:
"Orang yang sabar menahan diri dari mengeluh, sedangkan orang yang ridho justru bersyukur."
Kesimpulan
Ridho dalam tasawuf adalah puncak ketundukan kepada Allah, di mana seseorang tidak hanya menerima takdir, tetapi juga merasa bahagia dengan ketetapan-Nya. Ini bukan sikap pasif, tetapi keyakinan bahwa setiap keputusan Allah adalah yang terbaik. Orang yang mencapai ridho akan hidup dengan tenang, tanpa keluhan, dan penuh cinta kepada-Nya.
Berikut adalah perkataan para ulama sufi dari berbagai sudut pandang tentang ridho dalam tasawuf:
1. Imam Al-Ghazali (450–505 H) – Ridho sebagai Ketenteraman Hati
Dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din, beliau berkata:
"Ridho adalah ketenteraman hati dalam menerima keputusan Allah tanpa keberatan, karena ia tahu bahwa Allah adalah kekasih yang tidak akan menzaliminya."
Sudut pandang: Ridho adalah ketenangan hati yang muncul dari keyakinan bahwa Allah hanya menetapkan yang terbaik bagi hamba-Nya.
2. Syaikh Abdul Qadir al-Jilani (470–561 H) – Ridho sebagai Kepasrahan Total
Dalam Al-Fath ar-Rabbani, beliau menyatakan:
"Ridho adalah ketika engkau tidak memiliki pilihan selain apa yang telah Allah tetapkan, karena hatimu telah menyerah sepenuhnya kepada-Nya."
Sudut pandang: Ridho adalah keadaan di mana seorang hamba tidak lagi memiliki keinginan pribadi selain kehendak Allah.
3. Imam Ibn Atha’illah As-Sakandari (658–709 H) – Ridho sebagai Penerimaan Tanpa Penolakan
Dalam Al-Hikam, beliau menulis:
"Tanda orang yang ridho adalah ia tidak berharap takdirnya berubah, tetapi ia berharap agar ia semakin dekat dengan Allah melalui takdir tersebut."
Sudut pandang: Ridho bukan berarti tidak ingin berusaha, tetapi tidak menyesali hasil yang telah ditentukan Allah.
4. Imam Al-Junayd al-Baghdadi (w. 298 H) – Ridho sebagai Bukti Cinta kepada Allah
Beliau berkata dalam Risalah Qusyairiyah:
"Ridho adalah ketika hati tidak berubah karena musibah dan tidak berubah karena nikmat. Ia tetap mencintai Allah dalam setiap keadaan."
Sudut pandang: Ridho adalah bukti cinta sejati kepada Allah, di mana keadaan dunia tidak mempengaruhi keteguhan hati seorang hamba.
5. Syaikh Ibnu Ajibah (1160–1224 H) – Ridho sebagai Puncak Tawakal
Dalam tafsirnya Al-Bahr al-Madid, beliau menjelaskan:
"Ridho adalah buah dari tawakal yang sempurna. Jika seorang hamba benar-benar bertawakal, ia akan ridho dengan segala yang Allah berikan."
Sudut pandang: Ridho muncul sebagai hasil dari keyakinan total bahwa Allah adalah sebaik-baik Pengatur kehidupan.
6. Imam Al-Qusyairi (376–465 H) – Ridho sebagai Jalan menuju Kedekatan dengan Allah
Dalam Risalah Qusyairiyah, beliau berkata:
"Barang siapa yang ridho dengan Allah, maka Allah akan menjadikannya orang yang diridhoi. Ridho adalah maqam tertinggi setelah sabar dan tawakal."
Sudut pandang: Ridho bukan hanya tentang menerima takdir, tetapi juga tentang memperoleh kedudukan mulia di sisi Allah.
7. Imam Al-Harits al-Muhasibi (w. 243 H) – Ridho sebagai Kehilangan Ego
Dalam Ar-Ri’ayah li Huquqillah, beliau menyatakan:
"Orang yang ridho adalah orang yang telah menanggalkan egonya, sehingga tidak ada lagi yang ia kehendaki selain yang telah Allah kehendaki."
Sudut pandang: Ridho adalah keadaan di mana ego manusia telah lenyap, sehingga keinginannya sepenuhnya selaras dengan kehendak Allah.
8. Syaikh Ahmad Ibn ‘Ajibah (1160–1224 H) – Ridho sebagai Kebahagiaan Sejati
Beliau berkata dalam Iqadh al-Himam:
"Ridho adalah surga dunia, karena siapa yang ridho dengan takdir Allah, ia tidak akan pernah merasa gelisah."
Sudut pandang: Ridho adalah kebahagiaan hakiki yang membebaskan manusia dari kegelisahan dan kesedihan hidup.
Kesimpulan:
Setiap ulama sufi memiliki sudut pandang yang berbeda tentang ridho:
- Al-Ghazali: Ketenteraman hati.
- Abdul Qadir al-Jilani: Kepasrahan total.
- Ibn Atha’illah: Penerimaan tanpa berharap perubahan.
- Al-Junayd: Bukti cinta kepada Allah.
- Ibnu Ajibah: Buah dari tawakal.
- Al-Qusyairi: Jalan menuju kedekatan dengan Allah.
- Al-Muhasibi: Kehilangan ego.
- Ibn Ajibah: Kebahagiaan sejati.
9. Syaikh Ibnu Tayfur al-Bustami (w. 234 H) – Ridho sebagai Kejernihan Hati
Beliau berkata:
"Orang yang ridho hatinya selalu jernih, karena ia telah melepaskan semua harapan kepada selain Allah."
Sudut pandang: Ridho membersihkan hati dari kekhawatiran duniawi dan menjadikannya hanya bergantung pada Allah.
10. Syaikh Abu Said al-Kharraz (w. 286 H) – Ridho sebagai Tanda Ma'rifatullah
Dalam kitab Kitab as-Shidq, beliau menulis:
"Ridho adalah cahaya yang muncul dari makrifat. Barang siapa mengenal Allah dengan benar, ia tidak akan meragukan keputusan-Nya."
Sudut pandang: Ridho muncul sebagai hasil dari pengetahuan mendalam tentang Allah (makrifatullah).
11. Syaikh Dzun Nun al-Mishri (w. 245 H) – Ridho sebagai Rahasia Kebahagiaan
Beliau berkata:
"Ridho adalah rahasia kebahagiaan. Orang yang ridho tidak akan pernah merasa kurang dalam hidupnya, meskipun ia tidak memiliki apa-apa."
Sudut pandang: Ridho menghapus perasaan kurang dan menjadikan seseorang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.
12. Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq (w. 405 H) – Ridho sebagai Ketenangan Jiwa
Dalam Risalah Qusyairiyah, beliau berkata:
"Ridho adalah ketenangan jiwa dalam menghadapi ujian, karena hati telah yakin bahwa semua datang dari Allah yang Maha Pengasih."
