Kisah Nabi Zakariya ‘alayhis salam berdasarkan Qashash al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir:
Nabi Zakariya ‘alayhis salam dalam Kitab Qashash al-Anbiya’
-
Nabi Zakariya sebagai Nabi Bani Israil
- Nabi Zakariya adalah seorang nabi dari Bani Israil yang dikenal sebagai sosok yang taat dan sabar dalam dakwah.
- Ia berdakwah kepada kaumnya agar tetap beriman dan menjalankan ajaran Taurat.
-
Doa untuk Mendapatkan Keturunan
- Nabi Zakariya telah lanjut usia dan istrinya mandul, namun ia tetap berdoa dengan penuh keyakinan agar dikaruniai anak (QS. Maryam: 4-9).
- Allah mengabulkan doanya dengan memberinya seorang anak, yaitu Nabi Yahya.
-
Tanda Kehamilan Istrinya
- Sebagai tanda bahwa istrinya hamil, Nabi Zakariya dibuat tidak dapat berbicara selama tiga hari kecuali dengan isyarat (QS. Maryam: 10).
- Selama masa ini, ia tetap memperbanyak dzikir kepada Allah.
-
Kesyahidan Nabi Zakariya
- Dalam beberapa riwayat, Nabi Zakariya dibunuh oleh kaumnya yang durhaka karena menolak ajarannya.
- Ibnu Katsir mengutip pendapat bahwa ia dibunuh oleh orang-orang Bani Israil yang zalim.
Kesimpulan dari Qashash al-Anbiya’
- Nabi Zakariya adalah nabi yang hidup di tengah kemerosotan moral Bani Israil.
- Beliau mengalami penolakan keras dari kaumnya dan akhirnya wafat sebagai syuhada.
- Kisah mereka menunjukkan keteguhan iman, keyakinan terhadap doa, serta keberanian dalam membela kebenaran.
1. Al-Bidāyah wa an-Nihāyah – Ibnu Katsir
Kitab sejarah ini memberikan rincian lebih luas tentang kisah Nabi Zakariya :
Nabi Zakariya ‘alayhis salam
- Dakwah di Bani Israil: Nabi Zakariya menyeru kaumnya untuk kembali kepada ajaran Taurat yang benar, namun kebanyakan dari mereka membangkang.
- Doa agar diberi keturunan: Ibnu Katsir menafsirkan bahwa doa Nabi Zakariya yang panjang dan penuh harapan adalah bukti ketawakalannya kepada Allah (QS. Maryam: 4-9).
- Kehamilan Istri: Sebagai tanda bahwa istrinya mengandung Nabi Yahya, Allah membuat Nabi Zakariya tidak bisa berbicara selama tiga hari kecuali dengan isyarat (QS. Maryam: 10).
- Kesyahidan Nabi Zakariya: Dalam beberapa riwayat yang dikutip oleh Ibnu Katsir, Nabi Zakariya dikejar oleh orang-orang Bani Israil yang zalim hingga ia bersembunyi di dalam batang pohon. Namun, mereka menebang pohon itu dan membunuhnya.
- .
2. Tafsīr al-Khāzin – Al-Khāzin
Dalam tafsir ini, kisah Nabi Zakariya dan Nabi Yahya dikaitkan dengan tafsir ayat-ayat dalam QS. Ali ‘Imran: 38-41 dan QS. Maryam: 2-15:
- Doa Nabi Zakariya: Dalam tafsir ini, disebutkan bahwa Nabi Zakariya berdoa setelah melihat Maryam memiliki rezeki yang datang dari Allah, meskipun tak seorang pun membawakannya makanan.
- Mukjizat kelahiran Nabi Yahya: Al-Khāzin menegaskan bahwa kelahiran Nabi Yahya adalah bukti kekuasaan Allah, sebagaimana kelahiran Nabi Isa dari seorang ibu tanpa ayah.
- Perintah untuk berzikir: Nabi Zakariya diperintahkan untuk berzikir kepada Allah dalam keadaan bisu selama tiga hari, sebagai tanda dikabulkannya doa.
3. Ar-Risālah al-Qusyairiyyah – Imam Al-Qusyairi
Dalam kitab tasawuf ini, kisah Nabi Zakariya dan Nabi Yahya dijelaskan dalam konteks kesabaran, zuhud, dan tawakal:
- Nabi Zakariya sebagai teladan sabar dan tawakal: Ia tidak pernah berputus asa meskipun bertahun-tahun berdoa untuk keturunan.
