Rabu, 12 Maret 2025

KISAH NABI NUH AS

 

Gambaran Syurgawi GenZArtDoc

Kisah Nabi Nuh ‘alayhis salam dalam Qashash al-Anbiya’ – Ibnu Katsir & Kitab-Kitab Lain

Pendahuluan
Nabi Nuh ‘alayhis salam adalah salah satu rasul ulul azmi yang diutus kepada kaumnya yang telah menyimpang dari ajaran tauhid. Kisah beliau diceritakan secara rinci dalam Qashash al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir dan diperkuat oleh kitab-kitab tafsir, hadits, serta sumber klasik lainnya seperti Tafsir Ath-Thabari, Al-Bidayah wan Nihayah, dan Al-Kamil fi At-Tarikh karya Ibnu Atsir.


1. Periode Sebelum Kenabian Nabi Nuh ‘alayhis salam

Dalam Qashash al-Anbiya’, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sebelum masa Nabi Nuh, manusia berada dalam ajaran tauhid, tetapi seiring berjalannya waktu, mereka mulai menyembah berhala. Disebutkan dalam Tafsir Ath-Thabari dan hadits Shahih Bukhari, nama-nama berhala yang disembah kaumnya adalah Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr (QS. Nuh: 23).

Kelima berhala ini awalnya adalah orang-orang saleh yang setelah meninggal, patung mereka dibuat sebagai bentuk penghormatan. Namun, setan membisikkan kepada generasi setelahnya bahwa patung-patung itu memiliki kekuatan, sehingga mereka pun mulai menyembahnya.


2. Dakwah Nabi Nuh ‘alayhis salam (950 Tahun)

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Nabi Nuh mulai berdakwah dengan sabar dan penuh hikmah selama 950 tahun (QS. Al-'Ankabut: 14). Metode dakwahnya terdiri dari:

  1. Dakwah secara sembunyi-sembunyi: Menyampaikan tauhid kepada orang-orang yang masih memiliki hati yang bersih.
  2. Dakwah secara terang-terangan: Berbicara kepada kaumnya secara langsung untuk mengajak kembali kepada tauhid.
  3. Menggunakan berbagai cara: Terkadang dengan nasihat lembut, terkadang dengan peringatan keras (QS. Nuh: 5-9).

Namun, kaum Nabi Nuh bersikap keras kepala, mengolok-oloknya, dan hanya sedikit yang beriman (QS. Hud: 27). Kaum yang menentangnya adalah para pembesar yang tidak ingin kehilangan status sosial mereka.


3. Pembuatan Kapal Nabi Nuh

Setelah bertahun-tahun berdakwah tanpa hasil, Allah mewahyukan kepada Nabi Nuh untuk membuat kapal besar (As-Safinah). Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya’ menjelaskan bahwa kapal ini dibuat di daerah yang jauh dari lautan, sehingga kaumnya mengejeknya (QS. Hud: 38).

Dalam riwayat tafsir, disebutkan bahwa kapal ini memiliki tiga tingkat:

  1. Lantai pertama untuk hewan
  2. Lantai kedua untuk manusia
  3. Lantai ketiga untuk burung-burung

Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membawa orang-orang beriman serta sepasang dari setiap jenis hewan (QS. Hud: 40).


4. Banjir Besar & Azab bagi Kaum Nabi Nuh

Ketika azab Allah tiba, langit menurunkan hujan deras, dan bumi memancarkan air dari segala penjuru (QS. Al-Qamar: 11-12). Air naik begitu tinggi hingga menenggelamkan semua orang kafir, termasuk anak Nabi Nuh yang bernama Kan’an, yang menolak naik ke kapal (QS. Hud: 42-43).

Riwayat tafsir menyebutkan bahwa banjir berlangsung selama 40 hari dan menutupi seluruh bumi, menenggelamkan semua orang yang menolak dakwah Nabi Nuh.


