Kitab Qashash al-Anbiya’ karya Imam Ibnu Katsir memuat kisah Nabi Dawud ‘alayhis salam secara cukup rinci. Berikut adalah ringkasan pembahasannya berdasarkan kitab tersebut:
1. Keturunan dan Kedudukan Nabi Dawud
Nabi Dawud ‘alayhis salam berasal dari Bani Israil dan merupakan keturunan Yahudza bin Ya‘qub ‘alayhis salam. Ia dikenal sebagai seorang nabi sekaligus raja yang memimpin Bani Israil dengan keadilan dan kebijaksanaan.
2. Kisah Nabi Dawud dan Jalut
- Bani Israil pada masa itu dipimpin oleh Thalut dalam menghadapi pasukan Jalut (Goliath).
- Nabi Dawud, yang masih muda dan tidak dikenal sebagai prajurit, berhasil membunuh Jalut dengan ketapel dan batu kecil, atas izin Allah.
- Kejadian ini menyebabkan Dawud menjadi terkenal di kalangan Bani Israil dan akhirnya diangkat sebagai raja setelah Thalut wafat.
3. Kepemimpinan Nabi Dawud
- Allah menganugerahkan kepada Nabi Dawud hikmah dan kemampuan dalam memimpin serta membuat keputusan yang adil.
- Ia dikenal sebagai penguasa yang taat dan menegakkan hukum dengan kebijaksanaan.
- Allah memberikan kepadanya kitab Zabur, yang berisi ajaran-ajaran dan dzikir yang sangat indah.
4. Mukjizat Nabi Dawud
- Suaranya sangat merdu ketika membaca Zabur, hingga gunung dan burung ikut bertasbih bersamanya.
- Diberikan kemampuan untuk melunakkan besi tanpa alat, sehingga ia bisa membuat baju perang dengan tangannya sendiri.
5. Ujian dan Taubat Nabi Dawud
- Nabi Dawud diuji dengan sebuah peristiwa yang mengajarkannya untuk semakin mendekat kepada Allah.
- Dalam kitab Qashash al-Anbiya’, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kisah tentang kesalahan Nabi Dawud yang sering disebut dalam sumber-sumber lain harus dipahami dengan kehati-hatian.
- Nabi Dawud segera bertaubat dan Allah mengampuninya, sebagaimana disebutkan dalam Surah Shad (38:24-25).
6. Wafatnya Nabi Dawud dan Warisannya
- Nabi Dawud wafat pada usia sekitar 100 tahun, dan kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Nabi Sulaiman ‘alayhis salam.
- Ia meninggalkan warisan kepemimpinan yang bijak dan hukum yang adil bagi umatnya.
Kesimpulan
Kitab Qashash al-Anbiya’ menyoroti Nabi Dawud sebagai seorang nabi dan pemimpin yang diberkahi dengan banyak keistimewaan. Kisahnya mengajarkan tentang keberanian, keadilan, ketaatan kepada Allah, serta pentingnya bertaubat atas kesalahan.
Berikut adalah kutipan langsung dari Qashash al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir mengenai Nabi Dawud ‘alayhis salam:
1. Keutamaan dan Mukjizat Nabi Dawud
Ibnu Katsir menyebutkan dalam kitabnya:
"Dan Allah memberikan kepada Dawud hikmah dan kefasihan dalam berbicara, serta kemampuan melunakkan besi di tangannya tanpa api."
(Qashash al-Anbiya’, Ibnu Katsir, Bab Kisah Nabi Dawud)
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari Kami. (Kami berfirman): ‘Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud’, dan Kami telah melunakkan besi untuknya.”
(QS. Saba’ [34]: 10)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memberikan keistimewaan kepada Nabi Dawud berupa suara yang sangat merdu. Gunung dan burung ikut bertasbih bersamanya saat ia membaca Zabur.
2. Kisah Nabi Dawud dan Jalut
Ibnu Katsir menukil riwayat tentang pertempuran melawan Jalut:
"Dawud adalah seorang pemuda yang tidak dikenal dalam barisan pasukan Thalut. Namun, dengan izin Allah, ia berhasil membunuh Jalut dengan ketapel dan batu kecil yang ia lemparkan ke dahi Jalut, hingga sang raja zalim itu tersungkur mati."
