Jumat, 14 Maret 2025

Prinsip Tawakkal (Berserah Diri kepada Allah) dalam Tasawuf

GenZArtDoc

Prinsip Tawakkal (Berserah Diri kepada Allah) dalam Tasawuf

Tawakkal adalah prinsip utama dalam tasawuf yang mengajarkan seorang hamba untuk menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah berusaha dengan maksimal. Dalam konsep ini, seseorang menyadari bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah dan tidak ada yang terjadi tanpa izin-Nya.

1. Definisi Tawakkal

Tawakkal berasal dari kata وَكَّلَ (wa-kala) yang berarti mewakilkan atau menyerahkan urusan kepada pihak lain. Dalam tasawuf, tawakkal adalah keyakinan penuh kepada Allah dalam segala hal, tanpa menggantungkan hati pada selain-Nya.

Imam Al-Ghazali mendefinisikan tawakkal sebagai:
"Menjadikan hati bersandar sepenuhnya kepada Allah dalam segala urusan, dengan tetap melakukan usaha sesuai dengan tuntunan syariat."

2. Tingkatan Tawakkal

Menurut para sufi, tawakkal memiliki beberapa tingkatan:

  1. Tawakkal Awam – Bertawakkal kepada Allah setelah berusaha secara maksimal.
  2. Tawakkal Khawas (Orang Pilihan) – Tidak hanya bersandar pada usaha, tetapi juga merasa cukup dengan ketentuan Allah.
  3. Tawakkal Khowwashul Khawas (Orang yang Sangat Dekat dengan Allah) – Tidak lagi melihat sebab-sebab duniawi, melainkan hanya melihat kekuasaan Allah semata.

3. Dalil Al-Qur’an dan Hadits

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
"Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya."
(QS. At-Talaq: 3)

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, maka kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang."
(HR. Tirmidzi, no. 2344)

4. Tawakkal dan Usaha

Tasawuf tidak mengajarkan sikap pasif atau meninggalkan usaha. Sebaliknya, tawakkal harus diiringi dengan ikhtiar. Para ulama sufi seperti Syaikh Abdul Qadir al-Jilani menegaskan bahwa tawakkal yang benar bukanlah meninggalkan usaha, melainkan meyakini bahwa hasilnya ada di tangan Allah.

Imam Asy-Syibli berkata:
"Barang siapa meninggalkan usaha dengan alasan bertawakkal, maka ia telah menyalahi sunah. Dan barang siapa yang hanya bersandar pada usaha, maka ia telah menyalahi tauhid."

5. Tawakkal dalam Kehidupan Sehari-hari

  • Dalam mencari rezeki, seseorang harus bekerja dengan baik dan tidak ragu bahwa Allah-lah yang menentukan hasilnya.
  • Dalam menghadapi ujian, seseorang harus yakin bahwa segala musibah adalah ujian dari Allah yang membawa hikmah.
  • Dalam pengobatan dan kesehatan, seseorang boleh berobat, tetapi hati tetap bergantung kepada Allah.

Kesimpulan

Tawakkal adalah kunci ketenangan hati dan tanda keimanan yang kuat. Dengan tawakkal, seorang sufi tidak lagi terombang-ambing oleh dunia, melainkan selalu ridha dan yakin kepada ketetapan Allah.


Keterangan tentang tawakkal yang saya sampaikan berasal dari berbagai sumber dalam kitab-kitab tasawuf dan tafsir para ulama. Berikut beberapa rujukan utama:

  1. Imam Al-GhazaliIhya’ ‘Ulum ad-Din

    • Al-Ghazali membahas tawakkal dalam bab tentang keyakinan dan akhlak sufi. Ia menegaskan bahwa tawakkal harus diiringi dengan usaha dan sikap ridha terhadap ketentuan Allah.
  2. Syaikh Abdul Qadir Al-JilaniAl-Fath ar-Rabbani

    • Dalam kitab ini, beliau menjelaskan bahwa tawakkal yang benar bukanlah meninggalkan usaha, tetapi menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah.
  3. Imam Ibnu Qayyim Al-JauziyyahMadarij as-Salikin

