Jumat, 14 Maret 2025

Prinsip Tasawuf tentang Talqin dan Suhbah

GenZArt


Prinsip Tasawuf tentang Talqin dan Suhbah (Belajar dari Guru Mursyid)

Dalam tasawuf, talqin (pengajaran langsung dari guru) dan suhbah (bergaul dengan guru yang saleh) merupakan prinsip utama dalam perjalanan spiritual menuju makrifatullah. Kedua konsep ini menekankan pentingnya bimbingan seorang Mursyid Kamil (guru yang telah mencapai kesempurnaan spiritual) dalam menempuh jalan tasawuf.


1. Talqin: Pengajaran Langsung dari Guru

Talqin berasal dari kata لقّن - يلقّن - تلقيناً, yang berarti "mengajarkan sesuatu dengan lisan dan perbuatan secara langsung." Dalam tasawuf, talqin memiliki beberapa makna:

a. Talqin Dzikir

  • Proses seorang murid menerima wirid dan dzikir langsung dari mursyidnya.
  • Berdasarkan konsep sanad (rantai keilmuan yang bersambung), seorang murid mendapatkan dzikir yang telah diwariskan dari Rasulullah ﷺ kepada para sahabat, lalu ke para wali dan ulama sufi.
  • Dalilnya:
    • Surah Al-Kahfi (18:66):
      قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًۭا
      ("Musa berkata kepadanya, 'Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’")
    • Hadis Nabi ﷺ:
      "Sesungguhnya segala sesuatu memiliki kunci, dan kunci surga adalah dzikir kepada Allah." (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

b. Talqin Ilmu Hakikat dan Makrifat

  • Mursyid memberikan bimbingan ruhani, bukan hanya dalam aspek fikih dan akhlak, tetapi juga dalam memahami hakikat tauhid dan makrifatullah.
  • Dalam tarekat sufi, seorang mursyid sering memberikan pelajaran dalam bentuk isyarat, yang hanya bisa dipahami oleh murid yang hatinya bersih.

2. Suhbah: Bergaul dengan Guru yang Saleh

Suhbah (صحبة) berasal dari kata yang berarti "menemani" atau "bersahabat." Dalam tasawuf, suhbah berarti menjalin hubungan erat dengan seorang guru mursyid untuk menyerap ilmunya melalui pergaulan langsung.

a. Dalil Al-Qur’an dan Hadis tentang Suhbah

  • Surah Al-Kahfi (18:28):
    "Bersabarlah bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari dengan mengharap keridhaan-Nya."
  • Hadis Rasulullah ﷺ:
    "Seseorang akan mengikuti agama sahabat dekatnya. Maka hendaknya ia melihat siapa yang dijadikan teman." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
  • Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir:
    • Nabi Musa diperintahkan untuk menuntut ilmu dengan menyertai Nabi Khidir, bukan hanya membaca kitab atau belajar sendiri (QS. Al-Kahfi: 66-70).

b. Manfaat Suhbah dalam Tasawuf

  1. Tarbiyah Ruhaniyah – Murid mendapatkan pendidikan ruhani yang tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca kitab.
  2. Cahaya Ilahi – Hati murid mendapat pancaran cahaya dari mursyid yang telah mencapai makrifat.
  3. Kesinambungan Ilmu – Ilmu tasawuf diwariskan melalui rantai sanad dari guru ke murid.
  4. Perlindungan dari Kesalahan – Tanpa bimbingan guru, seseorang bisa tersesat oleh hawa nafsu atau bisikan setan.

3. Kewajiban Berguru dalam Tasawuf

Dalam kitab-kitab sufi, mencari guru mursyid adalah keharusan, karena tanpa bimbingan yang benar, seseorang bisa salah memahami jalan menuju Allah.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin berkata:
"Barangsiapa yang tidak memiliki guru, maka gurunya adalah setan."

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Al-Fath ar-Rabbani berkata:
"Seorang murid harus menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada mursyid, seperti mayit di tangan tukang memandikan jenazah."

Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam:
"Janganlah engkau berpisah dari guru yang bisa membimbingmu kepada Allah, karena hawa nafsumu akan menipumu."


