Dalam tasawuf, dzikrullah (mengingat Allah) merupakan inti dari perjalanan spiritual seorang sufi. Dzikrullah bukan hanya sebatas ucapan lisan, tetapi juga mencakup kesadaran hati dan keterhubungan ruhani dengan Allah. Berikut adalah beberapa prinsip utama dalam tasawuf tentang dzikrullah:
1. Dzikrullah adalah Kebutuhan Utama Ruh
Para sufi mengajarkan bahwa ruh manusia membutuhkan dzikir sebagaimana jasad membutuhkan makanan. Tanpa dzikir, hati menjadi keras dan jauh dari cahaya Ilahi. Allah berfirman:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d: 28)
2. Dzikrullah Harus Dilakukan dengan Ikhlas
Dzikir yang sejati harus dilakukan karena cinta dan keikhlasan kepada Allah, bukan karena mengharapkan duniawi. Para sufi menekankan bahwa dzikir yang dilakukan tanpa hati yang hadir hanya seperti gerakan tanpa ruh.
3. Dzikrullah Harus Menjadi Kebiasaan yang Terus-Menerus
Sufi mengamalkan dzikir secara rutin dan kontinyu. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
"Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak." (QS. Al-Ahzab: 41)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin mengatakan bahwa dzikir yang terus-menerus akan membuka pintu makrifat kepada Allah.
4. Dzikrullah dengan Lisan dan Hati
Dzikir dapat dilakukan dengan lisan maupun hati. Dzikir lisan adalah membaca asma Allah, tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Sementara dzikir hati adalah kesadaran terus-menerus akan kehadiran Allah dalam setiap keadaan. Para sufi menekankan dzikir hati sebagai bentuk dzikir yang lebih tinggi.
5. Dzikrullah Menghapus Kegelapan Hati
Para sufi menggambarkan hati manusia seperti cermin. Jika dipenuhi dosa, ia menjadi buram dan gelap. Namun, dzikrullah akan membersihkannya sehingga mampu menangkap cahaya Ilahi. Nabi ﷺ bersabda:
"Perbanyaklah mengingat kematian, dan basuhlah hatimu dengan dzikrullah." (HR. Tirmidzi)
6. Dzikrullah sebagai Jalan Menuju Ma’rifatullah
Para sufi berpendapat bahwa dzikir adalah jalan menuju ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah). Seorang hamba yang senantiasa berdzikir akan dibimbing oleh Allah untuk lebih mengenal-Nya. Ibn ‘Atha’illah dalam Al-Hikam berkata:
"Janganlah engkau meninggalkan dzikir karena ketidakhadiran hatimu, sebab kelalaianmu dari dzikir itu lebih buruk daripada kelalaian dalam dzikir."
7. Dzikrullah dalam Keadaan Apa Pun
Sufi diajarkan untuk berdzikir dalam segala kondisi, baik dalam kesulitan maupun kebahagiaan. Firman Allah menyebutkan bahwa dzikir dilakukan sambil berdiri, duduk, dan berbaring (QS. Ali ‘Imran: 191).
8. Dzikrullah Mengundang Rahmat dan Pertolongan Allah
Allah menjanjikan bahwa siapa yang mengingat-Nya, maka Allah pun akan mengingatnya:
"Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian." (QS. Al-Baqarah: 152)
9. Dzikrullah Adalah Puncak Ibadah
Para sufi mengajarkan bahwa segala ibadah pada hakikatnya adalah untuk mencapai dzikrullah. Bahkan shalat disebut sebagai aqimish shalah li dzikri (tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku) dalam QS. Thaha: 14.
10. Dzikrullah adalah Jalan Menuju Fana’ Fillah
Dzikir yang terus-menerus dapat membawa seorang sufi ke maqam fana’, yaitu keadaan di mana dirinya lenyap dalam kehadiran Allah, dan hanya menyaksikan-Nya dalam segala hal.
Kesimpulan
Dalam tasawuf, dzikrullah bukan hanya aktivitas lisan, tetapi merupakan keadaan hati yang terus-menerus menyadari kehadiran Allah. Dzikir adalah jalan menuju ketenangan, ma’rifatullah, dan kedekatan dengan-Nya. Seorang sufi tidak hanya berdzikir dalam ibadah formal, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupannya.
Sebagaimana para sufi berkata:
"Orang yang mengenal Allah tidak akan pernah merasa sepi, karena hatinya selalu terhubung dengan-Nya melalui dzikrullah."
