Kisah Nabi Idris ‘Alayhis Salam dalam Qashash al-Anbiya’ Ibnu Katsir dan Kitab-Kitab Lain
Kisah Nabi Idris ‘alayhis salam tidak terlalu panjang dalam Qashash al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir dibandingkan dengan kisah nabi-nabi lain seperti Nabi Nuh atau Nabi Musa. Namun, kisahnya tetap memiliki keunikan tersendiri. Ibnu Katsir menyusun kisahnya berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, serta riwayat dari para ulama terdahulu. Berikut adalah detail kisahnya dengan tambahan dari kitab-kitab lain sebagai pendukung:
1. Identitas dan Keutamaan Nabi Idris ‘Alayhis Salam
Nama Nabi Idris disebut dalam Al-Qur'an dalam dua ayat utama:
-
Surah Maryam (19:56-57)
"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris di dalam Al-Qur'an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi." -
Surah Al-Anbiya’ (21:85-86)
"Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh."
Nabi Idris dikenal sebagai seorang nabi yang bijaksana, tekun beribadah, serta seorang ilmuwan yang membawa banyak ilmu bagi umat manusia. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ia adalah orang pertama yang menulis dengan pena, yang mengajarkan manusia tentang perbintangan, ilmu hitungan, dan jahitan pakaian (sebelumnya manusia hanya mengenakan kulit binatang).
Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa Nabi Idris hidup setelah Nabi Adam dan merupakan keturunan keenam dari Adam:
Adam → Syits → Anusy → Qainan → Mahlail → Yarid → Idris
2. Nabi Idris dalam Qashash al-Anbiya’ Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menyebutkan beberapa riwayat tentang Nabi Idris, termasuk kisah diangkat ke langit.
a) Wafatnya Nabi Idris dan Kisah Perjalanan ke Langit
Dalam sebuah riwayat dari Ka‘b al-Ahbar, disebutkan bahwa:
- Nabi Idris memiliki seorang sahabat dari kalangan malaikat.
- Suatu hari, ia berkata kepada malaikat itu, "Aku ingin mengetahui bagaimana rasanya mati dan melihat keadaan surga serta neraka."
- Malaikat itu lalu meminta izin kepada Allah untuk membawa Nabi Idris ke langit.
- Ketika sampai di langit keempat, malaikat pencabut nyawa (Izrail) bertanya, "Di mana Nabi Idris?"
- Malaikat yang membawa Idris menjawab, "Ia ada di punggungku."
- Izrail berkata, "Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya di sini, di langit keempat."
- Maka, Nabi Idris wafat di sana, dan Allah mengangkatnya ke tempat yang tinggi sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an.
Catatan:
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa riwayat ini berasal dari Israiliyyat (kisah-kisah dari Bani Israil) dan tidak bisa dipastikan kebenarannya, tetapi juga tidak boleh langsung ditolak jika tidak bertentangan dengan akidah Islam.
3. Nabi Idris dalam Kitab-Kitab Lain
a) Dalam Tafsir Ibnu Katsir
Dalam tafsirnya terhadap Surah Maryam ayat 56-57, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Idris termasuk nabi yang saleh dan sabar. Ia juga menyebutkan beberapa pendapat ulama tentang makna "Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi"—beberapa ulama mengatakan bahwa ini berarti diangkat ke langit, sementara yang lain menafsirkannya sebagai kedudukan tinggi di sisi Allah.
b) Dalam Kitab Tarikh ath-Thabari
Ath-Thabari menyebutkan bahwa Nabi Idris adalah orang pertama yang mengenakan pakaian berjahit. Ia juga dikatakan sebagai nabi yang pandai dalam ilmu falak dan hitungan serta merupakan seorang ahli hikmah yang mengajarkan kebaikan kepada kaumnya.
c) Dalam Al-Bidayah wan-Nihayah Ibnu Katsir
Ibnu Katsir dalam kitab sejarahnya ini menambahkan bahwa Nabi Idris berumur 365 tahun (berdasarkan riwayat Israiliyyat). Ia juga menulis bahwa Idris diperintahkan oleh Allah untuk berdakwah kepada kaumnya agar meninggalkan penyembahan berhala yang mulai muncul setelah zaman Nabi Adam.