    • Dalam kitab ini, Ibnu Qayyim menguraikan tingkatan tawakkal, dari level awam hingga kaum sufi yang sangat dekat dengan Allah.
  4. Tafsir Al-Qur’anTafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Qurtubi

    • Ayat QS. At-Talaq: 3 yang menyebutkan “Barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya” dijelaskan dalam kitab-kitab tafsir sebagai janji Allah bagi orang yang benar-benar menyerahkan urusannya kepada-Nya.
  5. Hadits Rasulullah ﷺ

    • Hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi (no. 2344) tentang burung yang mencari rezeki sering dikutip oleh para sufi dalam menjelaskan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakkal.
  6. Imam Asy-Syibli – Dikutip dalam kitab-kitab tasawuf seperti Ar-Risalah al-Qusyairiyyah

    • Pernyataannya tentang keseimbangan antara tawakkal dan usaha menjadi salah satu prinsip utama dalam tasawuf.


Banyak ulama sufi yang membahas tawakkal dalam berbagai kitab mereka dengan perspektif yang berbeda. Berikut beberapa pendapat lainnya:

1. Imam Junaid al-Baghdadi (W. 910 M) – Tawakkal sebagai Kepercayaan Mutlak

Dalam Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, Imam Junaid berkata:

"Tawakkal adalah ketenangan hati kepada Allah sebagaimana seekor anak yang bergantung penuh kepada ibunya. Ia tidak berpaling ke mana pun selain kepada ibunya."

Pendapat ini menunjukkan bahwa tawakkal adalah bentuk ketergantungan total kepada Allah, tanpa rasa ragu.

2. Imam Abu Thalib al-Makki (W. 996 M) – Tawakkal dalam Tiga Tingkatan

Dalam kitab Qut al-Qulub, beliau membagi tawakkal menjadi tiga tingkatan:

  1. Tawakkal orang awam – Mereka bertawakkal kepada Allah tetapi tetap khawatir terhadap dunia.
  2. Tawakkal orang khusus – Mereka bersandar pada Allah tanpa merasa takut terhadap rezeki dan nasib.
  3. Tawakkal para wali dan sufi sejati – Mereka tidak lagi peduli dengan urusan dunia, karena telah menyerahkan semuanya kepada Allah dengan hati yang tenang.

3. Imam Ibnu Atha’illah as-Sakandari (W. 1309 M) – Tawakkal dalam Hikmah Sufi

Dalam Al-Hikam, beliau berkata:

"Sebab terbesar seseorang tidak bertawakkal kepada Allah adalah karena ia belum mengenal-Nya dengan benar."

Beliau menjelaskan bahwa semakin kuat keyakinan seseorang terhadap Allah, semakin besar pula rasa tawakkalnya.

4. Syaikh Ahmad bin Atha’illah – Tawakkal dan Rezeki

Dalam kitab At-Tanwir fi Isqat at-Tadbir, beliau berkata:

"Jika engkau meyakini bahwa rezekimu diatur oleh Allah, maka jangan gelisah dengan takaran-Nya."

Artinya, seorang yang bertawakkal tidak akan resah dengan keadaan ekonominya karena yakin Allah telah mengatur rezekinya.

5. Imam Al-Qusyairi (W. 1072 M) – Tawakkal sebagai Jalan Para Kekasih Allah

Dalam Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, beliau menyebut bahwa:

"Orang yang bertawakkal sejati adalah yang hatinya tetap tenang dalam segala keadaan, baik ketika diberi maupun diuji."

Artinya, seorang sufi yang bertawakkal sejati tidak goyah dengan naik-turunnya kehidupan duniawi.


Kesimpulan

Dari berbagai pendapat ini, ada beberapa poin penting tentang tawakkal:

  1. Tawakkal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi menyerahkan hasilnya kepada Allah.
  2. Tawakkal memiliki tingkatan, dari level awam hingga sufi sejati.
  3. Tawakkal sejati muncul dari makrifat (pengenalan terhadap Allah).
  4. Orang yang bertawakkal tidak akan resah dengan dunia, karena yakin Allah telah menanggung segalanya.