Berikut adalah 30 pendapat para ulama tasawuf tentang dzikrullah (mengingat Allah), yang menunjukkan betapa pentingnya dzikir dalam perjalanan spiritual seorang sufi:
1-10: Hakikat dan Kedudukan Dzikir
- Imam Al-Ghazali: “Dzikir adalah kunci pembuka pintu ma’rifat kepada Allah.”
- Ibn Atha’illah As-Sakandari: “Jangan tinggalkan dzikir karena hatimu lalai, sebab lalai dari dzikir lebih buruk daripada lalai dalam dzikir.”
- Al-Junayd Al-Baghdadi: “Dzikir adalah pedang seorang sufi. Dengan dzikir, ia menebas segala hal yang menghalanginya dari Allah.”
- Sahl bin Abdullah At-Tustari: “Dzikir adalah cahaya hati, dan hati yang tanpa dzikir adalah hati yang mati.”
- Abu Yazid Al-Busthami: “Barang siapa ingin bersambung dengan Allah, hendaklah ia senantiasa dalam dzikir.”
- Syekh Abdul Qadir Al-Jailani: “Dzikir adalah jalan para pencari Tuhan. Tanpa dzikir, jalan menuju-Nya tertutup.”
- Imam An-Nawawi: “Sebaik-baik amalan setelah kewajiban adalah dzikir kepada Allah.”
- Al-Harith Al-Muhasibi: “Dzikir adalah tali yang menghubungkan hati dengan Tuhan.”
- Al-Khatib Al-Baghdadi: “Dzikir yang terus-menerus akan menyalakan cahaya dalam hati seorang hamba.”
- Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: “Dzikir bagi hati ibarat air bagi ikan. Apa jadinya jika ikan itu dikeluarkan dari air?”
11-20: Manfaat dan Pengaruh Dzikir
- Imam Al-Qusyairi: “Seorang sufi sejati adalah mereka yang tidak pernah berhenti berdzikir.”
- Abu Hasan Asy-Syadzili: “Dzikir adalah penawar bagi hati yang gelisah.”
- Al-Imam Al-Haddad: “Jika engkau ingin Allah mengingatmu, maka ingatlah Dia terlebih dahulu.”
- Syekh Ahmad Ar-Rifa’i: “Dzikir yang terus-menerus akan membuat seorang hamba lebih dekat kepada Allah dibanding ibadah fisik yang terputus-putus.”
- Al-Hakim At-Tirmidzi: “Dzikir adalah kunci pembuka pintu rahasia Ilahi.”
- Syekh Ibnu ‘Ajibah: “Dzikir menghapus segala keburukan dalam diri manusia.”
- Imam Abu Madyan: “Dzikir adalah jalan menuju ketenangan hakiki.”
- Abu Sa’id Al-Kharraz: “Tidak ada sesuatu yang lebih mendekatkan seorang hamba kepada Allah selain dzikir.”
- Abu Ali Ad-Daqqaq: “Dzikir adalah obat bagi hati yang sakit.”
- Imam As-Suhrawardi: “Dzikir menghilangkan kegelapan hati dan menggantikannya dengan cahaya Ilahi.”
21-30: Dzikir Sebagai Jalan Menuju Ma’rifat
- Al-Hallaj: “Ketika seorang hamba berdzikir dengan segenap jiwanya, maka ia akan fana dalam cahaya Ilahi.”
- Al-Fudhayl bin ‘Iyadh: “Barang siapa banyak berdzikir, maka ia akan mendapatkan ketenangan dalam segala keadaan.”
- Imam Syibli: “Dzikir bukan hanya di lisan, tapi dalam setiap denyut jantung seorang hamba.”
- Syekh Yusuf An-Nabhani: “Dzikir menghidupkan ruh dan menjadikannya bersinar dengan cahaya Ilahi.”
- Al-Muhasibi: “Dzikir adalah bekal utama bagi seorang hamba yang ingin meniti jalan menuju Allah.”
- Imam Ibnu Mas’ud: “Seorang hamba tidak bisa jauh dari Allah jika ia senantiasa mengingat-Nya.”
- Ibnu Al-Jauzi: “Dzikir yang hakiki adalah yang menjadikan seorang hamba sadar akan kebesaran Tuhannya.”
- Imam Adz-Dzahabi: “Dzikir adalah ibadah yang tidak membutuhkan waktu khusus. Ia bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.”
- Imam Al-Kattani: “Jika engkau ingin melihat keadaan hatimu, lihatlah seberapa sering engkau berdzikir.”
- Abu Abdullah Al-Maghribi: “Orang yang tidak berdzikir akan dipenuhi kecemasan, sedangkan orang yang berdzikir akan dipenuhi ketenangan.”