4. Pelajaran dari Kisah Nabi Idris ‘Alayhis Salam
- Keteladanan dalam ilmu dan amal: Nabi Idris adalah contoh bagaimana seorang nabi tidak hanya beribadah, tetapi juga mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengajarkannya kepada umat manusia.
- Kesabaran dan ketaatan: Dalam Al-Qur'an, ia disebut sebagai orang yang sabar dan saleh, menunjukkan bahwa sifat ini sangat penting dalam menjalani kehidupan.
- Makna pengangkatan ke tempat yang tinggi: Ulama menafsirkan pengangkatan ini sebagai kemuliaan dan kedekatan dengan Allah, yang bisa menjadi pelajaran bahwa ketakwaan membawa seseorang ke derajat tinggi di sisi-Nya.
Kesimpulan
- Dalam Qashash al-Anbiya’, Ibnu Katsir menjelaskan Nabi Idris sebagai nabi yang saleh, sabar, dan memiliki banyak ilmu.
- Ia disebut dalam dua ayat Al-Qur'an dan dikisahkan memiliki hubungan dengan malaikat serta diangkat ke tempat yang tinggi.
- Dalam kitab-kitab lain seperti Tarikh ath-Thabari dan Al-Bidayah wan-Nihayah, disebutkan bahwa Nabi Idris adalah orang pertama yang menulis dengan pena, menjahit pakaian, dan mendalami ilmu perbintangan.
- Pelajaran penting dari kisahnya adalah pentingnya ilmu, ketekunan dalam ibadah, dan kesabaran dalam menjalani kehidupan.
Penggambaran Kaum Nabi Idris ‘Alayhis Salam
Kisah tentang kaum Nabi Idris tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an, tetapi dari berbagai kitab tafsir, sejarah Islam, dan sumber Israiliyat, dapat disusun gambaran umum tentang keadaan kaumnya.
1. Nasab dan Masa Hidup Nabi Idris
Nabi Idris adalah keturunan keenam dari Nabi Adam ‘alayhis salam:
Adam → Syits → Anusy → Qainan → Mahlail → Yarid → Idris
Menurut riwayat, Nabi Idris hidup sekitar 1000 tahun setelah Nabi Adam dan merupakan nabi pertama yang diutus setelah Nabi Syits ‘alayhis salam. Ia lahir di Babilonia, wilayah yang saat itu sudah mulai berkembang peradabannya.
2. Keadaan Kaum Nabi Idris
a) Kemajuan Peradaban
Dalam beberapa riwayat, kaum Nabi Idris memiliki beberapa keistimewaan:
- Mereka adalah keturunan Nabi Adam yang telah berkembang dalam pertanian, peternakan, dan perindustrian.
- Kaum ini disebut mulai mengembangkan ilmu falak (astronomi), hitungan (matematika), serta seni menulis dan membaca—disebutkan bahwa Nabi Idris adalah nabi pertama yang menulis dengan pena.
- Mereka mengenakan pakaian berjahit, berbeda dengan generasi sebelumnya yang hanya mengenakan kulit binatang.
Namun, di balik kemajuan ini, muncul pula penyimpangan akidah dan moral, yang menyebabkan mereka tersesat.
b) Penyimpangan Kaum Nabi Idris
Seiring berjalannya waktu, kaum Nabi Idris mengalami penyimpangan akidah, yang ditandai dengan:
-
Kemunculan Kemusyrikan
- Setelah wafatnya Nabi Adam dan Nabi Syits, banyak orang saleh yang dihormati oleh masyarakat.
- Iblis mempengaruhi kaum ini agar membuat patung-patung untuk mengenang orang-orang saleh tersebut.
- Patung-patung itu kemudian mulai disembah oleh generasi berikutnya, sehingga muncul penyembahan berhala pertama dalam sejarah manusia.
- Tradisi penyembahan ini terus berkembang dan akhirnya diwarisi oleh kaum Nabi Nuh ‘alayhis salam.
