Kisah Nabi Isa ‘alayhis salam dalam Kitab Qashash al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir
Kisah Nabi Isa ‘alayhis salam dalam kitab Qashash al-Anbiya’ cukup panjang dan terperinci. Ibnu Katsir membahasnya berdasarkan Al-Qur'an, hadits-hadits Nabi ﷺ, serta beberapa riwayat dari sumber Bani Israil yang dapat diterima. Berikut adalah ringkasan detailnya:
1. Kelahiran yang Ajaib
Nabi Isa ‘alayhis salam dilahirkan tanpa ayah. Ibunya, Maryam binti Imran, adalah seorang wanita salehah yang suci dan mendapatkan pemeliharaan langsung dari Allah. Allah mengutus Malaikat Jibril untuk menyampaikan kabar gembira kepada Maryam bahwa ia akan memiliki seorang anak laki-laki tanpa disentuh oleh laki-laki mana pun.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
إِذْ قَالَتِ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ يَـٰمَرْيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍۢ مِّنْهُ ٱسْمُهُ ٱلْمَسِيحُ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًۭا فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْـَٔاخِرَةِ وَمِنَ ٱلْمُقَرَّبِينَ
"Ketika para malaikat berkata: 'Wahai Maryam, sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepadamu dengan sebuah kalimat daripada-Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah.'"
(QS. Ali Imran: 45)
Ketika Maryam melahirkan, ia pergi ke tempat terpencil dan mengalami kesulitan luar biasa. Allah menenangkannya dan memudahkan persalinannya dengan menumbuhkan pohon kurma dan mengalirkan air di dekatnya. Setelah melahirkan, Maryam kembali kepada kaumnya yang langsung menuduhnya berzina. Namun, Allah memberikan mukjizat pertama kepada Isa ‘alayhis salam: ia berbicara dalam buaian untuk membela ibunya dan menegaskan bahwa ia adalah hamba Allah dan seorang nabi.
2. Mukjizat Nabi Isa
Sejak kecil, Nabi Isa ‘alayhis salam dikaruniai berbagai mukjizat, di antaranya:
- Berbicara dalam buaian (QS. Maryam: 30-33)
- Membentuk burung dari tanah liat dan menghidupkannya dengan izin Allah (QS. Ali Imran: 49)
- Menyembuhkan orang buta dan penderita kusta (QS. Ali Imran: 49)
- Menghidupkan orang mati dengan izin Allah (QS. Ali Imran: 49)
- Mengetahui apa yang disimpan oleh orang di rumah mereka (QS. Ali Imran: 49)
Mukjizat-mukjizat ini menjadi bukti kenabiannya, tetapi juga menimbulkan kecemburuan dan kebencian dari Bani Israil, terutama para pemuka agama mereka.
3. Dakwah Nabi Isa
Nabi Isa ‘alayhis salam diutus kepada Bani Israil untuk meluruskan penyimpangan yang terjadi dalam ajaran mereka. Ia mengajarkan tauhid, menyeru kepada ibadah kepada Allah, dan membantah distorsi yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap kitab Taurat.
Sebagian besar Bani Israil menolak ajarannya, tetapi ada sekelompok kecil yang beriman kepadanya, yang disebut sebagai Hawariyyun (para pengikut setia). Mereka inilah yang berjanji akan mendukung Nabi Isa dalam menyampaikan risalahnya.
Allah berfirman:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ أَنصَارَ ٱللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّۦنَ مَنْ أَنصَارِىٓ إِلَى ٱللَّهِ ۖ قَالَ ٱلْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian penolong-penolong agama Allah sebagaimana Isa putra Maryam berkata kepada para pengikutnya: ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku di jalan Allah?’ Para pengikut setia menjawab: ‘Kami adalah penolong-penolong agama Allah.’"
(QS. As-Saff: 14)
4. Fitnah terhadap Nabi Isa dan Upaya Penyaliban
Pemuka Yahudi yang iri kepada Nabi Isa bersekongkol dengan penguasa Romawi untuk menyingkirkannya. Mereka menuduhnya sebagai pemberontak dan akhirnya meminta agar ia dihukum mati dengan cara disalib.
