Dalam Qashash al-Anbiya’ (Kisah Para Nabi), baik yang disusun oleh Ibnu Katsir maupun Abu Ishaq Ahmad bin Muhammad ats-Tsa'labi, Nabi Dzulkifli ‘alayhis salam disebut sebagai salah satu nabi yang namanya tercantum dalam Al-Qur'an, namun kisahnya tidak banyak diceritakan secara rinci dalam wahyu. Para ulama menafsirkan bahwa beliau adalah sosok yang sangat sabar, adil, dan penuh kesabaran dalam menjalankan tugasnya.
Nama dan Identitas
Nama Dzulkifli (ذو الكفل) disebut dalam dua ayat Al-Qur'an:
-
Surah Al-Anbiya’ (21:85-86)
"Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar. Dan Kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh." -
Surah Shad (38:48)
"Dan ingatlah Ismail, Ilyasa’, dan Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang paling baik."
Berdasarkan ayat-ayat ini, para ulama menyimpulkan bahwa Dzulkifli adalah sosok yang memiliki kesabaran tinggi dan memiliki kedudukan mulia di sisi Allah.
Kisah Dzulkifli dalam Kitab Qashash al-Anbiya’
Menurut Qashash al-Anbiya’, Nabi Dzulkifli ‘alayhis salam adalah seorang nabi yang juga seorang pemimpin atau hakim di kalangan kaumnya. Namanya Dzulkifli berasal dari bahasa Arab yang berarti "orang yang menanggung tugas" atau "yang memiliki tanggung jawab".
Ada dua riwayat utama tentang siapa sebenarnya Dzulkifli:
-
Pendapat Pertama
Dzulkifli adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah setelah Nabi Ayyub ‘alayhis salam. Dalam riwayat ini, Dzulkifli adalah putra Nabi Ayyub dan menggantikan ayahnya dalam membimbing umat. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat sabar dan adil dalam memutuskan hukum. -
Pendapat Kedua
Dzulkifli adalah seorang raja saleh dari Bani Israil yang bukan seorang nabi, tetapi seorang pemimpin yang sangat taat kepada Allah. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tidak pernah meninggalkan ibadahnya, selalu berlaku adil, dan sangat sabar dalam menghadapi ujian.
Ujian dan Kesabaran Dzulkifli
Dalam Qashash al-Anbiya’, dikisahkan bahwa pada suatu masa, ada seorang raja yang sudah tua dan ingin mencari penggantinya. Sang raja mengumumkan bahwa siapa pun yang bisa memenuhi tiga syarat akan dijadikan penerusnya, yaitu:
- Tidak pernah marah.
- Selalu menjalankan ibadah di malam hari.
- Selalu berpuasa di siang hari.
Dari sekian banyak orang yang hadir, hanya seorang laki-laki bernama Dzulkifli yang berani menerima tantangan tersebut. Sang raja pun menyerahkan tahtanya kepadanya.
Selama kepemimpinannya, Iblis berusaha menggoda Dzulkifli agar melanggar janjinya, terutama dalam hal kesabaran dan ibadahnya. Namun, setiap kali Iblis mencoba membuatnya marah atau lalai, Dzulkifli selalu berhasil mengendalikan diri dan tetap teguh dalam ibadahnya.
Karena kesabaran dan keteguhannya dalam menjalankan tugas, Allah memuliakannya dan menyebut namanya dalam Al-Qur'an sebagai salah satu hamba-Nya yang saleh.
Pelajaran dari Kisah Nabi Dzulkifli
-
Kesabaran adalah kunci utama dalam menghadapi ujian kehidupan.
Dzulkifli disebut sebagai orang yang sabar dalam Al-Qur'an, menandakan bahwa sifat ini sangat penting dalam meraih kedudukan mulia di sisi Allah. -
Keadilan dalam kepemimpinan sangat penting.
Dzulkifli dikenal sebagai pemimpin yang tidak pernah zalim dan selalu adil dalam memutuskan perkara. -
Ketaatan kepada Allah adalah prioritas utama.