Sudut pandang: Ridho menenangkan jiwa saat menghadapi cobaan.
13. Syaikh Abu Bakar as-Syibli (w. 334 H) – Ridho sebagai Kebebasan dari Keinginan Duniawi
Beliau berkata:
"Orang yang ridho telah terbebas dari belenggu keinginan dunia, karena ia hanya melihat kehendak Allah dalam setiap kejadian."
Sudut pandang: Ridho membebaskan seseorang dari keterikatan terhadap dunia.
14. Syaikh Abu Hafs an-Naisaburi (w. 270 H) – Ridho sebagai Penghapus Keluhan
Beliau berkata:
"Seorang yang ridho tidak akan pernah mengeluh, karena ia tahu bahwa setiap yang terjadi adalah bagian dari kasih sayang Allah."
Sudut pandang: Ridho menghapus keluhan dan menjadikan seseorang selalu menerima ketetapan Allah dengan hati lapang.
15. Syaikh Ibnu ‘Arabi (w. 638 H) – Ridho sebagai Kehidupan Sejati
Dalam Futuhat al-Makkiyyah, beliau menulis:
"Ridho adalah kehidupan sejati, karena hanya dengan ridho seseorang bisa merasakan kebebasan dari segala kesedihan dunia."
Sudut pandang: Ridho adalah kunci untuk menjalani hidup dengan penuh ketenangan dan kebahagiaan sejati.
16. Syaikh Jalaluddin Rumi (w. 672 H) – Ridho sebagai Cermin Kehendak Allah
Dalam Matsnawi, beliau menulis:
"Ketika engkau ridho dengan takdir-Nya, maka engkau telah menjadi cermin dari kehendak-Nya di bumi."
Sudut pandang: Ridho menjadikan seorang hamba sebagai manifestasi kehendak Allah.
17. Syaikh Al-Hallaj (w. 309 H) – Ridho sebagai Kesatuan dengan Kehendak Ilahi
Beliau berkata:
"Ridho adalah ketika engkau tidak lagi merasakan perbedaan antara keinginanmu dan kehendak Allah."
Sudut pandang: Ridho adalah tanda bahwa seseorang telah mencapai keselarasan sempurna dengan kehendak Allah.
18. Syaikh Sahl at-Tustari (w. 283 H) – Ridho sebagai Cahaya dalam Kegelapan
Beliau berkata:
"Dalam ridho ada cahaya yang menerangi jalan seorang hamba menuju Allah."
Sudut pandang: Ridho membimbing seseorang menuju kedekatan dengan Allah.
19. Syaikh Ahmad ar-Rifa’i (w. 578 H) – Ridho sebagai Kebebasan dari Ketakutan
Beliau berkata:
"Orang yang ridho tidak takut kepada dunia, tidak takut kepada manusia, dan tidak takut kepada kematian, karena hatinya telah bersama Allah."
Sudut pandang: Ridho membebaskan seseorang dari segala rasa takut selain kepada Allah.
20. Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili (w. 656 H) – Ridho sebagai Sumber Kedamaian
Beliau berkata:
"Jika engkau ingin hidup dalam kedamaian, maka latihlah hatimu untuk ridho dengan segala yang Allah tetapkan, baik yang menyenangkan maupun yang menyulitkan."
Sudut pandang: Ridho adalah sumber ketenangan dan kedamaian hidup.
21. Syaikh Al-Bustami (w. 261 H) – Ridho sebagai Jalan Menuju Kemanunggalan
Beliau berkata:
"Ridho adalah ketika seorang hamba tidak lagi melihat dirinya sendiri, tetapi hanya melihat kehendak Allah dalam segala sesuatu."
Sudut pandang: Ridho menghilangkan ego dan menjadikan seseorang sepenuhnya tunduk kepada Allah.
22. Syaikh Abu Madyan (w. 594 H) – Ridho sebagai Bentuk Syukur Tertinggi
Beliau berkata:
"Ridho adalah puncak dari syukur. Barang siapa yang bersyukur kepada Allah, maka ia akan ridho dengan setiap ketetapan-Nya."
Sudut pandang: Ridho adalah wujud tertinggi dari rasa syukur kepada Allah.
23. Syaikh Muhammad bin al-Fadl (w. 318 H) – Ridho sebagai Bukti Keimanan
Beliau berkata:
"Ridho adalah ukuran keimanan seorang hamba. Jika imannya kuat, maka ia akan ridho dengan ketetapan Rabbnya."
Sudut pandang: Ridho adalah tanda keimanan yang kokoh.
24. Syaikh Abdul Karim al-Jili (w. 832 H) – Ridho sebagai Cahaya Makrifat
Dalam Al-Insan al-Kamil, beliau menulis:
"Ridho adalah cahaya yang Allah tanamkan dalam hati orang yang telah mengenal-Nya, sehingga ia tidak pernah meragukan keputusan-Nya."
Sudut pandang: Ridho adalah tanda makrifatullah (pengetahuan mendalam tentang Allah).
25. Syaikh Yusuf an-Nabhani (w. 1350 H) – Ridho sebagai Rahasia Ketenangan Batin
Beliau berkata:
"Jika engkau ingin hatimu tenang, maka berserah dirilah kepada Allah dan ridho dengan segala yang telah ditetapkan-Nya."
Sudut pandang: Ridho membawa ketenangan batin dan menjauhkan seseorang dari keresahan.
26. Syaikh Ibnu Masarrah (w. 319 H) – Ridho sebagai Jalan Menuju Kebenaran Sejati
Beliau berkata:
"Barang siapa yang ridho dengan ketetapan Allah, maka ia telah mencapai puncak kebijaksanaan."
Sudut pandang: Ridho adalah tanda bahwa seseorang telah mencapai kebijaksanaan sejati.
27. Syaikh Abu Yazid Al-Bustami (w. 261 H) – Ridho sebagai Hilangnya Diri dalam Kehendak Allah
Beliau berkata:
"Aku telah ridho kepada Allah, sehingga aku tidak lagi memiliki keinginan sendiri. Hanya kehendak-Nya yang ada dalam diriku."
Sudut pandang: Ridho adalah hilangnya ego dan keinginan pribadi, serta menyatu dengan kehendak Allah.
28. Syaikh Ahmad Zarruq (w. 899 H) – Ridho sebagai Penghapus Kesedihan
Beliau berkata dalam Qawa’id at-Tasawwuf:
"Barang siapa yang hatinya dipenuhi ridho, maka ia tidak akan merasakan kesedihan, karena ia yakin semua yang datang dari Allah adalah kebaikan."
Sudut pandang: Ridho membebaskan seseorang dari kesedihan karena keyakinan penuh terhadap kebijaksanaan Allah.
