Dalam kitab Qashash al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir, kisah Nabi Yahya ‘alayhis salam diceritakan dengan menyoroti beberapa aspek utama kehidupannya, termasuk kelahirannya yang luar biasa, sifatnya yang penuh ketakwaan, serta kesyahidan tragisnya. Berikut adalah ringkasan pembahasannya:
1. Kelahiran yang Luar Biasa
Nabi Yahya ‘alayhis salam adalah putra Nabi Zakariya ‘alayhis salam, yang telah lama berdoa kepada Allah agar dikaruniai keturunan meskipun usianya telah lanjut dan istrinya mandul. Doanya dikabulkan, dan Allah memberikan kabar gembira melalui malaikat bahwa ia akan memiliki seorang putra bernama Yahya, yang akan menjadi nabi dan pemimpin yang saleh.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Wahai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki yang bernama Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan seseorang yang serupa dengan dia." (QS. Maryam: 7)
2. Keistimewaan dan Sifatnya
Nabi Yahya dikenal memiliki beberapa keistimewaan:
- Diberi hikmah sejak kecil (QS. Maryam: 12).
- Hati yang lembut dan penuh kasih sayang (QS. Maryam: 13).
- Senantiasa taat dan bertakwa kepada Allah.
- Menjauhi hawa nafsu dan tidak terpengaruh godaan dunia.
- Tegas dalam menegakkan hukum Allah dan menasihati Bani Israil.
Dalam Qashash al-Anbiya’, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Yahya adalah seorang hamba yang sangat zuhud, hidup sederhana, tidak memiliki ambisi duniawi, serta sering menangis karena takut kepada Allah.
3. Peranannya dalam Dakwah
Nabi Yahya ‘alayhis salam diangkat sebagai nabi di tengah Bani Israil untuk membimbing mereka kembali kepada ajaran tauhid. Ia mengajarkan hukum-hukum Allah dan memperingatkan kaumnya dari kemaksiatan.
Menurut riwayat, ia juga memiliki hubungan erat dengan Nabi Isa ‘alayhis salam. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa mereka berdua saling menguatkan dalam dakwah.
4. Kesyahidan Nabi Yahya
Kesyahidan Nabi Yahya terjadi akibat kelalimanan penguasa Bani Israil saat itu. Menurut riwayat yang dikutip dalam Qashash al-Anbiya’, Raja Herodes jatuh cinta kepada keponakannya sendiri dan ingin menikahinya. Namun, hukum Allah melarang pernikahan semacam itu. Nabi Yahya menentang pernikahan tersebut secara tegas.
Wanita yang diinginkan oleh sang raja merasa marah dan bersekongkol untuk membunuh Nabi Yahya. Akhirnya, sang raja memerintahkan agar kepala Nabi Yahya dipenggal dan dihadiahkan kepada wanita tersebut dalam sebuah nampan.
Kisah ini menggambarkan keberanian dan keteguhan Nabi Yahya dalam mempertahankan kebenaran, meskipun harus mengorbankan nyawanya.
5. Kedudukannya di Sisi Allah
Allah memuji Nabi Yahya dalam Al-Qur'an sebagai seorang nabi yang saleh dan suci. Ia adalah salah satu dari empat manusia yang disebut mendapat "keselamatan" dalam tiga fase kehidupan: saat lahir, saat wafat, dan saat dibangkitkan kembali.
"Kesejahteraan (dilimpahkan) atas dirinya pada hari ia dilahirkan, pada hari ia meninggal, dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali." (QS. Maryam: 15)
Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa kesyahidan Nabi Yahya menjadikannya sebagai salah satu nabi yang paling mulia di sisi Allah.
Kesimpulan
Kisah Nabi Yahya ‘alayhis salam dalam Qashash al-Anbiya’ mengajarkan banyak hikmah, terutama tentang:
- Pentingnya kesabaran dan doa dalam menghadapi ujian.
- Keutamaan ketaatan dan ketakwaan kepada Allah sejak kecil.
- Keteguhan dalam menegakkan kebenaran, meskipun menghadapi ancaman.
- Pengorbanan seorang nabi dalam menjaga hukum Allah.
Kisah beliau menjadi teladan bagi kaum beriman dalam menjalani kehidupan yang lurus dan tetap istiqamah di jalan Allah.
Kisah Nabi Yahya ‘alayhis salam dalam Qashash al-Anbiya’ mengandung banyak pelajaran tentang ketaatan kepada Allah dan juga memiliki makna mendalam dalam tasawuf, terutama dalam aspek zuhud dan fana’ (melebur dalam kehendak Allah).
1. Aspek Ketaatan Nabi Yahya ‘alayhis salam
a. Ketaatan Sejak Kecil
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
“Wahai Yahya! Ambillah Kitab itu dengan sungguh-sungguh.” Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.” (QS. Maryam: 12)
Ayat ini menunjukkan bahwa sejak kecil, Nabi Yahya sudah menerima hikmah dan pemahaman mendalam tentang hukum-hukum Allah. Ia tidak seperti anak-anak biasa, melainkan seorang yang sudah diberi tanggung jawab kenabian sejak dini.
