Rabu, 12 Maret 2025

KISAH NABI ADAM AS

 

Gambaran Syurgawi GenZArtDoc

Kisah Nabi Adam ‘alayhis salam dalam Qashash al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan kisah Nabi Adam ‘alayhis salam secara rinci berdasarkan Al-Qur’an, hadits Nabi, dan riwayat dari para ulama. Kisah ini mencakup penciptaan Adam, perintah sujud kepada malaikat, pembangkangan Iblis, kehidupan di surga, penurunan ke bumi, serta keturunannya. Berikut detail pembahasannya:


1. Penciptaan Nabi Adam ‘alayhis salam

Allah menciptakan Nabi Adam ‘alayhis salam sebagai manusia pertama dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk (QS. Al-Hijr: 26-29). Allah meniupkan ruh ke dalam tubuh Adam, menjadikannya makhluk yang sempurna dengan akal dan ilmu yang lebih unggul dibanding makhluk lainnya.

Dalil:

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakannya dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (QS. Al-Hijr: 28-29).

Allah juga mengajarkan kepada Adam nama-nama segala sesuatu yang tidak diketahui oleh malaikat, menunjukkan bahwa manusia memiliki kelebihan berupa ilmu.

Dalil:

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) semuanya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: 'Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!'” (QS. Al-Baqarah: 31).


2. Perintah Sujud kepada Malaikat dan Pembangkangan Iblis

Setelah penciptaan Adam, Allah memerintahkan seluruh malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai bentuk penghormatan, bukan ibadah (QS. Al-Baqarah: 34). Semua malaikat patuh kecuali Iblis, yang membangkang karena merasa dirinya lebih tinggi dibanding Adam karena diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah.

Dalil:

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34).

Akibat kesombongannya, Iblis diusir dari surga dan dikutuk hingga hari kiamat. Namun, ia meminta penangguhan waktu agar bisa menyesatkan keturunan Adam sebagai bentuk pembalasan dendam. Allah mengabulkan permintaan itu tetapi memperingatkan bahwa Iblis dan pengikutnya akan menjadi penghuni neraka.


3. Kehidupan Nabi Adam dan Hawa di Surga

Allah menciptakan pasangan bagi Adam, yaitu Hawa, dari tulang rusuknya agar mereka bisa hidup bersama di surga. Allah mengizinkan mereka menikmati segala kenikmatan di dalamnya, kecuali satu pohon yang dilarang untuk didekati.

Dalil:

"Dan Kami berfirman: ‘Wahai Adam! Tinggallah kamu dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.’” (QS. Al-Baqarah: 35).

Namun, Iblis dengan tipu daya dan bisikannya berhasil menggoda Adam dan Hawa untuk mendekati pohon terlarang dan memakan buahnya. Akibatnya, mereka berdua menyadari kesalahan mereka dan aurat mereka pun terlihat, sehingga mereka berusaha menutupi diri dengan daun-daun surga.


4. Turunnya Nabi Adam ke Bumi

Sebagai hukuman atas pelanggaran tersebut, Allah menurunkan Adam dan Hawa ke bumi. Namun, Allah juga memberi mereka kesempatan untuk bertaubat.

Dalil:

"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 37).

Menurut riwayat, Adam diturunkan di daerah India, sementara Hawa di Jazirah Arab. Mereka baru bertemu kembali di Jabal Rahmah, Arafah. Dari keturunan mereka lahirlah manusia-manusia berikutnya.


5. Keturunan Nabi Adam dan Terjadinya Pembunuhan Pertama

Adam dan Hawa dikaruniai anak-anak yang lahir berpasangan. Dari keturunannya, terjadi peristiwa tragis pertama dalam sejarah manusia, yaitu pembunuhan antara dua putranya, Qabil dan Habil. Qabil membunuh Habil karena iri hati dan tidak menerima keputusan Allah yang memilih kurban Habil.

Dalil:

"Maka nafsunya mendorongnya untuk membunuh saudaranya, lalu dia pun membunuhnya; maka jadilah dia termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Al-Ma'idah: 30).

Kisah ini menjadi pelajaran pertama tentang konsekuensi iri hati dan dosa besar pembunuhan.


6. Wafatnya Nabi Adam ‘alayhis salam

Nabi Adam hidup sekitar 930 tahun. Sebelum wafat, ia mewariskan ilmu tauhid dan ibadah kepada anak cucunya.

Setelah wafat, para malaikat turun membawa kain kafan dan memandikan jasadnya, memberikan pelajaran pertama tentang tata cara pengurusan jenazah dalam Islam. Nabi Syits, putranya, dipercaya melanjutkan tugas kenabian.


Pelajaran dari Kisah Nabi Adam ‘alayhis salam

  1. Manusia diciptakan dengan kelebihan ilmu yang tidak diberikan kepada makhluk lain.
  2. Kesombongan dan iri hati adalah sifat buruk yang menyebabkan Iblis diusir dari rahmat Allah.
  3. Godaan setan sangat kuat, tetapi manusia selalu diberi kesempatan untuk bertaubat.
  4. Manusia harus menaati perintah Allah, karena pelanggaran akan membawa konsekuensi.
  5. Pembunuhan adalah dosa besar, sebagaimana terjadi pada Qabil dan Habil.


Berikut tambahan dari kitab-kitab lain yang membahas kisah Nabi Adam ‘alayhis salam dengan perspektif berbeda atau lebih detail:


1. Al-Bidayah wa An-Nihayah – Ibnu Katsir

Kitab ini adalah karya sejarah besar yang juga menyoroti kisah Nabi Adam lebih luas. Beberapa tambahan yang berbeda dari Qashash al-Anbiya’:

  • Asal-usul tanah penciptaan Adam:
    Ibnu Katsir menyebut bahwa Allah memerintahkan malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil untuk mengambil tanah dari berbagai penjuru bumi. Namun, bumi menolak memberikan tanahnya, hingga akhirnya malaikat Izrail yang berhasil mengambilnya.

  • Proses penciptaan Adam:
    Tanah yang dikumpulkan dibasahi, dibentuk, dan dibiarkan hingga menjadi lumpur kering, lalu menjadi seperti tembikar sebelum Allah meniupkan ruh ke dalamnya.

  • Adam diberi ruh secara bertahap:
    Ketika ruh ditiupkan ke kepalanya, Adam bersin dan langsung mengucapkan "Alhamdulillah," lalu Allah menjawab, "Yarhamukallah" (Semoga Allah merahmatimu).


2. Kitab Tarikh Ath-Thabari – Imam Ath-Thabari

Kitab sejarah klasik ini memberikan beberapa tambahan unik:

  • Penciptaan Hawa:
    Ath-Thabari meriwayatkan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam saat ia tertidur, dan ketika bangun, ia langsung mengenalnya sebagai pasangannya.

  • Nama Iblis sebelum diusir:
    Dalam kitab ini, disebutkan bahwa nama asli Iblis sebelum diusir adalah "Azazil", yang merupakan salah satu jin yang sangat taat sebelum membangkang.

  • Tingginya Nabi Adam:
    Disebutkan bahwa tinggi Nabi Adam saat diciptakan adalah 60 hasta (sekitar 30 meter).


