Berikut adalah salah satu nasihat Ramadan dari Syaikh Abu Zakariya Yahya bin Mu'adz Ar-Razi:
Kutipan:
"Sesungguhnya orang yang dermawan di dunia adalah kekasih Allah, dan di bulan Ramadan, kemurahan hati itu lebih dicintai lagi oleh-Nya. Maka, berusahalah menjadi orang yang dermawan dalam bulan-Nya, sebagaimana engkau menginginkan kemurahan-Nya kepadamu."
Sumber:
Kata-kata hikmah ini dinisbatkan kepada Yahya bin Mu'adz Ar-Razi dalam berbagai kitab tasawuf dan nasihat salaf, meskipun tidak selalu ditemukan dalam kitab khusus. Salah satu referensi yang memuat hikmah serupa adalah dalam "Shifat ash-Shafwah" karya Ibnu al-Jawzi, yang sering kali mencantumkan nasihat-nasihat ulama salaf termasuk beliau.
Syaikh Abu Zakariya Yahya bin Mu’adz Ar-Razi: Sufi Cinta Ilahi
1. Pendahuluan: Siapakah Yahya bin Mu’adz Ar-Razi?
Syaikh Abu Zakariya Yahya bin Mu’adz Ar-Razi (wafat 258 H / 872 M) adalah seorang sufi besar yang dikenal sebagai "Raja Para Ahli Mahabbah" karena ajarannya yang menekankan cinta Ilahi (mahabbah) sebagai inti tasawuf.
Beliau berasal dari Rayy (Iran modern) dan dikenal karena kecintaan yang mendalam kepada Allah, ungkapan hikmah yang menyentuh hati, serta kelembutan dalam berdakwah.
Ajaran-ajarannya banyak dikutip oleh para sufi setelahnya, terutama dalam aspek mahabbah, ridha, dan tawakkal kepada Allah.
2. Kehidupan dan Perjalanan Spiritual
A. Kelahiran dan Masa Muda
Yahya bin Mu’adz lahir di Rayy, Persia (Iran modern) pada awal abad ke-3 Hijriyah. Sejak kecil, ia sudah dikenal cerdas, berbudi luhur, dan sangat mencintai ilmu agama.
Ia tumbuh di tengah lingkungan yang kaya dengan ilmu hadis, fiqih, dan tasawuf. Semakin dewasa, hatinya cenderung kepada kehidupan zuhud dan tasawuf.
B. Pencarian Ilmu dan Guru-Gurunya
Beliau belajar dari banyak ulama besar, baik dalam bidang tasawuf maupun ilmu syariat.
Guru-gurunya antara lain:
- Syaikh Ahmad bin Khadhrawaih – Mengajarkan konsep zuhud dan wara’.
- Para sufi di Khurasan dan Balkh – Memperdalam pemahaman tentang mahabbah dan makrifat.
Setelah mendalami ilmu agama, beliau mulai berdakwah dan menyebarkan ajaran cinta kepada Allah.
C. Hijrah ke Naysabur dan Balkh
Setelah beberapa tahun di Rayy, Yahya bin Mu’adz pindah ke Naysabur dan Balkh, dua pusat ilmu Islam saat itu.
Di sana, beliau semakin dikenal sebagai seorang sufi yang lembut, penuh cinta, dan memiliki kata-kata hikmah yang menyentuh hati.
3. Ajaran dan Konsep Spiritual
A. Mahabbah (Cinta Ilahi) sebagai Inti Tasawuf
Yahya bin Mu’adz adalah pelopor konsep cinta Ilahi dalam tasawuf.
Beliau berkata:
"Sebesar apa cintamu kepada dunia, sebesar itu pula rasa takutmu kepada akhirat akan berkurang."
Baginya, ibadah harus didasari cinta, bukan semata-mata karena takut atau berharap pahala.
B. Ridha kepada Allah
Salah satu ajaran utamanya adalah ridha kepada ketentuan Allah.
Beliau berkata:
"Orang yang mengenal Allah akan ridha dengan setiap ketetapan-Nya, karena ia tahu bahwa segala yang datang dari Allah adalah kebaikan."
Ia mengajarkan bahwa seorang hamba yang sempurna adalah yang menyerahkan seluruh kehidupannya kepada Allah tanpa keluhan.
C. Tawakkal dan Keyakinan kepada Allah
Yahya bin Mu’adz juga menekankan pentingnya tawakkal yang sempurna.
Beliau berkata:
"Jika engkau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, maka engkau tidak akan pernah merasa takut kehilangan dunia."
