Kisah Nabi Ya‘qub ‘alayhis salam dalam Kitab Qashash al-Anbiya’ Ibnu Katsir
Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya’ menuturkan kisah Nabi Ya‘qub ‘alayhis salam berdasarkan Al-Qur'an dan hadits serta beberapa riwayat dari Bani Israil yang dapat diterima. Berikut adalah rincian kisahnya sebagaimana diceritakan dalam kitab tersebut:
1. Nasab dan Kelahiran Nabi Ya‘qub ‘alayhis salam
- Nabi Ya‘qub adalah putra Nabi Ishaq bin Ibrahim ‘alayhimassalam.
- Ibunya bernama Rifqah (Rebecca), istri Nabi Ishaq.
- Lahir sebagai saudara kembar dari Esau (Ishu), tetapi Ya‘qub lebih dicintai oleh ibunya.
- Disebut sebagai leluhur Bani Israil (karena Ya‘qub juga disebut "Israel" dalam Al-Qur’an).
2. Perjalanan Menuju Negeri Pamannya Laban
- Karena adanya konflik dengan saudaranya Esau, atas nasihat ibunya, Ya‘qub pergi ke rumah pamannya Laban di Harran (Mesopotamia).
- Di sana, ia bekerja untuk pamannya dan menikah dengan dua putrinya, Laiya (Leah) dan Rahil (Rachel).
- Dari kedua istrinya serta dua hamba sahaya mereka (Zilfah dan Bilhah), Ya‘qub memiliki dua belas anak laki-laki, yang kemudian menjadi cikal bakal suku-suku Bani Israil.
3. Kembalinya ke Tanah Palestina
- Setelah bertahun-tahun di Harran, Nabi Ya‘qub kembali ke Palestina atas perintah Allah.
- Dalam perjalanan, ia mengalami pertemuan spiritual dengan malaikat yang memperkuat hubungannya dengan Allah.
- Berdamai dengan saudaranya Esau sebelum akhirnya menetap kembali.
4. Kasih Sayang terhadap Nabi Yusuf dan Tragedi Perpisahan
- Nabi Ya‘qub sangat menyayangi putranya, Nabi Yusuf, yang lahir dari Rahil.
- Kakak-kakaknya iri terhadap Nabi Yusuf dan bersekongkol untuk menyingkirkannya.
- Nabi Yusuf dilemparkan ke dalam sumur dan dikabarkan mati oleh saudara-saudaranya dengan bukti baju berlumuran darah palsu.
- Nabi Ya‘qub sangat bersedih dan matanya menjadi putih (buta sementara) karena terlalu banyak menangis.
5. Pertemuan Kembali dengan Nabi Yusuf
- Bertahun-tahun kemudian, terjadi peristiwa kelaparan besar yang memaksa anak-anaknya pergi ke Mesir untuk mencari makanan.
- Yusuf, yang telah menjadi seorang pejabat tinggi di Mesir, akhirnya memperkenalkan diri kepada saudara-saudaranya.
- Nabi Ya‘qub menerima kabar bahwa Yusuf masih hidup dan segera berangkat ke Mesir.
- Setelah bertemu dengan putranya, matanya kembali bisa melihat.
- Beliau tinggal di Mesir hingga wafat dan berwasiat agar jasadnya dibawa kembali ke Palestina untuk dikuburkan bersama para leluhurnya.
Kitab-Kitab Lain yang Membahas Kisah Nabi Ya‘qub ‘alayhis salam
1. Tafsir Ibnu Katsir
- Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan kisah Nabi Ya‘qub dengan lebih mendalam berdasarkan ayat-ayat dalam Surah Yusuf dan Surah Al-Baqarah.
- Fokusnya lebih kepada hikmah dari cobaan yang dialami Nabi Ya‘qub dan keteladanan dalam kesabaran.
2. Al-Bidayah wa An-Nihayah – Ibnu Katsir
- Kitab ini mengisahkan sejarah sejak penciptaan dunia hingga akhir zaman.
