Prinsip Fana' dan Baqa' dalam tasawuf adalah dua tahap spiritual yang mendalam dalam perjalanan seorang sufi menuju hakikat ketuhanan.
1. Fana' (Melenyapkan Ego dan Diri)
Fana’ berasal dari kata فناء yang berarti "lenyap" atau "hilang." Dalam konteks tasawuf, fana' berarti lenyapnya kesadaran diri, ego, dan hawa nafsu dalam kecintaan dan kehendak Allah. Seorang sufi yang mencapai fana' tidak lagi melihat dirinya sebagai entitas yang berdiri sendiri, tetapi hanya menyaksikan Allah dalam segala sesuatu.
Tingkatan Fana'
- Fana' anil Ma’siyat – Lenyapnya keinginan untuk berbuat maksiat.
- Fana' anil Tho’ah – Lenyapnya perasaan bangga terhadap amal kebaikan, karena menyadari semua berasal dari Allah.
- Fana' anil Wujud – Lenyapnya kesadaran akan keberadaan diri sendiri, hanya Allah yang dirasakan sebagai satu-satunya yang benar-benar ada.
Dalil dan Pendekatan
- "Segala sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Nya." (QS. Al-Qashash: 88)
- Hadis: "Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya." (Diriwayatkan oleh al-Ghazali)
- Imam Junaid al-Baghdadi: "Tasawuf adalah bahwa Allah mematikanmu dari dirimu dan menghidupkanmu dengan-Nya."
2. Baqa' (Bertahan dalam Kehendak Allah)
Baqa’ berasal dari kata بقاء yang berarti "kekal" atau "bertahan." Setelah seorang sufi mencapai fana’, ia tidak berhenti di situ, tetapi masuk ke dalam keadaan baqa', di mana dirinya tetap hidup, tetapi dengan kesadaran penuh bahwa segala yang terjadi hanyalah manifestasi dari kehendak Allah.
Dalam baqa', seorang sufi tidak lagi terjebak dalam ego, tetapi menjadi salik (pejalan ruhani) yang menjalankan kehendak Allah dalam kehidupan dunia dengan penuh kepasrahan dan kesadaran.
Ciri-Ciri Orang yang Mencapai Baqa'
- Menjadi insan kamil – Jiwa telah mencapai kesempurnaan dalam penghambaan kepada Allah.
- Memiliki ketenangan batin – Tidak terpengaruh oleh dunia karena sadar bahwa semuanya adalah milik Allah.
- Menjadi cermin bagi orang lain – Akhlaknya mencerminkan sifat-sifat Allah (ar-Rahman, al-Karim, al-Halim, dll).
Dalil dan Pendekatan
- "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai." (QS. Al-Fajr: 27-28)
- Hadis Qudsi: "Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Maka jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, Aku menjadi penglihatannya yang ia melihat dengannya, Aku menjadi tangannya yang ia memukul dengannya, dan Aku menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya." (HR. Bukhari)
Kesimpulan
Fana’ dan baqa’ adalah tahapan yang harus dilalui oleh para sufi dalam perjalanan spiritualnya. Fana’ adalah lenyapnya ego dan kesadaran diri, sedangkan baqa’ adalah bertahannya seseorang dalam kehendak Allah. Mereka yang mencapai fana’ belum tentu mencapai baqa’, tetapi mereka yang mencapai baqa’ pasti telah melewati fana’.
Prinsip ini mengajarkan bahwa diri bukanlah milik kita, tetapi hanyalah amanah dari Allah yang harus dikembalikan dengan penuh kesadaran dan kepasrahan.
Penjelasan tentang Fana' dan Baqa' dalam tasawuf banyak dibahas dalam berbagai kitab klasik sufi. Berikut beberapa rujukan utama yang membahas konsep ini:
3. Al-Risalah Al-Qusyairiyyah – Imam Al-Qusyairi
- Kitab ini merupakan salah satu referensi utama dalam tasawuf yang menjelaskan konsep fana’ dan baqa’ secara sistematis.
- Kutipan: "Fana' adalah terhapusnya sifat-sifat tercela dari diri seorang hamba, sedangkan baqa' adalah kekalnya ia dalam sifat-sifat yang diridhai oleh Allah."
4. Ihya’ Ulumiddin – Imam Al-Ghazali
- Dalam Kitab Tauhid dan Ma’rifat, Imam Al-Ghazali membahas tahapan fana’ dan baqa’.
- Kutipan: "Ketika seorang hamba telah fana' dari dirinya sendiri, ia tidak melihat dirinya, melainkan hanya melihat Allah. Namun ia tidak berhenti di sana, melainkan berlanjut ke baqa', di mana ia tetap hidup di dunia dengan sepenuhnya berjalan dalam kehendak Allah."