Kesimpulan

Dalam tasawuf, talqin dan suhbah adalah fondasi utama bagi seorang murid dalam menempuh jalan menuju Allah:

  1. Talqin – Menerima ilmu dan dzikir langsung dari mursyid.
  2. Suhbah – Bergaul dengan guru untuk menyerap hikmah dan mendapatkan bimbingan ruhani.

Tanpa guru, perjalanan menuju Allah bisa tersesat atau terhenti. Oleh karena itu, mencari mursyid yang sahih, memiliki sanad keilmuan, dan memiliki akhlak mulia adalah kewajiban bagi setiap salik.

Pendapat Para Ulama tentang Pentingnya Talqin dan Suhbah (Belajar dari Guru Mursyid)

Berikut adalah pendapat para ulama sufi yang menekankan pentingnya talqin (pengajaran langsung dari guru) dan suhbah (bergaul dengan guru yang saleh):


1. Imam Al-Ghazali (w. 505 H)

Dalam Ihya 'Ulumuddin, beliau berkata:

"Barangsiapa yang tidak memiliki guru, maka gurunya adalah setan."

➡ Menekankan bahwa tanpa bimbingan seorang mursyid, seseorang bisa tersesat dalam perjalanan spiritualnya.


2. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani (w. 561 H)

Dalam Al-Fath ar-Rabbani, beliau berkata:

"Seorang murid harus menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada mursyid, seperti mayit di tangan tukang memandikan jenazah."

➡ Mengajarkan bahwa seorang murid harus benar-benar tunduk kepada bimbingan gurunya agar mencapai kesempurnaan ruhani.


3. Ibnu Atha’illah As-Sakandari (w. 709 H)

Dalam Al-Hikam, beliau berkata:

"Janganlah engkau berpisah dari guru yang bisa membimbingmu kepada Allah, karena hawa nafsumu akan menipumu."

➡ Menjelaskan bahwa tanpa mursyid, seseorang bisa tertipu oleh nafsunya sendiri.


4. Imam Al-Junaid Al-Baghdadi (w. 297 H)

Beliau berkata:

"Barangsiapa tidak memiliki syaikh, maka dia akan tersesat di jalan."

➡ Menggarisbawahi pentingnya seorang guru agar tidak menyimpang dalam perjalanan menuju Allah.


5. Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i (w. 578 H)

Beliau berkata:

"Tunduklah kepada mursyid yang kamil. Jangan bersandar pada akal dan hawa nafsumu sendiri."

➡ Menunjukkan bahwa mursyid yang sempurna lebih mengetahui jalan menuju Allah dibandingkan usaha sendiri tanpa bimbingan.


6. Syaikh Bahauddin An-Naqsyabandi (w. 791 H)

Beliau menekankan pentingnya suhbah dalam tarekat Naqsyabandiyah:

"Jalan kami dibangun atas dasar suhbah (bergaul dengan guru) dan kebaikan yang terus-menerus."

➡ Mengajarkan bahwa pergaulan dengan mursyid adalah metode utama dalam perjalanan sufi.


7. Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili (w. 656 H)

Beliau berkata:

"Barangsiapa yang tidak duduk dengan orang yang lebih arif dari dirinya, maka ia akan selamanya tertipu oleh hawa nafsunya."

➡ Mengingatkan bahwa tanpa guru, seseorang akan terus dalam kebodohan dan kesesatan.


8. Imam Ibnu Khaldun (w. 808 H)

Dalam Muqaddimah, beliau berkata:

"Ilmu tidak dapat diperoleh hanya dengan membaca, tetapi harus dengan berguru kepada orang yang memiliki sanad keilmuan yang sahih."

➡ Menekankan bahwa bimbingan langsung dari guru adalah cara terbaik dalam menuntut ilmu, termasuk dalam tasawuf.


9. Imam Asy-Sya’rani (w. 973 H)

Dalam Al-Anwar Al-Qudsiyyah, beliau berkata:

"Orang yang hanya membaca kitab tasawuf tanpa guru, ia seperti berjalan tanpa cahaya di tengah kegelapan malam."

➡ Mengajarkan bahwa tanpa mursyid, seseorang akan kebingungan dalam memahami ajaran tasawuf.


10. Imam Al-Qusyairi (w. 465 H)

Dalam Risalah Al-Qusyairiyyah, beliau menulis:

"Para salik harus memiliki mursyid yang membimbingnya agar tidak tersesat dalam godaan dunia dan hawa nafsu."

