Rabu, 12 Maret 2025

KISAH NABI IBRAHIM AS

 

Gambaran Syurgawi GenZArtDoc

Kisah Nabi Ibrahim ‘alayhis salam dalam Qashash al-Anbiya' Ibnu Katsir dan Kitab-Kitab Lain

Pendahuluan
Nabi Ibrahim ‘alayhis salam adalah salah satu nabi yang paling dihormati dalam Islam, dikenal sebagai Abu al-Anbiya’ (Bapak Para Nabi). Kisahnya banyak disebut dalam Al-Qur'an, termasuk perjuangannya dalam menegakkan tauhid, ujian-ujian berat yang dihadapinya, serta kedekatannya dengan Allah.

Berikut adalah kisah Nabi Ibrahim berdasarkan Qashash al-Anbiya' karya Ibnu Katsir, dengan tambahan dari kitab-kitab lain seperti Tafsir Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, Tarikh Ath-Thabari, dan Tafsir At-Tabari.


1. Kelahiran dan Kehidupan di Tengah Penyembahan Berhala

Menurut Ibnu Katsir, Nabi Ibrahim lahir di Babilonia (kini Irak) pada masa Raja Namrud bin Kan’aan, seorang penguasa zalim yang mengaku sebagai tuhan. Ayahnya, Azar (sebagaimana disebut dalam Al-Qur'an, meskipun sebagian ulama menyebut bahwa Azar adalah pamannya), adalah seorang pembuat berhala.

Masyarakat pada saat itu menyembah patung-patung dan bintang-bintang. Bahkan, mereka memiliki kuil besar yang dipenuhi berhala yang mereka anggap sebagai dewa. Dari kecil, Ibrahim mempertanyakan kepercayaan ini dan mulai mencari kebenaran.


2. Perjalanan Mencari Tuhan (Tauhid)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir At-Tabari, dijelaskan bahwa Ibrahim mulai merenungkan keberadaan Tuhan yang sebenarnya. Allah mengabadikan proses pencariannya dalam Al-Qur'an (QS. Al-An’am: 75-79), di mana Ibrahim mengamati benda-benda langit:

  1. Melihat bintang → berpikir itu tuhan, tetapi ketika bintang tenggelam, ia berkata, "Aku tidak suka yang tenggelam."
  2. Melihat bulan → berpikir itu lebih besar, tetapi ketika bulan lenyap, ia berkata, "Jika Tuhanku tidak memberi petunjuk, aku akan tersesat."
  3. Melihat matahari → berpikir itu lebih besar, tetapi ketika terbenam, ia berkata, "Aku berlepas diri dari semua ini."

Akhirnya, Ibrahim menyatakan bahwa hanya Allah yang berhak disembah.


3. Menghancurkan Berhala dan Perlawanan terhadap Raja Namrud

Menurut Qashash al-Anbiya’ Ibnu Katsir, setelah mengetahui kebodohan kaumnya, Nabi Ibrahim mencoba berdialog dengan mereka. Namun, mereka tetap bersikeras menyembah berhala.

Suatu hari, ketika kaumnya pergi ke perayaan tahunan, Ibrahim diam-diam masuk ke kuil dan menghancurkan semua berhala, kecuali satu yang terbesar. Ia menggantungkan kapak di leher berhala tersebut.

Ketika orang-orang kembali, mereka terkejut dan menanyakan siapa yang menghancurkan berhala-berhala mereka. Ibrahim berkata, “Tanyakan saja pada berhala besar itu jika ia bisa berbicara!” (QS. Al-Anbiya: 63). Mereka pun sadar bahwa berhala-berhala itu tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi karena keras kepala, mereka tetap menolak ajaran Ibrahim.


4. Ujian Dibakar dalam Api

Raja Namrud, yang merasa terancam oleh dakwah Ibrahim, memerintahkan agar ia dibakar hidup-hidup dalam api besar. Menurut Tarikh Ath-Thabari dan Al-Bidayah wa an-Nihayah, api yang dibuat sangat besar hingga memerlukan waktu berhari-hari untuk membakarnya.

Namun, Allah berfirman:

"Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!" (QS. Al-Anbiya: 69)

Dengan izin Allah, api tidak membakar Ibrahim. Orang-orang terkejut dan mulai meragukan kekuasaan Raja Namrud. Namun, Namrud tetap sombong dan menolak keesaan Allah.