1. Sahl bin Abdullah at-Tustari (W. 896 M) – Tawakkal sebagai Hakikat Keimanan

Dalam Tafsir At-Tustari, beliau berkata:

"Tawakkal adalah kedudukan tertinggi dari tauhid. Seseorang tidak akan mencapai hakikat tauhid sebelum ia bertawakkal sepenuhnya kepada Allah dalam segala urusannya."

Beliau menegaskan bahwa tawakkal adalah tanda sempurnanya iman seseorang kepada Allah.


2. Al-Hakim at-Tirmidzi (W. 869 M) – Tawakkal dan Qana'ah

Dalam Kitab Khatm al-Auliya', beliau menyebutkan:

"Tawakkal dan qana'ah (merasa cukup) adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Seorang yang bertawakkal adalah yang ridha dengan apa pun yang telah Allah tentukan."

Menurutnya, orang yang bertawakkal sejati tidak hanya menyerahkan urusannya kepada Allah, tetapi juga merasa cukup dan puas dengan apa yang diberikan.

3. Abu Hamid Al-Ghazali (W. 1111 M) – Tawakkal sebagai Kombinasi Usaha dan Keyakinan

Dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din, Al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakkal memiliki beberapa tingkatan:

  1. Tawakkal orang awam – Masih bergantung pada sebab-sebab duniawi, tetapi tetap meyakini Allah sebagai pemberi hasil.
  2. Tawakkal orang khusus – Tidak menggantungkan hati pada sebab-sebab duniawi, tetapi tetap berusaha.
  3. Tawakkal para wali Allah – Hatinya hanya tertuju kepada Allah, tanpa mengandalkan usaha duniawi.

Al-Ghazali juga mengutip kisah seorang sufi yang tidak membawa bekal saat bepergian dan hanya bergantung kepada Allah. Namun, ia mengingatkan bahwa sikap ini hanya berlaku bagi mereka yang imannya sudah kuat.


4. Abu Thalib al-Makki (W. 996 M) – Tawakkal sebagai Jalan Sufi

Dalam Qut al-Qulub, beliau menyebutkan:

"Tawakkal sejati adalah ketika seseorang meyakini bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Allah sebelum ia diciptakan."

Beliau juga menjelaskan bahwa tawakkal harus disertai dengan rasa tenang (sukun) dan tidak mengeluh terhadap ketentuan Allah.


5. Al-Qusyairi (W. 1072 M) – Tawakkal sebagai Tanda Kekasih Allah

Dalam Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, beliau menulis:

"Para wali Allah tidak resah dengan perubahan dunia, karena mereka telah menyerahkan seluruh urusan mereka kepada Allah."

Beliau juga mengutip perkataan Dzun Nun al-Mishri:

"Orang yang bertawakkal sejati adalah yang hatinya tidak bergantung pada dunia, tetapi hanya kepada Allah."


6. Ibnu Atha’illah as-Sakandari (W. 1309 M) – Tawakkal dan Kepasrahan Total

Dalam Al-Hikam, beliau menulis:

"Janganlah hatimu gelisah karena sesuatu yang telah Allah jamin rezekinya untukmu. Namun, gelisahlah jika engkau lalai dalam kewajibanmu kepada-Nya."

Beliau menegaskan bahwa tawakkal sejati adalah keyakinan penuh kepada Allah, tanpa takut kekurangan.


7. Syaikh Abdul Qadir al-Jilani (W. 1166 M) – Tawakkal dan Keberanian Spiritual

Dalam Al-Fath ar-Rabbani, beliau berkata:

"Tawakkal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi hati tidak boleh bergantung pada usaha itu sendiri. Gantungkan hatimu hanya kepada Allah."

Beliau juga mengajarkan bahwa tawakkal harus disertai dengan mujahadah (usaha keras dalam ibadah) dan kesabaran dalam menghadapi ujian hidup.