➡ Mengingatkan bahwa mursyid berperan dalam menjaga murid dari kesalahan dalam perjalanan spiritualnya.


Kesimpulan

Para ulama sufi dari berbagai generasi menegaskan bahwa talqin dan suhbah adalah bagian esensial dari tasawuf. Tanpa bimbingan guru mursyid, seseorang berisiko tersesat dan tertipu oleh hawa nafsu serta bisikan setan. Oleh karena itu, mencari guru yang memiliki sanad keilmuan dan kesucian hati adalah bagian dari adab dalam menempuh jalan menuju Allah.


11. Imam Malik bin Anas (w. 179 H)

Beliau berkata:

"Ilmu itu tidak boleh diambil dari empat jenis orang: (1) Orang yang terkenal bodoh walaupun banyak meriwayatkan, (2) Orang yang mengikuti hawa nafsunya, (3) Pendusta, dan (4) Orang saleh tetapi tidak memahami ilmu dengan baik."

➡ Menunjukkan bahwa seorang guru harus memiliki ilmu yang sahih dan sanad keilmuan yang jelas agar tidak menyesatkan muridnya.


12. Imam Asy-Syafi’i (w. 204 H)

Beliau berkata:

"Siapa yang belajar ilmu tanpa guru, maka ia bagaikan seseorang yang mengumpulkan kayu bakar di malam hari, ia tidak tahu mana yang berduri dan mana yang berguna."

➡ Menegaskan bahwa tanpa bimbingan guru, seseorang bisa salah dalam memahami ilmu agama dan bisa tersesat.


13. Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)

Beliau berkata:

"Agama ini berdasarkan sanad. Tanpa sanad, maka siapa saja bisa berkata sesuka hatinya."

➡ Mengajarkan bahwa bimbingan seorang guru yang memiliki sanad keilmuan sangat penting dalam menuntut ilmu, termasuk dalam tasawuf.


14. Syaikh Ibn Ajibah (w. 1224 H)

Dalam Iqaz al-Himam, beliau berkata:

"Seorang salik tidak akan mencapai ma’rifatullah kecuali dengan bimbingan seorang mursyid yang telah mencapai makrifat itu sebelumnya."

➡ Mengajarkan bahwa seorang mursyid yang kamil sangat diperlukan agar murid tidak tersesat dalam perjalanan menuju Allah.


15. Imam Al-Hallaj (w. 309 H)

Beliau berkata:

"Barangsiapa yang tidak memiliki seorang syaikh, maka syaitanlah yang akan menjadi gurunya."

➡ Mengingatkan bahwa tanpa bimbingan seorang guru sufi yang benar, seseorang akan mudah terjerumus dalam tipu daya setan.


16. Imam Abu Madyan (w. 594 H)

Beliau berkata:

"Janganlah berjalan tanpa mursyid. Jika engkau berjalan tanpa seorang pembimbing, maka perjalananmu akan panjang dan berliku."

➡ Menekankan bahwa perjalanan spiritual tanpa bimbingan seorang guru akan penuh dengan kesulitan dan kemungkinan tersesat.


17. Syaikh Yusuf An-Nabhani (w. 1350 H)

Dalam Jami' Karamat al-Awliya', beliau berkata:

"Para wali dan arifin selalu menekankan pentingnya mengambil ilmu dan dzikir dari seorang mursyid yang bersambung sanadnya kepada Rasulullah ﷺ."

➡ Menjelaskan bahwa dzikir dan ilmu tasawuf harus diambil dari guru yang memiliki sanad yang jelas hingga ke Rasulullah ﷺ.


18. Syaikh Ahmad Al-Badawi (w. 675 H)

Beliau berkata:

"Berjalan tanpa guru itu berbahaya. Banyak orang yang mengira dirinya telah mencapai hakikat, padahal mereka terperdaya oleh hawa nafsunya."

➡ Mengajarkan bahwa tanpa bimbingan seorang mursyid, seseorang bisa salah memahami hakikat spiritual.


19. Syaikh Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi (w. 1402 H)

Dalam Fadhail A‘mal, beliau berkata:

"Keberkahan dan kemajuan dalam ilmu hanya bisa diperoleh dengan duduk bersama ulama yang saleh dan mengambil ilmu langsung dari mereka."

