Dalam Qashash al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir, kisah Nabi Ilyasa’ ‘alayhis salam disebutkan sebagai kelanjutan dari perjalanan dakwah Nabi Ilyas ‘alayhis salam. Berikut ini adalah ringkasan mengenai Nabi Ilyasa’ berdasarkan kitab tersebut:
1. Nasab dan Kedudukan Nabi Ilyasa’ ‘alayhis salam
Nabi Ilyasa’ adalah seorang nabi yang diutus kepada kaum Bani Israil setelah wafatnya Nabi Ilyas. Disebutkan bahwa ia merupakan murid dan penerus Nabi Ilyas dalam membimbing kaumnya menuju tauhid. Allah subhanahu wa ta’ala menyebut namanya dalam Al-Qur’an sebanyak dua kali, yaitu dalam:
- Surat Al-An'am ayat 86, di mana ia disebut bersama para nabi lainnya sebagai orang yang Allah beri petunjuk dan keutamaan.
- Surat Shad ayat 48, di mana Allah menyebutnya sebagai min al-akhyar (termasuk orang-orang pilihan).
2. Mukjizat dan Kepemimpinan
Menurut Qashash al-Anbiya’, Nabi Ilyasa’ dianugerahi beberapa mukjizat oleh Allah. Ia mampu menyembuhkan orang sakit dan menurunkan keberkahan atas umatnya. Ia juga melanjutkan perjuangan Nabi Ilyas dalam menghadapi kezaliman raja yang menyimpang dari ajaran tauhid.
3. Umat Nabi Ilyasa’ dan Penyimpangan Mereka
Setelah Nabi Ilyasa’ wafat, kaum Bani Israil kembali menyimpang dari ajaran tauhid. Mereka terjerumus ke dalam kesesatan, penyembahan berhala, dan pelanggaran hukum Allah. Hal ini akhirnya menyebabkan datangnya berbagai musibah dan hukuman dari Allah terhadap mereka.
4. Pelajaran dari Kisah Nabi Ilyasa’
- Ketaatan kepada Allah adalah sumber keberkahan: Selama umat Nabi Ilyasa’ taat, mereka mendapatkan kesejahteraan dan perlindungan dari Allah.
- Penyimpangan dari tauhid mendatangkan kehancuran: Sejarah Bani Israil menunjukkan bahwa setiap kali mereka meninggalkan ajaran para nabi, mereka ditimpa kesulitan.
- Perjuangan para nabi dalam menegakkan kebenaran: Nabi Ilyasa’ melanjutkan dakwah Nabi Ilyas tanpa takut terhadap penentangan dari penguasa dan kaumnya yang menyimpang.
Inilah ringkasan kisah Nabi Ilyasa’ dalam Qashash al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir.
Baik, berikut ini tambahan pembahasan dari berbagai sumber, termasuk kitab-kitab tafsir dan sejarah Islam, yang berkaitan dengan kisah Nabi Ilyasa’ ‘alayhis salam.
Kisah Nabi Ilyasa’ ‘alayhis salam dalam Kitab-Kitab Tafsir dan Sejarah
1. Kedudukan Nabi Ilyasa’ dalam Islam
Dalam berbagai kitab tafsir dan sejarah Islam, Nabi Ilyasa’ disebut sebagai salah satu nabi dari kalangan Bani Israil yang diutus setelah Nabi Ilyas ‘alayhis salam. Namanya disebut dalam dua ayat Al-Qur’an:
-
Surat Al-An’am ayat 86:
"Dan (Kami telah memberikan petunjuk) kepada Ismail, Alyasa’, Yunus, dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)." -
Surat Shad ayat 48:
"Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’ dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang paling baik."
Dalam tafsir Ibnu Katsir, Nabi Ilyasa’ disebut sebagai penerus Nabi Ilyas yang melanjutkan dakwah tauhid kepada Bani Israil.
2. Asal Usul dan Kenabian Nabi Ilyasa’
Dalam Qashash al-Anbiya’, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Nabi Ilyasa’ adalah seorang pemuda yang awalnya sakit keras. Ia kemudian disembuhkan oleh Nabi Ilyas atas izin Allah, dan setelah itu menjadi murid serta penerusnya dalam menyebarkan agama Allah.
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa nama asli Nabi Ilyasa’ adalah Buniyamin dan ia berasal dari suku yang sama dengan Nabi Ilyas. Namun, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ia berasal dari kalangan Bani Israil yang dekat dengan para nabi.