Namun, dalam Islam, Nabi Isa tidak disalib dan tidak dibunuh. Allah berfirman:
وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ
"Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka."
(QS. An-Nisa: 157)
Menurut Ibnu Katsir dan tafsir para ulama, salah satu murid Nabi Isa (kemungkinan Yudas Iskariot) diserupakan wajahnya dengan Isa, sehingga dialah yang ditangkap dan disalib oleh orang-orang Romawi.
5. Diangkatnya Nabi Isa ke Langit
Ketika situasi semakin membahayakan, Allah mengangkat Nabi Isa ke langit dan menyelamatkannya dari pembunuhan.
بَل رَّفَعَهُ ٱللَّهُ إِلَيْهِ ۚ
"Tetapi (sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya."
(QS. An-Nisa: 158)
Nabi Isa masih hidup dan berada di langit. Ia akan kembali ke dunia menjelang Hari Kiamat untuk membunuh Dajjal, memerintah dengan keadilan, dan akhirnya wafat seperti manusia lainnya.
6. Kedatangan Kembali di Akhir Zaman
Menurut hadits-hadits shahih, menjelang Kiamat, Nabi Isa ‘alayhis salam akan turun kembali ke bumi di dekat Menara Putih di Damaskus. Ia akan:
- Membunuh Dajjal, pemimpin fitnah terbesar.
- Memerintah dengan syariat Islam yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ.
- Mematahkan salib dan menghapus klaim keilahian dirinya.
- Membantu menyebarkan Islam hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di bumi.
Baik, saya akan menambahkan beberapa detail berdasarkan kitab Qashash al-Anbiya’ Ibnu Katsir serta referensi lain yang berkaitan dengan kisah Nabi Isa ‘alayhis salam dalam Islam.
7. Nasab dan Keutamaan Keluarga Nabi Isa
Nabi Isa berasal dari keturunan yang sangat mulia. Ia adalah putra Maryam binti Imran, seorang wanita salehah yang dipilih oleh Allah untuk melahirkan seorang nabi tanpa perantara seorang suami.
Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya’ menjelaskan bahwa Maryam berasal dari keturunan Nabi Dawud ‘alayhis salam, yang berarti Isa juga memiliki garis keturunan dari keluarga para nabi. Hal ini memperjelas bahwa Allah memilih keluarga yang paling mulia untuk menurunkan seorang nabi besar.
Dalam Al-Qur’an, Allah memuliakan Maryam dengan menyebutnya sebagai wanita terbaik:
وَإِذْ قَالَتِ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ يَـٰمَرْيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰكِ وَطَهَّرَكِ وَٱصْطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلْعَـٰلَمِينَ
"Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata: 'Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu atas semua wanita di dunia.’"
(QS. Ali Imran: 42)
8. Pengaruh Ajaran Nabi Isa terhadap Bani Israil
Nabi Isa ‘alayhis salam membawa ajaran yang bertujuan untuk memperbaiki penyimpangan dalam ajaran Taurat. Salah satu penyimpangan terbesar yang terjadi pada masa itu adalah dominasi pemuka agama yang menyelewengkan hukum-hukum Allah untuk kepentingan pribadi mereka.
Isa menyeru Bani Israil kepada kemurnian tauhid dan mengajarkan kasih sayang, keadilan, serta ibadah yang ikhlas kepada Allah. Namun, ajarannya justru ditentang oleh sebagian besar kaum Yahudi, terutama para pemuka agama yang merasa terancam kedudukannya.
Menurut Ibnu Katsir, para pemuka Yahudi menghasut bangsa Romawi agar melihat Nabi Isa sebagai ancaman politik yang harus dihancurkan. Hal inilah yang akhirnya memicu persekongkolan untuk membunuhnya.
9. Mukjizat Lain Nabi Isa yang Jarang Dibahas
Selain mukjizat yang sering disebutkan, ada beberapa riwayat yang menyebutkan mukjizat Nabi Isa yang jarang dibahas, seperti:
- Membantu panen hasil pertanian dengan doanya: Sebagian ulama tafsir menyebut bahwa Isa pernah berdoa sehingga hasil panen suatu kaum menjadi berlimpah.
- Mengusir jin dari tubuh orang yang kerasukan: Beberapa riwayat menyebut bahwa Isa memiliki kemampuan menyembuhkan orang yang kerasukan setan dengan izin Allah.