3. Hilyatul Auliya’ – Abu Nu’aim Al-Asfahani

Kitab ini menyoroti aspek kebijaksanaan dan amalan Nabi Adam setelah turun ke bumi:

  • Nabi Adam menangis selama 300 tahun setelah diturunkan ke bumi karena menyesali dosanya.
  • Ia bertobat dengan kalimat tawassul kepada Rasulullah ﷺ sebelum kelahirannya:

    "Ya Rabb, demi hak Muhammad, ampunilah aku."
    Allah menerima taubatnya karena ia menyebut nama Rasulullah ﷺ yang tertulis di Arasy.


4. Tafsir Ibnu Abbas (Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn Abbas)

Kitab tafsir ini menambahkan detail tentang godaan Iblis:

  • Iblis menyamar menjadi ular dan masuk ke surga melalui mulutnya.
  • Buah yang dimakan Adam dan Hawa:
    Beberapa riwayat menyebutnya sebagai buah gandum, anggur, atau tin.
  • Efek makan buah terlarang:
    Saat mereka makan, pakaian surga mereka hilang, dan mereka berusaha menutupi diri dengan daun-daun.

5. Durratun Nashihin – Syaikh Utsman bin Hasan  

Berikut tambahan dari kitab-kitab lain yang membahas kisah Nabi Adam ‘alayhis salam dengan perspektif berbeda atau lebih detail:


1. Al-Bidayah wa An-Nihayah – Ibnu Katsir

Kitab ini adalah karya sejarah besar yang juga menyoroti kisah Nabi Adam lebih luas. Beberapa tambahan yang berbeda dari Qashash al-Anbiya’:

  • Asal-usul tanah penciptaan Adam:
    Ibnu Katsir menyebut bahwa Allah memerintahkan malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil untuk mengambil tanah dari berbagai penjuru bumi. Namun, bumi menolak memberikan tanahnya, hingga akhirnya malaikat Izrail yang berhasil mengambilnya.

  • Proses penciptaan Adam:
    Tanah yang dikumpulkan dibasahi, dibentuk, dan dibiarkan hingga menjadi lumpur kering, lalu menjadi seperti tembikar sebelum Allah meniupkan ruh ke dalamnya.

  • Adam diberi ruh secara bertahap:
    Ketika ruh ditiupkan ke kepalanya, Adam bersin dan langsung mengucapkan "Alhamdulillah," lalu Allah menjawab, "Yarhamukallah" (Semoga Allah merahmatimu).


2. Kitab Tarikh Ath-Thabari – Imam Ath-Thabari

Kitab sejarah klasik ini memberikan beberapa tambahan unik:

  • Penciptaan Hawa:
    Ath-Thabari meriwayatkan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam saat ia tertidur, dan ketika bangun, ia langsung mengenalnya sebagai pasangannya.

  • Nama Iblis sebelum diusir:
    Dalam kitab ini, disebutkan bahwa nama asli Iblis sebelum diusir adalah "Azazil", yang merupakan salah satu jin yang sangat taat sebelum membangkang.

  • Tingginya Nabi Adam:
    Disebutkan bahwa tinggi Nabi Adam saat diciptakan adalah 60 hasta (sekitar 30 meter).


3. Hilyatul Auliya’ – Abu Nu’aim Al-Asfahani

Kitab ini menyoroti aspek kebijaksanaan dan amalan Nabi Adam setelah turun ke bumi:

  • Nabi Adam menangis selama 300 tahun setelah diturunkan ke bumi karena menyesali dosanya.
  • Ia bertobat dengan kalimat tawassul kepada Rasulullah ﷺ sebelum kelahirannya:

    "Ya Rabb, demi hak Muhammad, ampunilah aku."
    Allah menerima taubatnya karena ia menyebut nama Rasulullah ﷺ yang tertulis di Arasy.


4. Tafsir Ibnu Abbas (Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn Abbas)

Kitab tafsir ini menambahkan detail tentang godaan Iblis:

  • Iblis menyamar menjadi ular dan masuk ke surga melalui mulutnya.
  • Buah yang dimakan Adam dan Hawa:
    Beberapa riwayat menyebutnya sebagai buah gandum, anggur, atau tin.
  • Efek makan buah terlarang:
    Saat mereka makan, pakaian surga mereka hilang, dan mereka berusaha menutupi diri dengan daun-daun.

5. Durratun Nashihin – Syaikh Utsman bin Hasan Al-Khubawi

Kitab ini membahas pelajaran moral dari kisah Nabi Adam:

  • Hikmah larangan Allah di surga:
    Allah melarang satu pohon sebagai ujian ketaatan, bukan karena pohon itu sendiri berbahaya.
  • Kelembutan Allah dalam menerima taubat:
    Meskipun Adam melanggar perintah, Allah tetap memberikan kesempatan taubat dengan kalimat istighfar yang diajarkan langsung oleh Allah (QS. Al-A’raf: 23).

Kesimpulan Tambahan

  • Dari Ibnu Katsir & Ath-Thabari → Detail tanah asal penciptaan Adam dan nama Iblis sebelum diusir.
  • Dari Abu Nu’aim → Tawassul Nabi Adam dengan nama Rasulullah ﷺ.
  • Dari Tafsir Ibnu Abbas → Cara Iblis masuk surga dan efek langsung makan buah terlarang.
  • Dari Durratun Nashihin → Hikmah di balik larangan Allah.

Anak-anak Nabi Adam ‘alayhis salam dan Keadaan Mereka dalam Kitab-Kitab Islam

Dalam berbagai kitab sejarah dan tafsir Islam, disebutkan bahwa Nabi Adam dan Hawa memiliki banyak keturunan. Berikut adalah beberapa anak yang namanya disebut dalam berbagai sumber, serta peristiwa penting yang melibatkan mereka:


1. Habil dan Qabil (Kain dan Abel dalam versi Bibel)

Dua putra pertama Nabi Adam yang terkenal dalam sejarah manusia karena peristiwa pembunuhan pertama di dunia.

A. Latar Belakang Perselisihan

  • Dalam kitab Tarikh Ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa setiap kali Hawa melahirkan, ia melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan.
  • Qabil dan Habil lahir berpasangan dengan saudara kembar masing-masing.
  • Nabi Adam menetapkan aturan bahwa pernikahan harus terjadi antara saudara yang tidak kembar, sehingga Habil akan menikahi saudara kembar Qabil, dan Qabil akan menikahi saudara kembar Habil.
  • Namun, Qabil menolak karena saudara kembarnya lebih cantik daripada saudara kembar Habil.

B. Persembahan kepada Allah

Untuk menyelesaikan perselisihan, Nabi Adam meminta keduanya mempersembahkan kurban kepada Allah.

  • Habil, yang seorang penggembala, mempersembahkan seekor domba terbaik.
  • Qabil, yang seorang petani, mempersembahkan hasil pertaniannya yang buruk.
  • Allah menerima kurban Habil dan menolak kurban Qabil (QS. Al-Ma'idah: 27).