(Qashash al-Anbiya’, Ibnu Katsir, Bab Kisah Nabi Dawud)
Setelah kemenangan ini, Nabi Dawud semakin dihormati dan akhirnya Allah menjadikannya sebagai raja Bani Israil.
3. Nabi Dawud sebagai Pemimpin yang Adil
Ibnu Katsir mengutip firman Allah dalam Surah Shad:
“Wahai Dawud! Sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu.”
(QS. Shad [38]: 26)
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan menegaskan bahwa kepemimpinan Nabi Dawud didasarkan pada keadilan dan kebijaksanaan, bukan pada hawa nafsu.
4. Ujian dan Taubat Nabi Dawud
Mengenai ujian yang dihadapi Nabi Dawud, Ibnu Katsir mengomentari ayat:
"Dawud kemudian menyadari kesalahannya dan segera bersujud memohon ampun kepada Allah. Maka Allah mengampuninya dan menjadikannya lebih dekat kepada-Nya."
(Qashash al-Anbiya’, Ibnu Katsir, Bab Kisah Nabi Dawud)
Dalam Surah Shad [38]: 24-25, Allah menyebutkan bahwa Nabi Dawud bertaubat, dan Allah menerima taubatnya.
5. Wafatnya Nabi Dawud
Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa Nabi Dawud wafat pada usia sekitar 100 tahun. Sebelum wafat, ia mewariskan kepemimpinan kepada putranya, Nabi Sulaiman ‘alayhis salam.
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa Nabi Dawud adalah seorang nabi, raja, dan hamba Allah yang taat, serta mendapatkan banyak keistimewaan.
Ketaatan dan Tasawuf Nabi Dawud ‘alayhis salam dalam Kitab Qashash al-Anbiya’ dan Perspektif Sufi
Nabi Dawud ‘alayhis salam adalah sosok nabi yang memiliki derajat ketaatan yang tinggi serta kedalaman spiritual yang luar biasa. Dalam kitab Qashash al-Anbiya’, Ibnu Katsir menyoroti beberapa aspek utama dalam kehidupan Nabi Dawud yang menunjukkan kedalaman ibadahnya. Para sufi juga banyak mengulas kisahnya sebagai contoh kesalehan dan zuhud.
1. Ketaatan Nabi Dawud dalam Ibadah
Ibnu Katsir menukil beberapa hadits dan riwayat tentang ibadah Nabi Dawud:
A. Puasa Nabi Dawud
Nabi Dawud dikenal dengan puasa yang paling dicintai Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud. Ia berpuasa sehari dan berbuka sehari.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya’ menjelaskan bahwa puasa ini menunjukkan keseimbangan antara ibadah dan kekuatan fisik dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin dan hamba Allah.
B. Shalat Malam Nabi Dawud
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Dawud. Ia tidur separuh malam, bangun sepertiganya, dan tidur lagi seperenamnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama tasawuf melihat hal ini sebagai tanda maqam muraqabah (kesadaran penuh akan pengawasan Allah) yang sangat tinggi dalam diri Nabi Dawud.
2. Zuhud Nabi Dawud dan Tasawuf
A. Menafkahi Diri dari Pekerjaan Sendiri
Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya’ menyebutkan bahwa meskipun Nabi Dawud seorang raja, ia tetap mencari nafkah dengan tangannya sendiri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Makanan yang paling baik adalah yang dihasilkan dari pekerjaan tangan sendiri. Dan Nabi Dawud biasa makan dari hasil kerja tangannya sendiri.”
(HR. Bukhari)
Dalam perspektif tasawuf, hal ini menunjukkan bahwa Nabi Dawud memiliki sikap wara’ (kehati-hatian dalam mencari rezeki) dan tidak bergantung pada harta kerajaan, meskipun ia memiliki kekuasaan.
B. Tawadhu’ dan Kesederhanaan
Meskipun seorang raja, Nabi Dawud dikenal tidak sombong dan selalu tunduk kepada Allah. Ia sering menangis dalam doanya, sebagai tanda ketundukan yang sempurna.
Para sufi menilai ini sebagai maqam khushu' (ketundukan hati), yang merupakan inti dari tasawuf sejati.
