DIALOG RASULULLAH DENGAN IBLIS
Tujuan Iblis adalah untuk menyesatkan umat manusia dan membelakangi Allah SWT dalam kehidupan, supaya manusia ikut menyertai Iblis. (Menurut pandangan sebagian kaum fiqih). Sesungguhnya Iblis ditugaskan untuk memisahkan gandum yang busuk (orang-orang munafik, musyrik, dan kafir) dari gandum yang baik dan bermutu (orang-orang beriman, ikhlas, tawakkal, dan bertakwa).
Iblis berkata: "Wahai Muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikit pun. Aku hanya bisa membisikkan dan menggoda. Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorang pun. Sebagaimana dirimu, engkau tidak bisa memberi hidayah sedikit pun. Engkau hanyalah Rasul yang menyampaikan amanah. Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Aku hanya bisa menjadi penyebab bagi orang yang telah ditentukan sengsara. Dan engkau, Ya Rasul Allah, telah menjadi penyebab bagi orang yang bahagia/diberi rahmat. Mereka adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak dalam perut ibunya. Sedangkan aku hanyalah penyebab bagi orang yang sengsara/celaka; mereka adalah orang yang telah ditulis celaka sejak dalam kandungan ibunya."
(Nafi makhluk, isbatkan Allah)
Rasulullah SAW lalu membaca ayat berikut:
"Mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT." (QS. Hud: 118–119)
Juga membaca: "Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku." (QS. Al-Ahzab: 38)
Iblis lalu berkata:
"Wahai Rasul Allah, takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering."
Pengenalan Terhadap Iblis
Marilah kita mengenali Iblis melalui dialog antara Rasulullah SAW dengan Iblis, agar kita lebih peka terhadap tindak-tanduk Iblis dalam kehidupan. Semoga kita semua diberi rahmat dan petunjuk untuk menjadi hamba yang benar-benar ikhlas kepada Allah SWT.
Iblis adalah musuh yang nyata dan penguji yang tersembunyi. Ia tidaklah berkehendak atas sesuatu melainkan apa yang Allah kehendaki dan perintahkan kepadanya.
"Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
"Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?" (QS. Yunus: 99)
Kisah Pertemuan dengan Iblis
Dari Muadz bin Jabal, dari Ibnu Abbas:
Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, terdengar panggilan seseorang dari luar rumah:
“Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.”
Rasulullah SAW bersabda:
“Tahukah kalian siapa yang memanggil?”
Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
Rasulullah melanjutkan: “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”
Catatan: Laknatullah adalah gelar tertinggi yang dianugerahkan Allah kepada Azazil.
Saidina Umar bin Khattab berkata:
“Izinkan aku membunuhnya, wahai Rasulullah.”
Namun Rasulullah menahannya dan berkata:
“Sabar wahai Umar. Bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Bukalah pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan untuk ini. Pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”
Ibnu Abbas RA berkata:
Pintu pun dibuka, dan ternyata ia tampak seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat tujuh helai rambut seperti rambut kuda, taringnya seperti taring babi, dan bibirnya seperti bibir sapi.
Iblis berkata:
“Salam untukmu, Muhammad. Salam untukmu para hadirin.”
Rasulullah SAW menjawab:
“Salam hanya milik Allah SWT. Sebagai makhluk terlaknat, apa keperluanmu?”
Iblis menjawab:
“Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”
Rasulullah bertanya:
“Siapa yang memaksamu?”
Iblis menjawab:
“Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku dan berkata: ‘Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. Jawablah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan menjadikan dirimu debu yang ditiup angin.’
Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”
Orang yang Dibenci Iblis
Rasulullah SAW bertanya kepada Iblis:
“Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis menjawab:
“Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah makhluk Allah yang paling aku benci.”
Rasulullah bertanya:
“Siapa selanjutnya?”
Iblis menjawab:
“Pemuda yang bertakwa dan menyerahkan dirinya untuk mengabdi kepada Allah SWT.”