- Dzikir dalam kesunyian: Nabi Zakariya tetap berzikir meskipun ucapannya dihentikan, sebagai tanda bahwa hati seorang hamba harus selalu terhubung dengan Allah.
- Nabi Yahya sebagai sosok zuhud sejati: Ia disebut sebagai nabi yang tidak pernah tergoda dengan dunia dan memilih hidup dalam kesederhanaan, sepenuhnya berserah diri kepada Allah.
4. Iḥyā ‘Ulūm ad-Dīn – Imam Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya menyoroti aspek akhlak dan keteladanan dari Nabi Zakariya dan Nabi Yahya:
- Ketulusan dalam beribadah: Nabi Zakariya tidak mencari kedudukan atau popularitas dalam dakwahnya.
- Keikhlasan dalam doa: Ia berdoa bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk menjaga kesinambungan dakwah Bani Israil.
- Keteguhan dalam amar ma’ruf nahi munkar: Nabi Yahya berani menentang penguasa zalim meskipun nyawanya terancam.
5. Tārīkh al-Ṭabarī – Imam Ath-Ṭabarī
Kitab sejarah ini mencatat beberapa riwayat tambahan mengenai kesyahidan Nabi Yahya:
- Persekongkolan pembunuhan Nabi Yahya: Penguasa zalim Herodes ingin menikahi keponakannya sendiri, tetapi Nabi Yahya menolak pernikahan tersebut karena bertentangan dengan hukum Allah.
- Tragedi pemenggalan kepala Nabi Yahya: Sang wanita meminta kepala Nabi Yahya sebagai hadiah pernikahan, sehingga raja memerintahkan eksekusinya.
- Hikmah dari syahidnya Nabi Yahya: Kaum Bani Israil semakin tenggelam dalam kesesatan setelah membunuh seorang nabi Allah, sehingga mereka akhirnya dihukum dengan kehancuran.
Kesimpulan dari Kitab-Kitab Klasik
- Nabi Zakariya adalah teladan kesabaran, tawakal, dan keyakinan dalam doa.
- Nabi Yahya adalah contoh zuhud, keberanian dalam dakwah, dan pengorbanan di jalan Allah.
- Keduanya mati syahid karena mempertahankan kebenaran di tengah kebangkitan moral yang buruk di Bani Israil.
- Kisah mereka menjadi pelajaran penting tentang kesabaran, keteguhan iman, dan ketaatan kepada Allah.
Berikut adalah kisah Nabi Zakariya ‘alayhis salam berdasarkan kitab Qashash al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir:
Nabi Zakariya ‘alayhis salam dalam Kitab Qashash al-Anbiya’ (Ibnu Katsir)
1. Nasab dan Kedudukan
- Nabi Zakariya adalah keturunan Nabi Sulaiman bin Daud ‘alayhimassalam.
- Beliau adalah seorang nabi dari Bani Israil yang diangkat oleh Allah untuk membimbing kaumnya ke jalan yang benar.
- Dalam beberapa riwayat, beliau adalah seorang tukang kayu yang bekerja dengan tangannya sendiri untuk mencari nafkah.
2. Dakwah dan Kesabaran
- Nabi Zakariya berdakwah kepada Bani Israil, mengajak mereka untuk kembali kepada tauhid dan menjauhi kesesatan.
- Namun, kaumnya banyak yang menentang dan enggan menerima ajaran yang dibawanya.
- Meskipun mendapat banyak penolakan, beliau tetap sabar dan teguh dalam menyampaikan risalah Allah.
3. Doa Meminta Keturunan di Usia Tua
- Nabi Zakariya sangat menginginkan keturunan yang dapat meneruskan dakwahnya.
- Ia terus berdoa kepada Allah meskipun ia sudah tua dan istrinya mandul.
- Doanya diabadikan dalam Al-Qur'an:
"Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, wahai Tuhanku." (QS. Maryam: 4). - Allah mengabulkan doanya dan mengaruniakan seorang anak, yaitu Nabi Yahya ‘alayhis salam, meskipun secara medis istrinya tidak mungkin hamil.
4. Mukjizat: Dapat Berbicara dengan Isyarat
- Sebagai tanda dikabulkannya doa, Allah membisukan Nabi Zakariya selama tiga hari.
- Namun, ia masih bisa berkomunikasi dengan isyarat dan tetap berzikir kepada Allah (QS. Maryam: 10).
5. Wafatnya Nabi Zakariya
- Dalam riwayat yang disebutkan Ibnu Katsir, Nabi Zakariya dibunuh oleh kaumnya yang zalim.