3. Mukjizat Nabi Ilyasa’
Menurut berbagai kitab tafsir dan sejarah, beberapa mukjizat yang dikaruniakan Allah kepada Nabi Ilyasa’ antara lain:
- Menyembuhkan orang sakit – Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi Ilyasa’ dapat menyembuhkan penyakit parah dengan izin Allah.
- Menurunkan keberkahan atas makanan – Ia diberi kemampuan untuk membuat sedikit makanan menjadi cukup bagi banyak orang, mirip dengan mukjizat Nabi Ilyas.
- Menghentikan bencana alam – Dikisahkan bahwa Nabi Ilyasa’ berdoa kepada Allah sehingga bencana yang menimpa kaumnya dapat dihentikan.
4. Perjuangan Dakwah Nabi Ilyasa’
Setelah Nabi Ilyas diangkat oleh Allah, Nabi Ilyasa’ melanjutkan dakwah kepada Bani Israil. Ia mengajak mereka kembali kepada ajaran tauhid dan meninggalkan penyembahan berhala.
Pada awalnya, kaumnya mengikuti ajaran Nabi Ilyasa’, tetapi seiring waktu mereka mulai kembali menyimpang. Mereka lebih mencintai dunia dan banyak yang menjadi pengikut raja zalim yang memerintah saat itu. Nabi Ilyasa’ terus berdakwah, tetapi hanya sedikit yang mengikuti ajarannya.
5. Akhir Kehidupan Nabi Ilyasa’
Menurut kitab Qashash al-Anbiya’ dan beberapa sumber sejarah, setelah Nabi Ilyasa’ wafat, kaumnya semakin jauh dari ajaran tauhid. Allah kemudian mengutus Nabi Yunus ‘alayhis salam kepada mereka.
Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa Nabi Ilyasa’ diangkat ke langit seperti Nabi Ilyas, tetapi riwayat lain menyebutkan bahwa ia wafat di dunia dan dimakamkan di wilayah Syam atau Palestina.
6. Pelajaran dari Kisah Nabi Ilyasa’
Dari kisah Nabi Ilyasa’, kita bisa mengambil beberapa pelajaran penting:
- Ketaatan kepada Allah mendatangkan keberkahan: Selama kaumnya taat, mereka mendapatkan kemakmuran dan perlindungan dari Allah.
- Penyimpangan dari ajaran Allah membawa kehancuran: Bani Israil sering kali menyimpang setelah kepergian para nabi, yang akhirnya mendatangkan murka Allah.
- Dakwah butuh kesabaran: Nabi Ilyasa’ menghadapi banyak tantangan dalam mengajak kaumnya kepada tauhid, tetapi ia tetap bersabar dan berjuang di jalan Allah.
Itulah pembahasan tambahan tentang Nabi Ilyasa’ ‘alayhis salam.
Aspek Ketaatan dan Tasawuf dalam Kisah Nabi Ilyasa’ ‘alayhis salam
Dalam ajaran Islam, kisah para nabi selalu memiliki nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan spiritual dan tasawuf. Nabi Ilyasa’ ‘alayhis salam, yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai salah satu al-akhyar (orang-orang pilihan), mencerminkan prinsip-prinsip utama dalam tasawuf, terutama dalam aspek ketaatan mutlak kepada Allah, zuhud, dan kepasrahan total kepada kehendak-Nya.
1. Ketaatan Mutlak Nabi Ilyasa’ sebagai Inti Tasawuf
Dalam Qashash al-Anbiya’ dan tafsir para ulama, Nabi Ilyasa’ menunjukkan ketaatan yang sempurna kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yang menjadi dasar utama bagi jalan tasawuf. Ketaatan ini tampak dalam beberapa aspek:
a) Ketaatan kepada Allah dalam Menyampaikan Kebenaran
Meskipun kaumnya mulai meninggalkan ajaran tauhid setelah Nabi Ilyas, Nabi Ilyasa’ tetap melanjutkan dakwah tanpa takut terhadap tekanan penguasa atau masyarakat. Ini mencerminkan sifat istiqamah (keteguhan dalam ketaatan), yang dalam tasawuf menjadi bagian dari maqam seorang wali Allah.
- Dalam tasawuf, seseorang yang mencapai maqam istiqamah tidak tergoyahkan oleh dunia atau manusia, tetapi hanya tunduk kepada Allah.
- Hal ini sejalan dengan firman Allah:
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati." (QS. Al-Ahqaf: 13)
b) Zuhud dan Kehidupan Sederhana
Dalam berbagai kitab sejarah, Nabi Ilyasa’ dikenal hidup dengan kesederhanaan dan menjauhi kemewahan dunia. Ini adalah inti dari zuhud, yaitu menjauhkan hati dari kecintaan duniawi dan hanya bergantung kepada Allah.