Baginya, seseorang yang benar-benar mengenal Allah tidak akan pernah khawatir tentang rezeki atau masa depan.
D. Hubungan dengan Dunia
Beliau sangat menjauhi kemewahan dan popularitas.
Ia berkata:
"Dunia ini hanya tempat singgah, bukan tempat tinggal. Maka janganlah engkau terlalu mencintainya."
Ajarannya menekankan bahwa seorang sufi harus memusatkan hatinya hanya kepada Allah dan tidak tergoda dengan kesenangan dunia.
4. Kata-Kata Mutiara Yahya bin Mu’adz Ar-Razi
A. Tentang Cinta Ilahi
- "Cinta kepada Allah adalah ruh kehidupan. Tanpa cinta, seorang hamba hanya bergerak tanpa makna."
- "Barang siapa mencintai Allah, maka ia tidak akan pernah merasa kehilangan apa pun di dunia ini."
- "Cinta kepada Allah adalah cahaya. Barang siapa mendapatkannya, ia tidak akan lagi terperangkap dalam kegelapan dunia."
B. Tentang Zuhud
- "Dunia hanyalah fatamorgana. Barang siapa mengejarnya, ia akan lelah tanpa hasil."
- "Orang yang mencintai dunia, hatinya tidak akan bisa merasakan ketenangan sejati."
- "Dunia ini adalah perhiasan yang menipu. Jangan biarkan hatimu tertipu olehnya."
C. Tentang Tawakkal dan Ridha
- "Siapa yang mengenal Allah, ia tidak akan khawatir tentang rezekinya."
- "Ketika engkau menyerahkan hidupmu sepenuhnya kepada Allah, maka tiada lagi kekhawatiran dalam hatimu."
- "Ridha kepada Allah adalah surga sebelum surga yang sesungguhnya."
5. Kontroversi dan Tantangan
A. Ditentang oleh Ahli Dunia
Sebagian orang yang mencintai dunia tidak menyukai ajarannya karena ia selalu mengingatkan bahaya cinta dunia.
Beberapa pemimpin dan orang kaya merasa terganggu dengan dakwahnya, karena Yahya bin Mu’adz sering memperingatkan mereka tentang kesombongan dan kemewahan dunia.
B. Pandangannya tentang Surga dan Neraka
Yahya bin Mu’adz pernah berkata:
"Aku tidak menyembah Allah karena takut neraka atau mengharap surga. Aku menyembah-Nya karena Dia memang layak untuk disembah."
Sebagian ulama fiqih menganggap pernyataan ini berlebihan, tetapi para sufi memahami bahwa itu adalah ekspresi dari cinta yang mendalam kepada Allah.
6. Wafat dan Warisan Spiritual
A. Wafatnya Yahya bin Mu’adz
Beliau wafat pada 258 H (872 M) dan dimakamkan di Naysabur.
Kematiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia tasawuf, karena beliau adalah salah satu sufi yang mengajarkan cinta Ilahi dengan cara yang sangat indah.
B. Pengaruh di Kalangan Sufi
Ajarannya mempengaruhi banyak sufi besar setelahnya, seperti:
- Jalaluddin Rumi – Mengembangkan konsep cinta Ilahi dalam syair-syairnya.
- Abu Hamid Al-Ghazali – Mengajarkan pentingnya mahabbah dalam ibadah.
- Abu Sa’id Al-Kharraz – Memperdalam konsep makrifat dan kedekatan kepada Allah.
C. Pengaruh di Dunia Islam
Ajaran Yahya bin Mu’adz terus berpengaruh dalam berbagai tarekat sufi, terutama dalam tarekat yang menekankan cinta dan kedekatan kepada Allah.
Banyak ulama dan sufi mengutip kata-kata hikmahnya sebagai inspirasi bagi mereka yang ingin mendekat kepada Allah dengan cinta.
Kesimpulan: Mengapa Yahya bin Mu’adz Ar-Razi Begitu Istimewa?
- Pelopor ajaran mahabbah (cinta Ilahi) dalam tasawuf.
- Mengajarkan ibadah yang tulus, bukan karena takut atau berharap pahala.
- Menjadi inspirasi bagi banyak sufi besar setelahnya.
- Meninggalkan banyak kata-kata hikmah yang tetap relevan hingga kini.
Syaikh Yahya bin Mu’adz Ar-Razi adalah teladan bagi siapa saja yang ingin menyembah Allah dengan cinta yang tulus dan penuh keikhlasan.







0 komentar:
Posting Komentar