Dalam tasawuf, ini disebut sebagai ma’rifah billah (pengenalan terhadap Allah) yang sejak awal sudah tertanam kuat dalam hati seseorang yang dipilih Allah.
b. Zuhud dan Kesederhanaan
Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya’ menyebutkan bahwa Nabi Yahya hidup sangat sederhana. Ia tidak mencari kesenangan dunia, tidak makan makanan yang mewah, dan bahkan lebih suka hidup di padang pasir untuk beribadah.
Diriwayatkan bahwa:
- Ia tidak pernah tertawa karena selalu mengingat akhirat.
- Pakaiannya terbuat dari bulu kasar, seperti para sufi yang memakai pakaian suf (wol kasar) sebagai lambang kezuhudan.
- Makanannya hanya tumbuhan dan belalang, menunjukkan ketidakterikatannya pada dunia.
Dalam tasawuf, zuhud seperti ini sangat ditekankan. Para sufi meneladani Nabi Yahya dalam menjauhkan diri dari cinta dunia agar bisa lebih dekat kepada Allah.
c. Tidak Takut kepada Penguasa Zalim
Ketika Raja Herodes ingin menikahi keponakannya, Nabi Yahya dengan tegas mengatakan "Haram!", meskipun ia tahu bahwa keputusannya ini akan membahayakan nyawanya.
Sikap ini adalah bentuk kebenaran tanpa takut kepada manusia (haqqul yaqīn), sebagaimana dalam tasawuf diajarkan bahwa seorang wali Allah hanya takut kepada Allah dan tidak takut kepada makhluk.
Imam Junaid al-Baghdadi mengatakan:
"Orang yang benar-benar mengenal Allah, hatinya tidak lagi dipenuhi rasa takut kepada selain-Nya."
Nabi Yahya adalah contoh nyata dari maqam ini.
2. Aspek Tasawuf dalam Kisah Nabi Yahya ‘alayhis salam
a. Fana’ dalam Kehendak Allah
Dalam tasawuf, fana’ adalah kondisi di mana seseorang melebur dalam kehendak Allah. Nabi Yahya tidak memiliki keinginan pribadi selain mengikuti perintah Allah.
- Ia tidak menikah, bukan karena tidak mampu, tetapi karena sepenuhnya mengabdikan diri kepada Allah.
- Ia tidak mencari dunia, karena ia hanya ingin ridha Allah.
- Ia rela mati dalam perjuangan menegakkan hukum Allah, tanda bahwa dirinya benar-benar sudah fana’ dalam kehendak-Nya.
b. Kedekatan dengan Allah melalui Rasa Takut (Khauf)
Tasawuf mengajarkan bahwa salah satu jalan menuju Allah adalah khauf (rasa takut kepada-Nya). Nabi Yahya adalah orang yang selalu menangis karena takut kepada Allah.
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Nabi Yahya sering menangis dalam ibadahnya hingga membentuk garis air mata di pipinya.
Dalam tasawuf, para wali juga memiliki sifat ini. Mereka takut kepada Allah bukan karena azab-Nya semata, tetapi karena hati mereka penuh dengan cinta kepada Allah dan takut terpisah dari-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada seorang pun yang menangis karena takut kepada Allah kecuali Allah akan menjauhkannya dari neraka.”
Nabi Yahya memiliki sifat ini dalam kadar yang sempurna.
c. Kedudukan Nabi Yahya dalam Makam Wali
Dalam tasawuf, wali-wali Allah memiliki maqam (tingkatan spiritual). Nabi Yahya termasuk dalam maqam Shiddiqin, yaitu orang-orang yang mencapai kebenaran sejati dan tidak lagi memiliki keinginan selain Allah.
- Tawakal: Nabi Yahya hidup tanpa rasa takut akan rezeki.
- Zuhud: Ia meninggalkan segala kenikmatan dunia.
- Ikhlas: Semua amalnya hanya untuk Allah, tidak ada riya sedikit pun.
- Syahid di Jalan Allah: Ini adalah maqam tertinggi dalam tasawuf.
Kesimpulan
-
Aspek Ketaatan
- Nabi Yahya taat sejak kecil, tidak pernah bermaksiat.
- Zuhud dari dunia dan hanya mencari akhirat.
- Berani menegakkan kebenaran tanpa takut kepada manusia.
-
Aspek Tasawuf
- Melebur dalam kehendak Allah (fana’).
- Menangis karena takut kepada Allah (khauf).
- Hidup dalam kesederhanaan (zuhud).
- Mencapai maqam tertinggi sebagai shiddiq dan syahid.
Nabi Yahya adalah teladan dalam ketaatan yang sempurna dan perjalanan spiritual yang tinggi dalam tasawuf.







0 komentar:
Posting Komentar