5. Setelah Banjir Surut

Setelah air surut, kapal Nabi Nuh berlabuh di Gunung Judi (QS. Hud: 44). Dalam tafsir disebutkan bahwa lokasi ini berada di wilayah Turki sekarang. Nabi Nuh dan pengikutnya kemudian memulai kehidupan baru, dan keturunan mereka menjadi asal-usul manusia setelah peristiwa banjir.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa setelah peristiwa ini, Nabi Nuh hidup beberapa tahun lagi sebelum akhirnya wafat. Dalam beberapa riwayat, Nabi Nuh disebut sebagai Abu al-Bashar ats-Tsani (Bapak Umat Manusia Kedua), karena dari keturunannyalah manusia kembali berkembang.


6. Hikmah dari Kisah Nabi Nuh

Beberapa pelajaran penting dari kisah ini:

  1. Kesabaran dalam berdakwah: Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, tetapi hanya sedikit yang beriman.
  2. Azab Allah itu nyata: Mereka yang menolak kebenaran akan mendapat akibatnya.
  3. Ketundukan kepada perintah Allah: Nabi Nuh tetap membangun kapal meski diejek kaumnya.
  4. Ikatan iman lebih kuat dari ikatan darah: Anaknya sendiri tetap kafir dan tidak diselamatkan.

Sumber-Sumber Pendukung

Selain Qashash al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir, kisah Nabi Nuh juga banyak dijelaskan dalam kitab-kitab berikut:

  1. Tafsir Ath-Thabari – Imam Ath-Thabari
    • Menjelaskan lebih rinci tentang riwayat-riwayat dari Bani Israil tentang bentuk kapal.
  2. Al-Bidayah wan-Nihayah – Ibnu Katsir
    • Menghubungkan kisah Nabi Nuh dengan sejarah manusia setelahnya.
  3. Al-Kamil fi At-Tarikh – Ibnu Atsir
    • Memberikan perspektif sejarah terkait banjir besar dalam peradaban lain.
  4. Shahih Bukhari & Shahih Muslim
    • Menyebutkan hadits-hadits terkait mukjizat Nabi Nuh dan kaumnya.

Kesimpulan

Kisah Nabi Nuh ‘alayhis salam dalam Qashash al-Anbiya’ dan kitab-kitab lainnya menegaskan pentingnya kesabaran dalam dakwah, konsekuensi dari menolak kebenaran, dan ketaatan penuh terhadap perintah Allah. Kisah ini juga menjadi salah satu yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an sebagai peringatan bagi umat manusia.

Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai kisah Nabi Nuh ‘alayhis salam berdasarkan kitab-kitab yang Anda minta:


1. Tafsir Ath-Thabari – Imam Ath-Thabari

Penjelasan tentang Bentuk Kapal Nabi Nuh

Dalam Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an (Tafsir Ath-Thabari), Imam Ath-Thabari mengutip beberapa riwayat dari Bani Israil (Israiliyyat) terkait kapal Nabi Nuh. Riwayat ini menggambarkan ukuran dan bentuk kapal, meskipun harus disikapi dengan hati-hati karena berasal dari sumber non-Islami.

  • Kapal Nabi Nuh dibuat dari kayu saj (sejenis kayu jati) dan dipaku dengan paku besi.
  • Ukurannya disebutkan memiliki panjang sekitar 300 hasta, lebar 50 hasta, dan tinggi 30 hasta.
  • Kapal ini terdiri dari tiga tingkat:
    1. Tingkat bawah: Untuk hewan-hewan.
    2. Tingkat tengah: Untuk manusia.
    3. Tingkat atas: Untuk burung-burung.
  • Kapal ini memiliki atap dan jendela, sehingga tidak sepenuhnya terbuka.

Dalam tafsirnya, Ath-Thabari juga mengutip pendapat dari para tabi'in, yang menyebutkan bahwa pembuatan kapal ini memakan waktu hingga 40 tahun. Selama proses itu, Nabi Nuh terus menghadapi ejekan dari kaumnya.

Dalil Al-Qur’an yang dikomentari Imam Ath-Thabari:

“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami...” (QS. Hud: 37).


2. Al-Bidayah wan-Nihayah – Ibnu Katsir

Hubungan Kisah Nabi Nuh dengan Sejarah Manusia Setelahnya

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan-Nihayah menghubungkan kisah Nabi Nuh dengan perkembangan manusia setelahnya.