-
Moral yang Rusak
- Kaum ini semakin jauh dari ajaran tauhid dan mulai melakukan maksiat, kezaliman, serta kejahatan sosial.
- Perbedaan antara orang saleh dan pendosa semakin terlihat, sehingga terjadi pemisahan antara golongan mukmin dan kafir.
3. Dakwah Nabi Idris
a) Mengajak kepada Tauhid
Nabi Idris berdakwah agar kaumnya kembali kepada ajaran tauhid, meninggalkan berhala, dan beribadah hanya kepada Allah. Ia menyeru mereka agar tidak terjebak dalam hawa nafsu dan kemaksiatan.
b) Pembagian Dua Kelompok Manusia
- Kelompok Mukmin: Mengikuti ajaran Nabi Idris, tinggal di gunung-gunung, dan menjalankan hidup dengan penuh ketaatan kepada Allah.
- Kelompok Kafir: Mereka tinggal di dataran rendah, sibuk dengan kemewahan duniawi, penyembahan berhala, dan perbuatan dosa.
Kaum kafir ini sering kali menggoda kaum mukmin agar ikut dalam kesesatan mereka. Nabi Idris pun terus berusaha membimbing mereka, tetapi mayoritas menolak.
4. Hukuman Allah terhadap Kaum yang Kafir
Karena kaum yang menolak dakwah Nabi Idris semakin bertambah dan perilaku mereka semakin rusak, Allah menurunkan hukuman kepada mereka.
a) Musibah Kekeringan
- Menurut riwayat dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tarikh ath-Thabari, Nabi Idris berdoa kepada Allah agar memberi peringatan kepada kaum yang durhaka.
- Allah pun menahan hujan selama tiga tahun sehingga terjadi kekeringan panjang, membuat kaum kafir kesulitan mendapatkan makanan dan air.
- Setelah banyak penderitaan, sebagian dari mereka mulai sadar dan meminta Nabi Idris berdoa kepada Allah agar menurunkan hujan kembali.
b) Kaum Mukmin Hijrah
Melihat kezaliman kaum kafir, Nabi Idris dan pengikutnya akhirnya berhijrah ke Mesir. Di sana, beliau melanjutkan dakwahnya dan mengajarkan hukum-hukum Allah kepada umatnya.
5. Pelajaran dari Kisah Kaum Nabi Idris
-
Peradaban maju tanpa iman akan membawa kehancuran
- Kaum Nabi Idris maju dalam teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi karena mereka menyimpang dalam akidah, akhirnya mereka dihancurkan.
-
Penyembahan berhala berawal dari sikap berlebihan dalam menghormati orang saleh
- Kepercayaan terhadap tokoh-tokoh saleh yang berlebihan menyebabkan munculnya patung-patung yang akhirnya disembah.
-
Hukuman Allah terhadap kaum yang durhaka datang secara bertahap
- Kaum yang menolak dakwah Nabi Idris mengalami kekeringan sebagai peringatan, tetapi mereka tetap tidak mau bertobat.
-
Hijrah sebagai solusi bagi kaum beriman
- Ketika kezaliman semakin besar, Nabi Idris membawa pengikutnya untuk mencari tempat yang lebih aman agar bisa menjalankan ajaran Allah dengan baik.
Kesimpulan
- Kaum Nabi Idris adalah masyarakat pertama yang mulai menyimpang dalam akidah dan menyembah berhala, meskipun mereka memiliki peradaban yang maju.
- Nabi Idris menyeru mereka untuk kembali kepada tauhid, tetapi mayoritas menolak.
- Allah menurunkan kekeringan sebagai azab, tetapi mereka tetap durhaka.
- Nabi Idris dan para pengikutnya akhirnya berhijrah ke Mesir untuk melanjutkan dakwahnya.
Kisah ini memberikan pelajaran penting bahwa kemajuan duniawi tidak berarti apa-apa tanpa ketakwaan. Apakah Anda ingin tambahan referensi dari kitab-kitab lain atau aspek lain dari kisah ini?
Anda ingin tambahan referensi dari kitab lain atau ada bagian yang ingin dibahas lebih dalam?







0 komentar:
Posting Komentar