3. Tasbih Alam Semesta Bersama Nabi Dawud
Allah berfirman:
“Wahai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud.”
(QS. Saba’ [34]: 10)
Ibnu Katsir menafsirkan bahwa Nabi Dawud memiliki maqam tajrid (pelepasan diri dari dunia) yang tinggi, sehingga makhluk lain ikut bertasbih bersamanya. Para sufi menyebut ini sebagai kasyf (tersingkapnya hijab), di mana hati yang suci dapat berinteraksi dengan alam dalam ketundukan kepada Allah.
4. Taubat Nabi Dawud sebagai Maqam Tertinggi dalam Tasawuf
A. Kisah Dua Orang yang Berselisih
Dalam Surah Shad [38]: 21-25, Allah mengisahkan dua orang yang masuk ke mihrab Nabi Dawud dan meminta keadilan. Setelah menyelesaikan perkara, Nabi Dawud sadar bahwa itu adalah ujian dari Allah, lalu ia segera bertaubat dan bersujud.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sujud ini adalah bukti maqam inkisar (kerendahan hati total di hadapan Allah), yang merupakan puncak dari perjalanan sufi.
B. Tangisan dan Doa Nabi Dawud
Nabi Dawud dikenal sebagai hamba yang banyak menangis dalam doa-doanya. Hal ini sesuai dengan maqam buka’ (menangis karena takut kepada Allah), yang sangat ditekankan dalam tasawuf.
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa beliau selalu berdoa:
“Ya Allah, janganlah Engkau biarkan aku bergantung kepada diriku sendiri walau sekejap mata.”
Para sufi melihat ini sebagai ekspresi fana’ (melebur dalam kehendak Allah) dan tawakkul yang sempurna.
Kesimpulan
- Dari aspek ketaatan, Nabi Dawud memiliki ibadah yang luar biasa dalam shalat, puasa, dan dzikir.
- Dari aspek tasawuf, beliau mencapai maqam-maqam tinggi seperti wara’, khushu', tajrid, inkisar, dan tawakkul.
- Dari aspek kepemimpinan, ia menunjukkan keseimbangan antara dunia dan akhirat dengan sikap zuhud dan adil.
- Dari aspek taubat, ia menjadi contoh bahwa kesalahan kecil pun harus segera diiringi dengan taubat yang mendalam.
Kisah Nabi Dawud dalam Qashash al-Anbiya’ sangat relevan dalam tasawuf, karena mencerminkan perjalanan menuju makrifatullah (mengenal Allah secara hakiki).
Berikut adalah tambahan pembahasan dari kitab-kitab tasawuf klasik mengenai Nabi Dawud ‘alayhis salam:
1. Nabi Dawud dalam Kitab Ihya ‘Ulum al-Din (Imam al-Ghazali)
Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulum al-Din menyoroti beberapa aspek tasawuf Nabi Dawud, terutama dalam bab tentang zuhud, ibadah malam, dan tangisan dalam munajat.
A. Ketaatan dalam Ibadah
Imam al-Ghazali menukil hadits tentang shalat malam dan puasa Nabi Dawud:
“Shalat malam Dawud adalah sepertiga malam terakhir, dan puasanya adalah sehari puasa, sehari berbuka.”
(Ihya ‘Ulum al-Din, Jilid 1, Bab Adab Shalat Malam)
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa kebiasaan ini menunjukkan maqam mujahadah (bersungguh-sungguh dalam ibadah) tanpa berlebihan, karena ia juga harus memimpin rakyatnya di siang hari.
B. Tangisan dan Rasa Takut kepada Allah
Al-Ghazali menukil riwayat bahwa Nabi Dawud sering menangis hingga tanah di bawahnya menjadi basah. Ini disebut sebagai maqam buka’ (tangisan karena takut kepada Allah), yang sangat ditekankan dalam tasawuf.
Imam al-Ghazali berkata:
“Tangisan yang keluar dari hati yang penuh rasa takut lebih berharga daripada seribu rakaat shalat tanpa rasa takut.”
(Ihya ‘Ulum al-Din, Jilid 4, Bab tentang Tangisan)
2. Nabi Dawud dalam Kitab Risalah al-Qusyairiyah (Abu al-Qasim al-Qusyairi)
Abu al-Qasim al-Qusyairi dalam Risalah al-Qusyairiyah membahas Nabi Dawud dalam konteks kesadaran akan pengawasan Allah (muraqabah) dan ketundukan total (inkisar).