Kesimpulan
Para ulama tasawuf sepakat bahwa dzikrullah adalah inti perjalanan menuju Allah. Dzikir membersihkan hati, mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya, serta menjadi jalan menuju ketenangan dan ma’rifatullah. Mereka juga menekankan bahwa dzikir harus dilakukan dengan hati yang hadir, bukan hanya sebatas ucapan lisan.
Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaan.
Berikut adalah dzikir dan cara dzikir yang diterapkan oleh 30 ulama tasawuf yang telah disebutkan sebelumnya.
1-10: Hakikat dan Kedudukan Dzikir
-
Imam Al-Ghazali
- Dzikir: Lā ilāha illā Allāh
- Cara: Dzikir ini dilakukan dengan menghadirkan hati, menghayati maknanya, dan memperbanyaknya setiap hari.
-
Ibn Atha’illah As-Sakandari
- Dzikir: Allāh… Allāh… Allāh…
- Cara: Dzikir ini dilakukan dengan mengulang kalimat “Allah” secara perlahan dan mendalam hingga hati tenggelam dalam mengingat-Nya.
-
Al-Junayd Al-Baghdadi
- Dzikir: Yā Hayyu Yā Qayyūm
- Cara: Dilakukan secara berulang dengan penuh kesadaran bahwa Allah Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.
-
Sahl bin Abdullah At-Tustari
- Dzikir: Allāh ma’ī, Allāh nāẓirī, Allāh syāhidī (Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku).
- Cara: Dzikir ini dijadikan sebagai pola pikir dan kesadaran dalam setiap aktivitas.
-
Abu Yazid Al-Busthami
- Dzikir: Lā ilāha illā Anta Subḥānaka innī kuntu minaz-zālimīn
- Cara: Dibaca secara terus-menerus dengan hati yang tunduk dan merendahkan diri di hadapan Allah.
-
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
- Dzikir: Hu… Hu… Hu…
- Cara: Dzikir ini dilakukan dengan menarik napas dalam, menahan sejenak, lalu mengeluarkannya sambil mengucapkan "Hu", menyadari kehadiran Allah yang Maha Esa.
-
Imam An-Nawawi
- Dzikir: Subḥānallāh, walḥamdulillāh, wa lā ilāha illallāh, wa Allāhu Akbar
- Cara: Dibaca setelah shalat, pagi dan sore, serta saat beraktivitas untuk menjaga hati tetap dalam dzikir.
-
Al-Harith Al-Muhasibi
- Dzikir: Astaghfirullāh al-‘Aẓīm
- Cara: Dibaca secara istikamah untuk membersihkan hati dari dosa dan menguatkan kesadaran ruhani.
-
Al-Khatib Al-Baghdadi
- Dzikir: Lā ilāha illā Allāh, Muḥammadur Rasūlullāh
- Cara: Dibaca dengan penuh keyakinan sebagai bentuk tajdidul iman (memperbaharui keimanan).
-
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
- Dzikir: Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl
- Cara: Dibaca terutama saat menghadapi kesulitan dan tantangan hidup.
11-20: Manfaat dan Pengaruh Dzikir
- Imam Al-Qusyairi
- Dzikir: Yā Ḥalīm, Yā Karīm
- Cara: Dibaca saat ingin menenangkan diri dari amarah dan memperoleh kelembutan hati.
- Abu Hasan Asy-Syadzili
- Dzikir: Lā ilāha illallāh al-Malikul Haqqul Mubīn
- Cara: Dibaca 100 kali sehari untuk memperoleh cahaya batin.
- Al-Imam Al-Haddad
- Dzikir: Yā Ḥayy Yā Qayyūm, bi raḥmatika astaghīth
- Cara: Dibaca saat membutuhkan pertolongan dan keberkahan Allah.
- Syekh Ahmad Ar-Rifa’i
- Dzikir: Yā Latīf, Yā Wadūd
- Cara: Dibaca berulang dengan kelembutan hati dan penuh cinta kepada Allah.
- Al-Hakim At-Tirmidzi
- Dzikir: Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad
- Cara: Bershalawat dengan istiqamah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
- Syekh Ibnu ‘Ajibah
- Dzikir: Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh
- Cara: Dibaca setiap hari untuk mendapatkan kekuatan ruhani.
- Imam Abu Madyan
- Dzikir: Allāh, Allāh, Allāh
- Cara: Mengulang nama Allah dalam keadaan hening dan penuh konsentrasi.
- Abu Sa’id Al-Kharraz
- Dzikir: Subḥānallāhi wa biḥamdih, subḥānallāhil ‘Aẓīm
- Cara: Dibaca setiap pagi dan sore sebagai bentuk pengagungan kepada Allah.