- Memperlihatkan keadaan alam gaib: Sebagian pengikutnya pernah diberi kemampuan melihat sebagian dari hal-hal yang tersembunyi.
10. Perbedaan dengan Ajaran Kristen
Ibnu Katsir menegaskan dalam Qashash al-Anbiya’ bahwa Islam menolak konsep ketuhanan Isa dan doktrin trinitas yang diajarkan dalam Kristen. Nabi Isa bukan Tuhan atau anak Tuhan, melainkan seorang hamba dan rasul Allah yang diutus kepada Bani Israil.
Allah berfirman:
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَ ۖ خَلَقَهُۥ مِن تُرَابٍۢ ثُمَّ قَالَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
"Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berfirman kepadanya, 'Jadilah!' maka jadilah sesuatu itu."
(QS. Ali Imran: 59)
Ibnu Katsir menekankan bahwa Nabi Isa sendiri tidak pernah mengajarkan dirinya sebagai Tuhan. Justru dalam banyak ayat Al-Qur’an, ia menegaskan dirinya sebagai seorang hamba Allah.
11. Keberlanjutan Ajaran Nabi Isa
Setelah diangkat ke langit, ajaran Nabi Isa mengalami berbagai penyimpangan oleh pengikutnya sendiri. Beberapa kelompok tetap berpegang pada tauhid, tetapi sebagian besar mulai mengadopsi kepercayaan yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani dan paganisme Romawi.
Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya’ menjelaskan bahwa setelah Isa diangkat, ada perbedaan pendapat di antara pengikutnya:
- Sebagian menyatakan bahwa Isa adalah hamba dan nabi Allah.
- Sebagian mengatakan Isa adalah anak Tuhan.
- Sebagian lagi mengatakan Isa adalah Tuhan sendiri.
Kelompok yang terakhir inilah yang akhirnya berkembang menjadi ajaran Kristen modern, terutama setelah Konsili Nicea (325 M), di mana konsep ketuhanan Isa ditegaskan dalam doktrin gereja.
12. Kepemimpinan Nabi Isa Ketika Turun Kembali
Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Nabi Isa akan turun kembali di akhir zaman, tetapi bukan sebagai nabi yang membawa syariat baru. Sebaliknya, ia akan mengikuti syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil hadits-hadits yang menyebutkan bahwa ketika Isa turun kembali, ia akan:
- Membunuh Dajjal, pemimpin fitnah terbesar di akhir zaman.
- Mematahkan salib, sebagai simbol bahwa ia tidak disalib.
- Menghapus jizyah, karena seluruh manusia saat itu akan masuk Islam.
- Memimpin dengan keadilan dan ketakwaan.
Hadits Nabi ﷺ:
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh akan turun kepada kalian Isa putra Maryam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapus jizyah. Harta akan berlimpah sehingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya."
(HR. Bukhari, Muslim)
13. Wafat Nabi Isa Setelah Turun Kembali
Menurut Ibnu Katsir dan para ulama tafsir lainnya, setelah Isa memimpin dunia dalam keadilan, ia akhirnya akan meninggal seperti manusia biasa.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Isa akan hidup selama 40 tahun setelah turun kembali, kemudian wafat dan dimakamkan di bumi. Beberapa riwayat menyebut bahwa ia akan dimakamkan di dekat makam Nabi Muhammad ﷺ di Madinah.
Kesimpulan Tambahan
- Nabi Isa adalah nabi terakhir dari Bani Israil dan membawa ajaran tauhid.
- Tidak disalib, tetapi diangkat ke langit oleh Allah dan akan kembali di akhir zaman.
- Ajarannya mengalami distorsi oleh pengikutnya, sehingga muncul konsep trinitas.
- Ketika kembali ke bumi, ia akan mengikuti syariat Islam dan memimpin dengan adil.
- Setelah menyempurnakan tugasnya, ia akan wafat seperti manusia biasa.
Penjelasan ini menambahkan beberapa detail yang mungkin kurang dibahas dalam Qashash al-Anbiya’, tetapi masih sesuai dengan prinsip yang diajarkan oleh Ibnu Katsir dan tafsir ulama lainnya.