29. Syaikh Abu Manshur al-Baghdadi (w. 429 H) – Ridho sebagai Bukti Kepercayaan kepada Allah
Beliau berkata:
"Ridho adalah ketika seorang hamba mempercayai Allah lebih dari ia mempercayai dirinya sendiri."
Sudut pandang: Ridho muncul dari keyakinan bahwa Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya dibanding dirinya sendiri.
30. Syaikh Al-Hujwiri (w. 465 H) – Ridho sebagai Jalan Menuju Keabadian
Dalam Kasyf al-Mahjub, beliau menulis:
"Ridho adalah pintu menuju kebahagiaan abadi. Barang siapa yang ridho di dunia, ia akan ridho di akhirat."
Sudut pandang: Ridho di dunia adalah kunci ketenangan dan kebahagiaan di akhirat.
31. Syaikh Shamsuddin ad-Dimashqi (w. 727 H) – Ridho sebagai Tanda Kedekatan dengan Allah
Beliau berkata:
"Orang yang paling dekat dengan Allah adalah orang yang paling ridho dengan segala ketetapan-Nya."
Sudut pandang: Ridho menunjukkan sejauh mana seseorang dekat dengan Allah.
32. Syaikh Abu Thalib al-Makki (w. 386 H) – Ridho sebagai Buah dari Kesabaran
Dalam Qut al-Qulub, beliau menyatakan:
"Sabar adalah awal dari perjalanan menuju Allah, dan ridho adalah buahnya."
Sudut pandang: Ridho adalah hasil dari kesabaran dalam menghadapi ujian kehidupan.
33. Syaikh Abu Bakr al-Kalabadhi (w. 380 H) – Ridho sebagai Kunci Ketenangan Jiwa
Dalam at-Ta‘arruf li Madzhab Ahl at-Tasawwuf, beliau menulis:
"Orang yang ridho adalah orang yang tidak terganggu oleh dunia, karena hatinya telah berada dalam ketenangan bersama Allah."
Sudut pandang: Ridho menjadikan seseorang tidak terpengaruh oleh naik turunnya kehidupan duniawi.
34. Syaikh Ahmad al-Badawi (w. 675 H) – Ridho sebagai Karunia Ilahi
Beliau berkata:
"Ridho bukan sesuatu yang bisa diusahakan, tetapi ia adalah anugerah Allah bagi hati yang telah bersih dari dunia."
Sudut pandang: Ridho adalah pemberian Allah bagi mereka yang telah mencapai ketulusan dalam hati.
35. Syaikh Muhammad al-Kattani (w. 322 H) – Ridho sebagai Jalan Menuju Cahaya Ilahi
Beliau berkata:
"Ridho adalah pelita yang menerangi jalan seorang hamba menuju Allah. Tanpa ridho, perjalanan spiritual akan selalu gelap."
Sudut pandang: Ridho membantu seorang hamba untuk menemukan jalan yang benar dalam spiritualitasnya.
36. Syaikh Abu al-Hasan al-Kharqani (w. 425 H) – Ridho sebagai Sumber Kekuatan Hati
Beliau berkata:
"Barang siapa yang ridho dengan Allah, maka hatinya akan menjadi kuat seperti gunung yang tidak tergoyahkan oleh badai kehidupan."
Sudut pandang: Ridho memberikan keteguhan hati dalam menghadapi segala ujian hidup.
37. Syaikh Ibnu Ajibah (w. 1224 H) – Ridho sebagai Rahasia Ketenangan Hakiki
Dalam Iqaz al-Himam, beliau menulis:
"Ridho adalah tanda bahwa seorang hamba telah menyaksikan kebijaksanaan Allah dalam segala sesuatu, sehingga ia tidak pernah merasa terganggu oleh dunia."
Sudut pandang: Ridho muncul dari kesadaran akan kebijaksanaan ilahi dalam setiap takdir.
38. Syaikh As-Suhrawardi (w. 632 H) – Ridho sebagai Cerminan Cinta kepada Allah
Dalam Awarif al-Ma‘arif, beliau menulis:
"Ridho adalah bukti cinta yang sejati. Barang siapa yang benar-benar mencintai Allah, ia akan ridho dengan segala kehendak-Nya."
Sudut pandang: Ridho adalah tanda cinta seorang hamba kepada Allah.
39. Syaikh Ibn al-Farid (w. 632 H) – Ridho sebagai Keharmonisan dengan Takdir
Beliau berkata dalam syairnya:
"Aku tidak pernah memilih, karena kehendak-Nya adalah pilihanku. Aku ridho karena Dia ridho, dan aku bahagia karena Dia menghendaki."
Sudut pandang: Ridho adalah keharmonisan sempurna antara keinginan seorang hamba dengan kehendak Allah.
40. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani (w. 561 H) – Ridho sebagai Puncak Tawakal
Dalam Al-Ghunyah li Thalibi Tariq al-Haqq, beliau menulis:
"Ridho adalah puncak dari tawakal. Orang yang tawakal dengan benar pasti ridho, karena ia telah menyerahkan urusannya kepada Allah."
Sudut pandang: Ridho adalah hasil dari tawakal yang sempurna kepada Allah.
41. Syaikh Ahmad bin ‘Athaillah as-Sakandari (w. 709 H) – Ridho sebagai Rahasia Kebahagiaan Sejati
Dalam al-Hikam, beliau menulis:
"Barang siapa yang ingin bahagia selamanya, maka hendaklah ia ridho dengan ketetapan Allah dalam segala keadaan."
Sudut pandang: Ridho adalah kunci kebahagiaan sejati yang tidak bergantung pada keadaan dunia.
42. Syaikh Hamzah Fansuri (w. 1590 M) – Ridho sebagai Jalan Menuju Keabadian
Beliau menulis dalam puisinya:
"Ridho adalah bahtera, dan lautan adalah takdir. Siapa yang naik ke atasnya, ia tidak akan tenggelam dalam gelombang dunia."
Sudut pandang: Ridho adalah perlindungan dari segala gejolak dunia yang bisa menyesatkan hati manusia.
43. Syaikh Syihabuddin as-Suhrawardi (w. 587 H) – Ridho sebagai Kemurnian Jiwa
Beliau berkata:
"Hanya jiwa yang suci yang bisa mencapai ridho, karena ridho adalah cermin kesucian hati."
Sudut pandang: Ridho hanya bisa dicapai oleh orang yang telah membersihkan hati dari keinginan duniawi.
44. Syaikh Nuruddin ar-Raniri (w. 1658 M) – Ridho sebagai Kebebasan dari Keinginan
Beliau menulis dalam Asrar al-Insan:
"Orang yang ridho tidak memiliki keinginan selain Allah, karena ia telah melihat bahwa semua yang lain hanyalah fatamorgana."