Nabi Nuh sebagai "Abu al-Bashar ats-Tsani" (Bapak Umat Manusia Kedua)

Setelah banjir besar, seluruh umat manusia yang ada saat ini diyakini berasal dari keturunan Nabi Nuh melalui tiga anaknya:
Sam (Sem) → Leluhur bangsa Arab, Romawi, dan Persia.
Ham → Leluhur bangsa Afrika dan sebagian Asia.
Yafits (Japheth) → Leluhur bangsa Turk, Mongol, dan Eropa.
Konsep ini juga didukung oleh Tafsir Ibnu Katsir dalam penjelasan QS. Ash-Shaffat: 77:


“Dan Kami jadikan keturunannya sebagai orang-orang yang melanjutkan keturunan (di bumi).”

  • Lokasi Berlabuhnya Kapal. Kapal Nabi Nuh diyakini berlabuh di Gunung Judi (QS. Hud: 44). Ibnu Katsir menyebutkan beberapa pendapat mengenai lokasinya, termasuk di wilayah Turki atau Armenia.
  • Umur Nabi Nuh. Dalam beberapa riwayat, Nabi Nuh disebutkan hidup sekitar 1.050 tahun: 600 tahun sebelum banjir, 350 tahun setelah banjir (menurut riwayat dari Ibnu Abbas).
  • Ibnu Katsir juga menolak beberapa riwayat Israiliyyat yang tidak memiliki dasar kuat dalam Islam, terutama yang berlebihan dalam menggambarkan kisah Nabi Nuh dan kaumnya.

3. Al-Kamil fi At-Tarikh – Ibnu Atsir

Perspektif Sejarah tentang Banjir Nabi Nuh dalam Peradaban Lain

Ibnu Atsir dalam Al-Kamil fi At-Tarikh mencoba membandingkan kisah banjir Nabi Nuh dengan berbagai peradaban lain, seperti:

Epos Gilgamesh (Peradaban Mesopotamia)

  • Ditemukan dalam tablet kuno yang menggambarkan kisah banjir besar.
  • Dalam kisah ini, ada seorang manusia bernama Utnapishtim yang diperintahkan oleh para dewa untuk membangun kapal dan menyelamatkan makhluk hidup dari banjir.
  • Meski terdapat kesamaan, Ibnu Atsir menegaskan bahwa versi Al-Qur'an adalah yang benar, sedangkan yang lain adalah distorsi sejarah.

Kisah Banjir dalam Peradaban Hindu (Manu dan Bahtera Suci)

Dalam Matsya Purana, terdapat kisah tentang Manu yang diselamatkan oleh dewa dalam sebuah bahtera raksasa.
  • Ibnu Atsir menjelaskan bahwa kisah-kisah semacam ini kemungkinan berasal dari satu kejadian nyata, yaitu banjir Nabi Nuh, tetapi telah berubah dalam berbagai budaya.
  • Catatan Bangsa Babilonia dan Yunani. Beberapa prasasti kuno menunjukkan bahwa banjir besar pernah terjadi.
  • Ibnu Atsir menganggap hal ini sebagai bukti bahwa peristiwa Nabi Nuh memang terjadi secara nyata dan memengaruhi peradaban dunia.

4. Hadits dalam Shahih Bukhari & Shahih Muslim

Hadits tentang Mukjizat Nabi Nuh dan Kaumnya

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, terdapat beberapa hadits yang menyinggung kisah Nabi Nuh, di antaranya:

Nabi Nuh sebagai Rasul Pertama

  • Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Pada hari kiamat, orang-orang mendatangi Nabi Adam dan meminta syafaat, lalu beliau berkata: ‘Pergilah kepada Nuh, karena dia adalah rasul pertama yang diutus oleh Allah kepada penduduk bumi.’”
    (HR. Bukhari no. 3340, Muslim no. 194)
  • Nabi Nuh Mengingatkan Kaumnya tentang Tauhid
    Dalam hadits lain, disebutkan bahwa setiap nabi membawa tauhid, tetapi kaum mereka menolak. Nabi Nuh adalah contoh utama kesabaran dalam berdakwah.
  • Hadits tentang Dajjal dan Hubungannya dengan Kisah Nabi Nuh.
  • Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Tidak ada satu pun nabi yang diutus setelah Nuh kecuali ia telah memperingatkan kaumnya tentang Dajjal.”
    (HR. Bukhari no. 3339, Muslim no. 2933)
    Ini menunjukkan bahwa sejak zaman Nabi Nuh, sudah ada peringatan tentang fitnah besar di akhir zaman.

