Jumat, 07 Maret 2025

35. Nasihat dari Syaikh Ahmad bin Abi Husain ar-Rifa’i

 

Nasihat dari Syaikh Ahmad bin Abi Husain ar-Rifa’i

Nasihat dari Syaikh Ahmad bin Abi Husain ar-Rifa’i رحمه الله, pendiri Tarekat Rifa’iyyah, seorang sufi besar dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah, beserta sumbernya dan kutipan langsung dari kitab-kitab klasik:


1️⃣ "Jadilah seperti tanah yang diinjak, tetapi darinya tumbuh kehidupan."

Sumber: "Al-Burhan al-Muayyad" oleh Syaikh Ahmad ar-Rifa’i

📖 Kutipan Asli:
كُنْ كَالأَرْضِ يُدَاسُ عَلَيْهَا وَمَعَ ذَلِكَ تَنْبُتُ فِيهَا الزُّرُوعُ وَالأَشْجَارُ.

Makna: Rendahkan diri di hadapan Allah dan manusia, karena dari kerendahan hati lahir kemuliaan.


2️⃣ "Jika engkau menginginkan Allah, maka tinggalkan segala sesuatu selain Dia."

Sumber: "Rawa’i’ al-Quds" oleh Syaikh Ahmad ar-Rifa’i

📖 Kutipan Asli:
إِنْ أَرَدْتَ اللَّهَ فَاتْرُكْ كُلَّ شَيْءٍ دُونَهُ.

Makna: Ramadhan adalah waktu terbaik untuk meninggalkan dunia dan mendekatkan diri kepada Allah.


3️⃣ "Jangan pernah meremehkan satu kebaikan, karena bisa jadi itu yang menyelamatkanmu di akhirat."

Sumber: "Al-Burhan al-Muayyad" oleh Syaikh Ahmad ar-Rifa’i

📖 Kutipan Asli:
لَا تَحْتَقِرْ أَيَّ عَمَلٍ صَالِحٍ، فَرُبَّمَا يَكُونُ هُوَ سَبَبَ نَجَاتِكَ.

Makna: Walaupun amalan kecil seperti tersenyum atau memberi seteguk air, bisa menjadi sebab masuk surga.


4️⃣ "Wahai muridku, jangan jadikan ibadahmu sebagai alat untuk mendapatkan dunia, tetapi jadikan ia jalan menuju Allah."

Sumber: "Rawa’i’ al-Quds" oleh Syaikh Ahmad ar-Rifa’i

📖 Kutipan Asli:
يَا طَالِبِي، لَا تَجْعَلْ عِبَادَتَكَ وَسِيلَةً لِنَيْلِ الدُّنْيَا، بَلْ اجْعَلْهَا سَبِيلًا إِلَى اللَّهِ.

Makna: Jangan beribadah karena ingin dunia, tetapi lakukan dengan ikhlas untuk Allah.


5️⃣ "Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga hati dari segala yang mengotori."

Sumber: "Al-Burhan al-Muayyad" oleh Syaikh Ahmad ar-Rifa’i

📖 Kutipan Asli:
الصِّيَامُ لَيْسَ فَقَطْ بِحَبْسِ الْبَطْنِ، وَلَكِنَّهُ بِحِفْظِ الْقَلْبِ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ يُفْسِدُهُ.

Makna: Ramadhan bukan hanya soal lapar, tetapi tentang menyucikan hati dan jiwa.


6️⃣ "Orang yang berpuasa tetapi tidak menjaga lisannya, maka puasanya hanya lapar dan haus belaka."

Sumber: "Rawa’i’ al-Quds" oleh Syaikh Ahmad ar-Rifa’i

📖 Kutipan Asli:
الصَّائِمُ الَّذِي لَا يَحْفَظُ لِسَانَهُ، فَإِنَّ صِيَامَهُ لَيْسَ إِلَّا جُوعًا وَعَطَشًا.

Makna: Puasa sejati adalah menahan diri dari segala yang buruk, termasuk lisan yang menyakiti.


🔎 Kesimpulan

Syaikh Ahmad ar-Rifa’i رحمه الله mengajarkan bahwa:
Kerendahan hati adalah jalan menuju kemuliaan.
Tinggalkan dunia dan mendekatlah kepada Allah di bulan Ramadhan.
Jangan remehkan kebaikan sekecil apa pun.
Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, bukan untuk mencari dunia.
Puasa sejati bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga hati dan lisan.


Syaikh Ahmad bin Abi Husain Ar-Rifa’i

1. Pendahuluan: Siapakah Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i?

Syaikh Ahmad bin Abi Husain Ar-Rifa’i (512 H / 1118 M – 578 H / 1182 M) adalah seorang wali besar, sufi agung, dan pendiri Thariqah Rifa’iyyah.

Beliau dikenal sebagai:

  1. Seorang wali quthub dan pemimpin besar dalam tasawuf.
  2. Pendiri Thariqah Rifa’iyyah, tarekat yang berkembang luas di dunia Islam.
  3. Sufi yang sangat rendah hati dan penuh kasih sayang terhadap manusia dan hewan.
  4. Dikenal dengan banyak karamah, termasuk berbicara dengan Rasulullah ﷺ secara langsung dalam keadaan terjaga.