5. Debat Nabi Ibrahim dengan Raja Namrud

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Nabi Ibrahim berdebat dengan Namrud tentang kekuasaan Allah. Ibrahim berkata bahwa Allah dapat menghidupkan dan mematikan. Namrud, dengan sombongnya, memanggil dua tahanan, membunuh yang satu dan membebaskan yang lain, lalu berkata bahwa ia juga bisa “menghidupkan dan mematikan.”

Ibrahim lalu menantangnya:

"Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat." (QS. Al-Baqarah: 258)

Namrud terdiam dan tidak mampu menjawab.


6. Hijrah ke Syam dan Mesir

Setelah mengalami banyak perlawanan, Nabi Ibrahim berhijrah ke tanah Syam (kini Palestina dan Suriah) bersama istrinya, Sarah, dan keponakannya, Luth.

Dalam perjalanan ke Mesir, Raja Mesir yang zalim mencoba mengambil Sarah. Namun, Allah melindunginya, dan raja tersebut akhirnya memberikan seorang budak bernama Hajar sebagai hadiah.


7. Kelahiran Nabi Ismail dan Perintah Menyembelih Putranya

Sarah belum dikaruniai anak, sehingga ia mengizinkan Ibrahim menikahi Hajar. Dari pernikahan ini lahirlah Nabi Ismail.

Allah kemudian memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa Hajar dan Ismail ke tanah tandus (Makkah). Dalam Qashash al-Anbiya’, dijelaskan bagaimana Hajar mencari air hingga Allah memancarkan sumur Zamzam.

Beberapa tahun kemudian, Ibrahim menerima perintah untuk menyembelih Ismail (QS. As-Saffat: 102-107). Dengan penuh kepasrahan, keduanya menaati perintah Allah. Namun, sebelum penyembelihan terjadi, Allah menggantinya dengan seekor domba, yang menjadi asal mula ibadah kurban.


8. Membangun Ka’bah

Nabi Ibrahim dan Ismail diperintahkan untuk membangun Ka’bah (QS. Al-Baqarah: 127). Dalam Tarikh Ath-Thabari, disebutkan bahwa mereka membangunnya dengan batu dari berbagai gunung dan meletakkan Hajar Aswad sebagai penanda.


9. Doa Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim banyak berdoa kepada Allah, termasuk:

  • Agar tanah Makkah diberkahi (QS. Ibrahim: 37).
  • Agar Allah mengutus seorang nabi dari keturunannya (QS. Al-Baqarah: 129), yang kemudian terwujud dalam diri Rasulullah ﷺ.

10. Wafatnya Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim wafat di Palestina pada usia sekitar 175 tahun. Ia dimakamkan di Hebron, Palestina, di tempat yang kini dikenal sebagai Makam Nabi Ibrahim.


Kesimpulan dan Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim

  1. Tauhid adalah inti ajaran Islam – Nabi Ibrahim menegakkan keesaan Allah meskipun harus berhadapan dengan kekuasaan tirani.
  2. Keikhlasan dalam beribadah – Kisah penyembelihan Ismail mengajarkan kepatuhan total kepada Allah.
  3. Kesabaran dalam menghadapi cobaan – Nabi Ibrahim menghadapi berbagai ujian berat tanpa kehilangan keimanan.
  4. Hijrah demi agama – Ia rela meninggalkan tanah kelahirannya demi menegakkan Islam.
  5. Berkah dari doa yang tulus – Doa-doanya dikabulkan Allah, termasuk tentang keberkahan Makkah dan lahirnya Nabi Muhammad ﷺ.

Kitab Nabi Ibrahim ‘alayhis salam

Dalam Islam, Nabi Ibrahim ‘alayhis salam disebut sebagai salah satu nabi yang menerima wahyu dalam bentuk kitab suci. Kitab tersebut disebut Shuhuf Ibrahim (صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ), atau lembaran-lembaran wahyu yang diberikan Allah kepada beliau.


1. Dalil dalam Al-Qur'an

Allah menyebutkan keberadaan Shuhuf Ibrahim dalam beberapa ayat:

  1. QS. Al-A’la (87): 18-19
    "Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam shuhuf yang dahulu, (yaitu) shuhuf Ibrahim dan Musa."