Kesimpulan

  1. Tafsir Ath-Thabari menjelaskan detail bentuk kapal Nabi Nuh dari riwayat Israiliyyat.
  2. Al-Bidayah wan-Nihayah membahas keturunan Nabi Nuh sebagai awal mula umat manusia setelah banjir.
  3. Al-Kamil fi At-Tarikh membandingkan kisah banjir Nabi Nuh dengan catatan sejarah dari peradaban lain.
  4. Shahih Bukhari & Muslim menegaskan status Nabi Nuh sebagai rasul pertama dan mengaitkan dakwahnya dengan tauhid dan akhir zaman.

Ya, masih ada beberapa aspek penting dari kisah Nabi Nuh 'alayhis salam yang belum dibahas secara rinci, terutama dari sudut pandang tafsir, fiqih, tasawuf, dan filsafat sejarah. Berikut adalah beberapa aspek tambahan yang dapat memperkaya pemahaman Anda:


1. Aspek Aqidah: Tauhid dalam Dakwah Nabi Nuh

Dalam berbagai kitab tafsir, dakwah Nabi Nuh adalah salah satu contoh utama perjuangan menegakkan tauhid dalam kondisi yang sangat sulit.

Dalil Al-Qur'an

"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Sesungguhnya (kalau tidak) aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat).’"
(QS. Al-A’raf: 59)

Tauhid sebagai Inti Dakwah

Nabi Nuh diutus ketika manusia sudah mulai menyembah berhala.
  • Al-Qur'an menyebutkan lima berhala utama yang disembah kaumnya: Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr (QS. Nuh: 23).
  • Menurut Tafsir Ibnu Katsir, kelima berhala ini awalnya adalah nama orang saleh, tetapi kemudian disembah setelah mereka meninggal.
  • Ini menunjukkan bahwa syirik bisa bermula dari sikap berlebihan dalam menghormati orang saleh.
  • Sikap Kaum Nabi Nuh

    • Mereka menolak dakwah dengan alasan:
      1. Nabi Nuh hanya manusia biasa (QS. Hud: 27).
      2. Pengikutnya adalah orang-orang miskin dan lemah (QS. Hud: 27).
      3. Mereka merasa memiliki warisan nenek moyang yang lebih benar (QS. Nuh: 24).
      • Ini mirip dengan pola penolakan terhadap para nabi lainnya, termasuk Nabi Muhammad ﷺ.

2. Aspek Fiqih: Hukum Istighfar dan Doa Nabi Nuh

Nabi Nuh sering disebut dalam Al-Qur'an sebagai nabi yang banyak beristighfar untuk kaumnya.

"Dan aku (Nuh) berkata, ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat bagimu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun serta sungai-sungai untukmu.’"
(QS. Nuh: 10-12)

Dari ayat ini, ulama fiqih mengambil beberapa pelajaran:

  • Istighfar memiliki dampak duniawi, seperti turunnya hujan dan keberkahan rezeki.
  • Banyak istighfar dapat menghilangkan kesulitan dan mendatangkan kelapangan hidup.
  • Istighfar juga merupakan bentuk doa untuk menghindari azab.

Dalam tafsir Al-Kashshaf oleh Zamakhsyari, disebutkan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa istighfar yang dilakukan dengan ikhlas dapat mengubah kondisi sosial dan ekonomi suatu kaum.


3. Aspek Tasawuf: Kesabaran dan Ketundukan kepada Allah

Dalam kitab-kitab tasawuf, kisah Nabi Nuh sering dikaitkan dengan konsep kesabaran (ṣabr) dan tawakkal (ketundukan kepada Allah).