- Ia dikejar oleh orang-orang yang membencinya dan akhirnya bersembunyi di dalam batang pohon.
- Dengan izin Allah, batang pohon itu menutup tubuhnya, tetapi bagian bajunya terlihat oleh musuh.
- Mereka kemudian membelah pohon tersebut dengan gergaji hingga Nabi Zakariya wafat sebagai syahid.
Kesimpulan
- Nabi Zakariya adalah contoh kesabaran, ketekunan dalam dakwah, serta keyakinan penuh terhadap doa.
- Beliau menunjukkan bahwa keajaiban Allah tidak terbatas, termasuk dalam mengaruniakan keturunan meskipun secara manusiawi tidak mungkin.
- Kisahnya juga mengajarkan bahwa kesabaran dalam menghadapi ujian dan kezaliman akan mendapat balasan mulia dari Allah.
Berikut adalah kisah Nabi Zakariya ‘alayhis salam dalam berbagai kitab klasik selain Qashash al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir:
1. Nabi Zakariya dalam Kitab Al-Bidāyah wan-Nihāyah (Ibnu Katsir)
- Kitab ini memberikan penjelasan lebih luas mengenai sejarah para nabi.
- Nabi Zakariya disebut sebagai sosok yang dikenal karena kesabarannya dalam menghadapi penolakan Bani Israil.
- Beliau termasuk nabi yang diuji dengan kaum yang durhaka, tetapi tetap berdakwah tanpa putus asa.
- Kisah pembunuhan Nabi Zakariya juga diceritakan, di mana ia dikejar oleh orang-orang zalim yang ingin membunuhnya karena ketegasannya dalam menegakkan hukum Allah.
2. Nabi Zakariya dalam Kitab Tafsīr al-Ṭabari
- Dalam tafsirnya, Imam Ath-Thabari menjelaskan ayat-ayat yang berkaitan dengan Nabi Zakariya, terutama dalam QS. Maryam dan QS. Ali ‘Imran.
- Beliau menguraikan bahwa doa Nabi Zakariya adalah contoh terbaik dari keyakinan seorang hamba kepada Allah.
- Imam Ath-Thabari juga mengutip riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa doa Nabi Zakariya dikabulkan dalam keadaan sangat rapuh secara fisik, tetapi hatinya penuh dengan harapan kepada Allah.
- Mukjizat berupa kebisuan selama tiga hari dijelaskan sebagai bentuk tanda kebesaran Allah sebelum kelahiran Nabi Yahya.
3. Nabi Zakariya dalam Kitab Tafsīr al-Kashshāf (Al-Zamakhsyari)
- Al-Zamakhsyari menafsirkan kisah Nabi Zakariya dengan penekanan pada keindahan bahasa Al-Qur’an dalam menggambarkan kelembutan doa seorang hamba.
- Ia menjelaskan bahwa penggunaan kata-kata dalam doa Nabi Zakariya menunjukkan tingkat kerendahan hati dan penghambaan yang sempurna kepada Allah.
- Dalam penafsiran tentang bisunya Nabi Zakariya, Al-Zamakhsyari mengaitkannya dengan bentuk tarbiyah ilahi agar beliau lebih banyak berzikir dan merenungkan nikmat Allah.
4. Nabi Zakariya dalam Kitab Tafsīr al-Razi
- Imam Fakhruddin al-Razi dalam tafsirnya membahas hikmah dan filsafat di balik doa Nabi Zakariya.
- Ia menjelaskan bahwa doa yang dipanjatkan dengan kelembutan dan penuh harapan lebih mudah dikabulkan oleh Allah.
- Al-Razi juga menyoroti keajaiban biologis dalam kelahiran Nabi Yahya, sebagai bukti bahwa hukum alam bisa dilampaui dengan kehendak Allah.
5. Nabi Zakariya dalam Kitab Ar-Risālah al-Qusyairiyyah (Al-Qusyairi, tasawuf)
- Dalam kitab tasawuf ini, Nabi Zakariya dijadikan contoh seorang wali Allah yang memiliki tawakal sempurna.
- Al-Qusyairi menjelaskan bahwa diamnya Nabi Zakariya selama tiga hari adalah bentuk penyucian hati dan dzikir yang lebih mendalam.
- Beliau juga dianggap sebagai simbol kesabaran dalam menunggu janji Allah, yang merupakan salah satu maqam dalam tasawuf.
