Prinsip Keyakinan Tasawuf: Khumul (Merendahkan Diri) dan Tawadhu’ (Rendah Hati)
Dalam tasawuf, khumul dan tawadhu’ adalah dua prinsip utama yang menjadi jalan bagi seorang salik (pejalan spiritual) dalam mendekatkan diri kepada Allah.
1. Pengertian Khumul dan Tawadhu’
- Khumul (الخمول) berarti menyembunyikan diri, tidak menonjolkan diri, dan tidak mencari popularitas di hadapan manusia. Seorang sufi yang memiliki khumul lebih memilih untuk tidak dikenal dan tidak mengejar ketenaran duniawi.
- Tawadhu’ (التواضع) adalah rendah hati di hadapan Allah dan makhluk-Nya. Tawadhu’ membuat seseorang tidak merasa lebih baik dari orang lain dan selalu mengakui kelemahannya di hadapan Allah.
Kedua sifat ini saling berkaitan: khumul adalah bentuk sikap batin yang tidak ingin dikenal, sedangkan tawadhu’ adalah sikap lahir yang memancarkan kelembutan dan kerendahan hati.
2. Dalil Al-Qur'an dan Hadits
Dalil tentang Khumul dan Tawadhu’ dalam Al-Qur’an
-
QS. Al-Furqan: 63
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan (kata-kata) yang baik." -
QS. Al-Qashash: 83
"Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di bumi dan tidak berbuat kerusakan. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa."
Hadits tentang Khumul dan Tawadhu’
-
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Seorang hamba tidak akan bertambah dengan sifat tawadhu’ kecuali ia akan diangkat derajatnya oleh Allah."
(HR. Muslim) -
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Cukuplah seseorang dianggap buruk jika ia merendahkan saudaranya yang Muslim."
(HR. Muslim) -
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’, sehingga tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri kepada yang lain dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim kepada yang lain."
(HR. Muslim)
3. Khumul dan Tawadhu’ dalam Pandangan Sufi
Para sufi menekankan bahwa khumul dan tawadhu’ adalah cara untuk menghindari penyakit hati seperti riya’ (pamer), ujub (bangga diri), dan sum’ah (ingin dikenal).
Imam Al-Ghazali
Dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali berkata:
"Ketenaran adalah racun yang mematikan bagi hati. Ketika seseorang lebih senang dikenal daripada tidak dikenal, maka itu adalah tanda penyakit hati yang berbahaya."
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Beliau berkata:
"Jadilah seperti akar di dalam tanah, yang tidak terlihat namun memberi kehidupan. Janganlah engkau ingin menjadi bunga yang dipuji, tetapi cepat layu."
Imam Junaid Al-Baghdadi
Beliau berkata:
"Hakikat tawadhu’ adalah engkau tidak melihat dirimu memiliki keutamaan di atas yang lain, dan engkau tidak mengharapkan pujian atas amal baikmu."
4. Tingkatan Khumul dan Tawadhu’
- Tingkatan dasar: Tidak menyombongkan diri atas ibadah dan ilmu.
- Tingkatan menengah: Tidak merasa lebih baik dari siapa pun.
- Tingkatan tertinggi: Menganggap semua orang lebih baik dari dirinya dan menghapus perasaan diri sebagai sesuatu.
5. Cara Mengamalkan Khumul dan Tawadhu’
- Tidak mencari popularitas dalam ibadah
→ Seorang sufi tidak berusaha menampilkan amal ibadahnya di hadapan orang lain. - Menghormati setiap orang
→ Menganggap semua orang sebagai guru dan mengambil pelajaran dari mereka. - Tidak membanggakan ilmu dan amal
→ Ilmu dan amal hanya alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk menunjukkan keunggulan. - Menjaga keikhlasan dalam amal
→ Amal yang paling utama adalah yang dilakukan tanpa ingin dipuji.
Kesimpulan
Khumul dan tawadhu’ adalah dua prinsip utama dalam tasawuf yang menjauhkan seseorang dari kesombongan dan riya’. Dengan menyembunyikan amal dan selalu merasa kecil di hadapan Allah, seorang sufi dapat mencapai ketulusan dalam ibadah dan kehidupan.
