Selasa, 25 Maret 2025

Tajalli Sifat Ma’ani Allah Pada Diri Manusia

 

Genfoto

Tajalli Sifat Ma’ani Allah Pada Diri Manusia

Tajalli berarti penampakan atau manifestasi sifat Allah dalam makhluk-Nya. Allah memiliki 7 Sifat Ma’ani yang wajib bagi-Nya, dan dalam penciptaan manusia, Allah memancarkan (tajalli) sifat-sifat tersebut dalam bentuk yang sesuai dengan keterbatasan manusia. Namun, sifat manusia ini hanya sebagai anugerah dan tidak sama dengan sifat Allah yang mutlak, tanpa batas, dan tanpa ketergantungan.

Berikut adalah bagaimana Sifat Ma’ani Allah "menampakkan" diri-Nya dalam manusia:

  1. Qudrah (قدرة) – Kuasa

    • Allah memiliki kekuasaan mutlak, sedangkan manusia diberikan sedikit kemampuan untuk mengatur kehidupannya.
    • Contoh: Manusia bisa bekerja, membangun, dan menciptakan sesuatu, tetapi tetap terbatas.
    • Perbedaannya: Kekuasaan Allah absolut dan tanpa batas, sedangkan manusia terbatas dan bisa hilang.
  2. Iradah (إرادة) – Kehendak

    • Allah berkehendak mutlak dan tidak bisa dihalangi siapa pun.
    • Manusia juga memiliki kehendak (ikhtiar) dalam hidupnya.
    • Perbedaannya: Kehendak manusia terbatas dan masih bergantung pada izin Allah.
  3. Ilmu (علم) – Pengetahuan

    • Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
    • Manusia diberi akal dan ilmu untuk memahami dunia.
    • Perbedaannya: Ilmu Allah sempurna dan tidak terbatas, sedangkan ilmu manusia terbatas, berkembang, dan bisa salah.
  4. Hayat (حياة) – Hidup

    • Allah Maha Hidup, tidak berawal dan tidak berakhir.
    • Manusia hidup karena diciptakan dan akan mati.
    • Perbedaannya: Kehidupan Allah mutlak, sedangkan kehidupan manusia bergantung dan sementara.
  5. Sama’ (سمع) – Mendengar

    • Allah Maha Mendengar segala sesuatu tanpa alat pendengaran.
    • Manusia diberi pendengaran, tetapi terbatas.
    • Perbedaannya: Allah mendengar semua suara, tanpa batas, sedangkan manusia terbatas pada jarak dan alat.
  6. Bashar (بصر) – Melihat

    • Allah Maha Melihat segala sesuatu tanpa batas.
    • Manusia diberi penglihatan, tetapi terbatas.
    • Perbedaannya: Allah melihat segala sesuatu, termasuk yang tersembunyi, sedangkan manusia hanya bisa melihat yang tampak dan dalam jarak tertentu.
  7. Kalam (كلام) – Berbicara

    • Allah berbicara dengan firman-Nya tanpa huruf dan suara seperti manusia.
    • Manusia diberi kemampuan berbicara untuk berkomunikasi.
    • Perbedaannya: Firman Allah tidak diciptakan, sedangkan ucapan manusia terbatas dan diciptakan.

Kesimpulan

Tajalli sifat Allah dalam manusia bukan berarti manusia memiliki sifat Allah secara mutlak, tetapi hanya sebagai pancaran terbatas dalam bentuk anugerah. Oleh karena itu, manusia harus menyadari bahwa segala kemampuan yang dimilikinya berasal dari Allah dan tetap bergantung kepada-Nya.


Fana Billah dalam Sifat Ma’ani Allah

Fana Billah (فناء بالله) adalah konsep dalam tasawuf yang berarti "lenyap dalam Allah" atau "meleburnya kesadaran diri dalam kesadaran akan Allah". Dalam konteks Sifat Ma’ani, Fana Billah mengacu pada hilangnya kesadaran diri dalam menyaksikan manifestasi (tajalli) Sifat Ma’ani Allah dalam diri seseorang.


