Kisah Nabi Yusuf عليه السلام dalam Kitab Qashash al-Anbiya' karya Ibnu Katsir merupakan salah satu kisah yang paling panjang dan detail, karena kisahnya juga dijelaskan secara lengkap dalam Surah Yusuf di Al-Qur'an. Berikut adalah ringkasan kisahnya berdasarkan kitab tersebut:
1. Mimpi Nabi Yusuf dan Kedengkian Saudara-saudaranya
Nabi Yusuf عليه السلام bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan sujud kepadanya. Ayahnya, Nabi Ya’qub عليه السلام, menafsirkan bahwa Yusuf akan mendapatkan kedudukan tinggi, tetapi beliau memperingatkan agar Yusuf tidak menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya, karena bisa menimbulkan rasa iri.
Benar saja, saudara-saudaranya merasa iri terhadap kasih sayang lebih yang diberikan Nabi Ya’qub kepada Yusuf dan adiknya, Bunyamin. Mereka pun merencanakan untuk menyingkirkan Yusuf.
2. Nabi Yusuf Dibuang ke Sumur dan Dijual sebagai Budak
Saudara-saudaranya membujuk Nabi Ya’qub agar mengizinkan Yusuf pergi bersama mereka. Setelah mendapatkan izin, mereka membawa Yusuf ke padang pasir dan melemparkannya ke dalam sumur. Mereka kemudian kembali kepada ayahnya dengan membawa baju Yusuf yang telah mereka lumuri darah palsu, berpura-pura bahwa Yusuf telah dimakan serigala.
Seorang kafilah dagang menemukan Yusuf di sumur dan membawanya ke Mesir. Di sana, Yusuf dijual sebagai budak kepada Al-‘Aziz, seorang pejabat tinggi Mesir.
3. Fitnah Istri Al-‘Aziz
Nabi Yusuf tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan dan memiliki akhlak mulia. Istri Al-‘Aziz, yang dikenal dalam riwayat sebagai Zulaikha, tergoda dan mencoba menggoda Yusuf. Namun, Yusuf menolak dan berusaha lari. Dalam usahanya kabur, Zulaikha menarik baju Yusuf hingga robek dari belakang.
Ketika suaminya datang, Zulaikha menuduh Yusuf berbuat jahat. Namun, seorang saksi dalam keluarga menyatakan bahwa jika baju Yusuf robek dari depan, berarti Yusuf yang bersalah. Jika robek dari belakang, berarti Zulaikha yang menggoda Yusuf. Ternyata baju Yusuf robek dari belakang, membuktikan bahwa Yusuf tidak bersalah.
Meski demikian, demi menjaga kehormatan keluarganya, Al-‘Aziz tetap memenjarakan Yusuf.
4. Nabi Yusuf di Penjara dan Tafsir Mimpi Raja
Di dalam penjara, Nabi Yusuf terkenal dengan kebijaksanaannya. Dua orang narapidana meminta Yusuf menafsirkan mimpi mereka. Nabi Yusuf menjelaskan bahwa salah satu dari mereka akan dibebaskan dan menjadi pelayan raja, sementara yang lain akan dihukum mati.
Beberapa tahun kemudian, raja Mesir bermimpi tentang tujuh sapi gemuk yang dimakan oleh tujuh sapi kurus dan tujuh bulir gandum hijau serta tujuh bulir kering. Pelayan yang dahulu ditolong Yusuf mengingatnya dan menyarankan agar Yusuf yang menafsirkannya.
Yusuf menjelaskan bahwa akan ada tujuh tahun masa subur di Mesir, diikuti oleh tujuh tahun kekeringan. Ia menyarankan agar mereka menyimpan hasil panen untuk menghadapi masa sulit.
5. Pembebasan Nabi Yusuf dan Kedudukan di Mesir
Raja Mesir terkesan dengan kebijaksanaan Yusuf dan ingin membebaskannya. Namun, Yusuf menolak keluar penjara sebelum namanya dibersihkan dari fitnah Zulaikha. Setelah Zulaikha mengakui kebenaran, Yusuf dibebaskan dan diangkat sebagai bendahara kerajaan yang mengelola hasil pertanian Mesir.