Kesimpulan dari Kitab-Kitab Sufi Klasik

  1. Tawakkal adalah bagian dari tauhid – Tidak sempurna iman seseorang tanpa tawakkal.
  2. Tawakkal tidak berarti meninggalkan usaha – Para sufi tetap bekerja dan berikhtiar, tetapi hati mereka tidak bergantung pada usaha itu.
  3. Tawakkal sejati adalah kepasrahan total – Sufi yang mencapai tingkatan tinggi dalam tawakkal tidak lagi resah dengan dunia.
  4. Tawakkal harus disertai dengan qana'ah dan ridha – Orang yang bertawakkal tidak pernah mengeluh dengan takdir Allah.

Dalil Al-Qur’an dan Hadits tentang Tawakkal

Berikut adalah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah ﷺ yang mendukung konsep tawakkal (berserah diri kepada Allah) dalam pemahaman tasawuf:


A. Ayat-ayat Al-Qur’an tentang Tawakkal

1. QS. At-Talaq: 3 – Allah yang Mencukupi Orang yang Bertawakkal

"Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu."

Makna: Allah menjamin kecukupan bagi orang yang bertawakkal kepada-Nya, tanpa perlu bergantung kepada makhluk.


2. QS. Ali ‘Imran: 159 – Perintah Bertawakkal kepada Allah

"Kemudian, apabila kamu telah bertekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal."

Makna: Tawakkal tidak menggantikan usaha, tetapi menyempurnakannya setelah seseorang mengambil keputusan dan berikhtiar.


3. QS. Ali ‘Imran: 173 – Tawakkal Menghilangkan Ketakutan

"Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung."

Makna: Tawakkal menjadikan hati tenang dan tidak takut terhadap ancaman duniawi, sebagaimana keyakinan para sahabat Rasulullah ﷺ.


4. QS. Al-Maidah: 23 – Tawakkal sebagai Sumber Keberanian

"Dan bertawakkallah kepada Allah, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman."

Makna: Tawakkal adalah tanda keimanan sejati yang membuat seseorang berani menghadapi tantangan hidup.


5. QS. Az-Zumar: 38 – Tawakkal dan Tauhid

"Dan jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka menjawab, ‘Allah.’ Katakanlah, ‘Lalu, mengapa kamu mengambil selain Allah sebagai pelindung? Jika Allah menghendaki bencana menimpaku, tidak ada yang dapat menolaknya selain Dia. Dan jika Allah menghendaki rahmat untukku, tidak ada yang dapat mencegah karunia-Nya.’ Katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku; hanya kepada-Nya orang-orang yang bertawakkal berserah diri.’"

Makna: Tawakkal adalah bagian dari tauhid. Orang yang benar-benar bertauhid hanya bersandar kepada Allah dalam segala urusan.


B. Hadits-Hadits tentang Tawakkal

1. HR. Tirmidzi (no. 2344) – Tawakkal Seperti Burung

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang."

Makna: Tawakkal tidak berarti meninggalkan usaha. Burung tetap terbang mencari makan, tetapi hatinya tidak bergantung pada usaha itu, melainkan pada Allah.


2. HR. Abu Dawud (no. 5090) – Tawakkal Harus Diiringi dengan Usaha

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
"Ya Rasulullah, apakah aku harus mengikat untaku (agar tidak lari) atau aku hanya bertawakkal kepada Allah?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
"Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah kepada Allah."

Makna: Tawakkal tidak berarti pasif. Seseorang tetap harus melakukan tindakan nyata sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah.


3. HR. Muslim (no. 4778) – Barangsiapa Bertawakkal, Allah akan Menolongnya

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya. Dan barang siapa yang bergantung pada dunia, maka dunia akan membebaninya."

Makna: Orang yang bertawakkal akan mendapatkan kecukupan dan pertolongan dari Allah.


4. HR. Ahmad (no. 205) – Orang yang Bertawakkal akan Dicintai Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertawakkal dan berbuat baik dalam usahanya."

Makna: Tawakkal yang benar bukanlah meninggalkan usaha, tetapi tetap bekerja dengan penuh keyakinan kepada Allah.