C. Pembunuhan Pertama dalam Sejarah Manusia

  • Qabil merasa iri dan marah, sehingga membunuh Habil di malam hari dengan cara menghantam kepalanya dengan batu.
  • Setelah membunuh Habil, Qabil tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan jenazahnya hingga Allah mengutus seekor burung gagak untuk menunjukkan cara mengubur mayat (QS. Al-Ma’idah: 31).
  • Ibnu Katsir menyebut bahwa Qabil kemudian melarikan diri dan tinggal di daerah yang jauh.

2. Syits (‘Set’ dalam versi Bibel) – Nabi Setelah Adam

Dalam Tarikh Ath-Thabari dan Al-Bidayah wa An-Nihayah, disebutkan bahwa setelah Habil wafat, Allah menganugerahkan seorang putra yang bernama Syits (شيث), yang berarti pemberian dalam bahasa Arab.

A. Keistimewaan Syits

  • Lahir setelah kematian Habil dan menjadi anak yang paling saleh di antara keturunan Nabi Adam.
  • Nabi Adam memilihnya sebagai penerus untuk menjaga ajaran tauhid.
  • Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah menyebut bahwa Syits menerima 50 lembar wahyu (shuhuf).
  • Ia diberi tugas menjaga garis keturunan yang saleh dan menghindarkan mereka dari keturunan Qabil yang mulai menyimpang.

3. Keturunan Qabil dan Kemunculan Kemaksiatan

Setelah membunuh Habil, Qabil pindah ke daerah yang jauh dan membangun peradaban sendiri. Beberapa sumber menyebutkan bahwa:

  • Keturunan Qabil mulai menjauh dari ajaran Nabi Adam dan lebih condong kepada dunia.
  • Merekalah yang pertama kali memperkenalkan alat musik dan seni.
  • Mereka juga mulai meninggalkan aturan menutup aurat dan menciptakan pakaian yang lebih terbuka.

Dalam Tarikh Ath-Thabari, disebutkan bahwa keturunan Syits dan Qabil tinggal di daerah yang berbeda:

  • Keturunan Syits tinggal di gunung dan tetap taat kepada Allah.
  • Keturunan Qabil tinggal di lembah dan mulai melakukan penyimpangan.

4. Anak-anak Lain Nabi Adam

Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Adam memiliki banyak anak lain selain Habil, Qabil, dan Syits. Dalam Tarikh Ath-Thabari, disebutkan bahwa Adam dan Hawa memiliki 40 anak, lahir dalam 20 kali persalinan kembar.

Beberapa nama yang disebutkan dalam berbagai sumber:

  • Aqlima → Saudari kembar Habil
  • Labuuda → Saudari kembar Qabil
  • Anush (Enos) → Putra Syits yang melanjutkan garis kenabian

Kesimpulan dan Pelajaran dari Keturunan Nabi Adam

  1. Kisah Habil dan Qabil mengajarkan bahaya iri hati, yang bisa berujung pada dosa besar seperti pembunuhan.
  2. Syits menunjukkan bahwa Allah selalu menjaga garis keturunan yang saleh, meskipun ada keturunan lain yang menyimpang.
  3. Keturunan Qabil menggambarkan awal mula penyimpangan dalam sejarah manusia, termasuk kemaksiatan, musik, dan pergaulan bebas.
  4. Allah selalu memberi petunjuk kepada manusia melalui para nabi, seperti Syits yang menjadi nabi setelah Adam.

Selain Qashash al-Anbiya' dan Al-Bidāyah wa An-Nihāyah karya Ibnu Katsir, ada beberapa kitab lain yang memberikan tambahan informasi tentang hubungan Nabi Adam dan Iblis, di antaranya:

  1. Tafsir At-Thabari (Jāmi’ al-Bayān fi Ta’wīl al-Qur’ān)
  2. Tafsir Al-Qurthubi (Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān)
  3. Kitab Al-Kashf wa Al-Bayān (Tafsir Ats-Tsa’labi)
  4. Kitab ‘Uyun al-Hikayat (Ibnul Jauzi)
  5. Kitab Tanbihul Ghafilin (Abu Laits As-Samarqandi)

1. Tafsir At-Thabari (Jāmi’ al-Bayān fi Ta’wīl al-Qur’ān)

Dalam tafsirnya, Imam At-Thabari menyebutkan beberapa riwayat tambahan tentang permusuhan antara Nabi Adam dan Iblis:

A. Iblis Adalah Jin yang Dahulu Beribadah Bersama Malaikat

  • At-Thabari mengutip riwayat bahwa Iblis dahulu adalah makhluk yang rajin beribadah dan tinggal di langit bersama para malaikat.
  • Namun, ketika Allah menciptakan Adam dan memerintahkan sujud, Iblis merasa dirinya lebih tinggi derajatnya.
  • Ia berdalil bahwa api lebih mulia daripada tanah, sehingga menolak sujud (QS. Al-A’raf: 12).

B. Nama Iblis Sebelum Dilaknat

  • Sebelum diusir dari rahmat Allah, Iblis memiliki nama "Azazil" dalam beberapa riwayat.
  • Nama ini menunjukkan bahwa Iblis dulunya adalah makhluk yang memiliki posisi tinggi di antara jin.
  • Ketika ia menolak sujud, ia pun dilaknat dan disebut "Iblis" (الابلاس), yang berarti putus asa dari rahmat Allah.

C. Iblis Bersumpah Akan Menciptakan Tipu Daya Hingga Kiamat

  • Setelah dilaknat, Iblis meminta penangguhan hidup hingga hari kiamat.
  • Allah mengabulkan permintaannya dengan syarat: "Kamu tidak akan bisa menyesatkan hamba-hamba-Ku yang ikhlas" (QS. Al-Hijr: 39-40).

2. Tafsir Al-Qurthubi (Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān)

Imam Al-Qurthubi menambahkan beberapa penjelasan menarik tentang kisah Nabi Adam dan Iblis:

A. Iblis Menggunakan Ular untuk Masuk ke Surga

  • Dalam salah satu riwayat yang dikutip oleh Al-Qurthubi, disebutkan bahwa Iblis tidak dapat masuk ke dalam surga setelah diusir oleh Allah.
  • Ia pun meminta bantuan seekor ular, yang saat itu adalah hewan yang berkaki dan dapat berbicara.
  • Ular menyembunyikan Iblis di dalam mulutnya dan membawanya masuk ke surga.
  • Setelah Iblis berhasil membujuk Adam dan Hawa untuk memakan buah terlarang, Allah menghukum ular dengan mencabut kakinya dan menjadikannya merayap di tanah hingga hari kiamat.

B. Penyebab Adam dan Hawa Tergoda

  • Al-Qurthubi menambahkan bahwa Iblis menggunakan sumpah palsu untuk meyakinkan Adam dan Hawa.

  • Ia berkata:

    "Demi Allah, aku hanyalah penasihat yang tulus untuk kalian." (QS. Al-A’raf: 21)

  • Sumpah ini membuat Adam dan Hawa percaya, sebab mereka tidak menyangka bahwa ada makhluk yang berani bersumpah palsu atas nama Allah.