- Kisah Nabi Ya‘qub dalam kitab ini dijelaskan dengan lebih luas, termasuk peran beliau sebagai kepala keluarga dan pemimpin spiritual.
- Ditekankan juga bagaimana kisah Nabi Ya‘qub menjadi bagian dari sejarah Bani Israil.
3. Ar-Risalah al-Qashasiyyah – Al-Qurthubi
- Kitab ini menekankan kisah-kisah dalam Al-Qur'an dengan penjelasan dari perspektif tafsir.
- Kisah Nabi Ya‘qub dibahas dalam kaitannya dengan hikmah kenabian, ketabahan, dan bagaimana beliau sebagai seorang ayah yang penuh kasih sayang.
4. Qashash al-Anbiya’ – As-Suyuthi
- Memiliki kemiripan dengan versi Ibnu Katsir tetapi lebih banyak memuat riwayat hadits terkait.
- Menjelaskan mukjizat-mukjizat Nabi Ya‘qub dan keistimewaannya dalam menerima wahyu.
5. Mukhtashar Tarikh Dimashq – Ibnu Asakir
- Memuat sejarah Nabi Ya‘qub secara lebih rinci berdasarkan sumber sejarah dari kalangan Islam dan Yahudi.
- Disebutkan juga beberapa riwayat tambahan dari kalangan tabi’in tentang kisah hidup Nabi Ya‘qub.
6. Kitab Tarikh al-Umam wa al-Muluk (Tarikh Thabari) – Imam Ath-Thabari
- Salah satu kitab sejarah Islam paling awal yang mencatat kisah-kisah nabi secara detail.
- Membahas kisah Nabi Ya‘qub dalam konteks sejarah keluarga Bani Israil serta pengaruhnya dalam sejarah keturunan para nabi.
Kesimpulan
Kisah Nabi Ya‘qub ‘alayhis salam dalam Qashash al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir menekankan aspek kesabaran, kasih sayang seorang ayah, serta keyakinan kepada takdir Allah. Ibnu Katsir menyajikan kisahnya dengan dasar utama dari Al-Qur'an dan hadits serta menyeleksi riwayat dari sumber Bani Israil yang bisa diterima. Selain itu, banyak kitab lain yang juga membahas kisah beliau dengan berbagai sudut pandang, mulai dari tafsir, sejarah, hingga aspek tasawuf.
Aspek Ketaatan dan Tasawuf dalam Kisah Nabi Ya‘qub ‘alayhis salam
Kisah Nabi Ya‘qub ‘alayhis salam memiliki nilai yang sangat tinggi dalam aspek ketaatan kepada Allah dan hikmah tasawuf. Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya’ menampilkan sosok Nabi Ya‘qub sebagai seorang hamba yang sangat taat, penuh kesabaran, dan memiliki keyakinan mendalam terhadap takdir Allah.
1. Aspek Ketaatan Nabi Ya‘qub ‘alayhis salam
Ketaatan Nabi Ya‘qub dalam Qashash al-Anbiya’ Ibnu Katsir ditampilkan dalam berbagai bentuk, di antaranya:
a. Ketaatan dalam Menjaga Tauhid
-
Nabi Ya‘qub sangat menjaga kemurnian tauhid dan terus mengajarkan anak-anaknya agar tidak menyekutukan Allah.
-
Dalam Al-Qur'an, wasiat terakhirnya kepada anak-anaknya adalah memastikan mereka tetap beriman kepada Allah:
"Adakah kamu hadir ketika Ya‘qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya berserah diri kepada-Nya.’" (QS. Al-Baqarah: 133)
-
Ini menunjukkan betapa besar perhatian Nabi Ya‘qub terhadap tauhid dan bagaimana ia mendidik keluarganya dengan penuh ketakwaan.
b. Ketaatan dalam Kesabaran Menghadapi Ujian
-
Ketika kehilangan Nabi Yusuf, Nabi Ya‘qub tidak berburuk sangka kepada Allah.