Kesimpulan
- Kisah Nabi Zakariya banyak dibahas dalam berbagai kitab tafsir, sejarah, dan tasawuf.
- Kesabaran, keyakinan terhadap doa, dan keteguhan dalam dakwah menjadi inti utama dari kisahnya.
- Para ulama klasik menyoroti hikmah doa Nabi Zakariya, di mana beliau tetap berharap kepada Allah meskipun secara manusiawi mustahil untuk memiliki anak.
- Mukjizat kebisuan selama tiga hari dipandang dari berbagai aspek: sebagai tanda kekuasaan Allah, cara untuk meningkatkan dzikir, dan sebagai latihan ruhani bagi Nabi Zakariya.
Nabi Zakariya ‘alayhis salam dalam Aspek Ketaatan dan Tasawuf
1. Aspek Ketaatan
a) Kesabaran dalam Dakwah
- Nabi Zakariya tetap berdakwah kepada Bani Israil meskipun banyak yang menolak dan menentangnya.
- Beliau menghadapi perlawanan kaum yang keras kepala, tetapi tetap berusaha menegakkan ajaran tauhid tanpa henti.
- Dalam Tafsīr al-Ṭabari, dijelaskan bahwa keteguhan Nabi Zakariya menjadi teladan bagi umat yang menghadapi tantangan dalam menyampaikan kebenaran.
b) Keyakinan Penuh dalam Berdoa
- Beliau berdoa kepada Allah dengan penuh harapan meskipun sudah tua dan istrinya mandul (QS. Maryam: 4-9).
- Tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah, meskipun secara logika manusia, keturunan baginya mustahil.
- Dalam Tafsīr al-Razi, dijelaskan bahwa Nabi Zakariya mengajarkan bahwa doa yang disertai keyakinan dan kerendahan hati lebih mudah dikabulkan oleh Allah.
c) Ketaatan dalam Menjalankan Perintah Allah
- Saat Allah memberikan tanda bahwa ia harus diam selama tiga hari, Nabi Zakariya taat tanpa ragu dan tetap berdzikir kepada Allah (QS. Maryam: 10).
- Dalam Tafsīr al-Kashshāf (Al-Zamakhsyari), disebutkan bahwa diamnya Nabi Zakariya bukanlah hukuman, tetapi bentuk latihan ruhani agar lebih banyak berdzikir dalam hati.
- Beliau menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah harus total, meskipun terkadang dalam bentuk yang tidak biasa.
2. Aspek Tasawuf
a) Tawakal dan Ikhlas
- Nabi Zakariya tidak mencari popularitas dalam dakwahnya, ia beribadah secara diam-diam dan hanya mengharapkan ridha Allah.
- Dalam Ar-Risālah al-Qusyairiyyah, Al-Qusyairi menyebut bahwa Nabi Zakariya adalah contoh seorang wali Allah yang bertawakal secara sempurna.
- Beliau tidak mengeluh tentang keadaan dirinya, tetapi selalu memasrahkan segala urusan kepada Allah.
b) Dzikir dalam Kesunyian
- Setelah Allah membisukannya, Nabi Zakariya tetap berzikir kepada Allah dengan hati dan isyarat.
- Dalam Tafsīr al-Razi, dijelaskan bahwa diamnya Nabi Zakariya adalah bentuk latihan untuk lebih mendekat kepada Allah tanpa gangguan dunia.
- Hal ini menjadi pelajaran bagi para sufi bahwa dzikir bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan hati dan perbuatan.
c) Zuhud dan Kesederhanaan
- Nabi Zakariya dikenal hidup sederhana, tidak mencari kemewahan duniawi.
- Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa beliau adalah seorang tukang kayu yang bekerja dengan tangannya sendiri.
- Para ulama tasawuf mengaitkan sifat ini dengan maqam zuhud, yaitu meninggalkan dunia demi Allah tanpa merasa kekurangan.
Kesimpulan
- Dalam aspek ketaatan, Nabi Zakariya adalah contoh kesabaran dalam berdakwah, keyakinan dalam doa, dan kepatuhan total kepada Allah.
- Dalam aspek tasawuf, beliau menunjukkan tawakal, ikhlas, dzikir dalam kesunyian, serta hidup zuhud tanpa bergantung pada dunia.
- Kisah Nabi Zakariya mengajarkan bahwa ketaatan dan kedekatan dengan Allah harus dijalani dengan kesabaran dan keyakinan penuh, tanpa terpengaruh oleh kesulitan hidup.







0 komentar:
Posting Komentar