  2. QS. An-Najm (53): 36-37
    "Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan (juga) pada lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?"

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa Nabi Ibrahim menerima wahyu dalam bentuk lembaran atau kitab kecil, yang disebut Shuhuf Ibrahim.


2. Isi Shuhuf Ibrahim

Meskipun Al-Qur'an tidak secara rinci menjelaskan isi kitab ini, beberapa tafsir dan sumber Islam menyebutkan bahwa Shuhuf Ibrahim berisi ajaran tauhid, keikhlasan dalam beribadah, serta perintah untuk berlaku adil dan berbuat baik.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa ajaran dalam Shuhuf Ibrahim mirip dengan prinsip-prinsip dasar Islam, yaitu:

  1. Pentingnya tauhid – Menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.
  2. Keutamaan amal shalih – Mendorong manusia untuk melakukan kebaikan dan menjauhi kemaksiatan.
  3. Kesederhanaan hidup – Menghindari ketamakan duniawi.
  4. Hisab dan pembalasan akhirat – Mengingatkan manusia bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas amal mereka.

Sebagian ulama, seperti dalam Tafsir Ath-Thabari, menyebutkan bahwa Shuhuf Ibrahim berisi hikmah-hikmah dan nasihat moral bagi umat manusia.


3. Hubungan Shuhuf Ibrahim dengan Kitab-Kitab Lain

Shuhuf Ibrahim termasuk dalam kitab suci yang diturunkan sebelum Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur'an.

Menurut para ulama:

  • Taurat diturunkan kepada Nabi Musa, sebagaimana disebutkan dalam ayat QS. Al-A’la (87): 18-19.
  • Shuhuf Ibrahim memiliki ajaran tauhid yang murni, yang kemudian juga diabadikan dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar Al-Ghifari, Rasulullah ﷺ bersabda tentang isi Shuhuf Ibrahim:

"Isinya adalah nasihat-nasihat tentang kehidupan yang zuhud dan tidak tamak terhadap dunia." (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)


4. Apakah Shuhuf Ibrahim Masih Ada Sekarang?

Tidak seperti Al-Qur'an yang tetap terjaga keasliannya, Shuhuf Ibrahim sudah tidak ada lagi dalam bentuk aslinya. Umat Islam meyakini bahwa isi dari kitab ini telah hilang atau bercampur dengan ajaran lain yang telah mengalami perubahan seiring waktu.

Beberapa sejarawan menghubungkan Shuhuf Ibrahim dengan ajaran-ajaran moral dalam literatur Yahudi kuno, tetapi dalam Islam, kita hanya meyakini keberadaannya sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits.


Kesimpulan

  1. Shuhuf Ibrahim adalah kitab suci yang diberikan kepada Nabi Ibrahim ‘alayhis salam, sebagaimana disebut dalam Al-Qur'an.
  2. Isi kitab ini berisi ajaran tauhid, keikhlasan, zuhud terhadap dunia, dan keadilan.
  3. Shuhuf Ibrahim sudah tidak ada dalam bentuk aslinya dan tidak ditemukan dalam teks-teks sejarah yang ada saat ini.
  4. Pesan-pesan dalam Shuhuf Ibrahim masih tercermin dalam Al-Qur'an, yang menyempurnakan wahyu sebelumnya.

Aspek Tasawuf, Ketaatan, dan Keutamaan Nabi Ibrahim ‘alayhis salam

Nabi Ibrahim ‘alayhis salam adalah salah satu nabi ulul ‘azmi dan dikenal sebagai Khalilullah (kekasih Allah). Dalam tasawuf, beliau sering dijadikan teladan dalam berbagai aspek spiritual, terutama dalam tauhid, tawakal, mujahadah (kesungguhan dalam ibadah), dan fana’ fillah (lenyapnya keakuan dalam kehendak Allah).


