Rabu, 16 Juli 2025

TAK SEMBARANGAN MELEPAS ILMU

 

TAK SEMBARANGAN MELEPAS ILMU

Ilmu bukan sekadar tumpukan kata, teori, atau informasi. Ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu memiliki hak untuk diletakkan pada tempat yang sesuai, waktu yang tepat, serta kepada orang yang benar-benar siap menerima dan menjaganya.

Menyampaikan ilmu tidak boleh dilakukan sembarangan. Sebab ilmu bukan hanya soal ‘apa yang dikatakan’, tetapi juga ‘kepada siapa, kapan, dalam konteks apa, dan bagaimana cara menyampaikannya’. Jika sembarangan melepaskan ilmu, bukan manfaat yang timbul, melainkan mudharat, kesalahpahaman, dan bahkan fitnah.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akalnya. Apakah kalian suka jika Allah dan Rasul-Nya didustakan?”
(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Prinsip-Prinsip dalam Menyampaikan Ilmu:

1. Harus Ada Ketersambungan dalam Kemanfaatan
Ilmu tidak semestinya disampaikan jika hanya menjadi obrolan kosong. Bila yang mendengar tidak siap menerima, atau bahkan tidak berminat mencari kebenaran, maka ilmu itu akan jatuh menjadi sia-sia — bahkan mungkin disalahpahami, dicemooh, atau dijadikan bahan debat yang tak bermutu.

2. Materi Harus Sesuai dengan Maqam (Tingkatan) Pendengar
Tidak semua orang berada dalam maqam yang sama. Ada yang baru belajar dasar, ada yang sudah mendalam. Memberikan materi tingkat tinggi kepada yang belum siap akan membuat mereka bingung, bahkan bisa jadi malah menolak kebenaran itu karena belum mampu memahaminya.
Imam Ali karramallahu wajhah berkata:

“Bicaralah kepada manusia sesuai kadar akalnya. Apakah kamu ingin mereka mendustakan Allah dan Rasul-Nya?”

3. Memperhatikan Keadaan dan Lingkungan Pendengar
Saat seseorang tengah dikuasai emosi, lapar, lelah, atau sedang berada dalam keramaian yang gaduh — maka bukan waktu yang bijak untuk mengajarkan ilmu yang penting. Bahkan, terkadang diam adalah bentuk hikmah yang lebih bernilai daripada menyampaikan sesuatu yang benar pada waktu yang salah.

4. Sesuai dengan Kebutuhan dan Relevansi
Ilmu yang disampaikan harus benar-benar dibutuhkan. Ada kalanya seseorang hanya butuh jawaban sederhana, bukan penjelasan panjang yang malah membuat bingung. Jangan menyampaikan sesuatu yang tidak ditanyakan dan tidak ada urgensinya, karena bisa mengundang fitnah dan kesalahpahaman.

5. Pembicara Harus Mumpuni dan Bijaksana
Tak cukup hanya tahu, tetapi harus benar-benar menguasai. Karena penyampai ilmu bukan hanya mentransfer informasi, tapi juga menanamkan hikmah, membangun pemahaman, dan menumbuhkan akhlak. Tanpa penguasaan dan kebijaksanaan, ilmu bisa menjadi senjata makan tuan — menyesatkan, bukan membimbing.


Bahaya Melepas Ilmu Secara Asal-Asalan:

Di zaman digital ini, sangat mudah seseorang menyampaikan ilmu lewat media sosial, grup percakapan, atau kolom komentar — bahkan kepada orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Sayangnya, banyak yang melupakan adab dan prinsip ta'lim-muta’allim (antara guru dan murid) dalam proses ini.

Akibatnya:

  • Ilmu yang disampaikan keluar dari konteks.
  • Diperdebatkan oleh orang-orang yang tidak memahami dasarnya.
  • Dijadikan bahan ejekan atau fitnah oleh mereka yang hatinya tertutup.
  • Menimbulkan perpecahan dan kesombongan intelektual.

Sebagaimana disebutkan dalam hikmah ulama:

"Perkataan yang bijak, jika disampaikan kepada orang yang tak pantas, akan menjadi sia-sia. Bahkan bisa menjadi fitnah yang menyebar luas dan menyesatkan."

Dan dalam pepatah Arab:

"لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ، وَلِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ"
“Setiap tempat ada kata-katanya, dan setiap kata ada tempatnya.”


Kesimpulan:

  • Ilmu itu cahaya, dan cahaya tak layak dilempar ke tempat yang tak pantas.
  • Sampaikanlah ilmu dengan penuh tanggung jawab, adab, dan pertimbangan.
  • Bijaksanalah dalam memilih kapan, di mana, kepada siapa, dan bagaimana cara menyampaikannya.
  • Jangan jadikan media sosial sebagai ladang dakwah yang asal-asalan tanpa memikirkan dampak, akurasi, dan adab.

“Ilmu yang disampaikan kepada orang yang belum siap, ibarat benih yang dilempar ke atas batu: tak akan tumbuh, bahkan bisa hancur.”

Semoga kita termasuk orang-orang yang menjaga amanah ilmu, tidak serampangan dalam menyampaikan, serta selalu mohon petunjuk kepada Allah agar ilmu kita menjadi manfaat — bukan menjadi fitnah.



0 komentar:

Posting Komentar