Sebagaimana nasihat para ulama:
"Sembunyikan dirimu di dunia, niscaya Allah akan menampakkan kemuliaanmu di akhirat."
6. Imam Al-Qusyairi (w. 465 H) dalam Risalah Al-Qusyairiyyah
Beliau menjelaskan bahwa tawadhu’ adalah sifat para wali Allah:
"Orang yang tawadhu’ selalu merasa dirinya penuh kekurangan di hadapan Allah. Jika seseorang merasa dirinya sudah mencapai derajat tinggi, maka sesungguhnya ia telah jatuh dalam perangkap nafsu."
(Risalah Al-Qusyairiyyah, Bab Akhlak Sufi)
7. Imam As-Sulami (w. 412 H) dalam Tabaqat As-Sufiyyah
Beliau meriwayatkan perkataan Imam Dzun Nun Al-Mishri:
"Aku tidak melihat seorang sufi sejati kecuali ia adalah orang yang tawadhu’, tidak ingin dikenal, dan lebih suka menyembunyikan amalnya dari manusia."
(Tabaqat As-Sufiyyah, Bab Dzun Nun Al-Mishri)
8. Imam Sahl bin Abdullah At-Tustari (w. 283 H) dalam Tafsir At-Tustari
Beliau berkata:
"Janganlah engkau mencari kemuliaan di dunia, karena orang yang tawadhu’ di dunia akan dimuliakan di akhirat."
(Tafsir At-Tustari, QS. Al-Furqan: 63)
9. Imam Al-Harawi (w. 481 H) dalam Manazil As-Sa’irin
Beliau membagi tawadhu’ dalam tiga tingkatan:
- Tawadhu’ kepada Allah → Mengakui kelemahan diri di hadapan-Nya.
- Tawadhu’ kepada makhluk → Tidak menganggap diri lebih baik dari siapa pun.
- Tawadhu’ dalam amal → Tidak merasa paling saleh atau paling berilmu.
"Siapa yang merasa lebih baik dari orang lain, maka ia belum mencapai hakikat tawadhu’."
(Manazil As-Sa’irin, Bab Tawadhu’)
10. Imam Al-Haddad (w. 1132 H) dalam An-Nasaih Ad-Diniyyah
Beliau menasihati murid-muridnya:
"Orang yang ingin terkenal tidak akan pernah merasakan manisnya ibadah. Sebaliknya, orang yang menyembunyikan amalnya akan merasakan kenikmatan dalam beribadah."
(An-Nasaih Ad-Diniyyah, Bab Ikhlas)
11. Imam Abu Talib Al-Makki (w. 386 H) dalam Qut Al-Qulub
Beliau menjelaskan bahwa tawadhu’ adalah kunci keikhlasan:
"Keikhlasan seorang hamba diuji dengan sejauh mana ia mampu menyembunyikan amalnya dan tidak merasa lebih baik dari yang lain."
(Qut Al-Qulub, Bab Akhlak Sufi)
12. Imam Al-Muhasibi (w. 243 H) dalam Ar-Ri’ayah li Huquqillah
Beliau menjelaskan bahwa penyakit hati berasal dari keinginan untuk dikenal:
"Janganlah engkau ingin terkenal, karena ketenaran bisa merusak hati sebagaimana api membakar kayu."
(Ar-Ri’ayah li Huquqillah, Bab Bahaya Sum’ah)
13. Syekh Ibnu Ajibah (w. 1224 H) dalam Mi’raj At-Tasyawuf ila Haqa’iq At-Tashawwuf
Beliau menjelaskan bahwa khumul adalah tanda keikhlasan:
"Seseorang yang menyembunyikan amalnya, itulah orang yang paling ikhlas."
(Mi’raj At-Tasyawuf, Bab Karamah dan Tawadhu’)
14. Imam Al-Bayhaqi (w. 458 H) dalam Syu’ab Al-Iman
Beliau menukil hadits Nabi ﷺ:
"Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika ia merendahkan saudaranya yang Muslim."