1. Aspek Tasawuf dalam Kisah Nabi Ibrahim

A. Tauhid Murni (Tajrid dan Tafrid)

  • Nabi Ibrahim adalah contoh dari seorang hamba yang mencapai derajat tauhid tertinggi. Ia meninggalkan segala bentuk ketergantungan duniawi dan hanya bergantung kepada Allah.
  • Dalam QS. Al-An‘am: 76-79, disebutkan bagaimana Nabi Ibrahim mencari kebenaran melalui pencarian spiritualnya, menolak penyembahan bintang, bulan, dan matahari, hingga menemukan tauhid sejati.
  • Dalam tasawuf, ini disebut sebagai tajrid (melepaskan diri dari selain Allah) dan tafrid (menjadikan Allah satu-satunya tujuan).

B. Tawakal dan Fana’ Fillah (Lenyapnya Ego dalam Kehendak Allah)

  • Ketika Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api oleh Raja Namrud, beliau tidak mengandalkan siapa pun kecuali Allah. Kata-katanya yang terkenal:

    "Hasbunallahu wa ni‘mal wakil" (Cukuplah Allah sebagai pelindung kami, dan Dialah sebaik-baik penolong). (HR. Bukhari)

  • Dalam tasawuf, ini adalah puncak tawakal (at-tawakkul al-kamil), yaitu keyakinan mutlak kepada Allah tanpa sedikit pun rasa takut kepada makhluk.

C. Ujian Pengorbanan (Maqam Al-Mahabbah - Cinta Sejati kepada Allah)

  • Nabi Ibrahim diuji dengan perintah menyembelih putranya, Nabi Ismail, yang kemudian digantikan dengan seekor domba.
  • Ini melambangkan konsep fana’ fillah, yaitu ketika seseorang benar-benar mencintai Allah, ia akan mengorbankan apa pun yang paling dicintainya.
  • Dalam tarekat sufi, maqam ini disebut sebagai mahabbah haqqaniyah (cinta sejati kepada Allah), yang mengalahkan semua bentuk cinta duniawi.

D. Hijrah sebagai Simbol Perjalanan Spiritual (Suluk)

  • Nabi Ibrahim meninggalkan tanah kelahirannya di Babilonia demi mempertahankan tauhid. Ini mencerminkan konsep hijrah batin, yaitu meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi perjalanan menuju Allah.
  • Dalam tasawuf, hijrah ini bukan hanya fisik, tetapi juga hati yang berpaling dari dunia menuju akhirat.

2. Ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah

A. Ketaatan Tanpa Keraguan

  • Nabi Ibrahim tidak pernah meragukan perintah Allah, bahkan ketika diperintah meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di Mekah.
  • QS. Al-Baqarah: 131 menyebutkan bahwa ketika Allah berfirman, “Aslim” (Tunduklah), Nabi Ibrahim langsung menjawab, “Aslamtu li Rabbil ‘Alamin” (Aku tunduk kepada Tuhan semesta alam).
  • Ini menunjukkan maqam taslim (ketundukan total), yang menjadi dasar bagi semua tarekat sufi.

B. Menjalankan Perintah Allah Tanpa Bertanya "Mengapa"

  • Ketika diperintahkan menyembelih Ismail, ia tidak bertanya mengapa atau meminta alasan dari Allah.
  • Dalam tasawuf, ini adalah maqam ridha, yaitu menerima kehendak Allah dengan penuh kepuasan dan tanpa keluhan.

3. Keutamaan Nabi Ibrahim

A. Khalilullah - Kekasih Allah

  • Dalam QS. An-Nisa’: 125, Allah menyebut Nabi Ibrahim sebagai Khalilullah (kekasih-Nya).
  • Dalam tasawuf, maqam tertinggi seorang hamba adalah ketika ia tidak hanya menjadi hamba (‘abd), tetapi mencapai derajat kekasih Allah (wali).

B. Pemimpin Umat Manusia (Imam al-Naas)

  • Dalam QS. Al-Baqarah: 124, Allah berfirman:

    “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau (Ibrahim) sebagai pemimpin bagi manusia.”

  • Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati dalam Islam bukanlah kekuasaan duniawi, tetapi kepemimpinan dalam tauhid dan ketaatan kepada Allah.