- Abu Ali Ad-Daqqaq
- Dzikir: Allāhumma inni as’aluka ridhāka wal-jannah
- Cara: Dibaca setiap hari untuk mencari keridhaan Allah.
- Imam As-Suhrawardi
- Dzikir: Yā Nūr, Yā Ḥaqq
- Cara: Dilakukan dalam keadaan gelap atau hening untuk menyerap cahaya spiritual.
21-30: Dzikir Sebagai Jalan Menuju Ma’rifat
- Al-Hallaj
- Dzikir: Ana al-Ḥaqq (Aku adalah Kebenaran – dalam makna fana’ fillah)
- Cara: Dzikir dalam kesadaran fana' (lenyap dalam kehadiran Allah).
- Al-Fudhayl bin ‘Iyadh
- Dzikir: Rabbi yassir wa lā tu‘assir
- Cara: Dibaca untuk memohon kemudahan dalam segala urusan.
- Imam Syibli
- Dzikir: Allāh… Allāh…
- Cara: Dibaca perlahan hingga hati menyadari kehadiran Allah.
- Syekh Yusuf An-Nabhani
- Dzikir: Bismillāhilladhī lā yaḍurru ma‘a ismihi shay’un fī al-arḍi walā fī as-samā’
- Cara: Dibaca setiap pagi dan petang untuk perlindungan.
- Al-Muhasibi
- Dzikir: Yā Ḥakam, Yā ‘Adl
- Cara: Dibaca saat ingin mendapatkan ketenangan dalam keputusan hidup.
- Ibnu Al-Jauzi
- Dzikir: Rabbi innī lima anzalta ilayya min khayrin faqīr
- Cara: Dibaca dalam kondisi kesulitan finansial atau kebutuhan lain.
- Imam Adz-Dzahabi
- Dzikir: Lā ilāha illallāh wahdahu lā syarīka lah…
- Cara: Dibaca 100 kali sehari.
- Imam Al-Kattani
- Dzikir: Yā Allāh, Yā Rahmān, Yā Raḥīm
- Cara: Dibaca dengan hati yang penuh pengharapan.
- Abu Abdullah Al-Maghribi
- Dzikir: Yā Salām, Yā Mu’min
- Cara: Dibaca untuk ketenangan hati.
- Ibnu Mas’ud
- Dzikir: Yā Rabb, Yā Ilāhī
- Cara: Dzikir dalam kondisi pasrah total kepada Allah.
Berikut adalah dzikir dan cara dzikir dari 28 ulama tasawuf, disertai dengan jumlah pengulangan yang dianjurkan:
1-10: Hakikat dan Kedudukan Dzikir
-
Imam Al-Ghazali
- Dzikir: Lā ilāha illā Allāh
- Cara: Dilakukan dengan hati yang hadir dan penuh penghayatan.
- Jumlah: 100–1000 kali sehari.
-
Ibn Atha’illah As-Sakandari
- Dzikir: Allāh… Allāh… Allāh…
- Cara: Mengulang Nama Allah dalam keadaan khusyuk.
- Jumlah: 100–300 kali sehari.
-
Al-Junayd Al-Baghdadi
- Dzikir: Yā Ḥayyu Yā Qayyūm
- Cara: Dilakukan secara perlahan dengan kesadaran penuh.
- Jumlah: 100 kali setelah shalat.
-
Sahl bin Abdullah At-Tustari
- Dzikir: Allāh ma’ī, Allāh nāẓirī, Allāh syāhidī
- Cara: Selalu dihadirkan dalam hati sepanjang waktu.
- Jumlah: Tidak dibatasi.
-
Abu Yazid Al-Busthami
- Dzikir: Lā ilāha illā Anta Subḥānaka innī kuntu minaz-zālimīn
- Cara: Dibaca dengan perasaan tunduk dan merendahkan diri.
- Jumlah: 100 kali sehari.
-
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
- Dzikir: Hu… Hu… Hu…
- Cara: Dibaca dengan napas yang teratur.
- Jumlah: 1000 kali sehari.
-
Imam An-Nawawi
- Dzikir: Subḥānallāh, walḥamdulillāh, wa lā ilāha illallāh, wa Allāhu Akbar
- Cara: Dibaca setelah shalat dan setiap saat.
- Jumlah: 33–100 kali setelah shalat.
-
Al-Harith Al-Muhasibi
- Dzikir: Astaghfirullāh al-‘Aẓīm
- Cara: Dibaca untuk pembersihan hati.