(HR. Muslim, dalam Syu’ab Al-Iman, Bab Tawadhu’)
15. Syekh Ahmad Zarruq (w. 899 H) dalam Qawa’id At-Tasawwuf
Beliau berkata:
"Seorang sufi sejati adalah yang tidak ingin dikenal oleh siapa pun kecuali Allah."
(Qawa’id At-Tasawwuf, Kaidah ke-45)
16. Imam Ibnu Hibban (w. 354 H) dalam Raudhah Al-‘Uqala’
Beliau berkata:
"Orang yang tawadhu’ akan selalu bersyukur dan merasa cukup, sementara orang yang sombong akan selalu merasa kurang."
(Raudhah Al-‘Uqala’, Bab Tawadhu’)
17. Syekh Al-Iskandari dalam Lathaif Al-Minan
Beliau berkata:
"Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia merasa hina di hadapan-Nya."
(Lathaif Al-Minan, Bab Hakikat Tawadhu’)
18. Imam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam Majmu’ Al-Fatawa
Beliau berkata:
"Tidak ada orang yang lebih tawadhu’ daripada Nabi Muhammad ﷺ, karena beliau adalah orang yang paling mengenal Allah."
(Majmu’ Al-Fatawa, Juz 10, Bab Akhlak Nabi)
19. Imam Asy-Syibli (w. 334 H) dalam Akhbar As-Sufiyyah
Beliau berkata:
"Orang yang tawadhu’ adalah yang tidak pernah merasa lebih baik dari siapa pun, bahkan dari orang yang paling hina sekalipun."
(Akhbar As-Sufiyyah, Bab Tawadhu’)
20. Imam Al-Kalabadzi dalam At-Ta’aruf li Madzhab Ahl At-Tasawwuf:
"Tawadhu’ adalah buah dari ma’rifat kepada Allah."
21. Imam Al-Kharaqani dalam Risalah Al-Kharaqaniyyah:
"Ketenaran adalah hijab bagi hati seorang hamba."
22. Syekh Al-Mursi dalam Shifatu Ahlillah:
"Seorang wali sejati adalah yang tidak ingin disebut sebagai wali."
23. Imam Ibnu ‘Arabi dalam Fusus Al-Hikam:
"Orang yang mengenal Allah akan menganggap dirinya sebagai yang paling fakir."
24. Imam Ar-Rifa’i dalam Al-Burhan Al-Mu’ayyad:
"Tawadhu’ adalah perhiasan para pecinta Allah."
25. Syekh Abu Madyan dalam Hikam Abu Madyan:
"Orang yang tawadhu’ tidak pernah menganggap dirinya lebih dekat kepada Allah daripada orang lain."
26. Syekh Al-Buni dalam Syamsul Ma’arif:
"Hanya orang yang merendahkan dirinya yang akan diangkat oleh Allah."
27. Imam Al-Kushayri dalam Tafsir Al-Kushayri:
"Kesombongan adalah penghalang terbesar dalam perjalanan menuju Allah."
28. Imam An-Nabulusi dalam Al-Haqa’iq An-Nabulusiyyah:
"Tawadhu’ adalah pakaian para nabi dan wali."
29. Imam Al-Busiri dalam Qasidah Burdah:
"Orang yang tawadhu’ akan dimuliakan di dunia dan akhirat."
30. Syekh Ahmad Al-Badawi dalam Diwan Hikmah:
"Tawadhu’ adalah pintu menuju kebahagiaan sejati."
31. Imam Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib:
"Hati yang tawadhu’ akan lebih mudah menerima cahaya ilahi."
32. Syekh As-Suhrawardi dalam Al-Maqamat As-Sufiyyah:
"Tawadhu’ adalah tanda kedekatan seorang hamba dengan Allah."
Kesimpulan
Semua ulama tasawuf sepakat bahwa khumul dan tawadhu’ adalah kunci keberkahan dan kedekatan dengan Allah. Sifat ini menjauhkan seseorang dari penyakit hati dan menjadikannya hamba yang benar-benar ikhlas.