Makna Fana Billah dalam Sifat Ma’ani Allah

  1. Fana dalam Qudrah Allah (Kemahakuasaan-Nya)

    • Seorang sufi menyadari bahwa segala daya dan upaya bukan miliknya, melainkan hanya milik Allah.
    • Ia tidak lagi merasa memiliki kekuatan sendiri, tetapi menyaksikan bahwa Allah-lah yang menggerakkan segalanya.
    • Dalil:
      وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
      "Dan kamu tidak dapat berkehendak kecuali jika Allah menghendakinya." (QS. Al-Insan: 30)
  2. Fana dalam Iradah Allah (Kehendak-Nya)

    • Orang yang mencapai maqam fana tidak lagi menginginkan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya.
    • Semua keinginannya selaras dengan kehendak Allah.
    • Seperti para wali yang mengatakan, “Aku tidak punya kehendak selain kehendak Allah.”
  3. Fana dalam Ilmu Allah (Kemaha-Tahuan-Nya)

    • Ia menyadari bahwa semua ilmu yang ia miliki hanyalah setetes dari samudera ilmu Allah.
    • Ia tidak sombong dengan pengetahuannya, tetapi tenggelam dalam kebijaksanaan Allah.
    • Dalil:
      وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
      "Dan tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit." (QS. Al-Isra’: 85)
  4. Fana dalam Hayat Allah (Kehidupan-Nya)

    • Sadar bahwa hidup ini bukan miliknya, tetapi hanya kehidupan yang diberikan oleh Allah.
    • Tidak takut mati, karena menyaksikan kehidupan hakiki hanyalah kehidupan bersama Allah.
    • Dalil:
      كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
      "Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya." (QS. Al-Qashash: 88)
  5. Fana dalam Sama’ Allah (Pendengaran-Nya)

    • Ia mendengar bukan dengan telinganya sendiri, tetapi dengan pendengaran yang Allah kehendaki baginya.
    • Seperti dalam hadits qudsi:
      "Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar..."
  6. Fana dalam Bashar Allah (Penglihatan-Nya)

    • Ia melihat segala sesuatu bukan dengan matanya sendiri, tetapi dengan cahaya Allah.
    • Tidak lagi melihat dunia dengan hawa nafsu, tetapi melihat hakikat segala sesuatu sebagaimana adanya dalam ilmu Allah.
  7. Fana dalam Kalam Allah (Firman-Nya)

    • Setiap ucapannya penuh hikmah karena hatinya selaras dengan Kalamullah.
    • Tidak berbicara kecuali untuk kebaikan dan dengan petunjuk dari Allah.

Kesimpulan

Fana Billah dalam Sifat Ma’ani adalah hilangnya ego dan kesadaran diri dalam menyaksikan tajalli sifat-sifat Allah. Seorang yang mencapai maqam ini bukan berarti menjadi Allah, tetapi hanya melihat bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa kecuali apa yang diberikan oleh Allah.

Inilah maqam tertinggi dalam perjalanan spiritual, yang akhirnya membawa seseorang kepada Baqa’ Billah (hidup dalam Allah), di mana ia tetap berada di dunia tetapi sepenuhnya dalam kehendak dan kesadaran Ilahi.


Manusia Tak Dapat Berbuat Apa Pun Tanpa Qudrah dan Iradah Allah

Dalam akidah Islam, khususnya dalam pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah, setiap gerakan, perbuatan, dan keputusan manusia bergantung sepenuhnya pada kehendak (Iradah) dan kekuasaan (Qudrah) Allah. Tanpa keduanya, manusia tidak memiliki kemampuan apa pun.


1. Makna Qudrah dan Iradah Allah

🔹 Qudrah (قدرة) – Kekuasaan Allah

  • Makna: Sifat Allah yang menunjukkan bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
  • Dalil:
    إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌ
    "Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 20)
  • Konsekuensi:
    • Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam semesta ini kecuali atas kehendak dan kekuasaan-Nya.
    • Segala kekuatan makhluk hanyalah pancaran dari kekuasaan Allah, bukan milik mereka sendiri.

🔹 Iradah (إرادة) – Kehendak Allah

  • Makna: Sifat Allah yang menunjukkan bahwa Dia Maha Menentukan dan Menetapkan segala sesuatu.
  • Dalil:
    وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّا أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ
    "Dan kamu tidak dapat berkehendak kecuali jika dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam." (QS. At-Takwir: 29)
  • Konsekuensi:
    • Segala sesuatu terjadi karena Allah telah menetapkannya, baik kebaikan maupun keburukan.
    • Manusia tidak bisa berkehendak sendiri tanpa izin Allah.