Rasulullah bertanya lagi:
“Lalu siapa lagi?”
Iblis berkata:
“Orang alim dan wara’ (yang taat dan hati-hati dalam agama).”
Rasulullah bertanya:
“Siapa lagi?”
Iblis menjawab:
“Orang yang selalu bersuci (orang yang menjaga wudunya).”
Rasulullah bertanya:
“Siapa lagi?”
Iblis menjawab:
“Seorang fakir yang sabar dan tidak pernah mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain.”
Rasulullah bertanya:
“Apa tanda kesabarannya?”
Iblis menjawab:
“Jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama tiga hari, Allah akan memberinya pahala orang-orang yang sabar.”
Rasulullah bertanya:
“Selanjutnya siapa?”
Iblis berkata:
“Orang yang bersyukur.”
Rasulullah bertanya:
“Apa tanda kesyukurannya?”
Iblis menjawab:
“Ia mengambil hartanya dari tempat yang halal dan membelanjakannya juga dari tempat yang halal.”
Rasulullah bertanya:
“Pandanganmu mengenai Abu Bakar?”
Iblis menjawab:
“Ia tidak menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”
Rasulullah bertanya:
“Umar bin Khattab?”
Iblis berkata:
“Demi Allah, setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur (ketakutan).”
Rasulullah bertanya:
“Usman bin Affan?”
Iblis menjawab:
“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”
Rasulullah bertanya:
“Ali bin Abi Thalib?”
Iblis menjawab:
“Aku berharap darinya agar kepalaku selamat dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. Tetapi ia tak akan pernah melakukan itu. (Sebab Ali bin Abi Thalib selalu berdzikir kepada Allah SWT).”
Amalan yang Menyakitkan Iblis
Rasulullah SAW bertanya:
“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?”
Iblis menjawab:
“Aku merasa panas dingin dan gemetar.”
Rasulullah bertanya:
“Mengapa?”
Iblis berkata:
“Setiap seorang hamba yang bersujud satu kali kepada Allah, Allah akan mengangkatnya satu derajat.”
Rasulullah bertanya:
“Jika seorang umatku berpuasa?”
Iblis menjawab:
“Tubuhku terasa terikat sampai ia berbuka.”
Rasulullah bertanya:
“Jika ia berhaji?”
Iblis berkata:
“Aku seperti orang gila.”
Rasulullah bertanya:
“Jika ia membaca Al-Qur’an?”
Iblis menjawab:
“Aku merasakan diriku meleleh seperti timah di atas api.”
Rasulullah bertanya:
“Jika ia bersedekah?”
Iblis berkata:
“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”
Rasulullah bertanya:
“Mengapa bisa begitu?”
Iblis menjawab:
“Sebab dalam sedekah ada empat keuntungan baginya: keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu menjadi hijab dari api neraka, dan musibah akan terhalau darinya.”
Rasulullah bertanya:
“Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?”
Iblis berkata:
“Suara kuda perang di jalan Allah.”
Rasulullah bertanya:
“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?”
Iblis menjawab:
“Taubat orang yang benar-benar bertaubat.”
Rasulullah bertanya:
“Apa yang dapat membakar hatimu?”
Iblis menjawab:
“Istighfar di waktu siang dan malam.”
Rasulullah bertanya:
“Apa yang dapat mencoreng wajahmu?”
Iblis berkata:
“Sedekah yang diam-diam.”
Rasulullah bertanya:
“Apa yang dapat merusak wajahmu?”
Iblis menjawab:
“Shalat fajar.”
Rasulullah bertanya:
“Apa yang dapat memukul kepalamu?”
Iblis berkata:
“Shalat berjamaah.”
Rasulullah bertanya:
“Apa yang paling mengganggumu?”
Iblis menjawab:
“Majelis para ulama.”