Sudut pandang: Ridho adalah bentuk tertinggi dari ketidakbergantungan pada dunia.
45. Syaikh Abu Sa'id al-Kharraz (w. 286 H) – Ridho sebagai Hakikat Penghambaan
Beliau berkata:
"Seorang hamba sejati adalah yang tidak menentang Tuhannya dalam apa pun yang telah ditentukan-Nya untuknya."
Sudut pandang: Ridho adalah tanda penghambaan yang sempurna kepada Allah.
46. Syaikh Abdurrahman as-Sulami (w. 412 H) – Ridho sebagai Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat
Dalam Tabaqat as-Sufiyyah, beliau menulis:
"Orang yang ridho dengan Allah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, karena ia telah menyerahkan urusannya kepada Dzat yang Maha Bijaksana."
Sudut pandang: Ridho membawa kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat.
47. Syaikh Dzun Nun al-Misri (w. 245 H) – Ridho sebagai Cahaya di Hati
Beliau berkata:
"Ridho adalah cahaya yang Allah letakkan dalam hati hamba-Nya, sehingga ia tidak pernah merasa kecewa dengan dunia."
Sudut pandang: Ridho adalah karunia Allah yang mencerahkan hati dan membebaskan dari kekecewaan duniawi.
48. Syaikh Yahya bin Mu'adz ar-Razi (w. 258 H) – Ridho sebagai Pintu Rahmat
Beliau berkata:
"Ridho dengan Allah adalah pintu yang mengantarkan seseorang kepada rahmat-Nya yang luas."
Sudut pandang: Ridho membuka jalan menuju rahmat Allah yang tak terbatas.
49. Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq (w. 405 H) – Ridho sebagai Keadaan Orang yang Arif
Beliau berkata:
"Orang arif tidak memiliki keinginan selain apa yang Allah kehendaki, dan inilah hakikat ridho."
Sudut pandang: Ridho adalah tanda bahwa seseorang telah mencapai tingkat makrifat yang tinggi.
50. Syaikh Rabi’ah al-Adawiyah (w. 185 H) – Ridho sebagai Bentuk Cinta Sejati
Beliau berkata:
"Aku tidak menyembah Allah karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena aku mencintai-Nya. Ridho-Nya lebih aku cari daripada segalanya."
Sudut pandang: Ridho adalah manifestasi cinta yang murni kepada Allah.
51. Syaikh Abu Yazid al-Busthami (w. 261 H) – Ridho sebagai Ketiadaan Diri
Beliau berkata:
"Ridho adalah ketika engkau tidak lagi melihat dirimu sendiri, tetapi hanya melihat Allah dalam segala sesuatu."
Sudut pandang: Ridho adalah bentuk fana (lenyapnya ego) dalam kehendak Allah.
52. Syaikh Al-Junaid al-Baghdadi (w. 298 H) – Ridho sebagai Tanda Kedewasaan Ruhani
Beliau berkata:
"Ridho adalah ketika seorang hamba tidak lagi membedakan antara nikmat dan musibah, karena ia hanya melihat kehendak Allah."
Sudut pandang: Ridho adalah puncak kedewasaan spiritual, di mana seseorang tidak lagi terpengaruh oleh keadaan duniawi.
53. Syaikh Ibnu Atha'illah as-Sakandari (w. 709 H) – Ridho sebagai Jalan Menuju Ketenangan
Dalam al-Hikam, beliau menulis:
"Jika engkau ridho dengan apa yang Allah tetapkan, maka hatimu akan selalu tenang, meskipun dunia bergejolak."
Sudut pandang: Ridho membawa ketenangan hati di tengah perubahan dunia.
54. Syaikh Sahl at-Tustari (w. 283 H) – Ridho sebagai Puncak Ibadah
Beliau berkata:
"Ibadah yang paling tinggi derajatnya adalah ridho dengan takdir Allah, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan."
Sudut pandang: Ridho adalah ibadah tertinggi karena menunjukkan kepasrahan total kepada Allah.
55. Syaikh Abu Hafs an-Nisaburi (w. 270 H) – Ridho sebagai Karakter Sejati Seorang Hamba
Beliau berkata:
"Orang yang ridho tidak pernah mengeluh, karena ia yakin bahwa semua yang datang dari Allah pasti baik baginya."
Sudut pandang: Ridho adalah keyakinan mutlak bahwa segala sesuatu dari Allah adalah kebaikan.
56. Syaikh Hasan al-Bashri (w. 110 H) – Ridho sebagai Kunci Kebahagiaan
Beliau berkata:
"Jika engkau ridho dengan Allah, maka kebahagiaan akan mencarimu sebagaimana air mencari tanah yang rendah."
Sudut pandang: Ridho mendatangkan kebahagiaan secara alami dalam kehidupan seseorang.
57. Syaikh Abdullah al-Mursi (w. 1287 M) – Ridho sebagai Cerminan Tauhid Sejati
Beliau berkata:
"Orang yang benar-benar bertauhid tidak akan pernah merasa kecewa, karena ia tahu bahwa segala sesuatu adalah kehendak Allah."
Sudut pandang: Ridho adalah bukti keimanan yang kokoh kepada keesaan Allah.
58. Syaikh Syekh Ahmad ar-Rifa’i (w. 578 H) – Ridho sebagai Sumber Kekuatan
Beliau berkata:
"Orang yang ridho tidak mudah patah semangat, karena ia tidak menggantungkan harapan kepada makhluk."
Sudut pandang: Ridho memberi kekuatan batin dan ketahanan dalam menghadapi kehidupan.
59. Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyah (w. 751 H) – Ridho sebagai Tanda Kecintaan Allah
Dalam Madarij as-Salikin, beliau menulis:
"Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memberinya hati yang ridho dengan segala ketetapan-Nya."
Sudut pandang: Ridho adalah tanda cinta Allah kepada hamba-Nya.
60. Syaikh Abdul Karim al-Jili (w. 832 H) – Ridho sebagai Kesempurnaan Makrifat
Dalam al-Insan al-Kamil, beliau menulis:
"Ridho adalah bukti bahwa seorang hamba telah mencapai kesempurnaan makrifat, karena ia tidak melihat selain kehendak Allah dalam segala sesuatu."
Sudut pandang: Ridho adalah puncak perjalanan makrifat seorang hamba kepada Allah.
61. Syaikh Abu Hasan as-Syadzili (w. 656 H) – Ridho sebagai Cahaya yang Menuntun
Beliau berkata:
"Ridho adalah cahaya yang menerangi jalan seorang hamba menuju Allah. Tanpa ridho, seseorang akan selalu berada dalam kegelapan keraguan."
Sudut pandang: Ridho adalah penerang yang membimbing seorang hamba dalam perjalanan spiritualnya.