5. Futuhat Al-Makkiyyah – Ibnu Arabi
- Kitab ini membahas dimensi lebih dalam tentang fana' dan baqa', termasuk pengalaman ruhani para sufi yang telah mencapai tahap ini.
- Kutipan: "Fana’ adalah tersingkapnya hakikat, dan baqa’ adalah penyaksian keberadaan sejati yang hanya milik Allah."
6. Al-Luma' fi At-Tasawwuf – Abu Nashr As-Sarraj At-Tusi
- Kitab ini membahas makna fana' dan baqa' dari sudut pandang sufi klasik.
- Kutipan: "Fana’ adalah awal perjalanan menuju Allah, sementara baqa’ adalah puncak perjalanan itu, ketika seorang hamba tetap hidup dalam ridha-Nya."
Baik, saya akan memberikan kutipan spesifik dari beberapa kitab tasawuf klasik tentang Fana' dan Baqa'. Berikut ini adalah beberapa referensi langsung dari teks asli:
7. Al-Risalah Al-Qusyairiyyah – Imam Al-Qusyairi
Imam Al-Qusyairi menjelaskan konsep fana’ dan baqa’ dalam bab khusus tentang maqamat (tingkatan spiritual).
قال بعضهم: "الفناء فناء عن رؤية الخلق، والبقاء بقاء برؤية الحق"
"Sebagian sufi berkata: 'Fana’ adalah lenyapnya pandangan terhadap makhluk, sedangkan baqa’ adalah bertahannya pandangan terhadap Al-Haqq (Allah).’"
قال الجنيد: "التصوف أن يميتَك الحقُّ عنك، ويحييك به"
"Tasawuf adalah ketika Allah mematikanmu dari dirimu sendiri, lalu menghidupkanmu dengan-Nya."
(Sumber: Al-Risalah Al-Qusyairiyyah, Bab tentang Fana' dan Baqa')
8. Ihya’ Ulumiddin – Imam Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali dalam Kitab Tauhid dan Ma’rifat menjelaskan bahwa fana’ adalah tahap melebur dalam kesadaran ketuhanan, sementara baqa’ adalah kembalinya kesadaran dalam keadaan yang telah diperbarui.
"الفناء أن يغيب العبد عن نفسه، والبقاء أن يعود إلى نفسه بالله"
"Fana’ adalah keadaan di mana seorang hamba menjadi lupa terhadap dirinya sendiri, dan baqa’ adalah kembalinya ia kepada dirinya dengan (kesadaran akan) Allah."
(Sumber: Ihya’ Ulumiddin, Kitab Tauhid dan Ma’rifat)
9. Futuhat Al-Makkiyyah – Ibnu Arabi
Ibnu Arabi dalam Bab tentang Maqamat Ahli Shuluk membahas fana’ sebagai pengalaman lenyapnya ego dan baqa’ sebagai pencerahan sejati.
"الفناء في الله هو إدراك أن لا فاعل سواه، والبقاء بالله هو الاستمرار في إدراك ذلك دون انقطاع"
"Fana’ dalam Allah adalah kesadaran bahwa tidak ada pelaku selain Dia, dan baqa’ dengan Allah adalah bertahannya kesadaran tersebut tanpa terputus."
(Sumber: Futuhat Al-Makkiyyah, Jilid 3, Bab tentang Fana' dan Baqa')
10. Al-Luma' fi At-Tasawwuf – Abu Nashr As-Sarraj At-Tusi
Abu Nashr As-Sarraj dalam kitabnya memberikan pengertian fana' sebagai lenyapnya keinginan pribadi dan baqa' sebagai bertahannya seorang sufi dalam kehendak Allah.
"الفناء هو فناؤك عن إرادتك، والبقاء هو بقاؤك بإرادة الله"
"Fana’ adalah lenyapnya kehendak pribadimu, sedangkan baqa’ adalah bertahannya dirimu dalam kehendak Allah."
(Sumber: Al-Luma' fi At-Tasawwuf, Bab tentang Maqam Fana' dan Baqa')
Berikut kutipan dan penjelasan tentang Fana' dan Baqa' dari kitab Al-Hikam (Ibnu Atha'illah), Tadzhib al-Asrar (Abd al-Qadir al-Iskandari), dan Kitab al-Tawwabin (Ibnu Qudamah al-Maqdisi).
11. Al-Hikam – Ibnu Atha’illah As-Sakandari
Ibnu Atha’illah membahas fana' sebagai tahap melebur dalam kehendak Allah dan baqa' sebagai kembalinya kesadaran dalam keadaan yang telah diperbarui oleh cahaya ma'rifatullah.
"إِذَا فَنِيَ عَنْ نَفْسِهِ بَقِيَ بِرَبِّهِ"
"Jika seseorang telah fana' dari dirinya, maka ia akan baqa' dengan Tuhannya."