3. Tafsir Ats-Tsa’labi (Al-Kashf wa Al-Bayān)

Imam Ats-Tsa’labi memberikan tambahan detail terkait tipu daya Iblis:

A. Buah dari Pohon Terlarang Tidak Langsung Dimakan

  • Dalam salah satu riwayatnya, dikatakan bahwa Iblis pertama-tama menyentuhkan buah itu ke tubuh Adam dan Hawa.
  • Setelah buah itu menyentuh tubuh mereka, pakaian surga yang mereka kenakan mulai terlepas.
  • Kemudian, Iblis berkata:

    "Lihatlah, buah ini memiliki kekuatan luar biasa. Ia bisa membuka matamu terhadap hakikat kehidupan."

  • Baru setelah itu, Adam dan Hawa benar-benar memakan buah tersebut.

B. Pakaian Adam dan Hawa yang Terlepas

  • Setelah memakan buah itu, aurat Adam dan Hawa mulai terlihat dan mereka bergegas menutupi tubuh mereka dengan daun-daun di surga (QS. Thaha: 121).
  • Ini menjadi simbol bahwa dosa membawa rasa malu dan penyesalan, serta awal mula manusia mengenakan pakaian.

4. Kitab ‘Uyun al-Hikayat (Ibnul Jauzi)

Dalam kitabnya, Ibnul Jauzi menambahkan beberapa cerita menarik:

A. Iblis Menangis Setelah Nabi Adam Bertobat

  • Ketika Allah menerima tobat Nabi Adam, Iblis menangis dengan keras karena mengetahui bahwa manusia selalu bisa kembali kepada Allah dengan tobat.
  • Iblis berkata:

    "Aku telah menggoda Adam sehingga ia berdosa, tetapi Allah tetap mengampuninya. Aku telah berdosa, tetapi Allah tidak mau mengampuniku. Aku tidak akan pernah berhenti menyesatkan manusia."

B. Nabi Adam Diajar Kata-kata Tobat dari Allah

  • Setelah memakan buah terlarang, Nabi Adam tidak tahu bagaimana cara bertobat.
  • Allah pun mengajarkan kata-kata khusus untuk beristighfar, sebagaimana disebut dalam QS. Al-Baqarah: 37:

    "Rabbanaa zhalamna anfusanaa wa illam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakunanna minal khaasirin."
    ("Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.")


5. Kitab Tanbihul Ghafilin (Abu Laits As-Samarqandi)

Dalam kitab ini, Abu Laits As-Samarqandi menjelaskan beberapa hal terkait tipu daya Iblis:

A. 5 Perkara yang Dapat Melemahkan Godaan Iblis

Menurutnya, ada lima hal yang membuat Iblis lemah dan tidak berdaya menggoda manusia:

  1. Mengucapkan Bismillah sebelum melakukan sesuatu
  2. Sering beristighfar dan bertobat
  3. Membaca Al-Qur'an dengan tadabbur
  4. Sering bersedekah dan membantu orang lain
  5. Ikhlas dalam beribadah kepada Allah

Kesimpulan dari Kitab-Kitab Tambahan

  1. Iblis dulunya bernama "Azazil" dan termasuk jin yang rajin beribadah sebelum dilaknat.
  2. Iblis menggunakan ular untuk masuk ke surga dan membujuk Adam dan Hawa.
  3. Pakaian Adam dan Hawa terlepas setelah buah itu menyentuh tubuh mereka sebelum benar-benar dimakan.
  4. Iblis menangis ketika Adam diterima tobatnya, karena manusia selalu bisa kembali kepada Allah.
  5. Ada lima amalan yang bisa melemahkan godaan Iblis, seperti membaca Bismillah, istighfar, dan bersedekah.


Tambahan Detail tentang Anak-anak Nabi Adam dari Kitab Ibnu Katsir

Dalam Al-Bidāyah wa An-Nihāyah, Ibnu Katsir memberikan beberapa detail tambahan mengenai anak-anak Nabi Adam ‘alayhis salam. Berikut adalah poin-poin yang lebih spesifik dari kitab tersebut:


1. Jumlah Anak Nabi Adam

  • Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Nabi Adam memiliki banyak keturunan, bahkan mencapai 40 anak laki-laki dan perempuan yang lahir dalam 20 kali persalinan kembar.
  • Setiap kali Hawa melahirkan, ia melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan.

2. Kisah Habil dan Qabil dalam Versi Ibnu Katsir

A. Nama-nama Kembar Mereka

Ibnu Katsir menyebut bahwa:

  • Qabil lahir kembar dengan seorang perempuan bernama Iqlima (Aqlima).
  • Habil lahir kembar dengan seorang perempuan bernama Labuda.

B. Sebab Utama Pembunuhan Habil

  • Nabi Adam menetapkan aturan bahwa pernikahan harus dilakukan antara anak yang tidak kembar.
  • Qabil menolak aturan ini karena saudari kembarnya, Iqlima, lebih cantik daripada saudari kembar Habil.
  • Ketika Habil dan Qabil diminta untuk mempersembahkan kurban, Allah menerima kurban Habil yang lebih ikhlas dan menolak kurban Qabil.
  • Iblis kemudian membisikkan kepada Qabil untuk membunuh Habil agar bisa menikahi saudari kembarnya sendiri.

C. Cara Pembunuhan Habil

  • Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Qabil membunuh Habil dengan memukul kepalanya menggunakan batu hingga tewas.
  • Setelah membunuhnya, Qabil kebingungan tentang bagaimana menguburkan saudaranya, hingga Allah mengirimkan seekor gagak yang menggali tanah untuk menunjukkan cara mengubur jenazah (QS. Al-Mā’idah: 31).

D. Hukuman untuk Qabil

  • Qabil kemudian pergi dan menetap di daerah yang jauh, menjauh dari garis keturunan yang saleh.
  • Ia terus-menerus dihantui perasaan bersalah atas pembunuhannya.
  • Ibnu Katsir menyebutkan bahwa sebagian ulama mengatakan Qabil akhirnya mati dalam keadaan buruk dan dilaknat oleh Allah.

3. Syits – Anak Saleh Nabi Adam

A. Lahir Sebagai Pengganti Habil

  • Setelah kematian Habil, Allah menggantikan keturunan saleh dengan lahirnya Syits.
  • Nama "Syits" berasal dari bahasa Arab شيث, yang berarti pemberian karena ia diberikan oleh Allah sebagai karunia setelah kehilangan Habil.
  • Dalam riwayat Ibnu Katsir, disebutkan bahwa Nabi Adam berkata kepada Syits:

    "Wahai anakku, engkau adalah pengganti bagi Habil, maka jadilah engkau hamba Allah yang taat dan jujur."

B. Syits Sebagai Nabi

  • Setelah Nabi Adam wafat, Syits diangkat menjadi nabi untuk membimbing keturunan yang saleh.
  • Allah menurunkan kepadanya 50 shuhuf (lembaran wahyu), yang berisi ajaran tauhid dan aturan hidup yang benar.
  • Syits memimpin keturunan Nabi Adam yang masih tinggal di atas gunung, jauh dari keturunan Qabil yang sudah mulai rusak moralnya.

4. Keturunan Qabil – Awal Kemaksiatan di Dunia

Ibnu Katsir juga menjelaskan bagaimana keturunan Qabil mulai menyimpang:

A. Meninggalkan Ajaran Tauhid

  • Keturunan Qabil meninggalkan aturan yang diajarkan Nabi Adam dan Syits.
  • Mereka mulai mengikuti hawa nafsu dan kecenderungan duniawi.