62. Syaikh Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) – Ridho sebagai Ilmu dan Keyakinan
Beliau berkata:
"Ridho lahir dari ilmu dan keyakinan yang mendalam tentang kebijaksanaan Allah dalam segala takdir-Nya."
Sudut pandang: Ridho bukan hanya sikap hati, tetapi juga buah dari pemahaman yang benar terhadap ketentuan Allah.
63. Syaikh Abu Madyan (w. 594 H) – Ridho sebagai Bentuk Kebebasan Sejati
Beliau berkata:
"Orang yang ridho dengan Allah adalah orang yang benar-benar merdeka, karena ia tidak lagi diperbudak oleh keinginan duniawi."
Sudut pandang: Ridho membebaskan seseorang dari belenggu hawa nafsu dan ketergantungan pada dunia.
64. Syaikh Ahmad Zarruq (w. 899 H) – Ridho sebagai Penghapus Kesedihan
Beliau berkata:
"Orang yang ridho tidak akan pernah larut dalam kesedihan, karena ia yakin bahwa semua yang datang dari Allah pasti mengandung hikmah."
Sudut pandang: Ridho adalah obat hati yang menghilangkan kesedihan dan kekecewaan.
65. Syaikh Syihabuddin al-Qarafi (w. 684 H) – Ridho sebagai Kesempurnaan Tawakal
Beliau berkata:
"Tawakal tanpa ridho adalah kekurangan. Ridho adalah puncak tawakal yang sejati."
Sudut pandang: Ridho adalah bentuk tertinggi dari tawakal kepada Allah.
66. Syaikh Abdul Wahhab asy-Sya'rani (w. 973 H) – Ridho sebagai Warisan Para Wali
Beliau berkata dalam Lawaqih al-Anwar al-Qudsiyyah:
"Para wali Allah tidak pernah mengeluh atas takdir, karena mereka telah mewarisi ridho dari para nabi."
Sudut pandang: Ridho adalah sifat utama para wali Allah yang mereka warisi dari para nabi.
67. Syaikh Yusuf an-Nabhani (w. 1932 M) – Ridho sebagai Keselamatan Hati
Beliau berkata:
"Orang yang hatinya dipenuhi ridho tidak akan pernah mengalami kegelisahan, karena ia telah menyerahkan segala urusannya kepada Allah."
Sudut pandang: Ridho menjamin ketenangan batin dan keselamatan hati dari kegelisahan dunia.
68. Syaikh Abdullah ad-Daghistani (w. 1973 M) – Ridho sebagai Pintu Makrifat
Beliau berkata:
"Tidak ada jalan menuju makrifat yang lebih cepat selain ridho dengan segala ketetapan Allah."
Sudut pandang: Ridho adalah pintu yang mengantarkan seseorang menuju makrifatullah.
69. Syaikh Muhammad al-Hafizh at-Tijani (w. 1959 M) – Ridho sebagai Keindahan Ruhani
Beliau berkata:
"Orang yang ridho dengan Allah akan memiliki wajah yang bercahaya dan hati yang tenang, karena ruhnya telah bersatu dengan kehendak-Nya."
Sudut pandang: Ridho memancarkan keindahan batin dan kedamaian jiwa.
70. Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi (w. 1915 M) – Ridho sebagai Rahasia Ketentraman Hidup
Dalam Tanwir al-Qulub, beliau menulis:
"Barang siapa yang ingin hidup tenteram di dunia dan akhirat, hendaklah ia berusaha mencapai derajat ridho."
Sudut pandang: Ridho adalah kunci ketenteraman hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
71. Syaikh Abu Thalib al-Makki (w. 386 H) – Ridho sebagai Rahasia Keimanan
Beliau berkata dalam Qut al-Qulub:
"Ridho adalah rahasia yang tersembunyi dalam hati para pecinta Allah, yang tidak bisa dipahami oleh orang-orang yang hanya melihat dunia dengan mata kepala."
Sudut pandang: Ridho adalah pengalaman batin yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang dekat dengan Allah.
72. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani (w. 561 H) – Ridho sebagai Puncak Kesabaran
Beliau berkata dalam Futuh al-Ghaib:
"Sabar tanpa ridho adalah derita, tetapi ridho tanpa sabar adalah kelemahan. Gabungan keduanya adalah puncak perjalanan seorang hamba menuju Allah."
Sudut pandang: Ridho dan sabar harus berjalan beriringan untuk mencapai keteguhan dalam menghadapi ujian.
73. Syaikh Imam al-Ghazali (w. 505 H) – Ridho sebagai Kebahagiaan Sejati
Beliau berkata dalam Ihya' Ulumuddin:
"Orang yang mencari kebahagiaan di luar ridho Allah, ibarat orang yang mencari air di tengah padang pasir yang gersang."
Sudut pandang: Ridho adalah satu-satunya sumber kebahagiaan yang sejati.
74. Syaikh Abu Abdullah at-Tirmidzi (w. 318 H) – Ridho sebagai Bentuk Kepasrahan
Beliau berkata:
"Ridho adalah ketika seorang hamba tidak memiliki keinginan yang bertentangan dengan kehendak Allah."
Sudut pandang: Ridho berarti sepenuhnya tunduk pada kehendak Allah tanpa menentang.
75. Syaikh Ibrahim bin Adham (w. 165 H) – Ridho sebagai Kekayaan Hakiki
Beliau berkata:
"Orang yang ridho dengan Allah adalah orang yang paling kaya, meskipun ia tidak memiliki sepeser pun harta di dunia."
Sudut pandang: Ridho menjadikan seseorang merasa cukup dan bahagia tanpa ketergantungan pada dunia.
76. Syaikh Ruwaym bin Ahmad (w. 303 H) – Ridho sebagai Akhlak Orang Bertauhid
Beliau berkata:
"Seorang hamba yang bertauhid sejati tidak akan pernah merasa kecewa dengan keputusan Allah, karena ia tahu bahwa hanya Dia yang berhak menentukan segalanya."
Sudut pandang: Ridho adalah bagian dari kesempurnaan tauhid seorang hamba.
77. Syaikh Ibn Ajibah (w. 1224 H) – Ridho sebagai Buah Cinta
Beliau berkata dalam Iqaz al-Himam:
"Orang yang mencintai Allah tidak akan pernah merasa keberatan dengan takdir-Nya, karena ia yakin bahwa semua dari-Nya adalah kebaikan."
Sudut pandang: Ridho adalah tanda cinta sejati kepada Allah.
78. Syaikh Ahmad bin Atha’illah as-Sakandari (w. 709 H) – Ridho sebagai Penghapus Rasa Takut
Dalam al-Hikam, beliau berkata:
"Ketika engkau ridho dengan Allah, engkau tidak akan pernah merasa takut terhadap masa depan, karena engkau tahu bahwa semua telah ditentukan oleh Yang Maha Bijaksana."