Dalam syarahnya, Imam Ibn 'Ajibah menjelaskan:
"Fana' adalah hilangnya kesadaran akan wujud diri karena kesibukan hati dalam penyaksian terhadap Allah, sedangkan baqa' adalah bertahannya seorang hamba dalam hakikat ilahiyah tanpa kembali kepada ego."
(Sumber: Al-Hikam, Hikmah ke-150)
12. Tadzhib al-Asrar – Abd al-Qadir al-Iskandari
Kitab ini merupakan salah satu referensi tasawuf yang mendalam dalam menjelaskan perjalanan spiritual seorang sufi.
"الفناء محو الآثار والبقاء شهود الأنوار"
"Fana’ adalah lenyapnya segala pengaruh dunia, dan baqa’ adalah penyaksian cahaya-cahaya (ketuhanan)."
Penjelasan dalam kitab ini menyebutkan bahwa:
- Fana' terjadi ketika seorang sufi tidak lagi melihat dirinya sebagai pusat kehidupan, melainkan hanya menyaksikan Allah sebagai satu-satunya pelaku sejati.
- Baqa' terjadi setelah fana', di mana seorang sufi tetap hidup tetapi dengan kesadaran penuh bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya.
(Sumber: Tadzhib al-Asrar, Bab tentang Maqam Fana' wa Baqa')
13. Kitab al-Tawwabin – Ibnu Qudamah al-Maqdisi
Kitab ini lebih fokus pada kisah-kisah para hamba yang bertaubat, tetapi dalam beberapa bagian membahas konsep fana' dan baqa' dalam konteks perjalanan menuju Allah.
"الفناء الحقيقي هو فناء القلب عن التعلق بالدنيا، والبقاء هو البقاء في طاعة الله بعد التوبة"
"Fana' yang hakiki adalah lenyapnya keterikatan hati dengan dunia, dan baqa' adalah bertahannya seseorang dalam ketaatan kepada Allah setelah bertaubat."
Dalam kitab ini, Ibnu Qudamah menekankan bahwa fana’ tidak selalu berarti kehilangan kesadaran fisik, tetapi lebih kepada hilangnya rasa memiliki terhadap dunia, sehingga hati sepenuhnya bergantung pada Allah. Baqa’ dalam konteks ini adalah ketika seseorang tetap hidup dalam dunia tetapi seluruh perbuatannya selaras dengan kehendak Allah.
(Sumber: Kitab al-Tawwabin, Bab tentang Taubat dan Kehidupan Ruhani)
Kesimpulan
Ketiga kitab ini memberikan perspektif berbeda tentang Fana' dan Baqa':
- Al-Hikam menjelaskan fana’ sebagai kehilangan ego dan baqa’ sebagai bertahannya seseorang dalam makrifatullah.
- Tadzhib al-Asrar lebih menekankan fana’ sebagai hilangnya ketergantungan pada dunia dan baqa’ sebagai pencapaian cahaya ilahi.
- Kitab al-Tawwabin mengaitkan fana’ dengan lenyapnya cinta dunia dalam hati, sementara baqa’ adalah tetap dalam ketaatan setelah mengalami transformasi spiritual.
Konsep Fana' dan Baqa' dalam tasawuf memiliki landasan dalam hadits-hadits Nabi ﷺ yang menunjukkan kepasrahan total kepada Allah, hilangnya ego, dan bertahannya seorang hamba dalam kehendak-Nya. Berikut beberapa hadits yang mendukung konsep ini:
1. Hadits Qudsi: Seorang Hamba yang Dicintai Allah
دَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَعَالَى: "وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ."
(HR. Bukhari, No. 6502)
Makna dalam Konsep Fana' dan Baqa'
- Fana': Seorang hamba yang mendekat kepada Allah dengan ketaatan sampai dirinya hilang dalam kehendak Allah, tidak melihat dirinya sendiri, tetapi hanya melihat Allah dalam segala hal.
- Baqa': Setelah mencapai fana’, seorang hamba tetap hidup di dunia, tetapi semua perbuatannya berasal dari Allah – pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan langkahnya adalah manifestasi kehendak-Nya.
2. Hadits tentang Hakikat Tauhid dan Kepasrahan Total
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ..."
(HR. Bukhari No. 1, Muslim No. 1907)
Makna dalam Konsep Fana' dan Baqa'
- Fana': Seorang yang hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya akan melepaskan keinginan dunianya, meninggalkan egonya, dan fokus hanya pada Allah.
- Baqa': Setelah fana’, ia tetap hidup, tetapi seluruh amal perbuatannya hanya untuk Allah, bukan untuk dirinya sendiri.
3. Hadits tentang Orang yang Mencapai Maqam Ihsan
عَنْ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، قَالَ: "أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ." قَالَ ﷺ: "أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ."
(**HR. Muslim No. 8, Abu Dawud No. 4695, Tirmidzi No.







0 komentar:
Posting Komentar