2. Manusia Tidak Bisa Berbuat Apa Pun Tanpa Qudrah dan Iradah Allah

Dalam tasawuf dan akidah Ahlussunnah, diyakini bahwa:
✅ Manusia memiliki kehendak (ikhtiar), tetapi tetap dalam genggaman Iradah Allah.
✅ Manusia memiliki kemampuan (qudrah), tetapi hanya bisa berfungsi jika Allah mengizinkan.
✅ Segala sesuatu di dunia ini terjadi sesuai dengan kehendak Allah, termasuk gerakan dan diamnya manusia.

🌀 Dalil-Dalil Al-Qur'an

  1. Segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah
    وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
    "Dan kamu tidak bisa berkehendak kecuali jika Allah menghendaki." (QS. Al-Insan: 30)
    ➝ Ini menunjukkan bahwa manusia tidak bisa berkehendak sendiri tanpa izin Allah.

  2. Allah yang menciptakan semua perbuatan manusia
    وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
    "Dan Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat." (QS. As-Saffat: 96)
    ➝ Setiap perbuatan manusia pada hakikatnya adalah ciptaan Allah.

  3. Allah yang menggerakkan manusia dalam kebaikan dan keburukan
    إِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ
    "Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki." (QS. Fatir: 8)
    ➝ Hidayah dan kesesatan manusia terjadi sesuai dengan kehendak Allah.


3. Hakikat Kehendak Manusia dalam Genggaman Allah

Para ulama Ahlussunnah mengatakan bahwa manusia memiliki ikhtiar (usaha), tetapi tetap berada dalam ketentuan Allah. Ini disebut sebagai konsep Kasb (usaha manusia yang diciptakan oleh Allah) dalam teologi Asy’ariyah.

💠 Analogi:
🔹 Seperti lampu yang menyala karena saklar ditekan.

  • Saklar adalah ikhtiar manusia.
  • Listrik yang mengalir adalah Qudrah Allah.
  • Tanpa listrik, saklar tidak akan bisa menyalakan lampu.

🔹 Seperti burung yang bisa terbang.

  • Sayap adalah usaha burung.
  • Angin adalah Qudrah Allah.
  • Tanpa kehendak dan kekuasaan Allah, burung tidak bisa terbang.

4. Kesimpulan: Segala Sesuatu Adalah Milik Allah

✅ Manusia tidak bisa berbuat apa pun tanpa izin Allah.
✅ Qudrah (kekuasaan) Allah-lah yang memberi manusia kemampuan bergerak.
✅ Iradah (kehendak) Allah-lah yang menentukan segala sesuatu.
✅ Manusia hanya bisa berusaha, tetapi hasilnya tetap dalam genggaman Allah.

Inilah hakikat tauhid dalam perbuatan (Tauhid Af’al) yang diyakini oleh para ulama tasawuf dan teolog Islam.

 

Manusia Takkan Memiliki Ilmu Tanpa Ilmu Allah

Dalam Islam, segala ilmu yang dimiliki manusia berasal dari Ilmu Allah. Manusia tidak akan tahu apa pun jika Allah tidak mengajarkannya. Bahkan, kemampuan berpikir, memahami, dan menyerap ilmu pun merupakan anugerah dari-Nya.


1. Allah adalah Sumber Segala Ilmu

🔹 Ilmu Allah (علم الله) – Ilmu Mutlak & Tidak Terbatas

Allah memiliki ilmu yang tidak terbatas dan mencakup segala sesuatu:
✅ Mengetahui segala yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi.
✅ Mengetahui segala yang tampak dan yang tersembunyi.
✅ Mengetahui segala yang ada dalam hati manusia.
✅ Mengetahui yang nyata maupun yang gaib.

Dalil:

  1. وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ
    "Dan di sisi-Nya kunci-kunci perkara gaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Dia." (QS. Al-An’am: 59)
    ➝ Hanya Allah yang memiliki ilmu hakiki tentang segala sesuatu.

  2. وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا
    "Tuhan kami mencakup segala sesuatu dengan ilmu-Nya." (QS. Al-A’raf: 89)
    ➝ Tidak ada satu pun yang terlepas dari pengetahuan Allah.


2. Manusia Tidak Bisa Berilmu Tanpa Ilmu Allah

Manusia pada dasarnya tidak tahu apa pun sampai Allah mengajarkan kepadanya.

Dalil:

  1. وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا
    "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun." (QS. An-Nahl: 78)
    ➝ Saat lahir, manusia tidak memiliki pengetahuan apa pun. Semua ilmu yang diperoleh adalah anugerah dari Allah.