-
Beliau bersabar dengan berkata:
"Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah-lah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (QS. Yusuf: 18)
-
Dalam tasawuf, ini disebut sebagai maqam ash-shabr (tingkatan kesabaran) yang sangat tinggi, yaitu bersabar tanpa mengeluh dan tetap menyerahkan segalanya kepada Allah.
c. Ketaatan dalam Menerima Takdir Allah
- Ketika diuji dengan kehilangan anaknya, Ya‘qub tidak meratap atau menyalahkan takdir, tetapi tetap dalam keadaan ridha.
- Ridha terhadap ketetapan Allah adalah ajaran utama dalam tasawuf, di mana seorang hamba tidak mempertanyakan keputusan-Nya, tetapi justru semakin mendekatkan diri kepada-Nya.
2. Aspek Tasawuf dalam Kisah Nabi Ya‘qub ‘alayhis salam
a. Konsep Mahabbah (Cinta kepada Allah di Atas Segala-Galanya)
- Dalam tasawuf, kecintaan kepada Allah harus lebih tinggi dari kecintaan kepada manusia.
- Nabi Ya‘qub sangat mencintai Yusuf, tetapi setelah kehilangannya, beliau menyadari bahwa cinta sejati hanyalah kepada Allah.
- Ini mencerminkan maqam tajrid, yaitu melepaskan ketergantungan dari makhluk dan menyerahkan hati sepenuhnya kepada Allah.
b. Konsep Shabr Jamil (Kesabaran yang Indah)
-
Dalam tasawuf, ada tingkatan sabar yang disebut shabr jamil, yaitu bersabar tanpa mengeluh sedikit pun kepada manusia.
-
Nabi Ya‘qub menunjukkan hal ini dengan tidak mengadu kepada siapa pun selain kepada Allah:
"Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku." (QS. Yusuf: 86)
-
Ini adalah ciri seorang sufi yang sejati, yang hanya menggantungkan hatinya kepada Allah.
c. Konsep Muraqabah (Kesadaran Bahwa Allah Selalu Mengawasi)
- Nabi Ya‘qub tidak pernah berhenti berharap kepada Allah dan selalu merasa dalam pengawasan-Nya.
- Ketika kehilangan Yusuf, beliau tetap percaya bahwa suatu hari Allah akan mempertemukan mereka kembali.
- Keyakinan ini adalah bentuk muraqabah, di mana seorang hamba selalu sadar bahwa segala sesuatu berada dalam rencana Allah.
d. Konsep Fana’ fillah (Melebur dalam Kehendak Allah)
-
Nabi Ya‘qub mencapai tingkat fana’, di mana dirinya tidak lagi terikat pada dunia, tetapi menyerahkan segalanya kepada Allah.
-
Ini terlihat ketika beliau berkata:
"Wahai anak-anakku, pergilah dan carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Yusuf: 87)
-
Dalam tasawuf, seseorang yang mencapai fana’ akan selalu yakin dengan kasih sayang Allah meskipun berada dalam ujian berat.
Kesimpulan
1. Aspek Ketaatan:
✔ Nabi Ya‘qub selalu menjaga tauhid dan mendidik anak-anaknya agar tetap dalam iman yang lurus.
✔ Kesabarannya dalam menghadapi ujian adalah contoh utama dari ketakwaan kepada Allah.
✔ Beliau menerima semua ketetapan Allah dengan lapang dada, tanpa menyalahkan takdir.
2. Aspek Tasawuf:
✔ Menunjukkan cinta kepada Allah di atas segala-galanya.
✔ Mempraktikkan shabr jamil dengan tidak mengeluh kepada manusia.
✔ Selalu dalam keadaan muraqabah (kesadaran akan pengawasan Allah).
✔ Mencapai tingkat fana’ fillah (melepaskan diri dari keterikatan dunia dan sepenuhnya berserah kepada Allah).
Dalam tasawuf, kisah Nabi Ya‘qub menjadi pelajaran bahwa seorang hamba harus selalu mengandalkan Allah, bersabar tanpa batas, dan melepaskan diri dari kecintaan duniawi untuk mencapai kebahagiaan sejati.