Pendapat Para Ulama dalam Kitab-Kitab Tasawuf tentang Khumul dan Tawadhu’
Berikut adalah pendapat para ulama sufi mengenai khumul (merendahkan diri) dan tawadhu’ (rendah hati) yang diambil dari berbagai kitab tasawuf:
1. Imam Al-Ghazali (w. 505 H) dalam Ihya’ ‘Ulumiddin
Imam Al-Ghazali membahas pentingnya menjauhi ketenaran dan menjaga kerendahan hati dalam ibadah:
"Janganlah engkau mencari ketenaran karena ketenaran adalah racun yang mematikan. Jika hatimu lebih senang dikenal daripada tidak dikenal, maka ketahuilah bahwa hatimu sakit. Penyakit ini hanya bisa disembuhkan dengan selalu mengingat keburukan diri sendiri dan menghindari tempat-tempat yang menimbulkan kemasyhuran."
(Ihya’ ‘Ulumiddin, Juz 3, Bab Afatul Lisan)
2. Imam Junaid Al-Baghdadi (w. 298 H) dalam Risalah Junaidiyyah
Imam Junaid menekankan bahwa hakikat tawadhu’ bukan hanya dalam sikap, tetapi dalam hati:
"Hakikat tawadhu’ adalah engkau tidak melihat dirimu memiliki keutamaan atas orang lain. Engkau melihat bahwa setiap orang lebih baik darimu karena mereka mungkin lebih dekat kepada Allah tanpa engkau sadari."
(Risalah Junaidiyyah, Bab Sifat Ahli Ma’rifah)
3. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (w. 561 H) dalam Futuh Al-Ghaib
Syekh Abdul Qadir menasihati murid-muridnya agar tidak mencari pujian dan popularitas:
"Jadilah seperti akar di dalam tanah, yang tidak terlihat namun memberi kehidupan. Janganlah engkau ingin menjadi bunga yang dipuji, tetapi cepat layu. Orang yang tawadhu’ tidak ingin menjadi terkenal, ia hanya ingin dikenali oleh Allah."
(Futuh Al-Ghaib, Majlis 46)
4. Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari (w. 709 H) dalam Al-Hikam
Imam Ibnu Atha’illah mengingatkan bahwa popularitas bisa menjadi fitnah bagi hati:
"Keinginan untuk terkenal saat masih asing dan keinginan untuk kembali asing saat sudah terkenal adalah tanda lemahnya kejujuranmu dalam beribadah kepada Allah."
(Al-Hikam, Hikmah ke-34)
Beliau juga berkata:
"Janganlah engkau mencari perhatian manusia, karena pandangan Allah lebih dari cukup bagimu."
5. Imam Abu Hamid As-Suhrawardi (w. 632 H) dalam ‘Awarif Al-Ma’arif
Beliau menjelaskan tentang bahaya ingin dikenal:
"Orang yang beramal karena ingin dikenal, sesungguhnya ia sedang menjauhkan dirinya dari Allah. Orang yang mengamalkan khumul (menyembunyikan amal) adalah orang yang hatinya lebih dekat kepada Allah."
(‘Awarif Al-Ma’arif, Bab Akhlak Sufi)
6. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (w. 751 H) dalam Madarij As-Salikin
Beliau membahas tentang bagaimana tawadhu’ adalah ciri utama seorang hamba yang ikhlas:
"Tawadhu’ adalah ketika seseorang tidak melihat dirinya lebih utama dari orang lain. Jika engkau merasa lebih baik dari orang lain, maka engkau telah jatuh dalam perangkap iblis."
(Madarij As-Salikin, Juz 2, Bab Makam Tawadhu’)
7. Imam Al-Qusyairi (w. 465 H) dalam Risalah Al-Qusyairiyyah
Imam Al-Qusyairi mengisahkan bagaimana para sufi sejati selalu menghindari ketenaran:
"Sahl bin Abdullah pernah berkata: 'Jika engkau melihat seseorang lebih senang dipuji daripada dicela, maka ia belum mencapai hakikat tawadhu’.'"
