NILAI SESEORANG
Nilai sejati dari diri seseorang tidak pernah terletak pada harta, tahta, rupa, atau keahlian duniawi yang dimilikinya. Dunia bisa mengangkat seseorang menjadi raja, memberinya pangkat, membanjirinya dengan kekayaan, menjadikannya kuat dan terkenal. Namun semua itu bukanlah tolok ukur hakiki dalam menilai seseorang di sisi Allah dan dalam pandangan agama.
Kemuliaan yang sejati hanya lahir dari ketakwaan. Allah Ta’ala telah menegaskan dalam firman-Nya:
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."
(QS. Al-Hujurat: 13)
Maka, jangan tertipu oleh kemilau dunia. Jangan jual imanmu hanya karena ingin mendapat sanjungan, kenyamanan, atau kelebihan duniawi. Sekalipun ditukar dengan emas sebesar bumi, iman tidak pantas digadaikan. Jangan biarkan keyakinanmu kepada Allah dan Rasul-Nya tergeser hanya karena melihat kemewahan hidup orang-orang yang ingkar dan berpaling dari Allah.
Jangan iri dengan kehidupan mereka yang tampaknya bergelimang keberhasilan namun sejatinya dalam keadaan "istidraj", yaitu Allah beri mereka nikmat, padahal hakikatnya adalah ujian dan penundaan azab. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Apabila kamu melihat Allah memberikan nikmat dunia kepada seseorang dari maksiat yang dilakukannya, maka ketahuilah bahwa itu adalah istidraj."
(HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)
Tetaplah istiqamah. Pegang teguh agama yang lurus, jaga akhlak yang mulia, dan terus tingkatkan ketakwaan. Dunia hanyalah ladang ujian, dan yang kita bawa menghadap Allah hanyalah amal, bukan jabatan, kekuatan, atau pujian manusia.
Jika keadaan hidupmu sulit, tertekan, dan tidak seperti yang kau harapkan, bersabarlah. Bisa jadi, semua itu adalah penghapus dosa atau bentuk teguran kasih sayang Allah agar engkau kembali mendekat. Jangan pernah lelah berdoa dan teruslah berbuat kebaikan. Sebab:
"Sesungguhnya amal-amal kebaikan itu menghapuskan kesalahan-kesalahan."
(QS. Hud: 114)
Dan doa, meskipun belum terkabul secara langsung, tetaplah ibadah yang dicintai Allah. Pengabulannya adalah hak mutlak Allah — bisa segera, bisa ditunda, atau diganti dengan sesuatu yang lebih baik.
Takutlah hanya kepada Allah. Karena hanya Dia-lah yang memegang kendali atas segalanya. Dia bisa mencabut semua kemuliaan dan kelebihan yang kau banggakan hanya dalam sekejap. Ilmu, kekuatan, kedudukan, harta, dan bahkan kesehatan bisa diambil kembali kapan saja jika seseorang berpaling dari-Nya.
Ingatlah bahwa kehidupan ini hanyalah panggung ujian, dan kita semua tengah memainkan peran-peran yang ditetapkan oleh Allah. Jika kita menjalankan peran kita sebagai hamba Allah dengan penuh ketaatan dan tanggung jawab, maka ganjarannya adalah kebaikan yang tiada tara.
Namun bila kita mengkhianati amanah kehidupan ini, menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan melupakan akhirat, maka akan ada balasan dari Allah sesuai kadar pengkhianatan itu.
PERANAN SEORANG HAMBA DI DUNIA:
Sebagai Hamba Allah:
- Bersyukur atas segala nikmat, sekecil apa pun.
- Bersabar atas segala ujian, sesakit apa pun.
- Bertawakkal dalam setiap langkah hidup.
- Bertaqwa dalam setiap kesempatan.
- Beriman dengan keyakinan yang teguh.
- Berprasangka baik kepada Allah dan sesama.
- Tunduk dan patuh pada perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.
Sebagai Sesama Manusia:
- Menolong yang lemah dan tertindas.
- Memberi bantuan dengan penuh keikhlasan.
- Menyisihkan harta untuk yang membutuhkan.
- Menunjukkan kebenaran walau tidak populer.
- Mempermudah urusan orang lain.
- Menjaga rasa hormat, cinta, dan kasih sayang di antara manusia.
Apapun profesi, jabatan, status sosial, dan kondisi ekonomi seseorang, semuanya hanyalah peran sementara. Yang penting adalah bagaimana peran itu dimainkan — apakah selaras dengan perintah Allah atau justru melawan aturan-Nya.
KESIMPULAN:
- Kehidupan duniawi bukan ukuran kebaikan dan kebenaran seseorang.
- Amal saleh, perjuangan melawan hawa nafsu, dan pengorbanan di jalan Allah adalah tolak ukur nilai sejati manusia.
- Hanya dengan ketaqwaan, keikhlasan, dan keimanan yang kokoh, seseorang akan memperoleh kemuliaan hakiki di sisi Allah.
"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arahnya dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik."
(QS. Al-Isra’: 19)






0 komentar:
Posting Komentar