Rabu, 16 Juli 2025

ILMU ITU GHAIB

 

ILMU ITU GHAIB

(Hakikat Ilmu dan Kedudukan Ulama)

Ilmu itu ghaib. Mengapa? Karena ilmu adalah faham, dan faham itu tidak dapat dilihat oleh mata kepala. Ia adalah sesuatu yang hidup di dalam dada, tertanam di akal, melekat pada jiwa, dan memancar melalui lisan dan perilaku orang-orang yang memilikinya.
Bukan tubuhnya yang membawa ilmu, tetapi hatinya yang dibuka Allah untuk menerima cahaya kebenaran.

Sebagaimana firman Allah:

“…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”
(QS. Fathir: 28)


ILMU BUKANLAH TULISAN ATAU KERTAS

Banyak orang mengira bahwa ilmu itu ada dalam buku, kitab, atau tulisan-tulisan. Padahal itu hanya wadah, hanya catatan, bukan esensi dari ilmu itu sendiri. Buku hanyalah medium. Ia tidak bisa menjelaskan dirinya sendiri. Bahkan buku itu diam, tak dapat memberi petunjuk tanpa penjelasan, pemahaman, dan penanaman makna dari seorang yang hidup hatinya dengan ilmu — yaitu para 'Ulamaa'.

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Az-Zuhri:

“Ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, tapi ilmu itu adalah cahaya yang diletakkan Allah di dalam hati.”


ULAMA: PEMBAWA FAHAM, BUKAN SEKADAR PENGHAFAL

Para ‘ulamaa' adalah mereka yang menyandang pemahaman, bukan sekadar penghafal. Mereka memiliki basirah (mata hati), bukan sekadar hafalan atau retorika. Merekalah yang dapat membuka makna dari lafaz, menjelaskan maksud dari dalil, dan menanamkan hikmah di hati manusia.

Karena itulah, ketika para ‘ulama mulai wafat satu per satu, ilmu pun diangkat, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari manusia. Tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga jika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa ilmu yang sejati berada di dada para 'ulamaa', bukan di lembaran-lembaran kertas.


ILMU ADALAH RAHMAT DAN AMANAH

Ilmu bukan sekadar informasi. Ilmu adalah amanah, rahmat, dan tanggung jawab. Dan hanya orang yang benar-benar bertakwa dan bertanggung jawab di hadapan Allah-lah yang akan mampu menanggungnya.

Orang yang memegang ilmu tetapi tidak memahami esensinya, atau tidak takut kepada Allah, maka dia bukan ulama hakiki, melainkan penyampai kata tanpa ruh. Sebagaimana firman Allah:

“Perumpamaan orang yang dibebani Taurat kemudian mereka tidak memikulnya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab besar.”
(QS. Al-Jumu’ah: 5)


KESIMPULAN:

  1. Ilmu adalah sesuatu yang ghaib, karena hakikatnya adalah pemahaman dan cahaya yang tertanam dalam hati, bukan benda yang tampak.

  2. Buku bukanlah ilmu, tetapi hanya wadah. Ilmu tidak hidup di buku, tapi di hati orang yang berilmu dan bertakwa.

  3. ‘Ulamaa adalah pewaris para nabi, bukan karena banyaknya buku yang mereka miliki, tapi karena pemahaman mereka terhadap agama, keikhlasan mereka dalam menyampaikan, dan takut mereka kepada Allah.

  4. Ilmu akan terangkat seiring wafatnya para ‘ulama’, karena ilmu hidup bersama jiwa mereka. Tanpa ulama, manusia hanya akan meraba-raba dalam kegelapan huruf-huruf yang tak bernyawa.


🌿 Penutup

“Carilah ilmu dari orang yang hidup hatinya dengan takwa, bukan sekadar yang fasih berbicara. Karena ilmu sejati adalah yang menuntun pada amal dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah.”
(Hikmah Salaf)


0 komentar:

Posting Komentar