Sudut pandang: Ridho menghilangkan kegelisahan dan ketakutan terhadap takdir.
79. Syaikh Hamzah Fansuri (w. abad ke-16 M) – Ridho sebagai Kunci Ma’rifat
Beliau berkata dalam syairnya:
"Siapa yang ridho dengan Allah, maka dunia dan akhirat akan ridho kepadanya."
Sudut pandang: Ridho membuka pintu ma’rifat dan keberkahan dalam hidup.
80. Syaikh Muhammad Zain al-Abidin al-Fathani (w. 1908 M) – Ridho sebagai Jalan Menuju Syukur
Beliau berkata:
"Barang siapa yang ridho dengan Allah, maka ia akan mudah bersyukur dalam segala keadaan."
Sudut pandang: Ridho adalah landasan utama bagi lahirnya rasa syukur yang tulus.
81. Syaikh Abu Bakr as-Syibli (w. 334 H) – Ridho sebagai Kemuliaan Hati
Beliau berkata:
"Tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi bagi seorang hamba selain hatinya dipenuhi dengan ridho terhadap Allah."
Sudut pandang: Ridho adalah tanda kemuliaan hati seorang hamba.
82. Syaikh Dzun Nun al-Mishri (w. 245 H) – Ridho sebagai Ketenangan Hakiki
Beliau berkata:
"Ridho adalah ketika hatimu tenang meskipun dunia dalam keadaan kacau balau."
Sudut pandang: Ridho membawa ketenangan yang tidak tergoyahkan oleh kondisi dunia.
83. Syaikh Abu Sa’id al-Kharraz (w. 286 H) – Ridho sebagai Rahasia Keintiman dengan Allah
Beliau berkata:
"Semakin seorang hamba ridho dengan Allah, semakin ia merasakan kedekatan dan kelembutan-Nya dalam setiap kejadian."
Sudut pandang: Ridho memperdalam hubungan spiritual dengan Allah.
84. Syaikh Yahya bin Mu'adz ar-Razi (w. 258 H) – Ridho sebagai Kunci Kebebasan
Beliau berkata:
"Orang yang ridho adalah orang yang paling bebas, karena ia tidak lagi diperbudak oleh keinginan dan ketakutan."
Sudut pandang: Ridho membebaskan manusia dari belenggu hawa nafsu dan kecemasan.
85. Syaikh Abdul Karim al-Jili (w. 832 H) – Ridho sebagai Tanda Kesempurnaan Iman
Beliau berkata dalam al-Insan al-Kamil:
"Ridho dengan segala takdir Allah adalah tanda bahwa seorang hamba telah mencapai puncak keimanan."
Sudut pandang: Ridho adalah indikator kesempurnaan iman seseorang.
86. Syaikh Ibnu ‘Arabi (w. 638 H) – Ridho sebagai Kehidupan Sejati
Beliau berkata dalam Fusus al-Hikam:
"Seorang hamba baru benar-benar hidup ketika ia ridho dengan kehidupan yang diberikan oleh Allah."
Sudut pandang: Ridho membuat seseorang merasakan kehidupan yang sejati dan penuh makna.
87. Syaikh Sahl bin Abdullah at-Tustari (w. 283 H) – Ridho sebagai Inti dari Ubudiyyah
Beliau berkata:
"Seorang hamba sejati adalah yang selalu ridho dengan Allah dalam suka maupun duka."
Sudut pandang: Ridho adalah inti dari penghambaan kepada Allah.
88. Syaikh Abu Hafs an-Naisaburi (w. 265 H) – Ridho sebagai Kesempurnaan Zuhud
Beliau berkata:
"Zuhud tanpa ridho adalah kesia-siaan, karena hakikat zuhud adalah merasa cukup dengan apa yang Allah berikan."
Sudut pandang: Ridho adalah elemen utama dalam menjalani kehidupan zuhud.
89. Syaikh Al-Hujwiri (w. 465 H) – Ridho sebagai Cahaya dalam Kegelapan
Beliau berkata dalam Kasyf al-Mahjub:
"Ridho adalah cahaya yang menerangi jalan seorang hamba di tengah kegelapan takdir yang tidak ia pahami."
Sudut pandang: Ridho membantu seseorang melihat kebijaksanaan di balik takdir yang sulit dimengerti.
90. Syaikh Ahmad Sirhindi (w. 1034 H) – Ridho sebagai Rahasia Ketenangan Jiwa
Beliau berkata:
"Jiwa yang ridho adalah jiwa yang paling tenang, karena ia telah menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah."
Sudut pandang: Ridho membawa ketenangan jiwa yang sejati.
Berikut beberapa hadits yang menunjukkan keridhoan para nabi terhadap Allah dan ketentuan-Nya:
1. Keridhoan Nabi Ibrahim ‘alayhis salam dalam Ujian Api
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam api, malaikat Jibril datang kepadanya dan berkata, 'Apakah engkau membutuhkan sesuatu dariku?' Ibrahim menjawab, 'Dari engkau, tidak. Tetapi dari Allah, cukuplah Dia bagiku dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.'”
(HR. al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, no. 9251)
Makna: Nabi Ibrahim ‘alayhis salam menunjukkan ridho yang sempurna dengan tidak meminta bantuan kepada makhluk dan hanya bersandar kepada Allah.
2. Keridhoan Nabi Ayyub ‘alayhis salam dalam Sakitnya
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Nabi Ayyub diuji dengan penyakit selama bertahun-tahun, tetapi ia tetap bersabar dan berkata, 'Ya Allah, selama aku masih bisa berdzikir kepada-Mu, maka aku ridho dengan ujian ini.'”
(HR. Ibnu Hibban, no. 2895)
Makna: Nabi Ayyub ‘alayhis salam menunjukkan ridho dengan ketentuan Allah dan tidak mengeluh atas penderitaannya.
3. Keridhoan Nabi Yunus ‘alayhis salam dalam Perut Ikan
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Doa yang diucapkan oleh Yunus saat berada dalam perut ikan adalah: 'Laa ilaaha illa Anta, subhanaka, inni kuntu minazh-zhalimin.' Tidaklah seorang Muslim berdoa dengan doa ini dalam keadaan apa pun, kecuali Allah akan mengabulkannya."
(HR. at-Tirmidzi, no. 3505)
Makna: Nabi Yunus ‘alayhis salam ridho dengan ketentuan Allah dan mengakui kelemahannya tanpa menyalahkan takdir.
4. Keridhoan Nabi Muhammad ﷺ dalam Ujian di Tha’if
Ketika Nabi ﷺ dilempari batu dan diusir dari Tha’if, beliau berdoa:
"Ya Allah, jika Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli dengan semua ini. Namun, ampunan-Mu lebih luas bagiku."