Kesimpulan dari Dalil Al-Qur’an dan Hadits

  1. Tawakkal adalah perintah Allah (QS. Ali ‘Imran: 159) dan merupakan bagian dari tauhid (QS. Az-Zumar: 38).
  2. Orang yang bertawakkal akan dicukupi oleh Allah (QS. At-Talaq: 3).
  3. Tawakkal tidak berarti meninggalkan usaha, tetapi melakukan ikhtiar sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah (HR. Tirmidzi & HR. Abu Dawud).
  4. Tawakkal membawa keberanian dan ketenangan hati dalam menghadapi kehidupan (QS. Al-Maidah: 23 & HR. Muslim).
  5. Tawakkal membuat seseorang dicintai oleh Allah (HR. Ahmad).


Berikut adalah tafsir klasik dari kitab-kitab ulama besar tentang tawakkal, berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah disebutkan sebelumnya.


1. Tafsir QS. At-Talaq: 3 – Allah yang Mencukupi Orang yang Bertawakkal

"Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya."

🔹 Tafsir dari Tafsir Al-Khazin (Al-Khazin, W. 1340 M)

Al-Khazin menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan janji Allah yang pasti bagi orang yang bertawakkal. Beliau berkata:

"Maksud dari 'Allah akan mencukupinya' adalah mencukupi segala kebutuhannya, baik dunia maupun akhirat, tanpa harus mengkhawatirkannya."

Maknanya: Seorang mukmin yang bertawakkal tidak akan hidup dalam kecemasan karena Allah telah menjamin segala urusannya.

🔹 Tafsir dari Tafsir Ibnu Katsir (Ibnu Katsir, W. 1373 M)

Ibnu Katsir menjelaskan:

"Barang siapa menyerahkan urusannya kepada Allah dan bersandar kepada-Nya, maka Allah akan mencukupinya dan menyelamatkannya dari segala keburukan."

Maknanya: Tawakkal adalah benteng dari ketakutan dan kesulitan hidup.


2. Tafsir QS. Ali ‘Imran: 159 – Perintah Bertawakkal kepada Allah

"Kemudian, apabila kamu telah bertekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal."

🔹 Tafsir dari Tafsir Al-Baghawi (Al-Baghawi, W. 1122 M)

Al-Baghawi menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan keseimbangan antara usaha dan tawakkal. Beliau berkata:

"Tawakkal yang benar adalah setelah mengambil keputusan yang tepat. Maka, setelah berusaha, seseorang harus menyerahkan urusannya kepada Allah tanpa keraguan."

Maknanya: Tawakkal bukan berarti menunggu tanpa usaha, tetapi mengambil tindakan lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

🔹 Tafsir dari Tafsir Al-Qurtubi (Al-Qurtubi, W. 1273 M)

Al-Qurtubi menegaskan bahwa tawakkal bukan berarti meninggalkan sebab-sebab duniawi. Beliau mengutip pendapat Sufyan ats-Tsauri:

"Janganlah engkau duduk di rumah dan berkata, ‘Aku bertawakkal kepada Allah.’ Tetapi keluarlah mencari rezeki, karena langit tidak menurunkan hujan emas dan perak."

Maknanya: Tawakkal adalah memadukan usaha dan keimanan, bukan sikap pasif.


3. Tafsir QS. Az-Zumar: 38 – Tawakkal sebagai Bagian dari Tauhid

"Cukuplah Allah bagiku; hanya kepada-Nya orang-orang yang bertawakkal berserah diri."

🔹 Tafsir dari Tafsir Al-Razi (Fakhruddin Al-Razi, W. 1209 M)

Imam Al-Razi menjelaskan:

"Orang yang bertawakkal adalah yang yakin bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali atas izin Allah. Oleh karena itu, ia tidak takut kepada makhluk, hanya kepada Allah semata."

Maknanya: Tawakkal adalah buah dari tauhid yang benar.

🔹 Tafsir dari Tafsir As-Sa’di (As-Sa’di, W. 1956 M)

As-Sa’di menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan bahwa hanya Allah yang mengatur segalanya:

"Orang yang bertawakkal akan diberikan kecukupan oleh Allah dalam segala urusannya, karena hanya Allah yang dapat menolongnya."