C. Doanya Selalu Dikabulkan Allah

  • Nabi Ibrahim banyak berdoa dalam Al-Qur’an, di antaranya:
    1. Doa agar keturunannya tetap dalam tauhid (QS. Ibrahim: 35-36).
    2. Doa agar Mekah menjadi tempat yang aman dan penuh keberkahan (QS. Al-Baqarah: 126).
    3. Doa agar diutus Rasul di kalangan anak cucunya (yang dikabulkan dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ) (QS. Al-Baqarah: 129).
  • Ini menunjukkan maqam maqbuliyyah (diperkenankan doanya oleh Allah), yang merupakan salah satu tanda kewalian dalam tasawuf.

Kesimpulan

Nabi Ibrahim ‘alayhis salam adalah contoh utama dalam tasawuf tentang bagaimana seorang hamba harus bertauhid secara murni, bertawakal secara total, dan mencapai maqam mahabbah serta fana’ fillah.

  1. Dalam tasawuf, beliau adalah contoh perjalanan spiritual menuju Allah melalui tauhid, hijrah, pengorbanan, dan kesabaran.
  2. Dalam ketaatan, beliau menunjukkan ketundukan mutlak tanpa syarat kepada Allah.
  3. Dalam keutamaan, beliau adalah Khalilullah, pemimpin manusia, dan teladan dalam doa yang dikabulkan.

Nabi Ibrahim bukan hanya teladan bagi para nabi, tetapi juga bagi para pencari hakikat dalam tasawuf. 

Seluruh Doa Nabi Ibrahim ‘alayhis salam dalam Al-Qur'an

Nabi Ibrahim ‘alayhis salam banyak berdoa kepada Allah dalam berbagai keadaan, baik untuk dirinya sendiri, keluarganya, keturunannya, maupun untuk umat manusia. Berikut adalah seluruh doa Nabi Ibrahim yang disebutkan dalam Al-Qur’an, lengkap dengan teks Arab, terjemahan, serta konteksnya.


1. Doa Memohon Petunjuk dan Keimanan

QS. Asy-Syu’ara (26): 83-85

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ ۝ وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ ۝ وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ

"Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan."

Konteks: Nabi Ibrahim memohon hikmah, kedudukan yang baik di antara orang-orang setelahnya, dan agar ia termasuk penghuni surga.


2. Doa Memohon Ampunan dan Rahmat untuk Diri dan Orang Tua

QS. Asy-Syu’ara (26): 86

وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ

"Dan ampunilah bapakku, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang sesat."

Konteks: Nabi Ibrahim memohon ampunan bagi ayahnya, Azar. Namun, dalam QS. At-Taubah: 114, disebutkan bahwa setelah mengetahui ayahnya tetap kafir, beliau berlepas diri darinya.


3. Doa Agar Keturunannya Tetap di Atas Tauhid

QS. Ibrahim (14): 35-36

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا ٱلْبَلَدَ ءَامِنًا وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ ۝ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلنَّاسِ ۖ فَمَن تَبِعَنِى فَإِنَّهُۥ مِنِّى ۖ وَمَنْ عَصَانِى فَإِنَّكَ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ

"Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku serta anak cucuku dari menyembah berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia. Barang siapa yang mengikutiku, maka dia termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Konteks: Nabi Ibrahim meminta perlindungan agar dirinya dan keturunannya tetap di jalan tauhid dan tidak terjerumus dalam penyembahan berhala.


4. Doa Agar Makkah Diberkahi dan Keturunannya Dijaga

QS. Ibrahim (14): 37

رَبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍۢ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْئِدَةًۭ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki tanam-tanaman di dekat rumah-Mu yang suci (Ka’bah). Ya Tuhan kami, agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan agar mereka bersyukur."

Konteks: Nabi Ibrahim berdoa agar keturunannya yang ditinggalkan di Makkah (termasuk Ismail) mendapatkan perlindungan, rezeki, dan agar manusia mencintai mereka.


5. Doa Memohon Ampunan untuk Diri, Keturunan, dan Umat Muslim

QS. Ibrahim (14): 41

رَبَّنَا ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ ٱلْحِسَابُ

"Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).”

Konteks: Doa ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim memiliki kepedulian besar terhadap umat Muslim hingga hari kiamat.