- Dalam tasawuf, zuhud bukan sekadar meninggalkan dunia, tetapi juga membersihkan hati dari ketergantungan terhadapnya.
- Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa zuhud sejati adalah merasa bahwa dunia ini tidak ada nilainya dibandingkan dengan kebersamaan bersama Allah.
Sikap zuhud Nabi Ilyasa’ ini juga mencerminkan sabda Rasulullah ﷺ:
"Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara." (HR. Bukhari)
c) Tawakkal: Kepasrahan Total kepada Allah
Dalam berbagai riwayat, Nabi Ilyasa’ mengalami banyak ujian, terutama ketika kaumnya menolak ajarannya. Namun, ia tidak pernah bergantung kepada manusia, melainkan hanya kepada Allah.
- Tawakkal dalam tasawuf adalah salah satu maqam tinggi di mana seorang hamba menyerahkan segala urusannya kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:
"Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya." (QS. At-Talaq: 3)
Nabi Ilyasa’ menunjukkan bahwa seorang hamba sejati adalah yang hatinya tidak digoncangkan oleh dunia, karena ia yakin bahwa segalanya berada dalam kehendak Allah.
2. Konsep Tasawuf: Hakikat Kepemilikan dalam Kisah Nabi Ilyasa’
Dalam ajaran tasawuf, salah satu pelajaran penting adalah kesadaran bahwa manusia bukanlah pemilik sejati dari apa pun. Nabi Ilyasa’ mengajarkan kepada kaumnya bahwa segala sesuatu adalah milik Allah, dan manusia hanyalah penjaga atau peminjam sementara.
Konsep ini sesuai dengan ajaran para sufi:
- Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam Al-Fath ar-Rabbani berkata:
"Janganlah kamu merasa memiliki sesuatu pun, karena hakikatnya segala sesuatu adalah milik Allah. Jika engkau merasa memiliki, maka itu adalah hijab antara dirimu dan Tuhanmu." - Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam berkata:
"Engkau tidak memiliki sesuatu pun, karena sesungguhnya semuanya telah ditentukan oleh Allah. Maka, janganlah hatimu tergantung pada selain-Nya."
Nabi Ilyasa’ mengajarkan bahwa segala yang dimiliki manusia, baik itu harta, kesehatan, atau kehidupan, hanyalah titipan Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin sejati harus menggunakan segala yang dimilikinya untuk taat kepada Allah, bukan untuk kepentingan duniawi semata.
3. Hakikat Kepemilikan: Tubuh dan Nyawa sebagai Amanah Allah
Dalam tasawuf, tubuh dan nyawa bukanlah milik manusia, tetapi amanah yang harus digunakan untuk beribadah kepada Allah.
- Nabi Ilyasa’ menunjukkan bahwa hidup adalah ujian, dan seorang mukmin harus menggunakan tubuhnya untuk ketaatan, bukan kemaksiatan.
- Hal ini sesuai dengan firman Allah:
"Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena itu akan menyesatkan kamu dari jalan Allah." (QS. Shad: 26)
Para sufi menegaskan bahwa tubuh manusia adalah wadah untuk ibadah, bukan untuk kesenangan dunia semata. Seorang sufi sejati tidak merasa memiliki tubuhnya sendiri, tetapi menggunakannya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
4. Kesimpulan dan Pelajaran Tasawuf dari Nabi Ilyasa’
Dari kisah Nabi Ilyasa’, ada beberapa pelajaran tasawuf yang bisa kita ambil:
- Istiqamah dalam ketaatan kepada Allah, meskipun dihadapkan pada tantangan besar.
- Zuhud, yaitu tidak terikat dengan dunia dan menyadari bahwa dunia ini sementara.
- Tawakkal, yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah dan tidak bergantung kepada makhluk.
- Hakikat kepemilikan, bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan manusia hanya dititipi sementara.
- Tubuh dan nyawa adalah amanah, yang harus digunakan untuk beribadah dan taat kepada Allah.
Kisah Nabi Ilyasa’ mengajarkan bahwa kesempurnaan seorang hamba adalah ketika ia hanya berorientasi kepada Allah dan tidak terpengaruh oleh dunia.
Seperti yang dikatakan oleh Imam Junaid Al-Baghdadi:
"Seorang sufi sejati adalah yang hatinya hanya bersama Allah, dan dunia tidak memiliki tempat di dalamnya."







0 komentar:
Posting Komentar