B. Musik dan Hiburan Pertama Kali Diperkenalkan

  • Dalam Al-Bidāyah wa An-Nihāyah, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa keturunan Qabil adalah orang pertama yang memperkenalkan alat musik dan hiburan.
  • Seorang keturunan Qabil bernama Jubal dikatakan sebagai orang pertama yang menciptakan alat musik dan memperkenalkan nyanyian.

C. Pergaulan Bebas Dimulai dari Keturunan Qabil

  • Ibnu Katsir menyebutkan bahwa wanita dari keturunan Qabil mulai mengenakan pakaian yang terbuka untuk menarik perhatian pria.
  • Mereka juga mulai menggunakan alat musik dan tarian untuk menghibur dan menarik pria dari keturunan Syits agar bergabung dengan mereka.
  • Ini menyebabkan terjadinya percampuran antara keturunan saleh dengan keturunan yang rusak, yang akhirnya membawa lebih banyak penyimpangan dalam masyarakat.

5. Wasiat Nabi Adam Sebelum Wafat

Dalam Al-Bidāyah wa An-Nihāyah, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa sebelum wafat, Nabi Adam memberikan beberapa wasiat kepada anak-anaknya, khususnya Syits:

  1. Jangan mengikuti hawa nafsu seperti Qabil dan keturunannya.
  2. Tetap menjaga tauhid dan menyembah Allah.
  3. Jangan mencampurkan keturunan saleh dengan keturunan Qabil yang sudah rusak moralnya.
  4. Menjalankan syariat Allah yang telah diajarkan kepada mereka.

Setelah wafat, Nabi Adam dimakamkan di sekitar Gunung Abi Qubais di Makkah, dan kepemimpinan umat manusia diteruskan oleh Syits.


Kesimpulan Tambahan dari Ibnu Katsir

  1. Nama-nama anak Nabi Adam lebih jelas, termasuk kembaran mereka.
  2. Cara pembunuhan Habil lebih spesifik, yaitu dengan batu besar.
  3. Syits menerima 50 lembar wahyu sebagai nabi setelah Adam.
  4. Keturunan Qabil mulai menyimpang dengan menciptakan musik dan pergaulan bebas.
  5. Wasiat Nabi Adam menjelang wafat menunjukkan pentingnya menjaga garis keturunan yang saleh.


Hubungan Nabi Adam ‘alayhis salam dengan Iblis Secara Terperinci

Dalam berbagai kitab tafsir dan sejarah Islam, termasuk Qashash al-Anbiya’ dan Al-Bidāyah wa An-Nihāyah karya Ibnu Katsir, hubungan antara Nabi Adam dan Iblis dibahas dalam beberapa fase utama:

  1. Penciptaan Nabi Adam dan Keengganan Iblis untuk Sujud
  2. Tipu Daya Iblis di Surga
  3. Turunnya Nabi Adam dan Iblis ke Bumi
  4. Permusuhan Abadi Antara Keturunan Adam dan Iblis

1. Penciptaan Nabi Adam dan Keengganan Iblis untuk Sujud

A. Penciptaan Adam dari Tanah

  • Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk (QS. Al-Hijr: 26-29).
  • Setelah sempurna bentuknya, Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam tubuh Adam, menjadikannya makhluk pertama yang diberi ruh dari Allah.
  • Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wa An-Nihāyah menjelaskan bahwa malaikat diperintahkan untuk sujud sebagai penghormatan, bukan ibadah.

B. Keengganan Iblis untuk Sujud

  • Ketika Allah memerintahkan seluruh malaikat dan Iblis untuk sujud kepada Adam, Iblis menolak dengan sombong.

  • Iblis berkata:

    "Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS. Al-A’raf: 12)

  • Karena kesombongannya, Iblis diusir dari rahmat Allah dan dilaknat hingga hari kiamat (QS. Al-Hijr: 34-35).

  • Iblis meminta penangguhan waktu untuk membalas dendam kepada Adam dan keturunannya (QS. Al-A’raf: 14-15).

C. Strategi Iblis untuk Menyesatkan Keturunan Adam

Allah memperingatkan bahwa Iblis akan menjadi musuh abadi bagi manusia (QS. Al-Baqarah: 36).
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa setelah diusir, Iblis bersumpah:

"Demi kekuasaan-Mu, aku pasti akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas." (QS. Shad: 82-83)


2. Tipu Daya Iblis di Surga

A. Peringatan Allah kepada Adam dan Hawa

  • Allah memberi peringatan kepada Adam dan Hawa agar tidak mendekati pohon terlarang (QS. Al-Baqarah: 35).
  • Tidak dijelaskan secara pasti dalam Al-Qur'an dan Hadits tentang jenis pohon tersebut. Namun, beberapa ulama seperti Ibnu Katsir menyebutkan kemungkinan bahwa pohon itu adalah:
    • Pohon gandum
    • Pohon anggur
    • Pohon tin
    • Pohon khuldi (keabadian, sesuai tipu daya Iblis)

B. Cara Iblis Menipu Adam dan Hawa

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Iblis menggunakan beberapa trik:

  1. Mendekati Adam dengan Rayuan Lembut

    • Iblis mendekati Adam dan Hawa dengan menyamar sebagai penasihat baik.
    • Ia bersumpah bahwa ia hanya ingin menolong mereka:

      "Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu." (QS. Al-A’raf: 21)

  2. Menawarkan Keabadian

    • Iblis berkata bahwa jika mereka memakan buah dari pohon terlarang, mereka akan hidup kekal dan menjadi malaikat (QS. Thaha: 120).
    • Ini sesuai dengan julukan "pohon keabadian" (syajaratul khuldi) yang diberikan Iblis untuk pohon tersebut.
  3. Memberikan Kesempatan untuk Mencoba

    • Iblis tidak langsung meminta Adam makan, tetapi meminta untuk mencicipi sedikit saja.
    • Setelah memakan buah itu, pakaian Adam dan Hawa terlepas, membuat mereka malu (QS. Thaha: 121).

C. Akibat Pelanggaran Perintah Allah

  • Allah menurunkan Adam, Hawa, dan Iblis ke bumi sebagai hukuman, tetapi juga sebagai bagian dari rencana-Nya (QS. Al-Baqarah: 36).
  • Iblis tetap menjadi musuh manusia hingga hari kiamat.

3. Turunnya Nabi Adam dan Iblis ke Bumi

A. Tempat Turunnya Nabi Adam

  • Ibnu Katsir menyebutkan beberapa pendapat tentang lokasi di mana Adam dan Hawa diturunkan:
    • Adam turun di India (di gunung yang disebut Gunung Serendib, Sri Lanka).
    • Hawa turun di Jeddah, Arab Saudi.
    • Iblis turun di suatu tempat di laut.

B. Nabi Adam Bertobat

  • Setelah turun ke bumi, Nabi Adam menangis selama 300 tahun karena telah melanggar perintah Allah.

  • Ia berdoa dengan kalimat:

    "Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Al-A’raf: 23)

  • Allah menerima tobat Adam dan memberinya petunjuk (QS. Thaha: 122).