6. Doa Agar Keturunannya Dijadikan Sebagai Pemimpin dalam Agama

QS. Al-Baqarah (2): 124

وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍۢ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًۭا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى ٱلظَّٰلِمِينَ

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu ia melaksanakannya dengan sempurna. (Allah) berfirman, 'Sesungguhnya Aku menjadikanmu sebagai pemimpin bagi manusia.' (Ibrahim) berkata, 'Dan (juga) dari keturunanku?' (Allah) berfirman, '(Ketetapan-Ku ini) tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim.'"

Konteks: Nabi Ibrahim meminta agar keturunannya menjadi pemimpin dalam agama, namun Allah menjelaskan bahwa hanya yang beriman dan tidak zalim yang akan diberi kepemimpinan tersebut.


7. Doa Agar Umat Muslim Diberi Seorang Nabi

QS. Al-Baqarah (2): 129

رَبَّنَا وَٱبْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًۭا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

"Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Konteks: Doa ini dikabulkan Allah dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ dari keturunan Ibrahim.


Kesimpulan

  • Nabi Ibrahim banyak berdoa untuk tauhid, keturunannya, keselamatan, dan umat Muslim.
  • Doa-doanya berkaitan dengan keamanan Makkah, kepemimpinan keturunannya, dan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ.
  • Banyak dari doa beliau yang dikabulkan Allah, termasuk keberkahan Makkah dan datangnya Rasul terakhir.

Benar, masih ada beberapa doa Nabi Ibrahim ‘alayhis salam yang belum disebutkan. Berikut adalah seluruh doa Nabi Ibrahim yang tercantum dalam Al-Qur’an, disertai teks Arab, terjemahan, dan konteksnya.


1. Doa Agar Diberi Keturunan yang Saleh

QS. As-Saffat (37): 100

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh."

Konteks: Nabi Ibrahim memohon keturunan yang saleh, dan Allah mengabulkan dengan memberikan putra, yaitu Nabi Ismail ‘alayhis salam.


2. Doa Bersyukur atas Kelahiran Ismail dan Ishaq

QS. Ibrahim (14): 39

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى وَهَبَ لِى عَلَى ٱلْكِبَرِ إِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ ۚ إِنَّ رَبِّى لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

"Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku (dua anak) Ismail dan Ishaq di masa tuaku. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar doa."

Konteks: Nabi Ibrahim memuji Allah atas kelahiran kedua putranya di usia tua.


3. Doa Agar Keturunannya Menjadi Orang yang Menegakkan Shalat

QS. Ibrahim (14): 40-41

رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِىۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ ۝ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ ٱلْحِسَابُ

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan semua orang beriman pada hari terjadinya hisab."

Konteks: Nabi Ibrahim berdoa agar keturunannya selalu menegakkan shalat dan memohon ampunan bagi dirinya, orang tuanya, serta seluruh orang beriman.


4. Doa Agar Umat Muslim Tidak Menyembah Berhala

QS. Ibrahim (14): 35-36

رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا ٱلْبَلَدَ ءَامِنًۭا وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ ۝ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلنَّاسِ ۖ فَمَن تَبِعَنِى فَإِنَّهُۥ مِنِّى ۖ وَمَنْ عَصَانِى فَإِنَّكَ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ

"Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku serta anak cucuku dari menyembah berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia. Barang siapa yang mengikutiku, maka dia termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Konteks: Nabi Ibrahim memohon agar dirinya dan keturunannya dijauhkan dari penyembahan berhala.


5. Doa Agar Makkah Diberkahi dan Dihuni Orang-Orang Beriman

QS. Al-Baqarah (2): 126

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنًۭا وَٱرْزُقْ أَهْلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُم بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, 'Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari akhir.'"

Konteks: Nabi Ibrahim meminta keamanan dan keberkahan bagi Makkah serta rezeki bagi penduduknya yang beriman.


6. Doa Memohon Nabi dari Keturunannya

QS. Al-Baqarah (2): 129

رَبَّنَا وَٱبْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًۭا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

"Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Konteks: Doa ini dikabulkan dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ.