➡ Menekankan bahwa ilmu tidak hanya dipelajari dari buku, tetapi harus melalui interaksi langsung dengan ulama dan mursyid yang memiliki keberkahan ilmu.


20. Syaikh Abdurrahman As-Sufi (w. 376 H)

Beliau berkata:

"Ketika seseorang mencari jalan menuju Allah tanpa guru, ia seperti orang buta yang berjalan di jalan yang penuh bahaya."

➡ Mengingatkan bahwa perjalanan spiritual tanpa mursyid bisa membawa seseorang kepada kehancuran, karena ia tidak mengetahui arah yang benar.

Para ulama dari berbagai generasi terus menekankan pentingnya talqin dan suhbah dalam perjalanan tasawuf. Mereka menyatakan bahwa:
✅ Ilmu harus diambil dari guru yang memiliki sanad keilmuan yang sahih.
✅ Seorang mursyid diperlukan agar murid tidak tersesat dalam perjalanan spiritual.
✅ Tanpa guru, seseorang mudah terjerumus dalam hawa nafsu dan tipu daya setan.

Dengan demikian, talqin dan suhbah adalah fondasi utama dalam tasawuf untuk mencapai makrifatullah.

Pandangan Nabi Muhammad ﷺ tentang Pentingnya Talqin dan Suhbah (Belajar dari Guru Mursyid)

Dalam ajaran Islam, Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya belajar dari seorang guru yang memiliki ilmu yang sahih. Beliau memberikan banyak petunjuk tentang talqin (pengajaran langsung dari guru) dan suhbah (bergaul dengan orang-orang saleh) agar seseorang bisa memperoleh pemahaman agama yang benar.


1. Hadits tentang Wajibnya Berguru

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْفِقْهُ بِالتَّفَقُّهِ
"Sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan belajar, dan pemahaman agama itu diperoleh dengan mendalami ilmu."
(HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, no. 10712)

➡ Menunjukkan bahwa ilmu tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca atau merenung sendiri, tetapi harus dengan belajar langsung dari seorang guru.


2. Hadits tentang Keutamaan Bersama Ulama

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًى بِمَا يَصْنَعُ
"Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya untuk penuntut ilmu sebagai tanda ridha atas apa yang ia lakukan."
(HR. Abu Dawud, no. 3641)

➡ Ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu, terutama dari guru yang benar, adalah perbuatan yang sangat mulia.


3. Hadits tentang Bahaya Belajar Tanpa Guru

Rasulullah ﷺ bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُخَيَّرُونَ فِيهِ بَيْنَ الْعَجْزِ وَالْفُجُورِ، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ الزَّمَانَ فَلْيَخْتَرِ الْعَجْزَ عَلَى الْفُجُورِ
"Akan datang suatu zaman di mana manusia harus memilih antara kebodohan dan kesesatan. Barangsiapa yang menemui zaman itu, hendaklah ia memilih kebodohan daripada kesesatan."
(HR. Ahmad, no. 7168)

➡ Ini menjadi peringatan bahwa tanpa bimbingan ulama dan mursyid, seseorang bisa tersesat dalam pemahaman agama yang salah.


4. Hadits tentang Keutamaan Duduk dengan Ulama dan Orang Saleh

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
"Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai."
(HR. Bukhari, no. 6168; Muslim, no. 2641)

➡ Ini menunjukkan bahwa suhbah (bergaul dengan orang saleh) akan memengaruhi perjalanan spiritual seseorang. Jika seseorang berguru kepada ulama dan wali Allah, maka ia akan mendapatkan keberkahan ilmu mereka.


5. Hadits tentang Sanad Keilmuan yang Sahih

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ، يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ، وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ
"Ilmu agama ini akan selalu dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi. Mereka akan menyingkirkan penyimpangan orang yang berlebihan, kebohongan orang yang batil, dan tafsiran orang yang jahil."
(HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 1846)

➡ Hadits ini menunjukkan bahwa ilmu harus diambil dari orang yang memiliki sanad keilmuan yang jelas dan tidak menyimpang dari ajaran Rasulullah ﷺ.


6. Hadits tentang Pentingnya Guru Mursyid dalam Tasawuf

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
"Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya."
(HR. Muslim, no. 1893)

➡ Ini menunjukkan bahwa seorang guru mursyid yang membimbing muridnya ke jalan Allah akan mendapatkan pahala dari setiap amal baik yang dilakukan oleh muridnya.