4. Permusuhan Abadi antara Keturunan Adam dan Iblis

A. Strategi Iblis Menyesatkan Manusia

Ibnu Katsir menyebutkan beberapa cara Iblis dalam menyesatkan manusia:

  1. Membisikkan Keraguan tentang Allah

  2. Menghiasi Perbuatan Dosa Agar Terlihat Indah

  3. Menyerang Manusia dari Berbagai Arah (QS. Al-A’raf: 17)

    • Dari depan (menyusupkan rasa takut akan masa depan)
    • Dari belakang (mengingatkan kesenangan masa lalu yang berdosa)
    • Dari kanan (mengelabui manusia agar merasa sudah cukup berbuat baik)
    • Dari kiri (menggoda dengan dosa terang-terangan)
  4. Menyerang Hati dan Nafsu Manusia

B. Nabi Adam Mengajarkan Waspada Terhadap Iblis

Sebelum wafat, Nabi Adam memperingatkan anak-anaknya tentang bahaya tipu daya Iblis dan memerintahkan mereka untuk selalu berpegang teguh pada tauhid.


Kesimpulan

  1. Iblis adalah makhluk pertama yang sombong dan menolak perintah Allah, menyebabkan permusuhan abadi dengan manusia.
  2. Strategi Iblis untuk menyesatkan Adam sangat halus dan berbasis pada bujukan serta sumpah palsu.
  3. Iblis terus berusaha menyesatkan keturunan Adam dengan berbagai cara, terutama dengan membuat dosa terlihat menarik.
  4. Nabi Adam menerima ampunan Allah, tetapi keturunannya harus terus berjaga-jaga terhadap tipu daya Iblis.


Tambahan Detail tentang Hubungan Nabi Adam dan Iblis dari Kitab-Kitab Lain

Selain Qashash al-Anbiya' dan Al-Bidāyah wa An-Nihāyah karya Ibnu Katsir, ada beberapa kitab lain yang memberikan tambahan informasi tentang hubungan Nabi Adam dan Iblis, di antaranya:

  1. Tafsir At-Thabari (Jāmi’ al-Bayān fi Ta’wīl al-Qur’ān)
  2. Tafsir Al-Qurthubi (Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān)
  3. Kitab Al-Kashf wa Al-Bayān (Tafsir Ats-Tsa’labi)
  4. Kitab ‘Uyun al-Hikayat (Ibnul Jauzi)
  5. Kitab Tanbihul Ghafilin (Abu Laits As-Samarqandi)

1. Tafsir At-Thabari (Jāmi’ al-Bayān fi Ta’wīl al-Qur’ān)

Dalam tafsirnya, Imam At-Thabari menyebutkan beberapa riwayat tambahan tentang permusuhan antara Nabi Adam dan Iblis:

A. Iblis Adalah Jin yang Dahulu Beribadah Bersama Malaikat

  • At-Thabari mengutip riwayat bahwa Iblis dahulu adalah makhluk yang rajin beribadah dan tinggal di langit bersama para malaikat.
  • Namun, ketika Allah menciptakan Adam dan memerintahkan sujud, Iblis merasa dirinya lebih tinggi derajatnya.
  • Ia berdalil bahwa api lebih mulia daripada tanah, sehingga menolak sujud (QS. Al-A’raf: 12).

B. Nama Iblis Sebelum Dilaknat

  • Sebelum diusir dari rahmat Allah, Iblis memiliki nama "Azazil" dalam beberapa riwayat.
  • Nama ini menunjukkan bahwa Iblis dulunya adalah makhluk yang memiliki posisi tinggi di antara jin.
  • Ketika ia menolak sujud, ia pun dilaknat dan disebut "Iblis" (الابلاس), yang berarti putus asa dari rahmat Allah.

C. Iblis Bersumpah Akan Menciptakan Tipu Daya Hingga Kiamat

  • Setelah dilaknat, Iblis meminta penangguhan hidup hingga hari kiamat.
  • Allah mengabulkan permintaannya dengan syarat: "Kamu tidak akan bisa menyesatkan hamba-hamba-Ku yang ikhlas" (QS. Al-Hijr: 39-40).

2. Tafsir Al-Qurthubi (Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān)

Imam Al-Qurthubi menambahkan beberapa penjelasan menarik tentang kisah Nabi Adam dan Iblis:

A. Iblis Menggunakan Ular untuk Masuk ke Surga

  • Dalam salah satu riwayat yang dikutip oleh Al-Qurthubi, disebutkan bahwa Iblis tidak dapat masuk ke dalam surga setelah diusir oleh Allah.
  • Ia pun meminta bantuan seekor ular, yang saat itu adalah hewan yang berkaki dan dapat berbicara.
  • Ular menyembunyikan Iblis di dalam mulutnya dan membawanya masuk ke surga.
  • Setelah Iblis berhasil membujuk Adam dan Hawa untuk memakan buah terlarang, Allah menghukum ular dengan mencabut kakinya dan menjadikannya merayap di tanah hingga hari kiamat.

B. Penyebab Adam dan Hawa Tergoda

  • Al-Qurthubi menambahkan bahwa Iblis menggunakan sumpah palsu untuk meyakinkan Adam dan Hawa.

  • Ia berkata:

    "Demi Allah, aku hanyalah penasihat yang tulus untuk kalian." (QS. Al-A’raf: 21)

  • Sumpah ini membuat Adam dan Hawa percaya, sebab mereka tidak menyangka bahwa ada makhluk yang berani bersumpah palsu atas nama Allah.


3. Tafsir Ats-Tsa’labi (Al-Kashf wa Al-Bayān)

Imam Ats-Tsa’labi memberikan tambahan detail terkait tipu daya Iblis:

A. Buah dari Pohon Terlarang Tidak Langsung Dimakan

  • Dalam salah satu riwayatnya, dikatakan bahwa Iblis pertama-tama menyentuhkan buah itu ke tubuh Adam dan Hawa.
  • Setelah buah itu menyentuh tubuh mereka, pakaian surga yang mereka kenakan mulai terlepas.
  • Kemudian, Iblis berkata:

    "Lihatlah, buah ini memiliki kekuatan luar biasa. Ia bisa membuka matamu terhadap hakikat kehidupan."

  • Baru setelah itu, Adam dan Hawa benar-benar memakan buah tersebut.

B. Pakaian Adam dan Hawa yang Terlepas

  • Setelah memakan buah itu, aurat Adam dan Hawa mulai terlihat dan mereka bergegas menutupi tubuh mereka dengan daun-daun di surga (QS. Thaha: 121).
  • Ini menjadi simbol bahwa dosa membawa rasa malu dan penyesalan, serta awal mula manusia mengenakan pakaian.

4. Kitab ‘Uyun al-Hikayat (Ibnul Jauzi)

Dalam kitabnya, Ibnul Jauzi menambahkan beberapa cerita menarik:

A. Iblis Menangis Setelah Nabi Adam Bertobat

  • Ketika Allah menerima tobat Nabi Adam, Iblis menangis dengan keras karena mengetahui bahwa manusia selalu bisa kembali kepada Allah dengan tobat.
  • Iblis berkata:

    "Aku telah menggoda Adam sehingga ia berdosa, tetapi Allah tetap mengampuninya. Aku telah berdosa, tetapi Allah tidak mau mengampuniku. Aku tidak akan pernah berhenti menyesatkan manusia."