Manusia yang Menjadi Teman Iblis
Rasulullah SAW bertanya:
“Siapa temanmu, wahai Iblis?”
Iblis menjawab:
“Pemakan riba.”
Rasulullah bertanya:
“Siapa sahabatmu?”
Iblis berkata:
“Penzina.”
Rasulullah bertanya:
“Siapa teman tidurmu?”
Iblis menjawab:
“Pemabuk.”
Rasulullah bertanya:
“Siapa utusanmu?”
Iblis berkata:
“Tukang sihir (juga merujuk kepada orang yang menyesatkan).”
Rasulullah bertanya:
“Apa yang membuatmu gembira?”
Iblis menjawab:
“Sumpah dengan cerai.”
Rasulullah bertanya:
“Siapa kekasihmu?”
Iblis berkata:
“Orang yang meninggalkan salat Jumat.”
Rasulullah bertanya:
“Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?”
Iblis menjawab:
“Orang yang meninggalkan salatnya dengan sengaja.”
Iblis Tidak Berdaya terhadap Orang yang Ikhlas
Rasulullah SAW bersabda:
“Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.”
Iblis menjawab:
“Tidak. Tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka, dan mereka tak bisa melihatku? Demi Dzat yang menciptakanku dan memberiku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh maupun pintar, yang bisa membaca atau tidak, yang durjana maupun yang saleh — kecuali hamba Allah yang ikhlas (al-mukhlisin).”
Rasulullah bertanya:
“Siapa orang yang ikhlas menurutmu?”
Iblis menjawab:
“Tidakkah engkau tahu, wahai Muhammad, bahwa siapa saja yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak menyukai pujian dan sanjungan, aku bisa pastikan bahwa ia adalah orang yang ikhlas, maka aku tinggalkan dia. Selama hati seseorang masih terikat dengan harta, sanjungan, dan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.”
Iblis Dibantu oleh 70.000 Anak-anaknya
Iblis berkata lagi:
“Tahukah engkau, wahai Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak, dan setiap anak memiliki 70.000 setan. Sebagian aku tugaskan untuk mengganggu ulama, sebagian untuk anak-anak muda, sebagian untuk orang tua, sebagian untuk perempuan tua, dan sebagian untuk para zahid.”
“Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia, sehingga ia tidur ketika hendak salat berjamaah. Tanpanya, manusia tidak akan mengantuk saat salat.”
“Aku juga punya anak yang menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah, agar mereka tertidur dan pahalanya terhapus.”
“Aku punya anak yang berada di lidah manusia. Jika seseorang berbuat baik lalu membanggakannya, maka 99% pahalanya akan terhapus.”
“Setiap wanita yang berjalan, anakku dan setan duduk di pinggul dan pahanya, menghiasinya agar orang-orang memandanginya.”
“Keluarkan tanganmu!” Maka Rasulullah SAW mengulurkan tangannya. Iblis mengeluarkan tangannya, lalu syaitan menghiasi kukunya.
“Anak-anakku bisa menyusup ke segala kondisi, berpindah dari satu pintu ke pintu lain, menggoda manusia agar mereka jatuh dari keikhlasan.”
“Akhirnya, mereka menyembah Allah tanpa keikhlasan, namun tidak menyadarinya.”
Cara Iblis Menggoda
Iblis berkata:
“Tahukah kamu, wahai Muhammad? Dusta berasal dari diriku. Akulah makhluk pertama yang berdusta. Pendusta adalah sahabatku. Barang siapa bersumpah dengan dusta, ia adalah kekasihku.”
“Tahukah engkau, Muhammad? Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar-benar menasihatinya. Sumpah dusta adalah kegemaranku. Ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba) adalah kesenanganku. Kesaksian palsu adalah kegembiraanku.”
“Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya berada di pinggir dosa meskipun hanya sekali dan walaupun ia benar. Barang siapa membiasakan ucapan cerai, istrinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. Semua anaknya anak zina dan mereka masuk neraka hanya karena satu kalimat: ‘cerai’.”