6. Pertemuan dengan Saudara-saudaranya
Saat masa paceklik tiba, saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk meminta bantuan. Mereka tidak mengenali Yusuf, tetapi Yusuf mengenali mereka. Yusuf memberikan gandum kepada mereka tetapi meminta agar mereka membawa Bunyamin ke Mesir jika ingin mendapatkan lebih banyak persediaan makanan.
Ketika mereka kembali dengan Bunyamin, Yusuf menaruh cawan raja di karung Bunyamin dan kemudian menuduhnya mencuri, sehingga Bunyamin harus tinggal di Mesir.
Saudara-saudara Yusuf kembali ke rumah dengan hati sedih. Nabi Ya’qub, yang masih merindukan Yusuf, kehilangan penglihatannya karena sering menangis.
7. Pengungkapan Identitas dan Kembali Bersama Keluarga
Akhirnya, Yusuf mengungkap identitasnya kepada saudara-saudaranya dan memaafkan mereka. Ia mengirimkan baju miliknya untuk menyembuhkan kebutaan ayahnya.
Ketika Nabi Ya’qub mencium baju Yusuf, penglihatannya kembali. Kemudian, seluruh keluarga Yusuf datang ke Mesir. Sesuai dengan mimpi Yusuf di masa kecilnya, ayah, ibu, dan saudara-saudaranya sujud kepadanya sebagai bentuk penghormatan, bukan ibadah.
8. Hikmah dari Kisah Nabi Yusuf
Kitab Qashash al-Anbiya’ menekankan beberapa pelajaran utama dari kisah ini:
- Kesabaran menghadapi ujian – Yusuf mengalami banyak ujian sejak kecil tetapi tetap teguh dalam imannya.
- Kejujuran dan ketakwaan – Yusuf menolak godaan meskipun bisa saja tergoda.
- Keadilan dan kebijaksanaan – Yusuf tidak membalas dendam kepada saudara-saudaranya, tetapi malah memaafkan mereka.
- Kepasrahan kepada Allah – Yusuf selalu berserah diri kepada Allah dalam setiap situasi.
Itulah ringkasan kisah Nabi Yusuf dalam Kitab Qashash al-Anbiya' karya Ibnu Katsir. Kisah ini menjadi salah satu yang paling inspiratif dalam Islam, mengajarkan tentang kesabaran, keimanan, dan hikmah dalam menghadapi ujian kehidupan.
1. Dimensi Spiritual dan Hikmah Kisah Nabi Yusuf
- Simbol Ketulusan dan Pengorbanan: Kisah Nabi Yusuf adalah salah satu contoh nyata bagaimana keikhlasan menghadapi musibah berujung pada kemenangan sejati.
- Ujian yang Mengangkat Derajat: Allah menguji hamba-Nya sesuai dengan kapasitasnya. Nabi Yusuf melewati berbagai ujian sebagai proses pembentukan karakter dan kedewasaan spiritual.
- Pelajaran tentang Takdir dan Ketetapan Allah: Segala hal dalam hidupnya adalah rangkaian qadarullah (ketentuan Allah) yang berujung pada kebaikan.
2. Hubungan Kisah Nabi Yusuf dengan Konsep Tawhid
- Tawakal yang Sempurna: Nabi Yusuf tidak pernah kehilangan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya penolongnya.
- Menolak Syirik dalam Bentuk Apapun: Dalam penjara, ia berdakwah kepada dua tahanan dan mengajarkan tauhid, menegaskan bahwa Allah-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah (QS. Yusuf: 39-40).
3. Tafsir Sufi tentang Kisah Nabi Yusuf
Dalam kitab Al-Luma’ karya As-Sarraj, disebutkan bahwa kisah Nabi Yusuf adalah simbol perjalanan ruhani seorang salik dalam menuju kedekatan dengan Allah:
- Dibuang ke sumur = fase pengasingan dari dunia untuk membersihkan diri.
- Dijual sebagai budak = simbol ujian terhadap hawa nafsu dan duniawi.
- Dipenjara = simbol fana’ (melebur dalam ketetapan Allah).