  2. وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلْأَسْمَآءَ كُلَّهَا
    "Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya." (QS. Al-Baqarah: 31)
    ➝ Ilmu pertama yang diperoleh manusia datang langsung dari Allah.


3. Ilmu Manusia Hanya Setetes dari Ilmu Allah

Ilmu manusia sangat terbatas dibandingkan dengan ilmu Allah. Bahkan jika seluruh lautan dijadikan tinta, ilmu Allah tetap tidak akan habis dituliskan.

Dalil:

  1. وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
    "Dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit." (QS. Al-Isra’: 85)
    ➝ Ilmu manusia hanyalah setetes dibandingkan samudra ilmu Allah.

  2. قُل لَّوْ كَانَ ٱلْبَحْرُ مِدَادًۭا لِّكَلِمَٰتِ رَبِّى لَنَفِدَ ٱلْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَٰتُ رَبِّى
    "Katakanlah: Jika lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku." (QS. Al-Kahfi: 109)
    ➝ Kalimat-kalimat Allah mencakup ilmu-Nya yang tak terbatas, sedangkan ilmu manusia sangat terbatas.


4. Manusia Hanya Bisa Berilmu Jika Allah Mengajarkan

Manusia memperoleh ilmu melalui berbagai cara yang telah ditetapkan Allah, seperti:

  1. Ilham langsung dari Allah (contoh: ilmu para nabi).
  2. Belajar dan berpikir (menggunakan akal yang diberikan Allah).
  3. Pengalaman dan observasi (menggunakan panca indera yang Allah ciptakan).

Namun, semua itu tetap bergantung pada izin dan kehendak Allah.

Dalil:

  1. ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ
    "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-‘Alaq: 1)
    ➝ Ilmu harus dimulai dengan kesadaran bahwa ia berasal dari Allah.

  2. وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُ
    "Bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarkan kepadamu." (QS. Al-Baqarah: 282)
    ➝ Ilmu sejati datang dari Allah, dan semakin seseorang bertakwa, semakin Allah memberinya ilmu.


5. Hakikat Ilmu dalam Tasawuf

Para ulama sufi menjelaskan bahwa ilmu manusia adalah pancaran dari Ilmu Allah. Mereka membagi ilmu menjadi:

  1. Ilmu kasbi (usaha manusia) ➝ Ilmu yang diperoleh dengan belajar dan usaha.
  2. Ilmu laduni (langsung dari Allah) ➝ Ilmu yang diberikan kepada orang-orang tertentu tanpa usaha, seperti yang diberikan kepada Nabi Khidir (‘alayhis salam).

Ibnu Atha’illah berkata dalam Al-Hikam:

"Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang di dalamnya ada cahaya Ilahi yang membimbingmu menuju Allah."
➝ Ilmu sejati bukan hanya tentang fakta, tetapi ilmu yang membawa seseorang lebih dekat kepada Allah.


6. Kesimpulan: Ilmu Hanya Milik Allah

✅ Allah adalah sumber segala ilmu.
✅ Manusia tidak tahu apa pun kecuali yang diajarkan Allah.
✅ Ilmu manusia sangat terbatas dibandingkan dengan Ilmu Allah.
✅ Ilmu yang sejati adalah yang membawa seseorang mengenal Allah.

Maka, setiap kali kita memperoleh ilmu, hendaknya kita selalu mengingat bahwa itu adalah pemberian dari Allah, dan kita harus bersyukur serta menggunakannya dengan benar.


Manusia Takkan Hidup Tanpa Hayat Allah

Dalam Islam, kehidupan manusia sepenuhnya bergantung pada Sifat Hayat (Kehidupan) Allah. Tanpa Hayat Allah, tidak ada kehidupan di alam semesta ini. Semua makhluk hidup hanyalah penerima pancaran kehidupan dari-Nya, bukan pemilik kehidupan sejati.


1. Allah adalah Sumber Kehidupan Sejati

Allah memiliki Sifat Hayat (الحياة), yang berarti Dia Maha Hidup dengan kehidupan yang sempurna, abadi, dan tidak bergantung kepada siapa pun.

Dalil:

  1. ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ
    "Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)." (QS. Al-Baqarah: 255)
    ➝ Allah Maha Hidup dan tidak membutuhkan siapa pun untuk hidup.