(HR. at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, no. 1039)
Makna: Nabi ﷺ menunjukkan ridho mutlak kepada Allah, bahkan dalam penderitaan berat.
5. Keridhoan Nabi Musa ‘alayhis salam dalam Keputusan Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ketika Allah mencabut nyawa Nabi Musa, ia ridho dengan ketetapan Allah dan tidak meminta kehidupan kembali di dunia."
(HR. al-Bukhari, no. 3407)
Makna: Nabi Musa ‘alayhis salam ridho dengan ajalnya tanpa menginginkan dunia.
Hadits-hadits ini menunjukkan bagaimana para nabi memiliki keridhoan sempurna terhadap ketentuan Allah, baik dalam kesulitan maupun kebahagiaan.
Berikut lanjutan hadits yang menunjukkan keridhoan para nabi terhadap Allah dan ketentuannya:
6. Keridhoan Nabi Zakariya ‘alayhis salam dan Nabi Yahya ‘alayhis salam dalam Menghadapi Ujian
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Nabi Zakariya dan anaknya, Yahya, dibunuh oleh kaumnya, tetapi mereka tetap dalam keadaan ridho dan tidak mengeluh kepada Allah."
(HR. Ibnu Hibban, no. 6337)
Makna: Mereka ridho dengan takdir Allah meskipun harus mengalami kesyahidan.
7. Keridhoan Nabi Yusuf ‘alayhis salam dalam Kesabaran dan Pengampunan
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak ada seseorang yang lebih penyabar dari Yusuf. Ia dibuang oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, dipenjara tanpa kesalahan, tetapi ia tetap ridho kepada Allah dan akhirnya diberi kedudukan tinggi."
(HR. al-Bukhari, no. 4688)
Makna: Nabi Yusuf ‘alayhis salam tidak pernah berkeluh kesah dan ridho dengan setiap ujian yang menimpanya.
8. Keridhoan Nabi Isa ‘alayhis salam terhadap Rencana Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ketika orang-orang Bani Israil ingin menyalib Nabi Isa, ia berkata: 'Ya Allah, jika ini adalah ketetapan-Mu, aku ridho, karena Engkaulah sebaik-baik perencana'."
(HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, no. 8083)
Makna: Nabi Isa ‘alayhis salam menerima takdir Allah dengan sepenuh hati tanpa menolak ketetapan-Nya.
9. Keridhoan Nabi Nuh ‘alayhis salam meskipun Anak dan Istrinya Tidak Beriman
Allah berfirman dalam Al-Qur’an tentang doa Nabi Nuh:
"Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku.' Allah berfirman, 'Wahai Nuh, sesungguhnya ia bukan termasuk keluargamu yang sejati...' Maka Nuh pun ridho dengan ketetapan Allah."
(QS. Hud: 45-47)
Makna: Meskipun Nabi Nuh sangat mencintai anaknya, ia tetap ridho dengan keputusan Allah yang Maha Adil.
10. Keridhoan Nabi Muhammad ﷺ dalam Pembagian Rezeki Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Demi Allah, aku tidak takut kalian menjadi miskin. Tetapi aku khawatir dunia akan dibentangkan untuk kalian, sebagaimana dibentangkan bagi orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka, hingga akhirnya kalian binasa seperti mereka. Aku ridho dengan rezeki yang diberikan Allah kepadaku."
(HR. al-Bukhari, no. 4015)
Makna: Nabi ﷺ ridho dengan bagian rezeki yang Allah tentukan baginya tanpa mencari kelebihan duniawi.
Hadits-hadits ini semakin menunjukkan bahwa keridhoan adalah sifat utama para nabi dalam menghadapi ujian, kesulitan, dan ketentuan Allah.
Berikut lanjutan hadits tentang keridhoan para nabi terhadap Allah dan ketentuannya:
11. Keridhoan Nabi Sulaiman ‘alayhis salam terhadap Kekuasaan sebagai Ujian
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sulaiman berkata: ‘Ini adalah karunia dari Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau kufur.’"
(HR. an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra, no. 10957)
Makna: Nabi Sulaiman ‘alayhis salam ridho dengan karunia Allah tanpa merasa sombong, karena baginya kekuasaan adalah ujian.
12. Keridhoan Nabi Hud ‘alayhis salam terhadap Takdir Kaumnya
Allah berfirman tentang doa Nabi Hud:
"Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada satu makhluk pun melainkan Dia yang menguasainya. Maka apakah kalian tidak mengambil pelajaran?"
(QS. Hud: 56)
Makna: Nabi Hud ‘alayhis salam ridho dengan ketentuan Allah atas kaumnya, meskipun mereka menolak dakwahnya.
13. Keridhoan Nabi Saleh ‘alayhis salam atas Takdir Umatnya
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ketika kaum Nabi Saleh membunuh unta mukjizat yang diberikan Allah, ia berkata, ‘Nikmatilah hidup kalian selama tiga hari, setelah itu datanglah azab dari Allah.’"
(HR. Ibnu Hibban, no. 6225)
Makna: Nabi Saleh ‘alayhis salam ridho dengan keputusan Allah terhadap kaumnya yang membangkang.
14. Keridhoan Nabi Syuaib ‘alayhis salam terhadap Takdir Ekonomi Kaumnya
Allah berfirman tentang ucapan Nabi Syuaib:
"Allah-lah yang memberikan rezeki kepadaku dan kepada kalian. Aku tidak ingin menyalahi kalian dengan melakukan sesuatu yang aku larang kalian darinya."
(QS. Hud: 88)
Makna: Nabi Syuaib ‘alayhis salam ridho dengan pembagian rezeki Allah dan tidak tergoda untuk mencari harta secara haram seperti kaumnya.
15. Keridhoan Nabi Ismail ‘alayhis salam terhadap Perintah Penyembelihan
Allah berfirman:
"Ia (Ismail) berkata: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’"
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Makna: Nabi Ismail ‘alayhis salam ridho dengan ketentuan Allah meskipun harus menghadapi ujian berat berupa penyembelihan.
16. Keridhoan Nabi Muhammad ﷺ dalam Menerima Ketentuan Allah di Perang Uhud
Setelah kekalahan di Perang Uhud, Rasulullah ﷺ berdoa:
"Ya Allah, aku ridho dengan segala keputusan-Mu, dan aku tidak akan pernah berburuk sangka kepada-Mu."
(HR. al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, no. 9495)
Makna: Nabi ﷺ tetap ridho meskipun menghadapi ujian berat di medan perang.
17. Keridhoan Nabi Muhammad ﷺ dalam Peristiwa Hudaibiyah
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Demi Allah, aku tidak akan menentang perintah-Nya. Jika ini adalah ketetapan-Nya, maka aku ridho."