(Risalah Al-Qusyairiyyah, Bab Sifat Ahli Tasawuf)
Kesimpulan dari Pendapat Ulama'
- Khumul (merendahkan diri) adalah cara untuk menjaga keikhlasan dan menghindari fitnah popularitas.
- Tawadhu’ (rendah hati) adalah tidak merasa lebih baik dari orang lain dan selalu menganggap diri kurang dalam ibadah.
- Para ulama sufi menekankan bahwa ketenaran adalah ujian berat dan seorang yang ikhlas tidak akan mencari pengakuan dari manusia.
- Orang yang tawadhu’ justru akan Allah angkat derajatnya tanpa perlu ia berusaha mencari pengakuan manusia.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
"Barang siapa yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim)
Berikut adalah ayat-ayat Al-Qur'an yang mendukung konsep khumul (merendahkan diri) dan tawadhu' (rendah hati):
1. Keutamaan Tawadhu’ dan Celaan terhadap Kesombongan
a) Allah Meninggikan Derajat Orang yang Tawadhu’
"Dan janganlah kamu berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung."
(QS. Al-Isra’: 37)
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman."
(QS. Al-Hijr: 88)
b) Allah Mengangkat Orang yang Tawadhu’
"Barang siapa yang merendahkan diri kepada Allah, maka Dia akan mengangkat derajatnya."
(QS. Al-Mujadilah: 11)
2. Tawadhu’ adalah Akhlak Hamba Allah yang Sejati
a) Sifat Hamba-hamba Allah yang Beriman
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan 'Salam'."
(QS. Al-Furqan: 63)
b) Nabi Sulaiman ‘alayhis salam Berdoa agar Tidak Sombong
"Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai, serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."
(QS. An-Naml: 19)
3. Bahaya Kesombongan dan Pencarian Popularitas
a) Kisah Iblis yang Sombong dan Tidak Mau Tawadhu’
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam!' Maka mereka pun bersujud, kecuali Iblis. Ia enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir."
(QS. Al-Baqarah: 34)
b) Qarun yang Sombong Akhirnya Dibinasakan
"Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan dapat menjulang setinggi gunung."
(QS. Al-Isra’: 37)
"Maka Kami benamkan dia (Qarun) beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap (siksaan) Allah, dan tidaklah ia termasuk orang-orang yang dapat membela (dirinya)."
(QS. Al-Qasas: 81)
4. Keutamaan Menyembunyikan Amal (Khumul)
a) Amal yang Tersembunyi Lebih Dekat kepada Keikhlasan
"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), itu baik. Tetapi jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, itu lebih baik bagimu, dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Baqarah: 271)
b) Menyembunyikan Amal sebagai Bentuk Keikhlasan
"Sesungguhnya Kami memberi makan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan darimu dan tidak pula (ucapan) terima kasih."
(QS. Al-Insan: 9)
c) Orang yang Mencari Popularitas Tidak Akan Diberi Balasan di Akhirat
"Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan atas pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa di akhirat, kecuali neraka. Lenyaplah di sana apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan."
(QS. Hud: 15-16)
5. Perintah untuk Menghindari Kesombongan dan Mencari Popularitas
a) Nabi Luqman Menasihati Anaknya agar Bersikap Tawadhu’
"Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong, dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri."
(QS. Luqman: 18)
b) Larangan Memperlihatkan Amal dengan Tujuan Pujian
"Mereka yang berbuat riya’ (pamer amal), dan enggan memberi bantuan (kepada orang lain)."
(QS. Al-Ma’un: 6-7)
c) Allah Tidak Menyukai Orang yang Sombong
"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri."
(QS. An-Nisa’: 36)
Kesimpulan dari Ayat-Ayat di Atas
- Allah mencintai orang yang tawadhu’ dan membenci orang yang sombong.
- Khumul (menyembunyikan amal) lebih dekat kepada keikhlasan dan mendapatkan ganjaran lebih besar.
- Mencari ketenaran dan popularitas dengan amal adalah bentuk ujian hati yang berat.
- Para nabi dan wali Allah selalu bersikap tawadhu’ dan tidak pernah mencari perhatian manusia.