Kesabaran dalam Dakwah

Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun (QS. Al-‘Ankabut: 14).
  • Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ini berarti setiap generasi baru tetap menolak dakwahnya.
  • Ini menunjukkan bahwa kesabaran seorang nabi dalam berdakwah tidak terbatas pada satu generasi saja.
  • Tawakkal dan Ketaatan Penuh

    • Ketika Allah memerintahkannya membuat kapal, ia taat tanpa membantah, meskipun ia bukan seorang tukang kayu.
    • Para ulama tasawuf menjadikan ini sebagai contoh bahwa ketaatan kepada Allah harus mendahului logika manusia.

Simbol Tasawuf dalam Kapal Nabi Nuh

Dalam beberapa tafsir sufi, kapal Nabi Nuh dianggap sebagai simbol jalan keselamatan bagi orang yang berpegang teguh kepada Allah.
  • Beberapa sufi menafsirkan kapal ini sebagai tarekat atau jalan spiritual yang harus diikuti untuk selamat dari gelombang dunia yang menyesatkan.
  • Kata-kata Nabi Nuh kepada anaknya ("Naiklah ke kapal!") dianalogikan sebagai seruan bagi manusia untuk mengikuti petunjuk Allah (QS. Hud: 42).

4. Aspek Sosial: Perjuangan Melawan Mayoritas yang Sesat

Kisah Nabi Nuh juga memberikan pelajaran bahwa kebenaran tidak selalu berada di pihak mayoritas.

"Dan mereka (kaumnya) tidak menambah kepadanya kecuali lari (dari kebenaran)."
(QS. Nuh: 6-7)

  • Mayoritas kaumnya menolak dakwahnya, bahkan anak dan istrinya pun ikut menentangnya.
  • Ini menunjukkan bahwa dalam perjuangan menegakkan kebenaran, terkadang kita harus siap menjadi minoritas.
  • Dalam Tafsir Al-Qurthubi, disebutkan bahwa ini juga menjadi peringatan bagi umat Islam bahwa mereka harus tetap berpegang pada agama meskipun dunia di sekitarnya telah rusak.

5. Aspek Filsafat Sejarah: Banjir Nuh sebagai Awal Peradaban Baru

  • Sejarawan Muslim seperti Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah melihat kisah Nabi Nuh sebagai titik balik dalam peradaban manusia.
  • Setelah banjir besar, manusia memulai peradaban baru dengan kondisi sosial yang lebih bersih dari penyimpangan akidah.
  • Dalam sudut pandang filsafat sejarah Islam, ini menunjukkan bahwa bencana besar sering kali menjadi sebab lahirnya peradaban yang lebih kuat.

6. Aspek Kiamat: Perbandingan antara Banjir Nuh dan Hari Kiamat

Beberapa ulama melihat bahwa kisah Nabi Nuh memiliki kemiripan dengan kejadian di akhir zaman:

  • Umat manusia menolak peringatan dan memilih jalan kesesatan.
  • Datangnya azab secara tiba-tiba.
  • Keselamatan hanya bagi orang-orang yang beriman.
  • Dalam Tafsir Al-Alusi, disebutkan bahwa ayat-ayat tentang banjir Nabi Nuh sering digunakan oleh ulama sebagai analogi betapa dekatnya Hari Kiamat bagi orang yang lalai.

Kesimpulan

Selain aspek-aspek yang telah disebutkan sebelumnya dari kitab-kitab klasik, ada banyak sudut pandang lain yang bisa digali lebih dalam dari kisah Nabi Nuh ‘alayhis salam:

  1. Dari sisi aqidah, kisah ini menunjukkan perjuangan menegakkan tauhid dalam lingkungan yang penuh kesyirikan.
  2. Dari sisi fiqih, istighfar yang diajarkan oleh Nabi Nuh menjadi contoh penting dalam kehidupan seorang Muslim.
  3. Dari sisi tasawuf, kesabaran dan tawakkal Nabi Nuh menjadi pelajaran bagi para pencari jalan spiritual.
  4. Dari sisi sosial, perjuangan Nabi Nuh menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu berada di pihak mayoritas.
  5. Dari sisi filsafat sejarah, banjir Nuh dianggap sebagai titik awal peradaban baru.
  6. Dari sisi tanda-tanda kiamat, kisah ini menjadi peringatan bahwa peristiwa akhir zaman memiliki kemiripan dengan azab yang menimpa kaum Nabi Nuh.