- Diangkat sebagai pemimpin = fase kematangan spiritual di mana seorang hamba diberikan kebijaksanaan oleh Allah.
4. Kesimpulan dan Relevansi dengan Kehidupan
- Ujian bukanlah akhir, melainkan awal dari kemuliaan.
- Kejujuran dan keteguhan dalam iman akan selalu membawa kemenangan.
- Keteladanan Nabi Yusuf sangat relevan bagi siapa pun yang sedang menghadapi cobaan berat.
Berikut adalah beberapa tambahan referensi dari kitab-kitab tasawuf yang membahas aspek spiritual dalam kisah Nabi Yusuf ‘alayhis salam:
1. Kitab-Kitab Tasawuf yang Membahas Kisah Nabi Yusuf
a. Al-Luma’ – Abu Nashr As-Sarraj
- Nabi Yusuf sebagai contoh seorang salik (pejalan spiritual) yang diuji untuk mencapai maqam tertinggi dalam perjalanan menuju Allah.
- Cobaan yang ia alami melambangkan tahapan dalam tasawuf:
- Sumur → Penyucian diri dari keterikatan dunia.
- Budak → Ujian nafsu dan kepatuhan kepada Allah.
- Penjara → Fase fana’ (melebur dalam kehendak Allah).
- Kepemimpinan → Maqam baqa’ (kembali kepada manusia sebagai pemimpin dengan kebijaksanaan Allah).
b. Risalah al-Qushayriyyah – Imam Al-Qushayri
- Nabi Yusuf menunjukkan sifat zuhud dan kesabaran yang sempurna.
- Ketika ia berkuasa, tidak ada kesombongan dalam dirinya, justru semakin mendekat kepada Allah.
- Keindahan fisik Nabi Yusuf adalah cerminan dari keindahan akhlaknya yang bersumber dari cahaya ketakwaan.
c. Ihya’ Ulumiddin – Imam Al-Ghazali
- Nabi Yusuf adalah teladan dalam mengendalikan hawa nafsu.
- Beliau lebih memilih penjara daripada mengikuti godaan dunia, menunjukkan puncak mujahadah (perjuangan melawan nafsu).
- Kisahnya mengajarkan pentingnya sabar, syukur, dan ridha terhadap ketetapan Allah.
d. Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu Arabi
- Kisah Nabi Yusuf melambangkan perjalanan ruhani dari keterasingan menuju ma'rifah (makrifatullah).
- Ia melewati tahapan fana' (menghilangkan ego) dan akhirnya mencapai maqam baqa' (kembali dengan kesempurnaan hikmah).
- Makna mimpi Nabi Yusuf dihubungkan dengan haqiqah (realitas ilahi) dan pengetahuan batin yang diberikan oleh Allah.
e. Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari
- "Tidak ada cobaan yang lebih berat daripada cobaan yang menimpa wali Allah, tetapi tidak ada juga nikmat yang lebih besar daripada derajat yang diberikan kepada mereka."
- Nabi Yusuf tidak melihat penderitaannya sebagai kezaliman, melainkan sebagai bentuk tarbiyah (pendidikan) dari Allah.
2. Konsep Fana’ dan Baqa’ dalam Kisah Nabi Yusuf
- Fana’ (melebur dalam kehendak Allah) → Saat dipenjara, Nabi Yusuf tidak mengeluh, melainkan semakin mendekat kepada Allah.
- Baqa’ (kembali dengan hikmah Allah) → Ketika menjadi pemimpin, ia tetap rendah hati dan menganggap semua dari Allah, bukan hasil usaha pribadinya.
3. Pelajaran dari Kisah Nabi Yusuf dalam Tasawuf
- Jangan tergoda oleh dunia → Nabi Yusuf memilih kesucian daripada godaan.
- Keindahan sejati berasal dari hati yang bersih → Keindahan fisik Nabi Yusuf hanyalah cerminan dari ketakwaannya.
- Kesabaran adalah kunci kemenangan spiritual → Tidak ada ujian yang sia-sia jika dihadapi dengan iman.
Semoga ini bermanfaat.







0 komentar:
Posting Komentar