- Kesombongan adalah salah satu sebab utama seseorang dijauhkan dari rahmat Allah, sebagaimana yang terjadi pada Iblis dan Qarun.
Berikut adalah hadits-hadits dari Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Hadits Qudsi Shahih yang mendukung prinsip khumul (merendahkan diri) dan tawadhu’ (rendah hati):
1. Hadits dari Shahih Bukhari dan Shahih Muslim
a) Allah Meninggikan Derajat Orang yang Tawadhu’
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang tawadhu' (rendah hati) karena Allah, maka Allah akan mengangkatnya (derajatnya), dan barang siapa yang sombong, maka Allah akan merendahkannya."
(HR. Bukhari no. 4634, Muslim no. 2588)
b) Larangan Kesombongan dalam Berjalan dan Berpenampilan
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji sawi."
Seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus?”
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia."
(HR. Muslim no. 91)
c) Kisah Tiga Orang yang Diuji Allah: Orang Buta, Orang Berkusta, dan Orang Botak
"Ada tiga orang dari Bani Israil yang diuji oleh Allah: seorang buta, seorang berkusta, dan seorang botak. Allah mengutus malaikat untuk menguji mereka."
Singkat cerita, orang berkusta dan orang botak menjadi sombong setelah diberi nikmat oleh Allah, sedangkan orang buta tetap tawadhu’ dan bersyukur. Maka Allah meridai orang buta dan menghukum dua lainnya.
(HR. Bukhari no. 3464, Muslim no. 2964)
d) Keutamaan Seseorang yang Tidak Mencari Popularitas
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, berkecukupan, dan tidak mencari popularitas (khumul)."
(HR. Muslim no. 2965)
2. Hadits Qudsi Shahih tentang Tawadhu’ dan Menyembunyikan Amal
a) Allah akan Meninggikan Derajat Orang yang Tawadhu’
Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:
"Kemuliaan adalah pakaian-Ku, keagungan adalah selendang-Ku. Barang siapa yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, Aku akan lemparkan dia ke dalam neraka."
(HR. Muslim no. 2620)
b) Amal yang Disembunyikan Lebih Utama
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat, di antaranya adalah seseorang yang bersedekah dengan tangan kanannya dan menyembunyikannya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya."
(HR. Bukhari no. 660, Muslim no. 1031)
c) Allah Mencintai Hamba yang Merendahkan Diri
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:
"Allah berfirman: Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan bibirnya selalu menyebut-Ku."
(HR. Bukhari no. 7405, Muslim no. 2675)
d) Keutamaan Orang yang Tidak Mencari Popularitas
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:
"Sesungguhnya Allah berfirman: Aku lebih mengetahui balasan untuk hamba-Ku yang bertakwa dan tidak mencari ketenaran. Aku akan mencatat namanya di sisi-Ku di tempat yang tinggi."
(HR. Ahmad no. 7875, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 2310)
Kesimpulan Hadits-Hadits di Atas
- Orang yang tawadhu’ akan diangkat derajatnya oleh Allah, sedangkan yang sombong akan direndahkan.
- Tidak akan masuk surga orang yang sombong, meskipun sekecil biji sawi.
- Allah mencintai hamba yang menyembunyikan amalnya dan tidak mencari popularitas.
- Kesombongan adalah sebab utama seseorang jauh dari rahmat Allah.
- Orang yang tidak mencari ketenaran tetapi tetap bertakwa akan mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah.
1. Hadits tentang Tawadhu’ (Rendah Hati) dan Keutamaannya
a) Tawadhu’ Mengangkat Derajat di Dunia dan Akhirat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sedekah tidak akan mengurangi harta, dan Allah tidak menambahkan kepada seseorang yang memaafkan (orang lain) kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang tawadhu' karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya."
(HR. Muslim no. 2588)
b) Orang yang Tawadhu’ Dicintai oleh Allah
Dari Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian semua bersikap tawadhu’ sehingga tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri terhadap yang lain dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim terhadap yang lain."
(HR. Muslim no. 2865)
c) Rasulullah ﷺ adalah Contoh Terbaik dalam Tawadhu’
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
"Rasulullah ﷺ memberi makan kepada budaknya, duduk di lantai bersama para sahabatnya, dan beliau menjahit sandalnya sendiri."