Dalam berbagai kitab tafsir dan sejarah Islam, kaum Nabi Nuh 'alayhis salam digambarkan memiliki beberapa keunggulan dari segi duniawi. Berikut ini adalah beberapa aspek yang dapat diambil dari penjelasan para ulama:


1. Kemajuan dalam Pertukangan dan Industri (Pembuatan Kapal)

Salah satu bukti kemampuan duniawi kaum Nabi Nuh adalah keterampilan mereka dalam pertukangan, terutama dalam hal pembuatan kapal dan pemanfaatan kayu.

  • Tafsir Ath-Thabari menyebutkan bahwa sebelum Allah memerintahkan Nabi Nuh membuat kapal, kaumnya sudah terbiasa membuat berbagai bangunan dan perahu kecil.
  • Tafsir Al-Qurthubi menjelaskan bahwa Allah mengajarkan Nabi Nuh cara membuat kapal, tetapi sebagian keterampilan dalam pertukangan kayu sudah ada sebelumnya dalam masyarakatnya.
  • Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menyebutkan bahwa pembuatan kapal ini memakan waktu puluhan tahun, menunjukkan bahwa mereka memiliki keterampilan teknik dalam mengolah kayu dan besi.

"Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan serta petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim itu. Sungguh, mereka akan ditenggelamkan." (QS. Hud: 37)

Menurut beberapa ulama tafsir, ayat ini menunjukkan bahwa kaum Nabi Nuh mengenal alat-alat pertukangan seperti gergaji, palu, dan paku.


2. Kemajuan dalam Arsitektur dan Pembangunan

Kaum Nabi Nuh juga digambarkan memiliki kemampuan dalam pembangunan rumah dan tempat tinggal yang kokoh.

  • Dalam Tafsir As-Sa’di, disebutkan bahwa kaum Nabi Nuh memiliki bangunan yang megah dan menetap di suatu daerah dalam jangka waktu lama.
  • Tafsir Al-Alusi mengaitkan kemajuan ini dengan kebiasaan mereka membangun patung dan berhala untuk dipuja.
  • Al-Bidayah wan-Nihayah karya Ibnu Katsir menyebutkan bahwa mereka membangun rumah-rumah dari tanah liat dan batu, serta mendirikan kuil untuk berhala.

Kemampuan ini mirip dengan kaum-kaum setelahnya, seperti kaum 'Ad dan Tsamud, yang juga memiliki keunggulan dalam arsitektur.


3. Kesejahteraan dan Kekayaan Material

Kaum Nabi Nuh dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kekayaan berlimpah, tetapi mereka menjadi sombong dan enggan mengikuti ajaran tauhid.

  • QS. Nuh: 12 menyebutkan bahwa Allah menjanjikan keberlimpahan harta dan anak-anak jika mereka mau beristighfar. Ini menunjukkan bahwa mereka sudah memiliki kehidupan yang makmur, tetapi tidak bersyukur.
  • Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mereka memiliki kebun, ternak, dan sumber daya alam yang melimpah, tetapi mereka justru menyekutukan Allah dengan berhala-berhala mereka.
  • Dalam Tafsir Fakhruddin Ar-Razi, disebutkan bahwa mereka memiliki sistem perdagangan dan pertanian yang berkembang, sehingga mereka bisa membangun masyarakat yang stabil secara ekonomi.

Namun, karena kekayaan ini, mereka menjadi sombong dan menolak kebenaran:

"Dan aku (Nuh) melihat setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari-jari mereka ke dalam telinga, menutupkan bajunya (ke wajahnya), dan tetap (menolak) serta sangat menyombongkan diri." (QS. Nuh: 7)


4. Kemajuan dalam Perbintangan dan Navigasi

Karena mereka memiliki keterampilan membuat kapal, ini juga menunjukkan bahwa mereka memiliki pengetahuan tentang navigasi, musim, dan mungkin perbintangan.