Kesimpulan

Berikut seluruh doa Nabi Ibrahim dalam Al-Qur'an:

  1. Doa memohon keturunan yang saleh (QS. As-Saffat: 100).
  2. Doa bersyukur atas kelahiran Ismail dan Ishaq (QS. Ibrahim: 39).
  3. Doa agar keturunannya tetap mendirikan shalat (QS. Ibrahim: 40-41).
  4. Doa agar keturunannya dijauhkan dari menyembah berhala (QS. Ibrahim: 35-36).
  5. Doa agar Makkah menjadi negeri yang aman dan diberkahi (QS. Al-Baqarah: 126).
  6. Doa memohon pengampunan bagi diri, orang tua, dan orang beriman (QS. Ibrahim: 41).
  7. Doa agar dari keturunannya lahir nabi (QS. Al-Baqarah: 129).

Semua doa ini menggambarkan keimanan, kesabaran, dan kepedulian Nabi Ibrahim terhadap umat manusia.


Seluruh Doa Nabi Ibrahim ‘Alayhis Salam dalam Al-Qur’an

1. Doa Memohon Keturunan yang Saleh

QS. As-Saffat (37): 100

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh."

Konteks: Doa ini diucapkan sebelum kelahiran Nabi Ismail ‘alayhis salam.


2. Doa Bersyukur atas Kelahiran Ismail dan Ishaq

QS. Ibrahim (14): 39

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى وَهَبَ لِى عَلَى ٱلْكِبَرِ إِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ ۚ إِنَّ رَبِّى لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

"Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku (dua anak) Ismail dan Ishaq di masa tuaku. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar doa."

Konteks: Nabi Ibrahim bersyukur setelah Allah memberinya keturunan di usia tua.


3. Doa Agar Diri dan Keturunannya Tetap Mendirikan Shalat

QS. Ibrahim (14): 40-41

رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِىۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ ۝ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ ٱلْحِسَابُ

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan semua orang beriman pada hari terjadinya hisab."

Konteks: Doa ini menunjukkan pentingnya shalat bagi umat Nabi Ibrahim.


4. Doa Agar Keturunannya Dijauhkan dari Penyembahan Berhala

QS. Ibrahim (14): 35-36

رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا ٱلْبَلَدَ ءَامِنًۭا وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ ۝ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلنَّاسِ ۖ فَمَن تَبِعَنِى فَإِنَّهُۥ مِنِّى ۖ وَمَنْ عَصَانِى فَإِنَّكَ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ

"Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku serta anak cucuku dari menyembah berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia. Barang siapa yang mengikutiku, maka dia termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Konteks: Nabi Ibrahim sangat takut jika keturunannya menyimpang dari tauhid.


5. Doa Agar Makkah Menjadi Negeri yang Aman dan Makmur

QS. Al-Baqarah (2): 126

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنًۭا وَٱرْزُقْ أَهْلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُم بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, 'Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari akhir.'"

Konteks: Nabi Ibrahim berdoa agar Makkah menjadi tempat yang diberkahi.


6. Doa Memohon Nabi dari Keturunannya

QS. Al-Baqarah (2): 129

رَبَّنَا وَٱبْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًۭا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

"Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Konteks: Doa ini dikabulkan dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ.


7. Doa Agar Keturunannya Menerima Islam

QS. Al-Baqarah (2): 128

رَبَّنَا وَٱجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةًۭ مُّسْلِمَةًۭ لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua (Ibrahim dan Ismail) orang yang tunduk patuh kepada Engkau, dan jadikanlah di antara keturunan kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau. Tunjukkanlah kepada kami cara-cara beribadah kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang."

Konteks: Nabi Ibrahim ingin keturunannya tetap di jalan Islam.


Kesimpulan

Semua doa Nabi Ibrahim dalam Al-Qur'an:

  1. Memohon keturunan saleh (QS. As-Saffat: 100).
  2. Bersyukur atas Ismail dan Ishaq (QS. Ibrahim: 39).
  3. Agar diri dan keturunannya mendirikan shalat (QS. Ibrahim: 40-41).
  4. Agar keturunannya dijauhkan dari berhala (QS. Ibrahim: 35-36).
  5. Agar Makkah menjadi negeri aman dan makmur (QS. Al-Baqarah: 126).
  6. Memohon nabi dari keturunannya (QS. Al-Baqarah: 129).
  7. Agar keturunannya menerima Islam (QS. Al-Baqarah: 128).

Itulah seluruh doa Nabi Ibrahim dalam Al-Qur'an

0 komentar:

Posting Komentar