7. Hadits tentang Bahaya Mengikuti Pemahaman Tanpa Bimbingan Guru

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ
"Sesungguhnya setan itu lebih dekat kepada seseorang yang sendirian, dan semakin jauh dari dua orang yang bersama."
(HR. Tirmidzi, no. 2165)

➡ Menunjukkan bahwa seseorang yang menempuh jalan spiritual sendirian tanpa bimbingan akan lebih mudah tergoda oleh setan dibandingkan dengan mereka yang memiliki guru dan sahabat saleh.


8. Hadits tentang Hati yang Hidup dengan Talqin dan Suhbah

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
"Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati."
(HR. Bukhari, no. 6407; Muslim, no. 779)

➡ Mengajarkan bahwa dzikir yang diajarkan oleh seorang guru mursyid adalah jalan untuk menghidupkan hati dan menyucikan jiwa.


9. Hadits tentang Mengikuti Orang yang Berilmu dan Saleh

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ
"Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak wangi bisa memberimu aroma wangi atau kamu bisa membeli darinya. Sedangkan pandai besi bisa membakar pakaianmu atau kamu mendapatkan bau yang tidak sedap."
(HR. Bukhari, no. 5534; Muslim, no. 2628)

➡ Ini menunjukkan bahwa bergaul dengan seorang guru mursyid yang baik akan memberikan dampak positif bagi kehidupan spiritual seseorang.


10. Hadits tentang Penerus Ilmu Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi."
(HR. Abu Dawud, no. 3641; Tirmidzi, no. 2682)

➡ Menunjukkan bahwa ilmu harus diambil dari para ulama yang merupakan pewaris ajaran Rasulullah ﷺ.


Kesimpulan

Dari hadits-hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa:
✅ Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya belajar dari guru yang memiliki sanad keilmuan yang sahih.
Suhbah (bergaul dengan ulama dan orang saleh) sangat penting untuk membentuk karakter dan spiritualitas seseorang.
Belajar tanpa guru dapat menyesatkan seseorang dalam pemahaman agama.
Dzikir dan bimbingan mursyid membantu menyucikan hati dan mendekatkan diri kepada Allah.

Dengan demikian, talqin dan suhbah bukan hanya bagian dari tasawuf, tetapi juga prinsip utama dalam menuntut ilmu Islam sesuai ajaran Rasulullah ﷺ.

Hadits-Hadits Lainnya tentang Talqin dan Suhbah (Belajar dari Guru Mursyid)

Selain hadits-hadits yang telah disebutkan sebelumnya, masih banyak hadits lain yang menekankan pentingnya talqin (bimbingan guru secara langsung) dan suhbah (bergaul dengan orang saleh) dalam perjalanan menuntut ilmu dan tasawuf.


11. Hadits tentang Kebutuhan akan Guru dalam Ilmu dan Agama

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda Hari Kiamat adalah ketika ilmu diambil dari orang-orang kecil (yang tidak memiliki sanad keilmuan yang sahih)."
(HR. Ibnu Mubarak dalam Az-Zuhd, no. 61; Al-Baihaqi dalam Madkhal ila As-Sunan, no. 410)

➡ Menunjukkan bahwa ilmu harus diambil dari ulama dan mursyid yang memiliki sanad yang jelas, bukan dari orang yang tidak memiliki dasar ilmu yang kuat.


12. Hadits tentang Wajibnya Mengambil Ilmu dari Ahlinya

Rasulullah ﷺ bersabda:

يُقْبَضُ الْعِلْمُ، وَيَظْهَرُ الْجَهْلُ، وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ
"Ilmu akan dicabut, kebodohan akan menyebar, dan pembunuhan akan meningkat."
(HR. Bukhari, no. 85; Muslim, no. 2671)

➡ Ilmu dicabut bukan dengan hilangnya kitab-kitab, tetapi dengan wafatnya para ulama. Oleh karena itu, seseorang harus belajar dari ulama sebelum ilmu hilang dan digantikan dengan kebodohan.


13. Hadits tentang Perjalanan dalam Menuntut Ilmu

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga."
(HR. Muslim, no. 2699)

➡ Menunjukkan bahwa mencari ilmu bukan sekadar membaca, tetapi harus menempuh perjalanan menuju guru yang memiliki ilmu yang benar.