- Jumlah: 70–100 kali sehari.
-
Al-Khatib Al-Baghdadi
- Dzikir: Lā ilāha illā Allāh, Muḥammadur Rasūlullāh
- Cara: Dibaca sebagai pembaruan iman.
- Jumlah: Tidak dibatasi.
-
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
- Dzikir: Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl
- Cara: Dibaca saat menghadapi kesulitan.
- Jumlah: 100 kali sehari.
11-20: Manfaat dan Pengaruh Dzikir
- Imam Al-Qusyairi
- Dzikir: Yā Ḥalīm, Yā Karīm
- Cara: Dibaca untuk memperoleh ketenangan hati.
- Jumlah: 100 kali sehari.
- Abu Hasan Asy-Syadzili
- Dzikir: Lā ilāha illallāh al-Malikul Haqqul Mubīn
- Cara: Dibaca untuk memperoleh cahaya batin.
- Jumlah: 100 kali sehari.
- Al-Imam Al-Haddad
- Dzikir: Yā Ḥayy Yā Qayyūm, bi raḥmatika astaghīth
- Cara: Dibaca saat membutuhkan pertolongan Allah.
- Jumlah: 40 kali sehari.
- Syekh Ahmad Ar-Rifa’i
- Dzikir: Yā Latīf, Yā Wadūd
- Cara: Dibaca dengan penuh kelembutan dan cinta.
- Jumlah: 100 kali sehari.
- Al-Hakim At-Tirmidzi
- Dzikir: Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad
- Cara: Dibaca untuk memperoleh keberkahan.
- Jumlah: 300–1000 kali sehari.
- Syekh Ibnu ‘Ajibah
- Dzikir: Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh
- Cara: Dibaca setiap hari untuk mendapatkan kekuatan ruhani.
- Jumlah: 100 kali sehari.
- Imam Abu Madyan
- Dzikir: Allāh, Allāh, Allāh
- Cara: Mengulang Nama Allah dalam keadaan hening.
- Jumlah: 1000 kali sehari.
- Abu Sa’id Al-Kharraz
- Dzikir: Subḥānallāhi wa biḥamdih, subḥānallāhil ‘Aẓīm
- Cara: Dibaca setiap pagi dan sore.
- Jumlah: 100 kali pagi dan sore.
- Abu Ali Ad-Daqqaq
- Dzikir: Allāhumma inni as’aluka ridhāka wal-jannah
- Cara: Dibaca setiap hari untuk mencari keridhaan Allah.
- Jumlah: 70 kali sehari.
- Imam As-Suhrawardi
- Dzikir: Yā Nūr, Yā Ḥaqq
- Cara: Dilakukan dalam keadaan hening untuk menyerap cahaya spiritual.
- Jumlah: 100 kali sehari.
21-28: Dzikir Sebagai Jalan Menuju Ma’rifat
- Al-Hallaj
- Dzikir: Ana al-Ḥaqq
- Cara: Dzikir dalam kesadaran fana' fillah.
- Jumlah: Tidak dibatasi.
- Al-Fudhayl bin ‘Iyadh
- Dzikir: Rabbi yassir wa lā tu‘assir
- Cara: Dibaca saat menghadapi kesulitan.
- Jumlah: 100 kali sehari.
- Imam Syibli
- Dzikir: Allāh… Allāh…
- Cara: Dibaca perlahan hingga hati menyadari kehadiran Allah.
- Jumlah: 1000 kali sehari.
- Syekh Yusuf An-Nabhani
- Dzikir: Bismillāhilladhī lā yaḍurru ma‘a ismihi shay’un
- Cara: Dibaca setiap pagi dan petang untuk perlindungan.
- Jumlah: 3 kali pagi dan sore.
- Al-Muhasibi
- Dzikir: Yā Ḥakam, Yā ‘Adl
- Cara: Dibaca untuk memperoleh ketenangan hati.
- Jumlah: 100 kali sehari.
- Ibnu Al-Jauzi
- Dzikir: Rabbi innī lima anzalta ilayya min khayrin faqīr
- Cara: Dibaca saat membutuhkan rezeki.
- Jumlah: 70 kali sehari.
- Imam Adz-Dzahabi
- Dzikir: Lā ilāha illallāh wahdahu lā syarīka lah…
- Cara: Dibaca 100 kali sehari.
- Imam Al-Kattani
- Dzikir: Yā Allāh, Yā Rahmān, Yā Raḥīm
- Cara: Dibaca dengan hati yang penuh pengharapan.
- Jumlah: 100 kali sehari.







0 komentar:
Posting Komentar