  • Tafsir Al-Baghawi menyebutkan bahwa Nabi Nuh mengetahui waktu yang tepat untuk berlayar berdasarkan pergerakan matahari dan bulan.
  • Al-Kamil fi At-Tarikh oleh Ibnu Atsir menyebutkan bahwa setelah banjir, pengetahuan navigasi ini diwariskan kepada keturunan Nabi Nuh yang kemudian berkembang menjadi pelaut-pelaut besar.
  • Dalam Tafsir As-Samarqandi, disebutkan bahwa sebelum banjir, kaum Nabi Nuh sudah memiliki konsep jalur perdagangan melalui sungai atau laut.

5. Sistem Sosial dan Kekuasaan yang Terstruktur

Kaum Nabi Nuh tampaknya memiliki sistem sosial yang terorganisir, dengan pemimpin-pemimpin yang sangat berpengaruh dalam masyarakat.

  • QS. Hud: 27 menyebutkan bahwa orang-orang kaya dan pemimpin kaum menolak Nabi Nuh karena merasa lebih unggul secara sosial.
  • Tafsir Al-Jassas menyebutkan bahwa masyarakat saat itu memiliki sistem kasta, di mana kaum elite memandang rendah orang-orang miskin yang mengikuti Nabi Nuh.
  • Tafsir Al-Kashshaf menyebutkan bahwa mereka memiliki dewan pemimpin yang menentukan arah kebijakan dan menekan pengikut Nabi Nuh agar meninggalkannya.

"Maka berkatalah pemuka-pemuka orang kafir dari kaumnya: 'Kami tidak melihat engkau, melainkan (sebagai) seorang manusia seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti engkau melainkan orang-orang hina di antara kami yang lekas percaya saja.’" (QS. Hud: 27)

Dari ayat ini, tampak bahwa mereka memiliki sistem sosial yang menindas kelompok masyarakat bawah, mirip dengan sistem feodalisme di peradaban-peradaban kuno.


6. Kemajuan dalam Seni dan Berhala sebagai Simbol Budaya

Salah satu aspek yang sering disinggung dalam tafsir adalah kebiasaan kaum Nabi Nuh dalam membuat patung dan berhala yang sangat dihormati.

  • QS. Nuh: 23 menyebutkan lima berhala utama: Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.
  • Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mereka membuat patung ini sebagai penghormatan bagi orang-orang saleh terdahulu, tetapi lama-kelamaan patung ini disembah.
  • Kitab Al-Bidayah wan-Nihayah menyebutkan bahwa mereka memiliki seni pahat dan ukiran yang berkembang.

Hal ini mirip dengan peradaban kuno seperti Mesir dan Babilonia, di mana patung digunakan sebagai bagian dari ritual agama.


Kesimpulan

Berdasarkan berbagai kitab tafsir dan sejarah Islam, kaum Nabi Nuh memiliki beberapa keunggulan duniawi:

  1. Keahlian dalam pertukangan dan industri, terutama dalam pembuatan kapal.
  2. Kemajuan dalam arsitektur dan pembangunan rumah-rumah serta tempat ibadah.
  3. Kesejahteraan dan kekayaan material dari pertanian, peternakan, dan perdagangan.
  4. Pengetahuan tentang perbintangan dan navigasi, yang terkait dengan pembuatan kapal.
  5. Sistem sosial dan kekuasaan yang terstruktur, dengan pemimpin-pemimpin yang menolak ajaran Nabi Nuh.
  6. Kemajuan dalam seni pahat dan berhala, yang menunjukkan budaya mereka yang berkembang tetapi menyimpang dalam akidah.

Namun, meskipun mereka maju dalam aspek duniawi, mereka tetap tersesat dalam akidah dan menolak ajaran tauhid. Hal ini menjadi pelajaran bahwa kemajuan duniawi tanpa iman hanya akan membawa kepada kehancuran.

*

0 komentar:

Posting Komentar