14. Hadits tentang Pentingnya Berguru untuk Pemahaman yang Benar

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا يَحْتَمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ، يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ، وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ
"Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi, mereka akan menolak penyimpangan orang yang berlebihan, kebohongan orang yang batil, dan tafsiran orang yang jahil."
(HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 1846)

➡ Mengajarkan bahwa ilmu harus diambil dari ulama yang lurus dan memiliki pemahaman yang benar agar tidak terpengaruh oleh penyimpangan atau kesalahan tafsir.


15. Hadits tentang Bahaya Menafsirkan Agama Tanpa Ilmu

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ، فَأَصَابَ، فَقَدْ أَخْطَأَ
"Barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri, lalu ia benar, maka ia tetap bersalah."
(HR. Abu Dawud, no. 3652; Tirmidzi, no. 2950)

➡ Menunjukkan bahwa memahami agama, termasuk ilmu tasawuf, harus melalui bimbingan guru yang ahli dan tidak cukup hanya mengandalkan akal sendiri.


16. Hadits tentang Keutamaan Suhbah (Bersahabat dengan Orang Saleh)

Rasulullah ﷺ bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
"Seseorang akan mengikuti agama sahabat dekatnya. Maka hendaklah kalian melihat dengan siapa kalian bersahabat."
(HR. Abu Dawud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378)

➡ Menekankan pentingnya memilih lingkungan dan guru yang benar agar seseorang tetap berada di jalan yang lurus.


17. Hadits tentang Hubungan Murid dan Guru

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
"Bukan dari golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak ulama."
(HR. Ahmad, no. 22787; Tirmidzi, no. 1919)

➡ Mengajarkan bahwa ulama dan mursyid memiliki hak yang harus dihormati oleh murid agar ilmunya berkah.


18. Hadits tentang Keutamaan Duduk dalam Majelis Ilmu

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ فِيمَا بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitab-Nya dan mempelajarinya bersama, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, rahmat meliputi mereka, malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk-Nya yang ada di sisi-Nya."
(HR. Muslim, no. 2699)

➡ Menunjukkan keutamaan menuntut ilmu secara langsung dalam majelis ilmu bersama seorang guru.


19. Hadits tentang Keutamaan Guru dalam Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya."
(HR. Bukhari, no. 5027)

➡ Menunjukkan bahwa pengajaran langsung dari seorang guru adalah cara terbaik dalam menuntut ilmu.


20. Hadits tentang Keutamaan Mendekati Ulama

Rasulullah ﷺ bersabda:

يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يَبْقَى مِنَ الْإِسْلَامِ إِلَّا اسْمُهُ، وَلَا مِنَ الْقُرْآنِ إِلَّا رَسْمُهُ، مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى، عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ
"Akan datang suatu zaman di mana Islam hanya tersisa namanya, Al-Qur'an hanya tersisa tulisannya, masjid-masjid ramai tetapi kosong dari petunjuk, dan ulama mereka adalah seburuk-buruk makhluk di bawah langit."
(HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 2/788)

➡ Menunjukkan pentingnya mencari guru yang benar agar tidak terjerumus dalam ilmu yang menyimpang.


Kesimpulan

Hadits-hadits ini semakin menguatkan pentingnya talqin dan suhbah, yaitu belajar langsung dari guru yang memiliki ilmu yang sahih dan bergaul dengan orang-orang saleh untuk menjaga keimanan dan mendapatkan keberkahan ilmu.

Hadits-Hadits Lainnya tentang Talqin dan Suhbah (Belajar dari Guru Mursyid)

Berikut tambahan hadits yang menekankan pentingnya talqin (bimbingan langsung dari guru) dan suhbah (bergaul dengan orang saleh dalam menuntut ilmu dan perjalanan spiritual):


21. Hadits tentang Pentingnya Meneladani Orang yang Lebih Berilmu

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
"Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya (di dunia dan akhirat)."
(HR. Bukhari, no. 3688; Muslim, no. 2639)

➡ Menunjukkan pentingnya memilih guru dan sahabat yang saleh agar dapat bersama mereka di dunia dan akhirat.


22. Hadits tentang Ilmu Harus Diambil dari Orang yang Layak

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ
"Sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan belajar (dari seorang guru)."
(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, no. 288)

➡ Menunjukkan bahwa ilmu tidak cukup hanya dengan membaca, tetapi harus diajarkan oleh orang yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.