Dzulkifli tetap menjalankan ibadahnya, baik di malam maupun siang hari, meskipun memiliki tanggung jawab besar sebagai pemimpin.
Kisahnya mungkin tidak sebanyak nabi-nabi lain dalam Al-Qur'an, tetapi keteladanannya dalam kesabaran dan ketaatan menjadi pelajaran berharga bagi setiap Muslim.
Tinjauan Kisah Nabi Dzulkifli ‘alayhis salam dari Aspek Ketaatan dan Tasawuf
Nabi Dzulkifli ‘alayhis salam adalah salah satu nabi yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai sosok yang sabar, saleh, dan berada dalam rahmat Allah. Dari perspektif ketaatan dan tasawuf, kisah beliau memberikan pelajaran mendalam tentang istiqamah dalam ibadah, pengendalian diri, serta hakikat kepemilikan dan amanah dalam kehidupan.
1. Ketaatan Nabi Dzulkifli dan Makna Istiqamah
Dalam tasawuf, ketaatan kepada Allah tidak hanya berarti menjalankan perintah-Nya, tetapi juga menjaga hati tetap terhubung dengan-Nya dalam segala keadaan. Nabi Dzulkifli menunjukkan ketaatan luar biasa dalam beberapa aspek berikut:
A. Ketaatan dalam Shalat Malam dan Puasa
Dzulkifli dikenal sebagai seorang yang tidak pernah meninggalkan shalat malam dan puasa siang. Hal ini menunjukkan bahwa ibadahnya bukan sekadar kewajiban, tetapi sudah menjadi bagian dari jiwanya.
- Dalam tasawuf, orang yang istiqamah dalam ibadah seperti ini disebut sebagai ahlu al-mujahadah (orang yang berjuang melawan hawa nafsu).
- Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menekankan bahwa orang yang mendekat kepada Allah dengan ibadah sunnah akan memperoleh perlindungan-Nya dari tipu daya dunia dan godaan setan.
B. Ketaatan dalam Menjaga Hati dan Kesabaran
Nabi Dzulkifli menerima syarat menjadi pemimpin dengan berjanji untuk tidak pernah marah, yang merupakan tanda tingkat mujahadah (perjuangan batin) dan riyadhah (latihan jiwa) yang tinggi.
- Dalam tasawuf, pengendalian emosi adalah bagian dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
- Imam Junaid al-Baghdadi berkata:
"Tasawuf adalah bahwa Allah mematikan dirimu dari dirimu sendiri, dan menghidupkanmu dengan-Nya."
Ini berarti seseorang harus mampu menahan hawa nafsunya, seperti Nabi Dzulkifli yang tidak terpancing emosi meskipun diuji dengan berbagai ujian.
C. Ketaatan dalam Memimpin dengan Adil
Dzulkifli dipilih menjadi pemimpin karena sanggup berlaku adil, sabar, dan istiqamah dalam ibadahnya.
- Dalam tasawuf, keadilan bukan hanya berlaku di luar (pada orang lain), tetapi juga dalam diri sendiri, yakni mengendalikan hawa nafsu agar tidak menguasai jiwa.
- Imam Al-Qusyairi dalam Risalah Qusyairiyah mengatakan bahwa seorang wali harus memiliki sifat adil dalam hati, yakni tidak membiarkan hawa nafsu menguasai dirinya.
2. Tinjauan Tasawuf: Kesabaran dan Makrifat kepada Allah
Sifat utama yang Allah sebutkan tentang Nabi Dzulkifli adalah kesabaran (ṣabr). Dalam tasawuf, kesabaran adalah tangga menuju makrifatullah (pengenalan sejati kepada Allah).
A. Kesabaran dalam Ujian: Mengalahkan Godaan Iblis
- Dalam Qashash al-Anbiya’, disebutkan bahwa Iblis sendiri berusaha menguji Nabi Dzulkifli dengan berbagai cara agar beliau terprovokasi dan melanggar janjinya.
- Namun, Dzulkifli tetap tenang, tidak marah, dan tidak terpengaruh oleh godaan setan.