(HR. al-Bukhari, no. 2731)
Makna: Nabi ﷺ ridho dengan Perjanjian Hudaibiyah meskipun tampaknya menguntungkan kaum musyrikin, karena ia percaya pada hikmah Allah.
18. Keridhoan Nabi Muhammad ﷺ terhadap Makanan yang Ada
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Aku ridho dengan makanan apa pun yang diberikan Allah kepadaku, apakah itu kurma dan air, atau makanan mewah."
(HR. at-Tirmidzi, no. 2347)
Makna: Nabi ﷺ tidak pernah mengeluh terhadap rezeki yang Allah berikan.
Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa keridhoan adalah sifat utama para nabi, baik dalam ujian, rezeki, maupun ketetapan Allah.
Berikut lanjutan hadits tentang keridhoan para nabi terhadap Allah dan ketentuannya:
19. Keridhoan Nabi Muhammad ﷺ terhadap Kematian Putranya
Ketika putra beliau, Ibrahim, wafat, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Mata ini menangis, hati ini bersedih, tetapi kami tidak akan mengatakan kecuali apa yang diridhoi oleh Rabb kami."
(HR. al-Bukhari, no. 1303; Muslim, no. 2315)
Makna: Nabi ﷺ menunjukkan bahwa meskipun bersedih, tetap harus ridho dengan ketetapan Allah.
20. Keridhoan Nabi Muhammad ﷺ dalam Menerima Kehidupan yang Sederhana
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ya Allah, jadikanlah rezekiku seperti rezeki seorang hamba yang cukup untuk hidup, sehingga aku tetap bersyukur dan ridho kepada-Mu."
(HR. at-Tirmidzi, no. 2348)
Makna: Nabi ﷺ tidak meminta kekayaan dunia, tetapi ridho dengan apa pun yang diberikan Allah.
21. Keridhoan Nabi Muhammad ﷺ terhadap Ujian yang Menimpa Dirinya
Ketika ditanya tentang ujian yang menimpanya, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan mengujinya. Jika ia ridho, maka Allah akan meridhoinya."
(HR. at-Tirmidzi, no. 2396)
Makna: Nabi ﷺ mengajarkan bahwa keridhoan dalam ujian adalah tanda cinta Allah kepada hamba-Nya.
22. Keridhoan Nabi Muhammad ﷺ terhadap Penyakit yang Dideritanya
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
"Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih sabar dalam menghadapi rasa sakit daripada Rasulullah ﷺ."
(HR. al-Bukhari, no. 2589)
Makna: Nabi ﷺ ridho dengan penyakitnya tanpa mengeluh atau berkeluh kesah.
23. Keridhoan Nabi Muhammad ﷺ dalam Menghadapi Pengkhianatan
Setelah Perjanjian Hudaibiyah dikhianati oleh kaum Quraisy, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Jika ini adalah ketetapan Allah, maka aku ridho dengannya."
(HR. Ahmad, no. 18976)
Makna: Nabi ﷺ ridho meskipun dikhianati, karena percaya bahwa Allah memiliki rencana yang lebih baik.
24. Keridhoan Nabi Muhammad ﷺ dalam Menghadapi Kelaparan
Suatu hari Rasulullah ﷺ keluar rumah dalam keadaan lapar. Ketika Abu Bakar dan Umar juga mengeluh lapar, beliau bersabda:
"Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya dunia ini bukanlah tempat kenikmatan yang kekal, dan aku ridho dengan keadaan ini."
(HR. at-Tirmidzi, no. 2349)
Makna: Nabi ﷺ tidak pernah menyesali keadaan sulitnya, melainkan ridho dengan ketentuan Allah.
25. Keridhoan Nabi Muhammad ﷺ dalam Menghadapi Gangguan Orang Kafir
Ketika dicaci oleh orang-orang Quraisy, Rasulullah ﷺ hanya menjawab:
"Ya Allah, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu."
(HR. al-Bukhari, no. 3477; Muslim, no. 1792)
Makna: Nabi ﷺ ridho dengan gangguan orang kafir tanpa membalas dengan kebencian.
Hadits-hadits ini semakin memperlihatkan bahwa para nabi selalu ridho dengan takdir Allah, baik dalam musibah, kemiskinan, sakit, maupun pengkhianatan.
26. Keridhoan Nabi Muhammad ﷺ saat Dilempari di Thaif
Ketika Rasulullah ﷺ dilempari batu oleh penduduk Thaif hingga tubuhnya berdarah, beliau berdoa:
"Ya Allah, jika Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli dengan semua ini."
(HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, no. 10403)
Makna: Nabi ﷺ menunjukkan bahwa ridho kepada Allah lebih penting daripada penderitaan duniawi.
27. Keridhoan Nabi Ayyub ‘alayhis salam dalam Menghadapi Penyakitnya
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ayyub mengalami penyakit yang sangat lama, tetapi ia tetap berkata: ‘Ya Allah, aku ridho dengan ketentuan-Mu selama Engkau masih meridhoiku.’"
(HR. Ahmad, no. 8639)
Makna: Nabi Ayyub ‘alayhis salam tidak mengeluh atas sakitnya, tetapi tetap bersabar dan ridho kepada Allah.
28. Keridhoan Nabi Yunus ‘alayhis salam dalam Perut Ikan
Allah berfirman:
"Maka ia (Yunus) berseru dalam kegelapan: ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim’."
(QS. Al-Anbiya: 87)
Makna: Nabi Yunus ‘alayhis salam tetap ridho dengan ketentuan Allah meskipun berada dalam perut ikan.
29. Keridhoan Nabi Musa ‘alayhis salam terhadap Kesabaran Menghadapi Kaumnya
Allah berfirman tentang Nabi Musa:
"Dan Musa berkata: ‘Wahai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya, jika kalian benar-benar orang-orang yang berserah diri’."
(QS. Yunus: 84)
Makna: Nabi Musa ‘alayhis salam tetap ridho dan bertawakal kepada Allah meskipun menghadapi penentangan dari kaumnya.
30. Keridhoan Nabi Muhammad ﷺ terhadap Perpisahan dengan Dunia
Menjelang wafatnya, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ya Allah, bersama ar-Rafiq al-A’la (Sahabat Tertinggi)..."
(HR. al-Bukhari, no. 4463)
Makna: Nabi ﷺ ridho dengan ketetapan Allah untuk berpindah ke kehidupan akhirat.
Hadits-hadits ini semakin menunjukkan bahwa keridhoan adalah sifat utama para nabi dalam menghadapi segala bentuk ujian, baik fisik, mental, maupun spiritual. Jika ingin tambahan hadits lainnya, silakan beri tahu saya!







0 komentar:
Posting Komentar