WAHHABI ADALAH GENERASI LANJUTAN DARI KAUM KHAWARIJ EKSTRIMIS DALAM ISLAM
Sebagian besar dari mereka cenderung bersikap kaku dan kurang menggunakan akal sehat dalam memahami ajaran agama.
Pada masa dahulu, telah muncul satu golongan ekstremis dalam Islam, yakni kaum Khawarij. Mereka dikenal sangat tekstual dan literal dalam memahami agama, hingga terjerumus dalam sikap berlebihan.
JAWABAN IBNU ABBAS UNTUK KAUM KHAWARIJ
Setelah perwakilan kaum Khawarij mendengarkan penjelasan dari Ibnu Abbas, sekitar 2.000 orang di antara mereka akhirnya bertobat.
Oleh: Hasanul Rizqa
Di antara para sahabat Nabi Muhammad SAW, terdapat seorang pemuda yang luar biasa, yaitu Abdullah bin Abbas. Ia lahir tiga tahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah. Sebagai sepupu Rasulullah SAW, Ibnu Abbas memiliki kedekatan yang istimewa dengan beliau. Nabi pernah merengkuhnya ke dada sambil berdoa, “Ya Allah, ajarilah anak ini hikmah.” Dalam riwayat lain, Nabi mengusap kepalanya dan bermunajat, “Ya Allah, anugerahilah ia pemahaman agama.”
Saat Rasulullah SAW wafat, Ibnu Abbas baru berusia 13 tahun. Meski sangat terpukul, beliau tetap tekun menimba ilmu dari para sahabat senior. Usaha gigihnya membuatnya mendapat julukan “tinta umat”, sebagai penghormatan terhadap keluasan ilmunya.
Setelah wafatnya Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman, kondisi umat Islam semakin guncang. Di era Sayyidina Ali bin Abi Thalib, muncul sekelompok ekstremis di Irak. Awalnya mereka adalah pengikut Ali yang fanatik, namun setelah peristiwa arbitrase (tahkim) dengan kubu Mu'awiyah, mereka keluar dari barisan Ali dan menjadi kelompok yang dikenal sebagai Khawarij.
Kelompok ini semula memuji Ali, namun kemudian berubah drastis dan bahkan menuduh beliau sebagai kafir. Dalam suasana yang panas inilah Ibnu Abbas hadir untuk menasihati mereka. Dalam dialog yang dicatat oleh Ibnu al-Jauzi, Ibnu Abbas menggambarkan bahwa para Khawarij tersebut sangat giat dalam ibadah ritual, tetapi kehilangan pemahaman yang mendalam.
Mereka menyambut Ibnu Abbas dengan ramah, berharap beliau akan bergabung dengan mereka dalam menentang Ali. Namun, ketika beliau menyampaikan tujuan kedatangannya untuk menasihati, mereka pun menantangnya dalam debat.
Tiga orang Khawarij menjadi juru bicara, dan Ibnu Abbas pun mendengarkan alasan mereka tanpa menyela. Mereka menyampaikan tiga alasan kebencian terhadap Sayyidina Ali:
- Ali mengangkat manusia sebagai hakim dalam tahkim, padahal menurut mereka keputusan hanya milik Allah.
- Ali berperang melawan 'Aisyah dalam Perang Unta, namun tidak mengambil rampasan perang. Bagi mereka ini tidak logis jika 'Aisyah adalah Mukmin.
- Ali menghapus gelar Amirul Mukminin, sehingga menurut mereka beliau menjadi Amirul Kafirin.
Ibnu Abbas menjawab ketiga dalih tersebut dengan ilmiah dan bijak:
-
Dalam beberapa perkara, Allah memang menyerahkan keputusan kepada manusia, seperti dalam qadha (putusan hukum) hewan yang dibunuh saat ihram (QS al-Ma’idah: 95), atau dalam masalah perselisihan rumah tangga (QS an-Nisa: 35). Maka, tahkim adalah usaha mendamaikan antar sesama Muslim, dan itu sah menurut syariat.
-
Tentang Perang Unta, Ibnu Abbas menegaskan bahwa 'Aisyah adalah Ummul Mu’minin, sebagaimana dalam QS al-Ahzab: 6. Maka memeranginya dan menganggapnya tawanan adalah kekeliruan besar.
-
Mengenai gelar, itu hanyalah masalah administratif dan tidak bisa dijadikan dasar pengkafiran.
Setelah mendengar penjelasan itu, mereka pun sadar. Akhirnya sekitar 2.000 orang dari kaum Khawarij bertobat.
Tebarkanlah informasi yang benar kepada masyarakat, karena masyarakat yang sehat terbentuk dari informasi yang sehat.
Namun di masa kini, muncul kembali kelompok yang menghidupkan semangat Khawarij dalam bentuk lain. Misalnya, sebagian pengikut pemikiran Wahhabi yang mudah menuduh sesama Muslim sebagai musyrik, bid’ah, atau sesat, tanpa dalil yang kuat dan tanpa mempertimbangkan akal dan hikmah.
Contoh: Mereka kerap menuduh amaliah Aswaja (Ahlussunnah wal Jama'ah) sebagai bentuk kesyirikan, bahkan mencaci tokoh seperti Gus Samsudin dengan tuduhan palsu seperti "settingan", tanpa bisa menunjukkan klasifikasi yang jelas tentang apa yang dimaksud "settingan".
Padahal bukti-bukti yang menunjukkan keilmuan hikmah sudah nyata, bahkan mereka yang mencibir akhirnya justru mengalami musibah atau terluka, namun tetap menuduh tanpa dasar.
Sikap seperti ini menunjukkan adanya kekakuan berpikir dan kehendak untuk mendominasi, bukan mengajak pada kebenaran. Bahkan setelah ditolong pun, sebagian dari mereka tetap tidak menunjukkan rasa terima kasih.
Catatan Khusus:
- Mari kita bijak menilai antara ilmu hikmah yang haq dengan sihir yang bathil. Jangan mudah menyamaratakan.
- Mereka sering memakai dalil dari kitab yang mereka sendiri anggap sesat. Ini adalah kontradiksi berpikir.
- Jangan sampai ada kelompok yang memaksakan keyakinannya dan menghapus maqam-maqam para wali, membatasi ajaran Imam Syafi’i, Imam Maturidi, dan para sufi.
Peringatan Keras:
Sebagai Muslim Ahlussunnah wal Jama’ah, kita perlu mewaspadai pemikiran Khawarij dalam bentuk baru. Namun kewaspadaan tidak boleh berujung pada kekerasan.
Maka seruan seperti:
"Bawa pedang, bawa pistol... langsung ayunkan ke arah mulut mereka... bahkan dibunuh saja..."
adalah bertentangan dengan ajaran Rasulullah SAW. Kita menolak keras pemikiran menyimpang tanpa meniru metode kekerasan mereka.
Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan kekerasan terhadap sesama Muslim. Adab berdakwah harus dijaga. Keras dalam hujjah (argumen), namun lembut dalam lisan dan sikap.
KESIMPULAN:
- Wahhabi yang bersikap ekstrem dan menebar tuduhan harus dihadapi dengan ilmu dan ketegasan, bukan dengan kebencian atau kekerasan.
- Kita wajib melindungi warisan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dan para ulama sufi.
- Jangan biarkan faham Khawarij modern merusak tatanan umat dan negara.
- Namun tetap jaga akhlak, karena akhlak adalah ciri utama Ahlussunnah wal Jama’ah.






0 komentar:
Posting Komentar