TASAWUF dalam ajaran Nabi Isa ‘alayhis salam memiliki beberapa aspek utama yang menekankan zuhud, kesabaran, cinta kasih, dan keyakinan penuh kepada Allah. Berikut beberapa sisi utama tasawuf yang bisa diambil dari ajaran Nabi Isa ‘alayhis salam:
1. Zuhud dan Kesederhanaan
Nabi Isa dikenal sebagai nabi yang menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa beliau tidak memiliki rumah tetap dan sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengajarkan kebaikan dan mengingatkan manusia agar tidak terikat dengan dunia.
➡ Dikatakan bahwa Nabi Isa pernah berkata:
"Dunia ini adalah jembatan, maka lintasilah dan janganlah kamu menetap di atasnya." (Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali)
Ini adalah inti dari zuhud dalam tasawuf, yaitu memandang dunia hanya sebagai tempat persinggahan sementara.
2. Tawakal dan Kepasrahan kepada Allah
Tasawuf mengajarkan bahwa manusia harus bersandar sepenuhnya kepada Allah, dan ini sangat tampak dalam kehidupan Nabi Isa. Beliau tidak mengkhawatirkan rezekinya, tidak mengumpulkan harta, dan hanya bergantung kepada pemberian Allah.
➡ Dalam Injil dan berbagai kitab Islam disebutkan bahwa Nabi Isa berkata:
"Lihatlah burung-burung di udara: mereka tidak menanam dan tidak menuai, tetapi Allah memberi mereka makan."
Ini mencerminkan sikap tawakal yang mendalam, sebagaimana diajarkan dalam tasawuf.
3. Kesabaran dalam Ujian
Nabi Isa menghadapi banyak cobaan, termasuk penolakan dari kaumnya sendiri. Namun, beliau tetap bersabar dan menyerahkan segala urusan kepada Allah. Para sufi meneladani ini dalam menghadapi ujian hidup tanpa mengeluh.
➡ Dalam salah satu riwayat, disebutkan bahwa beliau berkata:
"Apabila seseorang menampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu."
Pesan ini menekankan kesabaran dan menghindari balas dendam, yang merupakan inti dari akhlak seorang sufi.
4. Cinta Kasih dan Kasih Sayang
Salah satu aspek utama dari ajaran Nabi Isa adalah cinta kasih, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Tasawuf juga menekankan pentingnya mahabbah (cinta) sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah.
➡ Para sufi sering mengutip ajaran Nabi Isa:
"Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri."
Dalam tasawuf, cinta kepada makhluk adalah cerminan dari cinta kepada Sang Khalik.
5. Kekhusyukan dalam Ibadah
Dalam kitab-kitab sufi disebutkan bahwa Nabi Isa sering beribadah dalam kesendirian, berpuasa, dan bermunajat kepada Allah. Ini adalah contoh praktik khalwah (menyendiri untuk beribadah), yang juga ditekankan dalam tasawuf.
➡ Al-Qur’an menyebutkan:
"Dan Kami jadikan putra Maryam dan ibunya sebagai tanda (kebesaran Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu dataran tinggi yang tenang dan memiliki sumber air." (QS. Al-Mu’minun: 50)
Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Isa memilih hidup dalam kesunyian dan lebih banyak beribadah di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk dunia.
6. Penolakan terhadap Kepemilikan Dunia
Para sufi sering meneladani ajaran Nabi Isa tentang tidak merasa memiliki dunia. Nabi Isa pernah berkata:
"Apa yang kalian takutkan dari kemiskinan? Orang kaya makan makanan yang sama dengan orang miskin. Keduanya pun akan mendapatkan kematian yang sama."
Ini sejalan dengan konsep tasawuf bahwa dunia bukanlah kepemilikan sejati, dan seorang hamba harus mengosongkan hatinya dari cinta dunia agar bisa dipenuhi dengan cinta kepada Allah.
Kesimpulan
Nabi Isa adalah teladan bagi para sufi dalam kehidupan zuhud, kesabaran, cinta kasih, dan tawakal kepada Allah. Para ulama tasawuf seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Arabi, dan lainnya sering mengutip ajaran beliau sebagai inspirasi dalam perjalanan spiritual menuju Allah.