Kuburannya di Ummu ‘Abidah, Irak, menjadi salah satu tempat ziarah utama di dunia Islam.


2. Kehidupan dan Perjalanan Ilmu

A. Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga

  • Lahir pada 512 H (1118 M) di Desa Hasan, Basrah, Irak.
  • Keturunan Rasulullah ﷺ dari jalur Imam Husain bin Ali.
  • Ayahnya wafat ketika beliau masih kecil, sehingga dibesarkan oleh pamannya, Syaikh Manshur Ar-Rifa’i.
  • Nama lengkapnya: Ahmad bin Ali bin Yahya bin Tsabit bin Ahmad bin Ali Ar-Rifa’i.

Sejak kecil, beliau menunjukkan kecerdasan luar biasa dan ketakwaan yang tinggi.


B. Pendidikan dan Perjalanan Spiritual

Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i mendapatkan pendidikan agama yang sangat mendalam, terutama dalam:

  • Al-Qur’an dan Hadis.
  • Fiqih dan ilmu syariat (Mazhab Syafi’i).
  • Tasawuf dan ilmu hakikat.
  • Ilmu tafsir dan ushuluddin.

Guru-gurunya termasuk:

  • Pamannya, Syaikh Manshur Ar-Rifa’i.
  • Syaikh Abu Al-Fadl Ali Al-Wasithi.
  • Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani (melalui ajaran tarekat).

Beliau memiliki pemahaman yang sangat mendalam tentang Islam, dan dikenal sebagai faqih serta sufi yang arif.


C. Pendiri Thariqah Rifa’iyyah

Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i mendirikan Thariqah Rifa’iyyah, yang memiliki prinsip utama:

  1. Zikir yang mendalam kepada Allah.
  2. Menjauhi dunia yang berlebihan.
  3. Kasih sayang terhadap semua makhluk, termasuk hewan.
  4. Kesederhanaan dan kerendahan hati yang luar biasa.

Ajarannya menekankan:

  • Mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan tulus.
  • Bersikap rendah hati dan tidak sombong.
  • Mengutamakan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
  • Banyak melakukan ibadah, zikir, dan doa.

Tarekat ini berkembang luas di Irak, Mesir, Suriah, Turki, dan wilayah Islam lainnya.


3. Karamah Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i

Banyak karamah (keajaiban spiritual) yang dikisahkan tentang Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i, antara lain:

A. Berbicara dengan Rasulullah ﷺ Secara Langsung

Dalam salah satu perjalanan hajinya ke Madinah, beliau berdiri di depan makam Rasulullah ﷺ dan berkata:

"As-salamu ‘alaika ya Jaddi." (Salam sejahtera untukmu, wahai kakekku.)

Kemudian terdengar suara Rasulullah ﷺ yang menjawab salamnya.

Banyak orang menyaksikan kejadian ini dan melihat tangan Rasulullah ﷺ keluar dari makam untuk berjabat tangan dengan Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i.


B. Mampu Menyembuhkan Orang Sakit

Dikisahkan bahwa banyak orang yang datang kepadanya dengan berbagai penyakit, dan beliau mendoakan mereka hingga sembuh.


C. Keajaiban dalam Berzikir

Ketika beliau dan murid-muridnya berzikir, suara zikir mereka terdengar sampai jauh dan menggetarkan hati banyak orang.


D. Kasih Sayangnya terhadap Hewan

Suatu ketika, beliau melihat seekor kucing menggigil kedinginan.
Beliau lalu melepaskan jubahnya dan membungkus kucing itu dengan penuh kasih sayang.

Ini menunjukkan sifat rahmat dan kelembutan hatinya terhadap semua makhluk.


4. Wafat dan Warisan Ilmiah

A. Wafatnya Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i

Beliau wafat pada 22 Jumadil Akhir 578 H (1182 M) di Ummu ‘Abidah, Irak.

Jenazahnya dimakamkan di sana, dan hingga kini makamnya menjadi tempat ziarah besar bagi umat Islam.


B. Kitab-Kitab dan Pengaruhnya

Meskipun beliau tidak banyak menulis, ajaran dan petuahnya terus diwariskan melalui murid-murid dan tarekatnya.

Di antara kitab-kitab yang menjelaskan ajarannya adalah:

  1. "Manāqib Ahmad Ar-Rifa’i" – Kisah hidup dan ajarannya.
  2. "Al-Burhan Al-Mu’ayyad" – Ajaran tasawuf dan tarekat Rifa’iyyah.
  3. "Ar-Risalah Ar-Rifa’iyyah" – Kitab tasawuf yang menguraikan maqam spiritual.

5. Kesimpulan

Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i adalah salah satu wali besar dalam Islam, yang dikenal dengan kesalehan, kelembutan hati, dan kedekatannya dengan Allah.

Beliau mendirikan Thariqah Rifa’iyyah, yang hingga kini tetap berkembang dan membawa manfaat bagi umat Islam.

Kuburannya di Ummu ‘Abidah, Irak, menjadi salah satu tempat ziarah terbesar, menunjukkan betapa besar kecintaan umat Islam kepadanya.

0 komentar:

Posting Komentar