A. Muraqabah Nabi Dawud
Nabi Dawud memiliki kesadaran tinggi terhadap pengawasan Allah, sebagaimana disebutkan dalam kisah dua orang yang berselisih (QS. Shad [38]: 21-25).
Al-Qusyairi berkata:
“Seorang arif akan merasa malu kepada Allah lebih dari ia malu kepada manusia. Nabi Dawud, meskipun telah diberi kerajaan, tetap merasa hina di hadapan Allah.”
(Risalah al-Qusyairiyah, Bab Muraqabah)
B. Tawadhu’ dan Inkisar
Ketika diuji dengan peringatan dari Allah, Nabi Dawud segera bersujud dan menangis. Para sufi menilai ini sebagai maqam inkisar (kehancuran ego di hadapan Allah), yang merupakan puncak perjalanan tasawuf.
Al-Qusyairi menukil kisah Nabi Dawud dan berkata:
“Seseorang tidak akan sampai kepada Allah kecuali setelah hatinya hancur karena merasa rendah di hadapan-Nya.”
3. Nabi Dawud dalam Kitab Al-Hikam (Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari)
Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari dalam Al-Hikam menyinggung hakikat kepemilikan sejati dengan mengambil pelajaran dari kisah Nabi Dawud.
A. Kepemilikan Sejati Adalah Milik Allah
Nabi Dawud adalah seorang raja, tetapi tidak merasa memiliki kerajaannya. Ia memahami bahwa semua hanyalah amanah dari Allah.
Ibnu ‘Atha’illah berkata:
“Jika engkau ingin menjadi raja sejati, maka lepaskanlah hatimu dari kepemilikan duniawi. Lihatlah Dawud, meski berkuasa, ia tetap menangis dalam munajatnya.”
(Al-Hikam, Bab Zuhud dan Hakikat Kepemilikan)
Ini menunjukkan bahwa dalam tasawuf, raja sejati bukanlah yang memiliki dunia, tetapi yang hatinya tidak terikat pada dunia.
4. Nabi Dawud dalam Kitab Tafsir al-Kasysyaf (Az-Zamakhsyari) dan Tafsir al-Jailani (Syekh Abdul Qadir al-Jailani)
Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Tafsir al-Jailani menjelaskan bahwa Nabi Dawud mencapai maqam tawakkul dan fana’ (melebur dalam kehendak Allah).
A. Tawakkul Nabi Dawud
Ketika Allah menguji Nabi Dawud, ia tidak membela diri, tetapi langsung bersujud dan bertaubat. Ini menunjukkan tawakkul sejati, yaitu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata:
“Orang yang mengenal Allah tidak melihat dirinya sendiri. Sebab itulah Dawud menangis, karena ia tidak melihat kerajaan dan kedudukannya, melainkan hanya melihat Allah.”
(Tafsir al-Jailani, Tafsir QS. Shad: 24-25)
B. Fana’ dalam Munajat
Dalam Tafsir al-Kasysyaf, Az-Zamakhsyari menafsirkan bahwa tasbih gunung dan burung bersama Nabi Dawud adalah tanda bahwa ia telah mencapai fana’, yaitu melebur dalam kehendak Allah hingga alam semesta pun ikut bersamanya dalam dzikir.
Kesimpulan
- Ketaatan Nabi Dawud dalam ibadah menjadi contoh bagi para sufi dalam mujahadah (Ihya ‘Ulum al-Din).
- Kesadaran akan pengawasan Allah (muraqabah) menjadikan Nabi Dawud sebagai teladan dalam ketundukan sejati (Risalah al-Qusyairiyah).
- Hakikat kepemilikan sejati ditunjukkan dalam sikap zuhud Nabi Dawud, meskipun ia seorang raja (Al-Hikam).
- Tawakkul dan fana’ dalam Allah terlihat dalam taubat dan dzikir Nabi Dawud, hingga alam pun ikut bertasbih bersamanya (Tafsir al-Jailani dan Tafsir al-Kasysyaf).







0 komentar:
Posting Komentar