Maknanya: Tawakkal harus melahirkan ketenangan hati, bukan kecemasan.


4. Tafsir Hadits tentang Tawakkal Seperti Burung (HR. Tirmidzi, No. 2344)

"Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung."

🔹 Tafsir dari Kitab Fath al-Bari (Ibnu Hajar al-Asqalani, W. 1449 M)

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keseimbangan antara tawakkal dan usaha:

"Burung tidak tinggal diam di sarangnya dan menunggu rezeki datang. Ia tetap keluar dan mencari makanan, tetapi hatinya tidak cemas, karena ia tahu rezekinya telah dijamin oleh Allah."

Maknanya: Tawakkal bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi usaha yang dilakukan tanpa ketergantungan hati pada dunia.

🔹 Tafsir dari Kitab Al-Munawi dalam Faid al-Qadir

Al-Munawi menjelaskan:

"Jika seseorang benar-benar bertawakkal, maka Allah akan mencukupi rezekinya sebagaimana burung yang keluar dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang."

Maknanya: Tawakkal mendatangkan keberkahan dalam rezeki, bukan menghilangkan usaha.


Kesimpulan dari Tafsir Klasik tentang Tawakkal

  1. Tawakkal adalah bagian dari tauhid – Seorang yang bertawakkal sejati hanya bergantung kepada Allah, bukan kepada makhluk. (Tafsir Al-Razi)
  2. Tawakkal harus disertai usaha – Seperti burung yang tetap terbang mencari makan, tetapi tetap yakin kepada Allah. (Fath al-Bari)
  3. Tawakkal mendatangkan ketenangan hati – Orang yang bertawakkal tidak akan hidup dalam kecemasan atau ketakutan. (Tafsir Ibnu Katsir)
  4. Tawakkal bukan alasan untuk meninggalkan sebab-sebab duniawi – Seseorang tetap harus bekerja, tetapi hatinya bersandar kepada Allah. (Tafsir Al-Qurtubi)
  5. Tawakkal menjamin kecukupan dari Allah – Siapa pun yang menyerahkan urusannya kepada Allah akan mendapatkan pertolongan-Nya. (Tafsir Al-Khazin)

Penjelasan dari kitab-kitab sufi klasik tentang tawakkal, termasuk dari Ihya’ Ulum ad-Din (Al-Ghazali), Al-Hikam (Ibnu Atha’illah), dan kitab sufi lainnya.


1. Tawakkal dalam Kitab Ihya’ Ulum ad-Din – Al-Ghazali (W. 1111 M)

Dalam Ihya’ Ulum ad-Din, Imam Al-Ghazali menjelaskan tingkatan tawakkal:

🔹 Empat Tingkatan Tawakkal menurut Al-Ghazali:

  1. Tawakkal seperti buruh kepada majikannya
    • Orang ini tetap bekerja, tetapi menggantungkan hasilnya kepada Allah.
  2. Tawakkal seperti bayi kepada ibunya
    • Orang ini yakin bahwa Allah akan mencukupinya tanpa bergantung pada usaha.
  3. Tawakkal seperti mayit di tangan pemandi jenazah
    • Orang ini sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah dalam segala hal.
  4. Tawakkal seperti Nabi Ibrahim ketika dilempar ke api
    • Tidak ada sedikit pun ketergantungan pada makhluk, hanya kepada Allah semata.

Maknanya: Tawakkal memiliki tingkatan, dari yang masih mengandalkan usaha hingga yang sepenuhnya bergantung kepada Allah.


2. Tawakkal dalam Kitab Al-Hikam – Ibnu Atha’illah (W. 1309 M)

Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam menjelaskan tentang hakikat tawakkal:

🔹 Kata-kata Hikmah tentang Tawakkal dalam Al-Hikam:

"Janganlah keterlambatan pemberian Allah setelah engkau berdoa membuatmu putus asa, sebab Allah telah menjamin rezekimu, tetapi dalam waktu yang telah Dia tentukan."