  2. وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْحَىِّ ٱلَّذِى لَا يَمُوتُ
    "Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Hidup, yang tidak akan mati." (QS. Al-Furqan: 58)
    ➝ Allah tidak akan mati, sedangkan semua makhluk akan mati.


2. Manusia Tidak Bisa Hidup Tanpa Hayat Allah

Semua makhluk hanya hidup karena Allah memberi mereka kehidupan. Jika Allah tidak memberi hayat, maka mereka tidak akan hidup.

Dalil:

  1. وَهُوَ ٱلَّذِى يُحْيِۦ وَيُمِيتُ
    "Dan Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan." (QS. Al-Mu’minun: 80)
    ➝ Hanya Allah yang bisa memberi dan mencabut kehidupan.

  2. كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَٰتًۭا فَأَحْيَٰكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ
    "Bagaimana kamu bisa kafir kepada Allah, padahal kamu dulunya mati, lalu Dia menghidupkanmu, kemudian Dia akan mematikanmu, lalu Dia menghidupkanmu kembali?" (QS. Al-Baqarah: 28)
    ➝ Sebelum lahir, manusia tidak ada (mati), lalu Allah memberi kehidupan.


3. Hakikat Kehidupan Manusia

Para ulama menjelaskan bahwa kehidupan manusia hanyalah pantulan dari kehidupan Allah, bukan kehidupan sejati.

💠 Perbedaan Hayat Allah dan hayat makhluk:
Hayat Allah | Hayat Makhluk |
|-----------------|------------------|
Abadi (tidak berawal dan tidak berakhir) | Fana (pasti berakhir/mati) |
| Tidak butuh apa pun untuk hidup | Butuh oksigen, makanan, air, dll. |
| Tidak pernah lemah atau sakit | Bisa lemah, sakit, dan mati |

Sehingga, manusia tidak bisa hidup sendiri, karena hakikat kehidupannya hanya pinjaman dari Allah.


4. Fana’ dalam Hayat Allah (Kehidupan Spiritual dalam Tasawuf)

Dalam tasawuf, terdapat konsep "Fana’ dalam Sifat Hayat Allah", yaitu kesadaran bahwa:
✅ Kehidupan sejati hanya milik Allah.
✅ Kehidupan manusia hanyalah pancaran dari kehidupan Allah.
✅ Manusia harus bergantung sepenuhnya kepada Allah dalam kehidupannya.

Para sufi sering mengutip firman Allah:
وَلاَ تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ نَسُواْ ٱللَّهَ فَأَنسَٰهُمْ أَنفُسَهُمْ
"Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri." (QS. Al-Hasyr: 19)

Artinya, orang yang tidak sadar bahwa kehidupannya adalah pinjaman dari Allah, maka hatinya akan mati sebelum fisiknya mati.


5. Kesimpulan: Kehidupan Hanya Milik Allah

✅ Allah adalah satu-satunya yang Maha Hidup secara hakiki.
✅ Manusia tidak akan hidup tanpa hayat Allah.
✅ Kehidupan manusia hanyalah pinjaman, bukan milik sendiri.
✅ Orang yang sadar bahwa kehidupannya dari Allah akan lebih bersyukur dan tidak sombong.

Maka, setiap detik kehidupan adalah amanah dari Allah, dan harus digunakan untuk mendekat kepada-Nya.

Wallahu A’lam.


Manusia Takkan Mampu Mendengar Tanpa Sama’ Allah

Dalam ajaran Islam, pendengaran manusia bukanlah milik sendiri, melainkan anugerah dari Sifat Sama' (السَّمْعُ) Allah. Jika Allah tidak memberikan daya mendengar, manusia tidak akan bisa mendengar apa pun.


1. Allah Maha Mendengar Segala Sesuatu (Sifat Sama' Allah)

Allah memiliki Sifat Sama', yaitu Maha Mendengar segala sesuatu, tanpa batas dan tanpa alat pendengaran seperti makhluk.

Dalil:

  1. إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
    "Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Ghafir: 20)
    ➝ Allah mendengar segala sesuatu, baik yang terdengar maupun yang tersembunyi.

  2. لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍۢ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ
    "Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, bahkan sebesar debu di langit dan di bumi." (QS. Saba’: 3)
    ➝ Pendengaran Allah mencakup segala sesuatu tanpa batas.


2. Manusia Tidak Akan Bisa Mendengar Tanpa Sama’ Allah

Pendengaran manusia hanyalah anugerah dari Allah. Jika Allah mencabut pendengaran seseorang, tidak ada yang bisa mengembalikannya.