B. Nabi Adam Diajar Kata-kata Tobat dari Allah

  • Setelah memakan buah terlarang, Nabi Adam tidak tahu bagaimana cara bertobat.
  • Allah pun mengajarkan kata-kata khusus untuk beristighfar, sebagaimana disebut dalam QS. Al-Baqarah: 37:

    "Rabbanaa zhalamna anfusanaa wa illam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakunanna minal khaasirin."
    ("Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.")


5. Kitab Tanbihul Ghafilin (Abu Laits As-Samarqandi)

Dalam kitab ini, Abu Laits As-Samarqandi menjelaskan beberapa hal terkait tipu daya Iblis:

A. 5 Perkara yang Dapat Melemahkan Godaan Iblis

Menurutnya, ada lima hal yang membuat Iblis lemah dan tidak berdaya menggoda manusia:

  1. Mengucapkan Bismillah sebelum melakukan sesuatu
  2. Sering beristighfar dan bertobat
  3. Membaca Al-Qur'an dengan tadabbur
  4. Sering bersedekah dan membantu orang lain
  5. Ikhlas dalam beribadah kepada Allah

Kesimpulan dari Kitab-Kitab Tambahan

  1. Iblis dulunya bernama "Azazil" dan termasuk jin yang rajin beribadah sebelum dilaknat.
  2. Iblis menggunakan ular untuk masuk ke surga dan membujuk Adam dan Hawa.
  3. Pakaian Adam dan Hawa terlepas setelah buah itu menyentuh tubuh mereka sebelum benar-benar dimakan.
  4. Iblis menangis ketika Adam diterima tobatnya, karena manusia selalu bisa kembali kepada Allah.
  5. Ada lima amalan yang bisa melemahkan godaan Iblis, seperti membaca Bismillah, istighfar, dan bersedekah.


Kisah Nabi Adam dan Nabi Syits (Set) Secara Terperinci

Kisah Nabi Adam dan Nabi Syits (Set) memiliki beberapa tambahan detail dalam kitab-kitab klasik Islam seperti Qashash al-Anbiya' Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa An-Nihāyah, serta beberapa kitab tafsir dan sejarah lainnya. Berikut adalah uraian lengkapnya:


1. Kelahiran Nabi Syits dan Keistimewaannya

Menurut Al-Bidāyah wa An-Nihāyah, Nabi Syits dilahirkan setelah terbunuhnya Habil. Namanya dalam bahasa Ibrani disebut "Set" (שֵׁת), yang berarti "pengganti" karena Allah memberikan Syits sebagai pengganti Habil.

Menurut riwayat dari Ibnu Abbas, ketika Nabi Adam menerima wahyu bahwa anaknya Habil terbunuh oleh Qabil, ia pun sangat bersedih. Kemudian Allah menggantikannya dengan Syits, yang kelahirannya disertai pesan langsung dari Allah bahwa dia akan menjadi nabi dan penerus Adam dalam memimpin keturunannya.

Diriwayatkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, bahwa Jibril berkata kepada Adam:

"Wahai Adam, Allah telah memberi keturunan pengganti yang lebih baik daripada Habil. Dia adalah anak yang shalih, bernama Syits."


2. Nabi Adam Mewariskan Ilmu dan Kitab Kepada Syits

Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya’ menyebutkan bahwa sebelum wafat, Nabi Adam:

  1. Mewasiatkan kitab-kitab wahyu yang diturunkan kepadanya kepada Syits.
  2. Mengajarkan ilmu tauhid, ibadah, dan hukum syariat pertama kepada Syits.
  3. Mengajarkan cara menuliskan wahyu Allah dalam lembaran-lembaran.
  4. Menerangkan rahasia nama-nama Allah dan makrifat kepada-Nya.

Dari riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Syits menerima 50 lembaran wahyu (shuhuf) dari Allah.

Diriwayatkan dalam hadits:

"Sesungguhnya shuhuf (kitab kecil) yang diturunkan kepada Syits adalah 50 shuhuf."
(HR. Ibnu Hibban & Hakim)


3. Permusuhan dengan Qabil dan Keturunannya

Setelah Nabi Adam wafat, Qabil dan keturunannya mulai menyebarkan kebiasaan maksiat di bumi:

  1. Mereka mulai melakukan kezaliman dan membentuk peradaban penuh dosa.
  2. Mereka mulai menggunakan alat musik untuk menarik keturunan Adam yang shaleh agar ikut dalam kesesatan mereka.
  3. Keturunan Qabil tinggal di daerah pegunungan dan banyak yang menjadi penyembah berhala pertama kali.

Menurut tafsir Al-Baghawi, keturunan Syits tinggal di daerah yang lebih tinggi (gunung) untuk menghindari pengaruh keturunan Qabil yang mulai menyimpang.

Diriwayatkan bahwa Iblis mengajarkan alat musik pertama kepada keturunan Qabil untuk melalaikan mereka dari ibadah.


4. Peristiwa Wafatnya Nabi Adam dan Proses Pemakamannya

Ketika Nabi Adam menjelang wafat, ia memanggil Syits dan berkata:

"Wahai anakku, aku akan meninggalkan dunia ini. Aku mewariskan kepadamu ilmu, amanah, dan tugas menjaga agama ini."

Lalu, Nabi Syits mengurus jenazah Adam dengan cara berikut:

  1. Dimandikan sebanyak tiga kali.
  2. Dikafani dengan kain putih yang turun dari surga.
  3. Disalatkan dengan doa khusus.
  4. Dikuburkan di dalam tanah.

Riwayat menyebutkan bahwa makam Nabi Adam berada di gua Qubais, dekat Makkah, atau ada yang mengatakan di India.


5. Nabi Syits dan Peradaban Manusia Awal

A. Mengembangkan Teknologi Pertanian dan Peradaban

Beberapa kitab menyebut bahwa Nabi Syits mengembangkan pertanian dan peternakan lebih maju dibanding sebelumnya:

  • Menemukan teknik irigasi.
  • Mengembangkan sistem bercocok tanam yang lebih baik.
  • Membuat alat pertanian seperti bajak.

B. Syariat yang Ditetapkan oleh Nabi Syits

  • Melarang keturunannya bercampur dengan keturunan Qabil.
  • Menegakkan hukum hudud bagi yang melanggar ajaran Allah.
  • Menjaga ketauhidan dan melarang penyembahan berhala.

6. Wafatnya Nabi Syits

Nabi Syits hidup selama 912 tahun. Sebelum wafat, ia mewasiatkan risalah Allah kepada putranya Anusy, yang kemudian menjadi penerus kenabian.

Riwayat mengatakan bahwa Syits dimakamkan berdekatan dengan makam ayahnya, Adam. Namun, beberapa pendapat menyatakan ia dikuburkan di Syam atau Makkah.