Pendalaman Aspek Ketaatan dan Tasawuf dalam Kisah Nabi Ya‘qub ‘alayhis salam
Kisah Nabi Ya‘qub dalam Qashash al-Anbiya’ Ibnu Katsir tidak hanya menampilkan perjalanan hidupnya tetapi juga memberikan pelajaran mendalam tentang ketaatan mutlak kepada Allah serta konsep-konsep tasawuf dalam menghadapi ujian dan mencapai kesempurnaan ruhani. Berikut adalah analisis lebih dalam berdasarkan perspektif ketaatan syariat dan tasawuf.
I. Aspek Ketaatan Nabi Ya‘qub ‘alayhis salam
1. Ketaatan dalam Menjaga Kemurnian Tauhid
Nabi Ya‘qub adalah salah satu nabi yang sangat tegas dalam menjaga kemurnian tauhid. Dalam ajaran tasawuf, ini mencerminkan maqam at-tawhid al-kamil (tauhid sempurna), di mana seseorang hanya mengandalkan Allah dalam segala hal.
Dalam wasiatnya kepada anak-anaknya sebelum wafat, beliau menekankan pentingnya menyembah Allah semata:
"Adakah kamu hadir ketika Ya‘qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya berserah diri kepada-Nya.’"
(QS. Al-Baqarah: 133)
Wasiat ini menegaskan bahwa tauhid adalah inti dari kehidupan seorang mukmin, sebagaimana juga ditekankan dalam tasawuf bahwa manusia harus "melepaskan keterikatan kepada selain Allah" untuk mencapai hakikat makrifat.
2. Ketaatan dalam Menghadapi Ujian dengan Sabar
Nabi Ya‘qub mengalami ujian berat, terutama ketika kehilangan Yusuf. Namun, yang membedakannya adalah kesabaran yang sempurna (ṣabr jamīl).
Ketika mendengar Yusuf telah hilang, beliau hanya berkata:
"Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah-lah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."
(QS. Yusuf: 18)
Dalam tasawuf, ini termasuk maqam as-shabr al-mahmud (kesabaran terpuji), yaitu ketika seseorang bersabar tanpa mengeluh kepada makhluk, tetapi hanya bersandar kepada Allah.
3. Ketaatan dalam Berbaik Sangka kepada Allah (Husnuzhan billah)
Meski diuji berat, Nabi Ya‘qub tidak pernah berprasangka buruk kepada Allah.
"Wahai anak-anakku, pergilah dan carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir."
(QS. Yusuf: 87)
Ini menunjukkan tingkat ketawakalan yang tinggi. Dalam tasawuf, sikap ini termasuk maqam ar-raja’ (harapan kepada Allah), yaitu keyakinan bahwa rahmat dan pertolongan Allah selalu ada bagi hamba-Nya.
II. Aspek Tasawuf dalam Kisah Nabi Ya‘qub ‘alayhis salam
Dalam ilmu tasawuf, kisah Nabi Ya‘qub menjadi contoh perjalanan ruhani (suluk) seorang hamba menuju kesempurnaan spiritual. Beberapa konsep utama dalam tasawuf yang tercermin dalam kisahnya adalah:
1. Mahabbah (Cinta kepada Allah di Atas Segala-Galanya)
Awalnya, Nabi Ya‘qub sangat mencintai Yusuf. Namun, kehilangan Yusuf membuatnya memahami bahwa cinta sejati hanyalah kepada Allah.
Dalam kitab Risalat al-Qusyairiyah, Imam Al-Qusyairi menjelaskan bahwa cinta duniawi, bahkan terhadap anak atau keluarga, tidak boleh mengalahkan cinta kepada Allah. Ini adalah maqam mahabbah fillah, di mana seorang sufi hanya mencintai makhluk karena Allah, bukan karena hawa nafsu.