Dalil:

  1. وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
    "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Lalu Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl: 78)
    ➝ Pendengaran manusia diberikan oleh Allah, bukan milik sendiri.

  2. قُلْ هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ قَلِيلًۭا مَّا تَشْكُرُونَ
    "Katakanlah, Dialah yang menciptakan kalian dan memberikan pendengaran, penglihatan, serta hati, tetapi sedikit sekali kalian bersyukur." (QS. Al-Mulk: 23)
    ➝ Pendengaran kita bukan dari diri sendiri, melainkan murni pemberian Allah.

Jika Allah mencabut pendengaran seseorang, tidak ada yang dapat mengembalikannya kecuali Allah sendiri:
قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ ٱللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَٰرَكُمْ وَخَتَمَ عَلَىٰ قُلُوبِكُم مَّنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ ٱللَّهِ يَأْتِيكُم بِهِ
"Katakanlah: Bagaimana pendapatmu jika Allah mencabut pendengaran, penglihatan, dan menutup hatimu, adakah tuhan selain Allah yang dapat mengembalikannya?" (QS. Al-An’am: 46)


3. Hakikat Pendengaran Manusia dalam Tasawuf

Para sufi menekankan bahwa pendengaran sejati adalah mendengar dengan cahaya Allah.

💠 Pendengaran biasa: Mendengar suara fisik dengan telinga.
💠 Pendengaran hakiki: Mendengar kebenaran dengan hati yang bersih, yaitu mendengar ilham dan petunjuk dari Allah.

Allah berfirman:
إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُۥ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى ٱلسَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
"Sesungguhnya dalam hal ini benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati, atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikan." (QS. Qaf: 37)

Artinya, banyak orang yang memiliki telinga tetapi tidak bisa ‘mendengar’ kebenaran, karena hatinya tertutup.


4. Fana’ dalam Sifat Sama’ Allah

Dalam konsep fana’ (melebur) dalam Sifat Sama’ Allah, seorang hamba sadar bahwa:
✅ Pendengarannya bukan milik sendiri, tetapi anugerah dari Allah.
✅ Segala suara yang didengar hanyalah manifestasi dari kehendak Allah.
✅ Mendengar yang hakiki adalah mendengar dengan hati yang bersih.

Nabi ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:
"Apabila Aku mencintai hamba-Ku, maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar..." (HR. Bukhari)

Artinya, seorang hamba yang mencapai maqam tinggi akan mendengar sesuatu bukan dengan telinga fisiknya saja, tetapi dengan cahaya Allah.


5. Kesimpulan: Pendengaran Hanya Milik Allah

✅ Allah Maha Mendengar segala sesuatu tanpa batas.
✅ Manusia tidak bisa mendengar tanpa anugerah pendengaran dari Allah.
✅ Pendengaran manusia hanyalah pinjaman, bukan milik sejati.
✅ Pendengaran hakiki adalah mendengar kebenaran dengan hati yang bersih.

Maka, kita harus selalu bersyukur atas nikmat pendengaran dan menggunakannya untuk kebaikan, seperti mendengar Al-Qur’an, ilmu, dan nasihat yang benar.

Wallahu A’lam.


Manusia Tidak Dapat Melihat Tanpa Bashar (Penglihatan) Allah

Jawaban singkat: Tidak, manusia tidak bisa melihat tanpa adanya Bashar Allah.

Penjelasan:

  1. Penglihatan manusia adalah ciptaan Allah

    • Dalam Islam, semua kemampuan manusia, termasuk melihat, adalah pemberian dari Allah.
    • Dalil:
      وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ
      "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl: 78)
  2. Manusia melihat karena Allah memberi kemampuan melihat

    • Allah yang menciptakan matacahaya, dan proses melihat.
    • Tanpa izin dan kuasa-Nya, manusia bisa saja kehilangan penglihatan secara tiba-tiba.
  3. Allah bisa mencabut penglihatan kapan saja

    • Jika Allah menghendaki, seseorang bisa menjadi buta seketika.
    • Dalil:
      وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَىٰ أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّىٰ يُبْصِرُونَ
      "Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami hapuskan penglihatan mereka, lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan (yang benar), maka bagaimana mereka bisa melihat?" (QS. Yasin: 66)
  4. Bashar Allah bersifat mutlak, penglihatan manusia bersifat terbatas

    • Allah melihat tanpa batas, tanpa alat, dan tanpa ketergantungan.
    • Manusia melihat karena diberi alat (mata), cahaya, dan sistem penglihatan yang terbatas.