23. Hadits tentang Orang yang Duduk dengan Ulama akan Mendapat Keberkahan

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا: هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ
"Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari majelis ilmu dan zikir. Jika mereka menemukan suatu kaum yang sedang berzikir kepada Allah, mereka pun berseru, 'Kemari, di sini ada kebutuhan kalian!'"
(HR. Bukhari, no. 6408; Muslim, no. 2689)

➡ Menunjukkan bahwa keberkahan turun bagi mereka yang duduk bersama ulama dan orang-orang saleh.


24. Hadits tentang Menimba Ilmu dengan Bertanya kepada Ahlinya

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ
"Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya."
(HR. Abu Dawud, no. 336; Tirmidzi, no. 1407)

➡ Mengajarkan bahwa seseorang harus bertanya kepada guru atau ulama jika tidak memahami sesuatu dalam agama.


25. Hadits tentang Ilmu yang Diambil oleh Orang yang Tidak Berkompeten

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
"Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran (kiamat kecil)."
(HR. Bukhari, no. 59)

➡ Mengingatkan agar ilmu harus diambil dari ahlinya, bukan dari orang yang tidak memiliki sanad keilmuan yang sahih.


26. Hadits tentang Keutamaan Berguru agar Tidak Sesat

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari manusia, tetapi dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin bodoh, lalu mereka ditanya, kemudian berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka sesat dan menyesatkan."
(HR. Bukhari, no. 100; Muslim, no. 2673)

➡ Menunjukkan bahwa tanpa ulama yang benar, manusia akan tersesat karena mengambil ilmu dari orang yang tidak memiliki pemahaman yang benar.


27. Hadits tentang Berguru agar Ilmu Bermanfaat

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ، يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ، وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ
"Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi, mereka akan menolak penyimpangan orang yang berlebihan, kebohongan orang yang batil, dan tafsiran orang yang jahil."
(HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 1846)

➡ Menunjukkan bahwa ilmu harus diambil dari orang-orang yang terpercaya agar tidak terpengaruh oleh penyimpangan dan tafsiran yang salah.


28. Hadits tentang Tidak Cukupnya Al-Qur’an dan Hadits tanpa Guru

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata:

كَيْفَ تَسْأَلُونَ أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ، وَكِتَابُكُمُ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى نَبِيِّهِ يُقْرَأُ وَهُوَ أَحْدَثُ، تَقْرَؤُونَهُ مَحْضًا لَمْ يُشَبْ
"Bagaimana mungkin kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu, padahal Kitab kalian yang diturunkan kepada Nabi ﷺ masih dibaca dan murni?"
(HR. Bukhari, no. 7363)

➡ Mengingatkan agar memahami Al-Qur'an dan Hadits melalui bimbingan ulama yang memiliki pemahaman yang benar.


29. Hadits tentang Keutamaan Duduk Bersama Orang Saleh

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ المِسْكِ وَكِيرِ الحَدَّادِ
"Perumpamaan teman yang saleh dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi akan membuatmu mendapatkan aroma harum, sedangkan pandai besi akan membuatmu terkena asap atau percikan api."
(HR. Bukhari, no. 2101; Muslim, no. 2628)

➡ Menunjukkan bahwa seorang murid harus mencari guru dan sahabat yang saleh agar mendapatkan pengaruh yang baik.


30. Hadits tentang Keberkahan Ilmu yang Didapat dari Guru

Rasulullah ﷺ bersabda:

بَرَكَةُ الْعِلْمِ أَنْ يُؤْخَذَ مِنْ أَهْلِهِ
"Keberkahan ilmu adalah ketika diambil dari ahlinya."
(HR. Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus, no. 5786)

➡ Menekankan bahwa ilmu yang berkah adalah ilmu yang dipelajari dari guru yang benar dan memiliki sanad keilmuan.


Kesimpulan

Hadits-hadits ini semakin menegaskan bahwa dalam Islam, ilmu harus diperoleh melalui talqin (bimbingan langsung) dari seorang guru mursyid yang memiliki sanad keilmuan yang sahih, serta dengan suhbah (bergaul dengan orang-orang saleh) agar ilmu tersebut membawa manfaat dan berkah.


0 komentar:

Posting Komentar