Manhaj Imam Abul Hasan al-Asy’ari secara konsisten
Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
(Mengikuti Manhaj Imam Abul Hasan al-Asy’ari)
TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH
Allah tidak disifati dengan sifat-sifat benda, karena Dia bukan benda dan tidak menyerupai benda dalam bentuk apa pun.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
"Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya."
(QS. Asy-Syura: 11)
Makna Istawa dan Nuzul dalam Al-Qur’an
Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an tentang nuzul (turunnya Allah) dan istawa (bersemayam di atas ‘Arsy). Namun:
- Makna hakikinya telah diketahui oleh Rasulullah ﷺ.
- Hanya Allah yang mengetahui hakikat keadaan-Nya.
- Kita tidak boleh menafsirkan secara spekulatif karena Allah:
- Bukan makhluk,
- Bukan benda,
- Tidak terikat oleh ruang dan arah.
Sikap yang benar:
Mengimani sebagaimana diturunkan, tanpa:
- Tahrif (menyelewengkan makna),
- Takyif (membayangkan bentuknya),
- Tamtsil (menyerupakan dengan makhluk),
- Ta’thil (meniadakan sifat-sifat).
Inilah akidah para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ari.
Kedekatan Allah kepada Makhluk-Nya
Allah bersama makhluk-Nya, namun:
- Bukan berarti menyatu (hulul),
- Bukan pula terpisah secara tempat, karena Allah tidak terikat ruang dan arah.
Allah:
- Maha Dekat namun juga Maha Tinggi,
- Tak terjangkau oleh pancaindra,
- Tidak dapat disentuh,
- Tidak berjenis,
- Tidak serupa dengan makhluk dalam bentuk apa pun.
PERINGATAN PENTING: JANGAN MEMBAYANGKAN DZAT ALLAH!
Bayangan terhadap Dzat Allah:
- Berasal dari khayalan makhluk,
- Dapat merusak akal, dan
- Membatalkan tauhid secara batin.
Hal-Hal yang Ditiadakan dari Allah:
| No | Yang Ditiadakan | Penjelasan Singkat |
|---|---|---|
| 1. | Tasybih | Allah tidak menyerupai makhluk |
| 2. | Hulul | Allah tidak menyatu dalam makhluk |
| 3. | Intiqal | Allah tidak berpindah-pindah tempat |
| 4. | Infishal | Allah tidak terpisah sebagai zat yang terpecah |
| 5. | Mumalatsah | Allah tidak bersentuhan secara fisik |
| 6. | Mutajanis | Allah tidak memiliki pasangan atau jenis |
Maha Suci Allah dari segala bentuk sifat yang disematkan oleh akal manusia yang terbatas.
Dzat Allah adalah Ghaib Mutlak
- Dzat Allah tidak dapat dijangkau oleh logika.
- Tidak dapat dianalisis oleh pikiran manusia.
- Maka, jangan memikirkan Dzat-Nya, karena:
"Bagaimana mungkin akal manusia menjangkau Dzat Allah,
sementara langit saja—ciptaan-Nya—tidak bisa dijangkau dengan sempurna oleh manusia?"
Yang Dapat Kita Kenali:
- Asmaul Husna – Nama-nama Allah yang indah dan sempurna.
- Af’alullah – Perbuatan-perbuatan Allah yang tampak dalam ciptaan.
- Shifatullah – Sifat-sifat Allah yang Dia tetapkan dalam wahyu.
Adapun Dzat Allah, adalah perkara ghaib mutlak yang tidak boleh dibayangkan, dipikirkan, atau dianalisis.
Tingkatan Kedekatan Allah kepada Hamba-Nya:
- Qurbul Birr – Kedekatan berupa kebaikan Allah kepada hamba-Nya.
- Qurbur Rahmah – Kedekatan dalam bentuk kasih sayang dan rahmat-Nya.
- Qurbul Luthf – Kedekatan melalui kelembutan dan kehalusan takdir-Nya.
Tingkatan Penyertaan Allah terhadap Hamba-Nya:
- Dengan Ilmu-Nya – Allah mengetahui segala keadaan hamba-Nya.
- Dengan Perlindungan-Nya – Allah melindungi, menjaga, dan memelihara hamba-Nya.
- Dengan Pendengaran dan Penglihatan-Nya – Allah Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Mengawasi.
Penutup
Semoga penjelasan ini:
- Meneguhkan tauhid kita kepada Allah,
- Menjaga kita dari kesesatan berupa tasybih (penyerupaan) maupun ta’thil (peniadaan sifat),
- Dan meneguhkan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam manhaj Imam Abul Hasan al-Asy’ari.
اللهم ثبتنا على عقيدة السلف الصالح ووفاتنا على ملة نبيك محمد ﷺ






0 komentar:
Posting Komentar