Kesimpulan

Manusia hanya bisa melihat karena Allah memberikan penglihatan. Tanpa izin-Nya, penglihatan manusia tidak akan berfungsi. Maka, segala kemampuan manusia, termasuk melihat, harus disyukuri dan diakui sebagai anugerah Allah.


Manusia Takkan Dapat Berbicara Tanpa Kalam Allah

Dalam Islam, segala sesuatu yang terjadi dalam makhluk adalah karena izin dan kehendak Allah, termasuk kemampuan manusia untuk berbicara. Manusia hanya bisa berbicara karena Allah memberikan Sifat Kalam-Nya kepada mereka dalam bentuk suara, bahasa, dan ekspresi.


1. Allah Maha Berbicara dengan Sifat Kalam-Nya

Allah memiliki Sifat Kalam (الكلام), yang berarti Dia dapat berbicara tanpa membutuhkan alat atau suara seperti makhluk.

Dalil:

  1. وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًۭا
    "Dan Allah berbicara kepada Musa dengan sebenar-benarnya pembicaraan." (QS. An-Nisa’: 164)
    ➝ Allah memiliki Sifat Kalam dan berbicara sesuai kehendak-Nya tanpa perlu suara atau bahasa tertentu.

  2. وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا
    "Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?" (QS. An-Nisa’: 122)
    ➝ Ucapan Allah adalah kebenaran mutlak.


2. Manusia Tidak Bisa Berbicara Tanpa Kalam Allah

Manusia hanya bisa berbicara karena Allah memberikan kemampuan berbicara kepada mereka. Jika Allah mencabut kemampuan ini, manusia akan bisu.

Dalil:

  1. ٱلرَّحْمَٰنُ۝١ عَلَّمَ ٱلْقُرْءَانَ۝٢ خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ۝٣ عَلَّمَهُ ٱلْبَيَانَ۝٤
    "Tuhan Yang Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Al-Qur'an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya berbicara (bayan)." (QS. Ar-Rahman: 1-4)
    ➝ Kemampuan berbicara manusia adalah anugerah dari Allah.

  2. وَنَطْبَعُ عَلَىٰٓ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ
    "Dan Kami tutup hati mereka sehingga mereka tidak bisa mendengar (kebenaran)." (QS. Al-A’raf: 100)
    ➝ Allah bisa menghalangi seseorang dari berbicara atau mendengar jika Dia menghendaki.


3. Hakikat Pembicaraan Manusia dalam Tasawuf

Dalam ilmu tasawuf, pembicaraan yang hakiki adalah yang berasal dari cahaya Allah.

💠 Ucapan biasa: Berbicara dengan lisan, tetapi bisa salah dan sia-sia.
💠 Ucapan hakiki: Berbicara dengan hikmah, yaitu hanya berkata yang benar, baik, dan bermanfaat.

Allah berfirman:
وَقُلْ لِعِبَادِى يَقُولُوا۟ ٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik." (QS. Al-Isra’: 53)

Orang yang sadar bahwa berbicara adalah anugerah dari Allah akan menjaga lisannya dari perkataan sia-sia.


4. Fana’ dalam Sifat Kalam Allah

Dalam konsep fana’ (melebur) dalam Sifat Kalam Allah, seorang hamba menyadari bahwa:
✅ Kemampuan berbicara berasal dari Allah, bukan dari dirinya sendiri.
✅ Setiap ucapan harus digunakan untuk kebaikan dan kebenaran.
✅ Berbicara yang hakiki adalah menyampaikan ilmu dan hikmah dari Allah.

Nabi ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari & Muslim)


5. Kesimpulan: Bicara Hanyalah Anugerah dari Allah

✅ Allah memiliki Sifat Kalam dan berbicara sesuai kehendak-Nya.
✅ Manusia tidak bisa berbicara tanpa anugerah Kalam Allah.
✅ Kemampuan berbicara adalah amanah yang harus digunakan dengan baik.
✅ Orang yang sadar akan hakikat ini akan menjaga lisannya dan hanya berbicara dengan hikmah.

Maka, setiap kata yang kita ucapkan harus membawa manfaat, karena setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Wallahu A’lam.

******



0 komentar:

Posting Komentar