2. Ṣabr Jamil (Kesabaran yang Indah)
Nabi Ya‘qub menunjukkan sabar yang tinggi tanpa mengeluh kepada manusia. Dalam tasawuf, ini disebut maqam ash-shabr yang merupakan salah satu derajat tertinggi dalam perjalanan ruhani.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa kesabaran sejati adalah ketika seseorang tetap merasa tenang dan ridha terhadap ujian yang diberikan Allah, tanpa keluhan dan tanpa mempertanyakan takdir-Nya.
3. Muraqabah (Kesadaran Akan Pengawasan Allah)
Nabi Ya‘qub selalu merasa bahwa Allah mengawasi dan mengatur segalanya. Ini mencerminkan maqam muraqabah, yaitu kesadaran penuh bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari ketetapan Ilahi.
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam Futuh al-Ghaib menyebutkan bahwa seseorang yang berada dalam maqam muraqabah tidak akan terpengaruh oleh ujian duniawi, karena hatinya telah terpaut hanya kepada Allah.
4. Fana’ fillah (Melebur dalam Kehendak Allah)
Ketika kehilangan Yusuf, Nabi Ya‘qub mengalami "kematian ego" dalam arti bahwa ia tidak lagi bergantung pada keinginannya sendiri, tetapi hanya menerima apa yang Allah tetapkan.
Dalam tasawuf, maqam ini disebut fana’ fillah, di mana seseorang mencapai tingkat penghambaan murni dan melihat segala sesuatu sebagai bagian dari ketentuan Allah.
III. Penjelasan dari Kitab-Kitab Tasawuf
1. Al-Risalah al-Qusyairiyah – Imam Al-Qusyairi
- Menjelaskan maqam-maqam ruhani seperti sabar, tawakal, dan mahabbah, yang semua tercermin dalam kisah Nabi Ya‘qub.
- Nabi Ya‘qub menjadi contoh sempurna tentang bagaimana seorang wali Allah harus menghadapi ujian.
2. Ihya Ulumuddin – Imam Al-Ghazali
- Menjelaskan konsep sabar jamil dan muraqabah dalam konteks perjalanan seorang sufi.
- Kisah Nabi Ya‘qub disebut sebagai contoh orang yang mencapai derajat tertinggi dalam ibadah hati.
3. Futuh al-Ghaib – Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
- Membahas tentang tawakal dan bagaimana seorang hamba harus berserah diri sepenuhnya kepada Allah.
- Nabi Ya‘qub adalah figur yang mencapai maqam tawakal sempurna.
4. Madarij al-Salikin – Ibn Qayyim al-Jauziyah
- Menguraikan tingkatan maqam spiritual, termasuk fana’ dan mahabbah.
- Menjelaskan bahwa Nabi Ya‘qub mengalami fase “ujian cinta” di mana kecintaannya kepada Yusuf akhirnya membawanya lebih dekat kepada Allah.
Kesimpulan
1. Dari Perspektif Ketaatan Syariat
✔ Nabi Ya‘qub adalah figur utama dalam menegakkan tauhid dan menanamkan keyakinan kepada Allah kepada anak-anaknya.
✔ Beliau menghadapi ujian dengan kesabaran yang sempurna tanpa mengeluh kepada manusia.
✔ Mempraktikkan husnuzhan billah, tidak pernah berputus asa terhadap rahmat Allah.
2. Dari Perspektif Tasawuf
✔ Mengajarkan mahabbah fillah, bahwa cinta kepada Allah harus lebih besar dari cinta kepada makhluk.
✔ Mengajarkan sabar jamil, yaitu bersabar tanpa keluhan dan hanya bersandar kepada Allah.
✔ Mengajarkan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi.
✔ Mengajarkan fana’ fillah, yaitu melepaskan ego dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.
Kisah Nabi Ya‘qub dalam perspektif tasawuf mengajarkan keikhlasan, kesabaran, dan kepasrahan total kepada Allah, yang merupakan inti dari ajaran sufi sejati.







0 komentar:
Posting Komentar