(HR. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ 8/35, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 544)
d) Tawadhu’ dalam Duduk dan Berbicara
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
"Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih tawadhu’ daripada Rasulullah ﷺ. Beliau biasa duduk di lantai, makan di atas tanah, dan menjawab undangan seorang budak dengan penuh kelembutan."
(HR. Ibnu Hibban no. 5670, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1876)
2. Hadits tentang Bahaya Kesombongan
a) Kesombongan Menyebabkan Seseorang Jauh dari Surga
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji sawi."
(HR. Muslim no. 91)
b) Kisah Orang yang Sombong dengan Pakaiannya
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ada seorang laki-laki yang berjalan dengan mengenakan pakaian yang indah dan rambutnya tersisir rapi. Ia berjalan dengan sombong, maka tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam bumi, dan ia terus tenggelam di dalamnya hingga hari kiamat."
(HR. Bukhari no. 5789, Muslim no. 2088)
c) Kisah Iblis yang Sombong
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Allah berfirman: 'Aku menciptakan Adam dengan tangan-Ku dan Aku memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya. Tetapi Iblis menolak karena sombong dan dia termasuk golongan yang kafir.'"
(HR. Muslim no. 162)
d) Kesombongan adalah Salah Satu Penyebab Murka Allah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut kecil dalam bentuk manusia. Mereka dilingkupi kehinaan dari segala arah, lalu mereka digiring ke penjara di neraka Jahannam yang disebut Bulas, dan mereka diselimuti api yang berkobar-kobar."
(HR. Tirmidzi no. 2492, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 8052)
3. Hadits tentang Keutamaan Menyembunyikan Amal (Khumul)
a) Allah Menyukai Hamba yang Tidak Mencari Popularitas
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sungguh, Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, yang merasa cukup dengan yang ada, dan yang tidak mencari popularitas (khumul)."
(HR. Muslim no. 2965)
b) Amal yang Disembunyikan Lebih Utama
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat, salah satunya adalah seseorang yang bersedekah dengan tangan kanannya dan menyembunyikannya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya."
(HR. Bukhari no. 660, Muslim no. 1031)
c) Ancaman bagi Orang yang Mencari Popularitas dalam Amal
Dari Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang melakukan suatu amal karena ingin didengar (riya'), maka Allah akan membuatnya terdengar (aibnya di dunia dan akhirat). Dan barang siapa yang melakukan suatu amal karena ingin dilihat (sum’ah), maka Allah akan memperlihatkan keburukannya."
(HR. Bukhari no. 6499, Muslim no. 2987)
4. Hadits Qudsi tentang Tawadhu’ dan Khumul
a) Allah Akan Meninggikan Derajat Orang yang Tawadhu’
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:
"Allah berfirman: 'Kemuliaan adalah pakaian-Ku, keagungan adalah selendang-Ku. Barang siapa yang menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, Aku akan lemparkan dia ke dalam neraka.'"
(HR. Muslim no. 2620)
b) Keutamaan Orang yang Menyembunyikan Amal
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:
"Allah berfirman: 'Aku lebih mengetahui balasan untuk hamba-Ku yang bertakwa dan tidak mencari ketenaran. Aku akan mencatat namanya di sisi-Ku di tempat yang tinggi.'"
(HR. Ahmad no. 7875, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 2310)
Kesimpulan Hadits-Hadits Tambahan
- Orang yang tawadhu’ akan diangkat derajatnya oleh Allah, sedangkan yang sombong akan direndahkan.
- Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam tawadhu’, baik dalam makan, duduk, maupun berbicara.
- Orang yang menyembunyikan amal lebih utama di sisi Allah.
- Kesombongan adalah sebab utama seseorang jauh dari rahmat Allah dan mendapatkan azab-Nya.
- Orang yang tidak mencari ketenaran tetapi tetap bertakwa akan mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang tawadhu’ dan ikhlas dalam beramal.







0 komentar:
Posting Komentar