“Umatmu, wahai Muhammad, ada yang suka mengulur-ngulur salat. Ketika hendak salat, aku bisikkan: 'Waktu masih lama, kamu masih sibuk.' Lalu ia menunda-nunda hingga keluar waktu salat. Maka salat itu dipukulkan ke wajahnya.”
“Jika ia berhasil salat, aku bisikkan: ‘Lihat ke kiri, lihat ke kanan.’ Maka ia menoleh, lalu aku usap wajahnya dan kucium keningnya. Aku ucapkan: ‘Salatmu tidak sah.’”
“Jika ia salat sendirian, aku suruh ia tergesa-gesa. Ia salat seperti ayam mematuk beras.”
“Jika ia salat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali hingga ia mengangkat atau meletakkan kepalanya sebelum imam. Jika itu dilakukan, salatnya batal dan wajahnya akan diubah menjadi wajah keledai.”
“Jika ia tetap mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap. Jika ia tak menutup mulutnya, aku masuk ke dalam dirinya, membuatnya tamak dan gila dunia.”
“Aku berkata pada orang miskin: ‘Kamu tidak wajib salat. Salat hanya untuk orang kaya dan sehat.’ Jika ia mati dalam keadaan meninggalkan salat, maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.”
“Wahai Muhammad, apakah engkau akan bergembira dengan umatmu, sedangkan aku bisa mengeluarkan seperenam dari mereka keluar dari Islam?”
10 Permintaan Iblis kepada Allah SWT
Rasulullah SAW bertanya:
“Apa saja yang kau minta kepada Tuhanmu?”
Iblis menjawab:
“Sepuluh macam permintaan.”
Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia.
Allah mengizinkannya dan berfirman:
“Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak, dan janjikanlah mereka. Tidaklah janji setan kecuali tipuan.” (QS. Al-Isra: 64)- Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya.
- Makanan haram dan yang bercampur riba, aku makan darinya.
- Makanan yang tidak disebut nama Allah, aku makan darinya.
Aku minta agar Allah membiarkanku ikut serta ketika manusia berhubungan dengan istrinya tanpa menyebut nama Allah.
Allah izinkan. Maka anak yang lahir akan sangat patuh padaku.
Aku minta agar Allah membiarkanku bersama orang yang menaiki kendaraan untuk tujuan maksiat.
Allah izinkan.
Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.
Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.
Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai kitabku.
Aku minta agar Allah memberiku saudara.
Maka Allah menjadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.
“Sesungguhnya orang-orang yang boros adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra: 27)Aku minta agar Allah memberiku kemampuan melihat manusia, sementara mereka tidak bisa melihatku.
Aku minta agar aku dapat mengalir dalam aliran darah manusia.
Allah izinkan.
Aku minta agar aku bisa hidup hingga hari kiamat.
Allah menjawab: “Silakan.”
"Maka aku bangga dengan itu hingga hari kiamat. Sebagian besar manusia akan bersamaku di hari itu."
Penegasan Iblis tentang Perannya
Iblis kembali menegaskan di hadapan Rasulullah SAW:
“Wahai Muhammad, aku tidak bisa menyesatkan seseorang sedikit pun. Aku hanya bisa membisikkan dan menggoda.”
“Jika aku memiliki kuasa untuk menyesatkan, maka tidak akan tersisa satu pun manusia di muka bumi ini.”
“Sebagaimana engkau, wahai Muhammad, engkau tidak bisa memberi hidayah kepada siapa pun. Engkau hanya seorang Rasul yang menyampaikan amanah. Jika engkau bisa memberi hidayah, tentu tak akan ada seorang kafir pun di dunia ini.”