Maknanya: Orang yang bertawakkal tidak pernah tergesa-gesa atau gelisah, karena ia yakin Allah sudah mengatur segala sesuatu dengan tepat.

"Tawakkal adalah ketika engkau bersandar kepada Allah, bukan kepada sebab-sebab duniawi."

Maknanya: Orang yang bertawakkal tetap melakukan usaha, tetapi hatinya tidak bergantung pada usaha tersebut, melainkan hanya kepada Allah.


3. Tawakkal dalam Kitab Madarij as-Salikin – Ibnu Qayyim al-Jauziyah (W. 1350 M)

Dalam Madarij as-Salikin, Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa tawakkal memiliki tujuh rukun utama:

  1. Mengenal Allah sebagai satu-satunya pemberi rezeki
  2. Meyakini bahwa Allah yang mengatur segala sesuatu
  3. Berserah diri sepenuhnya kepada-Nya
  4. Menjadikan hati hanya bergantung kepada Allah
  5. Memadukan antara usaha dan kepasrahan
  6. Bersikap ridha dengan apa yang telah Allah tetapkan
  7. Tetap istiqamah dalam ketaatan

Maknanya: Tawakkal tidak hanya berarti pasrah, tetapi juga tetap berusaha dan menerima ketentuan Allah dengan hati yang lapang.


4. Tawakkal dalam Kitab Risalah al-Qusyairiyah – Imam Al-Qusyairi (W. 1072 M)

Imam Al-Qusyairi dalam Risalah al-Qusyairiyah menjelaskan bahwa tawakkal adalah salah satu maqam dalam perjalanan sufi.

"Orang yang bertawakkal adalah yang tidak risau dengan dunia, karena ia tahu bahwa yang mengurusnya adalah Allah."

Maknanya: Seseorang yang bertawakkal tidak akan mudah stres atau khawatir, karena ia yakin bahwa segala sesuatu sudah diatur oleh Allah.

Al-Qusyairi juga membawakan kisah seorang sufi yang ditanya:
"Dengan apa engkau makan?"
Ia menjawab: "Dengan rezeki Allah."
"Dengan apa engkau hidup?"
Ia menjawab: "Dengan kehendak Allah."
"Dengan apa engkau tenang?"
Ia menjawab: "Dengan tawakkal kepada Allah."

Maknanya: Seorang sufi sejati tidak pernah cemas terhadap dunia, karena ia telah sepenuhnya berserah diri kepada Allah.


5. Tawakkal dalam Kitab Futuhat al-Makkiyah – Ibnu Arabi (W. 1240 M)

Ibnu Arabi menjelaskan dalam Futuhat al-Makkiyah bahwa tawakkal bukan hanya soal rezeki, tetapi juga tentang penerimaan terhadap takdir Allah.

"Orang yang bertawakkal adalah orang yang sudah tidak memiliki pilihan selain apa yang Allah kehendaki untuknya."

Maknanya: Tawakkal bukan hanya percaya kepada Allah dalam urusan dunia, tetapi juga menerima segala ketentuan-Nya dengan ridha.


Kesimpulan dari Kitab-Kitab Sufi

  1. Tawakkal memiliki tingkatan – Dari yang masih bergantung pada usaha hingga yang sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah. (Ihya’ Ulum ad-Din)
  2. Tawakkal adalah bersandar kepada Allah, bukan kepada sebab-sebab duniawi – Tetapi tetap melakukan usaha. (Al-Hikam)
  3. Tawakkal memiliki rukun-rukun utama – Seperti mengenal Allah sebagai pemberi rezeki dan ridha dengan ketentuan-Nya. (Madarij as-Salikin)
  4. Orang yang bertawakkal tidak akan cemas terhadap dunia – Karena ia tahu bahwa Allah yang mengurus segala sesuatu. (Risalah al-Qusyairiyah)
  5. Tawakkal bukan hanya soal rezeki, tetapi juga menerima takdir Allah dengan ridha. (Futuhat al-Makkiyah)


0 komentar:

Posting Komentar