7. Hikmah dari Kisah Nabi Syits

  1. Allah selalu menjaga agama-Nya dengan mengutus nabi dari keturunan yang shalih.
  2. Musik dan hiburan pertama kali diajarkan oleh Iblis untuk melalaikan manusia dari ibadah.
  3. Pemisahan antara orang-orang shalih dan ahli maksiat sudah ada sejak zaman awal manusia.
  4. Ilmu pertanian, peternakan, dan teknologi berkembang sejak zaman Nabi Syits.
  5. Tauhid selalu menjadi ajaran utama yang diajarkan para nabi.

Tambahan dari Kitab-Kitab Lain

  1. Kitab Tarikh Ath-Thabari

    • Syits digambarkan sebagai pemimpin pertama yang mengatur manusia secara sistematis setelah Adam.
  2. Kitab Al-Milal wa An-Nihal

    • Diceritakan bahwa peradaban pertama di dunia setelah Adam mulai berkembang dari ajaran Nabi Syits.
  3. Kitab Mukhtashar Tarikh Dimasyq

    • Menyebut bahwa keturunan Syits akhirnya bertemu dengan keturunan Qabil dan terjadi peperangan karena perbedaan keyakinan.

Kesimpulan

  1. Nabi Syits lahir sebagai pengganti Habil yang terbunuh.
  2. Ia menerima 50 shuhuf (kitab kecil) wahyu dari Allah.
  3. Ia mewarisi ilmu langsung dari Nabi Adam.
  4. Ia memimpin manusia agar tetap dalam tauhid dan menjauhi ajaran Qabil.
  5. Ia mengembangkan peradaban awal, termasuk pertanian dan irigasi.
  6. Ia melarang percampuran keturunannya dengan keturunan Qabil.
  7. Ia wafat pada usia 912 tahun dan digantikan oleh anaknya, Anusy.

Hubungan Nabi Syits dan Nabi Nuh Secara Terperinci

Kisah Nabi Syits dan Nabi Nuh memiliki kesinambungan dalam sejarah kenabian, terutama dalam silsilah keturunan serta warisan ajaran tauhid yang mereka bawa. Berikut ini adalah pembahasan rinci berdasarkan kitab Qashash al-Anbiya' Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa An-Nihāyah, dan beberapa kitab sejarah Islam lainnya.


1. Hubungan Silsilah Nabi Syits dan Nabi Nuh

Nabi Nuh adalah keturunan langsung dari Nabi Syits, melewati beberapa generasi. Berikut silsilahnya menurut Tafsir Ibnu Katsir:

  1. Syits bin Adam
  2. Anusy bin Syits
  3. Qainan bin Anusy
  4. Mahlail bin Qainan
  5. Yard bin Mahlail
  6. Idris bin Yard (Nabi Idris)
  7. Matusyalah bin Idris
  8. Lamik bin Matusyalah
  9. Nuh bin Lamik

Dengan demikian, Nabi Nuh adalah keturunan ke-9 dari Nabi Adam melalui jalur Nabi Syits.


2. Nabi Syits sebagai Pewaris Ilmu dan Syariat Nabi Adam

Setelah Nabi Adam wafat, Nabi Syits menjadi pemimpin umat dan mewarisi syariat yang sudah diajarkan sebelumnya:

  1. Menegakkan hukum Allah dalam masyarakat.
  2. Mengajarkan tauhid kepada kaumnya.
  3. Melarang kezaliman, penyembahan berhala, dan percampuran dengan keturunan Qabil.
  4. Mewariskan ilmu kenabian kepada keturunannya, termasuk Nabi Idris dan Nabi Nuh.

Menurut riwayat, ilmu Nabi Syits diwariskan kepada Nabi Idris, lalu turun ke Nabi Nuh.


3. Penyimpangan Kaum Setelah Nabi Syits

Setelah Nabi Syits wafat, keturunannya tetap berpegang pada tauhid. Namun, seiring waktu, keturunan Qabil mulai menyebarkan penyembahan berhala dan praktik dosa lainnya.

  • Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wa An-Nihāyah menyebutkan bahwa keturunan Qabil mulai mendirikan pemujaan terhadap berhala pertama kali dalam sejarah manusia.
  • Mereka menggunakan musik dan tarian untuk menarik keturunan Syits agar bergabung dengan mereka.
  • Beberapa keturunan Syits akhirnya terpengaruh dan mulai ikut dalam kemaksiatan.

Keadaan ini terus memburuk hingga zaman Nabi Idris dan akhirnya mencapai puncaknya pada masa Nabi Nuh, ketika manusia sudah hampir sepenuhnya menyimpang dari tauhid.


4. Nabi Nuh dan Kembalinya Ajaran Nabi Syits

Ketika manusia sudah semakin jauh dari ajaran Nabi Syits, Allah mengutus Nabi Nuh untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar.

Kesamaan antara ajaran Nabi Syits dan Nabi Nuh:

  • Menyeru kepada tauhid dan melarang penyembahan berhala.
  • Memerintahkan keadilan dan melarang kezaliman.
  • Menegakkan hukum Allah di antara manusia.
  • Mengingatkan manusia tentang kehidupan setelah mati dan azab Allah.

Nabi Nuh pun menghadapi tantangan yang berat, karena masyarakat telah terlanjur rusak dan menolak dakwahnya.


5. Perbedaan Kaum Nabi Syits dan Kaum Nabi Nuh


6. Kaitan Nabi Syits dengan Peristiwa Banjir Nabi Nuh

Ketika banjir besar Nabi Nuh terjadi, hanya keturunan yang masih memegang ajaran Nabi Syits yang selamat dalam bahtera.

Menurut Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya’:

"Allah menyelamatkan Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, sementara orang-orang yang menyimpang dari ajaran tauhid tenggelam bersama azab-Nya."

Setelah banjir, keturunan yang selamat berasal dari garis keturunan Nabi Syits, sehingga semua manusia setelah Nabi Nuh adalah keturunannya.


7. Hikmah dari Hubungan Nabi Syits dan Nabi Nuh

  1. Tauhid selalu menjadi ajaran utama para nabi, sejak Nabi Adam hingga Nabi Nuh.
  2. Penyimpangan manusia sering kali berasal dari godaan setan yang mengajarkan penyembahan berhala dan kemaksiatan.
  3. Nabi Syits menjadi simbol peradaban awal yang memegang teguh tauhid, sementara Nabi Nuh menjadi penyelamat generasi manusia dari kehancuran moral.
  4. Allah selalu mengutus nabi dari keturunan yang shalih untuk menjaga agama-Nya.
  5. Sejarah mencatat bagaimana keturunan Syits tetap berada dalam jalur yang benar, sedangkan keturunan Qabil akhirnya punah dalam banjir Nabi Nuh.

Kesimpulan

  • Nabi Syits adalah kakek buyut Nabi Nuh yang mewariskan ajaran tauhid.
  • Setelah Nabi Syits wafat, manusia mulai terpengaruh oleh keturunan Qabil.
  • Nabi Nuh diutus untuk mengembalikan ajaran Nabi Syits yang sudah hampir hilang.
  • Banjir besar Nabi Nuh menghapus kaum yang menyimpang, sehingga keturunan Nabi Syits tetap menjadi pewaris dunia.


0 komentar:

Posting Komentar