- Ini mencerminkan konsep al-mujahadah fi sabilillah dalam tasawuf, yaitu perjuangan batin melawan godaan dunia dan hawa nafsu.
Kaitan dengan Tasawuf: Kesabaran sebagai Jalan Wushul
- Imam Al-Ghazali berkata dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din:
"Kesabaran adalah kunci segala kebahagiaan, dan seseorang tidak akan sampai kepada Allah kecuali dengan kesabaran." - Nabi Dzulkifli menunjukkan kesabaran dalam tiga aspek utama dalam tasawuf:
- Ṣabr ‘alā ṭā‘ah → Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah (shalat malam dan puasa).
- Ṣabr ‘anil ma‘shiyah → Sabar dalam menjauhi maksiat (tidak tergoda oleh bujukan Iblis).
- Ṣabr ‘alā al-balā’ → Sabar dalam menghadapi cobaan hidup (godaan untuk marah dan emosi).
3. Hakikat Kepemilikan dan Amanah dalam Tasawuf
Dalam tasawuf, kepemimpinan bukanlah kekuasaan, melainkan amanah yang harus dijaga dengan keikhlasan. Dzulkifli menerima kepemimpinan bukan karena ambisi pribadi, tetapi karena keinginannya untuk melayani Allah dan umat.
A. Kepemimpinan sebagai Amanah, Bukan Kepemilikan
Dalam konsep tasawuf, segala sesuatu yang ada di dunia bukanlah milik manusia, tetapi amanah dari Allah.
- Nabi Dzulkifli memahami bahwa takhta dan kekuasaan bukan untuk disombongkan, melainkan untuk menegakkan keadilan.
- Konsep ini sesuai dengan ajaran tasawuf tentang zuhud, yakni tidak terikat dengan dunia meskipun seseorang berada dalam posisi tinggi.
- Imam Abu Yazid Al-Busthami berkata:
"Seorang sufi sejati adalah yang menganggap dunia di tangannya, bukan di hatinya."
Nabi Dzulkifli adalah contoh pemimpin yang tidak terpengaruh oleh kedudukan dan harta, karena hatinya hanya bergantung kepada Allah.
B. Tawakal dan Menyerahkan Diri kepada Allah
Dalam tasawuf, tawakal (berserah diri kepada Allah) adalah salah satu maqām (tingkatan spiritual) yang tinggi.
- Dzulkifli menghadapi ujian kepemimpinan dengan tawakal kepada Allah, bukan dengan ambisi duniawi.
- Ini mencerminkan prinsip dalam tasawuf bahwa pemimpin sejati adalah yang bersandar sepenuhnya kepada Allah, bukan kepada kekuatan dirinya sendiri.
Kesimpulan: Pelajaran Tasawuf dari Kisah Nabi Dzulkifli
Kisah Nabi Dzulkifli memberikan banyak pelajaran tasawuf yang dapat diterapkan dalam kehidupan:
- Ketaatan harus disertai dengan istiqamah → Seperti Dzulkifli yang tetap menjaga ibadahnya meskipun sibuk sebagai pemimpin.
- Kesabaran adalah kunci mencapai derajat tinggi di sisi Allah → Seperti Dzulkifli yang tidak pernah marah dan tetap teguh dalam ujian.
- Kepemimpinan bukan kepemilikan, tetapi amanah → Seorang pemimpin harus zuhud, tidak menjadikan kedudukan sebagai tujuan, tetapi sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah.
- Pengendalian diri adalah tanda kedekatan kepada Allah → Dalam tasawuf, orang yang paling dekat kepada Allah adalah yang mampu mengendalikan hawa nafsunya.
- Tawakal kepada Allah adalah jalan menuju ketenangan batin → Seorang hamba harus meyakini bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari ketetapan-Nya.
Dengan memahami kisah Nabi Dzulkifli dari aspek tasawuf, kita belajar bahwa kehidupan bukan tentang memiliki sesuatu, tetapi tentang menjaga amanah Allah dengan kesabaran, keikhlasan, dan ketakwaan.







0 komentar:
Posting Komentar