Berikut beberapa referensi dari kitab-kitab sufi yang membahas aspek tasawuf Nabi Isa ‘alayhis salam:
1. Ihya’ Ulumuddin – Imam Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengutip banyak perkataan dan kisah tentang Nabi Isa yang berkaitan dengan zuhud dan kesederhanaan. Salah satunya:
➡ Zuhud Nabi Isa
"Nabi Isa pernah ditanya, 'Wahai Rohullah, siapa yang mengajarkan zuhud kepadamu?' Beliau menjawab, 'Aku melihat dunia dengan mata kepastian, dan aku tahu bahwa ia bukan tempat tinggal yang kekal. Maka, aku pun membencinya.'" (Ihya’ Ulumuddin, Kitab Zuhud)
2. Al-Risalah Al-Qusyairiyyah – Imam Al-Qusyairi
Imam Al-Qusyairi dalam kitab ini membahas kesabaran Nabi Isa dalam menghadapi ujian.
➡ Kesabaran Nabi Isa
"Nabi Isa berkata, 'Janganlah kalian membalas keburukan dengan keburukan. Jika seseorang menampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu.' Ini adalah hakikat kesabaran yang sempurna." (Al-Risalah Al-Qusyairiyyah, Bab Kesabaran)
3. Futuhat Al-Makkiyyah – Ibnu Arabi
Ibnu Arabi dalam Futuhat Al-Makkiyyah membahas bahwa Nabi Isa adalah salah satu simbol makrifat karena beliau hidup tanpa keterikatan duniawi.
➡ Makrifat dan Kesederhanaan Nabi Isa
"Nabi Isa adalah lambang orang yang telah mencapai makrifat sejati. Beliau tidak memiliki rumah, tidak memiliki harta, dan hanya bergantung kepada Allah. Dalam keadaan demikian, beliau memiliki seluruh alam karena hatinya penuh dengan Allah." (Futuhat Al-Makkiyyah, Bab Makrifat)
4. Kitab At-Tanwir fi Isqat At-Tadbir – Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari
Dalam kitab ini, Ibnu Atha’illah menyebutkan bahwa Nabi Isa adalah teladan bagi mereka yang meninggalkan perencanaan duniawi dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.
➡ Tawakal Nabi Isa
"Nabi Isa berkata, ‘Janganlah kalian khawatir tentang makanan esok hari, karena Tuhan yang memberi makan hari ini juga akan memberi makan esok hari.’ Ini adalah hakikat tawakal sejati." (At-Tanwir fi Isqat At-Tadbir, Bab Tawakal)
5. Al-Hikam – Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari
Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam juga menyinggung tentang ajaran Nabi Isa mengenai pentingnya hati yang bersih dari kecintaan dunia.
➡ Kesucian Hati Nabi Isa
_"Ketika ditanya tentang bagaimana cara mendapatkan ketenangan, Nabi Isa menjawab, 'Sucikanlah hati kalian dari kecintaan terhadap dunia, niscaya kalian akan mendapatkan ketenangan.'" (Al-Hikam, Hikmah Zuhud)
6. Tazkirat Al-Auliya – Fariduddin Attar
Fariduddin Attar dalam kitab Tazkirat Al-Auliya menyebutkan kisah Nabi Isa yang menunjukkan sifat kasih sayang dan kelembutan beliau.
➡ Cinta Kasih Nabi Isa
"Ketika seseorang mencela Nabi Isa, beliau berkata, ‘Wahai saudaraku, aku tidak ingin membalas keburukan dengan keburukan. Aku hanya ingin mendoakanmu agar Allah memberimu hidayah.’" (Tazkirat Al-Auliya, Kisah Nabi Isa)
Kesimpulan
Dari kitab-kitab sufi di atas, Nabi Isa digambarkan sebagai sosok yang:
✔ Zuhud, meninggalkan dunia dan hanya bergantung pada Allah.
✔ Bertawakal, tidak mengkhawatirkan rezekinya.
✔ Penuh cinta kasih, tidak membalas keburukan dengan keburukan.
✔ Memiliki makrifat tinggi, hatinya selalu terhubung dengan Allah.
✔ Sabar dalam ujian, tidak mudah terpancing amarah.







0 komentar:
Posting Komentar