“Aku hanyalah sebab bagi orang-orang yang telah ditentukan sengsara. Sedangkan engkau, wahai Rasulullah, menjadi sebab bagi orang-orang yang bahagia, yaitu mereka yang telah ditulis bahagia sejak dalam kandungan ibunya. Dan aku hanyalah sebab bagi mereka yang celaka, yang telah tertulis celaka sejak masih dalam kandungan.”
(Inilah makna: menafikan makhluk, dan menetapkan (isbat) kehendak Allah semata.)
Rasulullah SAW Membacakan Ayat-Ayat Allah
Mendengar pengakuan Iblis, Rasulullah SAW kemudian membaca firman Allah SWT:
“Mereka akan terus berselisih, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.”
(QS. Hud: 118–119)
“Sesungguhnya ketetapan Allah pasti berlaku.”
(QS. Al-Ahzab: 38)
Iblis pun berkata:
“Wahai Rasul Allah, takdir telah ditentukan dan pena telah kering.”
Pengakuan Terakhir Iblis
Iblis mengakhiri dialognya dengan pengakuan penuh:
“Maha Suci Allah yang menjadikan engkau sebagai pemimpin para Nabi dan Rasul, pemimpin penduduk surga.”
“Dan menjadikan aku sebagai pemimpin makhluk-makhluk celaka, pemimpin penduduk neraka.”
“Aku adalah makhluk celaka yang terusir. Ini adalah akhir yang ingin kusampaikan kepadamu. Dan aku tidak akan berbohong mengenai hal ini.”
Penutup
Demikianlah kisah mengenai dialog antara Rasulullah SAW dengan Iblis, yang telah dipersaksikan langsung kehadapan Baginda Nabi tanpa sedikit pun penipuan dalam percakapannya. Semua yang dikatakan oleh Iblis adalah pengakuan jujur di bawah perintah langsung Allah SWT agar ia tidak berdusta dalam menyampaikan tabiat, tipu daya, dan metode godaannya terhadap umat manusia.
Dialog ini bukan sekadar kisah, melainkan peringatan yang dalam dan serius bagi kita semua — bahwa Iblis adalah musuh nyata, namun ia bekerja secara tersembunyi, mengalir dalam diri manusia sebagaimana darah mengalir. Ia tidak memiliki kuasa untuk memaksa manusia tersesat, namun ia menunggu, membujuk, dan membisikkan. Yang menjadi korbannya adalah mereka yang lalai, cinta dunia, dan lemah keikhlasannya.
Sedangkan mereka yang ikhlas, tidak tergoda pujian dan harta, yang taat dan jujur dalam amal ibadah — adalah orang-orang yang tidak mampu disentuh oleh Iblis dan bala tentaranya.
Maka, marilah kita waspada dan mawas diri terhadap bisikan-bisikan halus dan godaan yang samar namun menghancurkan. Jangan pernah meremehkan:
- Waktu salat yang ditunda-tunda
- Sedekah yang diabaikan
- Ghibah yang terasa ringan
- Pujian yang memabukkan
- Niat ibadah yang tak jernih
Karena di balik semua itu, Iblis dan anak-anaknya bekerja, tidak tidur dan tidak letih.
Pesan Akhir
Maha Suci Allah yang menciptakan berbagai macam makhluk-Nya — sebagian sebagai ujian, sebagian sebagai rahmat, dan sebagian sebagai musuh yang nyata namun tak kasat mata. Dan telah Allah tegaskan:
"Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuhmu. Sesungguhnya dia mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala."
(QS. Fathir: 6)
Kini pilihan berada di tangan kita:
Apakah kita akan menempuh jalan kebenaran yang Allah dan Rasul-Nya ridai, atau terjerumus ke jalan tipu daya yang Iblis rintis dan hiasi?
Sumber
Kisah ini diriwayatkan dalam beberapa atsar, dan versi yang lengkap dapat ditemukan dalam karya sufi agung:
📚 Kitab Syajaratul Kaun karya Muhyiddin Ibn Arabi.






0 komentar:
Posting Komentar